Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING

SEBAGAI ALAT DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER SEJAK


DINI DEMI PENINGKATAN PRESTASI OLAHRAGA SISWA

ROY ANDHIKA PUTRA LUMBANRAJA

6815161739

ILMU KEOLAHRAGAAN

KARYA TULIS ILMIAH

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah umum Bahasa Indonesia

FAKULTAS ILMU OLAHRAGA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
berkat dan rahmat-Nya, sehingga karya tulis ilmiah tentang Pengaruh Model Pembelajaran
Quantum Teaching Sebagai Alat Dalam Upaya Pembentukan Karakter Sejak Dini Demi
Peningkatan Prestasi Olahraga Siswa ini dapat diselesaikan. Karya tulis ilmiah ini telah
disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatanya. Untuk itu banyak terima kasih terucap kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini. Terlepas dari semua itu,
penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat
maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki karya tulis ilmiah ini. Akhir kata
penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Jakarta, Juni 2017

Penulis

i
ABSTRAK

Penurunan prestasi olahraga Indonesia baik secara nasional maupun internasional,


harus menjadi perhatian utama karena hal keolahragaan juga menjadi salah satu cermin
keberhasilan suatu negara. Melihat penurunan kuantitas dan kualitas prestasi bisa mulai
dilihat dari sudut pandang mikro sendiri yaitu sistem olahraga pendidikan sejak dini. Hal ini
menjadi sangat penting karena pembentukan atlet memakan waktu yang panjang, sehingga
sangat tepat dikatakan bahwa prosesnya harus dimulai sejak usia dini atau saat anak sudah
menjadi siswa sekolah. Metode pembelajaran Quantum Teaching dapat menjadi salah satu
pilihan yang sangat tepat untuk diaplikasikan dalam penyerapan nilai-nilai utama olahraga
untuk pembentukan karakter (character building) siswa-siswa dimana hal tersebut digunakan
dalam peningkatan prestasi olahraganya. Dasaran metode tersebut dapat menjadi alat yang
tepat untuk menumbuhkan bibit-bibit potensi olahragawan atau atlet sejak dini secara
maksimal.

Kata Kunci : Quantum Teaching, Character Building, Prestasi Olahraga

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i
ABSTRAK ................................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang .................................................................................................................. 1
I.2 Identifikasi Masalah .......................................................................................................... 2
I.3 Rumusan Masalah ............................................................................................................. 2
I.4 Tujuan Penelitian .............................................................................................................. 2
I.5 Manfaat Penelitiaan .......................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Olahraga Secara Umum .................................................................................................. 4
II.2 Olahraga Pendidikan dan Olahraga Prestasi ................................................................... 5
II.3 Konsep Pembentukan Karakter ...................................................................................... 6
II.4 Quantum Teaching .......................................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN
III.1 Statistik Keolahragaan.................................................................................................. 13
III.2 Pengaruh Quantum Teaching Terhadap Peningkatan Motivasi Belajajar dan
Berprestasi ................................................................................................................... 14
III.3 Pembentukan Karakter dalam Olahraga Atas Pengaruh Quantum Teaching ............. 17
BAB IV PENUTUP
IV.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 20
IV.2 Saran ............................................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. iv

iii
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Olahraga merupakan sebuah aktivitas yang bertujuan untuk melatih tubuh seseorang,
baik secara jasmani dan juga secara rohani. Banyak manfaat yang didapat ketika olahraga
dilakukan secara rutin oleh seseorang atau sebuah komunitas. Beberapa contohnya yaitu
sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi
lancar sehingga distribusi dan penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan
efisien. Disisi lain secara rohani, olahraga banyak mengajarkan nilai-nilai luhur seperti
sportivitas, kerjasama, dan disiplin. Kegiatan olahraga pun secara umum dibagi menjadi
beberapa garis besar seperti olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi.
Pada karya tulis ilmiah ini dibahas keterkaitan antara olahraga pendidikan dan olahraga
prestasi. Dalam olahraga pendidikan sendiri dilaksanakan secara teratur dan berkelanjutan
dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, pembentukan kepribadian dan juga pola pikir
seseorang. Sedangkan olahraga prestasi adalah aktivitas pembinaan dan pengembangan
olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk
mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Alhasil
secara langsung olahraga pendidikan dan prestasi sangat berkaitan erat karena salah 1 tolak
ukur dari keberhasilan olahraga pendidikan secara umum dapat dilihat dari jumlah prestasi
yang diciptakan. Seperti kita tahu bahwa lahirnya sebuah prestasi dari seorang olahragawan
tidaklah mudah. Umumnya proses ini sudah dimulai sejak dini atau usia anak. Apalagi ketika
anak tersebut masuk kedalam sekolah menjadi seorang siswa, sehingga layaklah sekolah
mampu mencari metode pembelajaran yang paling tepat untuk menumbuhkan bibit-bibit
muda tersebut. Maka dari itu diperlukan sebuah metode pendidikan yang tepat agar prestasi
yang diciptakan sejak dini dapat terus meningkat seiring bertambahnya usia seorang siswa.
Salah satu metode dalam olahraga pendidikan adalah metode pembelajaran Quantum
Teaching. Pemilihan model pembelajaran ini diharapkan mampu memaksimalkan upaya
peningkatan prestasi olahraga siswa sejak dini. Maka dari itu, pada karya tulis ini dibahas
mengapa Quantum Teaching merupakan metode yang tepat dan layak digunakan pada
pendidikan olahraga demi kemajuan prestasi olahraga Negara Indonesia di masa depan.
Karena tentunya untuk prestasi tersebut harus sudah mulai dipuput bibit olahragawannya
sejak dini.

1
I.2. Identifikasi Masalah

Fokus masalah pada karya tulis ini adalah pembahasan dasar-dasar penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching sebagai bukti bahwa model ini sangat cocok dijadikan alat
dalam upaya peningkatan prestasi olahraga siswa sejak dini.

