Anda di halaman 1dari 15

Cresha Gina Fitriany (12.30.20.

097) Tepu ng Olahan Ubi


Kayu Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

KOLERASI KONSENTRASI TEPUNG OLAHAN UBI KAYU


TERHADAP TEPUNG UNTUK PISANG GORENG (Flour for Banana
Fritter) MENGGUNAKAN REGRESI LINIER SEDERHANA

ARTIKEL

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Tugas Akhir


Program Studi Teknologi Pangan

Oleh :

Cresha Gina Fitriany


Nrp.12.302.0097

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2016

1
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi
Kayu Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

KOLERASI KONSENTRASI TEPUNG OLAHAN UBI KAYU


TERHADAP TEPUNG UNTUK PISANG GORENG (Flour for Banana
Fritter) MENGGUNAKAN REGRESI LINIER SEDERHANA

Dra. Hj. Ela Turmala S., M.Si.1), Dr.Ainia Herminiati, ST., M.Si. 2), dan Cresha
Gina Fitriany, S.T. 3)
1)
Pembimbing Utama. Pembimbing Pendamping. 3)Alumni Program Studi
2)

Tekologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung

Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Jl. Dr.
Setiabudhi No. 193, Bandung, 40153, Indonesia.

ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the correlation of different
concentrations of modified cassava flour processed by the analysis of flour for
banana fritter.
The research method consists of two stages, namely the preliminary study
and the main study. Preliminary research conducted is to determine the different
types of flour (cassava flour, modified cassava flour and physically modified
cassava flour ) on the result of organoletic test, then processed cassava flour
were selected to do physical and chemical analysis. The main study does of
determining their concentration correlates differences modified cassava flour with
the analysis of flour for banana fritter. The design used is simple linear
regression. The factors used were different concentrations of modified cassava
flour (y1) 40%, (y2) 50%, and (y3) 60%. The response in the study include
physical response (degree of white flour, WHC, OHC), chemical (analysis of
water content, ash content, crude fiber content and starch content), and
organoleptic (colour, flavour, taste and texture).
The results showed that the type of flour selected from the organoleptic
test was physically modified cassava flour, cassava flour analysis results of
physically modified starch component containing whiteness level of 60,42%,
WHC 41,17%, OHC 21,15%, water content by 4,4%, ash content of 1,75%, 1,86%
fiber content, starch content of 67,31%. The difference in concentration of
cassava flour modified with the results of the analysis provide correlation to the
degree of white flour, WHC, OHC water content, ash content, fiber content and
starch content. The difference in concentration of modified cassava flour does not
affect the colour, flavour, taste and texture.
(Key words: flour, banana fritter, cassava, concentration)

I PENDAHULUAN cukup dikenal adalah ubi kayu.


Latar Belakang Penelitian Pemanfaatan ubi kayu sampai saat ini
Indonesia merupakan salah satu masih sangat terbatas. Oleh karena itu,
negara yang beriklim tropis. Negara dipelukan serangkaian penelitian untuk
Indonesia mempunyai kekayaan alam meningkatkan potensi ubi kayu sebagai
yang melimpah terutama pada jenis alternatif bahan pangan sumber
tanaman pangan lokal umbi-umbian. karbohidrat umbi-umbian yang diminati
Salah satu tanaman umbi-umbian yang oleh masyarakat.

2
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Program dan kegiatan pembanguan 2. Memberikan informasi diversifikasi


pertanian tanaman pangan di Provinsi produk dari tepung ubi kayu
Jawa Barat tahun 2015-2019 yaitu termodifikasi.
PaJaLe adalah salah satu program 3. Mengembangkan produk dari tepung
yang bertujuan untuk mengembangkan ubi kayu, tepung mocaf, dan tepung
budi daya tanaman, salah satunya adalah ubi kayu termodifikasi, menjadi
ubi kayu. Lokasi pengembangan yang tepung untuk pisang goreng dengan
akan dilakukan di beberapa daerah karakteristik sifat fisik, kimia, dan
seperti di Bandung, Bogor, Cianjur, organoleptik.
Subang, Sukabumi, Sumedang dan 4. Menurunkan pemakaian tepung terigu
Tasikmalaya. yang merupakan bahan import.
Kabupaten Subang menghasilkan 5. Meningkatkan nilai ekonomis dari
varietas ubi kayu yang unggul. Salah tepung ubi kayu, tepung mocaf, dan
satunya di Desa Gandasoli, Kecamatan tepung ubi kayu termodifikasi, yang
Tanjung Siang. Wilayah ini merupakan merupakan produk lokal.
salah satu wilayah potensi produsen ubi Kerangka Pemikiran
kayu, dan salah satu varietas yang paling Menurut Risti (2013), tepung mocaf
dicari adalah sampeu manggu. Rata- tidak 100% identik dengan tepung
rata poduksi Kecamatan Tanjung siang terigu, oleh karena itu diperlukan
mencapai 114.400 kwintal (Carolina, tambahan tepung tapioka dan pati jagung
2009). untuk mendapatkan tekstur mie yang
Identifikasi Masalah baik.
Permasalahan yang dapat dirumuskan Menurut Ike, dkk, (2012) formulasi
yaitu bagaimana pengaruh konsentrasi optimum pembuatan fried batter coating
tepung ubi kayu termodifikasi terhadap yaitu tepung garut sekitar 40%; CMC
tepung untuk pisang goreng. 1,5%; dan garam 2,5%.
Maksud dan Tujuan Berdasarkan hasil penelitian Fansisca,
Maksud dari penelitian ini adalah (2010), formula yang terpilih dalam
untuk mengetahui jenis tepung olahan pembuatan tepung bumbu. Komposisi
ubi kayu yang berbeda (tepung ubi kayu, formula meliputi 60% tepung jagung,
tepung mocaf dan tepung ubi kayu 12,5% tepung beras, 12,5% tapioka dan
termodifikasi) dan konsentrasi tepung 15% tepung ketan.
ubi kayu termodifikasi yang tepat Tepung ubi kayu mengandung pati
terhadap tepung untuk pisang goreng. 83,8%, lemak 0,9%, protein 1%, serat
Tujuan dari penelitian ini adalah 2,1%, abu 0,7%. Kekurangan dari ubi
untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kayu adalah rendahnya kandungan
tepung ubi kayu termodifikasi terhadap protein, sehingga untuk meningkatkan
tepung untuk pisang goreng, sehingga kandungan protein produk olahan yang
diharapkan pisang goreng memiliki dihasilkan dari tepung ubi kayu perlu
citarasa, aroma dan penampakan yang adanya penambahan sumber protein,
disukai oleh konsumen. misalnya dari tepung kacang-kacangan
Manfaat Penelitian (Esti, 2008).
Manfaat dari penelitian ini adalah Berdasarkan hasil penelitian Laiya,
sebagai berikut : dkk (2014), pemanfaatan tepung sagu
1. Memberikan referensi pengolahan sebagai bahan pengikat pada kerupuk
tepung ubi kayu termodifikasi untuk memiliki potensi menjadi komoditas
dimanfaatkan sebagai tepung untuk unggul. Potensi dan kandungan gizi yang
pisang goreng. terdapat pada sagu dapat dimanfaatkan

