Anda di halaman 1dari 22

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMINAR TAHUN AJARAN 2017/2018

PERANCANGAN SEQUENCE PENAMBANGAN BATUBARA


DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI TAMBANG

Reza Afrizona Fauzih


21100114120029

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI

SEMARANG
OKTOBER 2017
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMINAR TAHUN AJARAN 2017/2018

PERANCANGAN SEQUENCE PENAMBANGAN BATUBARA


DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI TAMBANG

Reza Afrizona Fauzih


21100114120029

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI

SEMARANG
OKTOBER 2017
HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis ini disusun oleh :


Nama : Reza Afrizona Fauzih
NIM : 21100114120029
Departemen : Teknik Geologi
Judul Seminar : Metode Perencanaan Tambang Batubara Dalam
Meningkatkan Produksi Tambang

Telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing sebagai bagian


persyaratan dalam kurikulum Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro.

Menyetujui,
Tanggal.............................................

Dosen Pembimbing,
Dian Agus Widianto, ST., MT
197608122010121002
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA TULIS SEMINAR/REFERAT UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Diponegoro, Saya yang bertanda tangan di


bawah ini:
Nama : Reza Afrizona Fauzih
NIM : 21100114120029
Departemen : Teknik Geologi
Fakultas : Teknik
Jenis Karya : Karya Tulis Seminar/Referat
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Diponegoro Hak Bebas Royalti Non-eksklusif atau Karya Tulis
Seminar/referat saya yang berjudul:
Perancangan Sequence Penambangan Batubara Dalam Meningkatkan
Produksi Tambang
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-
eksklusif ini Universitas Diponegoro berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan mempublikasikan karya tulis seminar/referat saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Semarang, Oktober 2017