I.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan fokus identifikasi masalah di atas, maka dapat
dirumuskan rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimanakah dasar-dasar model pembelajaran quantum teaching sehingga dapat


digunakan sebagai alat dalam upaya peningkatan prestasi olahraga siswa sejak dini?

I.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui dasar-dasar model pembelajaran quantum teaching sehingga dapat


digunakan sebagai alat secara maksimal dalam upaya peningkatan prestasi olahraga
siswa sejak dini

I.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapakan dapat dirasakan bagi setiap elemen terkait yaitu:

1. Bagi Siswa

Melalui penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dalam karya tulis ini,
diharapkan siswa sebagai subyeknya dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan
sehingga lebih termotivasi dalam belajar olahraga dan berpengaruh pada peningkatan
aktivitas dan prestasi olahraga siswa.

2. Bagi Guru

Besar harapannya para pendidik memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru


mengenai penerapan model Quantum Teaching yang dapat dijadikan salah satu alternatif
sebagai salah satu upaya dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk
memotivasi siswa sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi olahraga siswa.

3. Bagi Sekolah

2
Karya tulis ini dapat memberikan sumbangan informasi kepada sekolah dalam
memperbaiki kualitas pembelajaran dan mengembangkan model pembelajaran sehingga
aktivitas dan prestasi olahraga siswa meningkat yang berdampak pada kualitas sekolah
juga semakin meningkat.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Olahraga Secara Umum

Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang
melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran
jasmani. Olahraga merupakan sebagian kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari karena
dapat meningkatkan kebugaran yang diperlukan dalam melakukan tugasnya. Olahraga dapat
dimulai sejak usia muda hingga usia lanjut dan dapat dilakukan setiap hari. Pada dasarnya
olah raga berfungsi untuk menjaga, meningkatkan, menyeimbangkan kesehatan sistem
jasmani dan rohani seseorang dan sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan serta daya saing
antar seseorang/individu. Menurut Komisi disiplin Ilmu Keolahragaan, olahraga adalah
bentuk perilaku gerak manusia yang spesifik. Arah dan tujuan orang berolahraga
termasuk waktu dan alokasi kegiatan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga sebagai bukti
bahwa olahraga itu merupakan sebuah fenomena yang relevan dengan kehidupan sosial,
olahraga juga ekspresi budaya berkarya pada manusia.1 Secara umum, pengaplikasian
olahraga diturunkan dalam beberapa kelompok besar, yaitu:
1. Olahraga Pendidikan dimana merupakan pendidikan jasmani dan olahraga yang
dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk
memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran
jasmani.
2. Olahraga Kesehatan merupakan jenis kegiatan olahraga yang lebih menitikberatkan
pada upaya mencapai tujuan kesehatan dan fitnes yang tercakup dalam konsep
pembentukan proposional tubuh melalui kegiatan olahraga.
3. Olahraga Rekreasi dimana merupakan olahraga yang dilakukan oleh masyarakat
dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan
kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan
kegembiraan.
4. Olahraga rehabilitatif adalah jenis kegiatan olahraga, atau latihan jasmani yang
menekankan tujuan yang bersifat terapi atau aspek psikis dari perilaku.
5. Olahraga Prestasi merupakan olahraga yang membina dan mengembangkan
olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk
1
Wasis D. Wiyogo, Buku Penelitian Keolahragaan, (Malang: Wineka Media, 2000), hlm.7

4
mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan.
selain itu dalam pengembangan olahraga perlu dilakukan sebuah pendekatan keilmuan
yang menyeluruh dengan jalan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.2

Nilai yang ada dalam olahraga banyak hal yang dapat dikembangkan sebagai fondasi
bagi terciptanya tatanan masyarakat. Nilai-nilai dan keterampilan yang diperoleh melalui
olahraga antara lain kerjasama, komunikasi, taat pada aturan, pemecahan masalah,
pemahaman/pengertian, keterkaitan dengan yang lain, kepemimpinan, peduli pada sesama,
menghargai usaha, disiplin, bagaimana menyikapi kemenangan dan kekalahan, mengelola
kompetisi, sportif, berbagi tanggung jawab, harga diri, kepercayaan, kejujuran, kepedulian
diri, toleransi, adaptasi diri, dan percaya diri.3

II.2. Olahraga Pendidikan dan Olahraga Prestasi

Ruang lingkup olahraga sebenarnya dapat dibagi menjadi tiga aspek yang paling besar.
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.3 Tahun 2005 pasal 17, ruang
lingkup olahraga meliputi olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, olahraga prestasi. Ketiga
kriteria ini mempunyai peran penting peningkatan sumber daya manusia. Olahraga Rekreasi
bertujuan untuk pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran. Disamping itu olahraga
rekreasi juga dapat membangun hubungan sosial dan melestarikan kekayaan budaya lokal.

Olahraga Pendidikan tercipta ketika seseorang atau sekelompok orang melakukan


olahraga dengan tujuan untuk pendidikan maka semua aktivitas gerak diarahkan untuk
memenuhi tuntunan tujuan-tujuan pendidikan. Oleh karena itu, olahraga yang bertujan untuk
pendidikan ini idenitik dengan aktivitas pendidikan jasmani yaitu dengan media cabang
olahraga sebagai pendidikan. Olahraga pendidikan dilaksanakan sebagai bagian dari proses
pendidikan dan dengan jalur formal/informal serta didukung dengan perangkat yang ada
didalamnya. Olahraga pendidikan biasanya kita temukan disekolah-sekolah dengan
implikasinya, diharapkan dalam jangka yang pendek, paling tidak diarahkan para siswa
memiliki kebugaran jasmani, kesenangan melakukan aktifitas fisik dan olahraga dan
terbentuklah manusia yang sehat secara jasmani. Konsep Pembinaan dan Pengembangan
Olahraga Pendidikan yaitu:

