Anda di halaman 1dari 48

Laporan Praktikum Kebidanan Komunitas

ASUHAN KEBIDANAN PADA KELUARGA Tn.T dan Ny.N


Disusun guna memenuhi sebagian tugas kelompok
Mata Kuliah Kebidanan Komunitas
Dosen Pembimbing: Atik Ismiyati, M.Keb

Oleh:
Kelompok 1 kelas 4D
1. Aldica Putri (150002)
2. Baiq Melis Intan Manora (150005)
3. Dalila Eka Surma (150007)
4. Deka Vira Winartie (150008)
5. Desi Hariyati (150010)
6. Putri Alifia Akhmad (150029)
7. Sundari (150035)
8. Umi Oktavia (150037)
9. Berlian Adistya Nugraheni (150044)
10. Febrya Valentine Pratama (150052)
11. Galih Aktia Oktaviani (150054)
12. Ike Anisa (150057)
13. Lika Shofatul Khusna (150059)

AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
2017

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Kebidanan Komunitas


ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS KELUARGA
Disusun guna memenuhi sebagian tugas kelompok
Mata Kuliah Kebidanan Komunitas
Dosen Pembimbing: Atik Ismiyati, M.Keb

Telah diseminarkan di depan penguji dan telah disahkan pada:


Tanggal : 14 September 2017
Oleh:
Kelompok 1 kelas 4D
1. Aldica Putri (150002)
2. Baiq Melis Intan Manora (150005)
3. Dalila Eka Surma (150007)
4. Deka Vira Winartie (150008)
5. Desi Hariyati (150010)
6. Putri Alifia Akhmad (150029)
7. Sundari (150035)
8. Umi Oktavia (150037)
9. Berlian Adistya Nugraheni (150044)
10. Febrya Valentine Pratama (150052)
11. Galih Aktia Oktaviani (150054)
12. Ike Anisa (150057)
13. Lika Shofatul Khusna (150059)

Mengetahui
Pembimbing

Atik Ismiyati, M.Keb

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, taufik
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan

iii
Kebidanan Pada Keluarga Tn.T dan Ny.N. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Kebidanan Komunitas Akademi Kebidanan Yogyakarta.
Penyusun menyadari terwujudnya makalah ini tidak akan terlaksana tanpa
bantuan dan pengarahan dari semua pihak yang telah membimbing. Oleh karena
itu dalam kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Istri Bartini, S.SiT., MPH.selaku Direktur Akademi Kebidanan Yogyakarta.
2. Atik Ismiyati, M.Keb selaku pembimbing dan pengampu Mata Kuliah
Kebidanan Komunitas.
3. Rekan-rekan mahasiswa Akademi Kebidanan Yogyakarta.
Dengan segala kerendahan hati, penyusun mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk mengevaluasi makalah ini sehingga kedepannya
akan menjadi lebih baik. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi semua pembaca.

Yogyakarta, September 2017

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................iii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iv
DAFTAR ISI............................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan...........................................................................................................2
C. Manfaat.........................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................4
A. Pengertian Keluarga......................................................................................4
B. Pengertian Keluarga Berencana....................................................................4
C. Tujuan Program Keluarga Berencana...........................................................5
D. Jenis Metode Kontrasepsi.............................................................................5
BAB III HASIL PENGKAJIAN............................................................................37
BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................43
BAB V PENUTUP.................................................................................................46
A. Kesimpulan.................................................................................................46
B. Saran............................................................................................................46
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................vi
LAMPIRAN

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup
dalam satu rumah tangga. Sedangkan menurut Walsh (2008), asuhan
kebidanan adalah pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh
bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktekanya berdasarkan
ilmu dan kiat kebidanan, mulai dari tahap indentifikasi, tahap perencanaan,
tahap pelaksanaan dan tahap penilaian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
asuhan kebidanan keluarga merupakan serangkaian kegiatan yang merupakan
implementasi dari ilmu kebidanan yang diberikan melalui praktik kebidanan
dengan sasaran keluarga dan ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan
yang dialami keluarga dengan pendekatan asuhan kebidanan yang bertujuan
untuk menigkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga dalam
meningkatkan, mencegah, dan memelihara kesehatan mereka sehingga status
kesehatannya semakin meningkat serta mampu melaksanakan tugas-tugas
mereka secara produktif (Friedman, 2010).
Kelompok telah melakukan tahap identifikasi kepada 2 keluarga yaitu
keluarga Tn.T dan Ny.N yang memiliki balita usia 7 bulan dengan masalah
kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang balita, alat kontrasepsi
dan MPASI, sedangkan masalah pada keluaraga kedua yakni Tn.C dan Ny.R
yang sedang mengandung anak pertama dengan usia kehamilan 33 minggu
yaitu kurangnya informasi mengenai cara perawatan payudara dan informasi
mengenai pentingnya melakukan tes HIV pada saat kehamilan. Berdasarkan
hasil pengkajian kami mendapatkan hasil skoring yang menunjukan bahwa
prioritas masalah dari pengkajian kedua keluarga ini ialah keluarga Tn.T
membutuhkan informasi mengenai alat kontrasepsi. Oleh karena itu kelompok
kami tertarik untuk memberikan konseling pada ibu tentang alat kontrasepsi

1
yang bertujuan untuk mengatur kehamilan dan kelahiran anak melalui promosi
dan edukasi guna mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Di Indonesia sendiri masalah pertumbuhan penduduk yang masih
tinggi.Semakin tingginya pertumbuhan penduduk maka semakin besar usaha
yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Ancaman
terjadinya ledakan penduduk di Indonesia semakin nyata, Indonesia sendiri
merupakan negara dengan jumlah penduduknya terbesar ke empat didunia
dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi (WHO,2015). Berdasarkan
data jumlah penduduk Indonesia dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun saja
jumlah penduduk Indonesia naik dari hasil estimasi jumlah penduduk pada
tahun 2015 sebesar 255.461.686 jiwa, menjadi 257.912.349 jiwa per 30 Juni
2016 (Pusat Badan Statistik,2016). Oleh sebab itulah emerintah terus berupaya
untuk menekan laju pertumbuhan dengan program Keluarga Berencana (KB).
Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan
nasional dan bertujuan untuk ikut serta menciptakan kesejahteraan penduduk
Indonesia, untuk mencapai keseimbangan yang baik. Tugas program Keluarga
Berencana (KB) dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan angka kelahiran
agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan
dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan pada kepada keluarga Tn.T
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada keluarga
b. Melakukan pendekatan kepada keluarga
c. Menentukan prioritas masalah
d. Membuat plan of action
e. Melaksanakan kunjungan rumah
f. Melaksanakan konseling kesehatan sesuai dengan permasalahan.

C. Manfaat
1. Bagi Insitusi

2
Makalah ini dapat dijadikan bahan pustaka untuk menambah wawasan dan
pengetahuan yang berkaitan dengan pengetahuan serta informasi mengenai
alat kontrasepsi
2. Bagi Mahasiswa
Menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman dalam
menerapkan ilmu kebidanan khususnya tentang informasi mengenai alat
kontrasepsi.
3. Bagi Keluarga
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang alat kontrasepsi

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Keluarga
Menurut Mattessich dan Hill (Zeitlin 1995) dalam Puspitawati 2013, keluarga
merupakan suatu kelompok yang berhubungan kekerabatan, tempat tinggal, atau
hubungan emosional yang sangat dekat yang memperlihatkan empat hal (yaitu
interdepensi intim, memelihara batas-batas yang terseleksi, mampu untuk
beradaptasi dengan perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu, dan
melakukan tugas-tugas keluarga).
Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan
dan minum, dan sebagainya. Adapun tujuan membentuk keluarga adalah untuk
mewujudkan kesejahteraan bagi anggota keluarganya. Keluarga yang sejahtera
diartikan sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang layak, bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan
seimbang antar anggota keluarga, dan antar keluarga dengan masyarakat dan
lingkungannya (Landis 1989; BKKBN 1992).

B. Pengertian Keluarga Berencana


Menurut WHO (Expert Committee, 1970) dalam Martini (2011) KB adalah
tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan
objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara
kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan usia suami
istri, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga Berencana menurut Undang Undang No 52 tahun 2009 tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga adalah upaya mengatur
kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui
promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) merupakan suatu
usaha untuk menjarangkan kontrasepsi atau merencanakan jumlah dan jarak
kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Martini, 2011).