3
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

sebagai salah satu alternatif sebagai adalah neraca digital, plastik, dan
bahan pengikat adonan pada kerupuk sendok.
ikan. Alat yang digunakan untuk analisis
Pati jagung merupakan tepung yang pada penelitian meliputi cawan, spatula,
baik bila dicampur dengan tepung terigu neraca digital, eksikator, tang krus, oven,
karena dapat mengurangi rasa puffy tanur, kertas saring, corong, erlenmeyer
(empuk) pada terigu. Pati jagung ketika 500 mL, batang pengaduk, penangas,
digoreng cenderung lebih renyah dan cawan porselen, tabung sentrifuge,
mudah patah saat digigit. Pemakaian pati sentrifuge, Kett Electric Laboratory C-
jagung yang berlebihan akan membuat 100-3 Whitenessmeter, buret, labu
gorengan terasa keras (Yuyun, 2007). pengenceran 500 mL, klem, statif, pipet
Hipotesis Penelitian tetes, stirek, pipet ukur.
Berdasarkan kerangka pemikiran Metode Penelitian
diatas, dapat diambil hipotesis diduga Penelitian Pendahuluan
bahwa konsentrasi tepung ubi kayu Penelitian yang akan dikerjakan
termodifikasi berpengaruh terhadap adalah menetukan jenis tepung (tepung
tepung puntuk pisang goreng. ubi kayu, tepung mocaf dan tepung ubi
Tempat dan Waktu Penelitian kayu termodifikasi). Kemudian tepung
Penelitian dilakukan di Laboratorium yang terpilih terpilih dicari konsentrasi
Pengembangan Pasca Panen dan yang terbaik untuk di olah menjadi
Laboratorium Analisis Kimia Pangan, tepung pisang goreng. Analisis tepung
Pusat Pengembangan Teknologi Tepat terpilih dan tepung dengan konsentrasi
Guna, Lembaga Ilmu Pengetahuan berbeda adalah WHC, OHC, Derajat
Indonesia yang berlokasi di Jalan Aipda Putih Tepung, Kadar Air, Kadar Abu,
KS. Tubun No. 5 Subang. Waktu Kadar Serat dan Kadar Pati.
penelitian dari bulan Juni sampai Penelitian Utama
Agustus 2016. Penelitian utama ini merupakan
II BAHAN, ALAT, DAN METODE lanjutan penelitian pendahuluan dimana
PENELITIAN penelitian ini bertujuan untuk
Bahan dan Alat Yang Digunakan menentukan konsentrasi yang berbeda
Bahan yang digunakan dalam untuk dijadikan tepung pisang goreng.
penelitian ini adalah tepung ubi kayu, Kemudian dilakukan analisa WHC,
tepung mocaf dan tepung ubi kayu OHC, derajat putih tepung, kadar air,
termodifikasi yang diperoleh dari kadar abu, kadar serat, kadar pati dan uji
Laboratorium Pengembangan Pasca organoleptik yang diaplikasikan pada
Panen, bahan penunjang (tepung sagu, pisang goreng.
tepung pati jagung, gula, garam, soda Rancangan Perlakuan
kue, gum arab, vanila, pisang kepok, Rancangan perlakuan yang akan
minyak kelapa. digunakan pada penelitian ini terdiri dari
Bahan-bahan kimia yang digunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan
dalam analisis kimia adalah H2SO4 variabel terikat. Variabel bebas (X) dari
1,25%, NaOH 3,25%, Etanol 95%, percobaan ini terdiri dari konsentrasi
Alkohol, Aquadest, Larutan Luff tepung dengan tiga taraf yaitu, (X1) 40%,
Schoorel, HCl 9,5 N, HCl pekat, pH (X2) 50% dan (X3) 60%. Variabel terikat
universal, H2SO4 6 N, KI, Na2S2O3, (Y) dari percobaan ini terdiri dari
amilum. metode pengolahan dengan tujuh taraf
Alat-alat yang digunakan dalam yaitu (Y1) WHC, (Y2) OHC, (Y3)
proses pengolahan tepung pisang goreng Derajat Putih Tepung, (Y4) Kadar Air,