2
Wasis, Loc.Cit., hlm.10-11
3
Arma Abdoelah, Dasar-dasar Pendidikan Jasmani: DIKTI, (Jakarta, 1994), hlm.11

5
1. Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan
sebagai satu kesatuan yang sistemis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan
nasional.
2. Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan melalui proses
pembelajaran yang dilakukan guru/dosen olahraga yang berkualifikasi dan sertifikasi
dan didukung sarana prasarana yang memadai
3. Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan memberikan kebebasan kepada
peserta didik untuk melakukan kegiatan olahraga sesuai dengan bakat dan minat.
4. Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dengan
memperhatikan potensi, kemampuan, minat dan bakat peserta didik secara
menyeluruh baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.4

Olahraga Prestasi adalah kegiatan olahraga yang dilakukan dan dikelola secara
profesional dengan tujuan untuk memperoleh prestasi optimal pada cabang-cabang olahraga.
Atlet yang menekuni salah satu cabang tertentu untuk meraih prestasi, dari mulai tingkat
daerah, nasional, serta internasional, mempunyai syarat memiliki tingkat kebugaran dan harus
memiliki keterampilan pada salah satu cabang olahraga yang ditekuninya tentunya diatas
rata-rata non atlet. Untuk mencapai prestasi tentunya harus tetap berlatih. UU Nomber 3
Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional juga mengatakan Olahraga Prestasi
merupakan olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana,
berjengjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan
ilmu pengetahuan dan teknologi keolragaan. Olahraga prestasi dapat dicapai dengan pesiapan
yang matang dan memerlukan proses yang baik.

II.3. Konsep Pembentukan Karakter

Dari segi bahasa pembangunan karakter (Character Building) terdiri dari 2 kata yaitu
membangun (to build) dan (Character). Adapun arti membangun bersifat memperbaiki,
membina, mendirikan, mengadakan sesuatu.5 Sedangkan karakter adalah tabiat, watak, sifat-
sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Sehingga secara sederhanan pembangunan karakter (Character Building) adalah suatu proses

4
Cholik Mutohir, T., Gagasan-Gagasan Pendidikan Jasmani dan Olahraga, (Surabaya: Unesa University Press
Book G. inc, 2002), hlm.163
5
Idup Suhady, Wawasan Kebangsaan Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, (Lembaga
Administrasi Negara-RI, Jakarta, 2003), hlm. 53

6
atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan membentuk tabiat, watak, sifat
kejiwaan, budi pekerti, masyarakat sehingga menunjukan perangai dan tingkah laku yang
baik berdasarkan norma yang ada. Manusia mempunyai ciri bahwa ia dapat memiliki sifat-
sifat manusia yang merupakan bagian dari lingkungan dimana ia hidup. Salah satu ciri itu
adalah ia dapat berfikir yang memungkinkan ia mengambil keputusan, mengontrol perilaku
dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Semenjak lahir seseorang berkembang
sebagai mahkluk social dan juga sebagai satu individu yang mempunyai keinginan dan
perhatian pribadi. Segera setelah lahir anak menunjukan kecenderungan menjadi mahkluk
social. Ia mempunyai kemampuan untuk bereaksi terhadap berbagai rangsang khususnya
terhadap karakteristik wajah manusia. Sementara proses menjadi dewasa berlanjut, anak
memperlihatkan perilaku yang bercirikan kerjasama dan hasrat untuk bersahabat, kooperatif,
menyadari pentingnya bekerjasama, mengembangkan pendirian dan loyalitas dan menjadi
tertarik kepada masyarakat dimana ia hidup dan merasa bertanggung jawab terhadap
hidupnya. Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa karakter seseorang mempunyai makna atau
nilai yang sangat mendasar untuk mempengaruhi segenap pikiran, tindakan dan perbuatan
setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

II.4. Quantum Teaching

Quantum teaching adalah pendekatan proses belajar yang dapat memunculkan


kemampuan dan bakat alamiah siswa dalam membangun proses pembelajaran yang efektif.6
Model pembelajaran Quantum teaching menekankan pada teknik meningkatkan kemampuan
diri dan proses penyadaran akan potensi yang dimiliki. Porter menyatakan bahwa asas utama
quantum teaching adalah Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke
dunia mereka. Inilah asas utama yang merupakan dasar model quantum teaching. Hal ini
dapat diartikan bahwa guru diingatkan tentang pentingnya memasuki dunia siswa dengan
mengaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang
diperoleh dari kehidupan rumah, sosial atau akademis siswa. Setelah kaitan tersebut
terbentuk, guru dapat membawa siswa kedalam dunia guru dan memberikan siswa
pemahaman mengenai isi dunia.7 Model pembelajaran quantum teaching merupakan model
belajar yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran yang menyenangkan dapat
mengembangkan secara cepat potensi siswa karena berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung kepada proses belajar yang dialami siswa. Belajar

6
Bobbi De Porter, Quantum Teaching/Learning, (Bandung : Kaifa, 2000), hlm. 3
7
Ibid, hlm.6

7
memerlukan lingkungan yang menunjang, dimana anak dapat mengembangkan
kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif. Hal ini perlu diperhatikan untuk
membantu siswa agar responsif dan bergairah dalam proses belajar mengajar. Pengubahan
lingkungan belajar yang semula membosankan menjadi lingkungan pembelajaran yang
mendukung dapat membuat siswa lebih bersemangat mengikuti proses pembelajaran.
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menata lingkungan belajar yang
mendukung proses pembelajaran, antara lain : menata lingkungan sekeliling, menggunakan
alat bantu, pengaturan bangku, menghadirkan tumbuhan dan aroma, serta menghadirkan
music.8 Berikut penjelasan untuk setiap elemen tersebut:

