Anda di halaman 1dari 10

A.

PENGERTIAN , TUJUAN ,DAN AGENDA REFORMASI


a. Pengertian Reformasi
Pengertian reformasi adalah:
Perubahan radikal untuk perbaikan dalam suatu masyarakat atau Negara(Adam
NOrmiet).
Perubahan untuk perbaikan bidang social, politik, atau agama(kamus Besar Bahasa
Indonesia).
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian reformasi adalah suatu gerakan untuk
mengadakan pembaharuan dan perubahan terutama dalam bidang politik, social,
ekonomi dan hokum menuju perbaikan.
b. Tujuan Reformasi
Tujuan reformasi yaitu memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan
bernegara, sesuai dengan nilai nilai Pancasila dan UUD 1945 baik dalam bidang
politik,ekonomi,social dan hukum.
c. Agenda Pokok Reformasi
Mahasiswa yang menjadi pelopor gerakan reformasi mengeluarkan agenda pokok
reformasi sebagai berikut :
1. Adili Soeharto dan kroninya
2. Amandemen UUD 1945
3. Supremasi Hukum
4. Otonomi Daerah yang seluas luasnya
5. Penghapusan Dwi Fungsi ABRI
6. Pemerintahan yang bersih dari KKN.

B. BERAKHIRNYA PEMERINTAH ORDE BARU


Keberhasilan Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan ekonomi,
harus diakui sebagai suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Di tambah dengan
meningkatnya sarana dan prasarana fisik infrastruktur yang dapat dinikmati oleh sebagian
besar masyarakat Indonesia.
Namun, keberhasilan ekonomi maupun infrastruktur Orde Baru kurang diimbangi
dengan pembangunan mental ( character building ) para pelaksana pemerintahan (birokrat),
aparat keamanan maupun pelaku ekonomi (pengusaha / konglomerat). Klimaksnya, pada
pertengahan tahun 1997, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi
budaya.

a. Faktor Penyebab Munculnya Reformasi


Banyak hal yang mendorong timbulnya reformasi pada masa pemerintahan
Orde Baru, terutama terletak pada ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan hukum.
Tekad Orde Baru pada awal kemunculannya pada tahun 1966 adalah akan
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam tatanan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Setelah Orde Baru memegang tumpuk kekuasaan dalam mengendalikan
pemerintahan, muncul suatu keinginan untuk terus menerus mempertahankan
kekuasaannya atau status quo. Hal ini menimbulkan akses-akses nagatif, yaitu semakin
jauh dari tekad awal Orde Baru tersebut. Akhirnya penyelewengan dan penyimpangan
dari nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada UUD 1945,
banyak dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.
b. Krisis Politik
Demokrasi yang tidak dilaksanakan dengan semestinya akan menimbulkan
permasalahan politik. Ada kesan kedaulatan rakyat berada di tangan sekelompok
tertentu, bahkan lebih banyak di pegang oleh para penguasa. Dalam UUD 1945 Pasal 2
telah disebutkan bahwa Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan
sepenuhnya oleh MPR. Pada dasarnya secara de jore (secara hukum) kedaulatan rakyat
tersebut dilakukan oleh MPR sebagai wakil-wakil dari rakyat, tetapi secara de facto
(dalam kenyataannya) anggota MPR sudah diatur dan direkayasa, sehingga sebagian
besar anggota MPR itu diangkat berdasarkan ikatan kekeluargaan (nepotisme).
Keadaan seperti ini mengakibatkan munculnya rasa tidak percaya kepada
institusi pemerintah, DPR, dan MPR. Ketidak percayaan itulah yang menimbulkan
munculnya gerakan reformasi. Gerakan reformasi menuntut untuk dilakukan reformasi
total di segala bidang, termasuk keanggotaan DPR dam MPR yang dipandang sarat
dengan nuansa KKN.

c. Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997 merupakan efek domino
dari krisis ekonomi asia yang melanda berbagai Negara, seperti Thailand, Filipina, dan
Malaysia. Disebabkan oleh adanya kondisi ekonomi yang lemah, Indonesia mengalami
berbagai kesulitan dalam menata ulang kembali perekonomiannya untuk keluar dari
krisis.

Perkembangan ekonomi Indonesia telah mengalami stagnansi sejak tahun


1990an. Saat itu, neoliberalisme menjadi norma pengaturan ekonomi dan politik dunia.
Barang barang produksi Indonesia menjadi tidak berdaya saing apabila dibandingkan
dengan barang barang luar negeri secara bebas memasuki pasaran Indonesia.

