Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pada awalnya kalor dianggap sebagai zat alir (fluida) tanpa bobot
dan tidak dapat dilihat.Kalor timbul jika ada bahan yang dibakar. Kalor
dapat berpindah dari benda yang satu ke benda lainnya dengan cara
konduksi, konveksi, dan atau radiasi (Hamid, A.A., 2007).
Pengalaman Count Rumford dan Sir James Prescott Joule dalam
pengeboran laras meriam dan percobaan-percobaannya dapat
disimpulkan, bahwa energi mekanik terus menerus berubah wujudnya
menjadi kalor. Ini berarti ada kesetaraan antara energi mekanik dengan
kalor.Dalam percobaannya Joule menemukan, bahwa 4,186 joule (J)
setara dengan 1 kalori. Jadi 1,000 kal = 4,186 J (Hamid, A.A., 2007).
Proses perubahan energi mekanik menjadi kalor merupakan salah
satu contoh adanya azas ketetapan energi. Sebaliknya, kalor dapat
diubah menjadi energi mekanik.Jadi, kalor merupakan salah satu bentuk
energi.Dalam hal kalor dapat dibedakan dua konsep pokok, yaitu rasa
kepanasan (hot) yang disebut temperatur atau suhu; dan besaran yang
dapat menyebabkan adanya perubahan temperatur yang disebut kalor
(heat) atau bahang (Hamid, A.A., 2007).
Termodinamika merupakan bagian dari cabang Fisika yang
namanya Termofisika (Thermal Physics).Termodinamika adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara energi dan kerja dari suatu
sistem.Termodinamika hanya mempelajari besaran-besaran yang
berskala besar (makroskopis) dari sistem yang dapat diamati dan diukur
dalam eksperimen.Besaran-besaran yang berskala kecil (mikroskopis)
dipelajari dalam Teori Kinetik Gas (Kinetic Theory of Gas) atau Fisika
Statistik (Statistical Physics) (Hamid, A.A., 2007).
Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara
spesifikmembahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja.
Seperti telah diketahui bahwa energi didalam alam dapat terwujud dalam
berbagai bentuk, selain energi panas dan kerja, yaitu energi kimia,
energilistrik, energi nuklir, energi gelombang elektromagnit, energi akibat
gaya magnit, dan lain-lain . Energi dapat berubah dari satu bentuk ke
bentuklain, baik secara alami maupun hasil rekayasa tehnologi. Selain itu
energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau
dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk
menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini
disebut sebagai prinsip konservasi atau kekekalan energy (Sudjito, dkk.,
2016).
Ada dua pendapat mengenai pemanfaatan Termodinamika.Versi
pertama datang dari Fisikawan dan Kimiawan.Mereka lebih condong
menggunakan Termodinamika untuk meramalkan dan menghubungkan
pelbagai sifat zat di bawah pengaruh kalor dan mengembangkan data
termodinamis.Versi kedua berasal dari para Insinyur (Engineer).Mereka
lebih condong menggunakan data termodinamis dan gagasan dasar
ketetapan energi serta produksi entropi untuk menganalisis perilaku
sistem yang kompleks (Hamid, A.A., 2007).
Oleh karena itu, untuk mempelajari lebih lanjut proses dalam
termodinamika diperlukan pengamatan mengenai bagaimana proses dan
reaksi yang terjadi dalam termodinamika berdasarkan ilmu Kimia Fisika.

I.2Maksud dan Tujuan


I.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami proses yang terjadi dalam termodinamika melalui
perbandingan konsentrasi larutan dan jumlah pereaksi terhadap
perpindahan kalor suatu larutan uji.
I.2.2Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melakukan pengamatan
mengenai proses yang terjadi dalam termodinamika melalui perbandingan
konsentrasi larutan dan jumlah pereaksi terhadap perpindahan kalor suatu
larutan uji.