1. Lingkungan sekeliling
Menurut Dhority lingkungan sekeliling dapat membantu meningkatkan konsentrasi
siswa dan juga dapat menghambat siswa dalam belajar.9 Menurut Porter model
pembelajaran Quantum Teaching memberikan beberapa ide yang dapat digunakan
untuk membangun lingkungan belajar yang mempertajam daya ingat dan pemahaman
siswa dalam proses belajar mengajar berupa pemasangan poster ikon, poster afirmasi
dan penggunaan warna. Poster ikon menampilkan isi pelajaran secara visual, berupa
gambar yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai saat pelajaran
berlangsung. Poster afirmasi digunakan untuk menguatkan motivasi siswa berupa
pesan-pesan seperti, Aku mampu mempelajarinya dan Aku semakin pintar dengan
setiap tantangan baru.10 Untuk lebih memperkuat pengajaran, digunakan warna-
warna tertentu dalam penulisan materi pelajaran. Warna hijau, biru, ungu, dan merah
untuk kata-kata penting, jingga dan kuning untuk menggaris bawahi, serta hitam dan
putih untuk kata-kata penghubung.11 Warna juga dapat digunakan untuk membuat
poster afirmasi agar pesan yang di sampaikan tampak semakin jelas.
2. Alat Bantu
Merupakan benda yang digunakan untuk mewakili suatu gagasan. Alat bantu dapat
membantu secara visual dan kinestetik proses pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini berupa alat-alat percobaan.
Siswa yang kinestetik dapat berperan sebagai pelaksana percobaan agar lebih
memahami konsep-konsep pelajaran yang ditemukan melalui percobaan tersebut.

8
Porter, Loc.Cit., hlm.63
9
Ibid, hlm.66
10
Ibid, hlm.68
11
Ibid, hlm.69

8
3. Pengaturan Bangku
Hal ini memainkan peran penting dalam pembelajaran. Pengaturan bangku bertujuan
untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan dalam pembelajaran. Penggunaan
metode diskusi dan eksperimen dalam penelitian ini secara otomatis mempengaruhi
posisi bangku sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk percobaan dan diskusi
kelompok, bangku diputar saling berhadapan karena yang ingin dicapai adalah
fleksibilitas. Untuk presentasi kelompok, semua bangku diatur membentuk huruf U
sehingga siswa fokus menghadap kelompok yang menyampaikan presentasi.
4. Tumbuhan dan Aroma
Tumbuhan dan aroma dihadirkan untuk memberikan suasana tenang dan segar.
manusia dapat meningkatkan kemampuan berfikir mereka secara kreatif sebanyak
30% saat diberikan aroma tertentu. Aroma mint, kemangi, jeruk, kayu manis, dan
rosemary dapat meningkatkan kewaspadaan mental. Untuk memberikan ketenangan
dan relaksasi dapat digunakan aroma lavendel, kamomil, jeruk dan mawar.
5. Musik
Musik dalam pendidikan dapat menata suasana hati, meningkatkan hasil belajar, dan
menyoroti hal-hal penting. Musik menciptakan kondisi santai dan menciptakan
lingkungan mendukung yang berkesinambungan. Menurut Brown musik membantu
siswa lebih mudah menyimpan informasi dan memperoleh nilai tes lebih tinggi. Jadi,
penggunaan musik dalam proses pembelajaran dapat membantu menciptakan
pembelajaran yang efektif. Berkaitan dengan permasalahan yang ditemukan, yakni
rendahnya motivasi dan hasil belajar, maka musik akan dihadirkan dalam proses
pembelajaran. Hal ini mengacu pada pendapat bahwa musik dapat digunakan untuk
meningkatkan hasil belajar yang diinginkan, selain dapat digunakan untuk menata
suasana hati.

Untuk untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, Model


pembelajaran Quantum Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap. Prinsip-prinsip
tersebut yaitu :

1. Segalanya berbicara artinya segala dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh,
rancangan pelajaran semua mengirimkan pesan tentang belajar
2. Segalanya bertujuan artinya semua yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan

9
3. Pengalaman sebelum pemberian nama artinya proses belajar yang paling baik terjadi
ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa
mereka mempelajarinya
4. Akui setiap usaha artinya pada saat siswa belajar, mereka patut mendapat pengakuan
atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka
5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan artinya perayaan memberikan umpan
balik mengenai kemajuan dan meningkatkan sikap positif siswa dalam kegiatan
belajar mengajar.

Prinsip-prinsip Quantum Teaching di atas merupakan kerangka rancangan dikenal


dengan TANDUR. Di bawah ini adalah tinjauan mengenai TANDUR dan maknanya :

1. Tumbuhkan, tumbuhkan minat pada setiap siswa bahwa siswa mempelajari sesuatu
yang bermanfaat
2. Alami, memberikan pengalaman baru atau hal baru yang nantinya siswa semangat
untuk mempelajari
3. Namai, memberikan cara atau teknik supaya siswa tidak mengalami hambatan dalam
belajar, sediakan kata kunci, strategi, ketrampilan belajar
4. Demonstrasikan, berikan kesempatan supaya siswa bisa menunjukkan bahwa mereka
tahu dan faham
5. Ulangi, agar siswa lebih faham ulangi materi yang telah diajarkan sampai siswa
menegaskan pada dirinya sendiri, aku tahu bahwa aku memang tahu
6. Rayakan, pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan memperoleh ketrampilan
dan ilmu pengetahuan.

Kerangka rancangan belajar TANDUR dalam model pembelajaran Quantum Teaching


digunakan sebagai cara yang efektif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar serta
sebagai landasan guru dalam merancang penyajian pelajaran. Quantum Teaching
menciptakan lingkungan belajar yang efektif, membantu merancang dan menyampaikan
pengajaran, dan memudahkan proses belajar. Kerangka pembelajaran TANDUR dipakai
sebagai sintakmatik Model pembelajaran Quantum Teaching pada penelitian ini.

