Anda di halaman 1dari 12

Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Optimasi Formula Sediaan Krim Ekstrak Stroberi (Fragaria x ananassa) sebagai


Krim Anti Penuaan

Nabila Ayu Safitri*, Oktavia Eka Puspita*, Valentina Yurina*

ABSTRAK

Penuaan adalah suatu proses biologis kompleks sebagai hasil dari penuaan intrinsik (dari dalam tubuh
seperti genetik) dan penuaan ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor yang paling berpengaruh pada penuaan
adalah radikal bebas karena dapat menyebabkan stres oksidatif yang berperan penting dalam proses
penuaan. Penggunaan antioksidan dari buah-buahan salah satunya stroberi, menjadi suatu faktor penting
untuk melawan penuaan akibat radikal bebas. Antosianin di dalam stroberi memiliki efek antioksidan paling
tinggi untuk melawan radikal bebas. Antioksidan tersebut digunakan dalam produk kosmetik untuk
memaksimalkan perawatan terhadap penuaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi formula sediaan
krim ekstrak stroberi dengan membandingkan penggunaan jenis emulgator nonionik dan anionik. Ekstrak
stroberi didapatkan dengan mengektraksi stroberi menggunakan pelarut metanol, aquades, dan asam format.
Ekstrak diformulasikan ke dalam krim yang dibagi menjadi dua formula yaitu formula A yang menggunakan
emulgator nonionik (tween 80 dan span 80) dan formula B yang menggunakan emulgator anionik (sodium
oleate dan trietanolamin). Penentuan stabilitas dan formula yang optimum didapatkan dari evaluasi sediaan
krim yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas fisik, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji stabilitas
suhu. Hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan emulgator baik nonionik dan anionik dapat
menghasilkan sediaan krim yang baik, tetapi formula B lebih menunjukkan konsistensi sediaan krim yang
lebih baik dibandingkan formula A. Kesimpulan dari penelitian ini adalah emulgator jenis anionik lebih sesuai
untuk formula sediaan krim ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa).

Kata kunci: Ekstrak stroberi, Jenis emulgator, Stabilitas sediaan krim.

Optimizing Strawberry (Fragaria x ananassa ) Cream Formulation as Anti Aging Cream

ABSTRACT

Aging is a biological complex process caused by intrinsic (e.g. genetic) and extrinsic (e.g. environment)
factors. The most influential factor in aging is free radicals that lead to oxidative stress which plays an
important role in the aging process. The use of antioxidants from fruit such as strawberry (Fragaria x
ananassa) is an important factor to prevent free radicals aging effect. Anthocyanin in strawberries have the
highest antioxidant effect against free radicals. The antioxidants are used in cosmeceutical products to
maximize treatment against aging. This study aimed to optimize strawberry cream formulation by comparing
the use of nonionic emulsifiers and anionic emulsifiers. Strawberry extract obtained by extracted strawberries
using methanol, distilled water, and formic acid. Strawberry extract was formulated into cream which is divided
into two formulas, formula A using nonionic emulsifier (tween 80 and span 80) and formula B using anionic
emulsifier (sodium oleate and triethanolamine). Cream evaluation was performed to get the best formula and
stability. These tests were organoleptic, physical homogeneity, pH, spreadibility, adhesion, and temperature
stability tests. The results showed that both nonionic and anionic emulsifiers can produce a good cream, but
formula B showed better consistency than formula A. The conclusion was that anionic emulsifier is suitable for
strawberry cream formulation (Fragaria x ananassa).

Keywords: Strawberry extract, Cream stability, Emulsifier type.

