Anda di halaman 1dari 30

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. JAKARTA CAKRATUNGGAL STEEL MILLS

15 SEPTEMBER 2017

KESEHATAN KERJA DAN ERGONOMI

Kelompok II

Ghaysa Miara Bahar 030.11.113


Hesti Pratiwi 030.11.132
I Nyoman Herlian B 030.10.130
Icha Leandra Wichita 030.11.136
Martha Rianita Odja 030.09.145
Muhammad Yoga R.I 030.11.199
Mutiara Putri Elda E 030.11.203
Nuvita Hasrianti 030.10.210
Pratiwi Utami 030.11.231
Putri Maulia Sari 030.10.244
Rahmalia Lestari 030.11.241

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTRIAN KETENAGAKERJAAN DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA
PERIODE 11 18 SEPTEMBER 2017
JAKARTA

1
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya sehingga peralatan sudah jadi
kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi
merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan prokdutifitas untuk berbagai
jenis pekerjaan. Disamping itu, di sisi lain akan menjadikan dampak negatifnya, bila kita
kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul.

Suatu perusahaan yang aman adalah perusahaan yang teratur dan terpeliharan
dengan baik dan cepat menjadi terkenal sebagai tempat naungan buruh yang baik. Prrogram
keselamatan kerja yang baik adalah program yang terpadu dengan pekerjaan sehari-hari
sehingga seukar untuk di pisahkan satu sama lainnya. Pelajaran ini di maksudkan untuk
memberi bimbingan ke arah pencegahan kecelakaan pada waktu kita bekerja, pertolongan
pertama pada kecelakaan dan lain-lain.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, terpat


kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan. Arti dan tujuan keselamatan kerja
untuk menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah dan rohaniah manusia
serta hasil karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan
manusia pada khususnya.

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mempu melakukan pekerjaan baik di dalam
maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang utuk memenuhi
masyarakat. Tempat kerja adalah ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau
tetap, dimana tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber
atau sumber-sumber bahaya, termasuk tempat kerja, semua ruangan, lapangan, halaman dan
sekililingnya, yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.

Menyadari aspek keselamatan dan kesehatan kerja, pemerintah mengeluarkan


Undang Undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang bertujuan melindungi
tenaga kerja dan orang lain yang ada di tempat kerja

1.2 Dasar Hukum


Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan usaha demi
tercapainya tidak adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka ada beberapa
landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :

A. UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja


B. UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang ketenagakerjaan
C. UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan
D. UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
E. Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja
F. Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja
G. Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS di tempat kerja
H. Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba,
psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja
I. Permenakertrans No.01/Men/1976 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi dokter
perusahaan
J. Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi
paramedic perusahaan
K. Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan tenaga kerja
dalam penyelanggaraan keselamatan kerja
L. Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan kesehatan kerja.
M. SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang makan
N. SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang
mengelola makanan bagi tenaga kerja
O. Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama pada
kecelakaan di tempat kerja.

1.3 Profil Perusahaan

Nama : PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills


Alamat : Jl. Raya Bekasi KM 21-22, Pulogadung, RT 09/RW05, Rawa
Terate,Cakung, Jakarta Timur, DKI Jakarta. 13920

Jenis perusahaan : Produsen Tulangan Beton

Fasilitas produksi : Steel Melting & Rolling Mills

Produk : Billet Baja & Besi Beton

Kapasitas Produksi : 420.000 MT & 360.000 MT per Tahun

Jumlah Karyawan : 700 Orang

Sektor Perusahaan: Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan


ALKA adalah menjalankan usaha dalam bidang perdagangan umum, perwakilan atau
keagenan, pemborong (kontraktor), industri manufakturing dan fabrikasi, pengolahan
barang-barang dari logam dan aluminium.

Jam Kerja: Pukul 08.00 16.00 (Senin Jumat), terdapat 3 shift yaitu:
00.00 08.00

08.00 16.00

16.00 00.00

Overtime : long shit (as needed)

Sabtu Minggu : day shift ( 1 shift)

Asuransi Pegawai: Karyawan PT Alakasa Extrusindo memiliki asuransi kesehatan


berupa BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan..

Kelembagaan P2K3 : masih belum berjalan.

