Anda di halaman 1dari 5

Konsep Peradilan Adat dan Desa

Peradilan adat merupakan suatu lembaga peradilan perdamaian antara para warga
masyarakat hukum adat di lingkungan masyarakat hukum adat yang ada. Istilah peradilan adat
bukanlah suatu istilah yang begitu lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia. Istilah-istilah
peradilan adat ini yang digunakan di Indonesia sangatlah beragam. Istilah yang lebih sering
digunakan adalah sidang adat atau rapat adat dalam ungkapan khas masing-masing daerah.
Di Bali, misalnya, digunakan istilah paruman untuk menyebut proses pelaksanaan
pembicaraan dan penyelesaian masalah-masalah yang terjadi dilingkungan kesatuan masyarakat
hukum adat, termasuk penyelesaian perkara, di Aceh disebut imuem mukim.1

Peradilan adat baru-baru ini secara eksplisit disebutkan didalam Undang-Undang Nomor
21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Papua. Didalam Pasal 50 Undang-Undang
Otonomi Khusus Bagi Papua menyatakan :

(1) Kekuasaan kehakiman di Provinsi Papua dilaksanakan oleh Badan Peradilan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Di samping kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui
adanya peradilan adat didalam masyarakat hukum adat tertentu.

Pasal 51 Undang-Undang Otonomi Khusus Bagi Papua, Peradilan Adat merupakan


peradilan perdamaian di lingkungan masyarakat hukum adat, yang mempunyai kewenangan
memeriksa dan mengadili sengketa perdata adat dan perkara pidana di antara para warga
masyarakat hukum adat yang bersangkutan, disusun menurut ketentuan hukum adat masyarakat
hukum adat yang bersangkutan, serta memeriksa dan mengadili perkara berdasarkan hukum adat
masyarakat hukum adat yang bersangkutan.

Sejak zaman hindia belanda dahulu sampai lahirnya undang-undang darurat nomor 1
tahun 1951 tanggal 14 Januari 1951, di Indonesia masih ada lima macam atau jenis peradilan
yang di wariskan oleh Pemerintah Hindia Belanda yakni:

1. Peradilan Gubernemen (Gouvernements-Rechtspraak).


2. Peradilan Pribumi atau Peradilan Adat (Inheemsche Rechtspraak).
3. Peradilan Swapraja (Zelfbestuur Rechtspraak).
4. Peradilan Agama (Godsdienstige Rechtspraak).
5. Peradilan Desa (Dorpjustitie).2

1
I Ketut Sudantra, 2016, Pengakuan Peradilan Adat Dalam Politik Hukum Kekuasaan Kehakiman, Swasta
Nulus Bali Shanti Pusat Pelayanan dan Konsultasi Adat dan Budaya Bali LPPM Unud, dan Puslit Hukum Adat
LPPM Unud, Denpasar, h. 34.
2
Ibid., h. 36.
` Menurut Sudikno Mertokusumo dan H. Irine Muslim menyebutkan yang dimaksudkan
dengan pengadilan adat dan peradilan adat oleh Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951
adalah inheemsche rechtspraak. Dasar perundang-undangan peradilan adat di jaman Hindia
Belanda adalah pasal 130 Indischee Staatsgersing yang menyatakan bahwa dimana saja
penduduk dibiarkan mempunyai peradilan sendiri, di Indonesia dilakukan peradilan atas nama
Raja yang terdapat peradilan asli (peradilan adat).

Selain inheemsche rechtspraak, dalam masyarakat Indonesia di masa colonial terdapat


peradilan bagi penduduk pribumi yang disebut dorpjustitie (Peradilan Desa). Doepjustitie adalah
peradilan yang dilaksanakan oleh Hakim desa atau disebut Hakim Adat, baik dalam lingkungan
peradilan gubernemen, peradilan pribumi/ peradilan adat, maupun peradilan swapraja di luar
Jawa dan Madura, yang berwenang mengadili perkara-perkara kecil yang merupakan urusan adat
atau urusan desa.3

Menurut Abdurrahman, dua bentuk peradilan tersebut sebenarnya tidak ada perbedaan
yang prinsipil. Peradilan Desa umumnya terdapat pada hampir seluruh nusantara pada
masyarakat hukum adat yang bersifat teritorial, namun peradilan adat ditemukan pada
masyarakat hukum adat teritorial maupun geneologis. Menurut I Ketut Sudantra menyatakan
Peradilan Adat dalam pengertian peradilan adat sebagai terjemahan inheemsche rechtspraak
memiliki suasana yang berbeda dengan Dorpjustitie (Peradilan Desa). Berdasarkan S. 1932
Nomor 80, inheemsche rechtspraak yang kemudian diterjemahkan oleh beberapa penulis yang
disebut dengan istilah peradilan Adat, Peradilan Adat adalah suatu peradilan bagi golongan
pribumi yang dilaksakan oleh hakim yang diangkat oleh Residen (Hakim eropa dan dapat juga
Hakim Indonesia, walaupun tidak mengadili atas nama Raja/Ratu dan tidak berdasarkan tata
hukum Eropa, melainkan dengan tata hukum adat yang ditetapkan oleh Residen dengan
persetujuan Direktur Kehakiman di Batavia. Inhemsche rechtspraak bukanlah peradilan yang
benar-benar dilaksakan oleh kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat secara mandiri karena
dalam inheemsche rechtspraak, tetapi berada dibawah control pemerintah kolonisl Hindia
Belanda (melalui Residen).4

Hedar Laujeng, berpendapat bahwa peradilan adat itu sebagai sistem peradilan yang lahir,
berkembang dan dipraktikkan oleh komunitas-komunitas masyarakat hukum adat di Indonesia,
dengan berdasarkan hukum adat, dimana peradilan itu bukan merupakan bagian dari sistem
peradilan Negara.5

Berdasarkan uraian diatas, maka konsep peradilan adat dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Peradilan adat adalah sistem peradilan yang hidup dalam kesatuan-kesatuan


masyarakat hukum adat di Indonesia.

3
Ibid., h. 37.
4
Ibid., h. 38-39.
5
Ibid., h. 39.
2. Peradilan adat berdasarkan pada hukum adat.
3. Peradilan adat bukan merupakan bagian dari sistem peradilan Negara.
4. Peradilan adat berwenang mengadili perkara-perkara adat, baik yang berupa sengketa
maupun pelanggaran hukum adat.
5. Peradilan adat berwenang mengadili perkara-perkara antara warga kesatuan
masyarakat hukum adat.6

6
Ibid., h. 40.
DAFTAR PUSTAKA

BUKU/ARTIKEL/MAJALAH, DLL

Sudantra, I Ketut, 2016, Pengakuan Peradilan Adat dalam Politik Hukum Kekuasaan
Kehakiman, Swasta Nulus, Bali Shanti Pusat Pelayanan dan Konsultasi Adat dan Budaya
Bali LPPM Unud, dan Puslit Hukum Adat LPPM Unud, Denpasar.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi
Provinsi Papua, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135.
TUGAS

PERADILAN DESA
Dosen Pengampu: Dr. I Ketut Sudantra, S.H., M.H.

Oleh :

NAMA : I GUSTI AGUNG KIDDY KRSNA ZULKARNAIN

NIM : 1503005102

KELAS :B

NO ABSEN : 38

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2017