Anda di halaman 1dari 23
Agama Prodi Keperawatan Universitas Udayana

Agama

Prodi Keperawatan Universitas Udayana

Agama Prodi Keperawatan Universitas Udayana
1. Pemahaman Tentang Konsep Sakit dan Penyakit Menurut Agama

1. Pemahaman Tentang Konsep Sakit dan Penyakit Menurut Agama

1. Pemahaman Tentang Konsep Sakit dan Penyakit Menurut Agama
Johari Window : I know what I don’t know I know what I know I

Johari Window :

I know what I don’t know I know what I know I don’t know what
I
know what I don’t
know
I
know what I know
I
don’t know what I
don’t know
I
don’t know what I
know

Seiring perkembangan peradaban manusia, alat dibidang medis terus mengalami perkembangan. Penyakit yang dahulu dipikir oleh manusia sebagai hal yang mistis dan magis, mulai mengalami titik terang dengan ditemukan alat kedokteran yang mampu membuktikan sumber penyakit secara medis.

yang mampu membuktikan sumber penyakit secara medis.    Pada jaman primitive, Penyakit sering kali

 Pada jaman primitive, Penyakit sering kali dikaitkan dengan gejala- gejala spiritual. Penyakit tersebut diangggap sebagai gangguan roh jahat atau penyakit akibat magis dan hal mistis lainnya.

 Sebaliknya pada jaman modern penyakit didiagnose berdasarkan gejala-gejala biologis dan dibantu dengan perkembangan teknologi di bidang kedokteran.

 Disela-sela perkembangan ilmu kedokteran tersebut psikolog dan agamawan mencoba melihat sakit/ penyakit dari sudut pandang yang berbeda yaitu penyakit “Mental/pikiran”. Kemudian muncullah “Psikoanalisis”. (Abad pertengahan Greja).

 Pada awal abad ke 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa ada hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia.

 Yang dimaksud adalah manusia dapat menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (Somapsikotis).

 

 Atau sebaliknya ganguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (Psikosomatik).

 Penyakit mental (Mental illnes) ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyembuhan medis (Mc. Guire, 1981:251). Berbagai penyembuhan penderita penyakit mental dengan menggunakan pendekatan agama yang terdapat dalam psikologi agama, yaitu mempelajari Jiwa keagamaan pada manusia.

“Konsep sakit dalam beragama merupakan sakit dari pikiran/ mental/ sakit dalam kejiwaan dalam beragama.”

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak , Remaja, Orang Dewasa , dan Usia Lanjut.

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak, Remaja, Orang Dewasa, dan Usia Lanjut.

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak , Remaja, Orang Dewasa , dan Usia Lanjut.

Ahli Ilmu Jiwa berpendapat bahwa keinginan manusia tidak hanya sebatas kenginan makan, minum, pakaian, atau kenikmatan-kenikmatan lainnya. Berdasarkan riset dan observasi pada diri manusia terdapat suatu keinginan yang universal, yaitu keinginan “mencintai dan dicintai Tuhan”.

yaitu keinginan “mencintai dan dicintai Tuhan” . “Apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasari

“Apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasari timbulnya keinginan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan?” Atau dengan kata lain,

“Apakah yang menjadi sumber kejiwaan agama itu?”

1. Teori Monistik : Berpendapat bahwa adanya satu sumber kejiwaan Agama, satu sumber kejiwaan tersebut menurut ahli psikolog berupa:

 Thomas van Aquino

menurut ahli psikolog berupa :    Thomas van Aquino Menurut Aquino, yang menjadi sumber kejiwaan

Menurut Aquino, yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah “Berpikir”. Manusia ber-Tuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.

 Fedrick Hegel

Agama semta-mata hal-hal/ persoalan yang berhubungan dengan pikiran. Agama merupakan salah satu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat keberadaan abadi.

 Fredrick Schleimacher

Menurut Schleimacher agama bersumber pada rasa ketergantungan yang mutlak. Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasa dirinya lemah. Kelemahan ini menyebabkan manusia selalu bergantung pada kekuatan/ kekuasaan diluar pada dirinya, rasa inilah yang menimbulkan konsep tentang Tuhan.

 Rudolf Otto

Sumber kejiwaan ini adalah “Rasa kagum yng berasal dari the Wholly Other” (yang sama sekali lain) yang disebut dengan istilah “Nominous”.

 Sigmund Freud

Menurut Freud yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah Libido Sexuil (Naluri Seksual).

kejiwaan agama adalah Libido Sexuil (Naluri Seksual). Hal ini diteliti oleh Freud berdasarkan proses: 1. Oedipos

Hal ini diteliti oleh Freud berdasarkan proses:

1. Oedipos Complex = Karena kecintaan terhadap ibunya, Oedipos membunuh ayahnya. Dan setelah membunuh ayahnya muncul rasa bersalah.