Dokter Perusahaan : 1 orang hanya bekerja dari hari senin-rabu. Terdapat perawat
maupun paramedis lain, bekerja setiap hari senin-jumat.
Sejarah Perusahaan:

PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills adalah salah satu perusahaan pengolaan baja
nasional yang memproduksi baja tulangan beton atau yang lebih dikenal masyarakat dengan
istilah besi beton. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1989 di atas laha seluas 14,8 Ha,
berlokasi di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta dan mulai beroperasi pada Juni 1992

Sejak memulai kegiatan operasional sampai sekarang, PT. JCSM telah berhasil
menembus pasar domestik dan internasional PT. JCSM memiliki komitmen untuk
menciptakan produk besi beton berkualitas tinggi berinisial CS sesuai dengan spesifikasi
yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Indonesia dan juga standar Internasional seperti
ASTM, JIS dn BS.

Dalam mendukung komitmen tersebut PT. JCSM terlah menerapkan Sistem


Manajemen Mutu ISO 9001 yang disertifikasi sejak 1995 dan dalam kontribusinya terhadap
penyusunan SNI untuk produk besi beton dan ke ikut sertaan secara konsisten melakukan
edukasi bagi masyarakat konsumen untuk ikut peduli terhadap pemilihan bahan-bahan
berkualitas dan memenuhi standar, PT. JCSM mendapatkan penghargaan SNI Award pada
tahun 2018. Selanjutnya, PT. JCSM juga telah menerapkan Manajemen Mutu ISO 14001 dan
OHSAS 18001 pada tahun 2013

Visi Perusahaan:

Menjadikan PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills sebagai salah satu produsen baja
yang terkemuka di Indonesia.

Misi Perusahaan:

Menjadikan CS sebagai Quality Leader untuk produksi besi beton


Menjadikan CS sebagai Price Leader untuk produsen besi beton di Indonesia
Menjadikan CS sebagai Supplier besi beton yang terlengkap dalam memenuhi
kebutuhan pasar

1.4 Alur Produksi


Alumunium Extrussion Press and Aging Furnace Anodizing dan Powder coating
(Colouring) Remelt Die Manufacturing Fabrikasi Packing

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1. Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban kerja, dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan
dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja
yang optimal (UU Kesehatan 1992 Pasal 23). Kesehatan kerja bertujuan untuk
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental dan sosial bagi
masyarakat pekerja dan masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan. Aplikasi
kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang membantu seseorang
untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang optimal, yaitu terjadinya
keseimbangan kesehatan fisik, emosi, spiritual dan intelektual. Tujuan promosi kesehatan
di tempat kerja adalah terciptanya perilaku dan lingkungan kerja sehat juga produktivitas
yang tinggi. Tujuan dari promosi kesehatan adalah:

Mengembangkan perilaku kerja sehat


Menumbuhkan lingkungan kerja sehat
Menurunkan angka absensi sakit
Meningkatkan produktivitas kerja
Menurunnya biaya kesehatan
Meningkatnya semangat kerja
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan kerja
ataupun penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan pekerjaan
yang diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk menunjang kesehatan
optimal pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan sehingga
menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi upaya preventif diantaranya
pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi makanan bagi pekerja.

Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi


pekerja. Upaya penatalaksanaan penyakit yang timbul pada saat bekerja merupakan
langkah untuk meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus memberi
motivasi untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal. Penyakit yang sering
timbul dalam suatu lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam mengambil langkah
promosi dan pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan kerja
optimal dilaksanakan.
Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam kesehatan kerja adalah adanya
pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja, baik sejak awal sebelum bekerja, selama
bekerja, maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan kesehatan ini ditujukan agar
selain tenaga kerja yang diterima di awal berada dalam kondisi kesehatan setinggi-
tingginya, juga untuk memantau status kesehatan pekerja dan juga meminimalisir dan
mendeteksi dini apakah ada penyakit akibat kerja yang ditimbulkan akibat proses
produksi.

Sarana P3K di tempat kerja diatur dalam Permenakertrans RI No. 15/MEN/VIII/2008.