4
C. Tujuan Program Keluarga Berencana
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan
sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar
diperoleh suatu keluarga bahagia, sejahtera, yang dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya (Sulistyawati, 2014).
Tujuan utama pelaksanaan keluarga berencana adalah untuk meningkatkan
derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga serta masyarakat pada
umumnya. Dengan berhasilnya pelaksanan keluarga berencana diharapkan angka
kelahiran dapat diturunkan, sehingga tingkat kecepatan perkembangan penduduk
tidak melebihi kemampuan kenaikan produksi, dengan demikian taraf kehidupan
dan kesejahteraan rakyat diharapkan akan lebih meningkat (Faqih, 2011).

D. Jenis Metode Kontrasepsi


1. Metode Kontrasepsi Alamiah
KB alamiah atau rhythm method, safe periode, fertility awareness
adalah metode kontrasepsi yang tidak membutuhkan alat ataupun bahan kimia
(yang menjadi ciri khas metode perintang) juga tidak memerlukan obat-obatan
(metode hormonal). Keluarga Berencana Alamiah (KBA) disebut juga sebagai
pantang berkala didefinisikan oleh WHO sebagai metode untuk merencanakan
dan mencegah kehamilan melalui pengamatan tanda dan gejala alamiah yang
timbul pada fase fertil dan infertile dari siklus menstruasi, dengan
menghindari senggama selama fase fertile bila kehamilan hendak dihindari.
(Martini, 2011)
Bila digunakan secara sempurna keefektifan metode KBA dapat mencapai
95-98%. Hanya sedikit pasangan yang mampu untuk menggunakan metode
ini, karena efektifitasnya lebih rendah. Tergantung dari seberapa baik
pasangan mematuhi aturan-aturannya, keefektifan yang dilaporkan sebagian
besar peneliti mengenai metode KBA sebesar 75-90%.

Keuntungan Kerugian

1. Aman dan murah/tanpa biaya 1. Kurang begitu efektif dibandingkan


2. Dapat diterima oleh banyak metode kontrasepsi lain
golongan agama 2. Perlu instruksi dan konseling oleh
3. Sangat berguna baik untuk petugas terlatih mengenai konsep
merencanakan maupun KBA sebelum memakai metode ini

5
menghindari terjadinya 3. Memerlukan catatan siklus haid yang
kehamilan cukup
4. Tanggung jawab berdua 4. Dapat menghambat spontanitas
sehingga menambah seksual
komunikasi dan kerjasama 5. Diperlukan kerjasama dan komitmen
kedua pasangan
6. Kadang klien sulit mendeteksi kapan
mereka dapat hamil karena adanya
infeksi vagina, amenore karena
laktasi
7. Diperlukan catatan harian yang
berisi tanda-tanda kesuburan,
khususnya selama beberapa siklus
pertama

Indikasi Keluarga Berencana Alamiah


Wanita yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk
mengamati, mencatat dan menyimpulkan tanda- tanda
kesuburan
Wanita yang memiliki siklus menstruasi yang cukup teratur.
Walaupun metode KBA modern juga dapat digunakan oleh
wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur, wanita
dengan siklus menstruasi tidak teratur mungkin terasa sulit
untuk mempelajari dan menggunakan metode ini dengan tepat.
Pasangan yang ingin mencegah kehamilan tanpa menggunakan
alat kontrasepsi mekanis ataupun farmakologis.
Seorang wanita dengan agama atau kepercayaan yang tidak
mengijinkan untuk memakai metode kontrasepsi lain.
Kontraindikasi Keluarga Berencana Alamiah
Pasangan yang mengalami kesulitan untuk mengamati,
mencatat, atau menyimpulkan tanda- tanda kesuburan.
Wanita dengan menstruasi yang tidak teratur atau siklus yang
sangat pendek atau panjang.
Pasangan yang sangat sulit untuk tidak bersenggama selama
masa subur.
Pasangan yang tidak sanggup untuk mrngomunikasikan
mengenai masalah seksual mereka.

a. Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat atau obat


1) Metode Kalender
Metode kalender menggunakaan prinsip pantang berkala,
yaitu dengan tidak melakukan persetubuhan pada masa

6
subur istri. Untuk menentukan masa subur istri dignakan
tiga patokan, (1) ovulasi terjadi 142 hri sebelum haid
yang akan datang, (2) sperma dapat hidup dan membuahi
selama 48 jam setelah ejakusi, dan (3) ovum dapat hidup 24
jam setelah ovulasi. Jadi apabila konsepsi ingin dicegah,
koitus harud dihindari sekurang kurangnya selama tiga
hari (72 jam), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam
sesudah ovulasi.
Tampaknya cara ini mudah dilaksanakan, tetapi dalam
praktiknya sukar untuk menentukan saat ovulasi dengan
tepat, karena hanya sedikit wanita mempunyai daur haid
teratur, dan juga dapat terjadi variasi terutama
pascapersalinan dan pada tahun tahun menjelang
menopause.

2) Metode Lendir Serviks/Methode ovulasi billings (MOB)


KB menggunakan metodeovulasi billings adalah suatu
upaya merencanakan keluarga dalam menentukan ingin
hamil atau ingin tidak hamil melalui pengamatan lendir
serviks. (Martini, 2011)
Validasi metode ini dilakukan dengan menghubungkan
pengawasan terhadap perubahan lender serviks wanita
yang dapat dideteksi di vulva dan peningkatan jumlah
estrogen pada fase folikuler siklus menstruasi. Pada saat
seorang wanita merasakan sensasi pada vulva dan
keberadaan lender sepanjang hari ketika ia melakukan
aktivitas hariannya, catat hasil pengamatannya.
(Sulistyawati, 2014)

3) Metode Suhu Basal


Suhu basal adalah suhu tubuh sebelum ada aktifitas
apapun, biasanya diambil pada saat bangun tidur dan belum
meninggalkan tempat tidur. Suhu basal tubuh akan
meningkat setelah ovulasi sampai sehari sebelum
menstruasi berikutnya. Untuk mengetahui suhu tubuh

7
benar-benar naik, maka harus selalu diukur dengan
termometer yang sama dan tempat yang sama setiap pagi
dan dicatat pada tabel atu grafik.
Syaratnya tidur malam paling sedikit 5 sampai 6 jam.
Jika 6 hari berturut-turut suhu rendah (36,4 oC-36,7oC),
kemudian 3 hari berturut-turut suhu lebih tinggi (36,9oC-
37,5oC), maka setelah itu dapat dilakukan senggama.
Kesalahan dapat terjadi jika sedang mengalami sakit,
misalnya demam, tidur malam terlalu sedikit, ganti
thermometer, ganti tempt pengukur suhu (Martini, 2011).

4) Senggama terputus (Coitus interuptus)


Coitus interuptus juga dikenal sebagai penarikan atau
pull out metode adalah metode keluarga berencana
tradisional dimana alat kelamin laki-laki dikeluarkan
sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam
vagina dan kehamilan dapat dicegah.
Efektivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk
melakukan senggama terputus setiap melaksanakannya
(angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100 perempuan per
tahun. Efektivitas akan jauh menurun apabila seperma
dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis,
memutus kenikmatan dalam hubungan seksual
(Sulistyawati, 2014)

b. Metode kontrasepsi sederhana dengan alat atau obat


1) Kondom
Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang
dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks, plastik
(vinyl), atau bahan alamiah yang dipasang pada penis saat
berhubungan seksual. Kondom menghalangi terjadinya
pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas
sperma di ujung selubung karet sehingga sperma tidak
tercurah ke dalam alat reproduksi wanita saat berhubungan
seksual.

8
Angka kegagalan pemakaian kondom sekitar 14-15%, ini
artinya 14-15 dari 100 pasangan wanita akan hamil selama
pemakaian kondom ditahun pertama.
a) Keuntungan dan kerugian kondom
Keuntungan Kondom:
Dapat mencegah kehamilan, memberi perlindungan
terhadap penyakit menular seksual, relatif murah, tidak
memerlukan pemeriksaan medis
Kerugian Kondom:
Angka kegagalan relatif tinggi, perlu menentukan
sementara aktivitas dan spontanitas hubungan seks guna
memasang kondom, perlu dipakai secara konsisten pada
setiap senggama.

b) Indikasi dan kontraindikasi pemakaian kondom


Indikasi
Pria : Penyakit genetalia atau penyakit menular
seksual, sensitivitas penis terhadap secret
wanita, ejakulasi prematur
Wanita : Vaginitis (termasuk yang dalam
pengobatan), untuk membuktikan bahwa
tidak ada semen yang dilepaskan didalam
vagina.
Kontraindikasi
Pria dengan ereksi yang tidak baik, tidak bertanggung
jawab secara sexual, alergi terhadap karet atau latex.
c) Efek samping
Keluhan utama dari akseptor adalah berkurangnya
sensitivitas glans penis atau alergi terhadap latex.