*Program Studi Farmasi, FKUB

235
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

PENDAHULUAN di dalam sediaan dapat mendukung


penyampaiannya.4
Penuaan adalah proses biologis yang Krim merupakan suatu sediaan
kompleks karena faktor intrinsik (dari dalam setengah padat berupa emulsi kental
tubuh seperti genetik) dan faktor ekstrinsik mengandung air tidak kurang dari 60 %.4
(dari lingkungan). Faktor ekstrinsik yang Emulsi merupakan campuran dari fase air
paling berperan dalam penuaan adalah dan fase minyak, sehingga dibutuhkan
radikal bebas. Radikal bebas dapat emulgator untuk membentuk emulsi yang
memberikan dampak besar terhadap baik yaitu keadaan dimana kedua fase dapat
terjadinya proses penuaan karena dapat bergabung. Tanpa adanya emulgator yang
menyebabkan stres oksidatif.1 sesuai maka emulsi akan membentuk
Peningkatan populasi yang mengalami creaming, flokulasi, koalesensi, dan inversi
penuaan dini dan efek terhadap psychosocial yang disebut sebagai fenomena
telah menciptakan permintaan untuk ketidakstabilan emulsi. Selain itu emulgator
melawan penuaan pada kulit, salah satunya memiliki peranan penting yaitu sebagai
adalah produk cosmeceutical anti aging. penetrating enhancer sehingga dapat
Produk anti aging yang digunakan untuk mempercepat absorbsi dari zat aktif.
melawan penuaan yang disebabkan oleh Emulgator yang sering digunakan adalah
radikal bebas mengandung antioksidan golongan surfaktan, yang dapat dibagi
sebagai bahan aktifnya. Antioksidan dari menjadi empat macam yaitu nonionik (tween
stroberi (Fragaria x ananassa) 80, span 80), kationik (cetrimide,
dipertimbangkan sebagai sumber antioksidan cetylpyridinium chloride), anionik (sodium
yang baik, utamanya disebabkan oleh oleate, triethanolamine), dan amfoterik
kandungan vitamin C, antosianin dan fenol (mengandung dua gugus hidrofil dan lipofil).5
yang dimilikinya.2 Oleh karena itu, pada penelitian ini
Pada penelitian sebelumnya, uji aktivitas dilakukan optimasi formula sediaan krim
antioksidan stroberi menunjukkan bahwa ekstrak stroberi dengan menggunakan
ekstrak stroberi memiliki kapasitas surfaktan yang sesuai. Dalam penelitian ini
antioksidan yang tinggi melawan radikal akan dilakukan perbandingan kestabilan
bebas, termasuk radikal superoksida, formula sediaan krim yang menggunakan
hidrogen peroksida, radikal hidroksil, dan dua macam golongan surfaktan yang banyak
oxygen singlet.2 Ekstrak stroberi sebanyak ditemukan di dalam sediaan krim yaitu
0,5 mg/ml atau sebanyak 0,5 % (w/v) surfaktan nonionik (tween 80 dan span 80)
memiliki efek fotoprotektif yang dapat dan surfaktan anionik (sodium oleate dan
melindungi kulit dari kerusakan akibat triethanolamine).
radiasi UV-A yang dapat menginduksi
timbulnya radikal bebas.3 BAHAN DAN METODE
Dalam memaksimalkan perawatan kulit
melawan penuaan yang disebabkan oleh Desain Penelitian
radikal bebas, perlu dilakukan formulasi Penelitian ini menggunakan desain
ekstrak stroberi dalam sediaan krim. Sediaan penelitian eksperimental laboratorik. Alat-alat
krim yang diketahui dapat menyebar dengan yang digunakan pada penelitan ini adalah
mudah di kulit dan dapat menghantaran zat homogenizer, filter membran 0,45 m,
aktif dengan baik. Formulasi sediaan krim spektrofotometer UV-Vis, mikroskop, pH
ditujukan agar krim dapat menyampaikan zat meter, dan amber glass vials. Bahan utama
aktif dengan baik dan eksipien yang berada yang digunakan adalah buah stroberi