Dalam Permenakertrans tersebut, dijabarkan bahwa Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan di tempat kerja (P3K) adalah upaya memberikan pertolongan pertama secara
cepat dan tepat kepada pekerja/buruh/dan/atau orang lain yang berada di tempat kerja,
yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.

Fasilitas P3K yang dimaksud dalam Permenakertrans ini meliputi ruang P3K, kotak
P3K dan isinya sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi, fasilitas tambahan
berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki
potensi bahaya yang bersifat khusus. Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K dalam
hal proses produksi mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih atau kurang dari
100 orang dengan potensi bahaya tinggi.

Ruang P3K juga diatur standarnya, salah satunya meliputi lokasi yang harus dekat
dengan toilet/kamar mandi, jalan keluar, mudah dijangkau, dan dekat dengan tempat
parkir kendaraan. Kotak P3K juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu
terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan lambang
P3K berwarna putih dengan lambang P3K berwarna hijau dengan isi kotak sesuai dengan
Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K juga harus pada tempat yang
mudah dilihat dan dijangkau dengan diberi tanda arah yang jelas dan cukup cahaya serta
mudah diangkat apabila digunakan dan disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang
ada, dan dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-
masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja/buruh.

2.2. Ergonomi
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (International Labor Organization/ILO)
adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum agar bermanfaat
demi efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara
lingkungan kerja (ahli hiperkes), manusia (dokter dan paramedik), serta mesin
perusahaan (ahli tehnik). Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi.

Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat dengan
produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah seluruh tenaga
kerja baik sektor formal, informal, maupun tradisional. Pendekatan ergonomi mengacu
pada konsep total manusia, mesin, dan lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam
industri dapat berjalan secara efisien, selamat, dan nyaman. Dengan demikian, dalam
penerapannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat kerja, posisi kerja, dan
proses kerja.

Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja


tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan
meningkatkan kepuasan kerja;
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan
menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja;
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik,
ekonomi, antropologi, dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan
meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan akibat
kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang, stress
akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman
karena bebas dari gangguan cidera, kepuasan kerja meningkat.

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi: (1) tekhnik; (2)
fisik; (3) pengalaman psikis; (4) anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan
dan gerakan otot dan persendian; (5) anthropometri; (6) sosiologi; (7) fisiologi, terutama
berhubungan dengan temperatur tubuh, oxygen up take dan aktivitas otot; (8) disain; dan
sebagainya.
Aplikasi Ergonomi pada Tenaga Kerja

1. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi
berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara
seimbang pada dua kaki.

2. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja
dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri
barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja


Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan
simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung, dan lain-lain. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera
tulang punggung, jaringan otot, dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

Supervisi Tenaga Kerja

Semua pekerja secara kontinyu mendapat supervisi medis teratur. Supervisi medis
yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain:

a. Pemeriksaan sebelum kerja bertujuan untuk menyesuaikan pekerja baru terhadap


beban kerjanya.
b. Pemeriksaan berkala bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya
dan mendeteksi bila ada kelainan.
c. Nasihat harus diberikan tentang higiene dan kesehatan

2.3. Penyakit Akibat Kerja


Menurut International Labour Organization (ILO) tahun 1998, penyakit akibat
kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi kuat dengan
pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.

Beberapa faktor penyebab penyakit akibat kerja, antara lain:

1. Faktor fisik
Suara bising mengakibatkan ketulian
Radiasi sinar rontgen atau sinar radioaktif menyebabkan penyakit kelainan darah dan
kulit.
Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke, heat cramps, hiperpireksia.
Sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan frosbite.
Tekanan udara yang tinggi menyebabkan Caison Disease
Pencahayaan yang buruk menyebabkan kelainan pada mata.
Getaran dapat menyebabkan Raynauds disease.

2. Faktor kimia
Debu dapat menyebabkan pneumoconiosis, diantaranya: silikosis, asbestosis dan
lainnya.
Uap dapat menyebabkan demam uap logam (metal fume fever), dermatosis.
Gas dapat menyebabkan keracunan, misalkan CO, H2S, Pb dan lainnya.
Larutan zat kimia dapat menyebabkan iritasi pada kulit
Awan atau kabut

3. Faktor biologi
Misalkan bibit penyakit antraks atau brusella yang menyebabkan penyakit akibat kerja
pada tenaga kerja penyamak kulit.

