Anda di halaman 1dari 10

PERKEMBANGAN PENYAKIT AMUBIASIS DI INDONESIA

Amubiasis adalah penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh parasit
usus Entamoeba histolytica. Penyakit ini tersebar hampir di seluruh dunia
terutama di negara berkembang yang berada di daerah tropis. Hal ini disebabkan
karena faktor kepadatan penduduk, higiene individu, dan sanitasi lingkungan
hidup serta kondisi sosial dan cultural yang menunjang.
Sekitar 90% infeksi asimtomatik, sementara 10% lainnya menimbulkan
berbagai sindrom klinis, mulai dari disentri sampai abses hati atau organ lain.
Prevalensi infeksi amuba di seluruh dunia bervariasi dari 5-81%,
diperkirakan 10%dari populasi di seluruh dunia pernah terinfeksi Entamuba
histolytica, terutama di negara dengan iklim tropis yang mempunyai kondisi
lingkungan yang buruk, sanitasi perorangan yang buruk dan sosioekonomi yang
rendah. Infeksi Entamuba histolytica dapat mencapai 50 juta kasus diseluruh
dunia, dengan kematian 70-100 ribu per tahun.
Amubiasis biasanya terjadi di daerah di mana kondisi kehidupan yang
padat dan di mana ada kurangnya sanitasi yang memadai. Penyakit ini tersebar
hampir di seluruh dunia terutama di negara berkembang yang berada di daerah
tropis. Hal ini disebabkan karena faktor kepadatan penduduk, higiene individu,
dan sanitasi lingkungan hidup serta kondisi sosial dan cultural yang menunjang.
ASKEP AMUBIASIS

A. Definisi
Amubiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa usus. Protozoa
tersebut hidup di kolon, menyebabkan radang akut dan kronik yang disebut
amubiasis intestinal. Bila tidak diobati amubiasis intestinal akan menjalar ke luar
usus dan menyebabkan amubiasis ekstra-intestinal.
Amubiasis adalah penyakit usus yang biasanya ditularkan melalui
makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh parasit mikroskopis yang
disebut Entamoeba histolytica (E. histolytica). Parasit amuba, organisme bersel
tunggal. Pada umumnya, parasit ini tinggal di usus besar seseorang tanpa
menyebabkan gejala apapun. Akan tetapi terkadang, parasit ini menyerang lapisan
usus besar, menyebabkan diare berdarah, sakit perut, kram, mual, kehilangan
nafsu makan, atau demam.

B. Penyebab
Entamoeba histolytica

C. Gambaran Klinis
- Masa inkubasi rata-rata 2 - 4 minggu.
- Amubiasis kolon akut atau disentri amuba memberikan gejala sindrom disentri
yang merupakan kumpulan gejala yang terdiri atas tinja berlendir dan
berdarah, tenesmus anus, nyeri perut dan kadang-kadang disertai demam.
- Pada amubiasis kronik penderita mengeluh nyeri perut dan diare yang diselingi
konstipasi.
- Pada amubiasis ekstraintestinalis kadang ditemukan riwayat amubiasis usus.
- Penderita amubiasis hati biasanya demam, hati membesar disertai nyeri tekan
abdomen terutama di daerah kanan atas, berkeringat, tidak nafsu makan, berat
badan turun dan ikterus.
- Amubiasis kutis dan perinealis menyebabkan ulkus yang tepinya bergaung,
sedangkan amubiasis vaginalis menimbulkan leukore dengan bercak darah dan
lendir.
Kebanyakan infeksi bersifat asimtomatik dan kista dapat ditemukan dalam
feses. Gejala yang biasa ditemukan adalah diare, muntah, dan demam. Tinja
lembek atau cair disertai lendir dan darah. Pada infeksi akut kadang-kadang
ditemukan kolik abdomen, kembung, tenesmus dan bising usus yang hiperaktif.
Invasi jaringan terjadi pada 2-8 % kasus yang terinfeksi dan mungkin
berhubungan dengan galur parasit atau status nutrisi serta flora usus.
Manifestasi klinis amubiasis yang paling sering disebabkan invasi lokal
pada epitel usus dan penyebaran ke hati. Amubiasis di luar usus (sebagai
penyulit), misalnya amubiasis hati, abses paru, peritonotis amuba, amubiasis kulit,
abses otak dan penyebaran yang sangat jarang, yaitu ke limpa, pankreas dan
saluran kemih.
Umumnya infestasi amuba yang paling sering adalah amubiasis
intraluminal asimtomatik. Disentri amuba merupakan bentuk tersering amubiasis
invasif yang simtomatik. Dapat terjadi dalam 2 minggu dari infeksi atau lambat
dalam beberapa bulan. Timbulnya penyakit perlahan-lahan dengan rasa nyeri
(kolik) pada abdomen dan pergerakan usus yang sering. Diare sering disertai
dengan tenesmus. Feses berdarah terjadi pada 95 % kasus dan mengandung
sejumlah mukus dengan beberapa leukosit. Disentri amuba akut berlangsung
beberapa hari sampai minggu, pada penderita yang tidak diobati sering sekali
kambuh. Pada 1/3 kasus disentri amuba ditandai dengan gejala mendadak, seperti
demam tinggi, menggigil, diare berat menyerupai disentri basiler. Akibatnya dapat
terjadi dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit.

