Anda di halaman 1dari 2

Nilai konstanta kec reaksi

Sekitar 85% produksi komersial styrene menggunakan proses dehidrogenasi langsung


ethylbenzene (Ulmann, 2005). Reaksi ini berjalan pada fase gas dan menggunakan katalis yang
mengandung iron oxide. Reaksi ini bersifat endoterm, dan dapat dibuat adiabatis ataupun
isotermal.

Karena reaksi bersifat reversible dan mol produk lebih besar dari pada mol reaktan, maka dalam
reaksi digunakan tekanan rendah agar reaksi dapat bergeser kearah produk.
Dari hasil percobaan, konstanta kecepatan reaksi (k) dari reaksi dehidrogenasi
ethylbenzene adalah sesuai dengan persamaan :
k1 = exp (-0,0854 90981,4/8,314T) (Elnashaie & Elshishini, 1994)
T dalam K
Pengaruh suhu terhadap persamaan konsatanta kecepatan reaksi dan konstanta kesetimbangan di
atas adalah jika suhu semakin besar maka konstanta kecepatan reaksinya akan semakin besar
pula, sehingga kecepatan reaksinya juga semakin besar. Semakin besar suhu maka harga k
semakin besar, sehingga kecepatan reaksi (-rA) akan semakin besar. Sehingga naiknya suhu
operasi akan memperbesar kecepatan reaksi dehidrogenasi ethylbenzene.

Diagram alir sederhana

(sumber : Ulmann, 2005)

Umpan ethylbenzene dicampur dengan recycle lalu dievaporasikan. Dilution steam harus
ditambahkan untuk mencegah ethylbenzene dari terbentuknya coke. Aliran ini dipanaskan
dengan heat exchanger hingga mencapai temperatur reaksi (640C) dengan menggunakan
superheated steam sebagai pemanas. Aliran ini selanjutnya melewati katalis pada reaktor
pertama. Reaksi adibatis akan mengakibatkan penurunan temperatur, sehingga aliran yang keluar
harus dipanaskan ulang (reheated) sebelum masuk reaktor kedua. Pada reaktor pertama dapat
dicapai konversi sebesar 35% dan 65% secara keseluran sistem. Reaktor berjalan pada tekanan
rendah sehingga lebih aman dan mudah diaplikasikan. Keluaran reaktor yang memiliki
temperatur tinggi akan digunakan sebagai pemanas untuk mengurangi konsumsi energi,
selanjutnya akan dikondensasikan dan dipisahkan menjadi vent gas, crude styrene, dan steam
condensate. Crude styrene akan didstilasi. Steam condensate akan direuse.

1. Lummus/UOP Classic SM TM
Proses Lummus/UOP Classic SMTM merupakan plant komersial pertama yang banyak dipakai
sejak 1972. Proses ini dimulai dengan memasukan bahan baku ethylbenzene yang telah dicampur
dengan steam ke dalam reaktor dehidrogenasi. Hasil keluaran dari reaktor dehidrogenasi ini
nantinya akan dikondensasi, kemudian dipisahkan sehingga didapat gas, kondensat, dan
campuran dehidrogenasi. Gas yang didapat ini ternayata kaya akan hidrogen, sehingga dapat
digunakan kembali sebagai bahan bakar. Kemudian pada kondensat yang diperoleh juga perlu
dilakukan proses pemisahan untuk menghilangkan senyawa organik yang terkandung
didalamnya, hal ini bertujuan agar kondensat dapat dijual lagi ataupun digunakan dalam pabrik
pembuatan styrene. Dan yang terakhir adalah melakukan proses separasi pada campuran
dehidrogenasi dengan empat kolom destilasi. Hasil dari proses pemisahan ini berupa
ethylbenzene (yang tidak terkonversi) yang nantinya dapat direcycle, styrene, benzene, dan
toluene.

(Sumber :Encyclopedia of Chemical Processing.,2006)