Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada pasien AIDS, sarkoma kaposi dianggap merupakan infeksi oportunistik

(penyakit yang dapat menular pada manusia karena melemahnya sistem kekebalan

tubuh). Dengan meningkatnya AIDS di Afrika, tempat virus KSHV menyebar,

sarkoma Kaposi merupakan salah satu kanker yang paling sering menyerang negara

seperti Zimbabwe.

Sarkoma Kaposi sangat terlihat sehingga lesi eksternal kadang-kadang

merupakan gejala AIDS.

Pada tahun 1994, Yuan Chang, Patrick S. Moore, dan Ethel Cesarman di

Universitas Colombia, New York mengisolasi kepingan genetika virus dari lesi

sarkoma Kaposi. Mereka menggunakan analisis perbedaan representasional (metode

untuk mengurangi semua DNA manusia dari sampel) untung mengisolasi gen virus.

Mereka lalu menggunakan pecahan DNA kecil tersebut sebagai poin permulaan untuk

urutan sisa genetika virus tahun 1996. Delapan virus herpes manusia (HHV-8) kini

diketahui sebagai virus herpes penyebab sarkoma Kaposi (KSHV) telah ditemukan

pada semua lesi sarkoma kaposi yang diuji coba, dan dianggap sebagai akibat

penyakit tersebut.

KSHV adalah virus tumor manusia uni yang memiliki gen selular gabungan

yang menyebabkan tumor pada genetikanya. Gen selular yang diambil mungkin

menolong virus melarikan diri dari sistem kekebalan, tetapi untuk melakukannya juga

menyebabkan sel berkembang biak. Virus ini berhubungan dengan virus Epstein-Barr,

virus herpes yang sangat umum yang juga dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Sarkoma Kaposi adalah penyakit yang menyerupai kanker yang disebabkan

oleh virus human herpesvirus 8 (HHV8). Sarkoma Kaposi pertamakali dideskripsikan

oleh Moritz Kaposi, seorang ahli ilmu penyakit kulit Hongaria di Universitas Wina

tahun 1872. Sarkoma Kaposi secara luas diketahui sebagai salah satu penyakit yang

muncul akibat dari AIDS pada tahun 1980an.

Sarkoma kaposi sebagian besar adalah penyakit laki-laki, di AS ada delapan

kali lebih banyak laki-laki dengan sarkoma kaposi dibandingkan perempuan. Sarkoma

kaposi adalah gejala AIDS yang paling mudah terlihat, karena biasanya penyakit

tampak sebagai bintik kulit yang disebut lesi, yang kelihatan berwarna merah atau

ungu pada kulit putih dan agak biru, cokelat atau hitam pada kulit lebih gelap. Lesi

sering terjadi pada wajah, lengan dan kaki. 3 kanker terdefinisi AIDS adalah sarkoma

kaposi, limfoma non-Hodgkin (NHL), dan kanker leher rahim.

Lesi Sarkoma Kaposi berbentuk nodul atau bisul yang berwarna merah, ungu,

coklat atau hitam, dan biasanya bersifat papular. Sarkoma Kaposi dapat ditemui pada

kulit, tetapi biasanya dapat menyebar kemanapun, terutama pada mulut, saluran

pencernaan dan saluran pernafasan. Perkembangan sarkoma dapat terjadi lambat

sampai sangat cepat, dan berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas yang

penting.

B. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk :

1. Mengetahui Pengertian Penyakit Sarkoma Kaposi

2. Mengetahui Etiologi Penyakit Sarkoma Kaposi

3. Mengetahui Patofisiologi Penyakit Sarkoma Kaposi

4. Mengetahui Tanda dan Gejala Penyakit Sarkoma Kaposi


5. Mengetahui Pemeriksaan Penunjang Penyakit Sarkoma Kaposi

6. Mengetahui Terapi Penyakit Sarkoma Kaposi

7. Mengetahui Komplikasi Penyakit Sarkoma Kaposi

8. Mengetahui Pengkajian Keperawatan Penyakit Sarkoma Kaposi

9. Mengetahui Pathway Penyakit Sarkoma Kaposi

10. Mengetahui Diagnosa Keperawatan Penyakit Sarkoma Kaposi

11. Mengetahui Intervensi Keperawatan Penyakit Sarkoma Kaposi


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Sarkoma Kaposi adalah kanker yang berasal dari pembuluh darah, biasanya

pada kulit. Sarkoma Kaposi adalah tumor yang disebabkan oleh virus human

herpesvirus 8 (HHV8). Sarkoma Kaposi pertama kali dideskripsikan oleh Moritz

Kaposi, seorang ahli ilmu penyakit kulit Hongaria di Universitas Wina tahun

1872. Sarkoma Kaposi secara luas diketahui sebagai salah satu penyakit yang

muncul akibat dari AIDS pada tahun 1980-an.

Sarkoma Kaposi adalah penyakit mirip kanker atau neoplasma vaskuler

sebagai akibat terjadinya proliferasi dari sel jaringan ikat yang ditandai dengan

timbulnya makula berwarna merah ungu atau biru-coklat, plak (plaque) dan

nodula pada kulit dan organ tubuh yang lain. Lesi pada kulit jelas, keras atau

lembek, soliter atau bergerombol. (Yu Fuku, dkk. 2011)


B. Etiologi

Sekarang diketahui bahwa virus herpes sarkoma kaposi (KSHV) yang juga

disebut dengan virus herpes-8 pada manusia (HHV-8) sebagai penyebab KS.

Virus herpes manusia (HHV-8) kini ditemukan pada semua lesi sarkoma Kaposi

yang diuji coba, dan dianggap sebagai akibat penyakit tersebut. KSHV adalah

virus tumor manusia uni yang memiliki gen selular gabungan yang menyebabkan

tumor pada genetikanya (pembajakan molekula). (Ahtman. Chang Y.2000)

Sarkoma Kaposi disebabkan oleh proliferasi berlebihan dari sel-sel gelendong

dianggap memiliki asal-usul sel endotel. Meskipun heterogenitas mereka,

sebagian besar adalah tumor yang terdiri dari bahan KSHV genom dengan spidol

imunohistokimia dari kedua limfoid, spindle, dan sel endotel. Meskipun asal sel

masih belum diketahui, peningkatan faktor antigen VIIIa endotel, sel spindle

penanda seperti halus alfa-aktin otot, dan makrofag penanda seperti, PAM-1

CD68, CD14 dan diungkapkan oleh spindlecells telah diamati. Hal ini

menunjukkan nenek moyang pluripotent mesenchymal. Sel-sel spindle

berkembang biak dalam latar belakang dari serat retikuler, kolagen dan sel-sel

mononuklear termasuk makrofag, limfosit dan sel plasma. Mereka cenderung

melibatkan pembuluh darah di dermis baik retikuler (tahap patch) atau seluruh

ketebalan dermis (plak atau tahap nodular). (Yu Fuku. 2011)

C. Patofisiologi

Meskipun namanya adalah Sarkoma Kaposi, namun, Sarkoma Kaposi

bukanlah sarkoma yang sebenarnya, yang merupakan tumor yang muncul dari

jaringan mesensim. Sarkoma Kaposi muncul sebagai kanker endothelium limfatik


dan membentuk jaringan vaskular yang diisi dengan sel darah, memberikan tumor

ini karakteristik kemunculan seperti-luka memar.

Lesi Sarkoma Kaposi berisi tumor sel dengan karakteristk bentuk memanjang

yang tidak normal dan disebut sel spindle. Tumor ini sangat bersifat vaskular,

berisi pembuluh darah tebal yang tidak normal, yang membocorkan sel darah

merah pada jaringan yang mengelilinginya dan memberikan tumor warna

gelapnya. Peradangan disekitar tumor dapat menyebabkan rasa nyeri dan

pembengkakan.

