Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MATA KULIAH

PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD

Perkembangan Pendidikan di Sekolah Dasar


dan
Karakteristik Perkembangan Siswa di Sekolah Dasar

Disusun oleh :
KELOMPOK 2
1. Masdalena ( 835883047 )
2. Jamiah (835943751)
3. Hilda Indriyani (835877179)
4. Elmi Hayati (835871676)

Tutor Pengampu:
Anita Adesti, S.Pd., M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UPBJJ-UT PALEMBANG
POKJAR BATURAJA
2017.1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas materi tentang Perkembangan Pendidikan
Sekolah Dasar dan Karakteristik Perkembangan Siswa Sekolah Dasar.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mata kuliahPerspektif
Pendidikan SD yang sangat diperlukan dalam materi perkuliahan demi mendapatkan
pemahaman yang maksimal dalam melakukan kegiatannya dan sekaligus melakukan apa yang
menjadi tugas mahasiswa untuk memenuhi tugas pembuatan makalah ini. Penulis menyadari
bahwa penulis tidak dapat menyusun makalah ini tanpa ada bantuan, bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis akan dengan senang hati menerima saran maupun
kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan selanjutnya.
Akhir kata penulis mohon maaf apabila ada kekurangaan dalam pembuatan makalah
ini, semoga makalah yang telah dibuat dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii


DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan .................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Perkembangan Pendidikan Sekolah Dasar di Era Orde baru ................... 3
B. Perkembangan Pendidikan Sekolah dasar di Era Reformasi ................... 4
C. Karakteristik Perkembangan Fisik, Motorik, Emosi dan Sosial
Anak ......................................................................................................... 7
D. Karakteristik Perkembangan Intelektual, Bahasa, Moral dan
Spiritual Anak............................................................................................ 9

BAB III PENUTUP ................................................................................................. 15


A. Kesimpulan ............................................................................................... 15
B. Saran ......................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 16


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan upaya mewujudkan UUD 1945, yaitu memajukan


kesejahtraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan
ketertiban dunia. Sesuai dengan UUD 45 pasal 27 pendidikan merupakan hak setiap
warga negara Indonesia dimana pelaksanaannya diselenggarakan melalui Sistem
Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa masyarakat sebagai mitra pemerintah
berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan
pendidikan nasional.
Pendidikan SD berubah seiring dengan pergantian pemerintahan. Era orde baru
berawal dari pemerintahan orde lama dibawah kepemimpinan Ir.Soekarno (1945-1965),
yang kemudian dilanjutkan pada pemerintahan Soeharto (1967-1998) atau lebih dikenal
dengan era orde baru. Era orde baru berakhir pada masa kepemimpinan BJ Habibie (21
Mei 1998) yang merupakan simbol dari reformasi. Perubahan ini tentunya disesuaikan
dengan perkembangan anak pada usia SD.
Perkembangan anak pada usia sekolah dasar (enam sampai dua belas tahun)
merupakan sesuatu yang kompleks. Artinya banyak faktor yang turut berpengaruh dan
saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Baik unsur-unsur
bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam berinteraksi dengan
lingkungan, saling memberikan kontribusi tertentu terhadap arah dan laju perkembangan
anak tersebut.
Guru, terutama guru SD diharapkan mempunyai pemahaman konseptual tentang
perkembangan dan cara belajar anak di SD. Pemahaman konseptual tersebut meliputi
gambaran tentang siapa anak SD dan bagaiamana mereka berkembang, yang mencakup
tentang karakteristik perkembangan anak usia SD dalam berbagai aspek fisik dan
motorik, intelektual emosi, bahasa, sosial, moral, sikap dan kesadaran beragama. Di
sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan
yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam
kehidupannya kelak. Dengan bekal pemahaman konstektual tersebut, guru diharapkan
dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan anak SD.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah perkembangan pendidikan sekolah dasar di Era OrdeBaru?
2. Bagaimanakah perkembangan pendidikan sekolah dasar di Era Reformasi?
3. Bagaimanakah Karakteristik perkembangan fisik, motori, emosi dan sosialanak?
4. Bagaimanakah Karakteristik perkembangan intelektual, bahasa, moral dan spiritual
anak?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untukmengetahui perkembanganpendidikansekolahdasar di Era OrdeBaru.
2. Untuk mengetahui perkembanganpendidikansekolahdasar di Era Reformasi.
3. Untuk mengetahui Karakteristik perkembangan fisik, motori, emosi dan
sosialanak.
4. Untuk mengetahui Karakteristik perkembangan intelektual, bahasa, moral dan
spiritual anak.