Dengan merujuk pada batasaan tingkat keberhasilan ekonomi suatu bangsa


yang dikeluarkan oleh World Bank, maka dapat disimpulkan bahwa perekonomian
Indonesia tahun 1997 / 1998 tengah mengalami kehancuran.

d. Krisis Sosial
Pada masa akhir pemerintahan Orde Baru, Indonesia mengalami gejolak
politik yang tinggi, baik ditataran pemerintahan maupun di tingkat pergerakan rakyat
dan mahasiswa. Suhu politik di tataran elit yang makin memanas menimbulkan berbagai
potensi perpeahan social di masyarakat.
Sementara itu, krisis social horizontal di Indonesia juga mengalami titik
puncak. Kondisi kehidupan masyarakatbah dengan angka yang sangat sulit, ditambah
dengan angka pengangguran menyebabkan berbagai benturan sosial. Kerusuhan
sistematis yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia pada 13 14 Mei 1998 menjadi
bukti dari adanya perggeseran social antar masyarakat.
Munculnya berbagai kerusahan social horizontal ini merupakan implikasi dari
kebijakan ekonomi sentralistik yang menimbulkan jurang pemisah kesejahteraan yang
begitu tinggi antara pusat dan daerah. Pola tranmigrasi yang diterapkan oleh pemerintah
tidak diiringi dengan penanganan solidaritas sosial di daerah tujuan. Pada akhirnya,
kecemburuan sosial akibatnya disparitas tingkat perekonomian tersebut tidak dapat
dihindarkan. Kondisi inilah yang kemudian memicu tuntutan kepada pemerintah pusat
untuk mereformasi pola pembangunan ekonomi. Tuntutan inilah yang memunculkan
kesdaran masyarakat Indonesia akan pentingnya reformasi bagi kehidupan bangsa.

e. KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT DI BERBAGAI


DAERAH SEJAK REFORMASI
a. Kondisi Sosial Masyarakat
Sejak krisis moneter tahun 1997 perusahaan swasta mengalami kerugian dan
kesulitan dalam membayar gaji karyawan. Sementara itu harga sembako semakin tinggi
sehingga banyak karyawan yang menuntut kenaikan gaji pada perusahaan yang pada
akhirnya berimabas pada memPHKkan karyawannya.Karyawan yang di PHK itu
menambah jumlah pengangguran sehingga jumlah pengangguran mencapai 40 juta
orang. Dampaknya adalah maraknya tindakan kriminalitas yang terjadi dalam
masyarakat.Oleh karena itu pemerintah harus membuka lapangan kerja baru yang dapat
menampung para penganggur tersebut. Dan juga menarik kembali para investor untuk
menanamkan modalnya ke Indonesia sehingga dapat membuka lapangan kerja.

b. Kondisi Ekonomi

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyat, pemerintah


melihat 5 sektor kebijakan yang harus digarap yaitu :

1. Perluasan lapangan kerja secara terus menerus melalui investasi dalam dan luar negeri
seefisien mungkin

2. Penyediaan barang kebutuhan pokok sehari-hari untuk memenuhi permintaan pada


harga yang terjangkau

3. Penyediaan fasilitas umum seperti : rumah, air minum, listrik, bahan bakar,
komunikasi, angkutan, dengan harga yang terjangkau
4. Penyediaan ruang sekolah, guru dan buku-buku untuk pendidikan umum dengan
harga terjangkau

5. Penyediaan klinik, dokter dan obat-obatan untuk kesehatan umum dengan harga yang
terjangkau pula.
C. PERKEMBANGAN POLITIK SETELAH 21 MEI 1998
a. Agenda kepemimpinan B.J. Habibie
Turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan pada 21 Mei 1998
menjadi awal berlakunya era reformasi di Indonesia. Naiknya Baharuddin Jusuf
Habiibie ke kursi kepresidenan menggantikan Soeharto merupakan momentum awal
dari adanya perkembangan politik, ekonomi, dan social pasca-21Mei 1998. Dewan
warisan kondisi ekonomi, politik dan sosial yang carut-marut, Habibie dihadapkan
pada tuntutan untuk menciptakan Indonesia baru yang bebas dari KKN dan
merealisasikan semangat reformasi.

