Anda di halaman 1dari 6

PAPER SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

Industri Tape Manis Madu

KELAS TIP A

Kelompok 5

Oleh :
1. Rindisari Puspita A. (151710301036)
2. Bustani Pakartiko (151710301042)
3. M. Luqman (151710301035)
4. Nanda Putra Y. (151710301043)
5. Ferdino Mirza Palevi (151710301051)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2017
INDUSTRI TAPE SINGKONG MANIS MADU

Limbah merupakan tahapan yang tidak akan bisa dipisahkan dari proses
industry. Begitupula dengan industry tape. Industry tape merupakan salah satu
industri yang berkembang pesat di daerah Jember. Salah satu industry yang
memiliki produk tape singkong dan suwar suwir yang cukup terkenal yaitu Tape
Singkong MANIS MADU. Home industri MANIS MADU ini berada di Sumber
Pinang , Pakusari, Kabupaten Jember. Pada industry tape MANIS MADU proses
produksi dilakukan kurang lebih empat kali dalam seminggu.

Pada tahap produksi, dilakukan persiapan alat dan bahan seperti singkong,
daun pisang, besek, kardus, alat alat memasak, maupun bahan bahan seperti
ragi. Tahap pertama singkong dengan varietas kuning dikupas dan dicuci agar
bersih dari kotoran yang ada pada kulit singkong. Kulit singkong hanya akan
dikumpulkan pada karung kemudian akan diberikan kepada peternak untuk makan
ternak. Sedangkan air bekas pencucian singkong hanya akan dibuang melalui
selokan-selokan sekitar rumah industry. Pada tahap selanjutnya yaitu perebusan
singkong kuning sampai matang. Bekas air untuk perebusan akan dibuang
langsung ke ladang kosong yang berada tepat disamping rumah industri. Tahap
selanjutnya adalah penyortiran singkong yang sudah direbus. Penyortiran ini
bertujuan untuk menyeragmkan ukuran tape. Singkong yang direbus masih dalam
keadaan utuh sehingga perlu dilakukan penyortiran. Penyortiran juga akan
membuang bagian singkong yang tidak terpakai. Bagian singkong yang tidak
terpakai yaitu bagian ujung-ujung singkong serta bagian tengah singkong. Bagian
bagian tersebut akan dibuang dan dijual ke pasaran.

Proses selanjutnya adalah proses peragian. Proses penaburan ragi akan


memberi limbah yaitu berupa sisa ragi yang berceceran. Sisa ragi hanya akan
dibuang ke selokan. Proses selanjutnya yaitu penempatan singkong yang telah
diragi kedalam besek atau kotak kertas yang telah beralaskan daun pisang. Sisa
daun pisang yang tidak digunakan akan dikumpulkan kedalam karung dan
dikumpulkan bersama dengan sisa kulit singkong untuk diberikan kepada
peternak sekitar daerah rumah industri. Tape singkong yang sudah siap dalam
wadah akan di tutup selama 3 hari. Kemudian tape akan dipasarkan. Pemasaran
tape Manis Madu di daerah Jember hingga Kalisat.

Dampak limbah home industri cukup berbahaya untuk jangka lama. Sisa air
rebusan yang masih panas akan mempengaruhi struktur tanah. Serta tanaman yang
ada di ladang itu tidak akan tumbuh dengan baik. Pembuangan bahan-bahan yang
sudah tidak terpakai ke selokan akan menyumbat aliran air selokan. Sedangkan,
limbah daun pisan serta kulit singkong akan digunakan kembali untuk makanan
ternak sehingga tidak akan menimbulkan efek negative pada lingkungan. Seluruh
proses industri telah diatur pada Undang-Undang. Produksi pada industry harus
berdasarkan regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini berkaitan dengan
pra produksi, produksi, maupun pasca produksi.

Pada pasca produksi, terdapat limbah yang keberadaannya bisa sangat


mempengaruhi kelangsungan hidup lingkungan. Berikut ini merupakan regulasi-
regulasi limbah yang telah ditetapkan oleh pemerintah :

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang baku mutu air limbah pasal 7
menjelaskan bahwa (1) baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan yang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) ditinjau paling sedikit 1(satu) kali
dalam 5 (lima) tahun. (2) peninjauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan kajian ilmiah mengenai : a. kemampuan daya tampung beban
pencemaran air; dan/atau perkembangan teknologi yang lebih baik.