D. MANFAAT PENULISAN
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan kita dapat mengetahui dan mengerti
perkembangan peserta didik, sehingga nantinya kita dapat menerapkan ketika
menghadapi peserta didik usia SD.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DI ERA ORDE BARU


Era orde baru berawal dari pemerintahan orde lama dibawah kepemimpinan
Ir.Soekarno (1945-1965), yang kemudian dilanjutkan pada pemerintahan Soeharto
(1967-1998) atau lebih dikenal dengan era orde baru. Era orde baru berakhir pada masa
kepemimpinan BJ Habibie (21 Mei 1998) yang merupakan simbol dari reformasi. 3 hal
penting dalam perkembangan pendidikan sekolah dasar pada era orde baru yaitu:
1. Perundang-undangan
Semua ketentuan perundang-undangan berdasar pada pasal 31 UUD 1945,
jadi Pendidikan Nasional merupakan produk sejarahdalam pemikiran bangsa
Indonesia untuk mewujudkan salah satu tujuan pemerintahan negara Indonesia,
seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia keempat.
2. Kebijakan Strategis
Yaitu dengan pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang I, dengan jangka
waktu 25 tahun mulai Repelita I hingga Repelita V. hal ini diarahkan pada
perwujudan komitmen nasional terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai
landasan dan tujuan akhir pendidikan.
3. Isi dan proses
a. Kurikulum dan perangkat pendidikan
Isi pendidikan dasar diterapkan sekurang-kurangnya 13 bidang kajian,
yaitu ; Pendidikan Pancasila,Agama, Kewarganegaraan, bahasa
Indonesia,Membaca dan Menulis, Matematika,Pengantar Sains dan
Teknologi, Ilmu Bumi, SNSU, KTK, PenJaskes, Menggambar, dan Bahasa
Inggris.
b. Pengolahan
Perluasan dan pemerataan pendidikan dimaksudkan untuk
menciptakan keadaan sehingga setiap orang mempunyai kesempatan yang
sama untuk memperoleh pendidikan,yang didukung dengan pengangkatan
guru baru dan penghapusan secara bertahap SPP, yang sebelumnya menjadi
beban wali murid.Upaya tersebut telah menunjukkan hasil yang menakjubkan
sebagai berikut.
1) Daerah terpencil secara geografis karena letaknya berjauhan dengan
daerah lain dan komunikasi yang sulit
3
SD yang terdiri atas dua atau tiga guru untuk melayani murid pada 6
kelas dengan diterapkan pembelajaran kelas rangkap melalui program
satuan bakti guru daerah terpencil seperti di Kepulauan Riau
2) Daerah dengan penduduk yang padat
Di daerah perkotaan dikembangkan gedung bertingkat dengan ruang
belajar lebih dari 6 ruangan agar dapat menampung murid lebih dari 300
orang.
3) Daerah normal
Daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk di bawah 1000 orang
per kilometer persegi, sehingga dibangun gedung SD dengan enam
ruangan untuk enam kelas. Melalui SD Tradisional ( Konvensional), SD
Pamong, Program Kejar Paket A, SLB, SDLB, Sekolah Terpadu.

