Anda di halaman 1dari 51

TUGAS KOMUNITAS II

ASKEP LANSIA DENGAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL

Disusun oleh :

M. Berlian Al Kindi 10214012

Nazalia Indah L 10214013

Febri Dwi H 10214014

Nuzullia Kusuma Anggia 10214015

Isnaini Siti Fajria 10214016

Ilham Bagus Santoso 10214019

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2017

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 1


DAFTAR ISI

Daftar Isi ....................................................................................................................i


A. Latar Belakang ....................................................................................................1
B. .............................................................................................................................1
C. .............................................................................................................................1
1. ........................................................................................................................1
2. ........................................................................................................................1
D. .............................................................................................................................2
E. .............................................................................................................................2
F. .............................................................................................................................2
G. .............................................................................................................................
H. .............................................................................................................................
1. ........................................................................................................................
2. ........................................................................................................................
3. ........................................................................................................................
I. ............................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 2


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikogeriatri atau psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang
memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologis
atau psikiatrik pada lanjut usia. Saat ini disiplin ini sudah berkembang menjadi
suatu cabang psikiatrik, analaog dengan psikiatrik anak (Brocklehurts, Allen,
1987). Diagnosis dan terapi gangguan mental pada lanjut usia memerlukan
pengetahuan khusus, karena kemungkinan perbedaan dalam manisfestasi klinis,
pathogenesis dan patofisiologi gangguan mental antara pathogenesis dewasa muda
dan lanjut usia (Weinberg, 1995; Kolb-Brodie, 1982). Faktor penyulit pada pasien
lanjut usia juga perlu dipertimbangkan, antara lain sering adanya penyakit dan
kecacatan medis kronis penyerta, pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan
peningkatan kerentanan terhadap gangguan kognitif (Weinberg, 1995; Gunadi,
1984).
Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut, perlu mulai
dipertimbangkan adanya pelayanan psikogeriatrik di rumah sakit yang cukup
besar. Bangsal akut, kronis dan day hospital, merupakan tiga layanan yang
mungkin harus sudah mulai difikirkan (Brocklehurts, Allen, 1987). Tentang
bagaimana kerjasama antara bidang psikogeriatrik dan geriatrik dapat dilihat pada
bab mengenai pelayanan kesehatan pada usia lanjut.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia yang mengalami gangguan psikososial?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan lansia yang
mengalami gangguan psikososial.
2. Tujuan Khusus

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 3


a) Mengetahui tentang Konsep Teori Lansia
b) Mengetahui tentang Teori Kejiwaan Lansia
c) Mengetahui tentang Teori Psikososial Lansia
d) Mengetahui tentang Macam-macam Masalah Keperawatan Psikososial
e) Mengetahui tentang Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Lansia
1. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
a. Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.
2. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa
dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahapan ini berbeda baik secara
biologis maupun secara psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami
kemunduran secara fisik maupun secara psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan
kulit yang mengendor, rambut putih, penurunan pendengaran, penglihatan
menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas
emosional meningkat.
B. Teori Kejiwaan Lansia
1. Aktifitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka
yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup)
dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara
sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2. Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 4


Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini
merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh
tipe personaliti yang dimiliki.

3. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)


Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni:
a. Kehilangan Peran
b. Hambatan Kontak Sosial
c. Berkurangnya Kontak Komitmen
C. Teori Psikososial Lansia
1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri yang
utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat lansia
berusaha menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan sudut
pandangnya. Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa putus asa dan
menyesali masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya bermakna (Anonim,
2006). Sedangkan menurut Erikson yang dikutip oleh Arya (2010) perubahan
psikososial lansia adalah perubahan yang meliputi pencapaian keintiman,
generatif dan integritas yang utuh.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial
lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
a. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya
kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya
tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok,
tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 5


memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini
semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik
maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap
menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-
kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak
mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir
fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik,
misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
b. Penurunan Fungsi dan Potensial Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti:
1) Gangguan jantung
2) Gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus
3) Vaginitis
4) Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
5) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan
sangat kurang
6) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid,
tranquilizer
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain:
1) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada
lansia.
2) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya .
3) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
4) Pasangan hidup telah meninggal
5) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan
jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
c. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 6


belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara
fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga
mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan
kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan
5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy)
Biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap
sampai sangat tua.
2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality)
Pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat
memberikan otonomi pada dirinya
3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy)
Pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila
kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak
bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang
ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari
kedukaannya.
4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality)
Pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak
diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.
5) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy)
Pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
d. Perubahan Yang Berkaitan Dengan Pekerjaan

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 7


Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun
tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau
jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya,
karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan,
jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang
memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti
yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental
setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu
dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang
takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan
ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing
sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik
positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan
dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun
lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-
benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan
hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji
penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan
terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan
assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan
yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan
memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya
memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta,
cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya.
Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya
sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan
yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup
menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak
membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,
menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya.
e. Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 8


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik
dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.
Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan
aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing
atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk
berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku
regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-
barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang
lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia
yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih
sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak
saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan
penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya
keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan
hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi
hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disinilah
pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan
perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay rehabilitation yang tetap
memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi
kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam lingkungan sosial Panti
Werdha adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai
seorang lansia
D. Depresi
1. Pengertian
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan
pada pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor, konsentrasi, keielahan, rasa putus
asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kap'an dan Sadock, 1998).
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 9


penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau
perasaan marah yang dalam (Nugroho, 2000). Menurut Hudak & Gallo (1996),
gangguan depresi merupakan keluhan umum pada lanjut usia dan merupakan
penyebab tindakan bunuh diri.
Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh kesedihan, harga
diri rendah, rasa bersalah, putus asa, perasaan kosong (Keliat, 1996). Sedangkan
menurut Hawaii (1996;, depresi adalah bentuk gangguan kejiwaan pada alam
perasaan (mood), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan
hidup, perasaan tidak berguna, dan putus asa. Depresi adalah suatu kesedihan
atau perasaan duka yang berkepanjangan (Stuart dan Sundeen, 1998).
2. Tanda Dan Gejala Depresi
Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996) meliputi
beberapa aspek seperti:
a. Afektif
Kemarahan, ansietas, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan, kemurungan,
rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian, harga diri rendah,
kesedihan.
b. Fisiologik
Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing, keletihan,
gangguan pencernaan, insomnia, perubahan haid, makan berlebihan/kurang,
gangguan tidur, dan perubahan berat badan.
c. Kognitif
Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan
minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran
yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian.
d. Perilaku
Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas, kecanduan obat,
intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung,
kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, dan menarik
diri.
Menurut PPDGJ-III (Maslim,1997), tingkatan depresi ada 3 berdasarkan gejala-
gejalanya yaitu:

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 10


a. Depresi Ringan
Gejala :
1) Kehilangan minat dan kegembiraan
2) Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
dan menurunnya aktivitas.
3) Kosentrasi dan perhatian yang kurang
4) Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
b. Depresi Sedang
Gejala :
1) Kehilangan minat dan kegembiraan
2) Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
dan menurunnya aktivitas.
3) Kosentrasi dan perhatian yang kurang
4) Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
5) Pandangan masa depan yang suram dan pesimis
c. Depresi Berat
Gejala :
1) Mood depresif
2) Kehilangan minat dan kegembiraan
3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.
4) Konsentrasi dan perhatian yang kurang
5) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
6) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
7) Perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri atau bunuh diri
8) Tidur terganggu
9) Disertai waham, halusinasi
10) Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu
3. Karakteristik Depresi Pada Lanjut Usia
Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia,- depresi ini sering di
diagnosis salah atau diabaikan. Rata-rata 60-70% lanjut usia yang mengunjungi