236
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

(Fragaria x ananassa) yang diekstraksi 15 menit dan diulang sekali lagi. Supernatan
menggunakan metanol, aquades, dan asam difilter dengan membrane berdiameter 0,45
format. m setelah itu dipindahkan ke dalam amber
glass vials dan disimpan pada suhu -20 oC.
Bahan Formula Krim
Bahan untuk formulasi sediaan krim Pembuatan Sediaan Krim
meliputi tween 80, span 80, sodium oleate, Semua bahan yang akan digunakan di
triethanolamine, parafin, asam stearat, dalam percobaan ditimbang terlebih dahulu.
mineral oil, setil alkohol, butyl Mineral oil, asam stearat, cetyl alcohol,
hydroxytoluene, gliserin, propylene glycol, paraffin dan BHT dicampurkan sesuai
parfum, asam sitrat, natrium hidroksida dan masing-masing formula pada suhu 70-80 oC
air destilasi. mengggunakan penangas air sampai
homogen. Bahan gliserin, ekstrak stroberi,
Pembuatan Ekstrak Stroberi dan propilen glikol dicampurkan dengan cara
Buah stroberi sebanyak 50 g diaduk sampai homogen (fase air). Fase
ditambahkan ke dalam 500 ml larutan minyak ditambahkan ke dalam fase air
ekstraksi yang terdiri dari 400 ml methanol dengan tetap memakai suhu 70 oC dan
dan 100 ml aquades yang diasamkan diaduk sampai homogen. Saat krim mulai
dengan asam format 0,5 ml. Stroberi dingin (sekitar suhu 40 oC), ditambahkan
dihomogenisasi menggunakan homogenizer parfum ke dalam sediaan sambil tetap diaduk
pada 12.000 rpm selama 2 menit. sampai menjadi dingin. Jika terlalu asam
Selanjutnya diaduk selama 2 jam pada suhu maka dilakukan penambahan larutan pH
4 oC menggunakan stirer dalam keadaan adjuster yaitu asam sitrat jika terlalu basa
terlindung dari cahaya. Kemudian dilakukan dan natrium hidroksida.
sentrifugasi pada kecepatan 1200 g selama

Tabel 1. Formula sediaan krim

Evaluasi Sediaan .6 Spesifikasi krim yang harus dipenuhi


Uji Organoleptis adalah memiliki konsistensi lembut, warna
Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, sediaan homogen, dan baunya harum.
warna dan bau yang diamati secara visual

237
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Uji Homogenitas Fisik Uji Daya Lekat


Sejumlah krim yang akan diamati Pengujian daya lekat sediaan dilakukan
dioleskan pada kaca objek yang bersih dengan cara krim diletakkan pada satu sisi
dan kering sehingga membentuk suatu kaca objek dengan sisi bawahnya telah
lapisan yang tipis, kemudian ditutup dipasangkan tali untuk mengikat beban.
dengan kaca preparat (cover glass). Krim Kemudian ditempelkan pada kaca objek
dinyatakan homogen apabila pada yang lain. Beban yang digunakan adalah
pengamatan menggunakan mikroskop, 50 g. Kemudian diamati waktu yang
krim mempunyai tekstur yang tampak rata dibutuhkan beban tersebut untuk
dan tidak menggumpal.7 memisahkan kedua kaca tersebut.

Uji pH Uji Stabilitas Suhu


Pemeriksaan pH menggunakan alat pH Krim disimpan pada suhu kamar 282 C
meter yang dikalibrasi menggunakan serta suhu tinggi 402 C. Selama
larutan dapar pH 7 dan pH 4. Elektroda pH penyimpanan tersebut dilakukan
meter dicelupkan ke dalam krim, jarum pH pengamatan organoleptis, homogenitas
meter dibiarkan bergerak sampai fisik serta perubahan fisik pada minggu ke-
menunjukkan posisi tetap, pH yang 1, 2, dan 3. Spesifikasi sediaan adalah
ditunjukkan jarum dicatat. Krim sebaiknya stabil dalam berbagai suhu tanpa ada
memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit perubahan organoleptis, pH dan
yaitu 6,0 7,0. homogenitasnya.