2) Metode Barier Intra-vaginal


a) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat, cembung,
terbuat dari lateks (karet) yang dimasukan ke dalam
vagina sebelum koitus dan menutupi serviks. Alat
kontrasepsi metode barier yang berupa diafragma ini
mempunyai cara kerja sebagai berikut:

9
Mencegah masuknya sperma melalui kanalis
servikalis ke uterus dan saluran telur.
Sebagai alat untuk menempatkan spermisida.
Manfaat alat kontrasepsi diafragma:
Efektif bila digunakan dengan benar
Tidak mengganggu produksi ASI
Tidak mengganggu hubungan seksual karena
telah dipersiapkan sebelumnya
Memberikan perlindungan terhadap penyakit
menular seksual
b) Spons
Sponge berbentuk bantal, satu sisi dari sponge berbentuk
cekung yang dimaksudkan untuk menutupi serviks dan
mengurangi kemungkinan perubahan letak spons selama
senggama.
Cara kerja spons:
Melepaskan spermisid yang terkandung didalamnya
Menjebak atau menangkap spermatozoa ke dalam
spons
Efek samping dan komplikasi penggunaan spons
Iritasi atau reaksi alergi yang umumnya disebabkan
oleh spermisidnya.
Kemungkinan infeksi vagina oleh jamur bertambah
besar.
Kemungkinan timbulnya Syindrom Syok Toksik.

c) Kap servix
Suatu alat yang hanya mentupi serviks saja. Dibandingkan
diafragma, kap serviks lebih dalam atau lebih tinggi
kubahnya tetapi diameternya lebih kecil, dan umumnya
lebih kaku. Zaman dahulu, kap serviks terbuat dari logam
atau plastik, sekarang yang banyak adalah dari karet.
Keuntungan penggunaan kap serviks
Efektif, meskipun tanpa spermisid, tetapi bila
dibiarkan di serviks untuk waktu > 24 jam, pemberian
spermisid sebelum bersenggama akan menambah
efektifitasnya.
Tidak terasa oleh suami pada saat bersenggama.

10
Dapat dipakai oleh wanita sekalipun ada kelainan
anatomis/fungsional dari vagina misalnya : sistokel,
rektokel, prolapses uteri, tonus otot vagina yang
kurang baik.
Kap Serviks hanya menutupi serviks saja, sehingga
tidak memerlukan pengukuran ulang bilamana terjadi
perubahan tonus otot vagina.
Jarang terlepas selama senggama.
Kerugian dari pemakaian kap serviks ini adalah saat
pemasangan dan pengeluarannya lebih sulit karena letak
serviks yang jauh di dalam vagina.
Efak samping dan komplikasi
Hanya ada satu efek samping minor yaitu timbulnya
secret yang sangat berbau bila kap serviks dibiarkan
terlalu lama di dalam vagina.
Yang selalu harus dipikirkan adalah kemungkinan :
Sindrom Syok Toksik
Infeksi traktus urinarius yang berulang-ulang
Bertambahnya abnormalitas serviks sehubungan
dengan HPV (Humam Papilloma Virus)

d) Kondom wanita
Ini merupakan kombinasi antara diafragma dan
kondom, alat ini terdiri dari dua cincin polyurethane yang
lentur berbentuk diafragma yang terdapat pada masing-
masing ujung dari suatu selubung lunak polyurethane
yang longgar. Sebelum dipasang, biasanya ditambahkan
spermisid pada alatnya.
Cincin-dalam dipasang tinggi di dalam vagina, dan
tidak perlu dipasang tepat menutupi serviks karena akan
terdorong ke atas selama senggama. Cincin-luar menutupi
labia landasan dari penis. Selama bersenggama cincin luar
menutupi labia dan dasar dari penis,
Alasan utama dari dikembangkannya kondom wanita
adalah karena pada kondom pria dan diafragma biasa,
kedua alat tersebut menutupi daerah perinium sehingga

11
masih ada kemungkinan penyebaran mikroorganisme
penyebaran PHS.

3) Metode Kimiawi dengan Spermisid


Bahan kimia aktif untuk membunuh sperma, berbentuk
cairan, krim atu tisu vagina yang harus dimasukan ke dalam
vagina 5 menit sebelum senggama. Kegagalan sering terjadi
karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida
yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas < 6
jam setelah senggama. Bahan kimia yang dikandungnya dapat
terdiri dari nonoxynol 9 atau nonifenoksi polietanol.
Penggunaan spermisida kurang efektif apabila tidak
dikombinasi dengan kontrasepsi lain seperti kondom atau
diafragma. Efek samping dari pemakaian spermisida,
beberapa perempuan mengeluh gatal- gatal atau lecet dalam
vagina.

2. Metode Kontrasepsi efektif (MKE)


a. Implant /AKBK
Implant adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk
yang terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada
lengan atas (Handayani, 2010).
Menurut Sulistyawati (2014) profil Implant terdiri dari: 1) Efektif 5
tahun untuk Norplant, 3 tahun untuk Jadena, Indoplant, atau Implanon 2)
Nyaman 3) Dapat dipakai oleh semua Ibu dalam usia Reproduksi 4)
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan 5) Kesuburan segera kembali
setelah implant dicabut 6) Efek samping utama berupa perdarahan tidak
teratur, perdarahan bercak dan amenorea 7) Aman dipakai pada masa
laktasi. Jenis Menurut Sulistyawati (2014) terdapat 3 jenis implant yaitu:
1) Norplant
Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4
cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg
Levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
2) Implanon

12
Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40
mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3- Keto-
desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
3) Jadena dan Indoplant. Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75
mg Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

Cara kerja implant menurut Saifuddin (2006) adalah sebagai berikut:

1) Mengentalkan lendir serviks


Kadar levonorgestrel yang konstan mempunyai efek nyata terhadap
mucus serviks. Mukus tersebut menebal dan jumlahnya menurun,
yang membentuk sawar untuk penetrasi sperma.
2) Menganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi. Levonorgestrel menyebabkan supresi terhadap
maturasi siklik endometrium yang diinduksi estradiol dan akhirnya
menyebabkan atrofi. Perubahan ini dapat mencegah implantasi
sekalipun terjadi fertilisasi. Meskipun demikian, tidak ada bukti
mengenai fertilisasi yang dapat dideteksi pada pengguna implant.
3) Mengurangi transportasi sprema
Perubahan lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit, sehingga
menghambat pergerakan sperma.
4) Menekan ovulasi
Menekan ovulasi karena progesteron menghalangi pelepasan
luteinizing hormone (LH). Levonorgestrel menyebabkan supresi
terhadap lonjakan LH, baik pada hipotalamus maupun hipofisis,
yang penting untuk ovulasi

Keuntungan implant menurut Noviawati (2009:146) antara lain:

Keuntungan menurut kontrasepsi :

Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun).


Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan.
Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.
Bebas dari pengaruh estrogen.
Tidak mengganggu kegiatan senggama.
Tidak mengganggu ASI.
Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.
Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

13
Keuntungan menurut Non kontrasepsi :

Mengurangi nyeri dan jumlah darah haid.


Mengurangi/ memperbaiki anemia.
Melindungi terjadinya kanker endomentrium.
Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang
panggul.
Menurunkan angka kejadian endometriosis.

Kerugian implant menurut Anggraini (2011:200) antara lain:

Tidak memberikan efek protektif terhadap penyakit


Menular Seksual, termasuk AIDS.
Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan
pencabutan.
Akseptor tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian
kontrasepsi ini sesuai keinginan, akan tetapi harus pergi ke
klinik untuk pencabutan.
Dapat mempengaruhi baik penurunan maupun kenaikan
berat badan
Memiliki semua risiko sebagai layaknya setiap tindak
bedah minor (infeksi, hematoma dan perdarahan).
Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan terjadinya
perubahan pola daur haid seperti perdarahan bercak
(spotting) atau ketidakteraturan daur haid, hipermenorea
atau meningkatnya jumlah darah haid (lazimnya berkurang
dengan sendirinya setelah bulan pertama masa penggunaan)
dan amenorea (20%) untuk beberapa bulan atau tahun.

Indikasi Indikasi Implant menurut Varney (2004) adalah sebagai


berikut:

1) Wanita yang sedang dalam masa menyusui (setelah enam


minggu masa nifas).
2) Wanita pasca keguguran.
3) Wanita usia reproduksi.
4) Wanita yang mengalami efek samping yang tidak diinginkan
akibat penggunaan pil kontrasepsi oral kombinasi yang
mengandung estrogen.