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 11


praktik dokter umum adalah mereka dengan depresi, tetapi ; acapkali tidak
terdeteksi karena lansia lebih banyak memfokuskan pada keluhan badaniah yang
sebetulnya ; adalah penyerta dari gangguan emosi (Mahajudin, 2007).
Menurut Stanley & Beare (2007), sejumlah faktor yang menyebabkan
keadaan ini, mencakup fakta bahwa depresi pada lansia dapat disamrkan atau
tersamarkan oleh gangguan fisik lainnya (masked depression). Selain itu isolasi
sosial, sikap orang tua, penyangkalan pengabaian terhadap proses penuaan
normal menyebabkan tidak terdeteksi dan tidak tertanganinya gangguan ini.
Depresi pada orang lanjut usia dimanifestasikan dengan adanya keluhan tidak
merasa berharga, sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa
kosong, tidak ada harapan, menuduh diri, ide-ide pikiran bunuh diri dan
pemilihan diri yang kurang bahkan penelantaran diri (Wash, 1997).
Samiun (2006) menggambarkan gejala-gejala depresi pada lansia :
a. Kognitif
Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognif pada lansia yang menunjukkan
gejala depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi memiliki self-
esteem yang sangat rendah. Mereka berpikir tidak adekuat, tidak mampu,
merasa dirinya tidak berarti, merasa rendah diri dan merasa bersalah terhadap
kegagalan yang dialami. Kedua, lansia selalu pesimis dalam menghadapi
masalah dan segala sesuatu yang dijalaninya menjadi buruk dan kepercayaan
terhadap dirinya (self-confident) yang tidak adekuat. Ketiga, memiliki
motivasi yang kurang dalam menjalani hidupnya, selalu meminta bantuan dan
melihat semuanya gagal dan sia-sia sehingga merasa tidak ada gunanya
berusaha. Keempat, membesar-besarkan masalah dan selalu pesimistik
menghadapi masalah. Kelima, proses berpikirnya menjadi lambat,
performance intelektualnya berkurang. Keenam, generalisasi dari gejala
depresi, harga diri rendah, pesimisme dan kurangnya motivasi.
b. Afektif
Lansia yang mengalami depresi merasa tertekan , murung, sedih, putus
asa, kehilangan semangat dan muram. Sering merasa terisolasi, ditolak dan
tidak dicintai. Lansia yang mengalami depresi menggambarkan dirinya

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 12


berada dalam lubang gelap yang tidak dapat terjangkau dan tidak dapat keluar
dari sana.
c. Somatik
Masalah somatik yang sering dialami lansia yang mengalami depresi
seperti pola tidur yang terganggu ( insomnia ), gangguan pola makan dan
dorongan seksual yang berkurang. Lansia lebih rentan terhadap penyakit
karena sistem kekebalan tubuhnya melemah, selain karena aging proces juga
karena orang yang mengalami depresi menghasilkan sel darah putih yang
kurang (Schleifer et all, 1984 ; Samiun, 2006).
d. Psikomotor
Gejala psikomotor pada lansia depresi yang dominan adalah retardasi
motor. Sering duduk dengan terkulai dan tatapan kosong tanpa ekspresi,
berbicara sedikit dengan kalimat datar dan sering menghentikan pembicaraan
karena tidak memiliki tenaga atau minat yang cukup untuk menyelesaikan
kalimat itu. Dalam pengkajian depresi pada lansia, menurut Sadavoy et all
(2004) gejala-gejala depresi dirangkum dalam SIGECAPS yaitu gangguan
pola tidur (sleep) pada lansia yang dapat berupa keluhan susah tidur, mimpi
buruk dan bangun dini dan tidak bisa tidur lagi, penurunan minat dan aktifitas
(interest), rasa bersalah dan menyalahkan diri (guilty), merasa cepat lelah dan
tidak mempunyai tenaga (energy), penurunan konsentrasi dan proses pikir
(concentration), nafsu makan menurun (appetite), gerakan lamban dan sering
duduk terkulai (psychomotor) dan penelantaran diri serta ide bunuh diri
(suicidaly)
4. Penyebab Depresi
Menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), faktor penyebab depresi ialah :
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor genetik, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif
melalui riwayat keluarga dan keturunan.
2) Teori agresi menyerang kedalam, menunjukkan bahwa depresi
terjadi karena perasaan marah yang ditunjukkan kepada diri sendiri.
3) Teori kehilangan obyek, menunjuk kepada perpisahan traumatika
individu dengan benda atau yang sangat berarti.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 13


4) Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri
yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan
dan penilaian seseorang terhadap stressor.
5) Model kognitif, menyatakan bahwa depresi merupakan masalah
kognitif yang di dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap
diri sesorang, dunia seseorang dan masa depan seseorang.
6) Model ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness ),
menunjukkkan bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi
tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap
hasil yang penting dalam kehidupannya, oleh karena itu ia
mengulang respon yang tidak adaptif.
7) Model perilaku, berkembang dari teori belajar sosial, yang
mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan
positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.
8) Model biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang
terjadi selama depresi, termasuk definisi katekolamin, disfungsi
endokri, hipersekresi kortisol, dan variasi periodik dalam irama
biologis.
b. Stresor Pencetus
Ada 4 sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam
perasaan ( depresi ) menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), yaitu :
1) Kehilangan keterikatan yang nyata atau dibayangkan, termasuk
kehilangan cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri.
Karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka
persepsi seseorang merupakan hal sangat penting.
2) Peristiwa besar dalam kehidupan, hal ini sering dilaporkan sebagai
pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-
masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan
masalah.
3) Peran dan ketegangan peran telah dilaporka mempengaruhi
perkembangan depresi, terutama pada wanita.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 14


4) Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit
fisik. Seperti infeski, neoplasma, dan gangguan keseimbangan metabolik,
dapat mencentuskan gangguan alam perasaan. Diantara obat-obatan
tersebut terdapat obat anti hipertensi dan penyalahgunaan zat yang
menyebabkan kecanduan. Kebanyakan penyakit kronik yang
melemahkan tubuh juga sering disertai depresi.
Menurut Townsed (1998), penyebab depresi adalah gabungan dari faktor
predisposisi (teori biologis terdiri dari genetik dan biokimia), dan faktor
pencetus (teori psikososial terdiri dari psikoanalisis, kognitif, teori
pembelajaran, teori kehilangan objek).
5. Penyebab Depresi Pada Lanjut Usia
Depresi pada lansia merupakan permasalahan kesehatan jiwa (mental health)
yang serius dan kompleks, tidak hanya dikarenakanaging process tetapi juga
faktor lain yang saling terkait. Sehingga dalam mencari penyebab depresi pada
lansia harus dengan multiple approach. Menurut Samiun (2006) ada 5 pendekatan
yang dapat menjelaskan terjadinya depresi pada lansia yaitu :
a. Pendekatan Psikodinamik
Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan mencintai dan dicintai, rasa
aman dan terlindung, keinginan untuk dihargai, dihormati dan lain-lain. Menurut
Hawari (1996), seseorang yang kehilangan akan kebutuhan afeksional tersebut
(loss of love object) dapat jatuh dari kesedihan yang dalam. Sebagai contoh
seorang kehilangan orang yang dicintai (terhadap suami atau istri yang
meninggal), kehilangan pekerjaan/jabatan dan sejenisnya akan dan menyebabkan
orang itu mengalami kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang diikuti oleh
rasa sesal, bersalah dan seterusnya, yang pada gilirannya orang akan jatuh dalam
depresi.
Freud mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai reaksi terhadap
kehilangan. Perasaan sedih dan duka cita sesudah kehilangan objek yang dicintai
(loss of love object), tetapi seringkali mengalami perasaan ambivalensi terhadap
objek tersebut (mencintai tetapi marah dan benci karena telah meninggalkan).
Orang yang mengalami depresi percaya bahwa intropeksi merupakan satu-
satunya cara ego untuk melepaskan suatu objek, sehingga sering mengritik,

