Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

EKOTOKSIKOLOGI PERAIRAN
(M10A135)

Disusun oleh :
Kelompok 18 / Perikanan B

Nuraya Asfariah 230110130091


Muammar Alno 230110130114
Widi Ridwanto 230110130148

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS


PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM
STUDI PERIKANAN JATINANGOR

2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM EKOTOKSIKOLOGI PERAIRAN

Semester Ganjil, TA 2015/2016


Disusun oleh,
Kelompok : 18
Nuraya Asfariah 230110130091
Muammar Alno 230110130114
Widi Ridwanto 230110130148
Kelas : Perikanan B

Menyetujui :
Jatinangor, Desember 2015

Pembimbing Assisten Laboratorium

Mochamad Untung K. Agung, S.Kel., M.Si. Irenne Azaria


NIP 198307142006041004 NPM 230110120126
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 1

Uji Toksisitas Akut LC50-24 Jam Pyretroid 0,25 ppm


Terhadap Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Nuraya asfariah, Muammar Alno, Widi Ridwanto Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran, Jatinangor widi13001@mail.unpad.ac.id

ABSTRAK
Sifat penting yang dimiliki pestisida adalah daya racun atau toksisitas. Toksisitas
adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik/racun yang terdapat pada bahan
sebagai sediaan single dose atau campuran. Pestisida yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pyretroid dengan konsentrasi 0,25ppm. Pyretroid sintetik merupakan insektisida
sintetik buatan yang mempunyai bahan aktif menyerupai insektisida hasil alam yaitu
pyrethrum. Piretroid sintetik lebih stabil dibandingkan piretroid alami. Penelitian
dilaksanakan pada tanggal 4 November 2015. Bertempat di Labratorium Akuakultur Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada pukul 13.00 WIB, dengan hewan
uji berupa benih ikan mas yang diperoleh dari Cimalaka. Penelitian ini bertujuan untuk
memahami dan mampu melaksanakan pelaksanaan, persiapan, pernapasan, dan pengamatan
uji toksisitas akut. Waktu pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 15 menit,
30 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 16 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam. Hasil menunjukan
bahwa ikan mengalami kematian 50% pasca pemaparan 8 jam. Dengan nilai LC 50- 1.052 itu
artinya dibutuhkan konsentrasi sebesar 1.052 ppm untuk mematikan 50% dari total hewan uji.
Kata kunci : pyretroid, toksisitas, LC50-24 Jam

ABSTRACT
The essential nature owned pesticide are the potentials of poison or toxicity .Toxicity is a state of
being signifying the a toxic effect / poison which is found in materials as preparation single dose
or mixture .Pesticides used in this experiment this is pyretroid by concentration of the 0,25ppm
.Synthetic pyretroid is an insecticide synthetic artificial have the active ingredient resembling an
insecticide the natural result that is pyrethrum .Synthetic piretroid more stable than piretroid
natural .This experiment be held on on november 4, 2015 .Located in labratorium aquatics the
faculty of fisheries and marine science, padjadjaran university in 1.00 pm , to animals test of
seeds carp obtained from Cimalaka. This experiment aims to understand and able to carry out the
implementation of the , preparation , breathing , and observation acute toxicity test. Time
observation used in this experiment this is 15 minutes, 30 minutes, 1 hour, 2 hours, four hours, 8
hours, 16 hours, 24 hours, 36 hours, and 48 hours.The results showed that fish experienced the
death of 50 % after exposure to eight hours.With the LC 50- 1.052 that means needed concentration
of 1.052 ppm to mortality off 50 % of the animals test.
Keywords : pyretroid , toxicity , lc50-24 hours
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 2

PENDAHULUAN toksik di perairan yang berupa zat-zat


kimia beracun dapat berasal dari kegiatan
Limbah yang masuk ke perairan,
industri, air limbah tambang, erosi
salah satunya adalah limbah yang berasal
permukaan pada tambang terbuka,
dari pertanian yakni pestisida. Berbagai
pencucian herbisida dan insektisida serta
pestisida digunakan sebagai pengendali
akibat kecelakaan seperti tumpahnya
hama untuk meningkatkan produksi
minyak atau pecahnya tanker kimia di laut
pertanian. Pestisida yang masuk dalam
(Southwick 1976). Khusus tentang limbah
jumlah yang besar dapat bersifat racun bagi
yang berasal dari kegiatan industri (Dix
biota-biota yang hidup di perairan, antara
1981) menyatakan bahwa pencemar yang
lain adalah ikan-ikan. (Wudianto 1994).
dihasilkan sangat dipengaruhi oleh jenis
Toksisitas adalah suatu keadaan
industri.
yang menandakan adanya efek
Sifat penting yang dimiliki pestisida
toksik/racun yang terdapat pada bahan
adalah daya racun atau toksisitas. Meski
sebagai sediaan single dose atau campuran.
bahan kimia tersebut hanya dimaksudkan
Toksisitas akut ini diteliti pada hewan
untuk mematikan suatu jenis hama tertentu
percobaan yang menunjukkan evaluasi
tetapi pada hakekatnya bersifat racun untuk
keamanan dari kandungan kimia untuk
semua mahluk hidup. Hampir semua jenis
penggunaan produk rumah tangga, bahan
pestisida tidak bersifat selektif dan
tambahan makanan, kosmetik, obat-
mempunyai spektrum yang luas sebagai
obatan, (Deisy dkk 2010).
racun sehingga merupakan sumber
Jumlah kematian hewan uji dipakai
pencemaran yang potensial khususnya bagi
sebagai ukuran untuk efek toksik suatu
sumberdaya dan lingkungan perairan.
bahan (kimia) pada sekelompok hewan uji.
Penggunaan pestisida untuk memberantas
Jika dalam hal ini hewan uji dipandang
hama ternyata menimbulkan berbagai
sebagai subjek, respon berupa kematian
masalah lingkungan, antara lain terjadinya
tersebut merupakan suatu respon diskretik.
pencemaran lingkungan perairan.
Ini berarti hanya ada dua macam respon
Permasalahan tersebut berkaitan erat
yaitu ada atau tidak ada kematian (Deisy
dengan sifat pestisida yang beracun dan
dkk 2010). Berbagai senyawa kimia
dapat mempengaruhi seluruh kelompok
organik, anorganik atau mineral yang
taksonomi biota, termasuk biota bukan
dibuang ke dalam air dapat mengotori dan
sasaran (non target).
bersifat toksik sehingga dapat mematikan
Selain itu pada umumnya pestisida
ikan dan organisme air lainnya. Bahan
memiliki daya tahan yang relativ lama
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 3

untuk didegradasi di lingkungan, sehingga campuran Deltametrin dengan Triazofos;


dapat mempengaruhi ekosistim dalam Sipermetrin dengan Klorpirifos).
jangka panjang (Yudha 1999). Ikan serta Daya kerja piretroid terhadap ikan
biota air lain yang hidup di lingkungan mirip dengan daya kerja DDT
perairan yang tercemar pestisida dapat (organoklorin), tetapi pengaruh piretroid
menyerap bahan aktif pestisida dan akan kurang persisten jika dibandingkan dengan
tersimpan dalam tubuh. Dari hasil DDT. Gejala-gejala keracunan piretroid
penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan khas terjadinya keracunan
bioakumulasi pestisida (endosulfan) semakin syaraf yaitu eksitasi, konvulsi, paralisis
meningkat dengan bertambahnya konsentrasi dan kematian. Keracunan oleh piretroid
dan waktu pemaparan hingga tercapainya buatan diperkirakan disebabkan oleh
kondisi steady state. Selain itu, pengaruh akumulasi depolarizing subtance yang
lanjut dari bioakumulasi pestisida secara belum diketahui di dalam atau di luar
signifikan dapat menurunkan laju membran dan keikutsertaan beberapa
pertumbuhan dan berdampak terhadap reaksi metabolik. Dari penelitian pola
kondisi hematologis ikan (Taufik 2005). resistensi silang dan sifat konckdown,
Pyretroid sintetik merupakan piretroid dibagi dua berdasarkan cara
insektisida sintetik buatan yang mempunyai kerjanya yaitu Tipe I menyebabkan
bahan aktif menyerupai insektisida hasil eksitasi repetitive discharge pada syaraf
alam yaitu pyrethrum. Piretroid sintetik lebih perifer dan memiliki korelasi suhu negatif;
stabil dibandingkan piretroid alami dan Tipe II. Menyebabkan penghambatan
(nicotinoid, rotenoid). Mampu mengancam fungsi syaraf pusat, keracunan yang
reaktivitas dari sistem jaringan secara terkorelasi positif dengan suhu, sedangkan
keseluruhan. Dapat disimpan dalam waktu repetitive discharge tidak terjadi. Pada
lama dengan tidak menyebabkan menurun konsentrasi rendah dapat menstimulir
daya kerjanya. Merupakan insektisida denyut jantung sehingga merupakan racun
harapan baru sejak tahun 1977. Merupakan penghambat metabolisme dan sistem saraf
insektisida berdaya kerja cepat (knock (Scott dan Matsumura 1983).
down). Sebagai racun saraf, menggangu Pengaruh Pyretroid Sintetis
+ terhadap lingkungan diketahui dengan
pengarturan aliran ion Na pada membran
sel saraf. Mengandung daya paralisis melakukan uji biologis, misalnya terhadap
temporer (daya kerja yang bersifat paralisis ikan dengan melihat mekanisme fisiologis
sementara atau sangat efektif apabila disertai dari sistem hidup, yang perlu
dengan suatu sinergis, misalnya dipertimbangan sebagai faktor yang
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 4