14
5) Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan
darah, atau anemia bulan sabit.
6) Wanita yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang (Wanita
yang masa usianya suburnya telah berakhir, tetapi tidak
menginginkan strelisasi).
7) Wanita yang ingin mengatur jarak kehamilannya.

Kontra Indikasi Kontra indikasi menurut Noviawati Setya (2009)


antara lain:

1) Hamil atau diduga hamil.


2) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
3) Benjolan/ kanker payudara atau riwayat kanker payudara atau
riwayat kanker payudara.
4) Menderita mioma uterus dan kanker payudara.
5) Penyakit jantung, hipertensi, diabetes militus.
6) Penyakit tromboemboli.

Menurut Sulistyawati (2014) efek samping pemasangan


implant yang sering ditemukan seperti amenore, perdarahan bercak
ringan (Spotting), ekspulsi, infeksi pada daerah insersi dan berat
badan naik turun.

b. KB Suntik

Kontrasepsi suntik adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan


dengan melalui suntikan hormonal. Terdapat dua jenis KB suntik yang
sering digunkan antara lain suntikan/bulan (cyclofem) dan suntikan/3
bulan (Depo provera, depogeston).

1) Kontrasepsi suntikan progestin

Pengertian Kontrasepsi suntik DMPA berisi hormon


progesteron saja dan tidak mengandung hormone esterogen. Dosis
yang diberikan 150 mg/ml depot medroksiprogesteron asetat yang

15
disuntikkan secara intramuscular (IM) setiap 12 minggu (Varney,
2006)

Tersedia dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya


mengandung progestin yaitu, sebagai berikut:

a) Depomendroksiprogesteron asetat (DMPA), mengandung 150


mg DMPA yang dberikan setiap tiga bulan dengan cara disuntik
intramuskular (di daerah bokong)
b) Depo noretisteron enantat (Depo Noristerat), mengandung 200
mg noretindron enantat, diberikan setiap bulan dengan cara di
suntik intramuskular

Cara kerja

a) Mencegah ovulasi
b) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan penetrasi
sperma
c) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
d) Menghambar transportasi gamet oleh tuba

Efektifitas

Kedua jenis kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektivitas


yang tinggi, dengan 30 % kehamilan per 100 perempuan per tahun,
asal penyuntikkannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang
telah ditentukan

Keuntungan

a) Sangat efektif
b) Pencegahan kehamilan jangka panjang
c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d) Tidak mengandung estrogen, sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
e) Tidak memiliki pengaruh terhadap produksi ASI
f) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan
ektopik
g) Menurunkan kejadian tumor jinak payudara
h) Mencegah beberapa penyakit radang panggul
i) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)

16
Kelemahan

a) Sering ditemukan gangguan haid seperti berikut :


Sikluas haid yang memendek atau memanjang
Pendarahan yang banyak atau sedikit
Pendarahan tidak teratur atau pendarahan bercak (spotting)
Tidak haid sama sekali
b) Tidak dapat dihentikan sewaktu waktu sebelum suntikan
berikutnya
c) Sering menimbulkan efek samping masalah berat badan
d) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi
menular seksual, hepatitis B, atau infeksi virus HIV
e) Terlambatnya kembali kesuburan setalah penghentian
penggunaan
f) Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena
kerusakan/kelainan pada organ genitalia, tetapi karena belum
habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat
suntikan)
g) Terjadi perubahan pada lipid serum dengan penggunaan jangka
panjang
h) Gangguan jangka panjangnya yaitu dapat sedikit menurunkan
kepadatan tulang (densitas)
i) Pada gangguan jangka panjang juga dapat menimbulkan
kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi
(jarang), sakit kepala, gugup, atau jerawat

Klien yang dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin

a) Usia reproduksi
b) Menghendaki kontrsepsi jangka panjang dan yang memiliki
efektivitas tinggi
c) Menyusui dan membutuhkan kontrsepsi yang sesuai
d) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
e) Setelah abortus atau keguguran
f) Telah memiliki banyak anak, tetapi belum menghendaki
tubektomi
g) Perokok
h) Tekanan darah <180/110 mmHg dengan masalah gangguan
pembekuan darah atau dengan anemia bulan sabit
i) Tidak dapat menggunakan kontrasepsi yang mengandung
estrogen

17
j) Anemia defisensi besi
k) Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh
menggunakan pil kontrsepsi kombinasi

Klien yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntik progestin

a) Hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat pada 7 janin per


100.000 kelahiran)
b) Memiliki riwayat pendarahan pervaginam yang belum jelas
penyebabnya
c) Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama
amenore
d) Menderita kanker payudaraatau riwayat kanker payudara
e) Menderita diabetes melitus disertai komplikasi

Waktu untuk mulai menggunakan kontrsepsi suntikan progestin

a) Setiap saat selama siklus haid, dengan syarat tidak hamil


b) Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid
c) Pada perempuan yang tidak haid, injeksi pertama dapat
diberikan setiap saat, dengan syarat tidak hamil. Selama tujuh
hari setalah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual
d) Perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan
ingin mengganti dengan kontrasepsi suntik. Apabila telah
menggunakan kontrsepsi hormonal sebelumnya secara benar
dan tidak hamil, suntikan pertama dapat diberikan tanpa perlu
menunggu sampai haid berikutnya datang
e) Apabila sedang menggunakan satu jenis lain, suntik dan ingin
menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntik jenis lain,
kontrsepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat
jadwal kontrasepsi suntikan yang sebelumnya
f) Perempuan yang menggunakan kontrsepsi nonhormonal dan
ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal. Suntikan
pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan, dengan
syarat tidak hamil dan pemberiannya tidak perlu menunggu
haid berikutnya datang. Apabila disuntik setalah hari ke-7 haid,
maka seama tujuh hari setelah disuntik tidak boleh melakukan
hubungan seksual

18
2) Depo Provera
Depo-provra ialah 6-alfa-metroksiprogesteron yang digunakan
untuk kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progesterone yang
kuat dan sangat efektif.

Cara Kerja
Berdasarkan penghambatan pelepasan LH dan perintangan ovulasi
serta pengentalan lender servix.

Waktu Pemberian
Setelah melahirkan (6 minggu pasca salin)
Setelah kegugurann :segera setelah dilakukan kuretase atau 30
hari setelah keguguran (ibu belum hamil lagi)
Hari pertama sampai ke-5 masa haid

Indikasi

Indikasi pemakaian kontrasepsi suntik antara lain jika klien


menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang atau klien
telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, tapi saat ini belum
siap. Kontrasepsi ini juga cocok untuk klien yang mendekati masa
menopause.

Kontraindikasi

Ibu yang tidak boleh menggunakan KB suntik jika ibu sedang


hamil, ibu sedang menderita penyakit liver, kelainan jantung,
varises, mengidap tekanan darah tinggi, kanker payudara atau
oragan reprosuksi, atau menderita Diabetes Militus. Selain itu, ibu
yang merupakan perokok berat atau sering mengalami sakit kepala
sebelah (migrain).

Kelemahan

19
a) Sering ditemukan gangguan haid seperti siklus haid yang
memendek atau memanjang, pendarahan yang banyak atau
sedikit, endarahan tidak teratur atau pendarahan bercak
(spotting), tidak haid sama sekali
b) Tidak dapat dihentikan sewaktu waktu sebelum suntikan
berikutnya
c) Sering menimbulkan efek samping masalah berat badan
d) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi
menular seksual, hepatitis B, atau infeksi virus HIV
e) Terlambatnya kembali kesuburan setalah penghentian
penggunaan
f) Terjadi perubahan pada lipid serum dengan penggunaan jangka
panjang
g) Gangguan jangka panjangnya yaitu dapat sedikit menurunkan
kepadatan tulang (densitas)
h) Pada gangguan jangka panjang juga dapat menimbulkan
kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi
(jarang), sakit kepala, gugup, atau jerawat

c. KB pil
Kontrasepsi Hormonal Oral adalah komtrasepsi berupa pil atau obat
yang berbentuk tablet berisi hormon estrogen dan atau progesteron.
Jenis jenis Kontrasepsi Hormonal Oral
1) Pil Oral Kombinasi (POK)
Pil oral kombonasi adalah pil kontrasepsi yang mencegah
terjadinya ovulasi dan mempunyai efek lain terhadap traktus
genitalis, seperti menimbulkan perubahan perubahan pada lendir
serviks, pada motilas tuba fallopi dan uterus.
a) Jenis
Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen/progestin dalam dosis
yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif
estrogen/progestin dengan dua dosis yang berbeda dengan 7
tablet tanpa hormon aktif.
Bifasik : pil yang tersedia dalam 21 tablet mengandung
hormon estrogen/progestin dengan dua dosis yang
berbeda dengan 7 tablet hormon aktif.