B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DI ERA REFORMASI


Hal- hal penting dalam perkembangan pendidikan SD di era reformasi, yaitu:
1. Ketentuan Perundang-Undangan Terkait Pendidikan SD
Ketentuan perundang-undangan yang mengatur Sistem Pendidikan Nasional pada
Era Reformasi adalah Pasal 31 UUD 1945 sebelum dan sesudah amandemen yang
terjabar atas:
a. UU No.2 Thn.1989 tentang SISDIKNAS yang mengatur pendidikan nasional sampai
dengan tahun 2003
b. UU No.20 Thn.2003 tentang SISDIKNAS yang mengatur pendidikan nasional dari
tahun 2003 sampai dengan saat ini
c. PPRI No.19 Thn.2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagai salah satu
ketentuan perundang-undangan turunannya. Perlu dikemukakan bahwa proses
pendidikan nasional termasuk pendidikan SD tetap dikelola secara nasional dalam
bingkai politik NKRI, namun dalam paradigma yang berbeda yakni semula
menerapkan paradigma sentralisasi pendidikan yang ditandai dengan peran
Pemerintah Pusat yang sangat besar, sekarang menjadi Paradigma desentralisasi
pendidikan yang menekankan pada otonomi daerah, melalui peran pemerintah
daerah.

4
2. Berbagai Kebijakan Strategis Terkait dan / Tentang Pendidikan SD dalam Konteks
Pembangunan Pendidikan Nasional
Kebijakan nasional dalam sektor pendidikan pada awal era Reformasi adalah
lanjutan Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PJP II) awal Repelita VI (1994/1995
1998/1999) yang merupakan kelanjutan Repelita I hingga Repelita V era Orde Baru. hal
ini diarahkan pada perwujudan komitmen nasional terhadap Pancasila dan UUD 1945
sebagai landasan dan tujuan akhir pendidikan.
Rincian prioritas yang terkait pendidikan SD adalah sebagai berikut.
a. Penyelenggaraan Wajar Dikdas 9 tahun
b. Penyelenggaraan Pendidikan nonformal yang bermutu
c. Pengembangan kurikulum SD yang disesuaikan dengan IPTEK
d. Pengembangan pendidikan Kewarganegaraan, multikultural, budi pekerti dan
lingkungan hidup
e. Penyediaan pendidik yang profesional
f. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai
g. Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik
h. Mengembangkan TIK
i. Mengembangkan sistem evaluasi, akreditasi dan sertifikasi
j. Menyempurnakan manajemen pendidikan
k. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan
l. Menata sistem pembiayaan pendidikan
m. Peningkatan anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN dan APBD
n. Meningkatkan penelitian dan pengembangan untuk mendukung pelaksanaan
Wajar Dikdas 9 tahun.

3. Standar Nasional Pendidikan


Sebagai sarana penjaminan mutu pendidikan nasional, yang pengembangan dan
pemantauan nya dilakukan oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan sehingga
diperlukan Standar Nasional Pendidikan yang mencakup :
a. SKL
b. Standar isi
c. Standar proses
d. Standar penilaian
e. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
f. Standar pendanaan
5
g. Standar pengelolaan dan pengawasan
h. Standar sarana prasarana.

4. Visi dan Misi Pendidikan Nasional


Visi Pendidikan Nasional Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial
yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia
berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab
tantangan zamn yang selalu berubah
Misi Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut.
a. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan
yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia
b. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh
sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar
c. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral
d. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai
pusat pembudayaan ilmu pengetahun, keterampilan, pengalaman, sikap, dan
nilai berdasarkan standar nasional dan global
e. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks NKRI

5. Esensi Sisdiknas
Pasal 1 UU Sisdiknas 20/2003 yang mengartikan pendidikan sebagai Usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara

6. Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah
Proses pencerdasan warga negara dilaksanakn melalui sistem pendidikan yang
dijamin secara konstitusional sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 5 UU Sisdiknas
20/2003 sebagai berikut.
a. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu

6
b. Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/
sosial berhak memperoleh pendidikan khusus
c. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang
tepencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus
d. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak untuk
memperoleh pendidikan khusus
e. Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan kesempatan meningkatkan
pendidikan sepanjang hayat.
Namun demikian mereka juga dituntut untuk melaksanakan kewajiban Menjaga
norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan
pendidikan dan ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta
didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku

C. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FISIK, MOTORIK, EMOSI DAN SOSIAL


ANAK
1. Karakteristik Perkembangan Fisik
a. Pengaruh Keluarga/Keturunan Yang dimaksud adalah faktor keturunan. Anak akan
mewarisi gen dari orang tuanya.
b. Gizi Anak yang dalam pertumbuhannya dibesarkan dengan gizi maupun perawatan
yang serba berkecukupan, akan terlihat lebih besar, lebih tinggi dan sehat untuk
seumurnya.
c. Tingkat Sosial Ekonomi Anak yang dibesarkan oleh keluarga dengan tigkat sosial
ekonomi sosial yang lebih tingg biasanya akan lebih terpenuhi semua kebutuhan
hidupnya, terutama kebutuhan fisik.
d. Faktor Emosional Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan
menyebabkan berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan.
e. Jenis Kelamin Sekitar umur 11-12 tahun, anak perempuan lebih cepat tinggi dan
berat daripada anak laki-laki.
f. Kesehatan Anak yang sehat dan jarang sakit, akan terlihat sehat dan segar
penampilannya, aktif bergerak seakan tidak mengenal lelah
g. Suku Bangsa/Ras Keadaan anak dapat juga dipengaruhi oleh suku bangsa/ras yang
diwarisi dari nenek moyangnya.

7
2. Karakteristik Perkembangan Motorik
Motorik merupakan gerakan-gerakan tubuh yang terkoordinasi karena adanya kerja
sama antara otot, otak dan saraf. Keterampilan motorik akan berkembang dengan baik
bila dipelajari dan adanya bimbingan. Keterampilan anak menggunakan jari-jarinya,
seperti menulis, atau memegang sendok disebut sebagai keterampilan motorik halus.
Sedangkan keterampilan anak berjalan, melompat, melempar, menangkap, berlari serta
menjaga keseimbangan badannya disebut sebagai keterampilan motorik kasar. Semakin
bertambah usia anak, maka semakin sempurna gerakan motoriknya, seperti gerakan-
gerakan berikut.
a. Cara memegang Anak-anak yang masih kecil, cara memegang sesuatu masih asal-
asalan saja, setelah lebih dewasa, cara memegang sesuatu sudah sempurna dan siap
untuk melakukan segala aktivitas tanganya dengan baik.
b. Cara berjalan Anak kecil yang berjalan, seolah-olah seluruh tubuhnya ikut bergerak.
Namun, pada anak yang lebih dewasa, mereka hanya mempergunakan otot yang
perlu saja, karena mereka sudah dapat mengoordinasi anggota badanya.
c. Cara memegang Anak kecil yang menendang bola, kedua belah tangannya mengayun
ke depan dengan berlebihan, seakan seluruh anggota badannya ikut bergerak.
Namun, pada anak yang lebih dewasaakan menendang bola dengan menggunakan
kakinnya dengan menempatkan pada objek sasaran dengan tepat.

3. Karakteristik Perkembangan Emosi


Anak usia Sekolah Dasar sudah mulai tahu bahwa ungkapan emosi terutama emosi
yang kurang baik, secara sosial tidak diterima oleh teman sebaya atau orang lain,
sehingga anak mulai berusaha mengendalikan ungkapan-ungkapan emosinya tersebut.
Cara mendidik anak yang bersifat demokratis dan permisif akan meninjang ekspresi
emosi yang menyenangkan. Anak akan lebih terbuka, santai, dan mudah bergaul. Usia
Sekolah Dasar merupakan masa peralihan antara masa anak dan menjelang remaja,
sehingga emosi anak kadang-kadang kurang stabil. Dengan menanamkan pengertian
perlunya menahan luapan emosi yang sangat berlebihan. Hal tersebut akan membawa
kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Melalui bimbingan tersebut, emosi anak
bisa terkendali.