Uji Daya Sebar


Analisis Data
Kaca transparan diletakkan diatas kertas Analisis data penelitiaan ini
grafik pada kaca tersebut diletakkan 0,5 g menggunakan SPSS 21.0. Uji Independent t-
krim, kemudian ditutup dengan kaca test (p 0,05) dilakukan untuk mengetahui
transparan dan dibiarkan selama 5 detik adanya perbedaan nilai pH dan daya sebar
untuk mendapatkan berapa diameter dua formula sediaan krim ekstrak stroberi.
daerah yang terbentuk. Kemudian
HASIL
dilanjutkan dengan menambahkan beban
diatas kaca transaparan tersebut beban Ekstraksi Stroberi (Fragaria x ananassa)
50, 100, 200, dan 500 g dan diamati Jumlah ekstrak yang didapat dari hasil
diameter daerah yang terbentuk. ekstraksi stroberi adalah cairan ekstrak
Spesifikasi sediaan adalah krim dapat sebanyak 400 ml dari 50 g buah stroberi
menyebar dengan mudah dan merata. (Gambar 1).

Gambar 1. Ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa)

238
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Identifikasi Fitokimia Ekstrak Stroberi panjang gelombang 200 600 nm untuk


Identifikasi fitokimia yang dilakukan mengetahui panjang gelombang maksimal
adalah uji antosianin. Pada ekstrak stroberi antosianin. Ekstrak stroberi memiliki panjang
ditambahkan NaOH 2 M tetes demi tetes. gelombang maksimal 502 nm (Gambar 2a).
Hasil yang didapat adalah ekstrak berubah Pengamatan juga dilakukan pada ekstrak
warna menjadi kehijau-biruan yang lama- stroberi yang telah ditambah NaOH yang
lama memudar. Selain pengujian secara terdeteksi pada panjang gelombang 513 nm
kualitatif, ekstrak stroberi juga diuji (Gambar 2b).
menggunakan spektrofotometer pada kisaran

a b
Gambar 2. Pemeriksaan antosianin pada ekstrak stroberi menggunakan spektrofotometer
Keterangan: (a) panjang gelombang ekstrak stoberi yaitu 502 nm, (b) panjang gelombang ekstrak stroberi
setelah penambahan NaOH yaitu 513 nm

Pembuatan Krim
Krim dibuat dengan menggunakan yang dilakukan secara visual. Hasil uji
ekstrak stroberi sebagai zat aktif dan organoleptis ditampilkan pada Tabel 2.
beberapa eksipien sesuai dengan formula
yang telah ditentukan. Sediaan krim yang Uji Homogenitas Fisik
telah dibuat dievaluasi dengan uji Hasil yang didapatkan adalah krim
organoleptis, uji homogenitas fisik, uji pH, tampak homogen secara fisik karena
uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji distribusi partikel merata di kaca objek
stabilitas suhu. (Gambar 3). Pada pengamatan
menggunakan mikroskop dengan
Uji Organoleptis menggunakan perbesaran 40x tampak
Uji organoleptis yang dilakukan meliputi bahwa kedua krim tidak terdapat gumpalan
pemeriksaan bentuk, tekstur, warna dan bau di dalamnya (Gambar 4).

Tabel 2. Uji organoleptis sediaan krim


Uji Hasil Pengamatan
Formula A Formula B
Warna Merah muda Merah muda
pastel pastel
Bau Bau harum Bau harum
Sedikit tengik
Bentuk Krim Krim
Tekstur Lembut Lembut

239
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

A B
A B
Gambar 3. Hasil uji homogenitas krim
Keterangan: (A) sediaan krim formula A, (B) sediaan krim formula B.

A B

Gambar 4. Uji homogenitas sediaan krim menggunakan mikroskop (40x)


Keterangan: (A) sediaan krim formula A, (B) sediaan krim formula B.