Menurut Joyce dan Weil juga, setiap model pembelajaran memiliki unsur-unsur
sebagai berikut:
1. Sintakmatik: tahapan pelaksanaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran
olahraga pada penelitian ini yaitu:

10
a) Tahap I : Tumbuhkan
Dalam hal ini poster ikon (simbol) tokoh yang dipasang pada awal pelaksanaan
pembelajaran, bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa dan menimbulkan
pertanyaan "Apa Manfaatnya Bagiku" (AMBAK) dalam diri siswa.
b) Tahap II : Alami
Dalam proses pembelajaran, partisipasi aktif siswa sangat diperlukan untuk
pemerolehan pengalaman dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar
bermakna. Bruner menyarankan agar siswa berpartisipasi aktif dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan berusaha sendiri mencari pengetahuan serta menemukan
sendiri konsep-konsep yang sudah ada. Pengajar juga memberikan masalah atas
konsep yang telah diperoleh sebagai bahan diskusi kelompok yang telah dibentuk
sebelumnya. Hal ini dapat menciptakan kerjasama antar siswa dan memberikan
kebebasan siswa untuk berfikir. Proses percobaan dan diskusi kelompok diiringi
musik instrumental untuk merangsang semangat, meningkatkan fokus dan membantu
membina hubungan antara guru dengan siswa atau antar sesama siswa.
c) Tahap III : Namai
Pengajar menyediakan konsep, rumus, strategi atau sebuah masukan terhadap
masalah yang telah diberikan.
d) Tahap IV : Demonstrasikan
Pengajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil
percobaan dan diskusi sehingga memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan
bahwa mereka tahu.
e) Tahap V : Ulangi
Pengajar mengulangi materi yang telah didiskusikan guna memantapkan
pemahaman siswa.
f) Tahap VI : Rayakan
Pengakuan terhadap terhadap partisipasi, pemerolehan ketrampilan dan
pengetahuan siswa. Pengakuan tersebut diwujudkan dengan pemberian penghargaan
kepada siswa.
2. Sistem Sosial: model pembelajaran Quantum Teaching mengubah suasana belajar
sehingga menggairahkan. Komponen utama dalam membangun suasana belajar yang
bagus adalah niat, hubungan, kegembiraan dan ketakjuban, pengambilan resiko, rasa
saling memiliki dan keteladanan. Pengajar membantu siswa untuk memahami materi

11
dan memberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya dalam diskusi terbuka
dan mengakui setiap usaha yang telah dilakukan siswa.
3. Prinsip Reaksi: pengajar membangun ikatan emosional, yaitu dengan menciptakan
kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman
dalam proses pembelajaran. Pengajar selalu mencoba untuk menciptakan suasana
psikologis yang dapat membangkitkan respon siswa.
4. Sistem Pendukung: sistem pendukung pembelajaran adalah segala sarana yang dapat
digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pengubahan lingkungan
pembelajaran yang semula membosankan menjadi lingkungan pembelajaran yang
mendukung dapat membuat siswa lebih bersemangat mengikuti proses pembelajaran.
Ada beberapa hal yang dilakukan dalam menata lingkungan yang mendukung proses
pembelajaran, antara lain: menggunakan alat bantu, mengatur bangku, menghadirkan
tumbuhan, aroma, dan menghadirkan musik.
5. Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring: setiap kegiatan yang dilakukan akan
memberikan dampak. Pelaksanaan pembelajaran model Quantum Teaching akan
memberikan dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak instruksional
adalah hasil belajar yang dicapai secara langsung dengan cara mengarahkan siswa
pada tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan pembelajaran. Dampak Instruksional
dari model Quantum Teaching antara lain:
a) Peningkatan motivasi belajar siswa
b) Peningkatan hasil belajar siswa
Sedangkan dampak pengiring adalah hasil belajar lain disamping dari pencapaian
tujuan pembelajaran yang dihasilkan dari suatu proses belajar mengajar. Dampak
pengiring ini terbentuk dalam diri siswa sebagai akibat terciptanya suasana belajar
yang dialami siswa tanpa diarahkan pengajar. Dampak Pengiring dari model Quantum
Teaching antara lain:
a) Menimbulkan kerja sama antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa
lainnya sehingga meningkatkan hubungan dan kepercayaan dalam pembelajaran.
b) Siswa berani mengungkapkan pendapat dimuka umum
c) Siswa belajar menerima pendapat orang lain12

12
Joyce, B., Weil, M., dan Calhoun, E., Model of Teaching, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 31

12
BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Statistik Keolahragaan

Dalam kurun waktu 2003, 2006, dan 2009 partisipasi penduduk dalam melakukan
olahraga terus menurun, yaitu dari 25,4 persen pada tahun 2003, turun menjadi 23,2 persen
pada tahun 2006, dan terakhir turun menjadi 21,8 persen pada tahun 2009. Pola tersebut
berlaku baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Partisipasi penduduk Indonesia dalam
melakukan aktivitas olahraga bervariasi antar provinsi. Minat tertinggi penduduk dalam
berolahraga terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (30,3 persen), DKI Jakarta (27,4 persen),
dan Banten (26,1 persen). Sementara penduduk yang berolahraga dengan persentase paling
rendah terdapat pada Provinsi Papua Barat (12,0 persen), Papua (12,9 persen), dan Nusa
Tenggara Timur (14,1 persen). Hasil Susenas 2009 menunjukkan bahwa sebagian besar
penduduk yang berolahraga (69,7 persen) melakukannya dengan tujuan menjaga kesehatan.
Sementara itu, hanya sebagian kecil saja yang melakukan olahraga dengan tujuan prestasi
(6,8 persen) dan rekreasi (2,9 persen). Pada umumnya (63,9 persen) penduduk berolahraga
dengan frekuensi hanya satu hari dalam seminggu, dengan intensitas tidak lebih dari
satu jam dalam sehari. Jenis olahraga yang paling sering dilakukan penduduk adalah senam
(SKJ dan senam lainnya).