I.3Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah berdasarkan konversi atau
perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan (eksoterm) atau dari
lingkungan ke sistem (endoterm) yang diamati dari percobaan panas
pelarutan dan panas reaksi, dimana pada panas pelarutan terjadi
perpindahan kalor akibat adanya penambahan larutan dengan konsentrasi
yang bervariasi. Dan pada panas reaksi terjadi perpindahan kalor akibat
adanya penambahan pereaksi dengan konsentrasi yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1Teori Umum
II.1.1Definisi Termodinamika
Definisi kalor ialah : berpindahnya sesuatu dari benda bersuhu
lebih tinggi ke bendabersuhu lebih rendah, dan sesuatu ini disebut kalor
(M.W. Zemansky and R.H. Dittman, 1982).
Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = panas and dynamic =
perubahan) adalah fisika energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan
proses. Termodinamika berhubungan dekat dengan mekanika statistik di
mana banyak hubungan termodinamika berasal.Pada sistem di mana
terjadi proses perubahan wujud atau pertukaran energi, termodinamika
klasik tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan suatu proses
reaksi berlangsung). Karena alasan ini, penggunaan istilah
termodinamika biasanya merujuk pada termodinamika setimbang.
Dengan hubungan ini, konsep utama dalam termodinamika adalah proses
kuasistatik, yang diidealkan, proses super pelan. Proses termodinamika
bergantungwaktu dipelajari dalam termodinamika taksetimbang. Karena
termodinamika tidak berhubungan dengan konsep waktu, telah diusulkan
bahwa termodinamika setimbang seharusnya dinamakan termostatik
(Widoyo, T., 2010).
Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti
telah diketahui bahwa energi didalam alam dapat terwujud dalam berbagai
bentuk, selain energi panas dan kerja, yaitu energi kimia, energi listrik,
energi nuklir, energi gelombang elektromagnit, energi akibat gaya magnit,
dan lain-lain . Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuklain, baik
secara alami maupun hasil rekayasa tehnologi. Selain itu energi di alam
semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang
terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain
tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai
prinsip konservasi atau kekekalan energi (Sudjito, dkk., 2016).

