Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PERENCANAAN PROYEK PENAMBANGAN ENDAPAN BATUBARA (COAL)

Disusun Oleh :
Fidkya Allisha, Edina Amadea Putri, Adam Ramadhan Priatna, Muhammad Ariq Dewantara,
Briliant, Rizky Rachmadi

Kelas 21 PRD Ruangan 9125 (Dosen : Bapak Nurhindro Priagung Widodo)

TUJUAN :
Laporan ini bertujuan untuk mengoptimalkan hasil penambangan endapan batubara dengan
membuat perencanaan proyek pembangunan green field area dengan memperhatikan aspek
multidisiplin keilmuan, penerapan teknologi, manajemen, dan wawasan lingkungan.

METODOLOGI :
Metode yang digunakan untuk mencari informasi dalam laporan rancangan rencana
pertambangan batubara untuk menjawab studi kasus pertambangan pada wilayah green field
area adalah dengan metode studi literatur, yaitu dengan cara mencari dan mempelajari
informasi yang bersumber dari buku dan internet yang dapat berupa skripsi, tesis, maupun
paper.

HASIL YANG AKAN DICAPAI:


Batu bara terbentuk akibat adanya pengendapan fosil tumbuhan tumbuhan purba yang
terkubur selama jutaan tahun sehingga mengalami dekomposisi bahan membentuk endapan
yang berlapis lapis. Batubara merupakan endapan organik yang tersusun dari unsur unsur
utama berupa karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga merupakan batuan organik yang
memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks dan dapat ditemui dalam berbagai
bentuk. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk
bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit. Terdapat 5 jenis batubara yaitu :
Antrasit
adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,
mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%
Bituminus
mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu
bara yang paling banyak ditambang di Australia.
Sub-bituminus
mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang
kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit
atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari
beratnya.
Gambut
berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
Karena sifatnya yang mudah terbakar, batu bara menjadi sangat vital peranannya dalam
memenuhi kebutuhan manusia yaitu sebagai bahan bakar.
Mengingat peranan batu bara tersebut, maka dalam usaha pertambangan, memilih metode
penambangan yang tepat dan sesuai dengan karakteristik geologis maupun lingkungan
menjadi sangat penting. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain; multidisiplin
keilmuan, penerapan teknologi, manajemen, dan wawasan lingkungan. Keempat hal tersebut
perlu dipertimbangkan dalam perancangan proyek penambangan, mulai dari kegiatan
eksplorasi, penambangan, penangkutan, pengolahan, reklamasi, dan penutupan tambang.

Bahan tambang batu bara mayoritasnya ditemukan di permukaan / kerak bumi dalam bentuk
lapisan-lapisan. Dalam penentuan metode penambangan yang akan digunakan, diperlukan
informasi mengenai karakteristik, persebaran pada wilayah, dan potensi wilayah sehingga
dapat dihitung tingkat keekonomisannya dan teknologi-teknologi yang diperlukan. Dengan
mempertimbangkan kondisi daerah yang berada di green field area dan berdekatan dengan
pelabuhan, metode yang paling tepat dilakukan adalah metode pertambangan terbuka, metode
pertambangan terbuka conventional area strip mining

Metode pertambangan terbuka strip mining merupakan sistem tambang kupas atau
pertambangan baris yang secara khusus merupakan pertambangan terbuka untuk menambang
batubara. Sistem penambangan ini terbagi menjadi dua yaitu sistem tambang area dan sistem
tambang kontur. Metode yang digunakan adalah dengan mengupas lapisan atas tanah atau
lapisan batuan penutup batu bara dengan bentuk pengupasan baris baris sejajar. Strip
mining digunakan untuk menambang batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang kecil
atau landai mengingat bahwa proyek penambangan akan dilakukan di green field area berupa
lahan hijau dengan kemiringan yang cukup landai.

