Anda di halaman 1dari 9

BAB II

SATUAN ACARA PENYUHULUHAN

TANDA-TANDA GANGGUAN JIWA

Pokok Bahasan : Tanda-tanda gangguan jiwa


Sasaran : Pasien dan Keluarga
Tempat : Ruang 23 Psikiatri RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Hari, Tanggal : Rabu, 10 Agustus 2016
Jam : Pukul 10.00-10.45 WIB
Alokasi Waktu : 45 Menit
Pemateri : Mahasiswa PSIK UB Kelompok 20

2.1 Tujuan Intruksional Umum


Setelah mendapatkan penjelasan mengenai tanda dan gejala gangguan jiwa selama
45 menit, pasien dan keluarga ruang 23 psikiatri mengerti dan memahami tentang materi
yang disampaikan.

2.2 Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan penjelasan mengenai tanda dan gejala gangguan jiwa
diharapkan pasien dan keluarga mampu :
a. Mengetahui pengertian gangguan jiwa.
b. Mengetahui tanda dan gejala gangguan jiwa
c. Mengetahui penatalaksanaan gangguan jiwa

2.3 Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian gangguan jiwa.
2. Tanda dan gejala gangguan jiwa
3. Penatalaksanaan ganggun jiwa

2.4 Media
Leaflet, Power Point, LCD
2.5 Metode
Ceramah dan tanya jawab
2.6 Kegiatan Penyuluhan
No. Tahap Kegiatan Penyuluhan Respon Pasien dan Waktu
Keluarga
1 Pembukaan 1. Salam pembuka Menjawab salam 5 Menit
2. Perkenalan Memperhatikan
3. Menyampaikan Memperhatikan
maksud dan tujuan
4. Kontrak waktu Memperhatikan
2 Penyajian 1. Membagikan soal Menyimak dan 30 Menit
Materi pre-test mengerjakan soal
2. Menjelaskan materi Mendengarkan dan
yang akan diberikan : memperhatikan
a. Pengertian
gangguan jiwa
b. Tanda dan
gejala gangguan
jiwa
3 Penutup 1. Evaluasi dengan Menjawab 10 enit
memberikan soal pertanyaan
post-test. Bertanya
2. Memberikan leaflet
3. Menyimpulkan Menerima
materi Memperhatikan
4. Salam penutup Menjawab salam

2.7 Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Materi dan media yang akan dibawakan pada saat penyuluhan telah
dikonsultasikan terlebih dahulu oleh pembimbing klinik dan telah mendapat
persetujuan.
b. Media yang diperlukan untuk penyuluhan sudah tersedia sebelum hari H.
c. Penyuluh telah membuat janji dan menginformasikan waktu pelaksanaan
penyuluhan kepada setiap pihak yang terlibat.
d. Pasien dan keluarga pasien yang di rawat inap di ruang 23 psikiatri RSSA
mengikuti kegiatan penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
Penyuluh :
a. Diharapkan penyuluh mampu menjelaskan materi secara komunikatif dan jelas
b. Diharapkan penyuluh mampu mengajak sasaran untuk memperhatikan dan
mendengarkan penyuluh saat menjelaskan
c. Diharapkan penyuluh mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh
sasaran
Sasaran :
a. Diharapkan sasaran memperhatikan dengan cermat pada saat berlangsungnya
penyuluhan,
b. Diharapkan sasaran aktif bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti saat
dijelaskan
c. Diharapkan sasaran mampu menjawab pertanyaan dari penyuluh.
3. Evaluasi Hasil
a. Pengetahuan sasaran tentang pokok bahasan meningkat dibuktikan dengan
kemampuan sasaran dalam menjawab pertanyaan sebesar 70%.
b. Tingkat partisipasi dan keaktifan sasaran dalam kegiatan tinggi mencapai 70%
BAB III
TINJAUAN TEORI

