Anda di halaman 1dari 36

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

MAKALAH PENCEMARAN LAUT

OLEH

RAY ALAMSYAH

F1G1 13075

KENDARI

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat serta

karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Pencemaran Laut

ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya.

Makalah ini berisikan tentang pengetahuan mengenai pencemaran laut, sumber

pencmar,dampak pencemar dan langkah konkret untuk mengatasi dampak pencemaran

tersebut serta kebijakan-kebijakan untuk mengatasi perihal tersebut.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan

saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan

makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta

dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT. senantiasa

meridhai segala usaha kita. Amin

Kendari, 9 january 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pencemaran Laut

2.2 Penyebab Pencemaran Laut

2.2.1 Pencemaran oleh minyak

2.2.2 Pencemaran oleh logam berat

2.2.3 Pencemaran oleh sampah

2.2.4 Pencemaran oleh pestisida

2.2.5 Pencemaran akibat proses Eutrofikasi

2.2.6 Pencemaran akibat peningkatan keasaman

2.2.7 Pencemaran akibat polusi kebisingan

2.3 Dampak pencemaran laut

2.3.1 Logam berat

2.3.2 Tumpahan minyak

2.3.3 Sampah
2.3.4 Pestisida

2.3.5 Eutrofikasi

2.3.6 Peningkatan keasaman

2.3.7 Polusi kebisingan

2.4 Pencegahan dan penanggulangan terjadinya pencemaran laut

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tumpahan minyak di laut

Gambar 2. Laut tercemar logam berat

Gambar 3. Pencemaran laut oleh sampah

Gambar 4. Pencemaran laut akibat pestisida

Gambar 5. Terumbu karang yang rusak


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada mulanya orang berfikir bahwa dengan melihat luasnya lautan, maka semua

hasil buangan sampah dan sisa-sisa industri yang berasal dari aktifitas manusia di daratan

seluruhnya dapat di tampung oleh lautan tanpa menimbulkan suatu akibat yang

membahayakan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam lautan akan diencerkan dan

kekuatan mencemarnya secara perlahan-lahan akan diperlemah sehingga membuat

mereka menjadi tidak berbahaya. Dengan makin cepatnya pertumbuhan penduduk dunia

dan makin meningkatnya lingkungan industri mengakibatkan makin banyak bahan-bahan

yang bersifat racun yang dibuang ke laut dalam jumlah yang sulit untuk dapat dikontrol

secara tepat.

Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di

mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai

tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang

mengandung polutan kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut.

Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan terkonsentrasi ke sedimen,

dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk fitoplankton, ikan,

udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lain-lain).

Kemudian, polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton.

Fitoplankton adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan.

Kemudian fitoplankton dimakan zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh

zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton karena zooplankton


memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan zooplankton dimakan oleh

ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores

dimangsa oleh ikan karnivores (pemakan ikan atau hewan) sebagai tropik level ketiga,

selanjutnya dimangsa oleh ikan predator sebagai tropik level tertinggi.

Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan

dalam tubuhnya paling tinggi di antara seluruh organisme laut. Kerang juga mengandung

logam berat yang tinggi karena cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam

insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan. Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya

dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi konsentrasi yang di air.

Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan

predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan

tubuh organisme laut tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai

bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan

manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Makanan yang berasal dari

daerah tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan laut

(seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan

polutan yang tinggi.

Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam

berat. WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO

(Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk

tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah

lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan
memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang

menyebabkan kematian.

Pencemaran laut merupakan suatu ancaman yang benar-benar harus ditangani

secara sungguh-sungguh. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa itu pencemaran laut,

bagaimana terjadinya pencemaran laut, serta apa yang solusi yang tepat untuk menangani

pencemaran laut tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

a) Apa yang dimaksud dengan pencemaran laut?

b) Apa yang menjadi sumber dan bahan pencemaran laut?

c) Apa saja dampak dari pencemaran laut?

d) Apa saja kasus Pencemaran Laut yang pernah terjadi di Indonesia dan di dunia?

e) Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran laut dan kebijakan

untuk menangani perihal tersebut?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu, untuk mengetahui semua informasi

tentang pencemaran laut mulai dari definisinya, sumber, serta bahan-bahan yang

mencemari laut, dampak pencemaran laut , cara penanggulangan dan kebijakan yang

diterapkan untuk mengatasi perihal pencemaran laut dan kasus-kasus pencemaran laut

yang pernah terjadi di Indonesia dan di dunia?


PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pencemaran Laut

Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah

industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing)

ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.

Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk

partikel kecil yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar, yang sebagian

besar adalah pengurai ataupun filter feeder (menyaring air). Dengan cara ini, racun yang

terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai makanan, semakin panjang rantai yang

terkontaminasi, kemungkinan semakin besar pula kadar racun yang tersimpan. Pada

banyak kasus lainnya, banyak dari partikel kimiawi ini bereaksi dengan oksigen,

menyebabkan perairan menjadi anoxic. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal

dari daratan, baik tertiup angin, terhanyut maupun melalui tumpahan.

2.2 Penyebab Pencemaran Laut

2.2.1 Pencemaran oleh minyak

Saat ini industri minyak dunia telah berkembang pesat, sehingga kecelakaan

kecelakaan yang mengakibatkan tercecernya minyak dilautan hampirtidak bias

dielakkan.Kapal tanker mengangkut minyak mentah dalam jumlah besar tiap tahun.

Apabila terjadi pencemaran miyak dilautan, ini akan mengakibatkan minyak mengapung

diatas permukaan laut yang akhirnya terbawa arus dan terbawa ke pantai.
Contoh kecelakaan kapal yang pernah terjadi :

a) Torrey canyon dilepas pantai Inggris 1967mengakibatkan 100.000 burung mati

b) Showa maru di selat Malaka pada tahun 1975

c) Amoco Cadiz di lepas pantai Perancis 1978

Pencemaran minyak mempunyai pengaruh luas terhadap hewan dan tumbuh

tumbuhan yang hidup disuatu daerah. Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan

burung laut yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup

minyak. Untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum

minyak dan mencemari diri sendiri. Selain itu, mangrove dan daerah air payau juga rusak.

Mikroorganisme yang terkena pencemaran akan segera menghancurkan ikatan organik

minyak, sehingga banyak daerah pantai yang terkena ceceran minyak secara berat telah

bersih kembali hanya dalam waktu 1 atau 2 tahun.

Gambar 1. Tumpahan minyak di laut

2.2.2 Pencemaran oleh logam berat

Logam berat ialah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram atau lebih

untuk setiap cm3, sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5 gram adalah logam

ringan.

Logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium

(Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni), merupakan salah satu bentuk materi anorganik yang sering

menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius pada perairan. Penyebab

terjadinya pencemaran logam berat pada perairan biasanya berasal dari masukan air yang

terkontaminasi oleh limbah buangan industri dan pertambangan.


Jenis-Jenis Industri Pembuang Limbah yang Mengandung Logam Berat :

Kertas : Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn

Petro-chemical : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn

Pengelantang : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn

Pupuk : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn

Kilang minyak : Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn

Baja : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn

Logam bukan besi : Cr, Cu, Hg, Pb, Zn

Kendaraan bermotor : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn

Semen, keramik : Cr

Tekstil : Cr

Industri kulit : Cr

Pembangkit listrik tenaga uap : Cr, Zn

Logam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm3 dan logam berat bersifat

tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat semakin terakumulasi di

dalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air dapat masuk ke dalam tubuh

manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Logam berat di dalam air dapat

masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia apabila air yang mengandung logam

berat diminum, sedangkan secara tidak langsung apabila memakan bahan makanan yang

berasal dari air tersebut. Di dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi

dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap kesehatan.

Gambar 2. Laut tercemar logam berat


A. Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Indonesia

Teluk Buyat, terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, adalah lokasi

pembuangan limbah tailing (lumpur sisa penghancuran batu tambang) milik PT. Newmont

Minahasa Raya (NMR). Sejak tahun 1996, perusahaan asal Denver, AS, tersebut

membuang sebanyak 2.000 ton limbah tailing ke dasar perairan Teluk Buyat setiap

harinya. Sejumlah ikan ditemui memiliki benjolan semacam tumor dan mengandung cairan

kental berwarna hitam dan lendir berwarna kuning keemasan. Fenomena serupa

ditemukan pula pada sejumlah penduduk Buyat, dimana mereka memiliki benjol-benjol di

leher, payudara, betis, pergelangan, pantat dan kepala.

B. Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Jepang

Kasus minamata yang terjadi dari tahun 1953 sampai 1975 telah menyebabkan

ribuan orang meninggal dunia akibat pencemaran mercury di Teluk Minamata Jepang.

Industri Kimia Chisso menggunakan mercury khlorida (HgCl2) sebagai katalisator dalam

memproduksi acetaldehyde sintesis di mana setiap memproduksi satu ton acetaldehyde

menghasilkan limbah antara 30-100 gr mercury dalam bentuk methyl mercury (CH3Hg)

yang dibuang ke laut Teluk Minamata.