Berdasarkan metode penambangan yang kami pilih, berikut kami jabarkan rancangan proyek
mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, pengangkutan, pengolahan, reklamasi, dan
penutupan tambang.

a.) Kegiatan Eksplorasi


Kegiatan eksplorasi bertujuan untuk memastikan apakah endapan batubara yang
terdapat pada green field area tersebut tebal, terutama apabila ditemukan bahwa lapisan
penutupnya juga tebal. Selain itu, ekplorasi diperlukan untuk mengetahui kedalaman
endapan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan yang masih ekonomis dan
menguntungkan antara jumlah tanah penutup yang harus dikupas dan batubara yang
akan digali atau disebut stripping ratio dan break even point baik secara overall maupun
ekonomi. Eksplorasi yang dilakukan juga bertujuan untuk mengetahui kelandaian
medan penggalian, karena pada lahan yang landai, kegiatan penambangan sulit
dilakukan karena keterbatasan alat dan hanya dapat diupayakan dengan metode
penambangan strip mining.
Dalam kegiatan eksplorasi, kami bekerjasama dengan teknik geologi untuk mengetahui
karakteristik dan elastisitas batuan, keadaan geografis lahan, serta teknik geofisika
untuk mengetahui seberapa tebal lapisan batu bara yang terkandung di dalam lahan
tersebut.
Adapun penjabaran kegiatan eksplorasi yang akan kami lakukan adalah :
a. Survei tinjau, berupa kegiatan eksplorasi awal yang terdiri dari pemetaan geologi
regional, pemotretan udara, citra satelit, dan metode survey tidak langsung lainnya
untuk mengidentifikasi daerah anomial atau mineralisasi yang prospektif untuk
diselidiki lebih lanjut bekerjasama dengan teknik geologi dan geofisika.
b. Prospeksi umum, yaitu penyempitan daerah yang mengandung jebakan mineral
dengan pemetaan geologi, misalnya pembuatan parit atau pemboran terbatas
bekerjasama dengan teknik geofisika dan geokimia untuk mengidentifikasi suatu
sumber daya mineral tereka.
c. Eksplorasi Awal, yaitu deliniasi awal suatu endapan yang teridentifikasi.
d. Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi endapan secara tiga dimensi.

b.) Kegiatan Penambangan


Pada kegiatan penambangan digunakan metode strip mining mengingat bahwa proyek
penambangan akan dilakukan di green field area dengan kemiringan yang relatif landai
atau datar, sehingga tidak diperlukan metode contur mining yang tepatnya dilakukan di
lereng lereng perbukitan atau lahan dengan kemiringan yang besar. Akan tetapi, karena
penambangan dilakukan di wilayah yang berdekatan dengan pelabuhan yang akan
banyak diakses oleh masyarakat, maka metode yang diperlkan adalah metode dengan
penggunaan wilayah yang relatif kecil seperti conventional area striping mining.
Pada Tahap awal, lapisan penutup yang banyak mengandung tanah dengan unsur hara
yang tinggi (top soil) diambil dan dipindahkan dengan penanganan oleh teknik
lingkungan dan hayati. Lapisan tanah penutup bahan endapan batubara (oveburden)
diangkat seperti menggunakan buldozer dan excavator. Setelah itu dilakukan
pembuatan lahan tambang dengan menggunakan cara blasting dan pengeboran yang
dilakukan oleh teknik pertambangan. Konstruksi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan
dalam lahan pertambangan tersebut dirancang oleh teknik sipil. Setelah semua
persiapan terlaksana, proses penambangan dilakukan dalam kurun waktu tertentu sesuai
dengan jumlah endapan batubara yang terdapat dalam lahan pertambangan tersebut.
Dalam proses penambangan, Selama proses kegiatan penambangan, pengadaan air
dirundingkan dengan bagian teknik pengairan.

c.) Kegiatan Pengangkutan


Pada kegiatan pengangkutan, sebelumnya telah disiapkan alat-alat pengangkut (seperti
dump truck), alat penampungan hasil tambang serta akses alat-alat pengangkut menuju
tempat penampungan seperti jalan-jalan dan fasilitas-fasilitas lainnya. Kegiatan ini
dilakukan bekerjasama dengan bagian teknik sipil dan teknik mesin.

d.) Kegiatan Pengolahan


Dalam pengolahan batubara digunakan metode pengolahan bahan galian secara fisika
yaitu dengan memberinya perlakuan secara fisika seperti peremukan, penggerusan,
pencucian, pengeringan, serta pembakaran suhu rendah bekerjasama dengan disiplin
ilmu teknik metalurgi.