3.1 Pengertian Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa atau penyakit mental adalah pola psikologis atau perilaku yang pada
umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai
bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan tersebut didefinisikan sebagai
kombinasi afektif, perilaku, komponen kognitif atau persepsi, yang berhubungan dengan
fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem syaraf yang menjalankan fungsi sosial
manusia, kerja dan fisik individu
Gangguan jiwa adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi jiwa.
Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses
berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera)
Gejala-gejala gangguan jiwa merupakan hasil interaksi yang kompleks antara unsur
somatik, psikologik dan sosiobudaya. Gejala-gejala gangguan jiwa menandakan
dekompensasi proses adaptasi terutama pada pemikiran, perasaan dan perilaku.
Konsep gangguan jiwa memenuhi kriteria berikut:
a. Adanya gejala klinis yang bermakna, berupa:
- Sindrom atau pola perilaku
- Sindrom atau pola psikologik
b. Gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan (distress), antara lain dapat berupa
rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tentram, terganggu dan disfungsi organ tubuh.
c. Gejala klinis tersebut menimbulkan disability yaitu keterbatasan atau kekurangan
kemampuan untuk melaksanakan suatu aktivitas pada tingkat personal, yaitu
melakukan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan
diri dan kelangsungan hidup seperti mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri,
buang air besar dan kecil.
Berdasarkan asal penyebabnya, gejala gangguan jiwa dibagi menjadi:
1. Organik
Gejala gangguan jiwa timbul akibat adanya perubahan pada jaringan atau
fungsi otak. Penyebab kelainan organik dapat berasal dari ekstrakranial seperti
racun, infeksi dan lainnya serta berasal dari intrakranial seperti tumor dan
aterosklerosis.
2. Psikogenik
Gejala ditimbulkan karena adanya stres psikis yang tidak dapat ditanggulangi
secara baik oleh mekanisme mental.
Tanda (sign) adalah temuan objektif yang didapat oleh dokter, sedangkan
gejala (symptom) adalah pengalaman subjektif yang digambarkan oleh pasien.
Sebagian besar kondisi psikiatrik adalah sindroma yang merupakan kelompok
tanda dan gejala yang terjadi bersama-sama sebagai suatu kondisi yang dapat
dikenali yang mungkin kurang spesifik dibandingkan gangguan atau penyakit yang
jelas.

3.2 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


Secara internasional, penggolongan gangguan jiwa mengacu pada DSM IV.
DSM IV ini dikembangkan oleh para expert dibidang psikistri di Amerika Serikat. DSM
IV ini telah dipakai secara luas terutama oleh para psikiater dalam menentukan
diagnosa gangguan jiwa. Di Indonesia para ahli kesehatan jiwa menggunakan PPDGJ
3 sebagai acuan dalam menentukan diagnosa gangguan jiwa. Secara umum
gangguan jiwa dapat dibagi kedalam dua kelompok yaitu gangguan jiwa ringan dan
gangguan jiwa berat. Yang termasuk kedalam gangguan jiwa ringan antara lain
cemas, depresi, psikosomatis dan kekerasan sedangkan yang termasuk kedalam
gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, manik depresif dan psikotik lainnya. Menurut
Hawari (2001), tanda dan gejala gangguan jiwa ringan (cemas) adalah sebagai
berikut:
1. Perasan khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri dan mudah
tersinggung
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian, dan banyak orang Gangguan pola tidur,
mimpi-mimpi yang menegangkan
4. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
5. Keluhan-keluhan somatik seperti rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran
berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan,
gangguan perkemihan dan sakit kepala.
Sedangkan tanda dan gejala depresi menurut NIMH USA antara lain:
1. Rasa sedih yang terus-menerus
2. Rasa putus asa dan pesimis
3. Rasa bersalah, tidak berharga dan tidak berdaya
4. Kehilangan minat
5. Energi lemah, menjadi lambat
6. Sulit tidur (insomnia) atau tidur berlebihan (hipersomnia)
7. Sulit makan atau rakus makan (menjadi kurus atau kegemukan)
8. Tidak tenang dan gampang tersinggung
9. Berpikir ingin mati atau bunuh diri
Adapun menurut DSM IV, tanda dan gejala skizofrenia ialah :
1. Gejala positif yaitu sekumpulan gejala perilaku tambahan yang menyimpang dari
perlaku normal seseorang termasuk distorsi persepsi (halusinasi), distorsi isi pikir
(waham), distorsi dalam proses berpikir dan distorsi perilaku dan pengontrolan
diri.
2. Gejala negatif yaitu sekumpulan gejala penyimpangan berupa hilangnya sebagian
fungsi normal dari individu termasuk keterbatasan dalam ekspresi emosi,
keterbatasan dalam produktifitas berpikir, keterbatasan dalam mengekspresikan
emosi, keterbatasan dalam produktivitas berpikir, keterbatasan dalam berbicara,
keterbatasan dalam masuk dan tujuan perilaku.
Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007) adalah sebagai berikut :
1. Ketegangan (tension),
Rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa
(convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-
pikiran buruk.
2. Gangguan kognisi pada persepsi
Merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh membunuh,
melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang di sekitarnya tidak
mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada hanya muncul dari dalam
diri individu sebagai bentuk kecemasan yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering
disebut halusinasi, klien bisa mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan
sesuatu yang sebenarnya tidak ada menurut orang lain.
3. Gangguan kemauan
Klien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah membuat keputusan atau
memulai tingkah laku, susah sekali bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri
sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan.
4. Gangguan emosi
Klien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham kebesaran). Klien merasa
sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno
tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi)
sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.
5. Gangguan psikomotor
Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke atas genting
berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak
disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau
melakukan gerakan aneh. (Yosep, 2007)