4
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

(Y5) Kadar Abu, (Y6) Kadar Serat dan Gambar 2. Contoh Grafik Hubungan
(Y7) Kadar Pati. Linier OHC Dengan Tepung Ubi Kayu
Rancangan Penelitian Termodifikasi
Model rancangan penelitian yang Tabel 3. Analisa Derajat Putih Tepung
digunakan dalam penelitian ini adalah Konsentrasi Derajat Putih
regresi linier sederhana dengan dua Tepung Terpilih Tepung
variabel yang diukur yaitu WHC, OHC, 40%
Derajat Putih Tepung, Kadar Air, Kadar 50%
Abu, Kadar Serat dan Kadar Pati. 60%
Tabel 1. Analisa Water Holding Setiap data hasil yang diperoleh
Capacity (WHC) kemudian diplot ke kurva, sebagai
Konsentrasi WHC (%) berikut :
Tepung Terpilih
40% Derajat Putih Tepung (%)
50%
60% Tepung Ubi
Setiap data hasil yang diperoleh Kayu
kemudian diplot ke kurva, sebagai Termodifikasi
40% 50% 60%
berikut :
Gambar 3. Contoh Grafik Hubungan
WHC (%) Linier Derajat Putih Tepung Dengan
Tepung Ubi Tepung Ubi Kayu Termodifikasi
Kayu Tabel 4. Analisa Kadar Air
Termodifikasi Konsentrasi Kadar Air (%)
40% 50% 60% Tepung Terpilih
40%
Gambar 1. Contoh Grafik Hubungan
Linier WHC Dengan Tepung Ubi Kayu 50%
Termodifikasi 60%
Tabel 2. Analisa Oil Holding Capacity Setiap data hasil yang diperoleh
(OHC) kemudian diplot ke kurva, sebagai
Konsentrasi OHC (%) berikut :
Tepung Terpilih
Kadar Air (%)
40%
50% Tepung Ubi
60% Kayu
Setiap data hasil yang diperoleh Termodifikasi
kemudian diplot ke kurva, sebagai 40% 50% 60%
berikut :
Gambar 4. Contoh Grafik Hubungan
OHC (%) Linier Kadar Air Dengan Tepung Ubi
Kayu Termodifikasi
Tepung Ubi Tabel 5. Analisa Kadar Abu
Kayu Konsentrasi Kadar Abu (%)
Termodifikasi Tepung Terpilih
40% 50% 60%
40%
50%
60%

5
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Setiap data hasil yang diperoleh Selanjutnya dilakukan analisis regresi


kemudian diplot ke kurva, sebagai linier sederhana untuk mengetahui
berikut : hubugan antara variabel yang diukur
dengan metode pengolahan,
Kadar Abu (%) persamaannya yaitu :
Y=a + bX
Tepung Ubi
Dimana: Y= Konsentrasi Tepung
Kayu Terpilih
Termodifikasi a = Konstanta
40% 50% 60%
b = Koefisien regresi (nilai
Tabel 6. Analisa Kadar Serat Kasar peningkatan jika bernilai positif ataupun
Konsentrasi Kadar Serat penurunan jika bernilai negatif). X =
Tepung Terpilih Kasar (%) Variabel yang diukur (WHC, OHC
40% Derajat Putih Tepung, Kadar Air, Kadar
50% Abu, Kadar Serat dan Kadar Pati).
60% Respon Organoleptik
Setiap data hasil yang diperoleh Pengujian yang dilakukan adalah uji
kemudian diplot ke kurva, sebagai kesukaan dengan menggunakan metode
berikut : hedonik. Penilaian yang diberikan
meliputi warna, aroma, rasa, tekstur
Kadar Serat Kasar (%) renyah dilakukan oleh 30 orang panelis
agak terlatih. Kuantitatif data kualitatif
Tepung Ubi yang diperoleh dilakukan dengan
Kayu menggunakan skala numerik.
Termodifikasi Tabel 8. Kriteria Penilaian dalam Uji
40% 50% 60%
Hedonik (Uji Kesukaan)
Gambar 5. Contoh Grafik Hubungan Skala Hedonik Skala Numerik
Linier Kadar Serat Kasar Dengan Sangat tidak suka 1
Tepung Ubi Kayu Termodifikasi Agak Tidak suka 2
Tabel 7. Analisa Kadar Pati Tidak suka 3
Konsentrasi Kadar Pati (%) Suka 4
Tepung Terpilih Agak suka 5
40% Sangat suka 6
50% Sumber : Soekarto, 2006
60% Data hasil penelitian dan uji
Setiap data hasil yang diperoleh organoleptik merupaka data yang non
kemudian diplot ke kurva, sebagai parametik untuk diolah dengan
berikut : menggunakan ANAVA maka data
tersebut harus ditransformasi agar
Kadar Pati (%) berdistribusi normal.
III HASIL DAN PEMBAHASAN
Tepung Ubi Hasil Penelitian Pendahuluan
Kayu Respon Organoleptik
Termodifikasi 1. Warna
40% 50% 60%
Nilai rata-rata secara keseluruhan
Gambar 6. Contoh Grafik Hubungan terhadap warna pisang goreng
Linier Kadar Pati Dengan Tepung Ubi menunjukkan nilai 4,50, dimana panelis
Kayu Termodifikasi memberikan respon agak suka.

6
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Menurut Khusnul, dkk, (2015), OHC 21,15%