4. Karakteristik Perkembangan Sosial


Perkembangan sosial berarti suatu gambaran tentang perilaku anak dalam kehidupan
sosialnya. Pada usia Sekolah Dasar perkembangan sosial anak dapat disebut sebagai usia
8
berkelompok. Pada usia ini ditandai dengan adanya minat anak terhadap aktivitas
bersama teman-teman. Mereka merasa puas dengan perilaku hidup berkelompok dan
bahagia apabila dapat diterima menjadi anggota dalam suatu kelompok tersebut. Agar
anak dapat bersosialisasi dengan baik, perlu belajar mengenal, menafsirkan dan
melakukan reaksi secara tepat terhadap situasi sosial yang mereka hadapi. Motivasi
berteman pada anak Sekolah Dasar dapat dibedakan dalam tiap tahap, yaitu: tahap
pemenuhan kebutuhan, tahap balas jasa, dan tahap teman akrab.
a. Tahap Pemenuhan Kebutuhan
Pada tahap ini anak menghargai teman sebagai individu bukan karena status sosial
ekonomi atau yang lainnya, tetapi mereka lebih tertarik kepada anak lain yang mau
bermain bersama, sehingga terjalin persahabatan. Sebab, anak mengaggap bahwa
berteman dan bersahabat merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhannya.
b. Tahap Balas Jasa
Pada tahap ini, anak mendapatkan teman karena adanya suatu kepentingan rasa
keadilan.
c. Teman Akrab
Pada tahap ini, anak-anak menjalin persahabatan yang betul-betul akrab. Mereka
saling berbagi perasaan, masalah maupun konflik, bercanda, tertawa, bercerita, dan
kadang-kadang juga terjadi pertengkaran kecil yang kemudian bercanda lagi,
sehingga akan terbentuk ikatan emosional yang mendalam. Perkembangan sosial
anak usia SD merupakan suatu tahapan yang dapat menentukan kkualitas sosial
mereka setelah dewasa. Guru memegang peran untuk membangun kehidupan sosial
siswanya. Untuk mengetahui hubungan antar siswa dalam satu kelas, guru dapat
mempergunakan teknik sosiometri. Dalam hal ini, guru dapat mempergunakan teknik
sosiometri untuk mengetahui hubungan sosial mereka. Sosiometri adalah suatu
teknik untuk menggambarkan struktur hubungan yang ada dalam bentuk sosiogram.
Adapun kegunaan sosiometri bagi guru atau konselor adalah dengan sosiometri
tersebut dapat diidentifikasi siswa mana yang memerlukan bantuan dalam
menyesuaikan dirinya teerhadap kelompok.

D. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN INTELEKTUAL, BAHASA, MORAL DAN