Penulis,

Reza Afrizona Fauzih


NIM.21100114120029
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut Badan Standarisasi Nasional Indonesia (1999), endapan
batubara adalah endapan yang mengandung hasil akumulasi material organik
yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang telah melalui proses litifikasi untuk
membetuk lapisan batubara. Tambang terbuka (surface mining)
membutuhkan perencanaan rinci mulai dari tahapan awal sampai penutupan
tambang (mine closure). Bentuk dari perecanaan tambang salah satunya
adalah rancangan bentuk penambangan. Rancangan atau design berperan
sebagai penentu persyaratan, spesifikasi, dan kriteria teknik untuk mencapai
sasaran serta urutan teknis pengerjaannya. Salah satu hasil rancangan pada
perencanaan tambang adalah batas akhir penambangan (pit limit). Pit limit
yang dirancang selanjutnya akan dibagi kedalam unit-unit yang lebih kecil
(sequence).
Sequence penambangan merupakan bentuk-bentuk penambangan
yang menunjukkan bagaimana suatu pit akan ditambang dari tahap awal
hingga tahap akhir rancangan tambang (pit limit). Tujuan dari pembuatan
sequence yaitu untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit limit ke
dalam unit-unit perencanaan yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani.
Pada suatu daerah yang akan ditambang perlu dimodelkan sequence
penambangannya untuk dapat memenuhi suatu target produksi dalam suatu
daerah tambang, maka penulis melakukan studi pustaka tentang tahapan
membuat permodelan sequence untuk memenuhi target produksi.
1.2. Maksud dan Tujuan
1.2.1. Maksud
Menyelesaikan mata kuliah Seminar untuk memenuhi Kurikulum
Pendidikan Program Studi Teknik Geologi
1.2.2. Tujuan
1. Mengetahui tahapan rancangan pit limit dan sequence penambangan
2. Mengetahui jumlah cadangan batubara
3. Mengetahui estimasi jumlah batubara dan tanah penutup
(overburden)
1.3 Metodologi
Metode penulisan yang penulis gunakan antara lain adalah dengan
pengumpulan data yang berkaitan dengan permodelan sequence untuk
memenuhi target produksi. Pengumpulan data dapat berasal dari buku, jurnal
penelitian dan publikasi internet.
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1. Pengertian Perencanaan
Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran
kegiatan serta urutan teknik pelaksanaan dalam barbagai macam anak kegiatan
yang harus dilaksanakan untuk mencapai sasaran dan tujuan kegiatan. Masalah
perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena merupakan
problem geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu dan akan
menjadi fokus utama. Untuk itulah diperlukan perencanaan yang matang
sebelum melakukan kegiatan penambangan untuk meminimalkan berbagai
masalah yang akan terjadi.
Terdapat tiga faktor utama yang harus diperhatikan dalam proses
perencanaan tambang, yaitu faktor geologi, faktor ekonomi dan faktor teknis.
Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan masalah geometri, kebutuhan alat dan
tenaga kerja, serta biaya kapital dan operasi. Salah satu aspek terpenting dalam
suatu perencanaan tambang adalah perencanaan tahapan penambangan (mining
sequence). Mining sequence merupakan tahapan penambangan yang
menunjukkan bagaimana suatu pit akan ditambang, dari titik masuk awal
hingga ke bentuk akhir pit. Tujuan mining sequence adalah membagi seluruh
volume yang ada dalam pit ke unit-unit perencanaan yang lebih kecil sehingga
lebih mudah ditangani. Mining sequence menunjukkan hubungan antara
geometris tambang dengan geometri batubara dalam bentuk tingkat produksi
batubara dan overburden.
2.2. Perencanaan Mining Sequence
Mining sequence merupakan bentuk-bentuk penambangan yang
menunjukkan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga
bentuk akhir pit. Mining sequence disebut juga phase, slice, stage atau
pushback. Tujuan umum dari mining sequence adalah untuk membagi seluruh
volume yang ada dalam pit ke dalam unit-unit perencanaan yang lebih kecil
sehingga mudah ditangani. Mining sequence yang direncanakan dengan baik
akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih
sederhana.
Dalam merencanakan suatu mining sequence, ada beberapa faktor yang
perlu diperhatikan seperti faktor geologi, geoteknik, alat berat yang digunakan,
penjadwalan produksi, desain pit penambangan, disposal serta rencana
penyaliran. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, maka
tahapan penambangan yang direncanakan akan berjalan dengan baik. Tahapan
penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses ke semua
daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan
kerja tambang.
Terdapat beberapa langkah yang diperhatikan dalam rancangan tahapan
penambangan, yaitu :
1. Tingkat produksi overburden dan batubara yang tertambang pada setiap
tahapan penambangan.
2. Ukuran dan jenis alat yang digunakan sehingga lebar minimum jenjang
operasi dapat ditentukan.
3. Dimensi jalan masuk ruang kerja dan sudut lereng akhir.
4. Merancang tahapan penambangan secara detail dengan melibatkan jalan
angkut dan dimensi lereng tunggal dengan memperhatikan tonase
cadangan dan overburden pada selang kedalaman tertentu.
2.3. Jenis Tambang
Saat ini ada 2 jenis tambang yang sangat terkenal di dunia,yaitu:
1. Tambang bawah tanah ( Under Ground Mine )
Contohnya seperti di Freeport , tambang underground di China , dll
2. Tambang Terbuka ( Open Pit Mine )
Contohnya seperti di Sangata ( KPC ) , Nusa Tenggara ( Newmont ) ,
Berau ( Berau Coal ) , dll.
2.4. Pemilihan Jenis Tambang
Beberapa point penting yang harus diperhatikan untuk menentukan
jenis tambang yang akan dipilih adalah sebagai berikut:
Stripping Ratio ( SR ) / Nisbah kupasan yang ekonomis pada saat
itu.Pengertian dari stripping ratio adalah : Perbandingan jumlah tanah
kupasan penutup batubara dalam satuan meter kubik padat (lihat BCM)
yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 ton batubara. Dapat disebut juga
dengan rasio kupasan (dengan batubara) pada tambang batubara terbuka.
Teknologi
Lingkungan dan Amdal
Keahlian
Ketersediaan modal dan lain-lain
2.5. Metode Penambangan
Direct digging / ripping
Direct dozing
Drilling dan Blasting
Truck dan Shovel
Dragline System
Conveying
2.6. Faktor-Faktor Pemilihan Metoda Penambangan
Dalam hal penentuan metode tambang yang akan digunakan saat akan
dimulai,maka point-point dibawah ini penting untuk diperhatikan:
Karakteristik Deposit : Kemiringan, ukuran dan penyebaran, struktur
geologi (rekahan/joint, patahan dan perlipatan)
Karakteristik Material
Pertimbangan Topography
Pertimbangan Geoteknik & Hidrologi
Pertimbangan Ekonomis
Pertimbangan Lingkungan
Ketersediaan alat
Tingkat Produksi
Kualitas bijih / Batu bara yang diharapkan
Jarak buang dari PIT ke Waste Dump / Crusher
2.7. Tahapan Desain Dan Perencanaan Tambang
Validasi Data (Geologi, Topografi, Jumlah Data)
Model geologi (Geological Resources, Bentuk Cadangan, Kualitas dsb.
Cut of Grade/Optimum Pit Limit
Penentuan metoda Penambangan
Pembuatan Layout tambang & Design
Perhitungan Blok Cadangan
Pembuatan Schedule Produksi
Pemilihan Alat dan type alat yang Suitable
Penentuan Urutan (sequence) Tambang
Penentuan System Drainase
Analisa Lingkungan dan Rencana Rehabilitasi