Reaksi-reaksi antara karbohidrat, Kadar Air 4,4%
khususnya gula pereduksi dengan gugus Kadar Abu 1,75%
amina primer, disebut reaksi-reaksi Kadaar Serat
maillard. Hasil reaksi tersebut 1,86%
Kasar
menghasilkan bahan berwarna coklat, Kadar Pati 67,31%
misalnya pada proses penggorengan Respon Fisik
ubi jalar Perubahan warna minyak dapat Derajat Putih Tepung
disebabkan oleh reaksi Maillard dari Derajat putih tepung ubi kayu
produk. termodifikasi yaitu 60,42%, SNI tepung
2. Aroma ubi kayu adalah min. 85, tepung ubi
Nilai rata-rata secara keseluruhan kayu termodifikasi belum memenuhi
terhadap warna pisang goreng SNI No. 01-2997-1992 tepung ubi kayu,
menunjukkan nilai 5,09 dimana panelis tepung ubi kayu yang sesuai dengan SNI
memberikan respon suka. adalah tepung yang berwarna puyih.
Aroma yang terdapat pada pisang goreng WHC (Water Holding Capacitiy)
banyak dipengaruhi oleh Aroma khas yang WHC digunakan untuk mengukur
timbul dari pisang goreng adalah karena
kemampuan tepung dalam menahan air
ditambahkan vanila untuk menambah aroma
khas dari tepung pisang goreng. yang diserapnya.
3. Rasa WHC tepung ubi kayu termodifikasi
Nilai rata-rata secara keseluruhan yaitu 41,17%, Hal ini menunjukan
terhadap warna pisang goreng bahwa tepung ubi kayu termodifikasi
menunjukkan nilai 4,98, dimana panelis memiliki kemampuan menahan air yang
memberikan respon agak suka. Rasa yang diserapnya sebanyak 41,17%, kandungan
terdapat pada pisang goreng banyak WHC tepung ubi kayu sebelum
dipengaruhi oleh penambahan gula pasir dimodifikasi adalah sebesar 19,23%.
yang memberikan cita rasa gurih terhadap OHC (Oil Holding Capacity)
pisang goreng. OHC digunakan untuk mengukur
4. Tekstur kemampuan tepung dalam menahan
Nilai rata-rata secara keseluruhan minyak yang diserapnya (Yuliasih,
terhadap warna pisang goreng 2008).
menunjukkan nilai 5,15, dimana panelis OHC tepung ubi kayu termodifikasi
memberikan respon suka terhadap warna sebesar 21,15%. Hal ini menunjukkan
pisang goreng. bahwa tepung ubi kayu termodifikasi
Tekstur pati jagung di goreng memiliki kemampuan dalam menahan
cenderung lebih renyah dan mudah patah minyak yang diserapnya sebesar
saat digigit. Namun, pemakaian tepung 21,15%, kandungan OHC tepung ubi
maizena yang berlebihan akan membuat kayu sebelum dimodifikasi adalah
gorengan terasa keras. Karena itu, pati sebesar 12,00%.
jagung sangat dianjurkan untuk Respon Kimia
digunakan dalam tepung pelapis lauk Kadar Air
crispy (Yuyun, 2011). Kadar air tepung ubi kayu
Tabel 9. Hasil Penelitian Pendahuluan termodifikasi adalah sebesar 4,4%,
Tahap 2 terhadap Tepung Ubi Kayu berdasarkan SNI tepung ubi kayu dan
Termodifikasi SNI tepung bumbu kadar air tepung ubi
Derajat Putih kayu termodifikasi sudah memenuhi
60,42% standar yaitu Mak. 12. Kandungan
Tepung
WHC 41,17%

7
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

tepung ubi kayu sebelum dimodifikasi tepung dalam menahan air yang
sebesar 7,54%. diserapnya. (Magdalena, 2010).
Kandungan air dalam suatu bahan Kemampuan tepung dalam menyerap
pangan biasanya dinyatakan dalam dalam menyerap dan menahan air tidak
persen terhadap tahan bahan basah yang hanya dipengaruhi oleh kandungan air
disebut kadar air basis basah (Udin, dalam bahan melainkan dipengaruhi oleh
2006). beberapa faktor yaitu kandungan
Kadar Abu amilosa, ukuran granula pati, dan kadar
Kadar Abu tepung ubi kayu lemak dari bahan. Air yang terserap
termodifikasi adalah sebesar 1,75%, dalam molekul pati disebabkan oleh sifat
berdasarkan SNI tepung ubi kayu kadar fisik granula maupun terikat secara
abu tepung ubi kayu termodifikasi belum intramolekul (Kulp dan Joseph, 2000).
memenuhi standar yaitu max 1,5. Menurut Rauf dan Dwi (2015),
Tepung ubi kayu sebelu dimodifikasi Campuran tepung terigu dengan porsi
sebesar 1,97%. Besarnya kadar abu tepung ubi kayu yang lebih tinggi
produk pangan bergantung pada dibanding campuran dengan porsi
besarnya kandungan mineral bahan yang tepung terigu yang lebih banyak.
digunakan ( Esti, 2008).
Kadar Serat Kasar WHC (%) y= 3,41 + 0,45x, r= 0,9894
Kadar Serat Kasar tepung ubi kayu 60
termodifikasi adalah sebesar 1,90%, 50
berdasarkan SNI tepung ubi kayu kadar 40
serat tepung ubi kayu termodifikasi 30
belum memenuhi standar yaitu max 1,5. 20
Kadar serat adalah bagian yang tidak 10
larut dengan asam da basa kuat encer. 0
Kadar Pati 40% 50% 60% Konsentrasi Tepung
Kadar Pati tepung ubi kayu
termodifikasi adalah sebesar 68,56%, Grafik 1. Regresi Linier Metode
tepung ubi kayu yang belum Hubungan liner sempurna dengan
dimodifikasi sebesar 68,65%. kemiringan (slope) yang positif, hal ini
Berdasakan SNI 02-2997-1992 kadar ditunjukkan dengan slope yang positif
pati minimal 75%. Pati terdiri atas dua 0,9894 artinya semakin tinggi
komponen yang dapat dipisahkan yaitu konsentrasi tepung maka semakin tinggi
amilosa dan amilopektin (Rukmana, nilai WHC yang dihasilkan.
2013). Hasil metode analisis konsentrasi
Hasil Penelitian Utama tepung 40% menghasilkan rata-rata
Respon Fisik kadar pati yang rendah dibandingkan
Water Holding Capacity (WHC) dengan konsentrasi 60 % menghasilkan
Tabel 10. Hasil Data Analisis Water rata-rata WHC yang tinggi.
Holding Capacity (WHC) Oil Holding Capacity (OHC)
Konsentrasi WHC (%) Oil Holding Capacity (OHC)
40% 22,06 digunakan untuk mengukur kemampuan
50% 25,47 tepung dalam menahan minyak yang
60% 31,20 diserapnya.
Water Holding Capacity (WHC) Tabel 11. Hasil Data Analisis Oil
digunakan untuk mengukur kemampuan Holding Capacity (OHC)
Konsentrasi OHC (%)