SPIRITUAL ANAK
1. Perkembangan Intelektual
Intelegensi atau intelek, pada dasarnya mempunyai arti yang sama, dalam hal ini
intelek maksudnya ialah pikir, sedangkan intelektual adalah kemampuan kecerdasan.
9
Pada usia sekolah dasar anak mulai memperhatikan keadaan sekeliling dengan objektif.
Anak memasuki masa belajar, pada masa ini anak mulai ingin mengetahui segala sesuatu,
mereka beruasahan menambah pengetahuan, kemampuan maupun pengalaman. Berikut
tahap perkembangan intelektual menurut piaget:
a. Desentrasi dan Konservasi
Kemampuan untuk memusatkan perhatiannya pada beberapa atribut sebuah
benda atau kejadian secara bersamaan dan mengerti hubungan antardimensi. Dalam
percobaan konservasi jumlah yang khas, satu barisan yang terdiri dari lima kancing
berjajar tepat di atas barisan lain yang juga terdiri dari lima kancing, sehingga kedua
barisan sama panjangnya. Anak itu setuju bahwa kedua barisan mempunyai jumlah
kancing yang sama. Bila salah satu barisan diperpendek dengan merapatkan kancing-
kancing itu satu sama lain, anak tahap praoperasional biasanya mengatakan bahwa
barisan yang lebih panjang mempunyai lebih banyak kancing. Anak tahap
operasional konkret mengetahui bahwa pengaturan kembali dari kancing tidak
mengubah jumlahnya.
Menurut Piaget anak-anak tahap operasi konkret mengerti masalah konservasi
karena mereka dapat melaksanakan operasi mental yang diputarbalikkan dan mereka
juga mengerti dua prinsip logika yang penting. Prinsip pertama, disebut identitas atau
prinsip ekuivalen, yang menunjukkan bahwa bila ukuran A sama dengan B (misalnya
panjangnya), dan B sama dengan C, maka seharusnya A adalah sama dengan C.
Seseorang tidak perlu mengukur A dan C untuk mengetahui kebenarannya. Prinsip
kedua, ialah bahwa benda dan kejadian mempunyai lebih dari satu dimensi, misalnya
berat dan ukuran, dan dimensi ini mungkin terdiri dari hubungan yang berbeda-beda.
Anak mengetahui bahwa sebuah batu kerikil itu kecil dan ringan, sebuah bola boling:
kecil dan berat, sebuah balon besar walaupun ringan, mobil besar dan berat.
b. Seriasi
Karakteristik lain dari tahap operasional konkret ialah kemampuan untuk
mengatur benda sesuai dengan beberapa dimensi kuantitatif seperti berat atau ukuran.
Kemampuan ini disebut seriasi. Seorang anak usia 8 tahun dapat mengatur delapan
tongkat dengan panjang yang berbeda dengan urutan terpendek sampai terpanjang.
Seriasi menggambarkan kemampuan anak akan logis lain yang penting disebut
transitivitas, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan tetap yang tertentu di antara
kualitas dari benda. Misalnya A lebih panjang dari B dan B lebih panjang dari C,
maka A harus lebih panjang dari C. Anak-anak dalam tahap operasi konkret
mengetahui berlakunya peraturan itu bahkan juga bila mereka tidak pernah melihat
10
benda A, B dan C. Kemampuan yang oleh Piaget disebut seriasi penting untuk
mengerti hubungan satu nomor dengan yang lain dan karenanya untuk mempelajari
ilmu hitung.
c. Pemikiran Relasional
Anak tahap operasional konkret menghargai istilah seperti lebih tinggi, lebih
pendek, dan lebih gelap daripada besar absolut. Anak yang lebih kecil berpikir dalam
istilah absolut dan menginterpretasikan lebih gelap dengan arti sangat gelap
daripada lebih gelap dari benda lain. Bila pada mereka diperlihatkan dua benda
warna cerah, salah satu di antaranya sedikit lebih gelap, dan mereka diminta untuk
mengambil benda yang lebih gelap, maka mereka mungkin tidak menjawab atau
mereka akan berkata bahwa tidak ada yang lebih gelap. Berpikir relasional
merupakan gambaran lain dari kemampuan untuk menimbang lebih dari satu
kejadian secara bersamaan karena ia membutuhkan perbandingan dari dua benda
atau lebih.
d. Inklusi Kelas
Anak tahap operasional konkret dapat berpikir secara bersamaan tentang bagian
dan keseluruhan. Bila pada seorang anak usia 8 tahun diperlihatkan delapan permen
kuning dan empat permen coklat dan ditanya, Apakah terdapat lebih banyak permen
kuning atau coklat? anak itu menjawab, terdapat lebih banyak permen. Demikian
juga seorang anak yang berusia 5 tahun yang diberi persoalan yang sama biasanya
akan berkata, lebih banyak permen kuning. Jawaban ini menurut Piaget
mencerminkan ketidakmampuan anak kecil untuk memikirkan tentang sebagian dan
keseluruhan secara bersama-sama.