4. Faktor fisiologi atau ergonomi antara lain kesalahan konstruksi mesin, sikap badan
yang tidak benar dalam melakukan pekerjaan dan lain lain yang dapat menimbulkan
kelelelahan fisik dan gangguan kesehatan bahkan lambat laun dapat menyebakan
terjadi perubahan fisik.
5. Faktor mental-psikologis
Hubungan kerja atau hubungan industrial yang tidak baik dapat menyebabkan depresi
atau penyakit psikosomatis.

Penegakan diagnosis penyakit akibat kerja dapat dilakukan melalui 7 langkah, antara lain:

1. Tentukan Diagnosis klinisnya


Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan fasilitas-
fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit.
Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit
tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.

2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini


Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial untuk
dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan
anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:
Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara
khronologis
Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
Bahan yang diproduksi
Materi (bahan baku) yang digunakan
Jumlah pajanannya
Pemakaian alat perlindungan diri (masker)
Pola waktu terjadinya gejala
Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa)
Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label, dan
sebagainya)

3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut, Apakah
terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa pajanan
yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan
adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan
diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung, perlu dipelajari
lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang
diderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya).

4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan
penyakit tersebut. Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan
tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti
lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja.

5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi. Apakah ada
keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang dapat mengubah
keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya
sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat
keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang
dialami.

6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit


Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Meskipun
demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab
di tempat kerja.

7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya


Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan
informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-
kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu
dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai
penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan
tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini. edangkan pekerjaan
dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu
yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya atau pajanannya memperberat
atau mempercepat timbulnya penyakit.
2.4. Gizi Kerja

Gizi kerja adalah gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi

kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan. Gizi kerja menjadi

masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan makan pagi, kurangnya

perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja tentang gizi, tidak mendapat

uang makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan tidak diketahui. Efek dari gizi kerja

yang kurang bagi pekerja adalah:

Pekerja tidak bekerja dengan maksimal

Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang

Kemampuan fisik pekerja yang berkurang

Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan

Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,

Pekerja tidak teliti

Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang

Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit degenerative,
arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan mudah terserang infeksi akut seperti
gangguan saluran nafas. Ketersediaan makanan bergizi dan peran perusahaan untuk
memberikan informasi gizi makanan atau pelaksanaan pemberian gizi kerja yang optimal
akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang setinggi-tingginya.

2.5. Pemeriksaan Kesehatan

Dalam pelaksanaan program kesehatan kerja, di dalamnya terkandung kewajiban


pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja. Pemeriksaan kesehatan dilakukan
oleh dokter perusahaan yang ditunjuk oleh pengusaha dan telah memenuhi syarat sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Koperasi No. Per.
01/MEN/1976. Tujuan dari dilakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum
adalah memperoleh dan mempertahankan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
selama bekerja maupun setelah bekerja.

Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja terbagi atas tiga ,antara lain:

Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja


Ditujukan agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan
yang setinggi-tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai
tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukan sehingga
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan dan tenaga kerja
lainnya terjamin.

Pemeriksaan yang dilakukan antara lain, pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran


jasmani, rontgen paru, laboratorium rutin dan pemeriksaan lain yang berkaitan
dengan pekerjaan tertentu.

Pemeriksaan kesehatan berkala


Merupakan pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga kerja
yang dilakukan oleh dokter perusahaan. Pemeriksaan dimaksudkan untuk menilai
kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan sedini mungkin (deteksi dini)
yang kemudian perlu dikendalikan dengan usaha pencegahan. Semua perusahaan
harus melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja sekurang-
kurangnya 1 tahun sekali.

Pemeriksaan kesehatan khusus


Merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter perusahan secara khusus
terhadap tenaga kerja tertentu. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai adanya pengaruh
dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau kelompok tenaga kerja tertentu.

Pemeriksaan kesehatan khusus dapat dilakukan terhadap:

Tenaga kerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang memerlukan
perawatan lebih dari 2 minggu.
Tenaga kerja usia lebih dari 40 tahun atau tenaga kerja wanita dan tenaga kerja
cacat, serta tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan tertentu.
Tenaga kerja yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai gangguan
kesehatannya. Perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan.