D. Pemeriksaan Laboratorium
Sangat penting untuk membuat diagnosis ialah menemukan Entamoeba
histolityca baik secara langsung meupun tidak langsung (biakan). Pemeriksaan
tinja yang dilakukan ialah tinja segar dan diwarnai dengan eosin 1%,
hematoksilin, lugol 1% atau pewarnaan lain.
Pemeriksaan tinja segar penderita didapatkan hasil, sebagai berikut :
- Makroskopis : Warna : Kuning kehijauan
Lendir : +
Darah : +
- Mikroskopis : Leukosit : 15 -20
Amoeba : +
Eritrosis : 4 8
Telur :

E. Diagnosis Banding
Kolitis amuba invasif dapat menyerupai kolitis ulseratifa, crohn disease of
the colon, disentri basiler, atau kolitis tuberkulosa. Semua pasien yang mengeluh
feses berdarah harus dilakukan pemeriksaan feses, proktaskopi, dan serologik.

F. Diagnosa
- Amubiasis kolon akut : menemukan E. Histolytica bentuk histolitika dalamm
tinja cair.
- Amubiasis kolon menahun : menemukan E. Histolytica bentuk kista dalam
tinja. Jika tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulang 3hari berturut-
turut.
- Amubiasis hati : menemukan bentuk histolika e. Histolytica dalam biopsi
dinding abses atau aspirasinanah. Jika tidak ditemukan ameba dapat
dilakukan pemeriksaan serologi untuk menunjang diagnosis amubiasis.

G. Komplikasi
Beberapa sarjana membagi amubiasis menjadi amubiasis usus akut dan
kronik. Amubiasis di luar usus (sebagai penyulit) misalnya amubiasis hati, abses
paru, perikarditis amuba, peritonitis amuba, amubiasis kulit, abses otak dan
penyebaran yang sangat jarang, yaitu ke limpa, pankreas dan saluran kemih.

H. Penatalaksanaan
a. Umum
Isolasi, pemberian cairan yang adekuat, pengobatan penyulit, monitor
pemeriksaan feses 3 kali untuk memastikan apakah infeksi sudah dapat
dieradikasi.
b. Spesifik
1. Infeksi usus asimtomatik
Diloksanid furoat (furamid) 7-10 mg kgBB/hari dalam 3 dosis, atau
iodokuinol 10 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis atau Paromomisin (humatin) 8
mg/kgBB/hari dalam 3 dosis. Obat-obat tersebut diberikan selama 7-10 hari.
2. Infeksi usus ringan sampai sedang
Metronidazol 15 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis, selama 10 hari. Efek
samping kebanyakan ringan berupa ruam, kadang-kadang ataksia atau parestesia.
3. Infeksi usus berat dan abses amuba hati
Metronidazol 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis, peroral atau intravena,
selama 10 hari, atau dehidroemetin 0,5-1 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis
intramuskular selama 5 hari, maksimal 90 mg/hari. Dapat menimbulkan aritmia
jantung, nyeri dada dan selulitis pada tempat suntikan.

I. Prognosis
Prognosis amubiasis usus baik bila tidak ada penyulit. Data statistik
menunjukkan bahwa kematian amubiasis usus tanpa abses hati hanya 1-2 %.
Kematian ini biasanya akibat nekrosis atau perforasi usus, tindakan bedah sedini
mungkin dapat menurunkan angka kematian karena penyulit ini dari 100 %
menjadi 28 %.

J. Pencegahan
- Pencegahan meliputi perbaikan kesehatan lingkungan dan higiene
perorangan, desinfeksi sayur dan buah-buahan yang diduga kurang bersih.
- Pengidap kista tidak boleh bekerja dibidang penyiapan makanan dan
minuman.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengumpulan data
1. Klien mengatakan Nyeri pada daerah Abdomen
2. Klien mengatakan massa feses cair
3. Klien nampak cemas / Ansietas
4. Klien mengatakan mengalami Dehidrasi
5. Klien mengatakan mengalami Syok Hipovolemik
6. Klien mengatakan nutrisi kurang dari kebutuhan
7. Klien mengatakan kurang informasi tentang perawatan & pengetahuan

B. Klasifikasi Data

Data Subjektif:

Klien mengatakan Nyeri pada Abdomen


Klien mengatakan Syok Hipovolemik
Klien mengatakan Mengalami Ansietas
Klien mengatakan kurang informasi tentang perawatan & pengetahuan
Klien mengatakan kekurangan cairan & elektrolit

Data Obyektif

Terjadi Demam
Feses Nampak Cair & Berlendir
Terjadi Anoreksia
Demam
BB Kurang dari Normal
Terjadi Dehidrasi
Gangguan pola defekasi
Terjadi mual & muntah
B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Gangguan eliminasi (BAB lebih dari normal) berhubungan dengan inflamasi,
malabsorbsi usus, ditandai dengan peningkatan peristaltik usus, defekasi sering
dan berair, nyeri abdomen.
Intervensi:
- Observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah dan faktor
pencetus.
Rasional : Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji
beratnya episode.
- Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.
Rasional : Istirahat memutuskan motilitas usus juga menurunkan laju
metabolisme.
- Buang feses dengan cepat, berikan pengharum ruangan.
Rasional : Menurunkan bau tidak sedap untuk menghindari malu
pasien.
- Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare, misalnyasayuran
segar dan buah, sereal, bumbu, minuman karbonat, produk susu.
Rasional : Menghindari iritan, meningkatkan istirahat usus.
- Mulai lagi pemasukan cairan per oral secara bertahap. Tawarkan minuman
jernih tiap jam, hindari minuman dingin.
Rasional : Memberikan istirahat kolon dengan menghilangkan atau
menurunkan rangsang makanan/cairan.
- Observasi demam, takikardi, letargi, leukosit, ansietas dan kelesuan.
Rasional : Mengidentifikasi adanya proses infeksi/peradangan.
2. Gangguan keseimbangan cairan (dehidrasi) berhubungan dengan intake kurang
daripada output, kehilangan berlebih pada sistem GI melalui feses yang cair
dan muntah ditandai dengan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat, TTV
tidak stabil (takikardi, hipotensi dan demam).
Intervensi
- Awasi masukan dan haluaran, karakter dan jumlah feses, perkiraan
kehilangan yang tak terlihat, misalnya: berkeringat, ukur berat jenis urine,
observasi oliguria.
Rasional : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi
ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman
untuk penggantian cairan.
- Kaji TTV
Rasional : Hipotensi, takikardi, demam dapat menimbulkan/
menunjukkan respon terhadap kehilangan cairan.
- Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor
kulit, pengisian kapiler lambat.
Rasional : Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.
- Ukur berat badan tiap hari.
Rasional : Indikator cairan dan status nutrisi.
- Observasi perdarahan dan tes feses tiap hari untuk adanya darah samar.
Rasional : Diet tak adekuat dan penurunan absorbsi dapat menimbulkan
defisiensi vitamin K dan merusak koagulasi, potensial resiko
perdarahan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan
absorpsi nutrien dan anoreksia, status hipermetabolik ditandai dengan
penurunan berat badan, peningkatan bunyi usus, konjungtiva dan membran
mukosa pucat, menolak untuk makan.
Intervensi:
- Timbang berat badan tiap hari.
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet.
- Dorong tirah baring dan atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik.
- Anjurkan istirahat sebelum makan.
Rasional : Menenangkan peristaltik, meningkatkan energi untuk makan.
- Berikan kebersihan mulut.
Rasional : Mulut yang bersih dapat menyenangkan rasa makanan.
- Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan yang
menyenangkan dengan situasi tidak terburu-buru.
Rasional : Lingkungan yang menyenangkan menurukan stres dan lebih
kondusif untuk makan.
- Catat dan temukan perubahan simptomatologi.
Rasional : Memberikan rasa kontrol pada pasien dan kesempatan
untuk memilih makanan yang diinginkan/dinikmati, dapat
meningkatkan masukan.

D. Evaluasi

1. Diagnosa Keperawatan I

- Bising usus dan peristaltik normal.

- Defekasi normal 1 kali sehari.

- Konsistensi feses padat dan lunak.

2. Diagnosa Keperawatan II

- Masalah dehidrasi pasien teratasi.

- Turgor kulit baik.

- Membran mukosa lembab.

- TTV stabil.

- Balance intake output.

3. Diagnosa Keperawatan III

- Berat badan normal sesuai umur.

- Nafsu makan baik.

- Bising usus menurun.


DAFTAR PUSTAKA

Riyanto, Agus. 2011. Sekilas Tentang Amubiasis. http://dokter-


agus.blogspot.com/2011 /10sekilas -tentang-amubiasis.html.

Risky, Arianto. 2011. Amubiasis. http://freshlifegreen.blogspot.com/2011


/03/aubiasis.html.

Nisa, Poel.2013. Amubiasis Penyakit Dalam. http://npoel.blogspot.com/2013/01/


amubiasis-penyakit-dalam.html