Pengertian anak tentang pemasukan kelas menggambarkan prinsip logis bahwa terdapat
hubungan hirarki antar golongan. Anak operasional konkret menghargai bahwa beberapa
himpunan golongan saling sesuai dengan yang lain. Misalnya, semua jeruk termasuk
golongan buah-buahan, semua buah-buahan tergolong dalam makanan, dan semua makanan
termasuk dalam golongan yang lebih besar barang-barang yang dapat dimakan. Pertama, anak
dapat mengerjakan sebuah operasi dan secara mental memisahkan setiap golongan benda dan
menggabungkannya kembali. Golongan makanan terdiri dari semua barang yang dapat
dimakan, termasuk buah yang dapat dimakan dan semua makanan lain yang bukan merupakan
buah-buahan. Kedua, anak operasi konkret menyadari bahwa sifat khusus dari benda dapat
termasuk lebih dari satu golongan atau lebih dari satu hubungan pada satu saat, sebuh prinsip
yang disebut penggandaan kelas atau relasi. Anak-anak menghargai bahwa pisang dapat
11
termasuk bersama-sama dalam golongan makanan alamiah dan golongan makanan manis,
sedang roti termasuk golongan makanan buatan dan golongan tepung.
Walaupun anak-anak operasional lebih maju dari tahap praoperasional dalam berpikir,
pemecahan masalah dan logika, pemikiran mereka tetap terbatas pada di sini dan
sekarang (here and now) dari operasional konkret. Pada tingkat ini anak-anak menjaga
kuantitas dan jumlah, dapat menyusun dan menggolongkan benda nyata dan benda lain.
Namun mereka tidak dapat berpikir tentang hal abstrak, hipotetik atau kejadian semu.
Selanjutnya, walaupun mereka dapat menyusun serangkaian kotak menurut ukuran, mereka
mendapat kesulitan dalam memecahkan masalah lisan yang abstrak seperti, Ani lebih tinggi
dari Lidwin. Lili lebih pendek dari Lidwin. Siapa yang paling tinggi?.

2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak


Anak sejak awal telah menunjukkan kemampuan berbahasa yang terus
berkembang. Ada aspek linguistic dasar yang bersifat universal dalam otak manusia
yang memungkinkan menguasai bahasa tertentu (Tarigan, 1986: 257).Bahasa adalah
sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara
berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan,
isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata,kalimat, bunyi, lambang, gambar,
atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia,
alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
a. Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dimulai dari tangisan bayi, berceloteh, sampai
kemampuan mengobrol. Bentuk komunikasi pada manusia merupakan yang paling
sempurna dari pada binatang, karena manusia dapat melakukannya melalui
berbagai sarana dan prasarana yang ada.
b. Fungsi bicara
1) Untuk mengekspresikan perasaan
2) Untuk mempengaruhi orang lain
3) Untuk menyampaikan informasi
c. Tahap-tahap bicara
1) Menangis
Menangis merupakan cara bayi untuk berkomunikasi dan juga melakukan
hubungan sosial dengan sekelilingnya.

12
2) Berceloteh
Dengan bertambahnya umur dan semakin berkembangnya mekanisme suara,
bayi dapat mengeluarkan sejumlah bunyi eksplosif.
3) Holofrase
Mulai usia 2 tahun sampai menjelang sekolah, anak sudah mulai jelas
berbicaranya, mereka belajar bicara tidak lagi dengan ibu atau pengasuhnya
tetapi juga dengan lingkungannya. Oleh karena itu anak berkomunikasi juga
memerlukan ekpresikan untuk menyampaikan maksud yang bisa di pahami
oleh orang dewasa.
4) Mengobrol
Mengobrol merupakan bentuk berbicara yang mempunyai makna sosial,
bertujuan agar pembicaraannya didengar dan dimengerti oleh orang lain.
d. Faktor-faktor yang memacu anak cepat bicara
1) Keluarga
2) Media elektronik
3) Sekolah