Pada penelitian ini, dibuat dua macam Tween 80 dan Span 80, sedangkan formula
formula yaitu formula A (Gambar 5a) yang B emulgator sodium oleate dan
mengandung kombinasi emulgator trietanolamine.

Gambar 5. Sediaan krim ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa)

Uji Daya Lekat dan pengamatan perubahan pH pada setiap


Hasil yang diperoleh dari pengujian daya minggu, selama 3 minggu. Hasil dari uji ini
lekat ditampilkan pada Tabel 3. adalah tidak ada perubahan pada sediaan
krim baik formula A dan formula B (Gambar
Uji Stabilitas Suhu 6).
Pada uji stabilitas suhu, dilakukan
pengamatan uji organoleptis, uji homogenitas

240
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Tabel 3. Hasil uji daya lekat krim


Berat beban Waktu pemisahan krim
Formula A Formula B
50 g 6, 80 detik 7,5 menit

Gambar 6. Uji homogenitas formula A pada uji stabilitas suhu 25 oC


Keterangan: (a) Perlakuan suhu 25 oC minggu pertama, (b) Perlakuan suhu 25 oC minggu ketiga, (c)
Perlakuan suhu 40 oC minggu pertama, (d) Perlakuan suhu 40 oC minggu ketiga.

Uji pH didapat berada dalam rentang 6,0-7,0 yang


Pengujian pH dilakukan sebanyak tiga sesuai dengan pH kulit.
kali dalam 1 bulan. Pada Tabel 4 dan
Gambar 7 ditampilkan nilai pH krim yang

Tabel 4. Hasil uji pH sediaan krim


Waktu Nilai pH
Formula A Formula B
Minggu I 6,17 6,32
Minggu II 6,22 6,25
Minggu III 6,18 6,30

6,4

6,3 Formula A
PH

6,2
Nilai

Formula B
6,1

6
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3
Gambar 7. Nilai pH sediaan krim

Uji Daya Sebar


Pada Tabel 5 dan Gambar 8 dapat formula sediaan krim dilakukan dengan
dilihat hasil pengujian daya sebar kedua variasi beban dan didapatkan krim dapat
menyebar dengan baik.

241
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Tabel 5. Hasil uji daya sebar.

3,5
Sebar

3
2,5
2
Formula A
Daya

1,5
m
c
(

1
Diamete

0,5
0
Hanya Beban Beban Beban Beban
r

Kaca 50 100 200 500


gram gram gram gram

Gambar 8. Daya sebar sediaan krim

Tabel 6. Uji pH formula A pada uji stabilitas suhu 25 oC

Waktu Nilai pH
Formula A Formula B

Minggu I 6,17 6,32


Minggu II 6,22 6,25
Minggu III 6,18 6,30

Gambar 7. Uji homogenitas formula B pada uji stabilitas suhu 40 oC


Keterangan: (a) Perlakuan suhu 25 oC minggu pertama, (b) Perlakuan suhu 25 oC minggu ketiga, (c)
Perlakuan suhu 40 oC minggu pertama.