terpengaruhi (Weiss dan Botts 1957). Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Organisme yang digunakan dalam Padjadjaran pada pukul 14.30 WIB. Uji
penelitian ini adalah ikan mas (cyprinus toksisitas dilakukan sebagaimana prosedur
carpio). yang terdapat dalam modul yaitu agar
Penelitian ini bertujuan untuk dapat menguji dan dilakukan pengamatan
memahami dan mampu melaksanakan daya toksik pada organofosfat, karbamat,
pelaksanaan, persiapan, pernapasan, dan dan pyretoid sintetik dengan berbagai
pengamatan uji toksisitas akut. konsentrasi larutan terhadap lama
Ikan mas merupakan salah satu ikan mortalitas ikan mas. Metode yang
air tawar yang mempunyai nilai ekonomis digunakan yaitu dengan metode
penting, sehingga ikan ini banyak eksperimen dan pengamatan. Prosedur
dibudidayakan. Selain dipelihara dalam dilakukan dengan berbagai macam alat dan
kolam-kolam tertentu, ikan mas sering bahan meliputi, satu buah akuarium yang
dipelihara di sawah bersama-sama dengan berfungsi sebagai wadah percobaan. Selain
tanaman padi. Kelangsungan hidup ikan itu digunakannya micropipet dimana
sangat tergantung dari kondisi perairan micropipet ini betujua untuk menghisap
tempat hidupnya. Mengingat besarnya cairan toksik yang diambil dengan
potensi pencemaran dari limbah pestisida konsentrasi larutan berukuran micro.
dalam perairan, dan adanya perbedaan Saringan digunakan sebagai alat untuk
kepentingan tersebut, maka pemakaian mengambil sampel ikan selain itu gelas
pestisida kiranya perlu dilakukan secara ukur, beaker glass, dan pengaduk kaca
cermat. Oleh karena itu dilakukan digunakan praktikan untuk
penelitian yang bertujuan untuk menghomogenkan larutan toksik dengan
mengetahui pengaruh penggunaan air.
pestisida yang mengandung bahan aktif Dalam proses uji toksisitas
fipronil dengan konsentrasi yang berbeda diperlukan bahan-bahan yang memilki
terhadap pertumbuhan biomassa mutlak, karakter toksik. Dalam penelitian ini
laju pertumbuhan spesifik dan digunakan beberapa bahan toksisitas
kelangsungan hidup benih ikan mas. diantaranya organofosfat, karbamat, pyretrod
sintetik. Selanjutnya sampel yang dgunakan
DATA DAN PENDEKATAN
yaitu benih ikan mas berukuran 2-5 cm.
Penelitian dilaksanakan pada
Dalam penelitian juga digunaka kertas label
tanggal 4 November 2015. Bertempat di
yang berfungsi untuk menandai setiap
Labratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas
perlakuan dan pengamatan. Selain itu
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 5

dalam penelitian tissue laboratorium dan 16 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam.
sarung tangan Laboratorium digunakan Pengamatan penelitian uji toksisitas akut,
sebagai alat keamanan bagi praktikan mortalitas diamati dengancara menghitung
dalam melaksanakan praktiku uji toksisitas jumlah benih ikan yang mati hingga terus
akut. Ikan yang digunakan sebagai hewan dilakukan pengamatan hingga benih ikan
uji adalah ikan mas yang berasal dari mas mati seluruhnya pada selang waktu
Cimalaka. yang sudah ditentukan
Awal dilakukannya prosedur uji
toksisitas akut terhadap benih ikan mas yaitu HASIL DAN DISKUSI
dengan persiapan benih ikan mas diawal Laju Mortalitas Benih Ikan Mas
dengan aklimatisasi benih selama 3 hari (Cyprinus carpio) dalam Bahan Toksik
gunanya untuk dilakukannya penyesuaian Pyretroid Sintesis
atau adaptasi pada benih ikan mas. Data kumulatif mortalitas ikan mas
Selanjutnya dimasukan masing-masing 10 pada penelitian ini menggunakan analisis
ekor benih ikan maskedalam akuarium yang probit dengan bantuan sebuah aplikasi epa-
telah di isi air sebanyak 3 liter dengan probit. (Wallace 1982 dalam Yosmaniar
menggunakan saringan. Lalu dimasukan 2009) untuk menentukan nilai LC50 pada
bahan toksik uji pyretroid sintetik dengan waktu 48 jam. Pengamatan kelangsungan
konsentrasi 29,17 mikroliter. Selanjutnya hidup dianalisis secara statistik
dimasukan bahan toksik tersebut tunggu menggunakan analisis ragam (ANOVA).
selama 5 menit gunanya agar bahan toksik Alat bantu untuk pengolahan data
tercampur terlebih dahulu secara homogen di menggunakan program Microsoft Office
dalam akuarium yang berisi air sebelum Excel 2013.
dimasukannya benih ikan mas. Selanjutnya Data mortalitas ikan pada
diamatinya ikan secara fisik maupun tingkah pengujian toksisitas akut lethal dengan
lakunya dalam selang waktu 15 menit, 30 menggunakan bahan toksik berupa
menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, pyretroid dengan konsentrasi 0,25 ppm dan
volume 29,17 l, adalah sebagai berikut:
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 6

Tabel 1. Mortalitas Ikan Mas

Waktu Larva ikan mas Presentase Keterangan


Dedah yang mati Mortalitas
15 menit - 0%
30 menit - 0%
1 jam - 0%
2 jam - 0%
4 jam 1 10%
8 jam 5 60%
16 jam 2 80%
24 jam 1 90%
36 jam 1 100%
48 jam - 100%

Dari data diatas dapat dilihat efek dikatakan sebagai gejala awal dari efek
toksik dari pyretroid 0,25 ppm terhadap toksisitas pyretroid 0,25 ppm. Efek tersebut
hewan uji yang berupa ikan mas berukuran terus terjadi sampai ikan benar-benar mati.
juvenil. Waktu pengamatan yang Kematian pertama ikan terjadi saat waktu
digunakan dalam penelitian ini adalah 15 pemaparan setelah 4 jam, jumlah ikan yang
menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, mati pada 4 jam setelah pemaparan adalah
16 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam. Efek satu ekor. Kemudian pada 8 jam setelah
dari bahan toksik pyretroid mulai terlihat pemaparan jumlah ikan yang mati
pada saat memasuki waktu 2 jam setelah mengalami peningkatan menjadi 5 ekor,
pemaparan. Sebelum ikan mulai mengalami sisanya ikan mengalami gangguan atau
kematian,tanda-tandasepertiikan gejala seperti yang telah disebutkan
mengalami kehilangan keseimbangan sebelumnya. Memasuki waktu 16 jam
dalam berenang, posisi kepala ikan setelah pemaparan ikan yang mati justru
menghadap ke atas atau ke bawah, ikan berkurang menjadi 2 ekor saja, dan
diam dan selelu berenang didekat batu mortalitas mencapai 100% ketika mencapai
aerasi, dan kecepatan bukaan operkulum 36 jam setelalh pemaparan.
yang melambat. Tanda-tanda tersebut dapat
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 7

Tabel 2. Tabel Mortalitas Ikan dengan Bahan Toksik Pyretroid Sintesis pada 24 jam

Bahan ToksikKonsentrasi Organisme yang Mati


I II III
Kontrol 2 0 0
0.25 ppm 10 10 10
Pyretroid 10 9 10
0.5 ppm
0.75 ppm 10 6 8

Jika dilihat dari tabel diatas, maka diberikan pada suatu media air, maka
pada perlakuan kontrol ulangak ke 1 terdapat tingkat mortalitasnya semakin tinggi.
dua ikan yang mengalami kematian, Hal ini dapat terjadi dikarenakan
kematian ini seharusnya tidak terjadi, namun tingkat ketahanan atau daya tahan tubuh
bisa saja terjadi dikarenakan karena kondisi setiap ikan itu berbeda, dalam melakukan
fisik ikan itu sendiri yang ketika digunakan penelitian ini, panjang ikan dan bobot ikan
sebagai hewan uji sedang sakit atau memang tidak diperhatikan dalam setiap
sudah tidak dalam kondisi baik, namun pada ulangannya sehingga dapat menimbulkan
ulangan kedua dan ketiga, ikan pada hasil yang tidak sesuai.
perlakuan kontrol tidak ada yang mengalami
Analisis Probit Uji Toksisitas Akut
kematian. Pada pemberian bahan toksik
(LC50 24 jam) Pyretroid Sintesis
pyretroid dengan konsentrasi 0,25 ppm
Terhadap Benih Ikan Mas (Cyprinus
semua (30) ikan uji mengalami kematian
carpio) dengan Metode Hubert (1979)
pada 24 jam. Sedangkan untuk konsentarsi
0,5 ppm jumlah ikan yang mati mengalami Berdasarkan data hasil pengamatan

penurunan menjadi 29 ikan uji. Kemudian yang telah dilakukan selama penelitian

saat konsentrasi 0,75 ppm jumlah ikan yang ekotoksikologi perairan dengan

mengalami kematian kembali berkurang menggunakan bahan toksik berupa

menjadi 24 ekor. Hal ini berlawanan dengan pyretroid dengan berbagai konsentrasi dan

teori yang diberikan bahwa semakin tinggi pengaruhnya terhadap benih ikan mas.

konsentrasi bahan toksik yang Didapatkan hasil presentase (%) mortalitas


setiap ulangannya, yang bisa dilihat pada
tabel 3.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 8

Tabel 3. Presentase Mortalitas Ikan mas

Bahan ToksikKonsentrasi Organisme yang Mati


I II III
Kontrol 20% 0% 0%
0.25 ppm 100% 100% 100%
Pyretroid 100% 90% 100%
0.5 ppm
0.75 ppm 100% 60% 80%

Berdasarkan tabel yang tersaji diatas mengalami penurunan, hal ini berbanding
dapat dilihat bahwa presentase mortalitas terbalik dengan yang seharusnya, namun
ikan mas, dengan berbagai konsentrasi hal ini masih dapat dijelaskan pada
bahan toksik berbeda-beda hasilnya. Ikan penelitian mengenai konsentrasi pelarut
pada akuarium kontrol ulangan pertama etanol, hanya konsentrasi paling tinggi
mengalami kematian sebanyak 20%, hal ini (100,03) yang menyebabkan semua ikan
dapat terjadi karena beberapa hal mati, namum pada konsentrasi 6,30 ppm
diantaranya faktor kondisi ikan yang terlihat ada pengaruh bahan uji pada ikan,
digunakan sudah tak sehat/dalam keadaan tapi beberapa saat kemudian ikan kembali
sterss karena tak mampu beradaptasi dengan pulih dikarenakan DO yang tinggi dan
baik terhadap lingkungan baru, sehingga saat adanya aerasi yang mengurangi tingkat
digunakan untuk penelitian ikan mengalami toksik bahan uji (Hinson 2000). Hal ini
kelelahan dan mati akibat stress. Namun juga dapat dikaitkan dengan penelitian
pada ulangan kedua dan ketiga, kondisi ikan ekotoksikogi perairan bahwa kandungan
baik dan sehat. Pada konsentrasi 0,25ppm oksigen terlarut atau besar kecilnya jumlah
semua ikan uji mengalami kematian okksigen yang masuk kedalam media air
sebanyak 100%, namun ketika konsentrasi juga memengaruhi tingkat ketahanan tubuh
0,5% dan 0,75% presentase mortalitas justru ikan terhadap bahan toksik.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 9

Tabel 4. Perhitungan Nilai LC50 24 jam pada benih ikan mas dengan bahan toksik
berupa Pyretroid.