2.6. HIV/AIDS

HIV/AIDS saat ini di bukan hanya menjadi masalah kesehatan akan tetapi juga menjadi
masalah di bidang dunia kerja yang berdampak pada produktivitas dan profitabilitas
perusahaan. Kementrian Ketenagakerjaan RI telah mengeluarkan Keputusan Menteri No.
68/Men/IV/2004 mengenai pencegahan dan Penaggulangan HIV/AIDS di tempat kerja, di
mana dalam Keputusan Menteru Tenaga Kerja dan Transmigrasi terdapat kewajiban
pengusaha untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat
kerja melalui:

1. Pengembangan kebijakan tentang upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS


di tempat kerja yang dapat dituangkan dalam Peraturan Perusahaan (PP) atau
Perjajian Kerja Bersama (PKB)
2. Pengkomunikasian kebijakan dengan cara menyebarluaskan informasi dan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
3. Pemberian perlindungan kepada pekerja/buruh dengan HIV/AIDS dari tindak dan
perlakuan diskriminatif.
4. Penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja khusus untuk pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan peraturan perundan-undangan yang
berlaku.

Menurut ILO terdapat beberapa prinsip kunci dan kaidah tentang HIV/AIDS di dunia
kerja yang berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua tempat kerja, termasuk sektor
kesehatan, antara lain:

1. Isu tempat kerja

HIV/ AIDS adalah isu tempat kerja, karena dia mempengaruhi angkatan kerja, dan karena
tempat kerja dapat memainkan peran vital dalam membatasi penularan dan dampak
epideminya.
2. Nondiskriminasi
Tidak ada diskriminasi terhadap pekerja berdasarkan status HIV yang nyata atau dicurigai.

3. Kesetaraan gender
Hubungan gender yang lebih setara dan pemberdayaan wanita adalah penting untuk
mencegah penularan HIV dan membantu masyarakat mengelola dampaknya.

4. Lingkungan kerja yang sehat


Tempat kerja harus meminimalkan risiko pekerjaan, dan disesuaikan dengan kesehatan dan
kemampuan pekerja.

5. Dialog Sosial
Kebijakan dan program HIV/AIDS yang sukses membutuhkan kerjasama dan saling percaya
antara pengusaha, pekerja dan pemerintah

6. Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrutmen


Tes HIV di tempat kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan rahasia, tidak boleh
digunakan untuk menskrining pelamar atau pekerja.

7. Kerahasiaan
Akses kepada data perseorangan, termasuk status HIV pekerja, harus dibatasi oleh aturan dan
kerahasiaan.

8. Melanjutkan hubungan pekerjaan


Pekerja dengan penyakit yang berkaitan dengan HIV harus dibolehkan bekerja dalam kondisi
yang sesuai selama dia mampu secara medik.

9. Pencegahan
Mitra sosial mempunyai posisi yang unik untuk mempromosikan upaya pencegahan melalui
informasi, pendidikan dan dukungan bagi perubahan perilaku.

10. Kepedulian dan dukungan Pekerja berhak mendapat pelayanan kesehatan yang
terjangkau.
BAB III
PELAKSANAAN

3.1. Tanggal dan Waktu Pengamatan


Kunjungan perusahaan ke PT. JAKARTA CAKRATUNGGAL STEEL MILLS

ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 14 September 2017 pukul 13.00-16.00

3.2. Lokasi Pengamatan


Lokasi PT. JAKARTA CAKRATUNGGAL STEEL MILLS terletak Jl. Raya Bekasi
KM 21-22, Pulogadung, RT 09/RW05, Rawa Terate,Cakung, Jakarta Timur, DKI Jakarta.
13920
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia yaitu klinik. Pada klinik terdapat 1 dokter
perusahaan dan 2 paramedis. Terdiri dari satu ruang pemeriksaan dan satu ruang obat-
obatan. Klinik tersebut buka dari hari senin sampai minggu pada pukul 07:30-16:30.
Dokter perusahaan tersebut hanya ada di klinik pada hari senin-rabu. Pada hari senin-
selasa dokter perusahaan ada pada pukul 13:00-18:00, untuk hari rabu pada pukul 08:00-
13:00. Klinik tersebut hanya untuk menangani luka-luka kecil seperti lecet, untuk luka-
luka besar, biasanya dirujuk ke rumah ke Rumah Sakit yang terdekat dari perusahaan.