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 15


marah dan menyalahkan diri karena kehilangan objek tadi (Kaplan et all, 1997).
Depresi yang terjadi pada lanjut usia adalah dampak negatif kejadian penurunan
fungsi tubuh dan perubahan yang terjadi terutama perubahan psikososial.
Perubahan-perubahan tersebut diatas seringkali menjadi stresor bagi lanjut usia
yang membutuhkan adaptasi biologis dan biologis. Menurut Maramis (1995),
pada lanjut usia permasalahan yang menarik adalah kurangnya kemampuan
dalam beradaptasi secara psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada
dirinya. Penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan stres
lingkungan sering menyebabkan depresi.
Strategi adaptasi yang seringkali digunakan lansia yang mengalami depresi
adalah strategi pasif (defence mcanism) seperti menghindar, menolak, impian,
displacement dan lain-lain (Coyne ett all, 1981 ; Samiun, 2006). Hubungan stress
dan kejadian depresi seringkali melibatkan dukungan sosial (social support) yang
tersedia dan digunakan lansia dalam menghadapi stresor. Ada bukti bahwa
individu yang memiliki teman akrab dan dukungan emosional yang cukup,
kurang mengalami depresi bila berhadapan dengan stres (Billings, et all, 1983 ;
Samiun , 2006).
b. Pendekatan Perilaku Belajar
Salah satu hipotesis untuk menjelaskan depresi pada lansia adalah individu
yang kurang menerima hadiah (reward) atau penghargaan dan hukuman
(punishment) yang lebih banyak dibandingkan individu yang idak depresi
(Lewinsohn, 1974 ; Libet & Lewinsohn, 1997 ; Samiun, 2006). Dampak dari
kurangnya hadiah dan hukuman yang lebih banyak ini mengakibatkan lansia
merasakan kehidupan yang kurang menyenangkan, kecenderungan memiliki self-
esteem yang kurang dan mengembangkan self-concept yang rendah. Hadiah dan
hukuman bersumber dari lingkungan (orang-orang dan peristiwa sekitar) dan dari
diri sendiri. Situasi akan bertambah buruk jika seseorang menilai hadiah yang
diterima terlalu rendah dan hukuman yang diterima terlalu tinggi terutama untuk
tingkah laku mereka sendiri, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan antara
nilai reward dan punishment itu. Peran hadiah dan hukuman terhadap diri sendiri
yang tidak tepat dapat menimbulkan depresi (Rehm, 1997 ; Wicoxon, et all, 1997
; Samiun 2006).

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 16


Faktor lain dari lingkungan yang berkenaan dari hadiah dan hukuman adalah
seseorang jika pindah ke tempat lain yang dapat mengakibatkan kehilangan
sumber-sumber hadiah dan perubahan dari tingkah laku yang mendapat hadiah
sehingga aktifitas yang sebelumnya dihadiahi menjadi tidak berguna. Standar
untuk hadiah dan hukuman yang meningkat menyebabkan performansi yang
diperlukan untuk mendapat hadiah lebih tinggi. Kehilangan hadiah yang
sebelumnya diterima dapat menyebabkan depresi apabila sumber alternatif untuk
mendapat hadiah tidak ditemukan.
c. Pendekatan Kognitif
Menurut Beck (1967 ; 1976), Samiun (2006), seseorang yang mengalami
depresikarena memiliki kemapanan kognitif yang negatif (negative cognitive
sets) untuk menginterpretasikan diri sendiri, dunia dan masa depan mereka.
Misalnya, seseorang yang berhasil mendapatkan pekerjaan akan mengabaikan
keberhasilan tersebut dan menginterpretasikan sebagai suatu yang kebetulan dan
tetap memikirkan kegagalannya. Akibat dari persepsi yang negatif itu, individu
akan memiliki self-concept sebagai seorang yang gagal, menyalahkan diri,
merasa masa depannya suram dan penuh dengan kegagalan. Masalah utam pada
lansia yang depresi adalah kurangnya rasa percaya diri (self-confidence) akibat
persepsi diri yang negatif (Townsend, 1998).
Negative cognitive sets digunakan individu secara otomatis dan tidak
menyadari adanya distorsi pemikiran dan adanya interpretasi alternative yang
lebih positif, sehingga menyebabkan tingkat aktifitas berkurang karena merasa
tidak ada alasan berusaha. Individu menjadi tidak dapat mengontrol aspek-aspek
negative dari kehidupannya dan merasa tidak berdaya (helplessness). Perasaan
ketidakberdayaan ini yang menyebabkan depresi (Abramson, 1978; Peterson,
1984; Samiun, 2006).
Menurut Kaplan et all (1997), Interpretasi yang keliru (misinterpretation)
kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negative pengalaman hidup,
penilaian diri yang negative, pesimistis dan keputusasaan. Pandangan negative
dan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) tersebut selanjutnya
menyebabkan perasaan depresi. Pengalaman awal memberikan dasar pemikiran
diri yang negative dan ketidakberdayaan ini, sepertio pola asuh orang tua, kritik

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 17


yang terus menerus tanpa diimbangi dengan pujian, dan kegagalan-kegagalan
yang sering dialami individu (Beck, et al., 1979; Samiun, 2006).
d. Pendekatan Humanistik Eksitensial
Teori humanistic dan eksistensial berpendapat bahwa depresi terjadi karena
adanya ketidakcocokan antara reality self dan ideal self. Individu yang menyadari
jurang yang dalam antara reality self dan ideal self dan tidak dapat dijangkau,
sehingga menyerah dalam kesedihan dan tidak berusaha mencapai aktualisasi
diri.
Menyerah merupakan factor yang penting terjadinya depresi. Individu merasa
tidak ada lagi pilihan dan berhenti hidup sebagai seeorang yang real. Pada lansia
yang gagal untuk bereksistensi diri menyadari bahwa mereka tidak mau berada
pada kondisinya sekarang yang mengalami perubahan dan kurang mampu
menyesuaikan diri, sehingga kehidupan fisik mereka segera berakhir. Kegagalan
bereksistensi ini merupakan suatu kematian simbolis sebagai seseorang yang
real.
e. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis menerangkan bahwa depresi terjadi karena aktivitas
neurologis yang rendah (neurotransmiter norepinefrin dan serotonin) pada sinaps-
sinaps otak yang berfungsi mengatur kesenangan. Neurotransmitter ini
memainkan peranan penting dalam fungsi hypothalamus, seperti mengontrol
tidur, selera makan, seks dan tingkah laku motor (Sachar, 1982; Samiun, 2006),
sehingga seringkali seseorang yang mengalami depresi disertai dengan keluhan-
keluhan tersebut.
Pendekatan genetic terhadap kejadian depresi dengan penelitian saudara
kembar. Monozogotik Twins (MZ) berisiko mengalami depresi 4,5 kali lebih
besar (65%) daripada kembar bersaudara (Dizigotik Twins/DZ) yang 14%
(Nurberger & Gershon, 1982; Samiun, 2006). Secara keseluruhan dapat
dikatakan bahwa secara genetic depresi itu diturunkan.
Menurut Mangoenprasodjo (2004), depresi pada lansia merupakan perpaduan
interaksi yang unik dari berkurangnya interaksi social, kesepian, masalah social
ekonomi, perasaan rendah diri karena penurunan kemampuan rendah diri,
kemandirian, dan penurunan fungsi tubuh, serta kesedihan ditinggal orang yang