D N r P X Y
(Jumlah ( Nilai
(Konsentrasi (Mortalitas (% (Log XY
Hewan Probit %
Uji) Hewan uji) Mortalitas) Konsentrasi)
uji) Mortalitas)
0,25 ppm 10 10 100% -0,602059991 8,09 5,654667
0,25 ppm 10 10 100% -0,602059991 8,09 5,654667
0,25 ppm 10 10 100% -0,602059991 8,09 5,654667
Jumlah -1,806179973 24,27 16,964001
1 ( ) 16,94001 1( 1,806179973 x 24,27) 31,552006

b= 1
= 3

1
= = 542970,33
0,00005811
2 2 1,087428698 3,2622866095
( )
3

a = 13 ( ) = 13 (24,27 542970 1,806179973) = -980677,27


m = 5 = 5542970,33980677,27 = 980677,27542975,33 = -0,553

anti log m = 3,572

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Adapun kesimpulan dari penelitian ini Connell, D. W. Kimia dan Ekotoksikologi


Pencemaran. Jakarta: UI Press,
adalah sebagai berikut :
(1995): 1-76.
1. Nilai LC50 24 jam pyretroid sintetik Deisy dkk. 2010. Uji Toksisitas Oli Bekas
Terhadap Tanaman Kacang Hijau.
terhadap ikan mas yaitu 1,052 ppm
Program studi pendidikan biologi
2. Semakin tinggi konsentrasi pyretroid Universitas Ahmad Dahlan.
Yogyakarta.
yang diberikan semakin sedikit pula ikan Irawan, Oktarinaldi.2014. Efek Pelarut Yang
yang mengalami mortalitas. Berbeda Terhadap Toksisitas
Ekstrak Akar Tuba (Derris
UCAPAN TERIMAKASIH Elliptica).Jurnal Rekayasa dan
Teknologi Budidaya Perairan
Terimakasih kami mengucapkan kepada Volume II No 2
Siti Rudiyanti dkk.2009. Pertumbuhan Dan
semua pihak yang terlibat selama proses Survival Rate Ikan Mas (Cyprinus
penelitian ekotoksikologi perairan, Carpio Linn) Pada Berbagai
Konsentrasi Pestisida Regent 0,3
terutama Dosen dan Asisten penelitian. G . Program Studi Manajemen
Sumberdaya Perairan . Jurusan
Perikanan, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Universitas
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 10

Diponegoro Jl. Prof. Soedharto,


SH Semarang
Susanto, Aris. 2014. Toksisitas Limbah
Cair Lateks Terhadap Jumlah
Eritrosit, Jumlah Leukosit Dan
Kadar Glukosa Darah Ikan Patin
(Pangasius Sp.). Fakultas
Pertanian. Universitas Sriwijaya.
Palembang.Jurnal Akuakultur
Rawa Indonesia
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 11

LAMPIRAN

Lampiran 1. Prosedur Praktikum

Disiapkan benih ikan mas

Benih ikan diaklimatisasi selama 3 hari

Konsentrasi bahan toksik dihitung

Akuarium dibersihkan

Dimasukan air sebanyak 7000ml kedalam akuarium

Dipasangkan aerasi

Lakukan pengambilan bahan toksik dengan mikropipet

Bahan toksik uji (Organofosfat/Karbamat/Piretroid sintetik)


dimasukan kedalam akuarium

Dibiarkan larut selama 10 menit

Dimasukan 10 ikan kedalam akuarium

Dilakukan pengamatan selama 48 jam dengan selang pengamatan 15 menit, 30 menit, 1


jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 16 jam, 24 jam dan 48 jam.

Diamati mortalitasnya dengan cara menghitung jumlah benih yang


yang mati.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 12

Lampiran 2. Alat dan Bahan

Gelas Ukur Saringan

Gelas ukur Wadah mikropipet

Skala pada mikropipet Mikropipet


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 13

Mikropipet Akuarium percobaan

Benih Ikan Mas Pyretroid Sintetik

Larutan Pyretroid sintetik Mortalitas Ikan


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 14

Lampiran 3. Analisis EPA PROBIT

EPA PROBIT ANALYSIS PROGRAM USED FOR CALCULATING LC/EC VALUES


Version 1.5

Proportion
Observed Responding Predicted
Number Number Proportion Adjusted for Proportion

Conc. Exposed Resp. Responding Controls Responding


0.2500 30 30 1.0000 1.0000 0.9998
0.5000 30 29 0.9667 0.9667 0.9675
0.7500 30 24 0.8000 0.8000 0.7993

Chi - Square for Heterogeneity (calculated) = 0.005 Chi - Square for


Heterogeneity (tabular value at 0.05 level) = 3.841
Mu = 0.022027
Sigma = -0.175120
Parameter Estimate Std. Err. 95% Confidence Limits

---------------------------------------------------------------------
Intercept 5.125783 0.520968 ( 4.104686, 6.146880)
Slope -5.710367 2.727504 ( -11.056274, -0.364459)

Theoretical Spontaneous Response Rate = 0.0000


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 15

Lampiran 4. Nilai LC50 24 Jam

Estimated LC/EC Values and Confidence Limits

Exposure 95% Confidence Limits


Point Conc. Lower Upper

LC/EC 1.00 2.688 %1830249472.000 1.359

LC/EC 5.00 2.042 24784970.000 1.176


LC/EC 10.00 1.764 2502425.750 1.087
LC/EC 15.00 1.598 532649.938 1.031
LC/EC 50.00 1.052 777.224 0.816
LC/EC 85.00 0.693 1.487 0.493
LC/EC 90.00 0.627 0.795 0.186
LC/EC 95.00 0.542 0.649 0.021
LC/EC 99.00 0.412 0.540 0.000
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 16
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 1

Uji Toksisitas Sublethal dengan Menggunakan Piretroid Sintetik 0,10 ppm Terhadap
Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Nuraya asfariah, Muammar Alno, Widi Ridwanto Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran, Jatinangor widi13001@mail.unpad.ac.id

ABSTRAK
Uji toksisitas subletal merupakan bagian dari uji toksisitas kuantitatif yang dilakukan dengan
pendedahan larutan bahan kimia atau polutan dalam jangka waktu relative lama (beberapa hari,
minggu). Pyretroid sintetik merupakan insektisida sintetik buatan yang mempunyai bahan aktif
menyerupai insektisida hasil alam yaitu pyrethrum. Daya kerja piretroid terhadap ikan mirip
dengan daya kerja DDT (organoklorin), tetapi pengaruh piretroid kurang persisten jika
dibandingkan dengan DDT. Gejala-gejala keracunan piretroid menunjukkan khas terjadinya
keracunan syaraf yaitu eksitasi, konvulsi, paralisis dan kematian. Penelitian dilaksanakan pada
tanggal 11 November 2015. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada pukul 14.30 WIB, dengan hewan uji berupa
benih ikan mas yang diperoleh dari Cimalaka. Uji toksisitas sublethal ini bertujuan agar dapat
memahaai dan mampu melaksanakan persiapan, pemaparan, dan pengamatan uji toksisitas
sublethal, uji ini juga bertujuan untuk dapat memahami dan mampu melaksanakan analisis data
hasil pengamatan. Pada uji sublethal ini, survivel rate yang didapatkan adalah 0
% yang artinya benih ikan Mas mengalami mortalitas sebesar 100%. Kematian yang tak
didinginkan tersebut terjadi setelah sebelum 24 jam pemaparan.

Kata kunci : toksisitas, piretroid, , Sublethal

ABSTRACT
Test subletal toxicity is part of the trial quantitative toxicity performed with solution chemicals or
pollutants within the period of relative long time ( a few days , weeks .Synthetic pyretroid is an
insecticide synthetic artificial have the active ingredient resembling an insecticide the natural
result that is pyrethrum. Power piretroid to work of fish similar to with a capacity of work DDT
(organoklorin) , but the influence of piretroid less persistent compared to ddt. Symptoms
poisoning piretroid show typical the poisoning nerve namely excitation , convulsion
, from and death .Research carried out on 11 November 2015 .Located in labratorium
physiology aquatic animals the faculty fisheries and of marine science padjadjaran university
in 2.30 pm wib , to animals test of seeds carp obtained from cimalaka . Of its toxicity
sublethal test is intended to can memahaai and capable of performing preparation , exposure ,
and observation of its toxicity sublethal test , test is also intended to be able to understand and
capable of performing data analysis the result of the observation .By the experiment sublethal
this , survivel rate that was obtained is 0 % which means seed carp experienced mortalitas as
much as 100 percent .Death that did not cooled was made just after 24 hours before the
exposure.

Keywords : toksisitas, piretroid, , Sublethal


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 2

PENDAHULUAN perkembangannya sangat cepat.


Uji toksisitas subletal merupakan Keunggulan piretroid sintetik karena
bagian dari uji toksisitas kuantitatif yang memiliki pengaruh knock down atau
dilakukan dengan pendedahan larutan mematikan serangga dengan cepat.
bahan kimia atau polutan dalam jangka Tingkat toksisitas rendah bagi manusia.
waktu relative lama (beberapa hari, Pyretroid sintetik merupakan insektisida
minggu). Pestisida adalah substansi kimia sintetik buatan yang mempunyai bahan
dan bahan lain serta jasad renik dan virus aktif menyerupai insektisida hasil alam
yang digunakan untuk mengendalikan yaitu pyrethrum. Piretroid sintetik lebih
berbagai hama. Hama disini sangat luas, stabil dibandingkan piretroid alami
yaitu serangga, tungau, tumbuhan (nicotinoid, rotenoid). Mampu mengancam
pengganggu, penyakit tanaman yang reaktivitas dari sistem jaringan secara
disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria keseluruhan. Dapat disimpan dalam waktu
dan virus, kemudian nematoda (bentuknya lama dengan tidak menyebabkan menurun
seperti cacing dengan ukuran daya kerjanya.
mikroskopis), siput, tikus, burung dan Piretroid dan yang berasal dari
hewan lain yang dianggap merugikan. tanaman lainnya Piretroid berasal dari
Sedangkan menurut The United piretrum diperoleh dari bunga
States Federal Environmental Pesticide Chrysanthemum cinerariaefolium.
Control Act, pestisida adalah semua zat atau Insektisida tanaman lain adalah
campuran zat yang khusus untuk nikotin yang sangat toksik secara akut dan
memberantas atau mencegah gangguan bekerja pada susunan saraf. Daya kerja
serangga, binatang pengerat, nematoda, piretroid terhadap ikan mirip dengan daya
cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik kerja DDT (organoklorin), tetapi pengaruh
yang dianggap hama kecuali virus, bakteria piretroid kurang persisten jika
atau jasad renik yang terdapat pada manusia dibandingkan dengan DDT. Gejala-gejala
dan binatang lainnya. Atau semua zat atau keracunan piretroid menunjukkan khas
campuran zat yang digunakan sebagai terjadinya keracunan syaraf yaitu eksitasi,
pengatur pertumbuhan tanaman. konvulsi, paralisis dan kematian.
Piretroid yang digunakan dalam Keracunan oleh piretroid buatan
penelitian ini merupakan kelompok diperkirakan disebabkan oleh akumulasi
insektisida organik sintetik konvensional depolarizing subtance yang belum
yang paling baru, digunakan secara luas diketahui di dalam atau di luar membran
sejak tahun 1970-an dan saat ini dan keikutsertaan beberapa reaksi
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 3