4.2. Program Kesehatan

Program kesehatan preventif seperti pemberian suplemen kesehatan tidak ada pada
perusahaan ini. Pemakaian APD juga tidak lengkap pada pekerja. Pemeriksaan kesehatan
berkala setiap tahunnya.

Program kesehatan promotif yang dilakukan yaitu kegiatan penyuluhan misalnya


sosialisasi mengenai HIV dan KIE, namun sosialisasi tidak berasal dari penyuluhan,
tetapi sebuah kunjungan dari pihak luar, dengan kata lain, penyuluhan tidak dilakukan
secara rutin.

Program kesehatan kuratif yaitu pengobatan yang dilakukan oleh dokter dan tim
paramedis perusahaan di klinik yang dibuka dari hari senin sampai dengan minggu,
tetapi jadwal dokter perusahaan hanya senin-rabu.

Program kesehatan rehabilitasi sudah dilakukan oleh perusahaan ini dalam bentuk
rujukan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit yang mengadakan
kerja sama dengan perusahaan ini dan mengadakan pemindahan tenaga kerja yang
mengalami kecelakaan kerja ke bagian yang sesuai dengan kondisi tenaga kerja saat ini.
4.3. Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba

PT. Jakarta Cakra Tunggal Steel Mills mendapat kategori Gold dalam program
pembatasan HIV dengan dilakukan promosi kesehatan berupa sosialisa HIV,
Fasilitasi VCT, dan pembagian kondom pada tenaga kerja. Penyuluhan mengenai
narkoba juga sudah pernah dilakukan namun pada saat peneriman calon tenaga
kerja tidak ada persyaratan untuk dilakukan tes narkoba.

4.4. Pemeriksaan Kesehatan

PT. Jakarta Cakrtatunggal Steel Mills selalu mengadakan Pemeriksaan


Kesehatan Awal kepada calon tenaga kerja. Dengan melakukan wawancara dan
pemeriksaan fisik oleh dokter perusahaan pada calon tenaga kerja.

PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills melakukan pemeriksaan kesehatan


berkala setiap tahunnya serta dilakukannya pemeriksaan Spirometry dan
Audiometri.

Perusahaan juga memberikan pemeriksaan kesehatan khusus yang dilayani


oleh dokter perusahaan pada tenaga kerja yang memiliki keluhan khusus. Namun
jika tenaga kerja tersebut memerlukan pemeriksaan penunjang yang tidak tersedia
di klinik perusahaan, maka tenaga kerja akan dirujuk ke Rumah Saakit setempat
yang lebih memadai.

4.5. Kesesuaian Pekerja dengan Alat

Pada salah satu departemen, yaitu Departemen Die Manufacturing, para


pekerja melakukan pekerjaannya dalam posisi statis selama 8 jam, dan hanya
beristirahat selama 1 jam pada jam makan siang. Pada bagian untuk pengelasan
para pekerja juga tidak menggunakan penutup muka. Posisi kerja pun saat
memasang baut tidak ergonomis. Cara Kerja juga tidak ergonomis, dengan
mengangkut aluminium dan menggunakan punggung sebagai tumpuan sehingga
menyebabkan risiko nyeri pinggang bawah. Selain itu, kursi yang mereka
gunakan tidak memiiki sandaran sehingga posisi cenderung membungkuk. Para
pekerja menggunakan alat bantu untuk mengangkat aluminium dalam jumlah
besar. Secara garis besar, kebanyakan para pekerja tidak menggunakan alat
pelindung diri.
4.6. Program Pemenuhan Gizi Pekerja, Kantin atau Ruang Makan

PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills memberikan catering untuk makan siang
kepada tenaga kerja. Hal ini menyebabkan jenis makanan, kecukupan gizi serta
kesehatan makanan setiap tenaga kerja dapat diketahui dan diatur. Dapat
disimpulkan bahwa perusahaan memperhatikan aspek kebutuhan gizi tenaga
kerja. Selain itu, pada perusahaan ini tidak ada perbedaan menu makan
berdasarkan beban kerja. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No. 01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang makan,
seharusnya perusahaan dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 200 orang wajib
memiilki kantin sendiri. Namun, PT Alakasa Extrusindo tidak memiliki ruang
makan untuk tenaga kerja. Tenaga kerja memakai ruang loker di divisi sendiri
sebagai ruang makan.