Walaupun Sarkoma Kaposi dapat diduga dari kemunculan lesi dan faktor

risiko pasien, diagnosis dapat hanya dibuat oleh biopsi dan pemeriksaan

mikrosokop, yang akan menunjukan kehadiran sel spindle. Deteksi protein viral

LANA pada sel mengkonfirmasi diagnosis.

D. Kasifikasi

1. Sarkoma Kaposi Klasik

Banyak terjadi pada laki-laki keturunan timur tengah atau yahudi yang

berusia antara 40 dan 70 tahun. Terdapat nodul atau plak pada ekstremitas

bawah yang jarang bermetastasis ke luar dari ekstremitas bawah. Mempunyai

ciri-ciri yaitu bentuk yang kronis, relatif benigna dan jarang fatal.

2. Sarkoma Kaposi Endemik (Afrika)

Banyak diderita pada penduduk belahan timur Afrika di dekat

khatulistiwa. Pada laki-laki lebih sering terjadi daripada perempuan, anak-

anak juga dapat menderita penyakit ini. Sarkoma Kaposi Afrika menyerupai
Sarkoma Karposi Klasik atau bersifat infiltratif dan progesif menjadi bentuk

limfadenopatik.

3. Sarkoma Kaposi yang berkaitan dengan terapi imunosupresi

Terjadi pada pasien-pasien transplantasi yang ditandai seperti lesi kulit

setempat dan penyakit mukokutaneus serta viseral yang diseminata. Semakin

besar derajat imunosupresi maka semakin besar insidensi Sarkoma Kaposi.

4. Sarkoma Kaposi yang brehubungan dengan AIDS

Ditemukan pada tahun 1980 sebagai tipe yang berbeda dengan tipe

Sarkoma Kaposi sebelumnya. Perbedaanya yaitu pada tipe Sarkoma Kaposi ini

merupakan tumor yang agresif dan melibatkan lebih dari satu organ tubuh.

Sebagian besar terjadi pada pasien berusia antara 20 dan 40 tahun.(Smeltzer,

2002)

E. Tanda dan Gejala

Lesi Sarkoma Kaposi berbentuk nodul atau bisul yang berwarna merah, ungu,

coklat atau hitam, dan biasanya bersifat papular.. Sarkoma Kaposi dapat ditemui

pada kulit, tetapi biasanya dapat menyebar kemanapun, terutama pada mulut,

saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Perkembangan sarkoma dapat terjadi

lambat sampai sangat cepat, dan berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas

yang penting.

1. Kulit

Lesi pada kulit biasanya menyerang anggota tubuh bagian bawah,

wajah, mulut dan alat kelamin. Lesi biasanya berbentuk nodul atau bisul yang
dapat berwarna merah, ungu, coklat atau hitam, tetapi terkadang berbentuk

seperti plak (sering ada pada telapak kaki), atau bahkan menyebabkan

kerusakan kulit. Pembengkakan mungin dapat berasal dari peradangan atau

limfedema (kerusakan sistem limfatik yang disebabkan oleh lesi). Lesi pada

kulit memperburuk penampilan penderita, dan menyebabkan patologi

psikososial.

2. Mulut

Pada mulut, Sarkoma Kaposi berperan sebesar 30%, dan merupakan

15% awal dari Sarkoma Kaposi yang berhubungan dengan AIDS. Pada mulut,

Sarkoma Kaposi paling sering menyerang langit-langit keras, diikuti oleh gusi.

Lesi pada mulut mudah rusak dengan digigit dan berdarah atau menderita

infeksi kedua, dan bahkan mengganggu penderita untuk makan dan berbicara.
3. Saluran pencernaan

Sarkoma Karposi pada saluran pencernaan biasanya terjadi pada

sarkoma kaposi dengan yang berhubungan dengan transplantasi atau yang

berhubungan dengan AIDS, dan dapat muncul dengan tidak adanya gangguan

Sarkoma Kaposi pada kulit. Lesi saluran pencernaan menyebabkan turunnya

berat badan, tekanan, muntah, diare, berdarah, malabsorpsi, atau gangguan

perut.