e.) Penutupan Tambang


Proses penutupan tambang dilakukan setelah proses penambangan telah selesai.
Lubang bekas penambangan ditimbun kembali dengan tanah yang sebelumnya
ditimbun di sekitar lahan pertambangan. Alat-alat berat yang digunakan (seperti dump
truck, excavator, shovel wheel, dll.) , konstruksi pertambangan, dan fasilitas-fasilitas
lainnya dipindahkan dari lahan pertambangan yang selanjutnya akan dilakukan proses
reklamasi.

f.) Kegiatan Reklamasi


Setelah penutupan tambang, pengelolaan lingkungan tambang harus dilakukan sebagai
upaya untuk menjaga kelestarian alam. Kegiatan reklamasi dilakukan bekerjasama
dengan ahli teknik lingkungan, ahli biologi dan teknik rekayasa hayati. Kegiatan
reklamasi yang akan kami lakukan antara lain :
1.) Melakukan penimbunan lahan kemudian menimbun kembali dengan lapisan tanah
yang subur atau top soil di lahan yang akan direklamasi yang bertujuan untuk
memberlikan lapisan penyubur sehingga memudahkan tanaman untuk tumbuh dan
memberikan kekuatan untuk menyangga tanah karena lahan bekas tambang
umumnya miskin hara.
2.) Tahap persiapan lahan atau perataan lahan untuk memudahkan penimbunan top
soil, menguatkan porositas dan menyerap air. Reklamasi memang dapat dilakukan
di lahan yang miring, namun perataan akan memudahkan proses lanjutan reklamasi.
Pemadatan lapisan tanah untuk menstabilkan lereng ini akan dilakukan dengan
tractor, grader atau bulldozer.
3.) Hydroseeding; penyebaran dan penyemaian lahan reklamasi dengan bibit tanaman
perintis yang sebelumnya telah dicampurkan dengan fertilizer dan zat aditif lain
untuk meningkatkan kualitas tanah sehingga tanaman akan mendapat lingkungan
yang abik. Tahapan ini dilakukan dengan truck hydro seeder
4.) Pembuatan lubang tanam disusul penanaman pohon yang disesuaikan dengan
kebutuhan dengan media tanam top soil, pupuk kompos, dan fertilizer lainnya.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Dari laporan yang diatas, kami menyimpulkan bahwa perencanaan proses penambangan dari
eksplorasi sampai penutupan tambang hingga reklamasi dengan menggunakan metode dan
teknologi yang tepat, multidisiplin ilmu, serta tetap memperhatikan lingkungan. Selain
efisiensi dalam eksplorasi tambang batu bara dan keamanan penggunaan teknologi sesuai
dengan metode yang tepat, multidisiplin ilmu juga menjadi hal yang penting dalam kegiatan
penambangan batu bara untuk menyelesaikan dan menganalisis proyek dengan sudut pandang
yang lebih luas sehingga resiko penambangan bisa diminimalisir dan hasil produksi batu bara
bisa dioptimalisasi.Begitujuga dengan faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dan
dilestarikan, hal ini dapat diupayakan dengan menerapkan good mining practice selama
proyek penambangan batu bara dan melakukan penutupan tambang serta reklamasi yang
tepat.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, untuk membuka penambangan batubara pada kawasan


green field area yang berada di dekat pelabuhan, hal hal yang perlu diperhatikan antara lain;
lingkungan (misalnya kawasan yang diolah beserta kondisi geografisnya serta aktifitas
masyarakat sekitar terutama di kawasan pelabuhan).
Faktor-faktor dalam pemilihan system penambangan yaitu :

1. Sifat keruangan dari endapan bijih


a. Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khususnya)
b. Bentuk (tanular, lentikular, massif, irregular)
c. Posisi (miring, mendatar atau tegak)
d. Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan)

