Anda di halaman 1dari 10

FORMULA SIRUP FLU

A. Formula

Sirup Flu

B. Rancangan Formula

Tiap 5 ml sirup mengandung :

Paracetamol 150 mg

Dextrometorfan HBr 15 mg

Pseudoefedrin HCl 30 mg

Klorfeniramin maleat 2 mg

Tartrazin 0,005 %

Sukrosa 60 %

Sorbitol

Oleum citrus q.s

Aquadest ad 60 ml

C. Studi Preformulasi
1. Dasar Pemilihan Sediaan
Larutan adalah sediaan cair menggandung satu atau lebih zat kimia yang dapat
larut, biasa dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau
penggunaannya, tidak dimasukkan ke dalam golongan produk lainnya. Larutan oral
dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini
zat obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Obat itu diberikan dalam
bentuk larutan, biasanya berarti bahwa absorbsinya dalam sistem salura cerna
kedalam serkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat daripada dalam
bentuk sediaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama (Howard ansel, 1989).
Selain itu larutan juga memiliki keuntungan yaitu absorbsinya tidak terhambat
meskipun larutan berada dalam usus dan lebih mudah diberikan pengaroma, pemanis
dan pewarna (Hj. Aisyah fatmawaty, dkk). Pembuatan larutan juga baik digunakan
untuk mempermudah anak-anak dalam menelan obat serta karena molekul-molekul
larutan terdispensi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan,
umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memilki ketelitian yang baik
jika larutan diencerkan atau dicampur (FI edisi IV, 1995).
3. Study preformulasi zat tambahan
a. Sukrosa
Tujuan penggunaan : corigen saporis dan (pemanis) dan pengental
Konsentrasi :
Mekanisme kerja : menghasilkan efek yang benar-benar menutupi
rasa zat obat yang ditambahkan serta sirup manis
yang kental mempunyai efek menyejukkan pada
jaringa tenggorokan yang terganggu begitu obat
melalui tenggorokkan
Kelebihan penggunaan : kebanyakan sirup mengandung sukrosa karena
rasa manis dan kekentalan yang diinginkan dan
juga karena sifat staabilitasnya yang berbeda
dengan sifat pelarutan encer dari sukrosa yang
tidak stabil. Dan juga penambahan sukrosa tidak
memerlukan penambahan zat pengawet karena
sirup bersifat stabil dan resisten terhadap
pertumbuhan mikroorganisme.
Kekurangan penggunaan : biasanya terjadi mikroorganisme karena ada
kelebihan air
b. Metyl paraben
Tujuan penggunaan : preserfative (pengawet)
Konsentrasi : 0,1-0,2%
Mekanisme kerja :
Kelebihan penggunaan : metyl paraben digunakan sebagai bahan pengawet
dan formulasi farmasetik contohnya sirup, karena
dalam sediaan sirup bahan pembawanya adalah
aquadest. Air merupakan media pertumbuahn bakteri
yang baik sekali. Jumlah pengawet yang dibutuhkan
untuk menjaga sirup terhadap pertumbuhan mikroba
berbeda-beda sesuai dengan banyaknya air yang
tersedia untuk pertumbuhan. Diantara pengawet-
pengawet yang umum digunakan sebagai pengawet
sirup adalah metyl paraben.
Kekurangan penggunaan :

c. Sorbitol
Tujuan penggunaan : Anti cap-locking
Konsentrasi :
Mekanisme kerja :
Kelebihan penggunaan :
Kekurangan penggunaan :
d. Tatrazine
Tujuan penggunaan : corrigen colorise (pewarna)
Konsentrasi : 0,005-0,001%
Mekanisme kerja :
Kelebihan penggunaan : ditambahkannya zat pewarna untuk menambah
nilai estetika, sebagai pembantu sensori untuk
pemberi rasa yang digunakan dan untuk tujuan
kekhasan produk. Diguakannya tatrazine sebagai zat
pewarna karena tatrazine memnuhi pertimbangan
dalam memikat warna dalam sediaan farmasi yaitu
dapat larut dalam air.
Kekurangan penggunaan :
e. Oleum citrus
Tujuan penggunaan : corrigen odoris (pengaroma)
Konsentrasi : 0,025-0,5%
Mekanisme kerja :
Kelebihan penggunaan : digunakannya bahan zat pengaroma karena
sediaan ditujukan untuk anak kecil yang lebih suka
dengan aroma obat yang sedap. Pengaroma yang
digunakan adalah oleum citri disesuaikan dengan
warna obat yang identik denga warna jeruk
Kekurangan penggunaan :

f. Aquadest
Tujuan penggunaan : pelarut
Konsentrasi : ad 60 ml
Kelebihan penggunaan : dilihat dari kelarutan zat aktif obat semuanya larut
dalam airsehingga pelarut yang digunakan sebagian
besar adalah air dala ahl ini yaitu air suling yang
telah diproses melalui penyulingan sehingga telah
memenuhi persyaratan pelarut dalam pembuatan
formulasi.

5. Perhitungan dosis
1. Pseudoefedrin Hcl : 30 mg x 60 ml = 1,800 mg
2. CTM : 2 mg x 60 ml = 120 mg
3. Dextro : 15 mg x 60 ml = 900 mg
4. Paracetamol : 150 mg x 60 ml = 9000 mg
0,005
5. Tatrazine : x 60 ml = 0,003 ml
100
60
6. Sukrosa : 100 x 60 ml = 36 ml
0,025
7. Ol. Citrus : x 60 ml = 0,015 ml
100

8. Sorbitol :
9. Aquades : ad 60 ml
6. Cara kerja
Disiapkan alat dan bahan
Ditimbang CTM 120 mg, Dextro 900 mg, Pseudoefedrin HCl 1800 mg,
Paracetamol 9000 mg, Tatrazine 0,003 ml, Ol.citrus 0,015 ml, Sukrosa 36 ml,
dan sorbitol
Dilarutkan masing-masing zat aktif obat dengan menggunakan aquadest
secukupnya.
Dimasukkan larutan zat aktif obat kedalam botol, kemudian ditambah
tatrazine, sukrosa, dan sorbitol sampai homogeny.
Ditambahkan ol.citrus dan aquadest ad 60 ml.
Dimasukkan kedalam wadah dan beri etiket.