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 18


dicintai, factor kepribadian, genetic, dan factor biologis penurunan neuron-neuron
dan neurotransmitter di otak. Perpaduan ini sebagai factor terjadinya depresi pada
lansia. Kompleksitasnya perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia, sehingga
depresi pada lansia dianggap sebagai hal yang wajar terjadi.
6. Depresi Lanjut Usia Pasca Kuasa (Post Power Syndrome)
Depresi pada pasca kuasa adalah perasaan sedih yang mendalam yang dialami
seseorang setelah mengalami pension. Salah satu factor penyebab depresi pada
pasca kuasa adalah karena adanya perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
atau kekuasaan ketika pension. Meskipun tujuan ideal pension adalah agar para
lansia dapat menikmati hati tua atau jaminan hari tua, namun dalam
kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pension sering dirasakan
sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan
harga diri (Rini J, 2001). Menurut Kuntioro (2002), reaksi setelah orang
memasuki masa pension lebih tergantung dari model kepribadiannya. Untuk
mensiasati agar masa pension tidak merupakan beban mental lansia, jawabannya
adalah sangat tergantung pada sikap dan mental individu dalam masa pensiun,
dalam kenyataannya ada yang menerima ada yang takut kehilangan ada yang
merasa senang memiliki jaminan hari tua da nada juga yang seolah-olah acuh
terhadap pension (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya
dampak bagi masing-masing individu baik positif maupun negative. Dampak
positif lebih menentramkan driri lansia dan dampak negative akan mengganggu
kesejahteraan hidup.
Secara umum peristiwa kehidupan meliputi kehilangan harga diri, gangguan
interpersonal, peristiwa social yang tidak diinginkan dan gangguan pola
kehidupan yang besar. Kejadian yang tidak diinginkan juga sering menjadi factor
presipitasi depresi. Kejadian di masa lampau (perpisahan dan segala macam
kehilangan) lebih sering memperburuk gejal kejiwaan, perubahan kesehatan fisik,
gangguan penampilan peran social dan depresi (Stuart dan Larairam, 1998).
Menurut Hawari (1996) orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang
mempunyai kekuasaan, wewenang, dan kekuatan (power). Orang yang
kehilangan jabatan berarti orang yang kehilangan kekuasaan dan kekuatan
(powerless), artinya sesuatu yang dimiliki dan dicintai kini telah tiada (loss of

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 19


love object). Dampak dari loss of love object ini adalah terganggunya
keseimbangan mental/emosional dengan manifestasi berbagai keluhn fisik,
kecemasan dan terlebih-lebih depresi. Keluhan-keluhan tersebut di atas disertai
dengan perubahan sikap dan perilaku, merupakan kumpulan gejala yang disebut
sindroma pasca kuasa (post power syndrome). Perubahan sikap dan perilaku
tersebut merupakan dampak atau keluhan psikososial dari orang yang baru
kehilangan jabatan atau kekuasaan.
Kehilangan jabatan atau kekuasaan berarti perubahan posisi, yang dahulu
kuat kini merasa lemah. Perubahan posisi ini mengakibatkan perubahan dalam
alam fikir (rasio) dan alam perasaan pada diri yang bersangkutan. Kalau keluhan-
keluhan yang bersifat fisik (somatik) dan kejiwaan (kekecewaan atau depresi) itu
sifatnya kedalam, tertutup dan tidak terbuka maka keluhan psikososial inilah
yang sering menampakan diri dalam bentuk ucapan maupun sikap dan perilaku.
Keluhan-keluhan psikososial terjadi disebabkan karena perubahan posisi yang
mengakibatkan perubahan persepsi dari diri yang bersangkutan terhadap kondisi
psikososial di luar dirinya. Guna menghindari rasa kecewa dan tidak senang itu,
orang menggunakan mekanisme defensive antara lain berupa makanisme
proyeksi dan rasionalisasi itulah maka terjadi perubahan persepsi seseorang
terhadap kondisi psikososial sekelilingnya. Menurut Maramis (1995), bahwa
stress psikologis terutama pada jiwa, seperti kecemasan, kekecewaan dan rasa
bersalah yang menimbulkan mekanisme penyesuaian psikologis. Mungkin pada
sewaktu-waktu, hanya gejala badaniah atau gejala psiokologik saja yang
menonjol, tetapi kita harus mengingat bahwa manusia itu senantiasa bereaksi
secara holistic, yaitu bahwa seluruh manusia itu terlibat dalam hal ini.
Karena manusia bereaksi secara holistic, maka depresi terdapat juga
komponen psikologik dan komponen somatic. Gejala-gejala psikologik ialah
menjadi pendiam, rasa sedih, pesimistis, putus asa, nafsu bekerja dan bergaul
kurang, tidak dapat mengambil keputusan lekas lupa timbul pikiran bunuh diri.
Sedangkan gejala badaniah ialah penderita kelihatan tidak senang, lelah tak
bersemangat atau apatis, bicara dan gerak-geriknya pelan dan kurang hidup,
terdapat anoreksia (kadang-kadang makan terlalu banyak sebagai pelarian),
insomnia (sukar untuk tertidur) dan konstipasi.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 20


7. Faktor-faktor yang menyebabkan depresi pada lanjut usia yang tinggal di
Institusi
Terjadinya depresi pada lanjut usia yang tinggal dalam institusional seperti
tinggal di panti wreda (Endah dkk, 2003) :
a. Faktor Psikologis
Motivasi masuk panti wreda sangat penting bagi lanjut usia untuk
menentukan tujuan hidup dan apa yang ingin dicapainya dalam kehidupan di
panti. Tempat dan situasi yang baru, orang0orang yang belum dikenal, aturan dan
nilai-nilai yang berbeda, dan keterasingan merupakan stressor bagi lansia yang
membutuhkan penyesuaian diri. Adanya keinginan dan motivasi lansia untuk
tinggal dipanti akan membuatnya bersemangat meningkatkan toleransi dan
kemampuan adaptasi terhadap situasi baru.
Menurut Maramis (1995), pada lanjut usia permasalah yang menarik adalah
kekurangan kemampuan dalam beradaptasi secara psikologis terhadap perubahan
yang terjadi pada dirinya. Penurunan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
dan stress lingkungan sering menyebabkan depresi. Hubungan stress dan kejadian
depresi seringkali melibatkan dukungan social (social support) yang tersedia dan
digunakan lansia dalam menghadapi stressor. Ada bukti bahwa individu yang
memiliki teman akrab dan dukungan emosional yang cukup, kurang mengalami
depresi bila berhadapan dengan stress (Billings, et all, 1983; Samiun, 2006).
Rasa kurang percaya diri atau tidak berdaya dan selalu menganggap bahwa
hidupnya telah gagal karena harus menghabiskan sisa hidupnya jauh dari orang-
orang yang dicintai mengakibatkan lansia memandang masa depan suram dan
selalu menyesali diri, sehingga mempengaruhi kemampuan lansia dalam
beradaptasi terhadap situasi baru tinggal di institusi.
b. Faktor Psikososial
Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi social dan
dukungan social mengakibatkan penyesuaian diri yang negative pada lansia.
Menurunnya kepasitas hubungan keakraban dengan keluarga dan berkurangnnya
interaksi dengan keluarga yang dicintai dapat menimbulkan perasaan tidak
berguana, merasa disingkirkan, tidak dibutuhkan lagi dan kondisi ini dapat
berperan dalam terjadinya depresi. Tinggal di institusi membuat konflik bagi