2. Kondisi Geologi dan Hidrologi


a. Mineralogy dan petrologi (sulfida atau oksida)
b. Komposisi kimia (utama, hasil samping, mineral by product)
c. Struktur endapan (lipatan, patahan, intrusi, diskontinuitas)
d. Bidang lemah (kekar, fracture, cleavage dalam mineral, cleat dalam Batubara)
e. Keseragaman, alterasi, erosi
f. Air tanah dan hidrologi

3. Sifat geomekanik
a. Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, koefesien poison)
b. Perilaku plastis atau viscoelastis (flow, creep)
c. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
d. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten
e. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas bebas, lengas bawaan)

4. Konsiderasi ekonomi
a. Cadangan (tonnage dan kadar)
b. Produksi
c. Umur tambang
d. Produktifitas
e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok

5. Faktor teknologi
a. Perolehan tambang
b. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)
c. Kefleksibilitas metode dengan perubahan kondisi-kondisi
d. Selektifitas metode untuk bijih dan waste
e. Konsentrasi/penyebaran pekerjaan

Dasar dalam pemilihan metode penambangan yaitu :

1. Stripping Ratio (SR)


Yaitu berapa jumlah waste (tanah buangan baik O/B maupun batuan samping) yang harus
dibuang/disingkirkan untuk memperoleh 1 ton endapan bijih sampai pada ultimate pit limit.

Jumlah Waste (m3/ton)

SR = -

Jumlah Ore (m3/ton)

SR > 1 = Ongkos pengupasan lebih kecil (Tamka)


SR > 1 = Ongkos pengupasan lebih besar (Tamda)
SR = 1 = Bisa Tamka/Tamda
2. Break Even Stripping Ratio (BESR)
Yaitu perbandingan antara keuntungan kotor dengan ongkos pembuangan O/B.

Cost penggalian bijih

BESR =

Cost pengupasan OB

Untuk memilih system penambangan digunakan istilah BESR-1 bagi open pit yaitu overall stripping
ratio.
BESR-1 > 1 = Tamka
BESR-1 < 1 = Tamda
BESR = 2 = Bisa Tamka/Tamda
Kemudian setelah ditentukan yang dipilih Tamka, maka dalam rangka pengembangan rencana
penambangan tiap tahap digunakan istilah economic stripping ratio (BESR-2).

Recovable value/ton ore Production cost/ton ore

BESR-2 =

Stripping cost/ton ore

BESR-2 untuk menentukan maksimal berapa ton waste yang disingkirkan untuk memperoleh 1 ton
ore agar tahap penambangan ini masih memberikan keuntungan (max allowable stripping ratio) dan
untuk menentukan batas pit (pit limit).

SISTEM PENAMBANGAN BATUBARA


Sistem penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk membebaskan atau
mengambil endapan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis dari batuan induknya untuk diolah
lebih lanjut sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar dengan memperhatikan keamanan
dan keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi dampak lingkungan yang dapat
ditimbulkannya
Agar dapat tercapai hal-hal yang terdapat dalam defenisi sistem penambangan di atas, maka cara
penambangan yang diterapkan harus dapat menjamin :
1. Ongkos penambangan yang seminimal mungkin.
2. Perolehan atau mining recovery harus tinggi.
3. Efisiensi kerja harus tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh :
- Jenis alat yang digunakan.
- Sinkronisasi kerja yang baik.
- Tenaga kerja yang terampil.
- Organisasi dan manajemen yang baik.

Penambangan batubara terbuka


Kegiatan-kegiatan dalam Tambang Batubara terbuka adalah sebagai berikut :
a. Persiapan daerah penambangan
b. Pengupasan dan penimbunan tanah humus
c. Pengupasan tanah penutup
d. Pemuatan dan pembuangan tanah penutup (misalnya dengan shovel dan truk, BWE, dan dragline)
e. Penggalian batubara
f. Pemuatan dan pengangkutan batubara
g. Penirisan tambang
h. Reklamasi
Secara garis besarnya, sistem dan metode penambangan dibagi atas 4 (empat) bagian, yaitu :
1. Tambang terbuka (surface mining).
2. Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining).
3. Tambang bawah air (underwater mining).
4. Tambang di tempat (insitu mining).