20
Trifasik : pil yang tersedia dalam 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progestin dengan tiga dosisyang
berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
b) Cara kerja
Menekan Ovulasi
Mencegah implantasi
Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui sperma
Pengerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur
dengan sendirinya akan terganggu pula.
c) Keuntungan
Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
Tidak menganggu hubungan seksual
Sikluas haid menjadi teratur, banyaknya darah haid
berkurang (mencegah anemia) , tidak terjadi nyeri haid
Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan
masih ingin menggunakan untuk menccegah kehamilan
Dapat digunakan usia remaja hingga menopause
Mudah dihentikan setiap saat
Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil
dihentikan
Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker
ovarium, kista ovarium, penyakit radang panggul,
disminore.

d) Kelemahan
Harus diminum setiap hari
Mual, terutama pada 3 bulan pertama
Pendarahan bercak atau pendarahan sela, terutama 3
bulan pertama
Pusing
Nyeri payudara
Amenore
Dapat mengurangi ASI pada wanita menyusui
Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan
depresi sehingga libido berkurang
Meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, resiko
stroke dan gangguan pembekuan darah
Tidak mencegah IMS, HBV, HIV/AIDS
e) Indikasi
Usia reproduksi

21
Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas
tinggi
Setelah melahirkan dan tidak menyusui
Pasca keguguran
Anemia karena haid berlebihan
Nyeri haid hebat
Sikluas haid tidak teratur
Riwayat kehamilan ektopik
Diabetes militus tanpa komplikasi
Penyakit toroid, penyakitn radang panggul, endometrium
atau tumor ovarium jinak
Penderita tuberkolosis (kecuali pada pengguna
rifampisin)

f) Kontra indikasi
Trombophelibitis, penyakitpenyakit tromboembolik,
penyakit serebrovaskuler, oklusi koroner, atau riwayat
pernah menderita penyakit penyakit tersebut
Gangguan fungsi herper
Karsioma payudara atau diduga menderita
Neoplasma yang estrogen dependen atau diduga
menderita
Pendarahan genitalia abnormal yang tidak diketahui
penyebabnya
Hamil atau diduga hamil
Ikterus obstruktif dalam kehamilan
Hiperlipidemia konginetal/familial
Set migraine
Hipertensi
Leiomyorna uteri
Epilepsi
Varises, karena pil oral diperikirakan mengurangi
kecepatan aliran darah dan menambah kuagulabilitas,
sehingga resiko mendapatkan trombophlebitis pada
wanita dengan varises
Diabetes gestational

2) Mini Pil
Mini Pil adalah pil kontrasepsi yang mengandung progestin
saja, tanpa estrogen. Dosis progestinnya kecil yaitu 0,5 mg atau

22
kurang. Mini Pil bukan menhambat ovulasi karena selama
memakan pil mini ini kadang kadang masih dapat terjadi.
a) Jenis
Kemasan dengan isi 35 pil : 300 mg levonorgestrel atau 350
mg neotindrome
Kemasan dengan isi 28 pil : 75 mg norgrestel
b) Cara kerja
Mencegah terjadinya ovulasi pada beberapa siklus
Penegahan ovulasi disebabkan gangguan pada sekresi
hormon LH oleh kelenjar hypophyse, sehingga tidak terjadi
puncak mid-siklus
Perubahan motibilitas tuba sehingga fertilisasi terganggu
karena transpor ovum melalui saluran tuba mungkin
dipercepat sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
fertilisasi
Mini pil menganggu berkembangnya siklus endometrium
sehingga endometrium berbeda dalam fase yang salah atau
menunjukkan sifat sifat ireguler atau atrofis, sehingga
endometrium tidak dapat menerima ovum yang telah
dibuahi
Perubahan lendir serviks, progestin mencegah penipisan
lendir serviks pada pertengahan siklus sehingga lendir
serviks tetap kental dan sedikit, yang dapat menghambat
penetrasi sperma
Perubahan Corpus luteum yang berfungsi abnormal dimana
sekresi progesteron sangat sedikit sekali sehingga tidak
terjadi kontrasepsi normal atau implantasi
c) Keuntungan
Sangat efektif bila digunakan dengan benar
Tidak mengganggu hubungan seksual
Tidak mempengaruhi ASI
Kesuburan cepat kembali
Nyaman dan mudah digunakan
Sedikit efek samping
Dapat diberhentikan setiap saat
Tidak mengandung estrogen

d) Kelemahan

23
Hampir 30 60 % mengalami gangguan haid (pendarahan
sela, berat/sporting, amenore)
Peningkatan/penuruan berat badan
Harus digunakan setiap hari dan ada waktu yang sama
Bila lupa satu pil saja, kegagala menjadi lebih besar
Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatis
Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi, yaitu 4 dari 100
kehamilan diduga mini pil menggangu motilitas tuba
sehingga memicu implantasi lebih awal, blastokis tidak
sampai ketempat implantasinya di endometrium
Efektifitasnya menjadi rendah bila digunakan bersamaan
dengan obat tuberkolosis atau epilepsi
Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual atau
HIV/AIDS
e) Indikasi
Usia reproduksi
Menginginkan suatu metode kontrasepsi yang sangat efektif
selama periode menyusui
Pasca keguguran
Perokok segala usia
Mempunyai tekanan darah tinggi (selama <180/110 mmHg)
atau dengan masalah pembekuan darah
Tidak boleh menggunakan estrogen atau lebih senang tidak
menggunakan estrogen
f) Konta indikasi
Hamil atau diduga hamil
Pendarahan pervaginan yang jelas penyebabnya
Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
Menggunakan obat tuberkolosis (rifampisin) atau obat
untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat)
Kanker payudara atau riawayat kanker payudara
Sering lupa mengguakan pil
Mioma uterus, karena progestin memicu pertumbuhan
mioma uterus
Riwayat stroke, karena progestin menyebabkan sperma
pembuluh darah

3) Morning After Pil (Post Coital Pil)


Morning after pil adalah pil atau obat yang harus dimulai dalam
waktu beberapa jam atau diberikan esok paginya karena digunakan
segera setelah senggama. Kontasepsi ini bertujuan untuk mecegah

24
nidasi. Berfungsi untuk mencegah terjadinya kehamilan karena suatu
hubungan seks tanpa pengaman dimasa subur sang wanita. Morning
after pil haya akan efektif jika diminum paling lama 120 jam atau 5
hari sejak hubungan seks. Efek samping yang ditimbulkan adalah
mual dan sedikit mulas. Morning after pil terdiri atas 2 buah tablet.
Tablet yang pertama diminum maksimal 120 jam sejak hubungan
seks tanpa pengaman, dan disusul oleh tablet yang kedua maksimal
12 jam sejak tablet pertama diminum.
Macam macam metode kontrasepsi post coital Morning
after pil
Pil oral kombinasi
Estrogen dosis tinggi per oral
Progestin dosis tinggi

a) Pil oral kombinasi


Dipakai pil oral kombinasi yang mengandung :
50 mcg ethinyl estradiol dan
0,5 mg dl norgestrel
Dosis pil oral kombinasi
Dua table POK diminum dalam jangka waktu 72 jam (lebih
baik bila dalam jangka waktu 12 24 jam) setelah
senggama, disusul 2 tablet tidak lagi 12 jam kemudian
Dosisi total : 2,0 mg norgestrel dan 200 mcg
ethinylestradiol
b) Estrogen dosis tinggi per oral
Metode ini dengan pemberian diethysil bestrol (DES) dengan
dosis 25 50 mg/hari selama hari
Kemudian dipakai ehinyl estradiol (EE) dengan dosis 0,5
2,0 mh/hari selama 5 hari
Pemberian estrogen dosisi tinggi akan lebih efektif jika
diberikan dalam jangka waktu 24 jam setelah senggama
c) Progestin dosis tinggi
Dl norgestrel dan quingestanol asetat, suatu progestin
dalam POK telah dipakai tersendiri sebagai metode
kontrasepsi post-coital
D-nogrestel 0,6 mg, dipakai dalam jangka waktu 3 jam
setelah senggama
Quingestanol asetat dengan dosis 1,5 2,0 mg, efektif jika
diberikan dalam jangka waktu 24 jam setelah senggama

25
Indikasi

Hanya sebagian wanita yang tidak menggunakan jenis


kontrasepsi apapun, dan yang melakukan pada pertengahan
siklus.