4. Saluran pernafasan

Sarkoma Kaposi pada saluran pernafasan muncul dengan adanya sesak

nafas, demam, batuk, hemoptisis (batuk darah), atau nyeri pada dada, atau

sebagai penemuan insiden pada sinar x tulang rusuk.Diagnosis dikonfirmasi

oleh bronkoskopi ketika lesi secara langsung terlihat dan biasanya dibiopsi.

F. Pemeriksaan Diagnostik

Bronchoscopy dan kadang dengan biopsied (biopsi) dan pemeriksaan

mikroskopis, yang akan menunjukkan keberadaan kumparan sel.

Sarkoma Kaposi pada usia lanjut yang tumbuh lambat dan tidak disertai gejala

lainnya, tidak memerlukan pengobatan sama sekali. Tetapi bintik yang terbentuk

bisa diobati dengan pembekuan, terapi sinar X atau elektrokauterisasi

(penghancuran jaringan dengan menggunakan jarum listrik). Untuk penderita

AIDS dan bentuk kanker yang agresif, belum ada pengobatan yang sangat

memuaskan. Kemoterapi dengan etoposid, vincristine, vinblastin, bleomycin dan

doxorubicin memberikan hasil yang mengecewakan. Alfa-interferon dam suntikan

vincristine ke dalam kanker bisa bisa memperlambat perkembangan penyakit.


G. Penatalaksanaan

Sarkoma Kaposi tidak dapat disembuhkan, tetapi secara efektif dapat

diredakan untuk beberapa tahun dan hal ini adalah tujuan dari perawatan.

Pasien dengan sedikit lesi dapat ditangani dengan ukuran seperti terapi radiasi

atau krioterapi. Operasi tidak direkomendasikan karena sarkoma kaposi dapat

muncul pada tepi luka Penyakit yang lebih banyak yang menyebar, atau

penyakit yang menyerang organ internal, umumnya ditangani dengan terapi

sistemik dengan alpha interferon, liposomal antrasiklin (seperti Doksil) atau

paklitaksel.

ART adalah pengobatan terbaik untuk sarcoma kaposi aktif. Pada

banyak orang, ART dapat menghentikan tumbuhnya atau bahkan memulihkan

lesi kulit. Selain ART, ada berbagai pengobatan untuk sarcoma kaposi pada

kulit atau pada bagian tubuh lain. Pada kulit, sarcoma kaposi mungkin tidak

harus diobati jika hanya ada sedikit lesi. Lesi kulit dapat:

a. Dibekukan dengan nitrogen cair

b. Diobati dengan radiasi

c. Dicabut secara bedah

d. Disuntik dengan obat antikanker atau interferon alfa

e. Diobati dengan olesan tretinoin (asam retinoik)

Pengobatan ini hanya efektif pada lesi kulit, bukan sarcoma kaposi

secara keseluruhan. Lesi kulit mungkin kambuh setelah pengobatan. Jika

sarcoma kaposi telah menyebar pada organ dalam, pengobatan sistemik

(seluruh tubuh) dipakai. Jika ART tidak cukup, doksorubisin, daunorubisin

atau paklitaksel juga dapat dipakai.


Doksorubisin dan daunorubisin adalah obat antikanker dalam bentuk

liposomal. Liposomal berarti obat dengan jumlah kecil dilapisi selaput

lemak menjadi gelembung kecil, yang disebut liposom. Obat bertahan lebih

lama dengan bentuk ini dan tampaknya berpindah ke daerah yang

membutuhkan. Dengan memakai bentuk obat liposomal, beberapa efek

samping berkurang.

1. Pendekatan antisitokin : Ada banyak penelitian terhadap sitokin, protein

yang dipakai oleh sistem kekebalan untuk merangsang sel agar tumbuh.

Para peneliti menganggap bahwa zat yang menghambat faktor

pertumbuhan ini juga dapat memperlambat pertumbuhan sarcoma kaposi.