metabolik. Dari penelitian pola resistensi pakan alami, ikan ini mengaduk
silang dan sifat konckdown, piretroid Lumpur,memangsa larva insekta,cacing-
dibagi dua berdasarkan cara kerjanya yaitu cacing mollusca (Djarijah 2001).
Tipe I menyebabkan eksitasi repetitive Banyak faktor yang bisa
discharge pada syaraf perifer dan memiliki mempengaruhi organisme dalam
korelasi suhu negatif; dan Tipe II. melakukan aktivitasnya contohnya pengaruh
Menyebabkan penghambatan fungsi syaraf dari luar seperti lingkungan dan pengaruh
pusat, keracunan yang terkorelasi positif dalam yang berasal dari organisme itu
dengan suhu, sedangkan repetitive sendiri. Salah satu faktor lain yang
discharge tidak terjadi. Pada konsentrasi mempengaruhi aktivitas organisme adalah
rendah dapat menstimulir denyut jantung suhu dimana suhu mempunyai rentang yang
sehingga merupakan racun penghambat dapat ditolelir oleh setiap jenis organisme.
metabolisme dan sistem saraf (Scott dan Suhu mempunyai peranan penting dalam
Matsumura 1983). mengatur aktivitas biologis organisme baik
Ikan mas termasuk famili hewan maupun manusia (Ramadhani 2011).
Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri
umum, badan ikan mas berbentuk Kehadiran dan keberhasilan suatu
memanjang dan sedikit pipih ke samping organisme tergantung pada lengkapnya
(Compresed) dan mulutnya terletak di keadaan, ketiadaan atau kegagalan suatu
ujung tengah (terminal), dan dapat di organisme dapat dikendalikan oleh
sembulka, di bagian mulut di hiasi dua kekurangan maupun kelebihan baik secar
pasang sungut, yang kadang-kadang satu kualitatif maupun secara kuantitatif dari
pasang di antaranya kurang sempurna dan salah satu dari beberapa faktor yang
warna badan sangat beragam (Susanto mungkin mendekati batas-batas toleransi
2007) organisme tersebut. Faktor-faktor yang
Ikan mas dapat tumbuh normal, jika mendekati batas biotik tersebut meliputi
lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian komponen biotik dan komponen abiotik
antara 150 m sampai 1000 m diatas yang berpengaruh terhadap kehidupan
o
permukaan laut, dengan suhu 20 C sampai organisme tersebut. Komponen biotik yang
o dimaksud tidak terbatas pada tersedianya
25 C pH air antara 7-8 (Herlina 2002). Ikan
ini merupakan ikan pemakan organisme unsur-unsur yang dibutuhkan, tetapi
hewan kecil atau renik ataupun tumbuh- mencakup pula temperatur, sinar matahari,
tumbuhan (omnivore). Kolam yang di air dan sebagainya. Tiap organisme
bangun dari tanah banyak mengandung mempunyai batas maksimum dan minimum
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 4

terhadap faktor-faktor tersebut, dengan


kisaran diantaranya batas-batas toleransi
(Udom 1989).

DATA DAN PENDEKATAN Dalam proses uji toksisitas sub-


Penelitian dilaksanakan pada lethal diperlukan bahan-bahan yang memilki
tanggal 11 November 2015. Bertempat di karakter toksik. Dalam penelitian ini
Laboratorium Fisiologi Hewan Air digunakan beberapa bahan toksisitas
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan diantaranya organofosfat, karbamat,dan
Universitas Padjadjaran pada pukul 14.30 pyretrod sintetik. Selanjutnya sampel yang
WIB. Uji toksisitas sub-lethal dilakukan dgunakan yaitu benih ikan mas berukuran 2-
sebagaimana prosedur yang terdapat dalam 5 cm. Dalam penelitian juga digunakan
modul yaitu agar dapat menguji dan kertas label yang berfungsi untuk menandai
dilakukan pengamatan daya toksik pada setiap perlakuan dan pengamatan. Selain itu
organofosfat, karbamat, pyretoid sintetik, dalam penelitian tissue laboratorium dan
dan organofosfat + karbamat dengan sarung tangan Laboratorium digunakan
berbagai konsentrasi larutan terhadap lama sebagai alat keamanan bagi praktikan dalam
mortalitas ikan mas. Metode yang melaksanakan praktikum uji toksisitas sub-
digunakan yaitu dengan metode lethal. Ikan yang digunakan sebagai hewan
eksperimen dan pengamatan. Prosedur uji adalah ikan mas yang berasal dari
dilakukan dengan berbagai macam alat dan Cimalaka.
bahan meliputi, satu buah akuarium yang Awal dilakukannya prosedur uji
berfungsi sebagai wadah percobaan. Selain toksisitas sub-lethal terhadap benih ikan
itu digunakannya micropipet dimana mas yaitu dengan persiapan benih ikan
micropipet ini betujuan untuk menghisap mas diawal dengan aklimatisasi benih
cairan toksik yang diambil dengan selama 3 hari gunanya untuk dilakukannya
konsentrasi larutan berukuran micro. penyesuaian atau adaptasi pada benih ikan
Saringan digunakan sebagai alat untuk mas. Selanjutnya dimasukan masing-
mengambil sampel ikan selain itu gelas masing 10 ekor benih ikan mas kedalam
ukur, beaker glass, dan pengaduk kaca akuarium yang telah di isi air sebanyak 3
digunakan praktikan untuk liter dengan menggunakan saringan. Lalu
menghomogenkan larutan toksik dengan dimasukan bahan toksik uji pyretroid
air. sintetik dengan konsentrasi 0,10 ppm.
Selanjutnya dimasukan bahan toksik
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 5

tersebut tunggu selama 5 menit gunanya mampu melaksanakan analisis data hasil
agar bahan toksik tercampur terlebih pengamatan.
dahulu secara homogen di dalam akuarium
PEMBAHASAN
yang berisi air sebelum dimasukannya
Data kumulatif mortalitas ikan mas
benih ikan mas. Selanjutnya diamatinya
pada penelitian ini menggunakan analisis
ikan secara fisik maupun tingkah lakunya
probit dengan bantuan sebuah aplikasi epa-
dalam 1 jam pertama berikutnya 1 minggu
probit. (Wallace 1982 dalam Yosmaniar
dan diberi pakan
2009) untuk menentukan nilai LC50 pada
Pengamatan penelitian uji
waktu 168 jam. Pengamatan kelangsungan
toksisitas sub-lethal, mortalitas diamati
hidup dianalisis secara statistik
dengan cara mengamati gejala fisiologis,
menggunakan analisis ragam (ANOVA).
dan gejala klinis benih ikan hingga benih
Alat bantu untuk pengolahan data
ikan mas mati seluruhnya pada selang
menggunakan program Microsoft Office
waktu yang sudah ditentukan.
Excel 2013. Data mortalitas ikan pada
Uji toksisitas sublethal ini bertujuan
pengujian toksisitas sub lethal dengan
agar dapat memahaai dan mampu
menggunakan bahan toksik berupa pyretroid
melaksanakan persiapan, pemaparan, dan
dengan konsentrasi 0,10 ppm dan volume
pengamatan uji toksisitas sublethal, uji ini
11,67 l, adalah sebagai berikut:
juga bertujuan untuk dapat memahami dan

Tabel 1. Data Kelompok Mortalitas Ikan Pada Pengujian Toksisitas Sublethal

Gejala Fisiologis Gejala Survival


Kel. Ulangan Konsentrasi T PH DO
Rataan Rataan Klinis Rate
GO AG

18 4 0,10 ppm 83 ++ ++ 0 26 7,29 2,5


Dari data diatas diketahui bahwa kelompok ppm. Konsentrasi yang digunakan uji
18 memiliki survivel rate 0 % yang artinya toksisitas sublethal lebih rendah
benih ikan Mas mengalami mortalitas dibandingkan dengan konsentrasi uji
sebesar 100% dalam jangka waktu 24 jam. toksisitas akut yang mecapai 0,25 ppm,
Mortalitas tersebut terjadi dikarenakan efek harapannya dalam uji toksisitas sublethal
dari bahan toksik yang digunakan berupa ikan mas dapat lebih lambat mengalami
Pyretroid sintetik dengan konsentrasi 0,10 mortalitas sehingga dapat diketahui tingkah
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 6

laku ikan selama 7 hari pengamatan. pada ikan terhadap penyebab


Sebelum ikan-ikan mengalami kematian stres (stressor) salinitas, ph, cahaya,
atau mortalitas, pada pengamatan awal pemeliharaan) maupun faktor biotik seperti
belum terjadi gejala-gejala yang terlihat infeksi. Menurut Hasser (1960) naiknya
secara visual namun apabila dilihat dari glukosa darah menandakan bahwa ikan
gerak rata-rata operkulum sebanyak 83 sedang kenyang, artinya nafsu makan
kali/menit dengan suhu rata-rata air 26C. berkurang karena energi yang dibutuhkan
Menurut standar baku mutu PP No. oleh tubuh terpenuhi. Sebaliknya, pada saat
82 Tahun 2001 (kelas II), tentang kadar glukosa darah turun, maka ikan akan
Pengelolaan Kualitas Air Dan merasa lapar sehingga diperlukan makanan
Pengendalian Pencemaran Air.), kisaran untuk memenuhi kebutuhan energinya. Pada
suhu untuk kegiatan budidaya ikan air saat ikan stress menyebabkan kadar glukosa
tawar adalah deviasi 3 sedangkan toleransi dalam darah terus naik yang diperlukan
suhu perairan yang baik untuk menunjang untuk mengatasi homeostasis dan insulin
pertumbuhan optimal dari beberapa ikan akan menurun. Dengan tingginya kadar
budidaya air tawar seperti mas dan nila glukosa di dalam darah tersebut maka sinyal
adalah 28 C. 12 dari pusat saraf menandakan bahwa ikan
Berdasarkan standart baku mutu PP merasa kenyang, dan ikan tidak mau makan.
No. 82 Tahun 2001 (kelas II), menyatakan
pH yang baik untuk kegiatan budidaya Faktor berikutnya yaitu kurangnya
ikan air tawar berkisar antara 6 - 9. aerasi yang dihasilkan dari aerator sebagai
Menurut Boyd (1979) pH yang baik untuk salah satu penyebab kematian benih ikan
budidaya ikan adalah antara 6,8 - 8,5. mas yang dikarenakan terbatasnya oksigen
Apabila pH yang sangat rendah, terlarut dalam air. Kelarutan oksigen dalam
menyebabkan kelarutan logam-logam kolam air budidaya sangatlah penting.
dalam air makin besar, akan bersifat toksik Karena oksigen berfungsi untuk respirasi
bagi organisme air, sebaliknya pH yang bagi ikan. Oksigen diperlukan tubuh ikan
tinggi dapat meningkatkan kosentrasi untuk proses pembakaran makanan pada
amoniak dalam air yang juga bersifat tubuh ikan. Kekurangan oksigen terlarut
toksik bagi organisme air. dalam air dapat mengganggu pertumbuhan
Faktor - faktor lain yang dan aktifitas gerak dari ikan. Disamping itu
menyebabkan benih ikan mengalami oksigen diperlukan untuk mempercepat
kematian salah satunya dikarenakan ikan penguraian kotoran ikan, dengan jumlah
stress. Stres merupakan respon bertahan aerasi yang kurang maka penguraian
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 7