M.C Ricklefs (seorang sejarawan Australia)melihat bahwa terdapat lima


bidang yang menjadi konsiderasi utama pemerintahan Presiden Habibie, yakni di masa
depan reformasi, masa depan ABRI, masa depan daerah-daerah yang ingin melepaskan
diri dari Indonesia, masa depan Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya, dan
masa depan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Di sisi lain, sebagian kalangan ahli hukum dan mahasiswa melihat bahwa
pengangkatan BJ.Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia tidak konstitutional.
Hal ini didasari oleh Pasal 9 UUD 1945yang berbunyi, Sebelum memangku
jabatannya , Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama, berjanji
dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan
Perwakilan Rakyat . Faktanya, peralihan kepemimmpinan dari Soeharto ke B.J.
Habibie pada 21 Mei 1998 tidak dilakukan didepan MPR/DPR, melainkan hanya di
depan ketua Mahkamah Agung, dan hanya bertempat di Istana Negara. Dampaknya,
hal ini memunculkan perpecahan presepsi di kalangan mahasiswa dan beberapa
kelompok masyarakat.
Selanjutnya, tanggal 22 Mei 1998 , presiden B.J. Habibie membentuk susunan
cabinet yang dinamakan Kabinet Reformasi Pembangunan. Fokus dari susunan cabinet
ini antara lain terletak pada pemulihan ekonomi Indonesia yang hancur akibat krisis
yang terjadi di Asia. Kabinet yang beranggotakan 16 Menteri ini, menfokuskan
pembenahan ekonomi dalam 5 bidang kerja utama, diantaranya sebagai berikut.

1. Melakukan proses rekapitulasi perbankan Indonesia.


2. Melaksanakan likuidasi bank bank yang bermasalah
3. Memperbaiki angka nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga mencapai angka
di bawah Rp. 10.000,00.
4. Membangun konstruksi perekonomian Indonesia
5. Melaksanakan syarat syarat reformasi ekonomi yang diberikan oleh IMF kepada
Indonesia.

Sekilas, tampaknya program -program pemulihan ekonomi ini bertujuan untuk


benar- benar mengembalikan kesejahteraan rakyat. Namun , sedikit yang mendasari
bahwa kebijakan kebijakan perekonomian hanyalah merupakan bagian dari
Structural Adjusment Program (Program Penyesuaian Struktural) yang dicanangkan
IMF bagio Indonesia . Pada akhirnya, keputusan reformasi ekonomi yang dihasilkan
pun tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Pemotongan
subsidi bagi usaha kecil dan pemberian subsidi kesejahteraan social yang sangat
dibutuhkan oleh masyarakat di saat krisis justru tidak diwujudkan.

b. Pemberian Amnesti dan Munculnya Kebebasan Berpendapat


Pemerintahan Presiden Habibie menfokuskan pada pengembalian kondisi social politik
masyarakat ke dalam kondisi normal, yaitu :

Pada masa pemertintahan Habibie, kebebasan pers dikembangkan kepada


tempatnya semula. Bahkan, tahanan-tahanan politik orde baru yang dicebloskan ke
penjara dengan tuduhan subversi pun diberikan amnesty dan di bebaskan
Presiden Habibie juga mengeluarkan sebuah kebijakan untuk membuat Tim
Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Tugas dari tim ini adalah mencari segala sesuatu
yang berhubungan dengan kerusuhan 13-14 mei 1998 du Jakarta. TGPF diketua
oleh Marzuki Darusman yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua KOMNAS
HAM
Agenda lain yang dicanangkan presiden habibie menyangkut kebebasan berkumpul
dan menyampaikan pendapat di muka umum

c. Permasalahan Dwi Fungsi ABRI


Posisi Militer pada masa reformasi tidak mendapat tempat yang cukup baik di
hati masyarakat sehingga menimbulkan peristiwa penembakan 4 mahasiswa trisakti
pada tanggal 12 mei 1998 menyulut sikap antipasti masyarakat akan eksistensi militer
kala itu dan tuntutan untuk mengahpus Dwi Fungsi ABRI pun menjadi isu utama
didalam agenda reformasi. Presiden Habibie menaggapi hal tersebut dengan
memisahkan kepolisian Republik Indonesia dari tubuh Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ABRI) pada tanggal 5 Mei 1999. Teknisnya adalah dengan menempatkan
Angkatan Darat, Angkatan Laut ,dan Angkatan Udara di bawah payung ABRI.

d. Reformasi Hukum dan Perundang-undangan


Di dalam sidang istimewa MPR tanggal 10 -13 November 1998 , terdapat
perombakan besar besaran terdapat system hukum dan perundang-undangan
Reformasi Hukum dan Perundang-undangan. Di dalam Sidang Istimewa MPR tanggal
10-13 November 1998, terdapat perombakan besar - besaran terhadap sistem hukum
dan perundang-undangan tersebut. Pembenahan sektor hukum dan perundang-
undangan ini kemudian membawa kehidupan sosial politik Indonesia menjadi lebih
terbuka. Adanya jaminan terhadap pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia
menjadi momentum awal bagi dibukanya kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia
yang belum tuntas hingga pada saat itu.