8
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

40% 18,05 Tabel 12. Hasil Data Analisis Derajat


50% 17,39 Putih Tepung
60% 16,33 Konsentrasi Derajat Putih
Tepung (%)
y= 21,54 + (-0,086)x , r= - 40% 84,80
OHC (%) 50% 81,60
30 60% 76,10
25 Hubungan liner sempurna dengan
20 kemiringan (slope) yang negatif, hal ini
15 ditunjukkan dengan slope yang negatif -
10 0,9885 artinya semakin tinggi
5 konsentrasi tepung maka semakin rendah
0 derajat putih tepung yang dihasilkan
40% 50% 60%
Konsentrasi Tepung Derajat putih Tepung (%)
Grafik 2. Regresi Linier Metode 100 Y= 102,5833-(-0,043)x
Pengolahan Terhadap OHC 80 r= -0,9885
Hubungan liner sempurna dengan 60
kemiringan (slope) yang negatif, hal ini 40
ditunjukkan dengan slope yang negatif,
20
hal ini ditunjukkan dengan slope yang
positif -0,9907 artinya semakin tinggi 0
konsentrasi tepung maka semakin rendah 40% 50% 60% Konsentrasi Tepung
nilai OHC yang dihasilkan. Grafik 3. Regresi Linier Metode
Kemampuan tepung untuk pisang Pengolahan Terhadap Derajat Putih
goreng dalam menyerap dan menahan Tepung Pada Tepung Untuk Pisang
minyak ini akan mempengaruhi proses Goreng
pengolahan tepung pisang goreng Standar yang digunakan dalam
menjadi bahan pangan yaitu pada saat analisis yaitu 80,6. Dalam penelitian
proses penggorengan. Tepung yang Adie (2007), Derajat putih tepung
memiliki nilai OHC yang besar akan sebelum digunakan dikalibrasi dengan
lebih banyak menyerap minyak dan standar derajat putih yaitu BaSO4 yang
menahan minyak yang digunakan untuk memiliki derajat putih 100% (110,8).
menggoreng. Hal ini menyebabkan Dalam penelitian Udin (2006), standar
minyak goreng yang digunakan akan yang digunakan 81,6 yaitu barium sulfat
cepat habis. derajat putih 100%.
Hasil metode analisis konsentrasi Hasil metode analisis konsentrasi
tepung 60% menghasilkan rata-rata tepung 60% menghasilkan rata-rata
kadar pati yang rendah dibandingkan kadar pati yang rendah dibandingkan
dengan konsentrasi 40 % menghasilkan dengan konsentrasi 40 % menghasilkan
rata-rata OHC yang tinggi. rata-rata derajat putih tepung yang
Derajat Putih Tepung tinggi.
Warna adalah suatu sifat bahan yang Respon Kimia
dianggap berasal dari penyebaran Kadar Air
spektrum sinar. Magdalena (2010), Kadar air yang
tinggi pada produk tepung-tepungan
akan sangat mengganggu stabilitas dari
produk tersebut. Kandungan air yang

9
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

tinggi pada produk tepung-tepungan Menurut Nielsen (2003), kadar abu


akan membuat tepung tersebut tepung-tepungan bervariasi atara 0,30
menggumpal apabila disimpan. Dengan 1,40% (bb). Semakin besar kadar abu
banyaknya kandungan air, kerusakan suatu bahan pangan, semakin besar pula
karena aktivitas mikroorganisme akan kandungan mineral yang terkandung di
cepat terjadi. dalam bahan pangan tersebut.
Tabel 13. Hasil Data Analisis Kadar Air Tabel 14. Hasil Data Analisis Kadar Abu
Konsentrasi Kadar Air (%) Konsentrasi Kadar Abu (%)
40% 9,46 40% 2,75
50% 8,41 50% 2,52
60% 7,98 60% 1,86
Nilai kadar abu yang besar
disebabkan adanya penambahan bumbu
y= 12,30 + (-0,07) x
Kadar Air (%) r= -0,9727
seperti garam dan soda kue yang
merupakan garam-garam anorganik
14 sehingga masih tersisa sebagai abu saat
12
10 dilakukan pengabuan.
8
6
4 y= 4,59+(-0,043)x
2
0 Kadar Abu (%) r= -0,9613
40% 50% 60% Konsentrasi Tepung
14
12
Grafik 4. Regresi Linier Metode 10
8
Pengolahan Terhadap Kadar Air 6
Pada Tepung Untuk Pisang Goreng 4
2
Hubungan liner sempurna dengan 0
kemiringan (slope) yang negatif, hal ini 40% 50% 60% Konsentrasi Tepung
ditunjukkan dengan slope yang negatif -
0,9727 artinya semakin tinggi Grafik 5. Regresi Linier Metode
konsentrasi tepung maka semakin rendah Pengolahan Terhadap Kadar Abu
kadar air tepung yang dihasilkan Pada Tepung Untuk Pisang Goreng
Menurut Magdalena, (2010), kadar air Hubungan liner sempurna dengan
yang tinggi pada produk tepung- kemiringan (slope) yang negatif, hal ini
tepungan akan sangat mengganggu ditunjukkan dengan slope yang negatif,
stabilitas dari produk tepung tersebut. hal ini ditunjukkan dengan slope yang
Kandungan air yang tinggi pada produk negatif -0,9779 artinya semakin tinggi
tepung-tepungan akan membuat tepung konsentrasi tepung maka semakin rendah
tersebut menggumpal apabila disimpan. kadar abu yang dihasilkan.
Hasil metode analisis konsentrasi Kandungan tepung sagu cukup tinggi
tepung 60% menghasilkan rata-rata sekitar 4,86% jika dibandingkan dengan
kadar pati yang rendah dibandingkan kadar abu pada pati sagu yang hanya
dengan konsentrasi 40 % menghasilkan 0,47%. Hal ini dapat dilihat bahwa
rata-rata kadar air yang tinggi. semakin tinggi konsentrasi tepung ubi
Kadar Abu kayu termodifikasi maka akan semakin
Kadar Abu suatu tepung terhubung rendah kadar abu, karena semakin tinggi
dengan kandungan mineral di dalamnya. konsentrasi tepung ubi kayu
Kadar abu sangat dipegaruhi oleh termodifikasi penambahan tepung sagu
jenis bahan, umur bahan dan lain-lain.