terhadap kotoran ikan lambat dan pada konsentrasi yang sesuai dengan uji
akhirnya akan mengendap sehingga toksisitas sublethal. Berdasarkan
membentuk amoniak yaitu racun bagi ikan pengamatan secara visual selain adanya
itu sendiri. Pengendapan pakan dalam penambahan bahan uji sebagai faktor dari
akuarium dikarenakan pakan yang salah satu laju mortalitas ikan, penyakit
diberikan tidak dimakan oleh ikan menjadi pada ikan juga menjadi alasan cepatnya
alasan lainnya selain kotoran yang mortalitas pada ikan kelompok 18. Gejala
mengendap paka juga dapat mengendap seperti pembekakan insang dan badan
didasar akuarium yang membentuk amonia (Myxosporesis) lalu tutup insang selalu
racun bagi ikan. Air yang sudah tercemar terbuka oleh bintik kemerahan, bagian
Amonia (NH3), maka ikan akan bergerak punggung terjadi pendarahan. Penyakit
secara lamban dan nafsu makan ikan akan pada ikan bisa disebabkan oleh berbagai
berkurang. Akumulasi bahan organik akan hal salah satunya yaitu lingkungan dimana
menyebabkan terjadinya pembentukan lingkungan merupakan tempat organisme
senyawa-senyawa yang beracun bagi ikan, tak dikenal tumbuh dan menyelimuti
mineralisasi nutrient dari bahan organik bagian terluar ikan hingga organ dalamnya
dan penyerapan oksigen yang tinggi sebagai tempat hidup atau inangnya.
(Hopkins et al 1994) sehingga Kurangnya sterilisasi akuarium bisa jadi
mempercepat penurunan kualitas air. sebab tumbuhnya organisme tersebut,
Mineralisasi bahan organik nitrogen yang pembersihan lingkungan ikan sangat
terdiri atas protein dan asam amino akan dibutuhkan demi menunjang kehidupan
menghasilkan nitrogen anorganik, yaitu ikan. Pada skala besar budidaya misalnya
ammonia (NH3), nitrit (NO2) dan nitrat dengan menggunakan acriplafin dan
(NO3) (Spotte 1992). Berdasarkan hal kaporit dengan konsentrasi yang disesuaikan
tersebut penyiponan menjadi penting untuk dengan volume wadah, sedangkan pada
dilakukan setiap terjadi pengendapan skala kecil atau Lab dapat menggunakan
pakan dan feses mengingat bahwa hal sabun biasa hingga tidak tersisa jamur yang
tersbut dapat menimbulkan racun pada menempel pada bagian kaca. Menurut (Lay
benih ikan mas. 1994) yang menyatakan bila alat yang
Kontaminasi bahan uji merupakan dipakai tidak steril maka terjadi kontaminasi
faktor primer dimana pyretroid sintetik yanng dapat
digunakan untuk mengetahui laju merusak kelangsungan kerja
mortalitas dan tingkah laku ikan LC50 dilaboratorium tersebut.
selama 168 jam/7hari dengan jumlah
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 8

Berdasarkan dari data yang didapat sublethal masih dirasa sangat kuat sebab
dalam uji toksisitas sublethal konsentrasi ikan hanya bertahan hingga hari ke
sudah ditentukan sebelumnya namun tetap 2/kurang lebih 24 jam.
saja menurut kami dosis tak sesuai dengan
LC50 selama 168 jam walaupun konsentrasi
sudah diturunkan berawal dari uji toksisitas
akut yang memiliki konsentrasi sebesar
0,25 ppm menjadi 0,10 uji toksisitas

Tabel 2. Data Kelompok Mortalitas Ikan Pada Pengujian Toksisitas Sublethal

Ula Konsen Gejala fisiologis Gejala Survival T DO


Kel. ngan trasi GO AG Klinis Rate (oC) PH (mg/l)
Rata-rata Rata-rata (%)
1 0,20 ppm 84 ++ + 0 26 0 2,5
2 B 60 + + 0 25 7,83 0
3 1 0,10 ppm 60 ++ ++ 0 25 7,82 0
4 0,05 ppm 89 ++ + 60 26 0 2,5
5 Kontrol 96 ++ ++ 100 26,5 7,99 0
6 0,20 ppm 75 ++ ++ 0 25 7,8 0
7 0,15 ppm 278 + ++ 0 27 7,77 0
8 2 0,10 ppm 61 + + 0 28 0 2,5
9 0,05 ppm 95 ++ + 60 25,5 7,71 0
10 Kontrol 144 ++ ++ 0 27 0 0
11 0,20 ppm 78 ++ ++ 0 26 7,86 0
12 0,15 ppm 51 ++ ++ 0 26 0 2,5
13 3 0,10 ppm 67 ++ ++ 0 25 7,69 0
14 0,05 ppm 43 ++ ++ 0 27 7,5 0
15 Kontrol 127 ++ + 80 25,26 7,8 0
16 0,20 ppm 379 ++ + 0 26 0 2,5
17 0,15 ppm 158 + +++ 0 25 0 0
18 4 0,10 ppm 83 ++ ++ 0 26 7,29 0
19 0,05 ppm 90 + ++ 20 26 7,29 2,5
20 Kontrol 103 ++ ++ 100 26 0 0
Data diatas dapat kita tranformasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui berapa besar
nilai perbedaan yang terjadi antar perlakuan.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 9

Gerak Operkulum Rata-rata


400
350
300
250
200
150
100
50
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Gerak operculum Rata-rata

Gambar 1. Grafik Geerak Operkulum Rata-rata Benih Ikan Mas

Berdasarkan tabel diatas Survivel rate pada kelompok 18 0% yang


menunjukan bahwa gerak operculum benih artinya benih ikan mengalami mortalitas
ikan dipengaruhi oleh suhu, DO, dan bahan pada hari ke 2 pada pengulangan ke 4. Pada
uji yang digunakan. Berdasarkan grafik uji kontrol di ulangan ke 4 mengalami SR
tersebut diketahui bahwa gerak operculum yang sempurna yaitu keberhasilan SR
per menit setiap kelompok berbeda-beda. mencapai 100% dikarenakan selama 7 hari
Rata-rata gerak operculum dengan bahan uji perawatan yang baik dilakukan seperti
lebih rendah dibandingkan dengan uji pemberian pakan yang rutin. Pemberian
kontrol. Tersebut disebabkan karena uji pakan yang diberikan yaitu 3% dari bobot
kontrol tidak menggunakan bahan uji toksik benih ikan mas selama 7 hari. Tanpa adanya
dengan begitu lingkungan ikan cenderung bahan uji toksik juga menjadi penyebab
lebih stabil sejalan dengan gerak utama SR kontrol 100%, sedangkan pada
operculumnya. Menurut (Huet 1971) ikan kelompok dengan pemberian uji toksik 0,05
yang berukuran kecil akan membutuhkan ppm pada pengulangan ke 4 mengalami SR
oksigen lebih banyak dari pada ikan yang 20% hal tersebut disebabkan oleh rendahnya
berukuran besar dengan bobot populasi yang konsentrasi yang diberikan
sama. Menurut literatur tersebut bobot ikan sehingga masuk ke dalam kategori uji
dapat menjadi tolak ukur sebab dalam satu toksisitas sublethal. Rata gerak operkulum
akuarium terdapat 5 ekor ikan dengan benih ikan mas pada setiap kelompoknya
memiliki bobot rata-rata 6,14 gr/ekor dengan adalah 111 kali dalam satu menit.
volume 7 liter air. sedangkan untuk rataan buka tutup
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 10

operkulum terendah adalah 43 dan rataan karena dampak langung dari paparan bahan
buka tutup operkulum terrendah adalah toksik yang membuat ikan membuat ikan
379. Perbedaan yang sangat jauh ini dapat kesulitan untuk mengambil oksigen dalam
disebabkan karena faktor internal ikan, air, sehingga mempercepat laju
seperti kesehatan ikan yang stress, atau juga pernapasannya.
dapat dikarenakan faktor eksternal yaitu

KESIMPULAN
Pada uji sublethal ini, survivel rate yang Kematian ini dapat disebabkan karena
didapatkan adalah 0 % yang artinya benih kondisi ikan yang stress saat pelaksanaan
ikan Mas mengalami mortalitas sebesar penelitian, kondisi aerator akuarium yang
100%. Kematian yang tak didinginkan kurang baik, dan pakan yang diberikan tak
tersebut terjadi setelah sebelum 24 jam dihabiskan, sehingga enimbulkan banyak
pemaparan ammonia.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kami mengucapkan kepada penelitian ekotoksikologi perairan,
semua pihak yang terlibat selama proses terutama Dosen dan Asisten penelitian

DAFTAR PUSTAKA
Blaxhall, P.C 1973. The Haemothological Publishing Company Amsterdam
Assessment of The Health of Fresh New York.
Water Fish. A Review of Selected Djarijah.2001. Budidaya Jmaur Tiram
Literature. Journal of Fish Biology Putih. Kanisius. Yogyakarta
4 : 593-604. Udom, P.Eugene. 1987. Dasarr-Dasar
Boyd CE, F. Lichkopper, 1979. Water Biologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
Quality Managemen in Pont Fish
Universty
culture. Aubum Univercity
Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem
Agricultural Experimental Station.
Biologi Mahluk Hidup. Universitas
Alabama.
Indonesia Press. Jakarta
Boyd CE, F. Lichkopper, 1982. Water
Lay. B. W. 1994. Analisis Mikrobiologi da
Quality management For Pond Fish
Laboraorium. Raja Grafindo
culture. Elsevier Scientific
Persada. Jakarta
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 11

LAMPIRAN
Lampiran 1. Prosedur

Persiapan Uji Sub-Lethal

Ikan uji diaklimatisasi di dalam bak fiber selama 3 hari di


laboratorium dengan aerasi yang cukup

Akuarium dibersihkan dan dibilas dengan air bersih, lalu isi sebanyak
15 liter (sebagai volume kerja) dengan air ledeng

Alat aerasi (blower/aerator) beserta perlengkapannya seperti


selang aerasi, batu aerasi, pengatur bukaan udara dan penempel
selang aerasi disetting pada posisi yang sesuai

Kabel blower/aerator disambungkan ke dalam sumber arus listrik dan


diatur volume aerasi sesuai dengan kebutuhan.