Indusri Tape Madu Manis tidak melakukan pemantauan kualitas air secara
berkelanjutan yang menyebabkan tidak kesesuaian dengan peraturan menteri
Lingkungan hidup. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Pasal 16 menjelaskan
bahwa pemantauan kualitas air limbah paling sedikit 1 (satu) kali setiap bulannya
sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan dalm izin pembuangan air limbah.
Sedangkan menurut peraturan pemerintah dijelaskan bahwa setiap daerah
memiliki peraturan untuk daerah masing masing. Menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air
pasal 25 menjelaskan bahwa Baku mutu limbah cair yang dizinkan dibuang ke
dalam air oleh suatu kegiatan ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
berdasarkan baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Selain
itu, juga diatur pada pasal 26 yang menjelaskan bahwa :

(1) Pembuangan limbah cair ke dalam air dilakukan dengan izin yang diberikan
oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1.
(2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam izin
Ordonansi Gangguan.
(3) lzin pembuangan limbah cair yang dicantumkan dalam izin Ordonansi
Gangguan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus menyebutkan :
a. jenis produksi, volume produksi dan kebutuhan air untuk produksi;
b. kualitas dan kuantitas limbah cair dan atau bahan lain yang diizinkan
untuk dibuang ke dalam air serta frekuensi pembuangannya;
c. tata letak saluran pembuangan limbah cair;
d. sumber dari air yang digunakan dalam proses produksi atau untuk
menyelenggarakan kegiatannya, serta jumlah dan kualitas air
tersebut;
e. larangan untuk melakukan pengenceran limbah cair,
f. sarana dan prosedur penanggulangan keadaan darurat.

Sedangkan menurut peraturan provinsi jawa timur diatur pada peraturan


nomor Peraturan daerah provinsi jawa timur pasal 1 ayat (14) bahwa Pengendalian
pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta
pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.

Peraturan daerah provinsi jawa timur pasal 22 ayat (1) bahwa Setiap penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan yang membuang air limbah ke dalam air dan/atau sumber air
harus :
a. memenuhi persyaratan baku mutu air limbah yang telah ditetapkan;

b. tidak melebihi parameter kriteria mutu air berdasarkan kelas air


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3).

Peraturan daerah provinsi jawa timur pasal 27 ayat (1) bahwa Setiap penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan yang akan membuang air limbah ke air dan/atau sumber air
wajib mengajukan izin pembuangan air limbah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dan (2) bahwa Izin pembuangan air limbah ke air
dan/atau sumber air lintas Kabupaten/Kota, diberikan setelah mendapat rekomendasi dari
Pemerintah Provinsi dan/atau Perum Jasa Tirta I yang meliputi:

a. kewajiban untuk mengolah limbah;

b. kewajiban untuk memiliki operator dan penanggung jawab Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) yang bersertifikat;

c. kewajiban untuk memenuhi mutu dan jumlah air limbah yang boleh dibuang ke
media lingkungan;

d. kewajiban mengenai cara pembuangan air limbah;

e. kewajiban untuk mengadakan sarana dan penanggulangan keadaan darurat;

f. kewajiban untuk melakukan pemantauan air limbah;

g. persyaratan lain yang ditentukan oleh hasil analisis mengenai dampak lingkungan
yang erat dengan pengendalian pencemaran air bagi usaha dan atau kegiatan yang wajib
melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan;

h. kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil


swapantau;

i. kewajiban untuk membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air sesuai peraturan
perundang-undangan;

j. kewajiban untuk memenuhi baku mutu air limbah;

k. kewajiban untuk memasang alat ukur debit pembuangan air limbah.


l. larangan pembuangan secara sekaligus dalam satu saat atau pelepasan dadakan;

m. larangan untuk melakukan pengenceran air limbah dalam upaya penataan batas
kadar yang dipersyaratkan;

n. larangan membuang limbah padat, gas serta limbah bahan berbahaya dan beracun
dalam air dan/atau sumber air lintas Kabupaten/kota.

Peraturan daerah Kabupaten Jember no. 1 tahun 2015 bab IV pasal 31 (1) Sistem
jaringan prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d meliputi :

a. Prasarana pengelolaan sampah;

b. Prasarana pengelolaan limbah;

Pengelolaan Limbah Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berupa
Instalasi Pengolahan Limbah (IPL) di setiap lokasi industri. (6) Pengolahan limbah
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi :

a. Peningkatan akses Pengembangan Sistem (PS) air limbah baik sistem on site
maupun off site (terpusat) di perkotaan maupun di perdesaan untuk memperbaiki kesehatan
masyarakat;

b. Peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam


penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah; dan

c. Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas bagi aparat pengelola air


limbah