II.1.2SejarahTermodinamika
Tahun 1824 Sadi Carnot, berupaya menemukan hubungan antara
panas yang digunakan dan kerja mekanik yang dihasilkan. Hasil
pemikirannya merupakan titik awal perkembangan ilmu termodinamika
klasik dan beliau dianggap sebagai Bapak Termodinamika,
mempublikasikan Refleksi pada Kekuatan Motif Api, wacana pada
efisiensi panas, kekuatan, energi dan mesin. Makalah ini diuraikan
hubungan energik dasar antara mesin Carnot, siklus Carnot, dan kekuatan
motif.Ini menandai dimulainya termodinamika sebagai ilmu pengetahuan
modern.
Tahun 1845, James P. Joule menyimpulkan bahwa panas dan kerja
adalah dua bentuk energi yang satu sama lain dapat dikonversi.
Kesimpulan ini didukung pula oleh Rudolf Clausius, Lord Kelvin (William
Thomson), Helmhozt, dan Robert Mayer.Selanjutnya, para ilmuwan ini
merumuskan hukum pertama termodinamika (1850).
Tahun 1858 Lord Kelvin telah memperkenalkan istilah
termodinamika melalui makalahnya: An Account of Carnots Theory of the
Motive Power of Heat.
Tahun 1859, William Rankine, menulis buku teks termodinamika
pertama. Dalam buku ini dituliskan tentang perubahan energi dalam dari
suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi
panas yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap
sistem
U = Q + W
Setelah mempelajari mesin Carnot, Lord Kelvin, Planck, dan
menyimpulkan bahwa pada suatu mesin siklik tidak mungkin kalor yang
diterima mesin diubah semuanya menjadi kerja, selalu ada kalor yang
dibuang oleh mesin(Widoyo, T., 2010).
II.1.3 Prinsip Termodinamika
Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara specific
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti
telah diketahui bahwa energi didalam alam dapat terwujud dalam berbagai
bentuk, selain energi panas dan kerja, yaitu energi kimia, energy listrik,
energi nuklir, energi gelombang elektromagnit, energi akibat gaya magnet,
dan lain-lain . Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik
secara alami maupun hasil rekayasa tehnologi. Selain itu energy di alam
semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang
terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain
tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai
prinsip konservasi atau kekekalan energy (Sudjito, dkk., 2016).
Prinsip termodinamika tersebut sebenarnya telah terjadi secara
alami dalam kehidupan sehari-hari. Bumi setiap hari menerima energy
gelombang elektromagnetik dari matahari, dan dibumi energi tersebut
berubah menjadi energi panas, energi angin, gelombang laut, proses
pertumbuhan berbagai tumbuh-tumbuhan dan banyak proses alam
lainnya. Proses didalam diri manusia juga merupakan proses konversi
energi yang kompleks, dari input energi kimia dalam maka nan menjadi
energi gerak berupa segala kegiatan fisik manusia, dan energi yang
sangat bernilai yaitu energi pikiran kita. Dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka prinsip alamiah dalam berbagai proses
thermodinamika direkayasa menjadi berbagai bentuk mekanisme untuk
membantu manusia dalam menjalankan kegiatannya. Mesin-mesin
transportasi darat, laut, maupun udara merupakan contoh yang sangat
kita kenal dari mesin konversi energi, yang merubah energi kimia dalam
bahan bakar atau sumber energi lain menjadi energi mekanis dalam
bentuk gerak atauperpindahan diatas permukaan bumi, bahkan sampai di
luar angkasa. Pabrik-pabrik dapat memproduksi berbagai jenis barang,
digerakkan oleh mesin pembangkit energi listrik yang menggunakan
prinsip konversi energy panas dan kerja. Untuk kenyamanan hidup, kita
memanfaatkan mesin airconditioning, mesin pemanas, dan refrigerators
yang menggunakan prinsip dasar thermodinamila (Sudjito, dkk., 2016).

II.1.4Hukum Termodinamika
a. Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa:
Jumlah kalor yang dipertukarkan antara sistem dan
lingkungan sama dengan usaha yang terjadi ditambah dengan
perubahan energi dalam sistem . Persamaan Hukum Pertama
Termodinamika :

Q = U +W

Hukum termodinamika I merupakan pernyataan dari hukum


kekekalan energi dan tidak menyatakan sesuatu apapun mengenai
arah dari proses yang berlangsung. Proses termodinamika itu dapat
berlangsung kedua arah yaitu :
1. Diekspansikan (pengembangan)
2. Dikompresikan (penekanan)

Hukum Termodinamika I juga belum menjelaskan kearah mana


suatu perubahan keadaan itu berjalan dan apakah perubahan itu
reversible atau irreversible.
Dalam pengembangannya diterangkan dan dibahas dalam
Hukum Termodinamika II. Jadi, hukum Termodinamika II, memberikan
batasan-batasan tentang arah yang dijalani suatu proses, dan
memberikan kriteria apakah proses itu reversible atau irreversible dan
salah satu akibat dari hukum termodinamika II ialah perkembangan
dari suatu sifat fisik alam yang disebut entropi (Victoria River Park,
2017).

b. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa:


Tidak mungkin panas dapat dirubah menjadi kerja seluruhnya,
tetapi sebaliknya kerjadapat dirubah menjadi panas. Atau:

Q Wseluruhnya, W Q (sama besarnya)

atau untuk mendapatkan sejumlah kerja (W) dari suatu siklus, maka
kalor (Q) yang harus diberikan kepada sistem selalu lebih besar.
Q diserap> W sehingga, siklus < 100 %