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 21


lansia antara integritas, pemuasan hidup dan keputusasaan karena kehilangan
dukungan social yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk memelihara dan
mempertahankan kepuasan hidup dan self-esteemnya sehingga mudah terjadi
depresi pada lansia (Stoudemire, 1994).
Kemampuan adaptasi dan lamanya tinggal dipanti mempengaruhi terjadinya
depresi. Sulit bagi lansia meninggalkan tempat tinggal lamanya. Pada lansia yang
harus meninggalkan rumah tempat tinggal lamanya (relokasi) oleh karena
masalah kesehatan atau social ekonomi merupakan pengalaman yang traumatic
karena berpisah dengan kenangan lama dan pertalian persahabatan yang telah
memberikan perasaan aman dan stabilitas sehingga sering mengakibatkan lansia
merasa kesepian dan kesendirian bahkan kemeorosotan kesehatan dan depresi
(Friedman, 1995).
Pekerjaan di waktu muda dulu yang berkaitan dengan peran social dan
pekerjaannya yang hilang setelah memasuki masa lanjut usia dan tinggal di
institusi mengakibatkan hilangnya gairah hidup, kepuasaan dan penghargaan diri.
Lansia yang dulunya aktif bekerja dan memiliki peran penting dalam
pekerjaannya kemudian berhenti bekerja mengalami penyesuaian diri dengan
peran barunya sehingga seringkali menjadi tidak percaya dan rendah diri (Rini,
2001).
c. Faktor Budaya
Perubahan social ekonomi dan nilai social masyarakat, mengakibatkan
kecenderungan lansia tersisihkan dan terbengkalai tidak mendapatkan perawatan
dan banyak yang memilih untuk menaruhnya di panti lansia (Darmojo &
Martono, 2004). Pergeseran system keluarga (family system) dari extendend
family ke nuclear family akibat industrialisasi dan urbanisasi mengakibatkan
lansia terpinggirkan. Budaya industrialisasi dengan sifat mandiri dan individualis
menggangap lansia sebagai trouble maker dan menjadi beban sehingga
langkah penyelesainnya dengan menitipkan di panti. Akibatnya bagi lansia
memperburuk psikologisnya dan mempengaruhi kesehatannya.
Tinggal di panti wreda harusnya merupakan alternative yang terakhir bagi
lansia, karena tinggal dalam keluarga adalah yang terbaik bagi lansia sesuai
dengan tugas perkembangan keluarga yang memiliki lansia untuk

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 22


mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan dan mempertahankan
ikatan keluarga antargenerasi (Duvall, 1985 yang dikutip oleh Friedman, 1998).

8. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia


Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap
lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai
dengan gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus dilakukan
pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercayai serta
valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang
paling mudah digunakan untuk diinterprestasikan di berbagai tempat, baik oleh
peneliti maupun praktisi klinis adalah Geriatric Depression Scale (GDS). Alat
ini diperkenalkan oleh Yesavage pada tahun 1983 dengan indikasi utama pada
lanjut usia, dan memiliki keunggulan mudah digunakan dan tidak memerlukan
keterampilan khusus dari pengguna. Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84
% dan specificity 95 %. Tes reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85
(Burns, 1999). Alat ini terdiri dari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat
penapisan depresi pada lansia. GDS menggunakan format laporan sederhana
yang diisi sendiri dengan menjawab ya atau tidak setiap pertanyaan, yang
memrlukan waktu sekitar 5-10 menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan
alat psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal somatic yang tidak berhubungan
dengan pengukuran mood lainnya. Skor 0-10 menunjukkan tidak ada depresi,
nilai 11-20 menunjukkan depresi ringan dan skor 21-30 termasuk depresi
sedang/berat yang membutuhkan rujukan guna mendapatkan evaluasi psikiatrik
terhadap depresi secara lebih rinci, karena GDS hanya merupakan alat penapisan.
Spesifikasi rancangan pernyataan perasaan (mood) depresi seperti tabel berikut:
Table 5.1 Spesifikasi rancangan kuesioner GDS
Butir Soal

Parameter Favorable Unfavorable


Minat aktivitas 2, 12, 20, 28 27
Perasaan sedih 16, 25 9, 15, 19
Perasaan sepi dan bosan 3, 4
Perasaan tidak berdaya 10, 17, 24

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 23


Perasaan bersalah 6, 8, 11, 18, 23 1
Perhatian/konsentrasi 14, 26, 30 29
Semangat atau harapan terhadap masa 13, 22 5, 7, 21
depan
Skoring nilai 1 diberikan pada pernyataan Favorable untuk jawaban ya
dan nilai 0 untuk jawaban tidak sedangkan pernyataan Unfavorable, jawaban
tidak diberi nilai 1 dan jawaban ya diberi nilai 0.
Assasment Tool geriatric depressions scale (GDS) untuk mengkaji depresi
pada lansia sebagai berikut:
No. Pernyataan Ya Tidak
1. Apakah bapak/ibu sekarang ini merasa puas dengan
kehidupannya?
2. Apakah bapak/ibu telah meninggalkan banyak kegiatan atau
kesenangan akhir-akhir ini?
3. Apakah bapak/ibu sering merasa hampa/kosong di dalam
hidup ini?
4. Apakah bapak/ibu sering merasa bosan?
5. Apakah bapak/ibu merasa mempunyai harapan yang baik di
masa depan?
6. Apakah bapak/ibu merasa mempunyai pikiran jelek yang
menganggu terus menerus?
7. Apakah bapak/ibu memiliki semangat yang baik setiap saat?
8. Apakah bapak/ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan
terjadi pada anda?
9. Apakah bapak/ibu merasa bahagia sebagian besar waktu?
10 Apakah bapak/ibu sering merasa tidak mampu berbuat apa-
apa?
11. Apakah bapak/ibu sering merasa resah dan gelisah?
12. Apakah bapak/ibu lebih senang tinggal dirumah daripada
keluar dan mengerjakan sesuatu?
13. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa
depan?

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 24


14. Apakah bapak/ibu akhir0akhir ini sering pelupa?
15. Apakah bapak/ibu piker bahwa hidup bapak/ibu sekarang ini
menyenangkan?
16. Apakah bapak/ibu sering merasa sedih dan putus asa?
17. Apakah bapak/ibu merasa tidak berharga akhir-akhir ini?
18. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa
lalu?
19. Apakah bapak/ibu merasa hidup ini menggembirakan?
20 Apakah sulit bagi bapak/ibu untuk memulai kegiatan yang
baru?
21. Apakah bapak/ibu merasa penuh semangat?
22. Apakah bapak/ibu merasa situasi sekarang ini tidak ada
harapan?
23. Apakah bapak/ibu berpikir bahwa orang lain lebih baik
keadaannya daripada bapak/ibu?
24. Apakah bapak/ibu sering marah karena hal-hal yang sepele?
25. Apakah bapak/ibu sering merasa ingin menangis?
26. Apakah bapak/ibu sulit berkonsentrasi?
27. Apakah bapak/ibu merasa senang waktu bangun tidur dipagi
hari?
28. Apakah bapak/ibu tidak suka berkumpul di pertemuan
social?
29. Apakah mudah bagi bapak/ibu membuat sesuatu keputusan?
30. Apakah pikiran bapak/ibu masih tetap mudah dalam
memikirkan sesuatu seperti dulu?

9. Upaya Penanggulangan Depresi Pada Lansia


Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat
perlu ditekannkan pendekatan yang mencakup fisik, psikologis, spiritual dan
sosial. Hal tersebut karena pendekatan daru satu aspek saja tidak akan menunjang
pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang
komprehensif. Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 25


health) disebut pendekatan eclectic holistik, yaitu suatu pendekatan yang tidak
tertuju pada kondisi fisik saja, akan tetapi juga mencakup aspek psychological,
psikososial, spiritual dan lingkungan yang menyertainya. Pendekatan Holistik
adalah pendekatan yang menggunakan semua upaya untuk meningkatan derajat
kesehatan lanjut usia, secara utuh dan menyeluruh (Hawari, 1996).
Ada beberapa upaya penanggulangan depresi dengan eclectic holistic approach,
diantaranya:
a. Pendekatan Psikodinamik
Focus pendekatan psikodinamik adalah penanganan terhadap konflik-konflik
yang berhubungan dengan kehilangan dan stress. Upaya penanganan depresi
dengan mengidentifikasi kehilangan dan stress yang menyebabkan depresi,
mengatasi, dan mengembangkan cara-cara menghadapi kehilangan dan stressor
dengan psikoterapi yang bertujuan untuk memulihkan kepercayaan diri (self
confidence) dan memperkuat ego. Menurut Kaplan et all (1887), pendekatan ini
tidak hanya untuk menghilangkan gejala, tetapi juga untuk mendapatkan
perubahan struktur dan karakter kepribadian yang bertujuan untuk perbaikan
kepercayaan pribadi, keintiman, mekanisme mengatasi stressor, dan kemampuan
untuk mengalami berbagai macam emosi.
Pendekatan keagaman (spiritual) dan budaya sangat dianjurkan pada lansia.
Pemikiran-pemikiran dari ajaran agama apapun mengandung tuntunan bagaimana
dalam kehidupan di dunia ini manusia tidak terbebas dari rasa cemas, tegang,
depresi, dan sebagainya. Demikian pula dapat ditemukan dalam doa-doa yang
paada intinya memohon kepada Tuhan agar dalam kehidupan ini manusia diberi
ketenangan, kesejahteraan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat (Hawari,
1996).
b. Pendekatan Perilaku Belajar
Penghargaan atas diri yang kurang akibat dari kurangnya hadiah dan
berlebihannya hukuman atas diri dapat di atasi dengan pendekatan perilaku
belajar. Caranya dengan identifikasi aspek-aspek leingkungan yang merupakan
sumber hadiah dan hukuman. Kemudian diajarkan keterampilan dan strategi baru
untuk mengatasi, menghindari, atau mengurangi pengalaman yang menghukum,
seperti assertive training, latihan keterampilan social, latihan relaksasi, dan