4.7. Penyakit Akibat Kerja

Penyakit terbanyak yang diderita oleh tenaga kerja PT. Alakasa Extrusindo
antara lain:

a. ISPA
b. Hipertensi
c. Asam Urat
d. Kolestrol
e. Low Back Pain
f. Myalgia
g. Gastritis
h. Rhinitis
i. Dermatitis
j. Kecelakaan Kerja (terjatuh dari ketinggian)

Namua berdasarkan pengkuan pegawai PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills,


penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh perkerja adalah :

1. ISPA (setiap tahun kurang lebih 50 pekerja menderita ISPA).

4.8. Sarana P3K dan Tim


Perusahaan menyediakan kotak P3K hampir di setiap devisi atau bagian
produksi. Terdapat 3 orang HSE pada perusahaan. PT Cakratunggal Steel Mills
memiliki 3 shift, dimana shift pertama memiliki 200 orang, shift kedua memiliki
200 orang, dan shift ketiga memiliki 100 orang, dan di tiap shift memiliki 1 orang
dari HSE.

BAB V
RUMUSAN MASALAH

No Rumusan masalah Peraturan perundangan Standart


yang berlaku
1. Fasilitas: Permenaker Perusahaan yang memiliki
Poliklinik 3x/minggu No.3/MEN/1982 tenaga kerja 200-500 orang
tentang pelayanan dengan tingkat bahaya rendah
(Senin, Rabu dan
Kesehatan Kerja harus menyelenggarkan
Kamis), dilayani oleh 1 pelayahan kesehatan kerja:
- Berbentuk klinik buka
dokter perusahaan dan
tiap hari kerja (dilayani
dua paramedis. Dokter oleh paramedis)
Di pimpin dokter yang praktek 2
tersebut praktik dalam hari sekali.
waktu 6 jam.
Upaya preventive Permenaker
No.02/MEN/1980 -Pemberian penyuluhan tentang
Pemberian tentang Pemeriksaan
pentingnya APD dan bila
suplemen Kesehatan Tenaga
kesehatan tidak Kerja dalam melanggar akan diberi sanksi.
ada pada Penyelenggaraan
perusahaan ini. Keselamatan Kerja
Penggunaan alat
pelindung diri
masih sangat
kurang. Permenakertrans
No.08/Men/VII/2010
tentang Alat Pelindung
Diri
Upaya Promotif Permenakertrans Pemberian poster peringatan
No.03/Men/1982
disetiap alat yang berbahaya dan
Kurangnya penyuluhan tentang PKK
poster keselamatan kerja disetiap
mengenai ISPA serta
departemen.
poster peringatan
bahaya, dan
pencegahan kecelakaan
kerja.
Upaya Kuratif: - Permenakertrans - Mengoptimalkan klinik yang
- Kurang diperhatikan No. Per.03/Men/1982
ada di lingkungan perusahaan.
tentang PKK yang
keberadaan klinik
meliputi usaha
pemeriksaan dan promotif, preventif,
kuratif, dan
pengobatan di
rehabilitatif.
perusahaan - Permenaker
No.2/Men/1980 tentang
Pemeriksaan Kesehatan
Tenaga kerja dalam
Penyelenggaraan.
Upaya Rehabilitatif : - Konfensi ILO No. - Peningkatan upaya promotif
- Tidak adanya 159/1983 tentang dan preventif sehingga tidak
proses pemulihan terulang kembali kecelakaan
pemindahan tugas
tenaga kerja dari akibat kerja.
pekerjaan apabila kecelakaan atau - Terdapat penilaian dan
penyakit untuk dapat konseling dalam upaya
karyawan tersebut
bekerja kembali baik di pemulihan kecelakaan yang di
mengalami kecelakaan tempat kerja semula alaminya, sehingga
atau baru yang sesuai penempatannya tepat.
kerja dengan kondisi dan - Peningkatan pelayanan
kemampuannya
pengobatan pada klinik
- Permenakertrans No.
perusahaan.
Per.03/Men/1982
tentang PKK yang
meliputi usaha
promotif, preventif,
kuratif, dan
rehabilitatif.
3 Posisi kerja tidak UU no.1 tahun 1970 Melakukan penyuluhan tentang
ergonomis, posisi kerja tentang keselamatan bagaimana sikap tubuh yang
saat memasang baut, kerja ergonomis dalam bekerja.
mengangkut aluminium
dan menggunakan UU RI no.13 tahun Melakukan penyuluhan tentang