242
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

Tabel 7. Uji pH formula A pada uji stabilitas suhu 40 oC


Waktu Nilai pH
Formula A Formula B

Minggu I 6,19 6,34


Minggu II 6,23 6,22
Minggu III 6,20 6,28
pelarut

Analisis Statistik Uji pH


Analisis data dilakukan pada hasil methanol, aquades dan asam format karena
evaluasi uji pH dan daya sebar pelarut tersebut merupakan pelarut polar
menggunakan independet t-test untuk sehingga dapat melarutkan antosianin yang
mengetahui apakah ada perbedaan diantara merupakan senyawa polar. Perlakuan
kedua formula sediaan krim. Berdasarkan tersebut sesuai dengan prinsip ekstraksi
hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi yaitu like disolve like yaitu senyawa polar
sebesar 0,180 ( 0.05) maka H0 diterima, akan larut di dalam pelarut polar dan begitu
sehingga dapat diinterpretasikan bahwa pula sebaliknya untuk senyawa non polar.7
tidak terdapat perbedaan nilai pH antara Larutan tersebut kemudian diaduk selama 2
formula A dengan formula B. Hal ini berarti jam pada suhu 4 oC dalam keadaan gelap.
bahwa formula A dengan formula B memiliki Perlakuan homogenisasi dan pengadukan
nilai pH yang sama. dilakukan agar pelarut dapat menarik
senyawa yang diinginkan dengan maksimal.
Analisis Statistik Uji Daya Sebar Setelah dilakukan pengadukan, ekstrak
Hasil analisis uji daya sebar stroberi disentrifugasi dengan kecepatan
menggunakan independet t-test 1200 g selama 15 menit, dua kali berturut-
menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,322 turut. Supernatan yang didapat kemudian
( 0.05) maka H0 diterima, sehingga dapat difilter menggunakan membran filter 0,45
diinterpretasikan bahwa tidak terdapat m. Filtrat yang didapat disimpan di dalam
perbedaan daya sebar antara formula A amber vial glass untuk menghindari paparan
dengan formula B. Hal ini berarti bahwa langsung dari sinar matahari yang dapat
formula A dengan formula B memiliki daya merusak senyawa di dalamnya. Filtrat lalu
sebar yang sama. disimpan di dalam lemari pendingin dengan
suhu -20 oC.
PEMBAHASAN Ekstrak stroberi yang telah didapat
diidentifikasi untuk golongan senyawa aktif
Ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa)
yang terdapat di dalamnya. Identifikasi yang
yang digunakan di dalam penelitian ini
dilakukan adalah identifikasi fitokimia
merupakan zat aktif utama yang memiliki
senyawa antosianin yang merupakan zat
aktivitas antioksidan karena senyawa
utama yang memiliki aktivitas antioksidan.
antosianin di dalamnya. Bagian stroberi yang
Pada pengujian antosianin di dalam ekstrak
digunakan adalah buahnya. Metode
stroberi (Fragaria x ananassa) didapatkan
ekstraksi stroberi dilakukan dengan cara
bahwa ekstrak mengandung senyawa
mencampur stroberi dengan pelarut
antosianin dengan adanya perubahan warna
aquades, methanol dan asam format yang
setelah penambahan NaOH ke dalam
selanjutnya dihomegenisasi menggunakan
ekstrak stroberi. Selain itu, keberadaan
homogenizer selama 2 menit. Penggunaan
antosianin di dalam ekstrak juga dideteksi