2. Antibodi monoklonal: Obat ini dibuat melalui rekayasa genetis. Nama obat

ini mempunyai -mab di belakang, misalnya bevacizumab. Obat lain:

Ilmuwan sedang meneliti beberapa obat yang memperlambat

perkembangan pembuluh darah (angiogenesis).


BAB III

PROSES KEPERAWATAN

A. Asuhan Keperawatan

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian.

1. Riwayat Penyakit

Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat

kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens.

Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum

berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat

meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang

berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia

aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit

seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status

imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta

terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :

a. Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ). Terapi radiasi,defisiensi

nutrisi,penuaan,aplasia timik,limpoma, kortikosteroid ,globulin anti limfosit,

disfungsi timik congenital.

b) Kerusakan imunitas humoral (Antibodi). Limfositik leukemia

kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein liosing enteropati

(peradangan usus)

b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)

1. Aktifitas / Istirahat.

Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.


Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas (

Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ). Sirkulasi

2. Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.

Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat /

sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.

3. Integritas dan Ego

Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan,

mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.

Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.

4. Eliminasi

Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram

abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan

sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan

jumlah,warna,dan karakteristik urine.

5. Makanan / Cairan

Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia

Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang

buruk, edema

6. Hygiene

Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.


7. Neurosensori

Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status

indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.

Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak

normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.

8. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.

Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan

gerak,pincang.

9. Pernafasan

Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada

dada.

Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya

sputum.

10. Keamanan

Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit

defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.

Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul,

pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.

11. Seksualitas

Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya

libido,penggunaan pil pencegah kehamilan.

Tanda : Kehamilan,herpes genetalia


12. Interaksi Sosial

Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya

trauma penyakit

Tanda : Perubahan interaksi

13. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko

tinggi,penyalahgunaan obat-obatan IV,merokok,alkoholik.

c. Diagnosa

1. Gangguan citra tubuh b.d. penyakit sarcoma Kaposi yang menimbulkan lesi di

kulit.

2. Pola nafas tidak efektif b.d. lesi pada sarcoma Kaposi pada paru-paru

3. Nyeri akut b.d agen cidera biologi (lesi)

4. Kerusakan intregitas kulit b. d. deficit imunologis (manifestrasi HIV/AIDS)

dan lesi atau nodul.

5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu

dalam memasukan makanan (lesi di mulut).

6. Risiko kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan melalui rute normal
d. Intervensi

1. Kerusakan intregitas kulit b. d. defisit imunologis (manifestrasi HIV/AIDS) dan


lesi atau nodul

No Intervensi Rasional

1. Kaji kulit setiap hari. Cata warna, Menetukan garis dasar dimana perubahan
turgor, sirkulasi, dan sensasi. pada status dapat dibandingkan dan
Gambarkan lesi dan amati melakukan intervensi yang tepat
perubahan.

2. Dorong untuk ambulasi / turun dari Menurunkan tekanan pada kulit dari
tempat tidur jika memungkinkan istirahat lama di tempat tidur

3. Pertahankan hygine kulit misalnya Mempertahankan kenersihan karena kulit


membasuh kemudian yang kering dapat enjadi barier infeksi.
mengeringkannya dengan berhati- Pembasuhan menurunkan resiko trauma
hati dan melakukan masase dengan dermal pada kulit yang rapuh. Masase
menggunakan lotion atau krim. meningkatkan sirkulasi kult dan
meningkatkan kenyamanan.

4. Berikan obat-obatan topikal/ Digunakan pada perawatan lesi kulit


sistemik sesuai indikasi

2. Pola nafas tidak efektif b.d. lesi pada sarcoma Kaposi pada paru-paru

No Intervensi Rasional

1. Catat kecepatan/kedalaman Takipnea, sianosis menunjukkan kesulitan


pernapasan, sianosis, penggunaan bernapas dan adanya kebutuhan untuk
otot aksesori, ansietas dan meningkatkan pengawasan/intervensi
munculnya dispnea. medik.