Methyl mercury ini masuk ke dalam tubuh organisme laut baik secara langsung dari air

maupun mengikuti rantai makanan. Kemudian mencapai konsentrasi yang tinggi pada

daging kerang-kerangan, crustacea dan ikan yang merupakan konsumsi sehari-hari bagi

masyarakat Minamata. Konsentrasi atau kandungan mercury dalam rambut beberapa


pasien di rumah sakit Minamata mencapai lebih 500 ppm. Masyarakat Minamata yang

mengonsumsi makanan laut yang tercemar tersebut dalam jumlah banyak telah terserang

penyakit syaraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan bahkan banyak yang meninggal

dunia.

2.2.3 Pencemaran oleh sampah

Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan

terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik,

sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II.

Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton.

Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk

satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas,

maupun termakan.

Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut.

Jaring ini dikenal sebagai hantu jala sangat membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu,

dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang membelit membatasi

gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi hewan yang perlu untuk

kembali ke permukaan untuk bernapas.

Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem

daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat

dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik,

sehingga akan memperkaya kandungan zat-zat makanan pada suatu daerah yang
tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan

mikroorganisme.

Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan

oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada

kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan

yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis

dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga

mikrofauna yang dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah

kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran

yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.

Gambar 3. Pencemaran laut oleh sampah

2.2.4 Pencemaran oleh pestisida

Kerusakan yang disebabkan oleh pestisida adalah bersifat akumulatif. Mereka

sengaja ditebarkan ke dalam suatu lingkungan dengan tujuan untuk mengontrol hama

tanaman atau organism-organisme lain yang tidak diinginkan. Idealnya pestisida ini harus

mempunyai spesifikasi yang tinggi yaitu dapat membunuh organism-organisme yang tidak

dikehendaki tanpa merusak hewan lainnya, tetapi pada kenyataannya pestisida bisa

membunuh biota air yang ada di laut.

Beberapa pestisida yang dipakai kebanyakan berasal dari suatu grup bahan kimia

yang disebut Organochloride. DDT termasuk dalam grup ini. Pestisida jenis ini termasuk

golongan yang mempunyai ikatan molekul yang sangat kuat dimana molekul-molekul ini

kemungkinan dapat bertahan di alam sampai beberapa tahun sejak mereka mulai
dipergunakan. Hal itu sangat berbahaya karena dengan digunakannya golongan ini secara

terus menerus akan membuat mereka menumpuk di lingkungan dan akhirnya mencapai

suatu tingkatan yang tidak dapat ditolerir lagi dan berbahaya bagi organism yang hidup

didaerah tersebut.

Hewan biasanya menyimpan organochloride di dalam tubuh mereka. Beberapa

organisme air termasuk ikan dan udang ternyata menumpuk bahan kimia didalam jaringan

tubuhnya.

Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke dalam

jaring makanan di laut. Dalam jarring makanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi,

serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut , seluruh penyusun rantai makanan

termasuk manusia.

Gambar 4. Pencemaran laut akibat pestisida

2.2.5 Pencemaran akibat proses Eutrofikasi

Peristiwa Eutrofikasi adalah kejadian peningkatan/pengkayaan nutrisi, biasanya

senyawa yang mengandung nitrogen atau fosfor, dalam ekosistem. Hal ini dapat

mengakibatkan peningkatan produktivitas primer (ditandai peningkatan pertumbuhan

tanaman yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk). Efek lebih lanjut termasuk

penurunan kadar oksigen, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan

populasi organisme lain.

Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena nutrisi

yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi. Nutrisi ini kemudian dibawa oleh air hujan

masuk ke lingkungan laut , dan cendrung menumpuk di muara.


The World Resources Institute telah mengidentifikasi 375 hipoksia (kekurangan

oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia. Laporan ini menyebutkan kejadian ini

terkonsentrasi di wilayah pesisir di Eropa Barat, Timur dan pantai Selatan Amerika Serikat,

dan Asia Timur, terutama di Jepang. Salah satu contohnya adalah meningkatnya alga

merah (red tide) secara signifikan yang membunuh ikan dan mamalia laut serta

menyebabkan masalah pernapasan pada manusia dan beberapa hewan domestik.

Umumnya terjadi saat organisme mendekati ke arah pantai.

2.2.6 Pencemaran akibat peningkatan keasaman

Dewasa ini sangat banyak kegiatan manusia yang menyebabkan polusi udara,

tanah dan air, yang disebabkan oleh limbah pabrik, industri, asap kendaraan, dan banyak

lagi. Salah satu contoh adalah semakin banyak karbon dioksida memasuki atmosfer bumi,

maka karbondioksida yang kita hasilkan sehari-hari dapat menyebabkan hujan asam dan

juga meningkatkan kadar keasaman laut menjadi lebih asam. Potensi peningkatan

keasaman laut dapat mempengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang lainnya

untuk membentuk cangkang atau rangka. Perubahan iklim juga akan berdampak buruk

pada ekosistem di lautan . Jika air laut semakin memanas, maka akan terjadi peningkatan

keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan menghadapi peningkatan

keasaman ini .