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 26


latihan manajemen waktu. Usaha berkutnya adalah peningkatan hadiah dalam
hidup dengan self-reinforcement, yang diberikan segera setelah tugas dapat
diselesaikan.
Menurut Samiun (2006), ada tiga hal yang p[erlu diperhatikan dalam
pemberian hadiah dan hukuman, yaitu tugas dan teknik yang diberikan terperinci
dan spesifik untuk aspek hadiah dan hukuman dari kehidupan tertentu dari
individu. Teknik ini dapat untuk mengubah tingkah laku supaya meningkatkan
hadiah dan mengurangi hukuman, serta individu harus diajarkan keterampilan
yang diperlukan untuk meningkatkan hadiah dan mengurangi hukuman.
c. Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah pandangan dan pola pikit tentang
keberhasilan masa lalu dan sekarang dengan cara mengidentifikasi pemikiran
negative yang mempengaruhi suasana hati dan tingkah laku, menguji individu
untuk menentukan apakah pemikirannya benar dan menggantikan pikiran yang
tidak tepat dengan yang lebih baik (Beck, et al, 1979; Samiun, 2006). Dasar dari
pendekatan ini adalah kepercayaaan (belief) individu yang terbentuk dari
rangkaian verbalisasi diri (self-talk) terhadap peristiwa/pengalaman yang dialami
yang menentukan emosi dan tingkah laku diri.
Menurut Kaplan et all (1997), upaya pendekatan ini adalah menghilangkan
episode depresi dan mencegah rekuren dengan membantu mengidentifikasi dan
uji kognisi negative, mengembangkan cara berpikir alternative, fleksibel dan
positif, serta melatih respon kognitif dan perilaku yang baru dan penguatan
perilaku dan pemikiran yang positif.
d. Pendekatan Humanistik Eksistensial
Tugas utama pendekatan ini adalah membantu individu menyadari
kebaradaannya didunia ini dengan memperluas kesadaran diri, menemukan
dirinya kembali dan bertanggung jawab terhadap arah hidupnya. Dalam
pendekatan ini, individu yang harus berusaha membuka pintu menuju dirinya
sendiri, melonggarkan belengu deterministic yang menyebabkan terpenjara
secara psikologis (Corey, 1993; Samiun, 2006). Dengan mengeksplorasi
alternative ini membuat pandangan menjadi real, individu menjadi sadar siapa dia
sebelumnya, sekarang dan lebih mempu menetapkan masa depan.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 27


e. Pendekatan Farmakologis
Dari berbagai jenis upaya untuk gangguan depresi ini, maka terapi
psikofarmaka (farmakoterapi) dengan obat anti depresan merupakan pilihan
alternative. Hasil terapi dengan obat anti depresan adalah baik dengan
dikombinasikan dengan upaya psikoterapi.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 28


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
PENGKAJIAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Kasus
Tn. K berusia 80 tahun, datang ke panti jompo diantar keluarganya, Tn. K
terlihat murung tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Dari
pengakuan keluarganya Tn. K dirumah mengurung diri didalam kamar dan
tidak nafsu makan, Tn. K seperti ini semenjak istrinya meninggal. Di panti
jompo Tn.K juga jarag mengikuti kegiatan kegiatan di panti jompo tersebut.
Anak dari Tn.K sendiri juga jarang mengunjungi Tn.K di panti jompo
karena sibuk dengan keluarganya sendiri.

B. DATA BIOGRAFI
Nama : Tn. K

Jenis kelamin : Laki - laki

Umur : 80 tahun

Pendidikan terakhir : Sekolah Rakyat

Agama : Islam

Status perkawinan : Suami

Tinggi badan/berat badan : 175 cm

Penampilan umum : Rapi

Ciri-ciri tubuh : Berkulit putih, berambut lurus

Alamat : Bandar Lor Gang 2B, Kota Kediri

Orang yang mudah dihubungi : Anak Tn. K

Hubungan dengan klien : Anak Kandung

C. Riwayat Keluarga
Nama Pasangan : Ny. I

Umur : 81 tahun

Alamat : Bandar Lor Gang 2B, Kota Kediri

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 29


Status kesehatan : Pernah Menderita Penyakit Hipertensi dan Stroke

Pekerjaan : Petani

Penyebab kematian : Penyakit Stroke

Tahun meninggal : 2013

Nama Anak : An. A

Status : Anak Klien

Usia : 25 Tahun

Pekerjaan : Pegawai Bank

Alamat : Bandar Lor Gang 2B, Kota Kediri

Genogram :

Tn.N Ny.B
kkkk
NnN
N Tn.K (80 th) Ny.I

80 th An. T
An. A
An.D

Keterangan :

Narasi :

Tn.K adalah anak dari Tn.N dan Ny.B, Tn.K kemudian menikah dengan
Ny.I dan mempunyai anak 3 yaitu : An.A, An.T dan An.D

D. Riwayat Pekerjaan
Tn. K saat ini sudah tidak bekerja karena fisiknya yang sudah lemah, Tn. K
sebelumnya bekerja sebagai petani, dulu pada saat masih bekerja sumber

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 30


pendapatan Tn. K dari hasil panen di sawah tetapi setelah Tn. K sudah tidak
bekerja sumber pendapatan didapat dari anak-anaknya.
E. Riwayat Lingkungan Hidup
Tn. K sekarang tinggal di panti jompo karena sama anaknya tidak diurusi
lagi, Tn. K tinggal bersama lansia lansia di panti jompo sekitar 30 lansia.
Selama di panti jompo Tn. K masih mengurung diri tidak mau bersosialisasi
dengan lansia yang lainnya

F. Riwayat Rekreasi
Tn. K tidak aktif mengikuti kegiatan dipanti, Tn. K tidak senang mengikuti
senam rutin di panti dan cenderung mengurung diri di kamarnya.

G. Sistem Pendukung
Setiap sebulan sekali ada pemerikaan kesehatan yang dilakukan di panti oleh
perawat dan Tn. K mendapat perawatan sehari-hari di panti oleh pengurus
panti.

H. Diskripsi kekhususan
Tn. K menganut agama Islam, Tn. K selalu rajin beribadah dan ikut serta
acara keagamaan di panti.

I. Status Kesehatan
Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu :

Tn. K pada tahun 2014 pernah dirawat dirumah sakit dengan penyakit
hipertensi dan anemia.

