Anda di halaman 1dari 4

ETIOLOGI

TEORI BIOLOGI

Gangguan panik dapat diwariskan secara genetik pada kembar monozigot,


terdapat 31% kemungkinan pada salah satu kembar tersebut akan mengalami gangguan panik
jika kembar yang lain mengalaminya. Angka kejadian pada kerabat tingkat pertama ialah
15%.

Ketika diketahui bahwa individu yang mengalami gangguan ansietas memiliki


insiden manifestasi ganggguan ansietas yang lebih besar setelah melakukan latihan fisik yang
keras, Pitts dan McCluze (1967) menginfuskan natrium laktat pada individu yang mengalami
serangan ansietas dan menemukan bahwa 13 dari 14 individu tersebut mengalami serangan
panik setelah infusi. Reiman et al (1989) dan Grinspoon(1996) menjelaskan penggunaan
natrium laktat, karbon dioksida , dan kafein untuk menstimulasi serangan panik dan
menemukan abnormalitas pada parahipokampus. Girus parahipokampus ( area korteks selebri
yang terkait dengan sistem limbik) merupakan peningkatan aliran darah ketika individu yang
mengalami gangguan panik diberikan zat tersebut . tidak ada efek yang terlihat pada aliran
darah serebral individu yang normal atau mereka yang mengalami gangguan panik dan tidak
menunjukkan sensitivitas terhadap laktat. Hal ini menunjukkan sensitivitas laktat dapat
dikaitkan dengan hanya beberapa tipe gangguan panik. Serangan panik dapat muncul ketika
girus parahipokampus diaktifkan oleh jalur norepinefrin.

Gejala serangan panik, misalnya peningkatan frekuansi jantung, sama dengan


gejala yang terlihat pada peningkatan kadar norepinefrin yang dilepaskan. Obat-obatan
seperti yohimbin menyekat reseptor pengikat norepinefrin sehingga ansietas meningkat.
Klonidin yang membantu pengikatan reseptor terhadap norepinefrin, mengurangi gejala
ansietas, disfungsi serotonin dievaluasi karena inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI)
terbukti bermanfaat dalam terapi gangguan panik. Adenosin, suatu neurotransmiter purin
yang mengurangi pelepasan sebagian neurotransmiter lain, dapat digunakan dalam terapi
gangguan panik. kafein yang mempengaruhi reseptor adenosin, menimbulkan ansietas pada
banyak individu, tetapi menyebabkan serangan panik skala penuh pada beberapa individu
yang mengalami gangguan panik. Para peneliti mengkaji peran agonis reeptor adenosin pada
banyak gangguan ansietas ( keltner et al..,1998)

GANGGUAN PANIK
Serangan panik adalah suatu episode ansietas yang cepat , intens , dan meningkat,
yang berlangsung 15 sampai 30 menit, ketika individu mengalami ketakutan emosional yang
besar juga ketidaknyamanan fisiologis. Selama serangan panik, individu terserbut sanagt
cemas dan ememperlihatkan empat atau lebih gejala berikut : palpitasi, berkeringat, tremor,
sesak nafas, rasa asfikasi, nyeri dada, mual, distress abdomen, pusing , parestesia, menggigil,
atau hot flash .

Pskoanalitis

Informasi yang direpresi ke alam bawah sadar dapat muncul ke alam sadar.
Informasi ini menyebabkan konflik yang berasal dari salah satu dari empat sumber. Ansietas
superego, rasa bersalah yang dirasakan oleh individu yang secara sosial dan personal
memiliki impuls yang tidak tepat, dan tipe hukuman terhadap konflik jika informasi
diketahui, ansietas kastrasi, terkait dengan fantasi tentang mutilasi genital atau tubuh, ansietas
separasi, tentang potensi kehilangan orang terdekat, dan ansietas id , atau destruksi individu.
Tujuan psikoanalitis adalah menghadapi konflik untuk mengkaji sumber ansietas yang
sebenarnya kemudian melakukan intervensi ( freud 1936).