10
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

lebih tinggi dibandingkan konsentrasi y= 58,11 - 0,19x, r= 0,95889


40% (Udin, 2006). Kadar Pati (%)
Hasil metode analisis konsentrasi
80
tepung 60% menghasilkan rata-rata
75
kadar pati yang rendah dibandingkan
70
dengan konsentrasi 40 % menghasilkan
rata-rata kadar abu yang tinggi. 65
Kadar Serat Kasar 60
Tabel 15. Hasil Data Analisis Kadar 40% 50% 60% Konsentrasi Tepung
Serat Kasar Grafik 7. Regresi Linier Metode
Konsentrasi Kadar Serat Pengolahan Terhadap Kadar Pati
Kasar (%) Pada Tepung Untuk Pisang Goreng
40% 1,66 Hubungan liner sempurna dengan
50% 2,14 kemiringan (slope) yang positif, hal ini
60% 2,61 ditunjukkan dengan slope yang positif
Hubungan liner sempurna dengan 0,9588 artinya semakin tinggi
kemiringan (slope) yang positif, hal ini konsentrasi tepung maka semakin tinggi
ditunjukkan dengan slope yang positif, kadar pati yang dihasilkan.
hal ini ditunjukkan dengan slope yang Terjadi penurunan kadar pati tepung
positif 0,9999 artinya semakin tinggi pisang goreng dengan konsentrasi 60%
konsentrasi tepung maka semakin tinggi jika dibandingkan tepung ubi kayu
kadar serat kasar yang dihasilkan. termodifikasi yang memiliki nilai kadar
pati sebesar 67,31%. Hal ini karena
bahan yang dicampurkan adalah pati
y= 4,59+(-0,043)x
jagung.
Kadar Abu (%) r= -0,9613
Hasil metode analisis konsentrasi
14 tepung 40% menghasilkan rata-rata
12
10 kadar pati yang rendah dibandingkan
8 dengan konsentrasi 60 % menghasilkan
6
4 rata-rata kadar pati yang tinggi.
2 Organoleptik
0
40% 50% 60% Konsentrasi Tepung Warna
Pada pengujian organoleptik terhadap
Grafik 6. Regresi Linier Metode warna pisang goreng memiliki warna
Pengolahan Terhadap Kadar Serat Kasar kuning keemasan. Hasil organoleptik
Kadar Pati penelitian utama, tepug ubi kayu
Hasil metode analisis konsentrasi termodifikasi tidak berpengaruh pada
tepung 40% menghasilkan rata-rata parameter warna.
kadar pati yang rendah dibandingkan Menurut Desrosier (2008), Bahan
dengan konsentrasi 60 % menghasilkan pangan yang mengalami pengolahan
rata-rata kadar serat kasar yang tinggi. atau pemanasan dapat diduga mengalami
Tabel 16. Hasil Data Analisis Kadar Pati perubahan yang nyata dalam warna
Konsentrasi Kadar Pati (%) bahan pangan. Proses pemanasan,
40% 66,40 pembekuan, atau pengeringan makanan
50% 67,36 mengubah kualitas fisik dan kimianya.
60% 70,37

11
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Menurut Winarno (2004), penentuan Tekstur


mutu bahan makanan pada umumnya Hasil organoleptik penelitian utama,
sangat bergantung pada beberapa faktor tepug ubi kayu termodifikasi tidak
diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan berpengaruh pada parameter tekstur.
nilai gizi, disamping itu ada faktor lain, Tingkat kekerasan yang rendah, bisa
misalnya sifat mikrobiologis. dicapai dengan merendam kimpul ke
Aroma dalam natrium bikarbonet (NaHcO3).
Aroma yang terdapat pada pisang Perendaman natrium bikarbonat apabila
goreng banyak dipengaruhi oleh Aroma dicampurkan dalam bahan akan
khas yang timbul dari pisang goreng menghasilkan gas CO2 pada saat
adalah karena ditambahkan vanila untuk penggorengen (Winarno, 2002).
menambah aroma khas dari tepung Sehingga gas CO2 yang sangat bayak ini
pisang goreng. Hasil organoleptik diharapkan dapat membentuk suatu pori-
penelitian utama, tepug ubi kayu pori dalam keripik kimpul yang
termodifikasi tidak berpengaruh pada dihailkan. Karena semakin banyak pori-
parameter aroma. pori yang terbentuk, tekstur keripik yang
Penggunaan vanila yang terlalu dihasilkan akan semakin renyah.
banyak dapat menyebabkan rasa pahit, IV KESIMPULAN DAN SARAN
yang ketiga vanila bubuk sama seperti Kesimpulan
vanila esens, vanila bubuk merupakan 1. Berdasarkan hasil penelitian utama
produk sintetis. Memiliki karakteristik mengenai pengaruh konsentrasi
yang hampir sama dengan vanila esens, tepung ubi kayu termodifikasi didapat
dan vanila batang merupakan biji vanila hasil konsentrasi 60% yang memiliki
asli yang dikeringkan. Cara derajat putih tepung, WHC, OHC,
penggunaannya biasanya biji vanila utuh kadar air, kadar abu, kadar serat
dibelah memanjang lalu diambil isinya kasar, dan kadar pati yang mendekati
kemudian dicampur ke dalam makanan SNI Mutu Tepung Ubi Kayu (SNI
(Aini, 2013). No. 01-2997-1992).
Rasa 2. Berdasarkan hasil organoleptik
Pada pengujian organoleptik terhadap penelitian pendahuluan, tepung ubi
rasa pisang goreng memiliki rasa gurih kayu termodifikasi berpengaruh pada
khas pisang goreng. Rasa yang parameter rasa dan tekstur.
dihasilkan tergantung dari proses 3. Berdasarkan hasil analisis tepung ubi
penggunaan minyak. Minyak goreng kayu termodifikasi didapat derajat
yang digunakan berguna sebagai putih tepung 60,42%, WHC 41,17%,
penghantar panas, penambah rasa gurih, OHC 21,15%, kadar air 4,4%, kadar
dan penambah nilai kalori bahan pangan abu 1,75%, kadar serat kasar 1,86%
(Andriana dan arimah, 2012). dan kadar pati 67,31%.
Hasil organoleptik penelitian utama, 4. Berdasarkan hasil organoleptik
tepug ubi kayu termodifikasi tidak penelitian utama, tepung ubi kayu
berpengaruh pada parameter rasa. termodifikasi tidak berpengaruh pada
Gula berfungsi sebagai humektan, parameter warna, aroma, rasa dan
membantu pembentukan tekstur, tekstur.
memberi flavor melalui reaksi 5. Berdasarkan hasil trial and error
pencoklatan, memberi rasa manis. didapat tepung ubi kayu termodifikasi
(Khusnul, dkk, 2015). dengan konsentrasi 60%, tepung sagu
15%, pati jagung 10%, gula 10%,

