Anda di halaman 1dari 3

KEKUASAAN DAN WEWENANG

Terjadinya Pemusatan Kekuasaan Catatan Untuk Bachrun Martosukarto


Penggulingan Kekuasaan : Antara ORLA dan ORBA Panji Semirang
Sampang dan Tradisi Perlawanan Anwar Hudijono
Tugas Minggu ke 10

1. Uraikan saluran apakah yang digunakan ole horde baru untuk memperoleh
kekuasaannya? Tunjukkan bukti dari bacaan-bacaan anda! Adakah bukti bahwa
kekuasaan pemerintah orde baru bersifat kumulatif?
Jawab:
Saluran kekuasaan yang digunakan pada pemerintahan orde baru, diantaranya
Saluran militer, karena Negara mengarah pada Negara otoriter. Terdapat
dalam kalimat perjalanan Negara bangsa ini mengarah pada suatu Negara
otoriter dengan pemusatan kekuasaan pada presiden.
Saluran ideology, karena disebarkannya paham nasakom. Terdapat dalam
kalimat Nasakom merajalela dengan peran parpol agama yang di
pinggiran.
Saluran politik, karena pada masa pemerintahan Orba penguasa melalui
badan-badan legal membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati
masyarakat yaitu dengan adanya paket Undang-undang politik. Terdapat
dalam kalimat Munculnya paket Undang-undang Politik (UU Pemilu, UU
Kedudukan, dan Susunan MPR/DPR/DPRD, UU Parpol, UU Ormas, dan
UU Referendum yang kini menjadi agenda demonstrasi mahasiswa).
Pada teks terdapat bukti bajwa kekuasaan pemerintah orde baru bersifat
kumulatif, yaitu pada kalimat perjalanan Negara bangsa ini mengarah pada
suatu Negara otoriter dengan pemusatan kekuasaan pada presiden.

2. Apakah runtuhnya kekuasaan orde baru disertai dengan anomie? Tunjukkan


bukti-bukti dari bacaan anda!
Jawab:
Ya. Anomie adalah sebuah istilah yang diperkenalkan oleh mile Durkheim
untuk menggambarkan keadaan yang kacau, tanpa peraturan. Kata ini berasal
dari bahasa Yunani a-: "tanpa", dan nomos: "hukum" atau "peraturan".
Berdasarkan teks tersebut runtuhnya kekuasaan orde baru disertai dengan
anomie ditunjukkan dengan sikap yang diambil oleh pemerintah yaitu
menembakki pendemo yang kemungkinan penembaknya berasal dari kalangan
pasukan pengawal presiden.

3. Berdasarkan pemikiran Horton H model kekuasaan mana yang pernah berlaku


di Indonesia ? Tunjukkan bukti dari bacaan!
Dhani Putra Vadyza (H14160010), Mohamad Ali Akbar (H24160010), Valyanisa Byzzanthi
(H24160095), Livia Nungky Melinda (H34160040), Aqira Pakuanzahra (K14160112), Yuliasti
Nabilah (G64160029),
Jawab:

Bacaan 1
Pandangan yang mengatakan bahwa negara dikuasai oleh golongan elite
penguasa , yang mendominasi dan mengatasnamakan kekuasaan rakyat.
Namun karena sudah ditentukan oleh undang-undang bahwa hanya ada dua
partai politik dan satu Golongan Karya , maka sebesar apapun keinginan
masyarakat untuk mendirikan partai politik selalu terganjal oleh aturan yang
ada.

Bacaan 2
Pandangan yang mengikuti jejak pandangan R.K. Merton ,bahwa kekuasaan
sebagai sesuatu yang bersifat polimorfik(secara harfiah berati memiliki banyak
bentuk) ,masyarakat mencapai keputusan melalui proses konflik dan
kompromi. Hal ini terbukti ada pada kalimat Presiden Soeharto mundur hanya
melalui satu langkah besar.Dia diturunkan setelah mahasiswa dan pimpinan
DPR mengultimatum agar wakil-wakil rakyat segera mengadakan sidang.
Kemudian menteri-menteri bidang Ekuin sebagian besar tidak mau duduk di
dalam Kabinet Reformasi yang merupakan hasil reshuffle atas Kabinet
Pembangunan VII. Komite Reformasi yang akan didirikan oleh Presiden
Soeharto, tidak mendapat tanggapan yang positif. Akhirnya Soeharto angkat
tangan dan langsung menyerahkan kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie, yang
kemudian disumpah di depan Mahkamah Agung."