1. Tambang terbuka (surface mining).


Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas
penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya
berhubungan langsung dengan udara luar.
Menurut materi yang ditambang, dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :
a. Open Pit / Open Cut / Open Cast / Open Mine mining.
b. Stripping mining. (khusus pada tambang batubara)
c. Quarrying mining.
d. Alluvial Mining.

2. Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining).


Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining) adalah metode penambangan
yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan
tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.

Tambang bawah tanah ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :


a. Metode tanpa penyanggaan (Non Supported / Open Stope Method).
b. Metode dengan penyanggaan (Supported Stope Method).
c. Metode ambrukan (Caving Method)
3. Tambang bawah air (underwater mining).
Tambang bawah air (underwater mining) adalah metode penambangan yang kegiatan penggaliannya
dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak di bawah permukaan
air.

Menurut jenis peralatan yang digunakan, dibagi atas 4 jenis, yaitu :


a. Menggunakan kapal keruk laut dalam ( > 50 m ).
b. Menggunakan kapal keruk hidrolik.
c. Menggunakan kapal keruk dengan jaring tarik (drag net).
d. Menggunakan kapal isap laut dalam.Tambang di tempat (insitu mining)
4. Tambang di tempat (insitu mining)

Tambang di tempat (insitu mining) adalah metode penambangan yang dilakukan terhadap endapan
mineral dan batuan yang terbentuk secara khusus (model endapan geologi tertentu), di mana
penambangannya langsung dilakukan di tempat tersebut dengan cara khusus pula.
Contohnya adalah gasifikasi batubara, metode pelindian, metode pemanasan bawah tanah, metode
penyaliran metan, dan lain-lain.
Praktek Pertambangan Yang Baik
(Good Mining Practice = GMP).

Praktek pertambangan yang baik (GMP) adalah seluruh proses penambangan yang dilakukan dari
awal hingga akhir harus dilakukan dengan baik dengan mengikuti standar yang telah ditetapkan,
mengikuti norma dan peraturan yang berlaku sehingga dapat dicapai tujuan pertambangan yang
efisien.

Salah satu bagian penting dari tujuan pertambangan adalah pengembangan berkelanjutan
(sustainable development).

Macam-macam tambang batubara terbuka


Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat
mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi
dan topografi daerah yang akan ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :

1) Contour Mining
Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan
atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di
daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan
penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas
endapan yang masih ekonomis bila ditambang.

Menurut Robert Meyers, Contour Mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain :

a. Conventional Contour Mining


Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana batubara
tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan peledakan dan pemboran atau
menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan
ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah. Pengupasan dengan contour stripping akan
menghasilkan jalur operasi yang bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi
bukit.

Gambar 1. Conventional Contour Mining


b. Block-Cut Contour Mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan yang bertujuan untuk
mengurangi timbunan tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Pada
tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup
tersebut ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-
kira setengahnya dan ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah
penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun tanah buangan pada
blok awal.

Pada saat blok 1 sudah ditimbun dan diratakan kembali, maka lapisan tanah penutup blok 4
dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap semua. Lapisan tanah penutup blok 5
dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan tanah penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya
sampai selesai. Penggalian beruturan ini akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus
diangkut untuk menutup final pit.

Gambar 2. Block-Cut Contour Mining

c. Haulback Contour Mining


Metode haulback ini merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis
angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan
perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara efektif .

Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :


a. Truk atau front-end loader
b. Scrapers
c. Kombinasi dari scrapers dan truk
Gambar 3. Haulback contour mining

d. Box-Cut Contour Mining


Pada metode box-cut contour mining ini lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada
daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang
rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.

Gambar 4. Box-Cut Contour Mining

2) Mountaintop removal method

Metode mountaintop removal method ini dikenal dan berkembang cepat, khususnya di Kentucky
Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya,
sehingga memungkinkan perolehan batubara 100%.
Gambar 5. Mountaintop Removal Methode

3) Area mining method

Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan pada daerah
mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari singkapan batubara yang mempunyai
lapisan dan tanah penutup dangkal dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.

Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu :

a. Conventional area mining method

Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga penggalian lapisan tanah
penutup dan penimbunannya tidak terlalu mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah
penutup ini ditimbun di belakang daerah yang sudah ditambang.
Gambar 6. Conventional Area Mining Methode

b. Area mining with stripping shovel

Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 1015 m di bawah permukaan tanah. Penambangan
dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi empat. Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar
dengan arah penggalian, pada daerah yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan
sampai seluruh endapan tergali.

Gambar 7. Area Mining with Stripping Shovel

c. Block area mining

Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi daerah penambangan dibagi
menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini terbatas untuk endapan batubara dengan tebal
lapisan tanah penutup maksimum 12 m. Blok penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil
penggalian kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian.

Gambar 8. Block Area Mining

4) Open pit Method


Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang besar dan
curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya cukup tebal.
a. Lapisan miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau
lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi
pada masing-masing pengupasan.

Gambar 9. Open Pit Methode Lapisan Miring

b. Lapisan tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah penutup dan penimbunan
dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah
singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya.

Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian batubaranya, digunakan
sistem jenjang (benching system).

Gambar 10. Open Pit Methode Lapisan Tebal

1.2 Penambangan batubara bawah tanah

Metode penambangan batubara bawah tanah ada 2 buah yang populer, yaitu:
- Room and Pillar
- Longwall

1.2.1 Room and Pillar


Metode penambangan ini dicirikan dengan meninggalkan pilar-pilar batubara sebagai penyangga
alamiah. Metode ini biasa diterapkan pada daerah dimana penurunan (subsidence) tidak diijinkan.
Layout Metode Room and Pillar dapat dilihat pada Gambar. Penambangan ini dapat dilaksanakan
secara manual maupun mekanis.

Gamabr 11. Room and Pillar Methode

1.2.2 Longwall

Metode penambangan ini dicirikan dengan membuat panel-panel penambangan dimana ambrukan
batuan atap diijinkan terjadi di belakang daerah penggalian. Layout Metode Longwall dapat dilihat
pada Gambar. Penambangan ini juga dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
Gambar 12. Longwall

1.3 Penambangan dengan Auger (Auger Mining)

Auger mining adalah sebuah metode penambangan untuk permukaan dengan dinding yang tinggi
atau penemuan singkapan (outcrop recovery) dari batubara dengan pemboran ataupun penggalian
bukaan ke dalam lapisan di antara lapisan penutup. Auger mining dilahirkan sebelum 1940-an adalah
metode untuk mendapatkan batubara dari sisi kiri dinding tinggi setelah penambangan permukaan
secara konvensional. Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip skala besar drag
bit rotary drill. Tanpa merusak batubara, auger mengekstraksi dan menaikkan batubara dari lubang
dengan memiringkan konveyor atau pemuatan dengan menggunakan loader ke dalam truk.

Pengembangan dan persiapan daerah untuk auger mining adalah tugas yang mudah jika dilakukan
bersamaan dengan pemakaian metode open cast atau open pit. Setelah kondisi dinding tinggi, auger
drilling dapat ditempatkan pada lokasi. Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini
berdasarkan Pfleider (1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki penyebaran yang baik
dan kemiringannya mendekati horisontal, serta kedalamannya dangkal (terbatas sampai ketinggian
dinding dimana auger ditempatkan.

Gambar 13. Auger Mining Methode


Gambar 14. Auger Drills
GAMBAR GAMBAR

Auger Holes
COAL EXTRACTION ACTIVITY
Continuous Mining1
Continuous Mining2
Contour Mining
Direct Dozing Method
Direct Dozing Method
Downhill Dozer Wedge
Dragline
Example Dozer Method

Example Dozer Method Cross Section


High wall Mining (Auger Mining)
High Wall Mining Configuration
High Wall Mining EquipmentLAUNCH VEHICLEMountain top RemovalQuarry Mining