12
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

garam 1,2%, soda kue 0,7%, gum Produksi Ubi Kayu di Jawa Barat.
arab 0,9%, dan vanila 2,2%. Jawa barat dalam angka 2007.
Saran www.jabarprov.go.id Akses : 12 Juni
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut 2016
mengenai kandungan amilosa, BRKP (Badan Riset Kelautan dan
amilopektin, pati resisten, amilografi Perikanan), (2001). BProceding
tepung utuk pisang goreng. Forum Pasar Garam Indonesia.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut Jakarta: Departemen.
untuk mengetahui pengaruh BSN (Badan Standarisasi Nasional),SNI
penyimpanan dalam kondisi 01-2997-1992. (1992). Persyaratan
pengemasan tepung utuk pisang Mutu Tepung Ubi Kayu.
goreng. BSN (Badan Standarisasi Nasional),SNI
DAFTAR PUSTAKA 01-7152- 2006. (2006). Perisa
Adie, (2007). Mempelajari Makanan
Karakteristik Kimia Dan Fisik Carolina, (2009). Menara Peluang
Tepung Tapioka Dan Mocal Inovasi Berbasis Sampeu Manggu.
(Modified Cassava Floue) Sebagai Prosiding Seminar Nasional GRI,
Penyalut Kacang Pada Produk LIPI, Subang.
Kacang Salut. Skripsi, IPB. Demedia. (2009). Rahasia Membuat
Agung, (2014). Kandungan Gizi Gula Gorengan Terbaik.
Pasir. www.dokumen.tips.com . http://demediapustaka.com. Akses : 5
Akses : 14 April 2016 Mei 2016
Aini, (2013). Aneka Ragam Vanila. DesiW. L., Aris Sri W., dan Eny Sri W.,
Tabloidova.com. Akses : 20 April (2013). Pengaruh Substitusi Tepung
2016 Tapioka Terhadap Tekstur Nilai
Andriana J. L. D. dan Arimah, (2012). Organoleptik Dodol Susu. Skripsi,
Laporan Praktikum Dasar Univeristas Brawijaya, Malang.
Teknologi Pengolahan. Frying Elvira, (2013). Pengaruh Dua Siklus
(Penggorengan). Universitas Jendral Autoclavig-Coolig Terhadap Kadar
Soedirman. Pati Resisten Tepung Beras dan
[AOAC] Association of Official Bihun yang Dihasilkannya,
Aalytical Chemist, (2005). Official Departemen Ilmu dan Teknologi
Method of Analysis of The Pangan, Fakultas Teknologi
Association of Official Analytical of Pertanian, Skripsi, IPB-Bogor
Chemist. Arlington: The Association Esti, (2008). Pemanfaatan Tepung Ubi
of Official Analytical Chemist, Inc. Kayu dan Tepug Biji Kecipir Sebagai
Army, (2012). Formulasi Kombinasi Substitusi Terigu Dalam Pembuatan
Tepug Sagu dan Jagung pada Cookies. Skripsi, Universitas Sebelas
Pembuatan Mie. Skripsi, FMIPA Maret.
UN Fansisca, (2010). Formulasi Tepung
Badan Pusat Statistik, (2013). Data Bumbu Dari Tepung Jagung Dan
perkembangan luas panen Penentuan Umur Simpannya
produksi, dan produktivitas ubi Dengan Pendekatan Kadar Air
kayu di Indonesia pada tahun 2005- Kritis, Skripsi, IPB-Bogor.
2012. BakosurtanalIndonesia-Jendela Hanif, M. (2009). Produksi dan
Informasi Indonesia. Karakteristik Tepung Kasava
Badan Pusat Statistik, (2007). Luas Termodifikasi., Skripsi. Jurusan
Panen, Hasil Per Hektar dan

13
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Teknologi Industri Pertanian, Fateta Khusnul Nilasari, Novi Rahayuningsih