2.8. Data Dan Model Geologi

Data Geologi: Topography Lapangan, Data Bor, Struktur Geology


Model Geologi: Penampang Geologi (Section), Peta Struktur, Ketebalan
Dan Kualitas (2 Dimensi), Model Kualitas (3 Dimensi)
Data Geoteknik: Densitas Batuan (Wet And Dry), Sudut Geser Dalam,
Kohesi, Struktur Lapisan Geologi (Mis : Joint)
2.9. Penentuan Batas Penambangan
Optimum stripping ratio
Batas tambang
Batas waste dump
Batas lain : sungai , jalan, dll
2.10. Pemilihan Alat & Metode Penambangan
Parameter pemilihan alat :
- Kondisi tanah dan bantuan
- Target produksi
- Karakteristik material
- Tebalan dan kemiringan coal / ore
- Jarak angkut
- Topography
- Cuaca
Parameter metode penambangan :
- Dimensi lokasi kerja
- Urutan penambangan ( Mine sequencing )
- Rencana produksi ( Production scheduling )
- Lebar jalan / Ramp
- Grade jalan
- Lokasi awal penambangan
- Management disposal ( In and Out Pit dumping system )
2.11. Layout & Design Tambang
- Desain pit
- Desain ramp
- Desain disposal
- Desain jalan
- Drainase
2.12. Perencanaan Tambang
Produksi :
- Target produksi
- Produktivitas
- Jumlah alat
Jam Kerja :
- Kalender kerja
- Shift kerja
- Total jam kerja setahun
2.13. Drainase Tambang
- Drainase bench dan sump
- Pemilihan pompa
- Pengolahan aliran air
- Pembuangan lumpur