Cara kerja kontrasepsi pasca persalinan senggama

Pemberian pil kombinasi dapat mencegah terjadinya nidasi


dan meningkatan pemberian estrogen dan progesteron dosis
tinggi akan mengurangi pembentukan enzim karbonhidrase dan
akan meningkatkan nilai PH cairan endometrium.

Efek samping

Obat untuk kontrasepsi pasca senggama dapat


menimbulkan sakit kepala, mual dan muntah. Sehingga perlu
diberikan tambahan obat anti muntah.

d. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)

IUD adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah


dirancang sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa
aktif fungsi kontrasepsinya), diletakkan dalam kavum uteri sebagai
usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan menyulitkan telur
berimplementasi dalam uterus (Hidayati, 2009).

Menurut Saifudin (2010), pemakaian IUD sangat efektif,


reversible dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun: CuT-
380A), haid menjadi lebih lama dan lebih banyak, pemasangan dan
pencabutan memerlukan pelatihan, dapat dipakai oleh semua
perempuan usia reproduksi, tidak boleh dipakai oleh perempuan
yang terpapar pada Infeksi Menular Seksual (IMS).

Jenis Jenis IUD Jenis - jenis IUD yang dipakai di Indonesia


antara lain :
1. Copper-T

26
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada
bagian vertikalnya diberi lilitan kawat 11 tembaga halus.
Lilitan tembaga halus ini mempunyai efek anti fertilitas (anti
pembuahan) yang cukup baik dan dapat dipakai selama 10
tahun.
2. Progestasert IUD
Hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat digunakan untuk
kontrasepsi darurat Copper-7. IUD ini berbentuk angka 7
dengan maksud untuk memudahkan pemasangan.
3. Multi load
IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan
kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Ada tiga jenis
ukuran multi load yaitu standar, small, dan mini.
4. Lippes loop
IUD ini terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf spiral atau
huruf S bersambung.

Cara Kerja Menurut Saifudin (2010)

a) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ketuba falopi


b) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum
uteri.
c) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu,
walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat
reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk fertilisasi.
d) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

Efektivitas

Keefektivitasan IUD adalah: Sangat efektif yaitu 0,5 1 kehamilan


per 100 perempuan selama 1 tahun pertama penggunaan
(Sujiyantini dan Arum, 2009).

Keuntungan

Menurut Saifudin (2010), Keuntungan IUD yaitu:

a. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi Sangat efektif


b. AKDR dapat efektik segera setelah pemasangan.

27
c. Metode jangka panjang ( 10 tahun proteksi dari CuT 380A
dan tidak perlu diganti)
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat ingat.
e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
f. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT
-380A)
g. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
h. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
(apabila tidak terjadi infeksi)
i. Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebih
setelah haid terakhir)
j. Tidak ada interaksi dengan obat obat

Kontra Indikasi

Menurut Kusumaningrum (2009), Kontra indikasi dari IUD:

a. Hamil atau diduga hamil


b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita
penyakit kelamin
c. Pernah menderita radang rongga panggul
d. Riwayat kehamilan ektopik
e. Penderita kanker alat kelamin.

Efeksamping

Menurut Sujiantini dan arum (2009), Efeksamping IUD:

a. Perdarahan ( menoragia atau spotting menoragia)


b. Rasa nyeri dan kejang perut
c. Terganggunya siklus menstruasi (umumnya terjadi pada 3
bulan pertama pemakaian)
d. Disminore
e. Gangguan pada suami (sensasi keberadaan benang iud
darasakan sakit atau mengganggu bagi pasangan saat
melakukan aktifitas seksual)
f. Inveksi pelvis dan endometrium

3. Metode Kontrasepsi Mantap

Metode Operatif pria (MOP / Vasektomi)

28
a. Pengertian Vasektomi
Vasektomi adalah tindakan memotong dan menutup saluran mani (vas
deferens) yang menyebabkan sel mani (sperma) keluar dari pusat
produksinya di tesis.
b. Cara Kerja
Saluran vas deferens yang berfungsi mengangkut sperma dipotong dan
diikat, sehingga aliran sperma dihambat tanpa memengaruhi jumlah cairan
sperma. Jumlah sperma hanya 5% dari cairan ejakulasi. Cairan semen
diproduksi dalam vesika seminalis dan prostat sehingga tidak akan
terganggu oleh vasektomi.
c. Tujuan vasektomi
Tujuan vasektomi adalah mecegah sperma bertemu dengan sel telur di
saluran telur, yang dapat berupa senggama terputus (coitus interruptus),
pantang berkala (meotde kalender), pemakaian kondom, vasektomi atau
pengguna kontrasepsi oral pria
d. Keuntungan Vasektomi
Keuntungan vasektomi bagi suami adalah :
1) Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas
2) Sederhana
3) Cepat, hanya memerlukan anestil lokal saja
4) Biaya rendah
e. Kerugian Vasektomi
Adapaun kerugian dari metode vasektomi adalah :
1) Diperlukan suatu tindakan operatif
2) Kadang kadang menyebabkan komplikasi seperti pendarahan atau
infeksi
3) Kontap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua
spermatozoa yang sudah ada didalam sistem reproduksi distal dari
tempat oklusi vas deferens dikeluarkan
4) Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual
mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut
reproduksi pria.
f. Indikasi Vasektomi
Pada dasarnya indikasi untuk melakukan vasektomi adalah bahwa
pasangan suami istri tidak ingin menghendaki kehamilan lagi dan pihak
suami bersedia baha tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.
g. Kontra Indikasi Vasektomi
Kontra Indikasi Vasektomi adalah :
1) Infeksi kulit lokal, misalnya Scabies
2) Infeksi traktus genitalia

29
3) Kelainan skrotum, dan sekitarnya :
Varicocele
Hydrocele besa
Filariasis
Hemia inguinalis
4) Penyakit sistematik
Penyakit penyakit pendarahan
Penyakit jantung koroner yang terbaru
Efek Samping
h. Efek Samping
Rasa nyeri atau ketidaknyamanan akibat pembedahan yang biasanya hanya
beberapa hari. Pembentukan granuloma relative jarang dan merupakan
keluhan yang nantinya hilang sendiri.

Metode Operatif wanita (MOW/ Tubektomi)

a. Profil
1) Sangat efektif dan mantap
2) Tindakan pembedahan yang aman dan sederhana
3) Tidak ada efek samping
4) Konseling dan informed consent (persetujuan tindakan) mutlak
diperlukan
5) Tubketomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan
fertilitas (kesuburan) seseorang perempuan
b. Mekanisme Kerja
1) Minilaparatomi
2) Laparoskopi
3) Dengan mengoklusi tuba falopi (mengikat dan memotong atau
memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum
c. Keuntungan Kontrasepsi dan Nonkontrasepsi
1) Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan)
2) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
3) Tidak bergantung pada faktor senggama
4) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang
serius
5) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
6) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
7) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada
produksi hormon ovarium)
8) Berkurangnya resiko kanker ovarium
d. Keterbatasan

30
1) Harus dipertimbangkan sifat mantap metode kontrasepsi ini (tidak
dapat dipulihkan kembali), kecuali dengan rekomendasi
2) Klien dapat menyesal dikemudian hari
3) Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi
umum)
4) Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
5) Dilakukan oleh dokter terlatih (dibutuhkan dokter spesialis ginekologi
untuk proses laparoskopi)
6) Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS

e. Yang dapat menjalani Tubektomi

Klien mempunyai hak untuk berubah pikiran setiap waktu sebelum


prosedur ini. Informed consent harus diperoleh dan standard consent form
harus ditanda tangani oleh klien sebelum prosedur dilakukan

1) Usia > 26 Tahun


2) Paritas (jumlah anak) minimal 2 dengan umur anak terkecil > 2 tahun
3) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan
kehendaknya
4) Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius
5) Pascapersalinan dan atau pasca keguguran
6) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

f. Yang tidak boleh menjalani Tubektomi

1) Hamil
2) Pendarahan vaginal yang belum terjelaskan
3) Infeksi sistematik atau pelvik yang akut
4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
6) Belum memberikan persetujuan tertulis

g. Waktu dilakukan Tubektomi

1) Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional


klien tidak hamil
2) Hari ke 6 hingga ke 13 dari siklus menstruasi (fase proliferasi)
3) Pascapersalinan : minilap di dalam waktu 2 hari atau hingga 6 minggu
atau 12 minggu, laparoskopi tidak tepat untuk klien pascaperslinan