Di sisi lain, guru olahraga/penjaskes sangat dibutuhkan dalam rangka membantu


menumbuhkan minat, bakat, dan prestasi siswa di sekolah dalam bidang olahraga.
Berdasarkan data statistik persekolahan dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas),
rasio guru olahraga: sekolah untuk SD pada tahun 2008/2009 sebesar 0,78. Angka tersebut
menunjukkan bahwa untuk setiap 100 SD tersedia guru olahraga/penjaskes sebanyak 78 guru.
Sementara untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi menunjukkan angka rasio lebih dari 1
yang berarti setiap 100 sekolah telah tersedia lebih dari 100 guru, yaitu SMP sebesar
1,23, SMU sebesar 1,42, dan SMK sebesar 1,58. Rasio guru olahraga: sekolah untuk
SD terendah terdapat di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,34 dan tertinggi terdapat di
Provinsi DI. Yogyakarta sebesar 1,42.
Perkembangan prestasi para atlet Indonesia dapat dilihat melalui event olahraga
yang pada umumnya diikuti baik di tingkat nasional maupun internasional yaitu
PON, Sea Games, Asian Games, dan Olimpiade. Berdasarkan data dari KONI, PON
terakhir telah diselenggarakan pada tahun 2008 di Provinsi Kalimantan Timur dengan juara

13
umum diraih Provinsi Jawa Timur. Di ajang internasional, Indonesia mengalami
penurunan prestasi olahraga. Peningkatan mulai terjadi pada Asian Games XVI tahun
2010, Indonesia meraih peringkat ke 15. Diharapkan pada Sea Games XXVI dimana
Indonesia menjadi tuan rumah sekaligus lolos sebagai juara umum.13
Berdasar data statistik yang dikeluarkan Kemenpora, terlihat sangat jelas bahwa
dimulai dari elemen paling dasar yaitu SDM pengajar olahraga terjadi penurunan jumlah
sehingga sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah atlet dan prestasi yang diciptakan
baik nasional maupun internasional. Kurangnya pengajar juga diperparah dengan kualitas
metode pengajaran yang tidak berkembang dan tidak relevan lagi digunakan untuk
menumbuhkan potensial bibit-bibit muda olahragawan. Sehingga keadaan siswa-siswa
Indonesia saat ini secara umum dapat dikatakan tidak berada pada kondisi yang paling baik
untuk dikatakan mampu berprestasi secara prima baik secara nasional dan internasional.
Maka dari itu, metode pembelajaran menjadi sangat perhatian utama dalam peningkatan
prestasi olahraga siswa kedepannya yang dimulai dengan pembentukan karakternya.

III.2. Pengaruh Quantum Teaching Terhadap Peningkatan Motivasi Belajajar dan Berprestasi

Model Quantum Teaching nyatanya akan lebih memberi kesempatan kepada siswa
untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan cara menempatkan siswa sebagai subyek
yang aktif baik secara fisik maupun mental dalam mempelajari Pendidikan Jasmani dan
Olahraga. Model pembelajaran Quantum Teaching ini sangat menekankan pada percepatan
pembelajaran dengan taraf keberhasilan yang sangat tinggi, memusatkan perhatian siswa
pada interaksi yang bermakna, menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting
proses pembelajaran dan mengutamakan keberagaman dan kebebasan dalam pembelajaran.
Pengaruh merupakan suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.
Quantum Teaching adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di
sekitar momen belajar. Kriteria utama pada proses pembelajaran ditentukan oleh hasil
pembelajaran. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian,
sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Hasil belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh
gaya mengajar guru. Maka dari itu, perlu adanya model pembelajaran yang efektif sehingga
membuat siswa tertarik terhadap pelajaran khususnya pelajaran olahraga.

Motivasi siswa untuk memperdalam keilmuan olahraga dan berusaha mencari prestasi
dari bidang tersebut akan semakin meningkat. Seorang siswa melakukan aktivitas belajar

13
www.kemenpora.go.id/menpora/statistikkeolahragaan2010.pdf

14
dengan senang apabila materi yang disampaikan guru menarik perhatian dan minatnya serta
didasarkan pada kebutuhan siswa, misalnya untuk meraih prestasi yang baik tadi. Motivasi
belajar siswa ini juga dapat dilihat melalui sikap yang ditunjukkan siswa pada saat
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Motivasi belajar siswa dapat dilihat dalam hal:

a) Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran


b) Semangat siswa untuk melaksanakan tugas-tugas belajarnya
c) Tanggung jawab siswa untuk melaksanakan tugas-tugas belajarnya
d) Rasa senang dalam mengerjakan tugas dari guru
e) Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru

Peningkatan motivasi belajar dilakukan melalui penerapan model Quantum Teaching ini juga
harus disertai metode eksperimen dan diskusi secara terus menerus dalam praktek
keolahragaannya. Aspek-aspek dari motivasi belajar yang diamati hasilnya secara langsung
adalah sebagai berikut:

a) Minat dan perhatian Siswa Terhadap Pelajaran


Minat dan perhatian siswa mempuyai peranan penting dalam proses belajar mengajar.
Proses penyampaian informasi dari guru tidak akan berjalan lancar jika siswa tidak
mempunyai minat dan perhatian terhadap pelajaran. Siswa dikatakan mempunyai
minat dan perhatian yang tinggi apabila ada guru yang menyampaikan materi
pelajaran, dan siswa memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Minat dan perhatian
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Siswa yang berminat terhadap suatu
pelajaran cenderung memberikan perhatian yang lebih besar pada pelajaran tersebut.
siswa yang memiliki minat terhadap suatu bidang studi cenderung tertarik
perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang
studi tersebut. proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Jadi
dapat dikatakan bahwa perhatian siswa akan muncul jika siswa tersebut mempunyai
minat terhadap suatu pelajaran.
Siswa yang memiliki minat dan perhatian terhadap pelajaran ditunjukkan
dengan berbagai aktivitas positif. Aktivitas positif tersebut antara lain: Mendengarkan
penjelasan guru selama proses belajar mengajar tanpa berbicara atau bergurau dengan
kawannya, mencatat bagian-bagian penting yang disampaikan oleh guru. siswa yang
memiliki minat dan perhatian terhadap pelajaran ditunjukkan dengan berbagai