Suatu yang bekerja sebagai sebagai suatu siklus tidak dapat


memindahkan kalor (Q) dari bagian yang bertemperatur rendah ke
bagian yang bertemperatur lebih tinggi, tanpa menimbulkan perubahan
keadaan pada sistem yang lain.
Dari kedua hal tersebut diatas, menyatakan tentang arah proses
perubahan energi dalam dalam bentuk panas ke bentuk kerja yang
menyatakan adanya pembatasan transformasi.
Proses termodinamika yang melakukan proses aliran kalor dari
benda(reservoir) bersuhu rendah ke benda (reservoir) bersuhu tinggi,
seperti yang dimisalkan tersebut tidak mungkin terjadi secara spontan
(tanpa ada usaha yang diberikan ke dalam sistem).
Hal inilah yang kemudian diteliti oleh Clausius dan Kelvin-Planck
sehingga menghasilkan rumusan Hukum Kedua
Termodinamika.Berikut pernyataan Kevin-Planck dan Clausius.
1. Menurut Clausius, kalor tidak dapat berpindah dari benda bersuhu
rendah ke benda bersuhu tinggi tanpa adanya usaha luar yang
diberikan kepada sistem.
2. Menurut Kelvin-Planck, tidak mungkin membuat mesin yang
bekerja dalam suatu siklus dan menghasilkan seluruh kalor yang
diserapnya menjadi usaha (Aip Sripudin, dkk., 2009)

II.1.5 Kesetimbangan Termodinamika


Suatu benda dikatakan berada dalam keadaan kesetimbangan
termodinamik bila nilai dari besaran-besaran keadaan makroskopiknya
tidak lagi berubah dalam jangka waktu yang cukup lama. Termodinamika
hanya akan meninjau besaran-besaran keadaan setelah sistem berada
dalam kesetimbangan termodinamik. Bahkan besaran-besaran
termodinamika hanya terdenisi dalam keadaan kesetimbangan
termodinamik. Termodinamika tidak meninjau proses bagaimana suatu
sistem berubah mencapai kondisi kesetimbangan termodinamiknya,
karena itu tidak ada variabel waktu dalam relasi-relasi termodinamika
(Satriawan, M., 2013).
Kondisi kesetimbangan termodinamika jelas adalah suatu yang
sangat jauh dari realita, karena bagaimanapun suatu benda tidak akan
dapat lepas dari interaksinya dengan lingkungan, sehingga tidak mungkin
nilai besaran-besaran makroskopiknya benar-benar tidak berubah. Tetapi
kondisi mendekati kesetimbangan termodinamika sudah cukup untuk
dapat diterapkannya relasi-relasi termodinamika.Sebagai contoh hukum
radiasi benda hitam dapat diterapkan pada matahari ataupun bintang
walaupun mereka tidak benar-benar dalam keadaan kesetimbangan
termodinamik.Sehingga dengan menganalisa spektrum gelombang
elektromagnetik yang dipancarkan matahari ataupun bintang, dapat
diduga besar temperatur permukaannya (Satriawan, M., 2013).

II.1.6Manfaat Termodinamika
Ada dua pendapat mengenai pemanfaatan Termodinamika.Versi
pertama datang dari Fisikawan dan Kimiawan.Mereka lebih condong
menggunakan Termodinamika untuk meramalkan dan menghubungkan
pelbagai sifat zat di bawah pengaruh kalor dan mengembangkan data
termodinamis.Versi kedua berasal dari para Insinyur (Engineer).Mereka
lebih condong menggunakan data termodinamis dan gagasan dasar
ketetapan energi serta produksi entropi untuk menganalisis perilaku
sistem yang kompleks (Hamid, A.A., 2007).
Secara umum Termodinamika dapat dimanfaatkan untuk:
a. Menjelaskan kerja beberapa sistem termodinamis.
b. Menjelaskan mengapa suatu sistem termodinamis tidak bekerja sesuai
dengan yang diharapkan.
c. Menjelaskan mengapa suatu sistem termodinamis sama sekali tidak
mungkin dapat bekerja.
d. Landasan teoritis para Insinyur perencana dalam mendisain suatu
sistem termodinamis; misalnya: motor bakar, pompa termal, motor
roket, pusat pembangkit tenaga listrik, turbin gas, mesin pendingin,
kabel transmisi superkonduktor, LASER daya tinggi, dan mesin
pemanas surya (Hamid, A.A., 2007).