243
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

dengan spektrofotometer pada panjang (Tabel 4), dengan nilai pH keduanya sesuai
gelombang 502 nm yang berada dalam dengan pH kulit yaitu 6,0 7,0 sehingga
rentang panjang gelombang antosianin aman untuk diaplikasikan ke kulit. pH
(Gambar 3a). Pengamatan juga dilakukan sediaan harus berada dalam rentang pH kulit
pada ekstrak stroberi yang telah untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit.9
ditambahkan NaOH untuk mengetahui ada Selain itu, pH produk adalah faktor yang
tidaknya pergeseran panjang gelombang dapat digunakan sebagai indikator
dan didapatkan hasil panjang gelombang keamanan. Nilai independent t-test pada uji
maksimal adalah 513 nm (Gambar 3b). pH adalah 0,20 yang berarti signifikan
Stroberi memiliki aktivitas antioksidan tinggi karena lebih dari 0,05. Hal ini menunjukkan
karena mengandung antosianin, fenol, dan bahwa formula A dan formula B memiliki nilai
vitamin C. Antioksidan stroberi yang memiliki pH yang sama
efektifitas tinggi adalah antosianin dengan Pengujian sediaan dilanjutkan dengan
mekanisme kerja menginaktivasi radikal uji daya sebar dan uji daya lekat. Nilai yang
hidroksil dan peroksil.8 didapat dari uji daya sebar dan daya lekat
Evaluasi akhir untuk mengetahui tidak memiliki nilai standar, melainkan relatif
kestabilan sediaan dilakukan setelah terhadap formula pembandingnya. Hasil
pembuatan krim selesai. Kriteria yang dapat analisis uji t menunjukkan nilai
diamati adalah uji organoleptis, uji signifikansinya adalah 0,322 sehingga H0
homogenitas fisik, uji pH, uji daya sebar, uji diterima yang berarti bahwa daya sebar
daya lekat dan uji stabilitas. Pada uji formula A dan formula B tidak berbeda.
organoleptis didapatkan hasil bahwa warna Penilaian uji daya sebar ini untuk
krim adalah merah muda pastel, berbau menggambarkan kemudahan krim ketika
khas stroberi, dan memiliki konsistensi krim. diaplikasikan pada kulit. Semakin mudah
Penilaian stabilitas fisik dapat ditentukan diratakan pada kulit berarti akan
dengan mengamati kriteria organoleptis memeperluas area kulit yang kontak dengan
untuk menentukan adanya perubahan krim yang berarti kemungkinan zat aktif
selama penyimpanan. Secara fisik, krim juga untuk diabsorbsi akan makin besar.
diuji menggunakan uji homogenitas fisik Hasil uji daya lekat menunjukkan bahwa
dimana sediaan krim tidak boleh terdapat daya lekat formula B lebih besar
gumpalan-gumpalan partikel di dalamnya.9 dibandingkan dengan formula A dengan
Hasil yang didapatkan pada pengujian ini waktu pelepasan formula B yaitu 7,5
adalah krim bersifat homogen karena semua menit, sedangkan formula A yaitu 6,80 detik
partikel yang ada di dalam krim tersebar (Tabel 5). Semakin lama waktu yang
merata (Gambar 6). Uji homogenitas juga diperlukan hingga kedua obyek glass
dilakukan dengan menggunakan mikroskop terlepas, maka makin baik daya melekat
untuk mengamati ada tidaknya gumpalan di sediaan krim tersebut. Semakin lama krim
dalam krim. Dari hasil pengamatan melekat pada kulit maka efek yang
menggunakan mikroskop diketahui bahwa ditimbulkan juga semakin besar. Dengan
pada kedua formula sediaan krim tidak daya lekat yang besar, formula B yang
mengalami penggumpalan, tetapi formula B menggunakan emulgator anionik memiliki
menunjukkan hasil yang lebih baik keuntungan untuk berpenetrasi ke kulit
dibandingkan dengan formula A (Gambar 7). dengan baik karena emulgator anionik dapat
Hasil pengujian pH untuk formula A berinteraksi dengan baik terhadap lemak
berada dalam rentang 6,17 6,22 dan untuk dan protein kulit.10 Evaluasi terakhir adalah
formula B berada dalam rentang 6,25 6,32 sediaan krim diuji stabilitasnya pada suhu