Menurut Dr. Nerilie Abrahams dari Universitas Nasional Australia, terumbu karang

seperti sedang mencatat kematiannya sendiri. Jumlah Karbon Dioksida yang dipompakan

ke atmosfer sebetulnya mengubah keasaman laut, dan membuat lebih asam lagi.
Bahayanya adalah tentu saja seluruh terumbu karang akan hancur dan larut karena asam

tadi. Persoalan perubahan suhu maupun berbagai perubahan lain yang dialami lautan

sebetulnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di masa lalu hal ini sudah barangkali terjadi,

nemun perbedaannya adalah saat ini perubahan suhu tersebut dipicu oleh campur tangan

manusia, jadi bukan karena sebab alami

Gambar 5. Terumbu karang yang rusak

2.2.7 Pencemaran akibat polusi kebisingan

Kehidupan laut dapat rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara dari

sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan frekuensi sonar

angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di udara. Hewan laut, seperti

paus, cenderung memiliki penglihatan lemah, dan hidup di dunia yang sebagian besar

ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup

lebih dalam di dunia kegelapan. Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien

kebisingan di laut naik sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat).

Sumber suara di laut antara lain :

1. Sumber alami

Suara di laut yang timbul akibat proses alami terbagi dalam dua yaitu proses fisika

serta proses biologi. Proses fisika ini antara lain : aktivitas tektonik, gunung api dan gempa

bumi, angin, gelombang. Sedangkan contoh dari aktivitas biologis misalnya suara dari

mamalia laut dan ikan.


2. Lalu lintas kapal

Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut menimbulkan kebisingan yang

berpengaruh pada ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara 1000Hz.

Kapal-kapal Tanker Besar yang beroperasi mengangkut minyak biasanya mengeluarkan

suara dengan level 190 desibel atau sekitar 500Hz. Sedangkan untuk ukuran kapal yang

lebih kecil biasanya hanya menimbulkan gelombang suara sekitar160-170 desibel. Kapal-

kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual yang disebut white noise yang memiliki

kebisingan konstan. White noise dapat menghalangi komunikasi antara mamalia di laut

sampai batas untuk area yang lebih kecil. Selain kapal Tanker juga Kapal-kapal besar

lainnya sejenis Cargo yang membawa petikemas memiliki kebisingan yang cukup

menimbulkan pencemaran suara di laut.

3. Eksplorasi dan Ekspoitasi Gas dan Minyak

Kegiatan eksplorasi dan ekspoitasi gas dan minyak banyak menggunakan survei

seismik, pembangunan anjungan minyak/rig, pengeboran minyak, dll. Kebanyakan dari

survei seismik saat ini menggunakan airguns sebagai sumber suara, alat ini merupakan

alat berisi udara yang memproduksi sinyal akustik dengan cepat mengeluarkan udara

terkompresi ke dalam kolom air. Metoda tersebut dapat menciptakan suara dengan

intensitas sampai dengan 255 desibel. Pengaruhnya terhadap hewan lainnya juga dapat

menimbulkan kerusakan pendengaran akibat dari tekanan air yang ditimbulkan. Seperti

layaknya penggunaan dinamit, airguns juga berpengaruh terhadap pendengaran manusia

secara langsung. Pulsa sinyal akustik ini dapat menimbulkan konflik terhadap mamalia

laut, seperti misalnya paus jenis mysticete, sperm, dan beaked yang menggunakan

frekuensi suara yang rendah.


Begitu juga dalam aktivitas pembangunan rig dan pengeboran minyak dimana

dalam operasionalnya setiap hari banyak menghasilkan suara serta menimbulkan

kebisingan yang beresiko bagi mamalia laut.

4. Penelitian Oseanografi dan Perikanan

Pernah diadakan survei dengan menggunakan Acoustic Thermography of Ocean

Climate (ATOC) dimana digunakan kanal suara untuk memperlihatkan rata-rata temperatur

laut. Sistem ini digunakan untuk penelitian mengenai faktor temperatur laut. Akibatnya

terhadap hewan-hewan di laut terbukti bahwa mereka bergerak menjauh (terutama Paus

jenis tertentu) namun selang beberapa saat mereka kembali untuk mencari makanan.

Deruman dari Speaker yang dipasang berkekuatan 220 desibel tepat di sumbernya, dan

terdeteksi sampai dengan 11000 mil jauhnya.