Pelaksanaan Uji Sub-Lethal

Dibuat konsentrasi stock dari bahan uji (organofosfat, karbamat, dan


piretroid sintetik, Organofosfat + Karbamat).

Ke dalam akuarium, dimasukkan masing-masing 10 ekor ikan uji


(sesuai dengan Kelas Ukuran Ikan) kecuali ikan besar sebanyak 5
ekor, ditunggu beberapa saat hingga ikan uji terlihat sudah
teradaptasi dengan lingkungan akuarium.

Diambil secara acak 3 (tiga) ikan uji dari setiap akuarium untuk
ditimbang bobot awal masing-masing, dirata-ratakan, dan
ditempatkan kembali ikan-ikan tersebut ke dalam akuarium.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 12

Ke dalam akuarium, ditambahkan bahan uji hingga konsentrasi akhir


bahan uji di dalam akuarium tersebut sebesar 25%, 50% dan 75% dari
nilai LC50 (Konsentrasi Sub- Lethal yang ditetapkan) Tentukan
berapa volume larutan stock yang harus diambil (dihitung dengan
Rumus Pengenceran);

Diaduk perlahan hingga bahan uji larut sempurna dalam air akuarium.

Pengamatan Uji Sub-Lethal

Pengamatan ikan uji dilakukan pada satu jam pertama dilanjutkan


dengan pengamatan harian selama satu minggu.

Pemberian pakan diberikan setiap hari sebanyak setengah sendok kecil


dan disifon setiap hari dengan mengganti air sebanyak yang dibuang
dengan air media sesuai konsentrasi yang ditetapkan.

Dibuat grafik gerak operculum per kelompok dan per kelas serta grafik
Survival Rate (SR) ikan uji.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 13

Lampiran 2. Hasil Praktikum

Stok Pyretroid Sintetik Termometer

Breaker glass, pipet, gelas ukur Hand Counter


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 14

Mikropipet Akuarium Penelitian

Kondisi Ikan Pasca Pemeparan Sampel Ikan telah Mati


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 15

Lampiran 3. Data Angkatan

Organofosfat Ilmu Kelautan

Ula Konsen Gejala Fisiologis Gejala Survival T DO


Kel. Rate O pH
ngan trasi GO Rata- AG Rata- Klinis ( C) (mg/l)
(%)
Rata Rata
1 0,317 62 ++ ++ 0 27 8,62 2
2 0,283 126,3 ++ ++ 0 26 7,74 1,4
3 1 5,51 103 ++ ++ 0 25 7 1,5
4 D 104,3 ++ ++ 20 27 8,65 2
5 Kontrol 132,3 ++ +++ 0 25 , 26 7,6 1,3
6 A 125,25 ++ ++ 0 26 7,75 1,6
7 B 127,1 +++ +++ 20 27 7,83 1,7
8 2 0,158 116,875 + ++ 100 25 8,66 1,7
9 2,756 129,4 ++ ++ 80 25;26 7,84 1,2
10 Kontrol 122 +++ + 0 27 7,72 1,4
11 0,11 139 +++ + 0 27 7 1,7
12 8,3 71 ++ ++ 0 26 8,64 18
13 3 5,5 107,6 ++ ++ 0 25/25 7 1,3
14 0,238 131,485 ++ ++ 0 26 7,75 1,4
15 Kontrol 114,6 + + 40 24,5;21 7,8 1,3
16 0,317 102,3 + + 0 26 8,65 1,5
17 8,3 127,3 ++ +++ 0 25,5 7,97 1,2
18 4 5,5 137,93 ++ ++ 0 27 7,77 1,4
19 2,756 127,5 ++ ++ 0 25 7,93 1,4
20 Kontrol 69 ++ ++ 60 26 8,95 2,1
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 16

Organofosfat Perikanan A

Ula Konsen Gejala Fisiologis Gejala Survival T DO


Kel. ngan trasi GO AG Klinis Rate O
( C) pH (mg/l)
Rata-Rata Rata-Rata (%)
1 0,317 95 ++ ++ 0% 25 7,87 3,2
2 0,238 127 ++ ++ 20% 26,2 7,8 8,2
3 1 0,158 104 + + 0% 24 7,88 7,7
4 0,079 79 ++ ++ 20% 25 7,85 2
5 Kontrol 100 ++ ++ 60% 24 7,96 0,30
6 0,317 164 + + 0% 25,5 6,9 7,4
7 0,238 136,63 + +++ 20% 27 7,69 6,9
8 2 0,158 83 +++ ++ 40% 26, 28 7,86 2,1
9 0,079 131 +++ +++ 40% 25 7,83 1,7
10 Kontrol 138 ++ ++ 20% 26 7,73 7,2
11 0,317 128 + + 33% 26 7,72 7,4
12 0,238 106 ++ ++ 80% 26 7,8 1,5
13 3 0,158 93,95 ++ +++ 0% 25 7,74 1,9
14 0,079 136,66 ++ +++ 0% 25,2 7,6 7
15 Kontrol 131 +++ +++ 100% 24 7,93 6,9
16 0,317 92 ++ ++ 100% 27 7,78 2,5
17 0,238 89 + + 0% 24 7,85 2,2
18 4 0,158 108 ++ +++ 0% 27 7,6 6,5
19 0,0013 78,33 +++ +++ 0% 24 7,91 1,7
20 Kontrol 122 ++ ++ 20% 25 7,78 7
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 17

Pyretroid Sintetik Perikanan B

Ula Konsen Gejala Fisiologis Gejala Survival T DO


Kel. ngan trasi GO AG Klinis Rate O
( C) pH (mg/l)
Rata-Rata Rata-Rata (%)
1 0,20 ppm 84 ++ + 0 26 2,5
2 B 60 + + 0 25 7, 83
3 1 0,10 ppm 60 ++ ++ 0 25 7,82
4 0,05 ppm 89 ++ + 60 26 2,5
5 Kontrol 96 ++ ++ 100 26 7,99 -
6 0,20 ppm 75 ++ ++ 0 26 7,8
7 0,15 ppm 278 + ++ 0 27 7,77
8 2 0,10 ppm 61 + + 0 28 2,5
9 0,05 ppm 95 ++ + 60 25,5 7,71
10 Kontrol 144 ++ ++ 0 27
11 0,2 ppm 78 ++ ++ 0 26 7,86 -
12 0,15 ppm 51 ++ ++ 0 26 2,5
13 3 0,10 ppm 67 ++ ++ 0 25 7,69 -
14 0,05 ppm 43 ++ ++ 0 27 7,5
15 Kontrol 127 ++ + 80 25,26 7,88 0
16 0,2 ppm 79 ++ ++ 0 26 2,5
17 0,15 158 + +++ 0 25
18 4 0,10 ppm 83 ++ ++ 0 26 7,92
19 0,05 ppm 90 + ++ 20 26 7,96
20 Kontrol 103 ++ ++ 100 26 2,5
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 18

Karbamat Perikanan C

Ula Konsen Gejala Fisiologis Gejala Survival T DO


Kel. ngan trasi GO AG Klinis Rate O
( C) pH (mg/l)
Rata-Rata Rata-Rata (%)
1 A 115 ++ +++ 40% 27 ; 26 9,49 ; 4,62 4,2 ;
2 B 254,3 +++ +++ 0% 25 6,5 2,7
3 1 C 69,57 ++ + 40% 18.27 7,86: 5,2
4 D 153 ++ ++ 40% 27;26 8,17 4,3;
5 Kontrol 104 ++ ++ 100% 20 7,59 6,3
6 A 132 ++ +++ 0% 25 9,2 16.48
7 B 130 ++ ++ 0% 26 8,2 6,8
8 2 C 75 ++ +++ 0% 26 12,36 4,4
9 D 104 + ++ 0% 19 7,69 7,1
10 Kontrol 131.125 + + 60% 25 00.28 01.40
11 A 124 +++ +++ 0% 25 9,2 2,7
12 B 230 ++ ++ 0% 26 10,5 4,4
13 3 C 82 ++ +++ 60% 19;21 7,81; 7,3;
14 D 79,9 ++ ++ 0% 25 7,4 8,16
15 Kontrol 114 +++ + 60% 19; 24 8,01; 7,3;
16 A 69 ++ ++ 0% 27 6,9 4,4
17 B 111 ++ ++ 60% 18;28 7,68 7,8
18 4 C 97 ++ + 60% 27 9,4 4,8
19 D 104 ++ + 40% 18;24 7,71 7,5
20 Kontrol 137 +++ ++ 100% 25;21 9,6 4,47
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 19
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 1

Analisis Histopatologi Pengaruh Pestisida Dan Logam Berat (Pb)


Terhadap Insang, Hepar, Ren, Intestinum Pada Ikan Mas (Cyprinus Carpio)

Nuraya Asfariah, Muammar Alno, Widi Ridwanto Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung-Sumedang KM 21, Jatinangor
asfa95@gmail.com

ABSTRAK
Ikan mas merupakan yang bersifat reaktif yang mana dapat dilihat dari responnya
terhadap perubahan lingkungan. Salah satu pemicu perubahan lingkungan di perairan adalah
masuknya bahan-bahan toksik ke dalamnya, sehingga menimbulkan perubahan terhadap
organisme di dalamnya terutama ikan baik itu internal maupun eksternal. Perubahan eksternal
dapat dilihat dari perubahan sifat dan tingkah laku, sedangkan internalnya terlihat pada
perubahan struktur sel dan jaringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
perubahan internal ikan akibat bahan toksik dengan menggunakan uji histopatologi.
Pemeriksaan histopatologi bertujuan untuk memeriksa penyakit berdasarkan pada reaksi
perubahan jaringan. Adapun parameter yang diamati adalah warna, ukuran, tanda hitam, dan
karakter khusus lainnya pada sel ikan. Hasil penelitian menunjukkan pada organ insang
patologis terjadi perubahan yaitu terjadi hemoragik dan hipertropi. Pada ginjal kerusakan
yang terjadi yaitu adanya hypoplasia dan nekrosis. Sedangkan pada hati kerusakan yang
terjadi yaitu adanya necrosis dan jaringan yang hancur. Pada usus kerusakan yang terjadi
yaitu nekrosis dan jaringan menjadi melebar dan memanjang.