Bagian ketetapan yang terdiri dari enam ketetapan MPR baru, antara lainnya
sebagai berikut.
1. Tap. MPR No. X/MPR/1998, yang berisi mengenai pokok-pokok pelaksanaan
reformasi pembangaunan Indonesia, sebagai kerangka dasar untuk
penyelamatan dan normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan negara
Indonesia.
2. Tap. MPR No. XI/MPR/1998, yang ini berisi mengenai peaksananan dan
penyelenggaraan Negara yang bersih dari unsur Korupsi,Kolusi, dan
Nepotisme (KKN).
3. Tap. MPR No. XII/MPR/1998 , yang berisi mengenai pembatasan masa tugas
presiden dan wakil presiden republik Indonesia.
4. Tap.MPR No. XV/MPR/1998, yang berisi tentang proses penyelenggaraan
Otonomi Daerah.
5. Tap. MPR No.XVI/MPR/1998, yangt berisi tentang kehidupan politik ekonomi
bangsa dalam rangka melanggengkan konsep demokrasi ekonomi.
6. Tap. MPR/ No. XVII/MPR/1998, yang berisi mengenai penegakan Hak Asasi
Manusia (HAM).
Bagian ketetapan yang terdiri dari dua ketetapam yang mengubah dan menambah
ketetapan yang lama.
1. Tap. MPR No. VII/MPR/1998, yang berisi mengenai perubahan dan
penambahan terhadap Tap. MPR No.I/MPR/1983 yang membahas menegenai
peraturan tata-tertib majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
2. Tap MPR No. XIV/MPR/1998. ketetapan ini mengubah dan menambah Tap.
MPR No. III/MPR/1998 yang membahas mengenai pelaksanan Pemilihan
umum.
Bagian yang berisi empat ketetapan yang bersifat mencabut ketetapan MPR
terdahulu, adalah sebagai berikut.
1. Tap MPR No. III/V/MPR/1998. ketetapan ini berkaitan dan menyangkut Tap
MPR No.IV/MPR/1983 yang membahas mengenai referendum.
2. Tap. No. IX/MPR/1998.ketetapan ini mencabut Tap. MPR No.II/MPR/1998
yang memnahas mengenai Garis-Gasis Haluan Negara(GBHN).
3. Tap. MPR No,. XII/MPR/1998. ketetapan ini mencabut Tap MPR. No.
V/MPR/1998 yang memebahas mengenai pemberian tugas serta wewenag
khusus presiden selaku Mandataris MPR untuk menyukseskan dan
mengamankan pembangunan sebagai wujud pengalaman Pancasila.
4. Tap. MPR No. XVIII/MPR/1998. ketetapan ini mencabut Tap. MPR No.
11/MPR/1978 yang berisi tentang Pendoman Penghayatan dan pengalaman
Pancasila (P4 atau Ekaprasetia Pancakarsa). Selain itu, ketetapan ini juga
menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
a. Pemilihan Umum 1999
Proses pemilu sangat didominasi oleh kemenangan Golkar. Pemerintah
presiden BJ. Habibie yang menjabat pada era reformasi berhasil menorehkan satu
sejarah besar , yaitu menyelenggarkan pemilu yang menyertakan hampir seluruh
ideology bangsa . Sejumlah 48 partai politik berpartisipasi di dalam perhelatan akbar
ini.
Presiden Habibie memangkas Undang Undang yang membicarakan tentang
pemilu , susunan, kedudukan, tugas, serta wewenang dari MPR/ DPR. Sebagai
gantinya, ditetapkanlah 3 Undang Undang politik baru yang ditandatangani pada 1
Februari 1999. Isinya menyangkut Undang Undang mengenai partai politik, proses
pemilihan umum ,serta susunan dan kedudukan , MPR,DPR dan DPRD. Setelah itu
presiden membentuk KPU.

Berdasarkan Undang Undang yang telah disahkan tersebut ,hanya 48 partai


politik yang lolos untuk melaju di putaran Pemilu . Panitia yang bertugas untuk
menyaring partai partai politik itu dinamakan Panitia 11.

Dalam Sidang Istimewa MPR yang digelar pada bulan November 1998, MPR
telah merombak berbagai kebijakan Negara menyangkut berbagai hal di dalam
kehidupan social kemasyarakatan ,termasuk pemilu.

Pemilu tingkat nasional diadakan pada 7 Juni 1999. Dari 48 parpol pada Pemilu
1999,terdapat 5 partai besar yang menempati urutan tertinggi yaitu PDI-P, Golkar,
PKB, PPP, dan PAN. Kesuksesan pelaksanaan Pemilu 1999 darpat dilihat dari
peringkat sepuluh besar partai partai politik yaitu sebagai berikut:

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)


2. Golongan Karya (Golkar)
3. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
4. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
5. Partai Amanat Nasional (PAN )
6. Partai Bulan Bintang (PBB)
7. Partai Keadilan(PK)
8. Partai Keadilan dan Persatuan(PKP)