II.1.7Aplikasi Termodinamika
Aplikasi termodinamika yang begitu luas dimungkinkan karena
perkembangan ilmu termodinamika sejak abad 17 yang dipelopori dengan
penemuan mesin uap di Inggris, dan diikuti oleh para ilmuwan
termodinamika seperti Willian Rankine, Rudolph Clausius, dan Lord Kelvin
pada abad ke 19. Pengembangan ilmu termodinamika dimulai dengan
pendekatan makroskopik, yaitu sifat termodinamis didekati dari perilaku
umum partikel-partikel zat yang menjadi media pembawa energi, yang
disebut pendekatan termodinamika klasik.Pendekatan tentang sifat
termodinamis suatu zat berdasarkan perilaku kumpulan partikel-partikel
disebut pendekatan mikroskopis yang merupakan perkembangan ilmu
thermodinamika modern, atau disebut termodinamika statistik.Pendekatan
termodinamika statistik dimungkinkan karena perkembangan teknologi
komputer, yang sangat membantu dalam menganalisis data dalam jumlah
yang sangat besar (Sudjito, dkk., 2016).
Metode termodinamika digunakan oleh para insinyur untuk
merancang mesin-mesin pembakaran internal, pembangkit energy nuklir
dan konvensional, sistem pengondisi udara, sistem penggerak, propulsi
roket; misil; pesawat terbang; kapal; dan kendaraan darat, sistem magnet
dan listrik, dan sistem termolistrik (Khuriati, Ainie, 2007).
II.2 Uraian bahan
II.2.1 Aquadest (Dirjen POM, 1979 : hal 96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
RM / BM : H2O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak mempunyai rasa
Kegunaan : Pelarut
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik
II.2.2 Kalsium Karbonat (Dirjen POM, 1979 :120, Rowe et al, 2009 : 86)
Nama resmi : CALCII CARBONAS
Nama Lain : Kalsium karbonat
RM / BM : CaCO3 / 68,09
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, tidak
berasa
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan etanol 95%,
kelarutan dalam air ditingkatkan dengan
pengaruh dari garam-garam ammonium atau
karbon dioksida. Pengaruh dari alkali
hidroxida dapat mengurangi kelarutan
Kegunaan : Sampel panas reaksi
Khasiat : Antasidum
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik
II.2.3 HCl (Dirjen POM, 1979 : hal.53)
Nama resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama Lain : Asam Klorida
RM / BM : HCl / 36,46
Pemerian : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau
merangsang
Kegunaan : Pelarut
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik
II.2.4 Kalium Bromida ( Dirjen POM, 1979 : 328 ; Sweetman S.C, 2009)
Nama resmi : KALII BROMIDUM
Nama Lain : Kalium Bromida
RM / BM : KBr / 119,01
Pemerian : Putih atau hampir putih, serbuk kristal atau
kristal tak berwarna
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserol,
praktis tidak larut dalam alkohol
Kegunaan : Sampel panas pelarutan
Khasiat : Sedativum
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan yang digunakan
3.1.1 Alat
a. Batang pengaduk
b. Gelas kimia 500ml
c. Gelas ukur 25 ml
d. Pipet tetes
e. Termometer
f. Timbangan analitik
3.1.2 Bahan
a. CaCO3 1 & 2 gram
b. HCl p
c. H2O
d. Isolasi hitam
e. kBr 100mg
f. kertas perkamen
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Panas Pelarutan
a. kalium bromide (kBr) yang setara dengan 0,1 mol ditimbang
kemudian masukkan kedalam gelas kimia . tambahkan air yang
setara dengan 1 mol H2O. Aduk dan ukur suhu larutan (catat).
b. Kemudian ditambahkan lagi H2O 2,8,14 dan 20 ml .
c. Buat tabel dan grafik
3.2.2 Panas Reaksi
3.2.2.1 Panas rekasi 1 mol CaCO3
a. Ditimbang 1 mol CaCO3 masukkan kedalam gelas kimia yang
telah dibungkus isolasi hitam.
b. Dimasukkan 1 mol HCL p kedalam gelas kimia tersebut,
biarkan bereaksi aduk dan ukur suhu larutan tersebut.
c. Catat dan hitung panas reaksinya
3.2.2.2 Panas rekasi 1 mol CaCO3 dengan H2O
a. Ditimbang 1 mol CaCO3 masukkan kedalam gelas kimia yang
telah dibungkus isolasi hitam.
b. Dimasukkan 1 mol HCL p kedalam gelas kimia tersebut
c. Setelah itu tambahkan 2 mol H2O, aduk dan ukur suhu
d. Catat dan hitung panas reaksinya
3.2.2.3 Panas rekasi 2 mol CaCO3
a. Ditimbang 2 mol CaCO3 masukkan kedalam gelas kimia yang
telah dibungkus isolasi hitam.
b. Dimasukkan 1 mol HCL p kedalam gelas kimia tersebut,
biarkan bereaksi aduk dan ukur suhu larutan tersebut.
c. Catat dan hitung panas reaksinya
3.2.2.4 Panas rekasi 2 mol CaCO3 dengan H2O
a. Ditimbang 2 mol CaCO3 masukkan kedalam gelas kimia yang
telah dibungkus isolasi hitam.
b. Dimasukkan 1 mol HCL p kedalam gelas kimia tersebut
c. Setelah itu tambahkan 2 mol H2O , aduk dan ukur suhu
d. Catat dan hitung panas reaksinya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Tabel Hasil Pengamatan
IV.1.1 Panas pelarutan
Sampel Pelarut Suhu
H2O 2 ml 29 C