Keluhan utama : nyeri kepala

Obat-obatan

NO NAMA OBAT DOSIS KET

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 31


3

Status imunisasi : -

Alergi : -

Obat-obatan : -

Makanan : -

Faktor lingkungan : -

Penyakit yang diderita:

J. Aktivitas Hidup Sehari-hari


Nutrisi : mandiri

Eliminasi : mandiri

Aktivitas : mandiri

Istirahat dan tidur : pola istirahat dan tidur Tn.K dalam sehari cukup

Personal hygiene : mandiri

Seksual :tidak ada gangguan

Rekreasi : kegiatan rekreasi biasanya di taman belakang panti

Psikologis :

Persepsi klien : Tn.K sering menghirauka rasa sakit yang dialaminya.


persepsi terhadap penyakitnya
Konsep diri : konsep diri klien baik, karena klien mampu memandang
dirinya secara positif
Emosi : stabil
Adaptasi : kemampuan adaptasi Tn.K baik karena aktif dalam
kegiatan di panti
Mekanisme pertahanan diri : klien menganggap kehidupan di luar
panti sudah tidak menarik lagi baginya, klien ingin menghabiskan hari

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 32


tuanya di panti. Klien mengatakan senang tinggal di panti karena
mendapatkan keteraturan dalam hal makan, istirahat, dan kebutuhan
lain terpenuhi.

K. Tinjauan Sistem Organ


Keadaan umum : Baik

Tingkat kesadaran : Sadar Penuh

GCS : E4, V5, M6

Tanda-tanda vital : TD : 150/90 mmHg RR : 22x/menit

S : 36C Nadi : 88x/menit

Sistem Integumen

Turgor kulit Tn.K kering, kasar dan keriput

Hemopoetik

Tn. K mempunyai riwayat penyakit anemia dan pernah mendapatkan tranfusi


darah.

Kepala

Tn. K sering merasa sakit kepala punya riwayat hipertensi dan tidak terdapat
luka.

Mata

Tn. K saat ini penglihatannya sudah kabur sehingga menggunakan kacamata


untuk membantu melihat ataupun membaca tetapi tidak ada kelainan pada
daerah mata Tn. K.

Telinga

Pendengaran Tn. K sedikit menurun namun tidak ada riwayat penyakit pada
area telinga, dampaknya Tn. K sering tidak mengerti apa yang dibicarakan
lawan bicaranya.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 33


Hidung dan sinus

Tidak ada kelainan pada area hidung Tn. K.

Mulut dan tenggorokan

Tidak ada kelainan pada tenggorokan Tn. K hanya saja giginya sudah banyak
yang copot sehingga kesulitan menggosok gigi dan mengunyah makanan.

Leher

Tidak ada kelainan pada leher Tn. K

Sistem Pernapasan

Tn. K pernah mengalami batuk tetapi tidak sampai sesak napas dan tidak ada
kelainan pernapasan hanya saja batuk diakibatkan oleh makanan yang
dikonsumsinya.

Sistem kardiovaskuler

Tn. K tidak pernah mengeluh Nyeri dada, palpitasi, sesak napas, dispnea saat
aktivitas tetapi mempunyai riwayat hipertensi.

Sistem perkemihan

Tn.K tidak mengalami gangguan saat berkemih.

Sistem musculoskeletal

Tn.K sering mengeluh nyeri pada persendian, kelelahan otot, nyeri punggung
karena sering makan makanan yang bersantan. Pola kebiasaan latihan Tn.K
setiap seminggu sekali selalu mengikuti senam lansia di panti

Sistem endokrin

Tidak ada maslah pada system endokrin Tn.K

Sistem imunitas

Tn.K rentan dan seringnya terkena penyakit, system imunitas Tn.K menurun.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 34


Sistem gastrointestinal

Tn.K mengalami perubahan nafsu makan, klien terkadang malas makan kalau
makanan yang ada tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Sistem reproduksi

Tidak ada lesi, nyeri, masalah pada prostat, perubahan hasrat seksual pada
Tn.K

Sistem persyarafan

Tn.K sering merasa sakit kepala, dan ada masalah daya ingat pada Tn.K yang
membuatnya sering lupa dan pikun.

Sistem pengecapan

Tidak ada gangguan pada rasa

Sistem penciuman

Tidak ada gangguan pada penciuman atau pembauan

K. Data Tambahan

Short Porteble Mental Status Questionaire ( SPMSQ )

= 2 ..

Mini - Mental State Exam ( MMSE )

= 23 ..

Depresi Geriatri

= 11..

APGAR Keluarga

= 5..

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 35


L. Data Penunjang

Data Lab, Rongent, dll.

Kediri, ..

()

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 36


SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ)
PENILAIAN UNTUK MENGETAHUI FUNGSI INTELEKTUAL LANSIA
Nama klien : Tn. K Tanggal : 6 Juni 2017

Jenis kelamin : Laki-laki Umur : 80 tahun

Agama : Islam Suku : Jawa

Alamat : Bandar Lor gang 2B, Kota Kediri

Skor

+ - N Pertanyaan Jawaban
O

1 Tanggal berapa hari ini ? -

2 Hari apa sekarang ini ? ( hari, tanggal dan tahun ) Kamis, 6 Juni 2017

3 Apa nama tempat ini ? Kamar

4 Dimana alamat anda ? -

5 Berapa umur anda ? 81 tahun

6 Kapan anda lahir ? 11 Januari

7 Siapa presiden Indonesia sekarang ? Jokowidodo

8 Siapa presiden sebelumnya ? Sby

9 Siapa nama kecil ibu anda? Uni

10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari 17, 14, 11, 8, 5, 2


setiap angka baru, semua secara menurun !

Jumlah Kesalahan Total 2

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 37


Keterangan :

Skor Penilaian

02 Fungsi intelektual utuh

34 Kerusakan intelektual ringan

57 Kerusakan intelektual sedang

8 10 Kerusakan intelektual berat

a. Bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan bila subyek hanya
berpendidikan sekolah dasar.
b. Bisa dimaklumi bila kurang dari satu kesalahan bila subyek mempunyai
pendidikan di atas sekolah menengah atas

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 38


APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
SKRINING UNTUK MELENGKAPI PENGKAJIAN FUNGSI SOSIAL
Nama klien : Tanggal :

Jenis kelamin : Umur : tahun

Agama : Suku :

Alamat :

NO Uraian Fungsi Skor

1 Saya puas bahwa saya dapat kembali pada 1


keluarga (teman teman) saya untuk
Adaptation
membantu pada waktu sesuatu menyusahkan
saya

2 Saya puas dengan cara keluarga (teman 1


teman) saya membicarakan sesuatu dengan
Partneship
saya dan mengungkapkan masalah dengan
saya

3 Saya puas bahwa keluarga (teman teman) 1


saya menerima dan mendukung keinginan
Growth
saya untuk melakukan aktivitas atau kegiatan
baru

4 Saya puas dengan cara keluarga (teman 1


teman) saya mengekspresikan afek dan
Affection
berespon terhadap emosi emosi saya seperti
marah, sedih atau mencintai

5 Saya puas dengan cara teman teman saya Resolve 1


dan saya menyediakan waktu bersama sama

Keterangan : Total 5

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 39


Penilaian yang dijawab :

Selalu = 2, Kadang kadang = 1, Hampir


tidak pernah = 0

Total skor
8-10 = fungsi keluarga sehat
4-7 = fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = fungsi keluarga sakit

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 40


SKALA DEPRESI GERIATRIK

MENGETAHUI TINGKAT DEPRESI LANSIA

Nama klien : Tanggal :

Jenis kelamin : Umur : tahun

Agama : Suku :

Alamat :

NO SKALA DEPRESI GERIATRIK YA TIDAK

1 Apakah anda pada dasarnya puas dengan kehidupan anda ? YA TIDAK

Apakah anda sudah menghentikan banyak kegiatan dan hal-hal


2 YA TIDAK
yang menarik minat anda ?

3 Apakah anda merasa hidup anda hampa ? YA TIDAK

4 Apakah anda sering bosan ? YA TIDAK

5 Apakah anda biasanya semangat / gembira ? YA TIDAK

Apakah anda takut jangan-jangan sesuatu yang tidak baik akan


6 YA TIDAK
terjadi pada diri anda ?

7 Apakah anda biasanya merasa senang / bahagia ? YA TIDAK

8 Apakah anda sering merasa tidak berdaya ? YA TIDAK

Apakah anda lebih suka tinggal di rumah, daripada pergi ke


9 YA TIDAK
luar dan melakukan hal-hal yang baru?

Apakah anda merasa mengalami kesulitan untuk mengingat


10 YA TIDAK
daripada biasanya ?

11 Apakah anda mengganggap sesuatu yang luar biasa bahwa anda YA TIDAK

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 41


hidup sekarang ?