2.14. Dampak Lingkungan Dan Rehabilitasi


- Top soil stockpiling
- Rencana rehabilitasi
- Penanganan air limbah
BAB III
TAHAPAN PERANCANGAN SEQUENCE PENAMBANGAN
3.1 Tahapan perancangan sequence
Perancangan sequence penambangan untuk memenuhi target produksi
membutuhkan data-data yang rinci mengenai kondisi lokasi yang akan
dimodelkan. Setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah efektif dan efisien
sehingga hasil yang diperoleh maksimal.
Tahapan dalam perencanaan dapat terbagi tiga tahap (Lee,1984), yaitu:
a. Studi konseptual
Studi konseptual merupakan suatu ide proyek yang diwujudkan kedalam
usulan investasi. Studi ini mencakup ruang dan estimasi biaya untuk
mengidentifikasikan suatu kesempatan investasi yang potensial. Biaya
modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah yang
menggunakan data historik. Persiapan studi ini pada umumnya adalah
pekerjaan dari satu atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai
evaluasi awal.
b. Pra studi kelayakan
Studi ini adalah suatu pekerjaan pada tingkat menengah dan secara normal
tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini menentukan apakah konsep
proyek harus dilakukan studi kelayakan atau proyek tersebut memerlukan
suatu investigasi yang mendalam melalui suatu studi pendukung.
c. Studi kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan
suatu bankble document yang hampir selalu ditujukan untuk mencari modal
untuk membiayai proyek tersebut. Karena itu, dokumen yang dihasilkan ini
biasanya disebarluaskan.
3.2 Data yang dibutuhkan dalam perancangan sequence
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Data pemboran
Data pemboran berisi informasi mengenai keberadaan batubara dan
keadaan seam di bawah permukaan berdasarkan titik survei pemboran.
Peta topografi detail
Peta topografi detail merupakan peta kontur digital yang menunjukkan
kondisi daerah penelitian dengan interval kontur satu meter. Peta topografi
detail bersumber dari data pemetaan yang dilakukan oleh pihak
perusahaan.
Parameter geoteknik
Parameter geoteknik pada perancangan tambang adalah:
i. Tinggi jenjang: 10 m
ii. Lebar jenjang minimum: 4 m
iii. Lebar jalan tambang (ramp): 15 m
iv. Sudut kemiringan (single slope): 60o
Target produksi bulanan
Target produksi bulanan merupakan rencana jumlah ton batubara yang
ditambang pada lokasi penambangan tiap bulan. Target produksi yang
direncanakan pada suatu lokasi misalnya 40.000 ton tiap bulan, dengan
nilai nisbah pengupasan maksimal adalah 15:1
3.3 Tahapan analisis data perancangan sequence
Pada analisis data biasanya menggunakan software Minescape 4.118 untuk
mengolah data litologi, topografi, dan rancangan tambang.
Tahapan analisis data pada penelitian ini adalah:
Estimasi sumberdaya
Estimasi sumberdaya pada lokasi penambangan menggunakan data
pemboran dan topografi. Estimasi sumberdaya dilakukan dengan
menggunakan software Minescape 4.118 dengan aplikasi Stratmodel.
Massa jenis batubara adalah 1,3 ton/m3.
Perancangan pit limit penambangan
Parameter rancangan pit limit penambangan mengacu pada parameter
geoteknik yang ditetapkan oleh perusahaan. Perancangan desain tambang
berdasarkan prinsip uji coba (trial and error).
Estimasi cadangan batubara
Pada tahapan ini mulai diterapkan batasan-batasan teknis maupun
ekonomis yang dapat menjadi pembatas dari model sumberdaya batubara
yang telah dimodelkan sebelumnya. Perhitungan cadangan batubara
mengacu pada rancangan pit limit penambangan dan peta topografi daerah
penelitian.
Pembuatan blok penambangan
Pembuatan blok penambangan mengacu pada batas akhir penambangan
(boundary pit limit) yang dirancang. Pit limit yang telah dirancang
kemudian dibagi menjadi blok-blok penambangan dengan ukuran 50 x 50
meter.
Perancangan sequence
Rancangan sequence penambangan menentukan lokasi awal penambangan
hingga batas akhir dari kegiatan penambangan. Perancangan sequence atau
tahap-tahap penambangan ini membagi pit limit menjadi unit-unit
perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola
BAB IV
PERANCANGAN SEQUENCE PENAMBANGAN DALAM
MENINGKATKAN PRODUKSI TAMBANG
4.1 Pit Limit Penambangan
Pit limit merupakan batasan akhir dari suatu kegiatan penambangan.
Perancangan berdasarkan model pit limit penambangan yang dirancang,
diperoleh cadangan batubara dan material tanah penutup. Nisbah pengupasan
dari pemodelan pit limit adalah 15:1.
4.2 Sequence penambangan
Rancangan sequence penambangan mengacu pada model pit limit yang
telah dirancang. Dasar pembagian sequence penambangan adalah pit limit
penambangan menggunakan data sumberdaya terukur dan parameter-parameter
geoteknik yang ditetapkan oleh perusahaan. Perancangan pit limit juga harus
memperhatikan nilai nisbah pengupasan yang ditetapkan, yaitu 15:1 rencana
target produksi dan nilai nisbah pengupasan. Target produksi yang direncanakan
untuk suatu lokasi misalnya 40.000 ton batubara tiap bulan dan nilai nisbah
pengupasan maksimal adalah 15:1. Berdasarkan rencana target produksi dan
nilai nisbah pengupasan tersebut, sequence penambangan batubara dibagi
menjadi lima sequence penambangan di mana sequence kelima merupakan pit
limit penambangan. Semua rancangan sequence akan mengikuti rancangan
sequence-sequence sebelumnya. Sequence pertama mengikuti garis cropline
kemudian menerus ke arah barat. Sequence selanjutnya akan mengikuti
rancangan sequence sebelumnya dan akan dibatasi oleh rancangan pit limit.
Juga harus memperhatikan titik tertinggi pada kontur struktur batubara dan titik
terendah kontur batubara.