Kata kunci : Histopatologi, Ikan Mas, Pestisida

ABSTRACT
Goldfish is reactive which can be seen from the response to environmental changes.
One of the drivers of change in aquatic environments is the entry of toxic substances into it,
resulting in changes to the organisms in it, especially the fish either internal or external.
External changes can be seen from the changes in the nature and behavior, while its internal
structure changes seen in cells and tissues. The purpose of this study was to determine the
internal changes of fish due to toxic materials using histopathological test. Histopathological
examination aimed to check the disease based on the reaction of the network changes. The
parameters measured were the color, size, black marks and other special characters in fish
cells. The results showed the gill organ pathological changes that occur in hemorhagic and
hypertrophy. In the case of kidney damage that is the hypoplasia and necrosis. While the liver
damage that occurs that is the necrosis and tissue are destroyed. In intestinal damage and
tissue necrosis occurs which becomes dilated and elongated.

Keywords: Histopathology, Golden Fish, Pesticides


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 2

PENDAHULUAN beracun bagi makhluk hidup (Subowo dkk


Ekotoksikologi perairan adalah ilmu 1999). Logam berat ialah unsur logam
yang mempelajari tentang masuknya, dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar
tersebarnya, kelakuan dan efek toksik bahan rendah logam berat pada umumnya sudah
pencemar di dalam lingkungan perairan. Arti beracun bagi tumbuhan dan hewan,
pencemar adalah suatu bahan yang dapat termasuk manusia. Termasuk logam berat
menurunkan kualitas perairan, baik itu yang sering mencemari habitat ialah Hg,
secara langsung ataupun tak langsung. Cr, Cd, As, dan Pb (Am.geol. Inst. 1976).
Klasifikasi pencemaran pada lingkungan Menurut Darmono (1995), faktor
perairan dapat dibedakan dengan jenis bahan yang menyebabkan logam berat termasuk
pencemar itu sendiri, pemaparan bahan dalam kelompok zat pencemar adalah
pencemar, ataupun menurut tipe dan sifat karena adanya sifat-sifat logam berat yang
pencemarnya. Lingkungan perairan dengan tidak dapat terurai (non degradable) dan
segenap aspek dinamikanya merupakan mudah diabsorbsi.
salah satu faktor penting dalam usaha Penyebaran logam timbal di bumi
pembudidayaan ikan. Efek dari pencemaran sangat sedikit. Jumlah timbal yang terdapat
yang berasal dari bahan pencemar, yaitu bisa diseluruh lapisan bumi hanyalah 0,0002 %
berakibat kerusakan organ-organ pada dari jumlah seluruh kerak bumi. Jumlah ini
makhluk hidup atau bahkan kematian. sangat sedikit jika dibandingkan dengan
Adapun efek yang diakibatkan pencemar ini jumlah kandungan logam berat lainnya
bersifat akut ataupun bersifat kronik. Sifat yang ada di bumi (Palar 2008). Selain
akut ini adalah gangguan timbul oleh dalam bentuk logam murni, timbal dapat
pencemar dalam waktu yang relatif singkat, ditemukan dalam bentuk senyawa
bila dosis atau konsentrasi cukup besar. Dan inorganik dan organik. Semua bentuk
sifat kronik yaitu gangguan timbul dalam timbal (Pb) tersebut berpengaruh sama
waktu yang cukup lama, bila dosis atau terhadap toksisitas pada manusia
konsentrasi relatif rendah (Priyanto 2010). (Darmono 2001).
Histopatologi merupakan cabang
Logam berat adalah unsur logam biologi yang mempelajari kondisi dan
yang mempunyai massa jenis lebih besar fungsi jaringan dalam hubungannya
dari 5 g/cm3, antara lain Cd, Hg, Pb, Zn, dengan penyakit. Teknik pemeriksaaan
dan Ni. Logam berat Cd, Hg, dan Pb histopatologi berguna untuk mendeteksi
dinamakan sebagai logam non esensial dan adanya komponen patogen yang bersifat
pada tingkat tertentu menjadi logam infektif melalui pengamatan secara
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 3

mikroanatomi. Histopatologi sangat penting menipiskan sel jaringan dari organ-organ


dalam kaitan dengan diagnosis penyakit tubuh. Untuk itu jaringan halus dapat
karena salah satu pertimbangan dalam ditanam pada parafin dengan pembekuan,
penegakan diagnosis adalah melalui hasil selanjutnya jaringan dipotong. Prasyarat
pengamatan terhadap jaringan yang diduga untuk mendapatkan histopatologi dan
terganggu. Oleh karena itu, dengan proses histokimia yang tepat dapat diperoleh
diagnosis yang benar akan dapat ditentukan dengan mengamati preparat dibawah
jenis penyakitnya sehingga dapat dipilih mikroskop elektron. Preparat dari histopat
tindakan preventif dan kuratif. mempunyai tanda spesifik yang terlihat
Pemeriksaan histopatologi dilakukan dari jaringan sel dan struktur jaringan
melalui pemeriksaan terhadap perubahan- akibat serangan patogenisitas.
perubahan abnormal pada tingkat jaringan. Tahapan untuk membuat preparat
Histopatologi dapat dilakukan dengan untuk histopatologi adalah sebagai berikut,
mengambil sampel jaringan (misalnya Fiksasi, bertujuan agar jaringan
seperti dalam penentuan kanker payudara) diusahakan mati secepatnya sehingga tidak
atau dengan mengamati terjadi perubahan pasca mati (autolisis post
jaringan setelah kematian terjadi mortem) sehingga struktur jaringan sampel
Pemeriksaan histopatologi bertujuan untuk dapat dipertahankan seperti saat sampel
memeriksa penyakit berdasarkan pada masih hidup.
reaksi perubahan jaringan. Pemeriksaan ini Preparasi organ atau jaringan target dari
hendaknya disertai dengan pengetahuan sampel, seluruh organ target dalam
tentang gambaran histologi normal pemeriksaaan dimasukkan dalam
jaringan sehingga dapat dilakukan embedding cassete.
perbandingan antara kondisi jaringan Dehidrasi, Tahap ini merupakan proses
normal terhadap jaringan sampel menarik air dari jaringan dengan
(abnormal). Dengan membandingkan menggunakan bahan kimia tertentu.
kondisi jaringan tersebut maka dapat Clearing, Tahap ini bertujuan untuk
diketahui apakah suatu penyakit yang menghilangkan bahan kimia dehidrasi
diduga benar-benar menyerang atau tidak. sehingga contoh sampel menjadi
Teknik histopatologi merupakan transparan.
suatu cara yang dilakukan untuk melihat Infiltrasi, Teknis histologi ini untuk
perubahan metobolisme dari perubahan menyusupkan paraffin ke dalam jaringan
jaringan yang terjadi. Aplikasinya diawali sampel untuk menggantikan xylol yang
dengan pembuatan preparat dengan
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 4

telah hilang, sehingga sampel tidak rusak preparat histopatologis dalam penelitian ani
waktu pemotongan dengan mikrotom. adalah ikan mas. Preparat histopatologis
Teknik embedding, sampel yang sudah yang digunakan adalah organ atau jaringan
diiris pada bagian yang mengalami tubuh ikan yang telah terpapar dengan bahan
perubahan dimasukkan kedalam cassete toksik berupa pestisida dan dibandingkan
embedding yang sudah diberi label dengan dengan organ atau jaringan kontrol. Dalam
menggunakan pensil. penelitian ini kami juga
Pemotongan, Pemotongan dilakukan melakukan pengamatan secara histopatologis
dengan menggunakan mikrotom dengan terhadap organ atau jaringan hati ikan mas
ketebalan irisan 4-6 um. yang berasal dari waduk Jatiluhur, dimana
Pewarnaan jaringan dan sediaan preparat, preparat tersebut adalah hasil dari penelitian
pewarnaan ini dipergunakan dengan teknik Arthur tahun 2014 Fakultas Perikanan dan
pewarnaan ganda haematoksilin dengan Ilmu Kelautan, mengenai histopatologis hati
eosin. ikan mas yang terkena paparan logam berat
Pengamatan, pengamatan hasil untuk Pb di waduk Jatiluhur. Sama halnya dengan
diagnosis dengan metode komparasi preparat dari
dibawah mikroskop cahaya pada Fakultas Matematika dan Ilmu
pembesaran 100-1000 x Pengetahuan Alam, Preparat ini juga
dibandingkan dengan preparat kontrol.
DATA DAN PENDEKATAN Analisis mengenai gejala atau efek
Penelitian ini dilaksanakan pada yang ditimbulkan dari pestisida ataupun
tanggal 25 November 2015. Bertempat di dari logam berat Pb, diamati dan dianalis
Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas berdasarkan perbedaan struktur jaringan
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas dan dibandingkan dengan pustaka yang
Padjadjaran pada pukul 13.00 WIB. Teknik telah ada untuk melihat nama gejala atau
pengamatan yang dilakukan terhadap efek yang ditimbulkan.
preparat dilakukan dengan menggunakan
mikroskop, dimana preparat merupakan hasil HASIL DAN DISKUSI
penelitian dari Fakultas Matematika dan a. Analisis Histopatologi Pengaruh
Ilmu Pengetahuan Alam tahun 2009, Pestisida pada Insang Ikan Mas
mengenai histopatologi insang, hati, ginjal, Hasil analisis histopatologi pada
dan usus. Tidak diketahui darimana sampel pengamatan kontrol (Gambar 1a) pada
ikan tersebut diambil, namun ikan yang jaringan insang ikan mas (Gambar 1a)
digunakan sebagai belum banyak terjadi perubahan, yaitu
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 5