15
aktivitas yang positif, yaitu siswa yang memperhatikan, mendengarkan dan mencatat
penjelasan dari guru serta tidak berbicara sendiri atau dengan teman.
b) Semangat Siswa untuk Melaksanakan Tugas-Tugas Belajarnya
Salah satu ciri siswa yang memiliki semangat belajar tinggi akan selalu antusias
terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Siswa yang memiliki semangat belajar yang
tinggi akan mengeluarkan banyak energi untuk mengikuti pelajaran. salah satu sikap
positif dalam proses belajar mengajar adalah tidak mudah putus asa bila mengalami
kesulitan atau kegagalan. Dalam hal ini, siswa akan terus mencoba sampai ia dapat
memecahkan permasalahan yang dihadapinya dan mencapai suatu sampai ia dapat
memecahkan permasalahan yang dihadapinya dan mencapai suatu keberhasilan.
Siswa yang tidak mudah putus asa jika mengalami kegagalan menunjukkan bahwa dia
memiliki semangat belajar yang tinggi. Dengan semangat belajar yang tinggi tujuan
belajar akan mudah dicapai.
c) Tanggung Jawab Siswa untuk Melaksanakan Tugas-tugas Belajarnya
Tanggung jawab siswa untuk mengerjakan tugas-tugas belajarnya juga penting dalam
kegiatan belajar mengajar, sebab tanpa adanya tanggung jawab maka tujuan belajar
tidak akan tercapai dengan optimal. Dalam proses belajar mengajar guru berfungsi
sebagai pembimbing dan pengarah siswa untuk belajar. Salah satu cara yang dapat
dilakukan oleh guru untuk mengembangkan tanggung jawab adalah dengan
memberikan tugas-tugas kepada siswa. Tugas yang diberikan guru merupakan salah
satu cara untuk menilai proses belajar siswa. Munculnya tanggung jawab karena ada
kemauan untuk mencapai tujuan belajar. bahwa kemauan merupakan tindakan
mencapai tujuan belajar. Siswa dikatakan memiliki tanggung jawab dalam
mengerjakan tugas-tugas belajarnya bila mendapat tugas untuk mengerjakan soal-soal
dari guru, siswa tersebut mengerjakan sendiri tugasnya tanpa mencontoh pekerjaan
kawannya. ketika guru memberikan tugas maka siswa langsung mengerjakan tugas
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tersebut mempunyai tanggung jawab
yang tinggi terhadap tugas yang diberikan oleh guru karena siswa merasa tugas
tersebut merupakan suatu kewajiban yang harus diselesaikan tanpa menunda waktu.
d) Rasa Senang dalam Mengerjakan Tugas dari Guru
Rasa senang ini berhubungan dengan minat siswa terhadap pelajaran olahraga.
Kegiatan yang diminati seseorang akan mendapat perhatian secara terus menerus dari
siswa yang disertai dengan rasa senang. Berdasarkan pendapat tersebut minat dapat
menimbulkan perasaan senang seseorang, dan perasaan senang tersebut dapat

16
menimbulkan suatu keinginan yang kuat untuk mengerjakan dan menyelesaikan
tugas-tugas atau kewajiban yang dibebankan padanya dengan sebaik mungkin. Jika
siswa senang terhadap tugas atau ajaran yang diberikan oleh guru, maka siswa
tersebut akan mengerjakannya sesuai dengan tuntunan dari guru. Guna kesempurnaan
tugasnya, siswa akan mentaati ketentuan-ketentuan dalam pengerjaan tugasnya. Hal
tersebut, menunjukkan bahwa siswa berminat terhadap tugas yang diberikan oleh
guru. Sehingga secara berlanjut, potensi siswa dalam keolahragaan dapat terukur baik
secara nilai akademis maupun prestasi perlombaan yang diukir sebagai olahragawan.
e) Reaksi yang Ditunjukkan Siswa Terhadap Stimulus yang Diberikan Guru
Proses interaksi antara guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar dapat terjadi
karena guru memberikan stimulus pada siswa dan siswa memberikan reaksi terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru. Salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi
adalah memberikan stimulus baru, misalnya mendatangkan seorang atlet yang sudah
banyak menjuarai kemenangan nasional maupun internasional. Atlet tersebut dapat
berbagai pengalaman dan pembelajaran yang dia dapatkan sehingga secara langsung
siswa mulai semakin mendorong pikirannya untuk melakukan hal yang sama.

III.3. Pembentukan Karakter dalam Olahraga Atas Pengaruh Quantum Teaching


Kita telah menyadari bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi
pengalaman manusia, oleh sebab itu guru pendidikan jasmani melalui metode Quantum
Teaching secara langsung akan mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar mengajar,
yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. Karakter anak didik yang
dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak,
selain harus dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan
pendidikan nilai di sekolah. Beberapa hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan nilai-
nilai karakter tersebut:

1. Seluruh suasana dan iklim di sekolah sendirii sebagai lingkungan sosial terdekat yang
setiap hari dihadapi, selain di keluarga dan masyarakat luas, perlu mencerminkan
penghargaan nyata terhadap nilai-nilai, kemanusiaan yang mau diperkenalkan dan
ditumbuhkembangkan penghayatannya dalam diri peserta didik. Misalnya, kalau
sekolah ingin menanamkan nilai keadilan kepada para peserta didik, tetapi di
lingkungan sekolah itu mereka terang-terangan menyaksikan berbagai bentuk

17
ketidakadilan, maka di sekolah itu tidak tercipta iklim dan suasana yang mendukung
keberhasilan pendidikan nilai.
2. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan
mereka dalam menghayati nilai-nilai yang mereka ajarkan akan dapat secara instingtif
mengimbas dan efektif berpengaruh pada peserta didik. Sebagai contoh, kalau guru
sendiri memberi kesaksikan hidup sebagai pribadi yang selalu berdisiplin, maka kalau
ia mengajarkan sikap dan nilai disiplin pada peserta didiknya, ia akan lebih disegani.
3. Semua pendidik di sekolah, terutama para guru pendidikan jasmani perlu jeli melihat
peluang-peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun non/ekstra kurikuler, untuk
menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan
orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Misalnya
sebelum pelajaran dimulai, guru menegaskan bila anak tidak mengikuti pelajaran
karena membolos, maka nilai pelajaran akan dikurangi.
4. Secara kurikuler pendidikan nilai yang membentuk sikap dan perilaku positif juga
bisa diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri, misalnya dengan pendidikan budi
pekerti. Akan tetapi penulis tidak menyarankan untuk di lakukan.
5. Melalui pembinaan rohani siswa, melalui kegiatan pramuka, olahraga, organisasi,
pelayanan sosial, karya wisata, lomba, kelompok studi, teater, dan lainnya. Dalam
kegiatan-kegiatan tersebut para pembina melihat peluang dan kemampuannya
menjalin komunikasi antar pribadi yang cukup mendalam dengan peserta didik.