H2O 8 ml 31 C
100 mg KBr
H2O 14 ml 34 C

H2O 20 ml 30 C

IV.1.2 Panas reaksi


Sampel Suhu
1 gram CaCO3 + 0,1 mol HCL p 28 C
1 gram CaCO3 + 0,1 mol HCL p + 2 ml H2O 31 C
2 gram CaCO3 + 0,1 mol HCL p 31 C
2 gram CaCO3 + 0,1 mol HCL p+ 2 ml H2O 28 C

IV.2 Reaksi

CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + CO2 + H2O

IV.3 Perhitungan
0,001 mol KBr
W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,001 x 119,01
= 0,11901 gram
0,01 mol CaCO3
W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,01 x 100,09
= 1,0009 gram

0,02 mol CaCO3


W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,02 x 100,09
= 2,0012 gram

H2O (BM 18,02)


0,1 mol H2O
W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,1 x 18,02
= 1,8 ml
= 2 ml

0,2 mol H2O


W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,2 x 18,02
= 3,604 ml
= 4 ml
0,4 mol H2O
W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,4 x 18,02
= 7,2008 ml
= 7 ml

0,8 mol H2O


W
mol =
BM
W = mol x BM
= 0,8 x 18,02
= 14,416 ml
= 14 ml

1,1 mol H2O


W
mol =
BM
W = mol x BM
= 1,1 x 18,02
= 19,822 ml
= 20 ml
IV.4 Pembahasan
Termodinamika merupakan bagian dari cabang Fisika yang
namanya Termofisika (Thermal Physics).Termodinamika adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara energi dan kerja dari suatu
sistem.Termodinamika hanya mempelajari besaran-besaran yang
berskala besar (makroskopis) dari sistem yang dapat diamati dan diukur
dalam eksperimen.Besaran-besaran yang berskala kecil (mikroskopis)
dipelajari dalam Teori Kinetik Gas (Kinetic Theory of Gas) atau Fisika
Statistik (Statistical Physics) (Hamid, A.A., 2007).
Pada percobaan ini, dilakukan pengamatan megenai
termodinamika yang meliputi panas pelarutan dan panas reaksi. Panas
pelarutan ini memanfaatkan perpindahan panas dari lingkungan kesistem
sehingga disebut reaksi endoterm, sedangkan pada panas reaksi
memanfaatkan perpindahan panas dari sistem kelingkungan sehingga
disebut reaksi eksoterm.
Pada percobaan panas pelarutan digunakan sampel kBr
sebanayak 100mg yang kemudian dilarutkan pada H2O masing-masing
2ml,8ml, 14ml dan 20ml . tujuan penggunaan variasi volume ini adalah
untuk melihat bagaimana perpindahan suhu yang terjadi akibat
penambahan volume pelarut H2O . adapun pada percobaan panas reaksi
digunakan sampel CaCO3 sebanyak 1 dan 2 gram yang masing-masing