3.3 Penatalaksanaan Gangguan Jiwa


Dalam mengatasi gangguan jiwa penatalaksaan bersifat komprehensif yang
terdiri dari beberapa terapi diantaranya :
1. Terapi Psikofarmaka
Terapi psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat yang berkerja secara
selektif pada sistem saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas
mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Obat-obatan
psikofarmaka termasuk :
- Anti psikotik
- Anti depresi
- Anti maniak
- Anti cemas
- Anti insomnia
- Anti obsesif-kompulsif
- Anti panik
2. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini
diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari perilaku yang maladaptif
menjadi perilaku adaptif. Jenis-jenis terapi modalitas antara lain :
- Aktifitas kelompok
Tujuan terapi kelompok ini adalah meningkatkan kesadaran diri klien,
meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku menjadi
perilaku adaptif.
- Terapi keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota
keluarga sebagai unit penanganan. Tujuannya agar keluarga mampu
melaksanakan fungsinya.
- Terapi perilaku
Dasar dari terapi ini adalah anggapan bahwa perilaku timbul akibat proses
pembelajaran. Pada terapi ini perawat sebagai role model memberikan
contoh melalui praktek dan klien menirukan perilaku tersebut. Teknik ini
biasanya dikombinasikan dengan kondisioning operan yaitu memberikan
umpan balik posotif terhadap hal baik yang sudah dilakukan klien .
- Terapi lingkungan
Terapi lingkungan adalah berupa terapi dengan menata lingkungan agar
terjadi perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptif menjadi perilaku
adaptif. Klien dipaparkan pada peraturan-peraturan yang harus ditaati,
harapan lingkungan, tekanan teman, dan belajar bagaimana berinteraksi
dengan orang lain. Klien juga didorong untuk melakukan komunikasi dan
pembuatan keputusan, meningkatkan harga diri, belajar keterampilan dan
perilaku yang baru.
3. Terapi Somatic
Terapi somatis adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan
jiwa dengan tujuan mengubah perilaku dari perilaku maladaptif menjadi perilaku
adaptif dengan melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien.
Walaupun terapi yang diberikan berupa perlakuan fisik namun target yang
diharapkan adalah perilaku klien. Terapi somatis meliputi :
- Pengikatan
Prinsip dari tindakan restrain ini adalah melindungi klien dari cedera fisik dan
memberikan lingkungan yang nyaman. Adapun indikasi tindakan restrain
adalah jika pasien beresiko melakukan perilaku kekerasan yang
membahayakan diri sendiri dan lingkungannya, perilaku agitasi atau gelisah
yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, klien yang mengalami
gangguan kesadaran, klien yang mengalami ancaman terhadap integritas
tubuh berubungan dengan penolakan klien untuk istirahat, makan, dan
minum.
- ECT (Elektro Convulsive Therapy/ Terapi Kejang Listrik)
- Isolasi
Tujuan dari isolasi adalah untuk melindungi klien, orang lain, dan lingkungan
dari bahaya potensial yang mungkin terjadi dan untuk menurunkan stimulus
lingkungan
- Fototerapi
- Terapi deprivasi tidur
Daftar Pustaka

Erlina, Soewadi dan Pramono, D (2010). Determinan terhadap timbulnya skizofrenia pada
pasien rawat jalan di rumah sakit jiwa H.B Saanin, Padang Sumbar. Jurnal berita
kedokteran masyarakat. 26(2): 63 - 70
Frances, A., First, M.B., & Pincus, H.A. (2002). DSM-IV-TR. Handbook of Differential
Diagnois. USA: American Psychiatric Press
Frisch N., & Frisch A. (2011). Psychiatric mental health nursing. 4 ed. Australia: Delmar
CENGAGE learning.Hawari, Dadang.2001. Manajemen Strees, Cemas, dan Depresi.
Jakarta : Gaya Baru.
Hunter, Eickhoff, Pheasant, Douglas, Watts , et al. (2010) The state of tranquility: Subjective
perception is shaped by contextual modulation of auditory connectivity. Neuro Image
53: 611618.
Hardy, A., Fowler, D., Freeman, D., Smith, B., Steel, S., Evans, J., Garety, Dunn, G.
(2005). Trauma and Hallucinatory Experience in Psychosis. Journal of Nervous &
Mental Disease, 193, 501507.
Worasih, 2012. Penatalaksanaan Gangguan Jiwa. RSJ dr. Amino GH