Apakah menurut anda keadaan anda sekarang rasanya kurang


12 YA TIDAK
berharga ?

13 Apakah anda merasa penuh energi ? YA TIDAK

14 Apakah anda merasa situasi anda tanpa harapan ? YA TIDAK

Apakah anda merasa bahwa kebanyakan orang lebih berhasil


15 YA TIDAK
daripada anda ?

SKOR TOTAL 11

KETERANGAN :

Hitung jawaban yang bercetak tebal

a. Setiap jawaban bercetak tebal mempunyai skor 1


b. Skor 5 9 menunjukkan kemungkinan besar depresi
c. Skor 10 atau lebih merupakan depresi

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 42


INDEKS KATZ
INDEKS KEMANDIRIAN PADA AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-
HARI
Nama klien : Tanggal :

Jenis kelamin : Umur : tahun

Agama : Suku :

Alamat :

SKOR KRITERIA

A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil,


berpakaian dan mandi.

B Kemandirian dalam semua kecuali satu dari fungsi tersebut.

C Kemandirian dalam semua kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.

D Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian dan satu


fungsi tambahan.

E Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian, ke kamar


kecil dan satu fungsi tambahan.

F Kemandirian dalam semua kecuali mandi, berpakaian, ke kamar


kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan.

G Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut.

Lain-lain Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat


diklasifikasikan sebagai C, D, E, F, dan G.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 43


Keterangan:

Mandiri : berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang
lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan
fungsi, meskipun dianggap mampu.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 44


MINI MENTAL STATE EXAM (MMSE)

Menguji Aspek Kognitif dan Fungsi Mental

Nama klien : Tanggal :

Jenis kelamin : Umur : tahun

Agama : Pewawancara :

Alamat :

SKOR SKOR
MAX MANULA

ORIENTASI

5 ( 3 ) Sekarang ( hari ), ( tanggal ), ( bulan ), ( tahun ), berapa dan ( musim )


apa ?

5 ( 3 ) Sekarang kita berada dimana : ( jalan ), ( no. Rumah ), ( kota ), (


kabupaten ), ( propinsi )

REGRISTASI

3 ( 3 ) Minta klien menyebutkan nama 3 buah benda, 1 detik untuk tiap benda.
Kemudian mintalah manula mengulang ke 3 nama tersebut. Berikan 1
angka untuk tiap jawaban yang benar. Bila masih salah, ulanglah
penyebutan ke 3 nama benda tersebut. Sampai ia dapat mengulangnya
dengan benar. Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah ( misal : bola,
kursi, sepatu )

( Jumlah percobaan ............................)

ATENSI DAN KALKULASI

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 45


5 ( 5 ) Hitunglah berturut-turut selang 7 mulai dari 100 ke bawah. 1 angka untuk
tiap jawaban yang benar. Berhenti setelah 5 hitungan ( 93, 86, 79, 72, 65
).

Kemungkinan lain, ejalah kata dunia dari akhir ke awal ( a-i-n-u-d )

MENGINGAT

3 ( 2 ) Tanyakan kembali nama ke 3 benda yang telah disebutkan di atas.


Berikan 1 angka untuk tiap jawaban yang benar.

BAHASA

9 ( 7 ) a. Apakah nama benda-benda ini ? Perlihatkan pensil dan arloji ) ( 2


angka )
b. Ulanglah kalimat berikut : Jika, Tidak. Dan, Atau Tapi ( 1 angka )
c. Laksanakan 3 buah perintah ini : Peganglah selembar kertas dengan
tangan kananmu, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkanlah
di lantai ( 3 angka )
d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut : PEJAMKAN MATA
ANDA ( 1 angka )
e. Tulislah sebuah kalimat ( 1 angka )
f. Tirulah gambar ini ( 1 angka )

SKOR 23
TOTAL

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 46


Tandailah tingkat kesadaran manula pada garis absis di bawah ini dengan
huruf.

Sadar Somnolen Stupor Koma

Keterangan :

Skor Total : 30

Nilai 24 30 : Normal

Nilai 17 23 : Mungkin ada gangguan fungsi kognitif

Nilai 0 16 : Ada gangguan kognitif

JAM SELESAI : 15.00 ..................................................

TEMPAT WAWANCARA : Kamar ..................................................

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 47


Diagnosa Keperawatan Gerontik

Tujuan & Kriteria


No. Diagnosa Keperawatan Intervensi
Hasil
1. Harga diri rendah Setelah dilakukan Bina hubungan
situasional b.d gangguan tindakan keperawatan saling percaya
gambaran diri,proses selama 1x24jam dengan klien.
kehilangan, perubahan diharapkan klien Gunakan
peran sosial, kurangnya menunjukkan harga ketenangan dalam
pengakuan/ penghargaan diri yang adekuat, pendekatan pada
ditandai dengan klien dengan kriteria: klien.
menunjukkan perilaku Klien Anjurkan klien
tidak asertif, klien mengungkapkan dalam
menganggap diri tidak penerimaan diri menggunakan
berdaya, tidak berguna. secara verbal. strategi koping
Klien yang sesuai (
mempertahankan misal: latian
postur tubuh yang perilaku asertif,
tegak. latihan kontrol
Klien rangsangan)
mempertahankan Tentukan harapan
kontak mata. klien tentang
Klien gambaran tubuh
menceritakan berdasarkan tahap
keberhasilan perkembangan.
dalam pekerjaan Dorong klien
dan kelompok untuk
sosial mempertahankan
kontak mata saat
berkomunikasi
dengan orang lain.
2. Resiko bunuh diri b.d Setelah dilakukan Bina hubungan

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 48


riwayat percobaan bunuh tindakan keperawatan saling percaya.
diri sebelumnya, desakan selama 1x24jam Tentukan adanya
hati, hidup sendiri, diharapkan klien resiko bunuh diri.
pensiun, ketidakstabilan dapat menahan Tentukan jika
ekonomi, kehilangan keinginan bunuh diri klien memiliki
kemandirian, penyakit dengan kriteria: peluang untuk
psikis, merasa bersalah, Klien mau mencari memiliki pikiran
penyakit kronis. bantuan ketika dan rencana
merasa ingin bunuh diri.
bunuh diri Pertimbangkan
Klien menjalankan adanya
kesepakatan untuk hospitalisasi
tidak terhadap
membhayakan diri perasaaan
Klien tidak ketidakmampuan
membawa klien.
peralatan untuk Pantau perilaku
menciderai diri/ agresif.
bunuh diri. Gunakan
Klien mampu ketenangan dalam
mempertahankan pendekatan pada
pengendalian diri klien.
tanpa pengawasan. Evaluasi dampak
dari situasi
kehidupan klien
terhadap peran
dan hubungannya
dengan orang lain.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 49


BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahwa pelayanan geriatrik di Indonesia sudah saatnya diupayakan di seluruh
jenjang pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk itu pengetahuan mengenai
geriatric harus sudah merupakan pengetahuan yang diajarkan pada semua tenaga
kesehatan. Dalam hal ini pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa
pada usia lanjut merupakan salah satu di antara berbagai pengetahuan yang perlu
diketahui. Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh karena itu sering
disertakan dalam pemeriksaan/assesmen geriatric, antara lain mengenai
pemeriksaan gangguan mental. Kognitif, depresi dan beberapa pemeriksaan lain.

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 50


DAFTAR PUSTAKA

Martono Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI. Jakarta:
Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS INDONESIA
Depkes R.I. 1999. Kesehatan keluarga, Bahagia di Usia Senja. Jakarta: Medi Media
Nugroho Wahyudi. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Jakarta: EGC

Panduan Program Pendidikan Ners IIK Bhakti Wiyata Kediri 51