Dari penyebab diatas terdapat juga penyebab lainnya yang tidak disebutkan di sini,

salah satunya adalah kegiatan perikanan para nelayan yang menggunakan peledak atau

pukat harimau yang tidak hanya menimbulkan polusi suara namun juga merusak secara

langsung ekosistem di laut itu sendiri.

5. Kegiatan militer

Ada beberapa aktivitas yang dilakukan militer yang menghasilkan sumber suara

yang menimbulkan kebisingan di laut. Salah satu contohnya yaitu aktivitas kapal naval

milik US.Army yang menggunakan sonar aktif ketika berlatih dan dalam aktivitas rutin.

Angkatan Laut Amerika (NAVY) pernah mengembangkan suatu sistem yang dinamakan

Low Frequency Active Sonnars (LFA) untuk keperluan militernya. Dalam penggunaannya,
terbukti bahwa terdapat beberapa efek negatif terhadap kehidupan dan perilaku mamalia

di lautan. Terhadap ikan paus efek tersebut ternyata mengganggu jalur migrasi dan untuk

jenis ikan paus biru dan ikan paus sirip adalah terhentinya proses komunikasi satu sama

lain. Bahkan setelah melalui beberapa penelitian, maka pengunaan LFA tersebut juga

berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Beberapa penyelam NAVY yang menerima

transmisi dari sekitar 160 desibel akibat sistem tersebut terbukti terkena gangguan seperti

vertigo, gangguan terhadap gerakan tubuh serta gangguan di daerah perut dan dada.

Bukti-bukti lainnya dari pengaruh akibat sonar yang dihasilkan ini di sebutkan oleh

Vonk and Martin (1989), Simmonds and Lopez-Jurado (1991), Frantzis (1998) dan Frantzis

and Cebrian (1999) mereka menganggap bunyi keras yang ditimbulkan oleh aktifitas militer

ini telah menyebabkan terdamparnya paus jenis beaked di Pulau Canary dan Laut Ionia.

Selain itu paus jenis sperm mengalami perubahan kelakuan dalam vokalisasi dalam

merespons sonar ini.

Pendamparan lainnya terjadi pada bulan maret 2000 di Bahama, 17 mamalia laut(

termasuk 2 spesies paus jenis beaked dan minke). Pendamparan ini terjadi akibat latihan

militer Amerika yang menggunakan sonar.

2.3 Dampak pencemaran laut

2.3.1 Logam berat

WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO

(Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk

tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah
lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan

memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang

menyebabkan kematian.

Bahaya yang Dapat Ditimbulkan oleh Logam Berat di dalam Tubuh Manusia :

Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur ruang. Jangka

panjang, menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya sistem syaraf.

Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika terhirup dari

udara atau uap. Dapat menyebabkan kanker. Larutan dari kadmium sangat beracun.

Jangka panjang, terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid, dicurigai dapat

menyebabkan hipertensi

Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif pada jaringan

tubuh. Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan pada ginjal

Timbal (Pb): Beracun jika termakan atau terhirup dari udara atau uap. Jangka

panjang, menyebabkan kerusakan otak dan ginjal; kelainan pada kelahiran

Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap. Jangka

panjang, beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran.

Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada kulit,

mata dan membran mukosa (mucus)

2.3.2 Tumpahan minyak

Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka

berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup minyak. Untuk
membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum minyak dan

mencemari diri sendiri serta dapat menyebabkan keracunan pada burung tersebut.

2.3.3 Sampah

Banyak hewan yang hidup pada atau di laut mengonsumsi plastik karena tak jarang

plastik yang terdapat di laut akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastik tidak

dapat dicerna dan akan terus berada pada organ pencernaan hewan ini, sehingga

menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian melalui kelaparan atau

infeksi. Selain berpengaruh terhadap kesehatan biota laut, adanya sampah dilaut juga

nerpengaruh terhadap kesehatan manusia. Penyakit yang paling sederhana seperti gatal-

gatal pada kulit setelah bersentuhan dengan air laut, dll.

2.3.4 Pestisida

Pengaruh pestisida terhadap kehidupan organisme air :

Penumpukan pestisida dalam jaringan tubuh, bersifat racun dan dapat mempengaruhi

system syaraf pusat.

Bahan aktifnya selain bisa membunuh organism perairan (ikan) juga dapat merubah tingkah

laku ikan dan menghambat perkembangan telur moluska dan juga ikan.