Bacaan 3
Pandangan yang mengikuti jejak R.K. Merton,bahwa kekuasaan sebagai
sesuatu yang polimorfik.Keputusan-keputusan masyarakat yang penting adalah
hasil kompromi ,persaingan dan pengaruh keadaan.Dengan kata lain,menurut
penganut teori ini masyarakat pluralis mencapai keputusan melalui proses
konflik dan kompromi.Hal ini terbukti pada kalimatPada Pemilu 1982,
Sampang tetap menjadi pusat perlawanan.Hasilnya PPP mendapat 23 kursi ,
Golkar sembilan. Pada pemilu 1987,Golkar mengubah taktis tidak melakukan
pertempuran frontal tetapi dengan cara memecah belah ulama. PPP turun
menjadi 20, sedang Golkar 16, dan PDI kosong. Tinggallah Sampang satu-
satunya daerah yang belum berhasil di-Golkar-kan.

4. Bandingkanlah pola kekuasaan di Indonesia pada tingkat negara dengan tingkat


daerah (mengau pada kasus Sampang, 2000)! Apakah kekuasaan dan wewnang
berada pada satu tangan ?
Jawab:
Mengacu pada kasus Sampang pola kekuasaan di Indonesia pada tingkat
negara kekuasaan berada di tangan pemerintah pusat, sedangkan pada tingkat

Dhani Putra Vadyza (H14160010), Mohamad Ali Akbar (H24160010), Valyanisa Byzzanthi
(H24160095), Livia Nungky Melinda (H34160040), Aqira Pakuanzahra (K14160112), Yuliasti
Nabilah (G64160029),
daerah kekuasaan berada di partai penguasanya yaitu Golkar. Rakyat
melakukan perlawanan terhadap kezaliman penguasa dan melakukan
pencoblosan ulang karena hasil pemilu dinilai tidak jujur dan tidak adil yang
memenangkan partai penguasanya yaitu Golkar. Perlawanan rakyat tersebut
menunjukan bahwa kekuasaan berada di satu tangan yakni pemerintah pusat
dan orang-orang partai.

5. Apakah istilah perlawanan atau kontra orde baru atau penggulingan/


menggulingkan kekuasaan yang anda temukan dalam bacaan anda mengacu
pada gerak kekuasaan atau gerak kepemimpinan ? Tunjukkan bukti bukti dari
bacaan anda !
Jawab:
Dalam bacaan tersebut istilah perlawanan mengacu pada gerak kekuasaan
karena ketika pemerintah menggunakan kekuasaan nya dengan tidak benar
sehingga terjadi hal-hal yang tidak demokrasi. Terlihat bukti dengan
perglawanan rakyat melakukan berbagai aksi demonstrasi untuk
menggulingkan kekuasaan yang berada di tangan pemerintah tersebut.

6. Membanding ketiga bacaan, kesimpulan apa yang dapat anda rumuskan ?

Kesimpulan
Bacaan 1 Bacaan 2 Bacaan 3
Presiden memegang Mahasiswa melakukan Pemerintah masih
kekuasaan untuk aksi demonstrasi untuk menguasai dan
mengatur undang-undang menggulingkan soeharto menindas rakyat
dan penyusunan pada kekuasaan antara terutama masyarakat
perundangan sehingga orla dan orba yang Sampang. Demokrasi
terjadinya pemusatan menyebabkan korban mulai ditegakkan
kekuasaan ditangan jiwa karena terjadi dengan adanya aksi
Presiden dan mengarah pertumpahan darah oleh demonstrasi dari rakyat
pada suatu negara orang-orang bersenjata yang menuntut karena
otoriter yang tidak terhadap pendemo dari adanya ketidakadilan
demokrasi mahasiswa. Pemilu 1997.
Dari ke 3 bacaan diatas dapat disimpulkan bahwa di Indonesia masih terdapat
pemusatan kekuasaan yang ada di tangan pemerintah. Dari ke 3 bacaan terlihat
aspirasi rakyat disuarakan ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan
demokrasi, rakyat Indonesia melakukan berbagai aksi demonstrasi kepada
pemerintah.

Dhani Putra Vadyza (H14160010), Mohamad Ali Akbar (H24160010), Valyanisa Byzzanthi
(H24160095), Livia Nungky Melinda (H34160040), Aqira Pakuanzahra (K14160112), Yuliasti
Nabilah (G64160029),