punggung sebagai 2003 tentang bagaimana cara mengangkat dan
tumpuan sehingga ketenagakaerjaan mengangkut yang benar.
menyebabkan risiko
nyeri pinggang bawah. PP no.50 tahun 2012 Menyediakan alat-alat sesuai
Kursi yang mereka ergonomi.
tentang penerapan
gunakan tidak memiiki
SMK3
sandaran sehingga
posisi cenderung
membungkuk
4 Tidak terdapat ruang Surat edaran menteri Pengadaan ruang tempat makan
ruang tempat makan dan kantin.
tenaga kerja dan
dan kantin
transmigrasi NO. SE.
01/men/1979/ tentang
pengadaan kantin dan
ruang makan
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil walkthough survey yang kami lakukan, maka kesimpulan yang dapat ditarik
adalah:
Dari aspek ergonomis sikap dan posisi tubuh pekerja kurang ergonomis.
Dari aspek pemenuhan gizi pekerja, pekerja diberikan catering untuk makan siang
yang tidak disesuaikan dengan beban kerja, tidak terdapat ruang makan atau kantin.
Untuk pemeriksaan kesehatan sesuai dengan aturan, pemeriksaan kesehatan awal
telah dilakukan pada semua calon tenaga kerja yang meliputi wawancara dan
pemeriksaan fisik, pemeriksaan berkala dilakukan rutin setiap 1 tahun.
Dari aspek program kesehatan, perusahaan belum rutin mengadakan penyuluhan
berkala
Dari aspek pencegahan HIV, AIDS, dan narkoba sudah dilakukan secara optimal
dengan sosialisasi HIV AIDS dan narkoba, fasilitasi VCT, serta pembagian kondom
pada tenaga kerja.
Perusahaan menyediakan kotak P3K hampir di setiap devisi atau bagian produksi.
Ditinjau dari segi personil kesehatan, PT. Jakarta Cakratunggal Steel memiliki dokter
yang melakukan pelayanan kesehatan yang datang tiga kali dalam seminggu.

B. Saran
Dari hasil walkthrough survey yang kami lakukan, maka kami ajukan beberapa saran yaitu :

Melakukan sosialisasi dan pelatihan petugas kesehatan demi kelangsungan program


kesehatan (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif) seperti penyuluhan mengenai
ISPA
Pengadaan Ruang Makan dan penyuluhan gizi kerja bagi tenaga kerja
Penyuluhan tentang penggunaan APD yang baik dan benar, posisi yang ergonomis
dalam melakukan pekerjaan.
Perusahaan seharusnya melaporkan setiap PAK yang terjadi.

Melakukan penyuluhan tentang bagaimana sikap tubuh yang ergonomis dalam


bekerja.
Dibuatkan poster keselamatan kerja disetiap departemen.
25
BAB VII
PENUTUP

Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan dan
keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan perlindungan dan
keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap
pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi kesehatan dan keselamatan kerja tidak
selalu berkaitan dengan masalah fisik pekerja, tetapi juga mental, psikologis dan emosional.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting dalam
ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak berbagai peraturan perundang-undangan
yang dibuat untuk mengatur nmasalah kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak
ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak
faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut
sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi
standar keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja
yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semua pihak. Tidak hanya bagi para pekerja,
tetapi juga pengusaha itu sendiri, masyarakat dan lingkungan sehingga dapat tercapai
peningkatan mutu kehidupan dan produktivitas nasional.

Lampiran

26
27
28
29
30