Daya racun berkisar dari rendah-tinggi. Moluska cenderung lebih toleran terhadap racun

pestisida dibandingkan dengan Crustacea dan teleostei (ikan bertulang sejati), dll.
2.3.5 Eutrofikasi

Eutrofikasi adalah perairan menjadi terlalu subur sehingga terjadi ledakan jumlah

alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk fotosintesis. Karena

terlalu banyak maka alga dan fitoplankton di bagian bawah akan mengalami kematian

secara massal, serta terjadi kompetisi dalam mengonsumsi O2 karena terlalu banyak

organisme pada tempat tersebut. Sisa respirasi menghasilkan banyak CO 2 sehingga

kondisi perairan menjadi anoxic dan menyebabkan kematian massal pada hewan-hewan

di perairan tersebut.

2.3.6 Peningkatan keasaman

Selain menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, kehidupan laut terpengaruh

karena perubahan itu, khususnya hewan dan tumbuhan yang memiliki tulang karbonat

kalsium dan yang menjadi sumber makanan bagi penghuni laut lainnya. Satu miliar orang

yang bergantung pada ikan sebagai sumber utama penghasil protein akan terkena

dampak dari peningkatan keasama laut tersebut.

2.3.7 Polusi kebisingan

Gangguan bunyi-bunyi dapat saja menghasilkan frekuensi atau intensitas yang

dapat berbentrokan atau bahkan menghalangi suara/bunyi biologi yang penting, yang

menjadikan tidak terdeteksi oleh mamalia laut. Padahal seperti diketahui bahwa suara-

suara biologi ini penting seperti untuk mencari mangsa, navigasi, komunikasi antara ibu

dan anak, untuk manarik perhatian, atau melemahkan mangsa.


2.4 Pencegahan dan penanggulangan terjadinya pencemaran laut

Upaya pencegahan maupun penanggulangan pemcemaran laut telah diatur oleh

pemerintah dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19

TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN

LAUT :

a. Pencegahan terjadinya pencemaran laut

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah pencemaran laut :

Tidak membuang sampah ke laut

Penggunaan pestisida secukupnya

Yang paling sering di temukan pada saat pembersihan pantai dan laut adalah puntung rokok.

Selalu biasakan untuk tidak membuang puntung rokok di sekitar laut.

Kurangi penggunaan plastik

Jangan tinggalkan tali pancing, jala atau sisa sampah dari kegiatan memancing di laut.

Setiap industri atau pabrik menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)

Menggunakan pertambangan ramah lingkungan, yaitu pertambangan tertutup.

Pendaurulangan sampah organik

Tidak menggunakan deterjen fosfat, karena senyawa fosfat merupakan makanan bagi

tanaman air seperti enceng gondok yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.

Penegakan hukum serta pembenahan kebijakan pemerintah

b. Penanggulangan pencemaran laut :

Melakukan proses bioremediasi, diantaranya melepaskan serangga untu menetralisir

pencemaran laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak dari ledakan ladang minyak.
Fitoremediasi dengan menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap logam berat juga

ditempuh. Salah satu tumbuhan yang digunakan tersebut adalah pohon api-api (Avicennia

marina). Pohon Api-api memiliki kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi.

Melakukan pembersihan laut secara berkala dengan melibatkan peran serta masyarakat

Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat

pencemaran laut diantaranya adalah :

1. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya laut bagi

kehidupan.

2. Menggalakkan kampanye untuk senantiasa menjaga dan melestarikan laut beserta isinya.

3. Tidak membuang sampah ke sungai yang bermuara ke laut.

4. Tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti bom, racun, pukat harimau, dan lain-

lain yang mengakibatkan rusaknya ekosistem laut.

5.Tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan limbah produksi pabrik yang akan

mencemari laut.

Konvensi Internasional yang menangani regulasi mengenai Pencemaran laut

berdasarkan catatan Rusmana (2012) adalah

A. United Nation Covention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS) Konvensi Hukum

Laut 1982 adalah merupakan puncak karya dari PBB tentang hukum laut, yang disetujui di

montego Bay, Jamaica tanggal 10 Desember 1982[9]. Konvensi Hukum Laut 1982 secara

lengkap mengatur perlindungan dan pelestarian lingkungan laut (protection and

preservation of the marine environment) yang terdapat dalam Pasal 192-237.


Pasal 192 berbunyi : yang menegaskan bahwa setiap Negara mempunyai kewajiban

untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Pasal 193 menggariskan prinsip

penting dalam pemanfaatan sumber daya di lingkungan laut, yaitu prinsip yang berbunyi :

bahwa setiap Negara mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber daya

alamnya sesuai dengan kebijakan lingkungan mereka dan sesuai dengan kewajibannya

untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut.