2. Tinggikan kepala tempat tidur Membantu membersihkan jalan napas


sehingga memungkinkan terjadinya
pertukaran gas dan mencegah komplikasi
pernapasan

3. Auskultasi bunyi napas Memperkirakan adanya perkembangan


komplikasi

4. Berikan tambahan oksigen Mempertahankan ventilasi efektif untuk


mencegah krisis pernapasan

3. Ketidakseimbangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan mual, muntah, anoreksia, diare

No Intervensi Rasional

1. Pantau tanda-tanda vital Indikator dari volume cairan sirkulasi

2. Kaji turgor kulit, membran mukosa Indikator tidak langsung dari status cairan
dan rasa haus

3. Pantau pemasukan oral dan Mempertahankan keseimbangan cairan,


masukan cairan sedikitnya 2500 mengurangi rasa haus, dan melembabkan
ml/hari membran mukosa.

4. Berikan cairan/elektrolit melalui Mungkin diperlukan untuk


selang pemberi makanan/IV mendukung/memperbesar volume sirkulas,
terutama jika pemasukan oral tak adekuat,
mual/muntah terus menerus

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu


dalam memasukan makanan (lesi di mulut).

No Intervensi Rasional

1. Auskultasi bising usus Hipermotilitas saluran intestinal umum


terjadi dan dihubungkan dengan muntah
dan diare, yang dapat mempengaruhi
pilihan diet atau makanan.

2. Timbang berat badan sesuai Indikator kebutuhan nutrisi/pemasukan


kebutuhan yang adekuat

3. Berikan perawatan mulut yang Mengurangi ketidaknyamanan


terus menerus yang berhubungan dengan mual/muntah,
lesi oral, pebgeringan mukosa, dan
halitosis.

4. Pasang/pertahankan NGT sesuai Mungkin diperlukan untuk mengurangi


petunjuk mual/muntah atau untuk pemberian makan
per selang.
5. Nyeri akut b.d agen cidera biologi (lesi)

No Intervensi Rasional

1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan Mengindikasikan kebutuhan untuk


lokasi, intensitas, frekuensi dan intervensi dan juga tanda-tanda
waktu perkembangan komplikasi.

2. Berikan aktivitas hiburan Memfokuskan kembali perhatian, mungkin


dapat meningkatkan kemampuan untuk
menaggulangi.

3. Dorong pengungkapan perasaan Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut


sehingga mengurangi persepsi akan
intensitas rasa takut

4. Berikan analgetik Mengurangi nyeri.


PENUTUP

Sarkoma Kaposi adalah penyakit yang menyerupai kanker yang disebabkan

oleh virus human herpesvirus 8 (HHV8). Sarkoma Kaposi pertamakali dideskripsikan

oleh Moritz Kaposi, seorang ahli ilmu penyakit kulit Hongaria di Universitas Wina

tahun 1872. Sarkoma Kaposi secara luas diketahui sebagai salah satu penyakit yang

muncul akibat dari AIDS pada tahun 1980an.

Lesi Sarkoma Kaposi berbentuk nodul atau bisul yang berwarna merah, ungu,

coklat atau hitam, dan biasanya bersifat papular. Sarkoma Kaposi dapat ditemui pada

kulit, tetapi biasanya dapat menyebar kemanapun, terutama pada mulut, saluran

pencernaan dan saluran pernafasan. Perkembangan sarkoma dapat terjadi lambat

sampai sangat cepat, dan berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas yang

penting.
DAFTAR PUSTAKA

Antman,Chang Y. 2000. Kaposi's Sarcoma. New Engl J Med.342(14):1027-38.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &

Suddarth Ed. 8 Vol. 3. Jakarta: EGC

Yu Fuku, dkk. 2011. Control of Kaposis Sarcoma-Associated Herpesvirus Reactivation

Induced by Multiple Signals. San Diego California : Amerika Serikat

Anda mungkin juga menyukai