IPB, Bogor. dan Sigit Prastiyo. Reaksi
Hara, (2002). Mempelajari Pencoklatan (Browning). Skripsi,
Penambahan Gum Arab dalam UPN Veteran Jawa Timur.
Pembuatan Selai Jambu Biji Kulp K. Da G.P. Joseph, (2000).
Berserat Tinggi. Skripsi. IPB-Bogor. Handbool of Cereal Sciece and
Techology. Marcel Dekker, New
Hapsari Titi P, A. Zainul A, M. Dan York.
Nugroho (2010), Pengaruh Pre Laiya Nofliyanto, R.M. Harmain,
Gelatinisasi Terhadap N.Yusuf, (2014). Formulasi
Karakteristik Tepung Ubi kayu. Kerupuk Ikan Gabus yang
Jurnal Disubstitusi dengan Tepung Sagu.
Hengky N., (2013). Sumber Daya Jurnal Ilmiah, Universitas Negeri
Genetik Sagu Mendukung Gorontalo.
Pengembangan Sagu di Indonesia. Magdalena, (2010). Formulasi dan
Jurnal, Balai Penelitian Tanaman Pendugaa Umur Simpan Tepung
Palma Manado. Bumbu Ayam Goreng Berbahan
Herniawan. (2010). Pengaruh Metode Baku Modified Cassava Flour
Pengeringan Terhadap Mutu dan (MOCAF). Sripsi,IPB. Bogor.
Sifat Fisiko-Kimia Tepung Cassava Mursalin, Purwiyanto H., Eko H. P.,
Terfermentasi. Skripsi, Jurusan Nuri A., dan Dedi F,. (2011). 4
Teknologi Industri Pertanian, Fateta Karakterisasi Sifat Fisiko Kimia
IPB, Bogor. Minyak Kelapa. Skripsi, Fakultas
Ike K.W.,Supriyanto da U. Purwandari Teknologi Pertanian, IPB-Bogor
(2012), Optimasi Penggunaan Nieslsen, S. S. (2003). Food Analysis.
Tepung Garut Dalam Pembuatan Kluwer Academic/Plenum
Fried Batter Coating Dengan Publisher, New York.
Penambahan Carboxymethyl Poedjiadi dan Supriyanti, (2005). Dasar-
Cellulose (CMC). Skripsi, Dasar Biokimia. Penerbit :
Universitas Trunojoyo Madura. Universitas Indonesia
Indah S. (2000). Pengaruh Rahmat dan Neni W., Derajat Putih
Konsentrasi Garam Dan Jeis Tepug Tepung Yang Dihasilkan Pada
Terhadap Karakteistik Mutu Fisik Beberapa Tingkat Umur Panen
Baso Ikan Layaran. IPB-Bogor, Dan Masa Simpan Buah Sukun.
Skripsi Skripsi, Universitas Islam Kalimantan
Indrati K. (2009). Analisa Faktor Daya Muhamad Arsyad Al Banjary.
Serap Kerupuk Rumput Laut pada Rauf R. Dan Dwi S. (2015). Daya Serap
Variai Proporsi Rumput Laut. Air Sebagai Acuan Utuk
Jurnal Teknologi Pertanian, Menentukan Volume Air Dalam
Universitas Mulawarman. Pembuatan Adonan Roti Dari
Jodi S. B., S. S.Yuwono dan D. Campuran Tepug Terigu Dan
Widyaningtyas, (2015). Pendugaan Tepung Ubi kayu. Jurnal,
Umur Simpa Tepung Bumbu Ayam Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Goreng Menggunakan Metode Risna (2011), Tepung ubi kayu
Accelerated Shelf Life Testing termodifikasi (MOCAF), bahan
dengan Pendekatan Arrhenius. pangan lokal untuk substitusi
Skripsi, IPB-Bogor. terigu, Skripsi.

14
Cresha Gina Fitriany (12.30.20.097) Tepu ng Olahan Ubi Kayu
Terhadap Tepung Untuk Pisang Goreng (Flour for Banana Fritter) Menggunakan Regresi Linier Sederhana

Risti (2013), Pegaruh Penambahan produk gorengan. Jurnal Warta IHP.


Telur Terhadap Kadar Protein, 12(1- 2):1-4.
Serat, Tigkat Kekenyalan dan Taggart, P. (2004). Starch as an
Penerimaan Mi Basah Bebas Ingredient: Manufacture and
Gluten Berbahan Baku Tepung Applications. Di dalam Starch in
Komposit, Skripsi. Universitas Food. Woodhead Publishing Limited.
Diponegoro. Udin S. (2006). Rekayasa Proses
Rukmana, (2013). Pengaruh Tepung Sagu Dan Beberapa
Konsentrasi Starter Karakternya. IPB-Bogor, Skripsi
Mikroorganisme Dan Lama Winarno, F.G. (2002). Kimia Pangan
Fermentasi Terhadap dan Gizi. Penerbit: PT. Gramedia
Karakteristik Tepung Talas Pustaka
Termodifikasi. Skripsi, Universitas Winarno, F.G. (2004). Kimia Pangan
Pasundan, Bandung. dan Gizi. Penerbit: PT. Gramedia
Sarah, (2013). Kajian Pembuatan Pati Pustaka
jagung Dari Jagung Kuning Dan Wisnu dan Sulusi. (2008). Teknologi
Sintas Mutan Cronobacter spp. Pengolahan Untuk
(Enterobacter sakazakii). Skripsi, penganekaragaman konsumsi
IPB. Bogor. pangan, BB Litbang Pascapanen
Sindo, (2011). Vanila Pengharum Pertanian. DEPTAN-RI,2008.
Makanan. www.okezone.com. Akses : Wuri Prabanda. (2011). Pengaruh
23 April 2016 Penambahan Berbagai Jenis Bahan
Soekarto, (2006), Penilaian Penstabil Terhadap Karakteristik
Organoleptik, Penerbit : Bharatara Fisikokimia dan Organoleptik
Karya Aksara, Jakarta. Yoghurt Jagung, Skripsi.
Subagio, A., Siti, W., Witono, Y., dan Yazri, F. (2010). Mocaf: Fermentasi 1
Fahmi, F., (2008), Prosedur Operasi jam. http://www.trubus-online.co.id.
Standar (POS) Produksi Mocal Akses: 13 April 2016
Berbasis Klaster, Southeast AsianYuliasih I., (2008). Fraksi dan Asetilasi
Food and Agricultural Science and Pati Sagu Serta Aplikasi
Technology (SEAFAST) Center, Produknya Sebagai Bahan
Institut Pertanian Bogor, Bogor. Campuran Plastik Sintetis.
Subagio Achmad. (2009). Penemu Disertasi. Program Pascasarjana IPB,
Modifikasi Tepung Gaplek. Jawa Bogor.
Pos, 12 Januari. Yuyun, (2007). Tepung Bumbu Instan.
Sudarmadji, (2010). Analisa Bahan www.surabaya.tribunnews.com. Diakses
Makanan dan Pertanian. Penerbit : : 30 April 2016.
Liberty Yogyakarta. Zayas, J. F. (2012). Functionality of
Suprapti, L. (2005). Tepung Tapioka. Proteins in Food. Springer Science
Pembuatan dan Pemanfaatannya. & Business Media. USA.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Sutrisniati, D; D. Mahdar; H. Wiriano
dan I.N. Ridwan. (1995). Pengaruh
pencampuran tepung dan
penambahan carboxy methyl
cellulose (CMC) pada pembuatan
tepung campuran siap pakai untuk

15