Konvensi Hukum Laut 1982 meminta setiap Negara untuk melakukan upaya-upaya

guna mencegah (prevent), mengurangi (reduce), dan mengendalikan (control)

pencemaran lingkungan laut dari setiap sumber pencemaran, seperti pencemaran dari

pembuangan limbah berbahaya dan beracun yang berasal dari sumber daratan (land-

based sources), dumping, dari kapal, dari instalasi eksplorasi dan eksploitasi. Dalam

berbagai upaya pencegahan, pengurangan, dan pengendalian pencemaran lingkungan

tersebut setiap Negara harus melakukan kerja sama baik kerja sama regional maupun

global sebagaimana yang diatur oleh Pasal 197-201 Konvensi Hukum Laut 1982.

B. International Conventions on Civil Liability for Oil Pollution Damage 1969

(Civil Liability Convention)

Konvensi Internasional Mengenai Pertanggungjawaban Perdata Terhadap

Pencemaran Minyak di Laut (International Convention on Civil Liability for Oil Pollution

Damage). CLC 1969 merupakan konvensi yang mengatur tentang ganti rugi pencemaran

laut oleh minyak karena kecelakaan kapal tanker. Konvensi ini berlaku untuk pencemaran

lingkungan laut di laut territorial Negara peserta. Dalam hal pertanggungjawaban ganti rugi

pencemaran lingkungan laut maka prinsip yang dipakai adalah prinsip tanggung jawab

mutlak.
C. Convention on the Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and Other

Matter 1972 (London Dumping Convention)

London Dumping Convention merupakan Konvensi Internasional untuk mencegah

terjadinya Pembuangan (dumping), yang dimaksud adalah pembuangan limbah yang

berbahaya baik itu dari kapal laut, pesawat udara ataupun pabrik industri. Para Negara

konvensi berkewajiban untuk memperhatikan tindakan dumping tersebut. Dumping dapat

menyebabkan pencemaran laut yang mengakibatkan ancaman kesehatan bagi manusia,

merusak ekosistem dan mengganggu kenyamanan lintasan di laut.

Beberapa jenis limbah berbahaya yang mengandung zat terlarang diatur dalam

London Dumping Convention adalah air raksa, plastik, bahan sintetik, sisa residu minyak,

bahan campuran radio aktif dan lain-lain. Pengecualian dari tindakan dumping ini adalah

apabila ada foce majeur, yaitu dimana pada suatu keadaan terdapat hal yang

membahayakan kehidupan manusia atau keadaan yang dapat mengakibatkan

keselamatan bagi kapal-kapal.

D. The International Covention on Oil Pollution Preparedness Response And

Cooperation 1990 (OPRC)

OPRC adalah sebuah konvensi kerjasama internasional menanggulangi pencemaran

laut dikarenakan tumpahan minyak dan bahan beracun yang berbahaya. Dari pengertian

yang ada, maka dapat kita simpulkan bahwa Konvensi ini dengan cepat memberikan

bantuan ataupun pertolongan bagi korban pencemaran laut tersebut, pertolongan tersebut

dengan cara penyediaan peralatan bantuan agar upaya pemulihan dan evakuasi korban

dapat ditanggulangi dengan segera.


E. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 (Marine

Pollution)

Marpol 73/78 adalah konvensi internasional untuk pencegahan pencemaran dari

kapal,1973 sebagaimana diubah oleh protocol 1978. Marpol 73/78 dirancang dengan

tujuan untuk meminimalkan pencemaran laut , dan melestarikan lingkungan laut melalui

penghapusan pencemaran lengkap oleh minyak dan zat berbahaya lainya dan

meminimalkan pembuangan zat-zat tersebut tanpa disengaja.

International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 yang

kemudian disempurnakan dengan Protocol pada tahun 1978 dan konvensi ini dikenal

dengan nama MARPOL 1973/1978. MARPOL 1973/1978 memuat 6 (enam) Annexes yang

berisi regulasi-regulasi mengenai pencegahan polusi dari kapal terhadap :

a. Annex I : Prevention of pollution by oil ( 2 October 1983 )

Total hydrocarbons (oily waters, crude, bilge water, used oils, dll) yang diizinkan untuk

dibuang ke laut oleh sebuah kapal adalah tidak boleh melebihi 1/15000 dari total muatan

kapal. Sebagai tambahan, pembuangan limbah tidak boleh melebihi 60 liter setiap mil

perjalanan kapal dan dihitung setelah kapal berjarak lebih 50 mil dari tepi pantai terdekat.