244
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

ruangan (25 oC) dan pada suhu tinggi (40 yaitu sodium oleate dan trietanolamine, dan
oC) berdasarkan hasil pengamatan terjadi larutan pH adjuster yaitu asam sitrat.
perubahan. Pengamatan stabilitas suhu juga Sementara formula B yang menggunakan
dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu emulgator anionik yang terdiri dari sodium
pada homogenitas krim formula A dan oleate dan trietanolamin yang dapat
formula B dengan mengamati ada tidaknya menghasilkan stabilitas dan konsistensi krim
gumpalan dan krim dapat tersebar merata. yang baik.
Selain itu, dilakukan uji pH yang untuk
mengetahui ada tidaknya perubahan pH.
Berdasarkan hasil evaluasi akhir SARAN
sediaan yang dilakukan menunjukkan bahwa
baik penggunaan jenis emulgator nonionik Berdasarkan keterbatasan dalam
ataupun anionik dapat menghasilkan penelitian ini dapat disarankan bahwa:
sediaan krim yang memiliki stabilitas yang a. Perlu adanya penelitian lebih lanjut
baik. Tetapi formula B yang menggunakan untuk mengetahui pengaruh kombinasi
emulgator anionik lebih disukai karena jenis emulgator lain, yaitu emulgator
stabilitas yang dimiliki lebih baik dari formula kationik dan emulgator amfoterik
A yang menggunakan emulgator nonionik. terhadap kestabilan sediaan krim.
Hal ini ditunjukkan dengan hasil evaluasi b. Perlu adanya evaluasi tambahan untuk
sediaan krim formula B yang memiliki sediaan krim yaitu uji viskositas dan uji
beberapa keunggulan pada kriteria pelepasan zat aktif sediaan krim.
organoleptisnya yaitu krim memiliki bau dan
konsistensi yang lebih baik dari formula A. DAFTAR PUSTAKA
Pada uji homogenitas menggunakan
mikroskop, formula B memiliki tekstur krim 1. Mackiewicz Z, Rimkeviius A. Theory
yang lebih halus dengan daya lekat lebih and Practice: Skin Aging. Gerontologija.
besar yang ditunjukkan dengan lamanya 2008; 9(2):103108.
waktu pelepasan. Hal tersebut didukung oleh 2. Panico AM, Garufi F, Nitto S et al.
kualitas organoleptis surfaktan anionik yang Antioxidant Activity and Phenolic
sangat baik sehingga dapat menghasilkan Content of Strawberry Genotypes from
sediaan krim yang memiliki stabilis yang Fragaria X Ananassa. Pharmacological
baik.10 Biology. 2009; 47:203-208
3. Giampieri F, Alvarez-Suarez JM,
KESIMPULAN Tulipani S et al. Photoprotective
Potential of Strawberry (Fragaria x
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
ananassa) Extract Against UV-A
disimpulkan bahwa formulasi sediaan krim
Irradiation Damage on Human
ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa) dapat
Fibroblasts. Journal of Agricultural and
menghasilkan krim yang memiliki stabilitas
Food Chemistry. 2012; 60(9):2322-7.
yang baik dengan komposisi ekstrak
DOI: 10.1021/jf205065x
stroberi, basis minyak yang terdiri dari
4. [Depkes RI] Departemen Kesehatan
mineral oil, paraffin, dan asam stearat,
Republik Indonesia. Farmakope
stiffening agent yaitu setil alkohol,
Indonesia III. Jakarta. 1979.
antioksidan yaitu butyl hydroxytoluene,
5. Mollet H, Grubenmann A. Formulation
humektan yaitu gliserin, preservative yang
Technology: Emulsions, Suspensions,
menggunakan propilen glikol, emulgator
Solid Forms. German: Wiley-vch. 2001.

245
Majalah kesehatan FKUB Volume 1, Nomer 4, Desember 2014

6. [Depkes RI] Departemen Kesehatan


Republik Indonesia. Farmakope
Indonesia IV. Jakarta. 1995.
7. Khopkar SM. Konsep Dasar Kimia
Analitik. Jakarta: UI Press. 1990.
8. Wanasundara PKJPD, Shahidi F.
Antioxidants: Science, Technology, and
Applications. Canada: John Wiley &
Sons Inc. 2005.
9. Ueda CT, Shah VP, Derdzinski K, Ewing
G, Flynn G, Maibach H et al. Topical
and Transdermal Drug Product-Stimuli
to the revision process. Pharmacopeial
Forum. 2009; 35:750-64.
10. Levin J, Miller R. A Guide to the
Ingredients and Potential Benefits of
Over-the-Counter Cleansers and
Moisturizers for Rosacea Patients. J Clin
Aesthet Dermatol. 2011; 4(8):31-49.

246