susunan lamela teratur dan rapih, warna hilangnya darah dan cairan tubuh, dan
masih terlihat merah terang dan sedikit adanya hipertrop yang merupakan suatu
ungu, ukuran normal. Ukuran lamela sama keadaan dimana jaringan
besar dan tidak terlihat kerusakan disetiap membengkak/membesar karena ukuran sel
lamela. Struktur jaringan pada insang ikan yang bertambah besar.
mas dengan kontrol terlihat pada gambar Insang berfungsi sebagai alat
dibawah ini. pernafasan pada ikan, dan lamela adalah
Hasil analisis histopatologi pada tempat pertukaran oksigen. Jika terjadi
pengamatan insang yang dipengaruhi oleh kerusakan pada lamela tersebut, akibatnya
pestisida (Gambar 1b) terjadi perbedaan peredaran darah ikan terganggu, dan
yang signifikan pada pengamatan preparat terjadi pembendungan darah. Kerusakan
jaringan insang patologis ikan mas. Terjadi ini lama-lama akan menyebabkan
sejumlah kerusakan jaringan pada lamela gangguan sirkulasi yang dapat
primer dan lamela sekunder ikan, dimana menyebabkan kekurangan suplai oksigen
terjadi hiperplasia. Hiperplasia gill lamella untuk ikan. Hal ini lama-lama akan
adalah pertambahan ukuran (hiperplasia) menyebabkan efek letal pada ikan karena
lamela insang akibat peningkatan jumlah terganggunya sistem pernafasan ikan.
sel. Selain hyperplasia gill lamella terdapat
juga karakter khusus lainnya yaitu adanya
hemoragik yang merupakan perdarahan,
infeksi tertentu yang mengakibatkan

hipertrop
a b
Gambar 1. Histopatologi insang ikan mas
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 6

b. Analisis Histopatologi Pengaruh menunjukkan bahwa hepar berubah


Pestisida pada Hepar Ikan Mas warnanya menjadi ungu tua, ukuran ikan
Hasil analisis histopatologi menjadi lebih besar atau sedang akibat
pengaruh pestisida pada hepar ikan mas adanya patologis pada hepar sehingga
pada kontrol atau tanpa pengaruh pestisida hepar ikan mas menjadi sedikit melebar,
(Gambar 2a) menunjukkan bahwa tidak adanya tanda hitam atau necrosis yang
terjadi perubahan, yaitu warna hepar masih cukup banyak pada hepar, dan adanya
ungu, berukuran kecil, tidak ada tanda karakter khusus yang menunjukkan bahwa
hitam atau necrosis dan tidak ada karakter terdapat necrosis yaitu adanya tanda hitam
khusus yang menunjukkan bahwa ikan dan adanya nerosis yaitu kematian dini sel
tersebut mengalami perubahan dan jaringan hidup akibat adanya faktor
histopatologi. Hasil analisis histopatologi internal yaitu racun dalam hal ini pestisida
pengaruh pestisida pada hepar ikan mas yang menyebabkan hepar tersebut terlihat
dengan pengaruh pestisida (Gambar 2b) sedikit rusak.

necrosis
a b
Gambar 2. Histopatologi Hepar ikan mas

c. Analisis Histopatologi Pengaruh histopatologi. Sedangkan, hasil analisis


Pestisida pada Intestinum Ikan Mas histopatologi pengaruh pestisida pada
Hasil analisis histopatologi pengaruh intestinum ikan mas dengan pengaruh
pestisida pada intestinum ikan mas pada pestisida (Gambar 3b) menunjukkan bahwa
kontrol atau tanpa pengaruh pestisida intestinum tidak berubah warnanya tetap
(Gambar 3a) menunjukkan bahwa tidak oranye, ukuran ikan menjadi lebih besar
terjadi perubahan, yaitu warna intestinum akibat adanya patologis pada intestinum
masih oranye, berukuran kecil, tidak ada sehingga intestinum ikan mas menjadi
tanda hitam atau necrosis dan tidak ada sedikit membesar, adanya tanda hitam atau
karakter khusus yang menunjukkan bahwa necrosis yang cukup banyak pada
ikan tersebut mengalami perubahan intestinum, dan adanya karakter khusus
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 7

d. Analisis Histopatologi
Pengaruh
Pestisida pada Ren Ikan
Mas
Hasil analisis histopatologi pengaruh
pestisida pada ren ikan mas pada kontrol
atau tanpa pengaruh pestisida (Gambar 4a)
menunjukkan bahwa tidak terjadi
perubahan, yaitu warna ren masih ungu,
berukuran kecil, tidak ada tanda hitam atau
necrosis dan tidak ada karakter khusus yang
menunjukkan bahwa ikan tersebut

mengalami perubahan histpatologi.


Sedangkan, hasil analisis histopatologi
pengaruh pestisida pada ren ikan mas
dengan pengaruh pestisida (Gambar 4b)
yang menunjukkan bahwa terdapat necrosis adanya faktor eksternal yaitu racun dalam
dan pada jaringan intestinum tampak hal ini pestisida yang menyebabkan
melebar dan memanjang karena akibat intestinum tersebut terlihat rusak.

necrosis

ukuran melebar
a b
Gambar 3. Histopatologi intestinum ikan mas
menunjukkan bahwa ren berubah warnanya
menjadi ungu tua, ukuran jaringan menjadi
lebih besar akibat adanya patologis pada ren
sehingga ren ikan mas menjadi melebar,
adanya tanda hitam atau necrosis yang
cukup banyak pada ren. Karakter khusus
pada ren menunjukkan bahwa terdapat
necrosis yaitu adanya tanda hitam,
hyploplasia atau penurunan jumlah sel pada
jaringan, dan jaringan tampak melebar
akibat adanya faktor eksternal yaitu racun
dalam hal ini pestisida yang menyebabkan
ren tersebut terlihat rusak.
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 8

e. Analisis Histopatologi
Pengaruh
Pestisida dan Logam Berat Pb
pada
Hepar

Hasil analisis histopatologi pengaruh


pestisida pada hepar ikan mas pada B III
(Gambar 5a) menunjukkan bahwa terjadi
perubahan, yaitu warna hepar masih ungu
kehitaman, berukuran kecil, ada tanda
hitam atau necrosis dan ada karakter
khusus yang menunjukkan bahwa
jaringan ikan
tersebut mengalami perubahan
histopatologi karena adanya edema dan
necrosis. Sedangkan, hasil analisis
histopatologi B II pada hepar ikan mas

e
dema
a

Ukuran melebar
necrosis
a b
Gambar 4. Histopatologi Ren ikan mas

(Gambar 5b) menunjukkan bahwa hepar


berwarna ungu tua, ukuran jaringan ikan
kecil akibat adanya patologis pada hepar
sehingga hepar ikan mas menjadi sedikit
melebar, adanya tanda hitam atau necrosis
yang cukup banyak pada hepar, dan ada
karakter khusus yang menunjukkan bahwa
jaringan ikan tersebut mengalami
perubahan histopatologi karena adanya
edema dan necrosis. Hal ini diakibatkan
karena adanya faktor eksternal yaitu racun,
dalam hal ini pestisida yang menyebabkan
hepar tersebut menjadi rusak.

necrosis
b
Gambar 5. Histopatologi logam berat pada hepar
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 9

KESIMPULAN Revised Edition. Anchor Book.


Berdasarkan pengamatan yang New York. viii +472 h
kelompok 18 lakukan, dapat diperoleh Amin, Bintal. 2002. Distribusi Logam
kesimpulan bahwa : Berat Pb, Cu Dan Zn pada
Pada pengamatan kontrol preparat Sedimen di Perairan Telaga Tujuh
insang, hati, ginjal dan usus berbeda dengan Karimun Kepulauan Riau. Jurnal
preparat yang terserang bahan toksik Natur Indonesia 5(1): 9-16
(pestisida). Pada organ insang, hepar, Darmono. 1983. Beberapa Senyawa Logam
intestinum, serta ren yang terpapar bahan Berat dan Hubungannya pada
toksik mengalami kerusakan jaringan. Ternak. Wartazda Vol 1 No. 1.
Kerusakan jaringan yang dialami antara Darmono. 1995. Logam dalam Sistem
lain necrosis, edema, hypoplasia, Biologi Mahluk Hidup, UI Press
hemoragik, serta hipertropi. Jakarta.
Palar, H. 2008. Pencemaran dan
UCAPAN TERIMAKASIH Toksikologi Logam Berat. Rineka
Terimakasih kami mengucapkan kepada Cipta: Jakarta
semua pihak yang terlibat selama proses Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun
penelitian ekotoksikologi perairan, 1999 tentang Pengelolaan Limbah
terutama Dosen dan Asisten penelitian Bahan Berbahaya dan Beracun. .
1999. Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA Subowo, Kurniansyah AM,

Alifia, F dan Djawad, M.I. 2000. Kondisi Sukristiyonubowo. 1999.

Histologi Insang dan Organ Pengaruh Logam Berat Pb dalam Tanah

Dalam Juvenil Ikan Bandeng terhadap Kandungan Pb,

(Chanos Chanos Forskall) yang Pertumbuhan dan asil Tanam

tercemar Logam Timbal (Pb) Caisem (Brassica rapa). Prosiding Seminar

American Geological Institute. 1976. Sumber Daya Tanah, Iklim dan

Dictionary of Geological Terms. Pupuk. Puslittanak. Bogor.


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 10

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Pengamatan Histopatologi Kelompok 18

Preparat: Hepar
Parameter Kontrol Patologis
Warna Ungu cerah Ungu tua
Ukuran Kecil Membesar (hyperplasia)
Tanda Hitam (Necrosis) -

Karakter Khusus - Rusak

Preparat: Intestinum

Parameter Kontrol Patologis


Warna Oranye cerah Oranye tua
Ukuran Kecil Membesar (hyperplasia)
Tanda Hitam (Necrosis) -

Karakter Khusus - Jaringan melebar dan


memanjang

Preparat: Ren

Parameter Kontrol Patologis


Warna Ungu cerah Ungu tua
Ukuran Kecil Membesar (hyperplasia)
Tanda Hitam (Necrosis) -

Karakter Khusus - Jaringan melebar dan


memanjang
Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 11

Preparat: Insang
Parameter Kontrol Patologis
Warna Merang cerah Kehitaman
Ukuran Normal Membesar (hyperplasia)
Tanda Hitam (Necrosis) -

Karakter Khusus - Adanya hemoragik dan


adanya hipertrop

Preparat: B II, B III

Parameter B II B III
Warna Ungu tua Ungu kehitaman
Ukuran Kecil Kecil
Tanda Hitam (Necrosis)

Karakter Khusus Adanya edema Adanya edema


Ekotoksikologi Perairan/Desember/2015/FPIK/Unpad | 12

Lampiran 2. Prosedur Penelitian Histopatologi


Prosedur Pengamatan Histopatologi

Amati preparat histologi

Organ insang, ginjal, hati, dan usus


(kontrol dan patologis)

Bandingkan perbedaan

Parameter warna, ukuran, tanda, dan karakter khusus lainnya

Dokumentasi preparat histologi

Kontrol dan patologis

Prosedur Pembuatan Preparat Histopatologi

Prosedur pembuatan preparat hispatologi

Pengambilan jaringan

Fiksasi

Clearing

Embedding dan Infiltrasi

Sectioning

Staining

Pengamatan dengan bantuan Mikroskop