Register Kapal harus memuat daftar jenis sampah yang dibawa/dihasilkan dan jumlah

limbah minyak yang ada. Register Kapal harus dilaporkan ke pejabat pelabuhan.

b. Annex II : Control of pollution by noxious liquid substances ( 6 April 1987 )

Aturan ini memuat sekitar 250 jenis barang yang tidak boleh dibuang ke laut, hanya

dapat disimpan dan selanjutnya diolah ketika sampai di pelabuhan. Pelarangan

pembuangan limbah dalam jarak 12 mil laut dari tepi pantai terdekat.
c. Annex III : Prevention of pollution by harmful substances in packaged form ( 1 July

1992 )

Aturan tambahan ini tidak dilaksanakan oleh semua negar yaitu aturan standar

pengemasan, pelabelan, metode penyimpanan dan dokumentasi atas limbah berbahaya

yang dihasilkan kapal ketika sedang berlayar

d. Annex IV : Prevention of pollution by sewage from ships ( 27 September 2003 )

Aturan ini khusus untuk faecal waters dan aturan kontaminasi yang dapat diterima pada

tingkatan (batasan) tertentu. Cairan pembunuh kuman (disinfektan) dapat dibuang ke laut

dengan jarak lebih dari 4 mil laut dari pantai terdekat. Air buangan yang tidak diolah dapat

dibuang ke laut dengan jarak lebih 12 mil laut dari pantai terdekat dengan syarat kapal

berlayar dengan kecepatan 4 knot.

e. Annex V : Prevention of pollution by garbage from ships ( 31 december 1988)

Aturan yang mengatur tentang melarang pembuangan sampah plastik ke laut.

f. Annex IV : Prevention of air pollution by ships

Aturan ini tidak dapat efektif dilaksanakan karena tidak cukupnya negara yang

meratifiskasi (menandatangani persetujuan.)

MARPOL 1973/1978 memuat peraturan untuk mencegah seminimum mungkin

minyak yang mencemari laut. Tetapi, kemudian pada tahun 1984 dilakukan beberapa

modifikasi yang menitik-beratkan pencegahan hanya pada kagiatan operasi kapal tangki

pada Annex I dan yang terutama adalah keharusan kapal untuk dilengkapai dengan Oily

Water Separating Equipment dan Oil Discharge Monitoring Systems.


3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a) Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri,

pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke

dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.

b) Penyebab pencemaran laut yaitu :

Pencemaran oleh minyak

Pencemaran oleh logam berat

Pencemaran oleh sampah

Pencemaran oleh pestisida

Pencemaran akibat proses Eutrofikasi

Pencemaran akibat peningkatan keasaman

Pencemaran akibat polusi kebisingan

c) Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Indonesia yaitu di Teluk Buyat, terletak di

Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, adalah lokasi pembuangan limbah tailing (lumpur

sisa penghancuran batu tambang) milik PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).

d) Upaya pencegahan maupun penanggulangan pemcemaran laut telah diatur oleh

pemerintah dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19

TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN

LAUT
DAFTAR PUSTAKA

Ahmar, Hilal. 2013. Bahan-bahan Pencemaran Laut. http://majalah-

hilalahmarsolo.blogspot.com/2013/03/sehat-lingkungan-bahan-bahan-pencemar.html.

diakses pada 20 April 2013, pukul 3.00 WIB.

GESAMP, 1978. Report and Studies. Joint Group of Experts on the Scientific Aspec of Marine

Pollution. IMCO/I-AO/UNESCO-WHO/IAEA/UN/UNDP/10.

Massa. 2011. Sumber-sumber pencemaran di laut.

http://massal2003.wordpress.com/2011/10/22/sumber-sumber-pencemaran-laut-sources-

of-marine-pollution/. diakses pada 24 April 2013. Pada pukul 3.03 WIB.

Nurul, Agus K. 2013. Dampak Pencemaran Laut. http://agusnurul.blogspot.com/2011/02/marine-

pollution-pencemaran-laut-tugas.html. pada tanggal 24 April 2013, pukul 3.47 WIB

Rahim S.W., 1998. Kajian Distribusi Cemaran Minyak di Sekitar Pelabuhan Pertamina Ujung

Pandang. Skripsi Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

Romimohtarto, 1991. Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik

Pemantauannya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,Jakarta.

Saparinto, C., 2002. Rabuk Kimia Atasi Cemaran Minyak

di Laut.http://www.suaramerdeka.com, (15 januari 2005).

Sloan, N. A., 1993. Effect of Oil on Marine Resources : Worldwide Literature Review Relevent

to Indonesia. Environmental Management Development in Indonesia Project

(EMDI). EMDI Report, 32. Jakarta dan Halifax Dallhouse University.


Suwito, Vivien Anjadi. 2013. Sumber-sumber pencemaran di laut.

http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/pencemaran-pesisir-dan-laut.html. diakses pada

24 April 2013, pada pukul 3.38 WIB.


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tumpahan minyak di laut

Gambar 2. Laut tercemar logam berat


Gambar 3. Pencemaran laut oleh sampah

Gambar 4. Pencemaran laut akibat pestisida


Gambar 5. Terumbu karang yang rusak