31
4) Pascakeguguran : Triwulan pertama (minilap atau laparoskopi,
Triwulan kedua (minilap saja)

32
BAB III
HASIL PENGKAJIAN

Pengkajian Keluarga Tn. T


1. Pengkajian Keluarga
FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA
PRAKTIK KEBIDANAN KOMUNITAS
AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA
Jl. Parangtritis Km. 6 Sewon Bantul

Tanggal Pengkajian : 6 September 2017


Nama Kepala Keluarga : Bapak Tumpak Nur Saroji
Dusun : Krapyak Wetan
RT/RW : RT.07
Surveyer : Kelompok 2
No Responden :-

A. Identitas keluarga

No. Nama L/P Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Status Pendapatan


dalam keluarga*
perkawinan

1. Tumpak L 41 th Islam SD Buruh sah Rp.


1.000.000
2. Nur P 30 th Islam SD IRT sah
Halima

3. Tania P 12 th Islam - Pelajar -


Rahma

4. M. Taqi L 7 bln Islam - - -

*(pendapatan suami dan istri)

B.Tipe Keluarga
(beri tanda lingkar pada nomor)

1. Keluarga Inti 4. Keluarga Janda/Duda

2. Keluarga Besar 5. Keluarga Berkomposisi

3. Keluarga Berantai 6. Keluarga Kabitas

C. Data Kesehatan Keluarga


-

D. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

33
PHBS Nasional No. 1-10
PHBS Bantul tambahan No. 11-15

No. Indikator Hasil

Ya Tidak

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

2. Memberi bayi ASI eksklusif

3. Menimbang balita setiap bulan

4. Menggunakan air bersih

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan


sabun

6. Menggunakan jamban sehat

7. Memberantas jentik di rumah seminggu


sekali

8. Makan sayur dan buah setiap hari

9. Tidak merokok dalam rumah

10. Ibu hamil memeriksakan kehamilan

11. Bayi diimunisasi secara lengkap sesuai


usianya

12. Gosok gigi minimal 2X setiap habis makan


pagi dan sebelum tidur malam

13. Mengelola sampah dan limbah cair rumah


tangga

14. Mengelola sampah dan limbah cair rumah


tangga

15. Mempunyai jaminan pemeliharaan


kesehatan

Surveyer

( kelompok I )

34
2. Pengkajian Ibu KB
a. Identitas Ibu
Nama : Ny. N
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Dusun Krapyak Wetan RT.07

b. Pengkajian Data
1) Akseptor KB : Tidak
2) Umur PUS
Perempuan : 30 tahun
Laki-laki : 41 tahun
3) Jumlah anak : 2
4) Usia anak : Anak pertama berumur 12 tahun, anak kedua
berusia 7 bulan
5) Pernah menggunakan KB : Ya Jenis: Spiral
6) Pernah mendengar KB : Pernah
Sumber informasi : Tenaga kesehatan dan TV
7) Pengetahuan tentang macam-macam KB : Tahu >3 macam,
yaitu: pil, suntik, spiral, dan kondom.
8) Riwayat kontrasepsi yang digunakan

No. Tahun Jenis Alasan Keluhan Cara Tempat Alasan


Kontrasepsi pemakaian mengatasi pelayanan lepas

1. Spiral Ingin - - BPM Ingin


menunda memiliki
kehamilan anak lagi

9) Ibu masih menyusui anaknya : Masih


10) Riwayat penyakit : Ibu dan keluarga tidak memiliki riwayat
penyakit apapun
11) Ibu memiliki rencana untu menggunakan alat kontrasepsi lagi : Ya
ada rencana

3. Pengkajian Balita tentang Tumbuh Kembang (tumbang)


a. Identitas balita
Nama : Muhammad Taqi A
Umur : 7 bulan
Tanggal lahir : 9 Februari 2017
Nama orang tua : Tn. T dan Ny. N
Alamat : Dusun Krapyak Wetan RT.07

35
b. Pengkajian data
1) Tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita menurut ibu
: Tidak, karena menurut ibu ukuran kepala anaknya tidak
normal
2) Ibu/keluarga mengetahui cara-cara menstimulasi dan mendeteksi
tumbang pada baita : Tidak mengetahui
3) Observasi perkembangan balita (sesuai dengan umur anak dengan
KPSP)
4) Hasil observasi perkembangan kemampuan balita :
Sesuai
Meragukan
Menyimpang

4. Pengkajian balita tentang pemberian MP- ASI
a. Identitas balita
Nama : Muhammad Taqi A
Umur : 7 bulan
Tanggal lahir : 9 Februari 2017
Nama orang tua : Tn. T dan Ny. N
Alamat : Dusun Krapyak Wetan RT.07
b. Pengkajan data
1) Balita mempunyai KMS : Ya
2) KMS diisi oleh : Bidan
3) Menimbang balita : Teratur
4) Status Imunisasi : Hb0, BCG, IPV1
5) Status gizi balita : Baik
6) Status pemberian tablet vit A : Sudah diberikan
7) Balita ASI eksklusif : Ya, ASI ekslusif
8) Ibu mengerti apa itu ASI eksklusif : Mengerti
9) Jenis makanan yang dikonsumsi baita : ASI + MP- ASI
10) Jenis MP-ASI yang diberikan : Nasi tim tanpa lauk
dan sayur, pepaya dan pisang
11) Makanan pantangan untuk balita : Tidak ada
12) Ibu mengerti tentang variasi MP-ASI : Tidak mengerti

Skoring Masalah Keluarga Tn. T


a. Ibu yang masih belum menggunakan alat kontrasepsi setelah persalinan

No. Kriteria Nilai Bobot Skor


1. Sifat Masalah 1 1 1
Keadaan Sejahtera
2. Kemungkinan Masalah Dapat Diubah 2 2 4

36
Dengan Mudah
3. Potensi Masalah Untuk Diubah 3 1 3
Cukup
4. Menonjolnya Masalah 2 1 2
Masalah dapat dirasakan
Nilai : 10/5=2

b. Kurangnya pengetahuan ibu tentang variasi MP- ASI

No. Kriteria Nilai Bobot Skor


1. Sifat Masalah 2 1 2
Ancaman Kesehatan
2. Kemungkinan Masalah Dapat 2 2 4
Diubah Dengan Mudah
3. Potensi Masalah Untuk Diubah 2 1 2
Cukup
4. Menonjolnya Masalah 0 1 0
Masalah Dapat Dirasakan
Nilai : 8/5=1,6

c. Kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang pada balita

No. Kriteria Nilai Bobot Skor


1. Sifat Masalah 1 1 1
Keadaan Sejahtera
2. Kemungkinan Masalah Dapat 2 2 4
Diubah
Dengan Mudah
3. Potensi Masalah Untuk Diubah 2 1 2

37
Cukup
4. Menonjolnya Masalah 0 1 0
Masalah Dapat Dirasakan
Nilai : 7/5=1,4

Perhitungan Skala Prioritas


1. Ibu yang masih belum menggunakan alat kontrasepsi setelah persalinan
Nilai: 10/5=2
2. Kurangnya pengetahuan ibu tentang variasi MP- ASI
Nilai: 8/5=1,6
3. Kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang pada balita
Nilai: 7/5=1,4

Hasil Skoring Prioritas Masalah pada Keluarga Tn. T


1. Prioritas Masalah
Ibu yang masih belum menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan
2. Perencanaan
a. Menjelaskan tentang macam-macam alat kontrasepsi
b. Menjelaskan tentang efek samping masing-masing alat kontrasepsi
c. Menjelaskan tentang penggunaan alat kontrasepsi
d. Memberikan leaflet untuk bacaan ibu