Open Pit Mining


Truck and Shovel
Open Pit Mining
Quarry Mining
Strip Mining
Truck and Shovel
1. Dimensi dan Bentuk Endapan Bersifat Tak Tentu
8
Terdapat perbedaan sifat fisik dan kandungan kimia g endapan, baik secara vertikal
maupun horizontal. Metoda eksplorasi dan evaluasi endapan sangat bergantung pada
kompleksitas endapannya.
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Perbedaan letak, posisi, kompleksitas, kualitas, kadar, serta kedalaman akan
mempengaruhi potensi dan nilai ekonomisnya.
11/5/2013
5
2. Endapan Bersifat Non Renewable (tak terbarukan)
9
Jumlah endapan tertentu sehingga akan habis jika ditambang. Diperlukan eksplorasi
yang berwawasan konservasi: Praktek yang lebih mendahulukan profit dengan produksi
sebesarbesarnya, Praktek selective mining tanpa blending (kombinasi kadar rendah dan
kadar tinggi) sehingga umur tambang (life of mine) menjadi pendek. Kemajuan teknologi
akan memberikan peluang untuk :
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
mendapatkan endapan baru teknologi eksplorasi. memanfaatkan cadangan kadar
rendah optimasi. substitusi mineral lain. efisiensi penggunaan mineral. daur ulang.
3. Keterdapatan Suatu Endapan Pada Kerak Bumi Bersifat Tak Merata
10
Endapan tidak terbagi secara merata dalam suatu daerah, negara atau benua baik dari segi
negara, atau benua, baik dari segi jenis endapan maupun kegunaan ekonomisnya.
Permintaan komoditi bahan tambang tidak sama secara geografis. Permintaanpenawaran ini
menyebabkan mineralmineral akan berbeda dalam alirannya ke suatu daerah atau negara
(internasional).
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
(internasional). Beberapa komoditi akan terkena persetujuan internasional, atau sasaran
kebijakan perdagangan, sumber petumbuhan ekonomi suatu daerah atau negara, atau bahkan
menjadi sumber pertikaian antar negara.
11/5/2013
6
4. Masalah Supply & Demand
11
Permintaan jangka panjang untuk komoditi diharapkan terus naik dengan laju cepat
sehingga diharapkan terus naik dengan laju cepat, sehingga selalu ada tantangan pada
penyediaan yang dapat mengimbangi permintaan tersebut. Sebaliknya kelebihan
penyediaan dalam jangka pendek selalu menjadi tantangan dalam pengelolaan untuk proteksi
harga
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
pengelolaan untuk proteksi harga.
KONSEP EKSPLORASI
12
PROGRAM EKSPLORASI
FINDING PROVING EVALUATING
Apa ?? (target bahan galian)
Di ??
Bagaimana ?
Berapa ?
(sumberdaya dan/atau d)
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Dimana ?? (kondisi geologi regional)
(bentuk, kemenerusan, & kualitas/kualitas)
cadangannya)
(nisbah kupas)?
11/5/2013
7
Eksplorasi Langsung dan Tidak Langsung
13
Eksplorasi Tak Langsung Eksplorasi Langsung
Ki Tid k b h b (k k) l L b h b (k k) Kegiatan umum Tidak berhubungan (kontak) langsung
dengan objek yang dieksplorasi. Langsung berhubungan (kontak) dengan objek yang
dieksplorasi
Prinsip pekerjaan
Memanfaatkan sifat-sifat fisik dan kimia dari endapan.
Melakukan perilaku yang langsung pengamatan pada fisik endapan.
Identifikasi
Melalui anomali-anomali yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Melalui analisis megaskopis dan mikroskopis pada objek pengamatan.
Mtd
Penginderaan jarak jauh, survei Pemetaan, uji sumur, uji parit,
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Metoda
g j j , geokimia, survei geofisika.
, j , j p , pemboran.
Tahapan eksplorasi
Digunakan pada tahapan Reconnaissance (Eksplorasi Pendahuluan) Prospeksi
Digunakan pada tahapan Prospeksi Finding (Eksplorasi Detil).
Teknologi
Relatif membutuhkan peralatan (teknologi) tinggi.
Relatif membutuhkan teknologi yang lebih sederhana s/d manual.
RUANG LINGKUP DAN TAHAPAN EKSPLORASI14
Conceptual Planning melalui studi literatur. Detailed Panning, berdasarkan hasil review
dan kunjungan lapangan. Reconnaissance, dengan metoda tidak langsung.
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
metoda tidak langsung. Target Appraisal, melalui kombinasi eksplorasi tidak langsung dan