Sehingga secara keseluruhan nilai-nilai olahraga itu sendiri akan tercemin dalam karakter tiap
siswa yang merupakan bibit prestasi yang siap berbuah. Nilai-nilai positif tersebut seperti
nilai:

1. Tanggung Jawab: seorang atlet tentu harus bertanggung jawab kepada timnya,
pelatihnya dan kepada pemain itu sendiri. Tanggung jawab ini merupakan nilai moral
terpenting dalam olahraga.
2. Percaya diri: olahraga sesungguhnya dapat mengubah dan memberdayakan manusia
sebagai individu dan masyarakat, dari tidak berdaya karena ketergantungan menjadi
tidak tergantung (mandiri), dari rendah diri menjadi percaya diri.
3. Pengambilan keputusan: secara sederhana pengambilan keputusan merupakan
peristiwa yang senantiasa terjadi dalam setiap aspek kehidupan manusia. Hal tersebut
sebagai konsekuensi logis dari dinamika perkembangan kehidupan yang senantiasa

18
berubah dan bersifat sangat kompleks. Sesuatu yang dipilih ditentukan oleh
pertimbangan selera dan rasionalitas individu. Biasanya, selera dan rasionalitas
tersebut merujuk pada hal-hal yang menyenangkan atau menguntungkan pelaku
olahraga.
4. Kepemimpinan: didalam olahraga nilai kepemimpinan akan terbentuk melalui
interaksi yang ada dalam organisasi olahraga atau sering disebut klub. Kepemimpinan
adalah tanggung jawab yang jatuh kepada manajer atau ketua menyangkut organisasi
atau klub.
5. Toleransi: Ketika kedua kesebelasan yang sedang bertanding memasuki injury time,
mereka tentu akan berusaha mencuri angka bahkan mempertahankan kemenangan
yang telah diraih agar memenangkan pertandingan. Dalam saat-saat seperti itu para
pemain diuji untuk membuktikan dirinya mereka harus tetap berjuang untuk bisa
meraih kemenangan meskipun sampai titik keringat terahkir. Situasi seperti ini
banyak sekali kita jumpai dalam olahraga, kemudian apa yang kita petik dari situasi
seperti ini adalah bahwa setiap orang pasti akan mengalami masa-masa sulit, yang
penting bagaimana orang tersebut mampu bertahan terhadap kesulitan untuk
kemiudian berupaya bangkit kembali meraih kesuksesan. Apabila seseorang dalam
dunia olahraga pernah mengalami kekalahan atau rasa kecewa, dan menerima hal itu
sebagai peristiwa yang lumrah, maka lebih bisa menerima dan toleran.

19
BAB IV

PENUTUP

IV.1. Kesimpulan

Dari pembahasan berdasar analisa deskriptif atas teori-teori yang ada, maka dapat

disimpulkan bahwa Metode Pembelajaran Quantum Teaching dapat menjadi salah satu alat

yang baik dalam rangka pembentukan karakter seorang siswa sejak dini dan secara langsung

mampu mendorong peningkatan prestasi olahraganya. Pendekatan pembelajaran Quantum

Teaching mengubah kondisi belajar menjadi meriah, dengan segala nuansanya. Dan

Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang

memaksimalkan momen belajar karena Quantum Teaching berfokus pada hubungan

dinamis dan lingkungan kelas - interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk

belajar. Metode ini juga sekaligus berhasil menumbuhkan nilai-nilai yang secara alami

terkandung dalam keolahragaan sehingga secara langsung akan tertanam pada karakter

siswa. Mudah dipahami bahwa keberhasilan suatu bangsa dalam mencapai tujuannya tidak

hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang melimpah ruah akan tetapi sangat ditentukan

oleh kualitas sumber daya manusianya yang memiliki watak baik. Dengan mengamalkan

nilai-nilai positif dalam olahraga melalui Quantum Teaching, maka diharapkan dapat

membentuk sumberdaya manusia yang memiliki watak pemimpin, disiplin ,tanggung jawab,

kerjasama, jujur, percaya diri, pengambil keputusan, toleransi sehingga hal ini akan akan

mencetak sumberdaya manusia serta kader-kader bangsa yang baik. Juga sekaligus mampu

meningkatkan kuantitas dan kualitas prestasi para siswa ini hingga menjadi olahragawan

professional.

IV.2. Saran
Dari kesimpulan di atas, beberapa saran yang dapat disampaikan adalah sebagai
berikut:

20
1. Kepada para elemen yang bergerak dalam olahraga pendidikan baik dari tingkatan
sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan baik yang kelembagaan tersendiri agar
mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan model Quantum
Teaching sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan
aktivitas dan prestasi olahraga siswa.
2. Kepada para peneliti lain yang berminat dengan penelitian ini ataupun sejenisnya,
diharapkan untuk mau melakukan penelitian lebih lanjut dengan subyek penelitian dan
pokok bahasan yang berbeda atau lebih mendetail. Juga mampu melakukan improvisasi
dalam pelaksanaan di lapangan sehingga mampu meningkatkan aktivitas dan prestasi
olahraga siswa.

21
DAFTAR PUSTAKA

Arma Abdoelah. 1994. Dasar-dasar Pendidikan Jasmani: DIKTI. Jakarta


Bobbi De Porter. 2000. Quantum Teaching/Learning. Bandung : Kaifa
Cholik Mutohir, T. 2002. Gagasan-Gagasan Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Surabaya:
Unesa University Press Book G. inc
http://www.kemenpora.go.id/menpora/statistikkeolahragaan2010.pdf
Idup Suhady. 2003. Wawasan Kebangsaan Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Lembaga Administrasi Negara-RI, Jakarta
Wasis D. Wiyogo. 2000. Buku Penelitian Keolahragaan. Malang: Wineka Media
Joyce, B., Weil, M., dan Calhoun, E. 2009. Model of Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

iv