GANGGUAN TERKAIT

Gangguan ansietas lain

Beberapa gangguan ansietas terkait dengan penggunaan obat-obatan atau zat lain,
peristiwa traumatik atau penyakit. Gangguan ansietas juga mengganggu kehidupan,
hubungan, pekerjaan, dan fungsi sosial individu.

GANGGUAN ANSIETAS UMUM

Individu yang mengalami ansietas umum sangat khawatir, dan merasa sangat cemas
sekurang-kurangnya separuh waktu dari periode enam bulan atau lebih. Karena tidak mampu
mengendalikan fokus kekhawatiran , individu mengalami tiga atau lebih gejala berikut :
iritabilitas, gelisah, otot tegang, letih, sulit berfikir dan gangguan tidur. Dua belas persen
individu yang mendapatkan terapi untuk gangguan ansietas umum (DSM-IV-TR,2000).

GANGGUAN ANSIETAS AKIBAT KONDISI MEDIS UMUM

Gangguan ansietas akibat kondisi medis umum merupakan suatu kategori


diagnostic ketika gangguan ansietas seperti OCD, gangguan ansietas umum, atau serangan
panic secara langsung dikaitkan dengan kondisi medis umum individu. Gangguan ini
mempengaruhi fungsi okupasional, social atau interpersonal individu.gangguan ansietas dapat
terjadi karena obat-obatan, toksin, atau penyalahgunaan zat. Gejala dapat muncul selama
penggunaan zat atau selama putus zat , yang terlihat melalui perilaku yang terkait dengan
salah satu gangguan ansietas. Kategori diagnostic untuk keadaan ini adalah gangguan ansietas
akibat zat (DSM-IV-TK,2000).

GANGGUAN STRES PASCATRAUMA

Gangguan stress pascatrauma dapat terjadi pada individu yang menyaksikan


sebuah peristiwa yang berpotensi mematikan dan sangat menakutkan. Setelah peristiwa
traumatic, individu mengalami kembali semua atau beberapa peristiwa tersebut melalui
mimpi atau mengingat kembali serta memperlihat perilaku respon defensive terhadap kilas
balik ini. Perilaku baru yang terkait dengan peristiwa traumatic muncul, misalnya sulit
tidur,waspada berlebihan, sulit berpikir, respon sangat terkejut, dan agitasi (DSM-IV-
TR,2000).Hal ini dibicarakan rinci pada bab 11.

GANGGUAN STRES AKUT

Gangguan stress akut sama dengan gangguan stress pascatrauma, yakni individu
mengalami suatu situasi traumatic, tetapi respon yang muncul lebih disosiatif. Individu
merasa bahwa peristiwa tersebut tidak nyata, berpikir bahwa ia tidak nyata, dan melupakan
beberapa aspek peristiwa tersebut melalui amnesia, keterpisahan emosional, dan
ketidaksadaran yang mengungkapkan terhadap lingkungan (DSM-IV-TR,2000).

TRAUMATISASI YANG DIALAMI PEMBERI PERAWATAN

Profesional perawatan kesehatan dapat mengalami efek yang menimbulkan stress


dalam menangani pengalaman traumatic klien mereka ( blair dan ramones, 1996, McCann &
Pearlman, 1990 , stamm,1999). Personil unit kedaruratan, petugas kepolisian, pemadam
kebakaran, perawat, dokter, serta ahli psikoterapi mngakumulasi peristiwa tersebut dan
individu yang terlibat di dalamnya dan berasumsi bahwa, sebagai professional mereka
harus mampu mengatasi efek peristiwa traumatic ini. Biasanya pada traumatisasi yang
dialami pemberi perawatan,, gejala terkait stress yang sama dengan gejala gangguan stress
pascatrauma yang muncul akibat ketegangan empatik, asumsi yang merusak, stress dan
keletihan, serta kontertransferens (crocker,2000).
PATHWAYS