langsung Exploration drilling and Assesment, melalui eksplorasi langsung dan analisis
cadangan.
11/5/2013
8
Step 1. Studi Tentang Geologi Regional dan Tektonik
15
Menggunakan pengetahuan tentang li dgeo logi dan proses pembentukan endapan.
Mempelajari kondisi geologi regional dan struktur geologi dari wilayah kajian. Melakukan
studi literatur
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
terhadap lokasi tambang yang mirip secara geologi. Menyusun Rencana Konseptual
Kegiatan Eksplorasi.
Step 2. Reconnaissance Exploration
16
Tujuan : untuk melakukan evaluasi secara cepat terhadap area yang menjadi target
berdasarkan hasil kegiatan studi literatur (studi menjadi target berdasarkan hasil kegiatan
studi literatur (studi terhadap geologi regional) sehingga dapat mempersempit
area target untuk kegiatan eksplorasi selanjutnya.
Umumnya dilakukan dengan menggunakan Metoda Eksplorasi Tidak Langsung, antara lain :
Analisis Citra Satelit.
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Geofisika dari udara (Airborne geophysics). Geokimia.
11/5/2013
9
Contoh Analisis Citra Satelit
17
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Analisis keterdapatan komplek struktur geologi untuk mendapatkan areal yang dapat menjadi
areal mineralisasi yang dicirikan oleh zona permeable dan indikasi alterasi. Gambar
sebelah kiri dikombinasikan dengan keterdapatan alterasi. Gambar kanan merupakan hasil
interpretasi untuk mendapatkan daerah target.
Interpretation of Satellite Image and Aeromagnetic Anomalies
18
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
11/5/2013
10
Step 3. Target testing
19
Dilakukan melalui pemetaan geologi (detailed geological mapping) survei geokimia
(detailed geochemical survey) mapping), survei geokimia
(detailed geochemical survey), survei geofisika bawah permukaan
(geophysical surveys), channeling, paritan uji (trenching), sumuran uji (pitting) dan
pemboran (drilling).
Jika sukses, maka dapat dilakukan studi yang lebih dalam dan komprehensif untuk melihat
proyeksi keekonomian dan
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
p py konseptual penambangan dan metalurgi dalam kajian pra studi kelayakan
(prefeasibility study)
20
Kombinasi Survei Geokimia dan Pemetaan Geologi dalam Penemuan Lokasi Tambang
Batuhijau
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
11/5/2013
11
21
Channeling Trenching
Pitting
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
22
Kombinasi Pemetaan Alterasi dan Penentuan Titik Bor
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
11/5/2013
12
Kombinasi Geofisika dan Pemboran pada Endapan Nikel Laterit
23
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
24
Kombinasi Pemetaan dan Pemboran pada Endapan Batubara
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
11/5/2013
13
Step 4. Detailed Exploration
25
Pemboran detail, penentuan kadar dan kualitas, korelasi dan interpretasi data.
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Interpretasi badan bijih
26
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
11/5/2013
14
Interpretasi badan bijih pada endapan nikel laterit dan batubara
27
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Step 5. Pemodelan Sumberdaya dan Cadangan
28
Untuk memastikan bentuk (geometri), distribusi kadar atau kualitas jumlah sumberdaya
serta kadar atau kualitas, jumlah sumberdaya, serta jumlah cadangan yang ekonomis untuk
ditambang. Kajian secara komprehensif yang meliputi banyak aspek, antara lain : Aspek
geologi, Aspek teknis penambangan, Dianalisis secara
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
Aspek geoteknik dan hidrogeologi, Aspek pengolahan, Aspek lingkungan, Aspek
ekonomis.
komprehensif untuk mendapatkan jumlah cadangan yang memiliki nilai ekonomis.
11/5/2013
15
29
Terminologi dasar lain yang harus diketahui yang harus diketahui : -Kadar/kualitas, -Kadar
batas (cog), -Stripping Ratio (SR), -Overburden, -Ore dan waste, -Pit Limit, -Konsentrat, -
Tailing.
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi
g
30
KU1164 Pengantar SDME ; Eksplorasi Sumberdaya Bumi