38
BAB IV
PEMBAHASAN

Kami melakukan pengkajian pada 2 keluarga. Keluarga pertama adalah


keluarga Tn. T yang beranggotakan 4 orang. Yaitu Tn. T yang bekerja sebagai
buruh, An.R yang merupakan anak perempuannya yang masih duduk dibangku
SMP, Ny.N yang barusaja memiliki anak ke-2 yang berusia 7 bulan yaitu An.M.
Berdasarkan hasil pengkajian terhadap keluarga Tn.T maka diketahui terdapat
beberapa masalah seperti ibu dengan usia subur yang belum menggunakan alat
kontrasepsi, kurangnya pengetahuan ibu tentang variasi MP-ASI, dan kurangnya
pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang anak.
Keluarga kedua yang kami datangi adalah keluarga Tn.C yang terdapat 2
anggota keluarga. Yaitu Tn.C sebagai wirausaha bersama istrinya Ny.R yang saat
ini sedang hamil 33 minggu. Berdasarkan hasil pengkajian pada keluarga Tn.C
maka diketahui terdapat masalah yang muncul meliputi kurangnya pengetahuan
ibu tentang perawatan payudara, dan suami yang terkadang masih merokok di
dalam rumah.
Setelah melakukan 2 pengkajian tersebut kelompok akhirnya melakukan
diskusi untuk memilih keluarga mana yang akan dipilih untuk diberikan
intervensi. Dari hasil diskusi kelompok lebih condong pada keluarga pertama,
yaitu keluarga Tn.T. Pada keluarga Tn.T terdapat masalah yaitu Ny.N yang sudah
7 bulan pasca bersalin ternyata belum berkontrasepsi, apabila terlambat
diintervensi maka hal itu bisa menyebabkan kehamilan selanjutnya sebelum sang
bayi berusia 2 tahun. Alasan tersebut menjadi salahsatu pertimbangan kami untuk
memilih keluarga Tn.T untuk kami berikan intervensi.
Berdasarkan masalah yang ada di keluarga Tn.T tersebut dilakukan
skoring untuk menentukan prioritas masalah sesuai dengan teori penentuan skala
prioritas dari Bailon & Maglaya (1978). Hasil skoring menunjukkan nilai 1,4
untuk masalah kurangnya pengetahuan ibu tentang MP-ASI, nilai 1,6 untuk
masalah kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh-kembang anak, sedangkan
untuk masalah ibu yang belum menggunakan kontrasepsi mendapat nilai 2.
Berdasarkan skoring tersebut maka kelompok akan melakukan intervensi pada

39
masalah ibu yang belum menggunakan kontrasepsi. Plan Of Action yang dibuat
untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan melakukan asuhan kebidanan
pada ibu dengan usia subur.
Asuhan Kebidanan Ibu usia subur Pada Ny. N umur 30 tahun P2A0Ah2
normal. Sesuai dengan kasus tersebut asuhan kebidanan yang diberikan yaitu
konseling metode kontrasepsi, meliputi macam-macam metode kontrasepsi, tujuan
dan manfaat metode kontasepsi, dan macam alat kontasepsi yang aman untuk ibu
menyusui. Asuhan kebidanan kami lakukan dengan metode konseling dan tanya
jawab yang dilengkapi dengan lembar balik, leaflet dan alat peraga.
Metode konseling digunakan untuk menjelaskan tentang macam-macam
metode kontrasepsi, tujuan dan manfaat metode kontasepsi, dan macam alat
kontasepsi yang aman untuk ibu menyusui, sedangkan teknik menyusui yang
disampaikan dengan metode demonstrasi. Konseling dan tanya jawab dilakukan
secara santai dengan menggunakan bahasa sederhana dan digunakan dalam
kehidupan sehari-hari agar ibu lebih mudah untuk memahaminya. Selain itu,
dalam konseling ini dilakukan konseling secara dua arah, yaitu ibu tidak hanya
mendengarkan penjelasan yang diberikan. Akan tetapi, ibu juga diberikan banyak
waktu untuk mengemukakan pendapatnya atau informasi yang telah ibu ketahui
tentang metode kontrasepsi . Dengan demikian, ibu merasa diperhatikan dan tidak
merasa digurui sehingga ibu merasa senang dan ibu memperhatikan materi yang
kami sampaikan.
Hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan bahwa ibu paham tentang
macam-macam metode kontrasepsi, tujuan dan manfaat metode kontasepsi, dan
macam alat kontasepsi yang aman untuk ibu menyusui. Upaya yang dilakukan
untuk mengetahui apakah ibu sudah paham dengan konseling yang telah diberikan
yaitu dengan memberikan beberapa pertanyaan. Ibu menjawab pertanyaan dengan
benar sesuai dengan konseling yang telah diberikan. Selain itu ibu juga mampu
untuk mengambil keputusan untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD. Alasan
ibu memilih kontrasepsi IUD adalah karena sudah pernah menggunakan IUD dan
merasa tidak repot dan tidak mengalami keluhan apapun , ibu juga merasakan
menggunakan IUD tidak membawa masalah pada berat badannya, serta ibu lega
setelah mengetahui IUD tidak memberikan pengaruh terhadap ibu menyusui.

40
Ibu merasa senang dan berterima kasih dengan informasi yang telah
diberikan dan ibu bersedia untuk segera mendatangi tenaga kesehatan terdekat
untuk mendapatkan pelayanan pemasangan kontrasepsi IUD. Dalam konseling
yang kami lakukan dengan Ny.N hampir tidak ada hambatan yang berarti, waktu
untuk melaksanakan konseling mudah dicari karena ibu sangat menerima dan
memiliki waktu luang, Kami juga merasa senang karena bayi Ny.N yang berumur
7 bulan tidak rewel dan cepat beradaptasi dengan orang baru sehingga mudah dari
kami untuk mengajaknya bermain selagi dilakukan konseling dengan Ny.N.
Hanya saja karena kunjungan dilakukan oleh seluruh anggota kelompok yang
beranggotakan 13 orang, kami harus mencari lokasi lain untuk pertemuan,
mengingat kondisi rumah Ny.N yang tidak terlalu luas. Secara keseluruhan
kegiatan berjalan lancar karena kelompok dan klien bekerja sama dengan baik dan
kompak.

41
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengkajian kepada dua keluarga yang meliputi keluarga Tn.T dengan ibu
usia subur yang belum menggunakan kontrasepsi dan keluarga Tn.C dengan
ibu hamil. Berdasarkan hasil pengkajian maka diputuskan intervensi dilakukan
terhadap keluarga Tn.T karena terdapat beberapa masalah seperti ibu dengan
usia subur yang belum menggunakan alat kontrasepsi, kurangnya pengetahuan
ibu tentang variasi MP-ASI, dan kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh
kembang anak. Berdasarkan scoring prioritas masalah dengan nilai 2 maka ibu
dengan usia subur yang belum menggunakan alat kontrasepsi adalah masalah
yang diberikan intervensi. Berdasarkan permasalahan tersebut kami melakukan
asuhan kebidanan pada ibu usia subur yaitu metode kontrasepsi, meliputi
macam-macam metode kontrasepsi, tujuan dan manfaat metode kontasepsi, dan
macam alat kontasepsi yang aman untuk ibu menyusui.
Hasil asuhan kebidanan yaitu Ibu merasa senang dan berterima kasih
dengan informasi yang telah diberikan dan ibu mampu untuk menentukan
kontrasepsi yang ingin ia gunakan dan bersedia untuk segera mendatangi
tenaga kesehatan terdekat untuk mendapatkan pelayanan pemasangan
kontrasepsi IUD.

B. Saran
1. Bagi institusi
Diharapkan institusi lebih baik lagi dalam melakukan pendampingan dan
bimbingan di dalam proses belajar mengajar mata kuliah asuhan kebidanan
komunitas.
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan komunitas
pada keluarga sesuai dengan teori yang sudah diajarkan di Akademi
Kebidanan Yogyakarta.

42
3. Bagi Ibu
Diharapkan menambah wawasan tentang alat kontrasepsi dan ibu bersedia
menerapkan sesuai dengan asuhan kebidanan yang diberikan.

43
DAFTAR PUSTAKA

Arum dan Sujiyatini. 2009. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Jogjakarta

Dyah Noviawati Setya, Sujiyatini. 2009. Panduan Lengkap Pelayanan KB.


Terkini. Yogyakarta: Mitra Cendikia

Faqih, Achmad.2011.Kependudukan Teori, Fakta dan Masalah. Yogyakarta: Dee


Publish
Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:
Pustaka Rihama.
Hidayati, R. 2009. Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan.
Patologis. Jakarta: Salemba Medika

Kusumaningrum, Radita. 2009. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Jenis


Kontrasepsi Yang Digunakan Pasangan Usia Subur. Semarang : undip

Martini.2011.Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Rohima Press


Puspitawati, H. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. PT
IPB Press. Bogor

Saifuddin, Abdul Bari. (2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.


Jakarta : Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifudin, Abdul Bari. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.


Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Varney, Helen. 2004. Ilmu Kebidanan (Varneys Midwifery 3rd.ed.). Bandung.


Sekeloa Publisher.

www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2009_52.pdf diakses tanggal 7


September 2017 pukul 21:00 WIB

44