Tabel 1. Contoh jumlah batubara dan tanah penutup pada tiap sequence pada suatu daerah
tambang
DAFTAR PUSTAKA
Jones, B.W. dan Desrochers, A. (1992) : Shallow Platform Carbonates:
dalam Walker, R.G. & James, N.P., Facies models to Sea Level
Change, Canada, Geological Association of Canada.
Kenyon, C.S. (1976) : Early Miocene carbonate depositional environments,
East Java Sea, Proceedings Carbonate Seminar, Indonesian Petroleum
Association (IPA), p. 118-119.
Koesoemo, M.Y.P. (2000) : Prupuh Oligomiocene Carbonate Buildup Play
System in Cepu Area, Northeast Java Basin, Bali, International AAPG
Conference.
Koesoemo, M.Y.P., 2002, The Geology and Hydrocarbon System of the Giant
Field at Cepu Area, Northeast Java Basin, Surabaya, 31th Annual
Convention of Indonesian Association of Geologists (IAGI).
Loucks, R.G. dan Sarg, J.F. Carbonate Sequence Stratigraphy Recent
Development and Applications. American Association of Petoleum
Geologist Memoir 57.
Tucker, M.E. (1982) : The Field Description of Sedimentary Rocks, United
States of America, Open University Press and Halsted Press.
Tucker, M.E. & Wright, V.P. (1990) : Carbonate Sedimentology, United
States, Blackwell Science Ltd.
Mudjiono, R. dan Pireno, G.E. (2001) : Exploration of the North Madura
Platform, Offshore East Java, Indonesia, Proceedings 28th Annual
Convention of Indonesian Petroleum Association (IPA), p. 707-726.
Neumann, A.G. dan McIntyre, I.G. (1985) : Reef Response to Sea-Level Rise:
Keep-Up, Catch-Up or Give-Up, Tahiti, Proceedings of Fifth
International Coral Reef Congress.
Pettijohn, F.J. (1975) : Sedimentary Rocks. New York: Harper & Row.
Pomar, L., Brandano, M., dan Westphal, H. (2004) : Environmental Factor
Influencing Skeletal Grain Sediment Associations: A Critical Review
of Miocene Examples From the Western-Meditteranean,
Sedimentology.
Read, J.F. (1985) : Carbonate Platform Facies Models, American Association
of Petroleum Geologist Bulletin.
Reijers, T.J.A. dan Hsu, K.J. (1986) : Manual of Carbonate Sedimentology:
A Lexicographical Approach, San Diego, Academic Press.
Satyana, A.H. dan Darwis, A. (2001) : Recent Significant Discoveries within
Oligo-Miocene Carbonates of the East Java Basin : Integrating the
Pteroleum Geology, Yogyakarta, 30th Annual Indonesian Association
of Geologist (IAGI) & 10th GEOSEA Conference.
Satyana, A.H., Purwaningsih, M.E.M., Budiyani, S., Noeradi, D., dan Halik,
N.M. (2002) : Evolution of The Late Oligocene Kujung Reef Complex
in The Western East Cepu High, East Java Basin : Seismic Sequence
Stratigraphy Study, Surabaya, 31th Annual Indonesian Association of
Geologist (IAGI) Conference.
Satyana, A.H. dan Djumlati, M. (2003) : Oligo-Miocene Carbonate of The
East Java Basin, Indonesia : Facies Definition Leading to Recent
Significant Discoveries, Barcelona, American Association of
Petroleum Geologist (AAPG) International Conference.
Satyana, A.H. dan Purwaningsih, M.E.M. (2003) : Oligo-Miocene Carbonate
of Java : Tectonic Setting and Effects of Volcanism, Jakarta, 32th IAGI
& 28th HAGI Annual Convention and Exhibition.
Satyana, A.H. (2005) : Oligo-Miocene Carbonates of Java, Indonesia :
Tectonic Volcanic Setting and Petroleum Implication, Jakarta, 30th
Annual Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention and
Exhibition.
Scholle, P.A., Bebout, D.G. dan Moore, C.H. (1983) : Carbonate
Depositional Environment, Oklahoma, American Association of
Petroleum Geologist Memoir 33.
Walker, R.G. dan James, N.P. (1992) : Facies Models Response to Sea Level
Change, Canada, Geological Association of Canada.
Wilson, J.L. (1975) : Carbonate Facies in Geologic History, New York,
Springer-Verlag.

Website
AAPG Wiki. (2016 modified) : Carbonate Reservoir. (diakses pada tanggal
15 Oktober 2016, pukul 19.30
http://wiki.aapg.org/Carbonate_reservoir).