D. Uraian Bahan

1. Paracetamol (RPS 18th : 1055, FI IV : 649, FI III : 37)

Nama Resmi : Paracetamolum, Acetaminophenum

Nama Lain : Paracetamol, asetaminofen, 4-hidroksi asetanilida

RM/BM : C8H9NO2/151,6

Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit

Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) dalam 13
bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian
propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida.

Stabilitas : Asetaminofen sangat stabil dalam larutan berair, profil laju


kecepatan pH memperlihatkan katalitis asam dan basa dengan
stabilitas maksimum dengan range pH samapai 7.

Kegunaan : Merupakan metabolit fenasetin dan asetanilid. Digunakan sebagai


analgetik dan antipiretik. Efektif secara luas terhadap kondisi
rematik dan artritis termasuk rasa sakit pada otot skelet seperti sakit
kepala, dysmonerhea dan neuralgia. (RPS 18th; 1055)

Dosis : DL = 500 mg / 500 mg - 2000 mg

Khasiat : Analgetik antipiretik

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

2. Dextrometorfan HBr (FI III : 206)

Nama resmi : Dextrometorphani hydrobromidum

Sinonim : Dekstrometorfan hidrobromida

RM / BM : C18H25NO.HBr.H2O / 370,33

Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.

Kelarutan : Larut dalam 60 bagian air dan dalam 10 bagian etanol (95%) P;
mudah larut dalam kloroform P disertai pemisahan air; praktis
tidak larut dalam eter P.

Stabilitas : Mengalami dekomposisi pada melting pointnya adalah 125o C.

Dosis : DL = - / 15 30 mg

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Khasiat : Antitusivum

3. Pseudoefedrin HCL ( FI IV : 718)

Nama resmi : Pseudoephedrini Hydrochloridum

Sinonim : Pseudoefedrin Hidroklorida

RM / BM : C10H15NO.HCl / 201,70

Pemerian : Hablur putih atau serbuk putih, serbuk halus putih atau hampir

putih ; bau khas lemah.


Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air ; mudah larut dalam etanol ; agak

sukar larut dalam kloroform.

Penyimpanan : wadah dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat, tidak temus

cahaya.

Dosis : DL =

DM =

Khasiat : Dekongestan

4. Klorfeniramin Maleat (FI III : 153)


Nama resmi : Chlorpheniramini maleas

Sinonim : Klorfeniramin maleat, CTM

RM / BM : C16H19ClN2.C4H4O4 / 390,87

Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit.

Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol (95%) P dan
dalam 10 bagian kloroform P; sukar larut dalam eter.

Dosis : DL = 2 4 mg / 6 16 mg

DM = - / 40 mg

Incomp : Bebas larut dalam air dan alkohol, larutannya bersifat asam dan
mempunyai seluruh incompabilitas dari bahan-bahan tersebut (RPS
18th; 1125).

Stabilitas : Stabil dalam kelarutannya dengan air dan alcohol

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

Khasiat : Antihistaminikum
5. Tartrazine
Nama resmi : Tartrazine

Nama lain : Tartrazin

Pemerian : Serbuk berwarna kuning atau orange.

Kelarutan : Larut dalam 38 g/L pada suhu 2o, 200 g/L pada suhu 25odan 60o,
larut dalam etanol 75 % pada suhu 25o, dalam propilen glikol 100
% 75 g/L pada suhu 25o, dalam propilen glikol 50 % 200 g/L pada
suhu 25o.

Stabilitas : Tidak stabil pada suhu 105o.

Incomp : Dengan asam askorbat, laktosa, glukosa 10 % dan larutan jenuh


encer sodium bikarbonat.

Konsentrasi : 0,0005 % - 0,001 %

Kegunaan : Sebagai pewarna

6. Sukrosa ( FI IV : 762)

Nama Resmi : Sucrosum

Nama lain : Sakarosa

RM / BM : C12H22O11 / 342,30

Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna; massa hablur atau berbentuk

kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis, stabil di

udara. Larutannya netral terhadap lakmus.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; lebih mudah larut dalam air

mendidih; sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform

dan dalam eter.

Kegunaan : Pemanis
Dosis :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

7. Sorbitol ( FI IV : 756)

Nama Resmi : Sorbitolum

Nama lain : Sorbitol

RM / BM : C6H14O6

Pemerian : Serbuk, granul atau lempengan; higroskopis; warna putih; rasa

manis.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air; sukar larut dalam etanol, dalam

methanol dan dalam asetat.

Dosis :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Pengawet

8. Oleum Citrus (FI III : 455)

Nama Resmi : Oleum Citri

Nama lain : Minyak Jeruk

Pemerian : Cairan, Kuning pucat atau kuning kehijauan, bau khas; rasa

pedas dan agak pahit.

Kelarutan : Larut dalam 12 bagian volume etanol (90%) P, larutan agak

beropalesensi; dapat bercampur dengan etanol mutlak P.

Penyimpanan : Dalam wadah terisi penuh dan tertutup rapat, terlindung dari

cahaya; di tempat sejuk.

Khasiat : Sebagai pengaroma


9. Aquadest (FI III : 96)

Nama resmi : Aqua destillata


Sinonim : Aquadest
RM / BM : H2O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai
rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Pelarut