ditambahkan HCL 0,1 mol dan penambahan campuran HCL 0,1 mol dan
2 mol H2O . tujuan pengunaan variasi reaksi ini adalah untuk melihat
bagaimana perpindahan suhu yang terjadi akibat adanya reaksi pada
sampel.
Dari hasil pengamatan, diperoleh data hasil panas pelarutan untuk
sampel kBr 100mg dengan penambahan pelarut H2O sebanyak
2ml,8ml,14ml dan 20ml diperoleh suhu berturut-turut 29oC, 31oC, 34oC
dan 30oC yang artinya suhu larutan semakin bertambah dengan adanya
penambahan pelarut sampai 14ml, namun terjadi penurunan suhu pada
penambahan H2O 20ml. Sedangkan dari hasil pengamatan untuk data
panas reaksi sampel CaCO3 1 gram yang direaksikan dengan 0,1 mol
HCL dan dicampurkan o,1mol HCL dan 2 mol H2O diperoleh suhu
berturut-turut 28oC dan 31oC artinya terjadi kenaikan suhu akibat adanya
penambahan reaksi . sedangkan pada sampel CaCO3 2 gram yang
direaksikan dengan 0,1 mol HCL dan dicampurkan 0,1 mol HCL dan 2 mol
H2O diperoleh suhu berturut-turut 31oC dan 28oC, yang artinya terjadi
penambahan suhu akibat penambahan reaksi .dengan kata lain dengan
penambahan jumlah pelarut terjadi penurunan suhu .
Adapun faktor kesalahan
DAFTAR PUSTAKA

Aip Sripudin, Dede Rustiawan K., Adit Suganda. 2009. Praktis Belajar
Fisika 2 Kelas XI. Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan
Nasional. Jakarta

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Hamid, Abu Ahmad. 2007. Diktat Kuliah Termodinamika, Kalor dan


Termodinamika. Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA.
Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta

Khuriati, Ainie. 2007. Buku Ajar Termodinamika. Jurusan Fisika FMIPA.


Universitas Diponegoro. Semarang

M.W. Zemansky and R.H. Dittman. 1982. Heat and thermodynamics 6th
edition. McGraw Hill Inc. USA

Rowe et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th edition.


Pharmaceutical Press : London

Satriawan, Mirza. 2013. Termodinamika.Wordpress.pdf

Sudjito, Saifuddin Baedoewie, Agung Sugeng. 2016. Diktat


Termodinamika Dasar. Program Semi Que IV, Fakultas Teknik
Jurusan Mesin. Universitas Brawijaya. Malang

Sweetman S.C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference.


Pharmaceutical Press : London

Victoria River Park. 2017. Hukum Termodinamika. Andalan Pelajar


Indonesia.BSD City Serpong. Tangerang