3. Perkembangan moral
Istilah moral berasal dari kata mores(latin) yang artinya tata cara dalam
kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Moral adalah baik buruk yang diterima umum
mengenai perbuatan, sikap kewajiban dsb.

a. Perkembangan moral menurut beberapa pakar


1) Menurut Piaget
2) Anak usia sekitar 5 tahun mempunyai konsep bahwa benar salah masih
dipahami dengan kaku.
3) Menurut Kohlberg
4) Pada tahap ini anak mengikuti semua peraturan yang telah diberikan dengan
tujuan untuk mengambil hati orang lain dan berharap dapat diterima dalam
kelompok.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi moral
1) Lingkungan rumah
2) Lingkungan sekolah
3) Teman sebaya dan aktivitasnya

13
4. Perkembangan agama
Perkembangan agama pada anak-anak berawal dari mencontoh prilaku orang tua
dirumah maupun guru disekolah. Pembelajaran agama di SD dilakukan dengan cara:
1. Metode bercerita
Bercerita dapat dipakai sebagai metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang
berlaku dimasyarakat, kisah tokoh agama atau cerita tentang kehidupan sehari-
hari
2. Metode bermain
Melalui bermain dapat juga dilakukan pembelajaran, karena siswa senag belajar
sambil bermain.
3. Metode karyawisata
Dengan karyawisata siswa dapat melihat dan mengamati langsung kehidupan
aneka binatang, tumbuhan atau keindahan alam sebagai bukti adanya kehidupan.
4. Metode demonstrasi
Melalui metode demonstrasi siswa dapat mengenal langkah-langkah dalam
melaksanakan ibadah.
5. Metode pemberian tugas
Guru bisa memberikan tugas menghafal surat-surat pendek kepada siswanya
dengan menghafal tersebut pada saat mengerjakan sholat siswa hafal bacaan
sholat tersebut.
6. Metode diskusi dan tanya jawab
Metode diskusi lebih tepat untuk siswa kelas tinggi karena pada umumnya mereka
sudah bisa berpikir secara abstrak. Sedangkan metode tanya jawab lebih tepat
digunakan untuk siswa kelas rendah masalah hafalan atau pertanyaan yang tidak
memerlukan pemikiran yang lebih mendalam.

14
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut
a. Karakteristik perkembangan anak usia SD dapat dilihat dari berbagai aspek
perkembangan, meliputi fisik, motorik, emosi dan sosial
b. Peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
c. Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu factor penentu kelancaran
proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan. Oleh karena
itu, perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar peserta didik.
d. Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai factor utama,
antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang
tua. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan
(pembiasaan).
e. Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4 - 5 bulan. Orang tua yang bijak
selalu membimbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana
sampai anak memiliki keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan
bahasa.
f. Agama diperkenalkan kepada anak agar, anak dalam bertidak dapat sesuai dengan
ajaran agama.

B. SARAN
Sebagai calon guru hendaknya kita tahu dan memahami siapa sebenarnya anak
didik kita, agar nantinya dalam kegiatan belajar tidak terjadi salah arah. Hendaknya
kita bisa menjadi panutan yang baik untuk anak-anak didik kita, karena segala tingkah
laku kita akan mudah sekali ditiru oleh peserta didik kita.
Dengan materi yang kami sajikandalammakalahini, kami beharap saudara-
saudara dapat menjadikan referensi untuk bekal kelak saudara dalam mengetahui dan
mahami perkembangan peserta didik. Sehingga nanti pada saat anda mengajar anda
dapat melakukan proses pembelajaran berdasarkan perkembangan peserta didik
tersebut.

15
DAFTAR PUSTAKA
Wardani, IG.A.K, dkk. 2014. Perspektif Pendidikan di SD. Tangerang: Universitas Terbuka.

16