2. Father Image / citra ayah= setelah membunuh ayahnya timbul rasa penyesalan, dan penyesalan itu menimbulkan ide berupa cara untuk menebus kesalahan dengan cara memuja arwah, realitas pemujaan itulah sebagai asal dari upacara keagamaan. Jadi menurut freud agama muncul dari ilusi/ khayalan manusia.

 William Mac Dougall

Sumber kejiwaan agama muncul dari kumpulan beberapa insting.

2. Teori Falkuti

Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah : Fungsi cipta (Reason), rasa (Emotion), dan karsa (Will). Demikian juga perbuatan manusia yang bersifat keagamaan juga ditentukan dan dipengaruhi oleh tiga fungsi tersebut.

ditentukan dan dipengaruhi oleh tiga fungsi tersebut . a.   Cipta (Reason) : Fungsi intelektual jiwa

a.

Cipta (Reason) : Fungsi intelektual jiwa manusia. Melalui cipta, seseorang dapat menilai, membandingkan, dan memutuskan tindakan terhadap stimulan tertentu.

b.

Rasa (Emition) : Suatu energi dalam kejiwaan manusia yang banyak membentuk motivasi dalam bertingkahlaku. Betapapun pentingnya reason, namun jika digunakan berlebihan maka akan menyebabkan ajaran agama itu menjadi dingin.

c.

Karsa (Will) : karsa merupakan suatu pendorong untuk melaksanakan doktrin atau ajaran keagamaan. Will juga tidak boleh diterapkan berlebih, karena akan mengakibatkan tindak keagamaan yang over.

Jadi kesimpulannya yang menjadi sumber jiwa keagamaan yaitu :    Cipta : berperan untuk

Jadi kesimpulannya yang menjadi sumber jiwa keagamaan yaitu :

 Cipta : berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.

 Rasa : menimbulkan sikap bathin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.

 Karsa : menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.

   “Merawat pasien yang sakit secara agama/ sakit oleh pikiran / sakit dalam kejiwaan

 “Merawat pasien yang sakit secara agama/ sakit oleh pikiran/ sakit dalam kejiwaan, hendaknya diketahui terlebih dahulu bagaimana kondisi jiwa keagamaan pada pasien berdasarkan usianya, agar perawat bisa menentukan sikap dalam proses perawatan”.

 Walaupun pada realitasnya pasien tidak mengalami sakit secara agama/ pikiran/ kejiwaan/ mental, namun hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh perawat untuk menumbuhkembangkan kepercayadirian pasien untuk ingin sembuh.

 Jiwa Keagamaan Pada Anak-Anak

Menurut penelitian Ernest Harms ada tiga fase perkembangan jiwa agama pada anak :

Tingkat Dongeng : Tingkatan ini dimulai dari usia 3-6 tahun, pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih dipengaruhi fantasi dan emosi.

Tingkat Kenyataan : tingkatan ini dimulai dari anak masuk ke sekolah dasar hingga ke masa usia/ adolesense. Pada masa ini ide ke- Tuhanan anak-anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kenyataan / realitas. Perhatian anak-anak mulai menyenangi keagamaan secara lebih formal/ yang dikelola oleh orang dewasa ataupun kelembagaan.

Tingkat Individu : konsep beragama yang individualistis. Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep tingkatan beragama individualistis ini dibagi menjadi tiga fase; (1) Konsep ke- Tuhanan yang konvensional/ kesepakatan, (2) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni (Personal), (3) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik.

3.

2.

1.

(2) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni (Personal), (3) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. 3. 2. 1.



Masa remaja, manusia telah mengalami proses perkembangan/ progress secara jasmani dan rohani, begitu pula dengan perkembangan jiwa keagamaannya. Fase ini ditandai dengan :

1.

Jiwa Keagamaan pada Remaja

ini ditandai dengan : 1.   Jiwa Keagamaan pada Remaja Pertumbuhan pikiran dan mental – remaja

Pertumbuhan pikiran dan mental – remaja mulai meraguan dasar keyakinan beragama yag diperoleh dari anak-anak.

2.

Perkembangan perasaan perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa di lingkungannya.

3.

Pertimbangan sosial – jiwa keagamaan remaja dalam hal ini akan mengalami konflik dalam diri mereka, karena memilih antara moral dan materi, mengingat dalam kehidupan duniawi dipengaruhi oleh kepentingan materi.

4.

Perkembangan moral – perkembangan moral pada remaja bertitik tolak pada rasa berdosa.

5.

Sikap dan minat – sikap dan minat keagamaan pada remaja sangat kecil dan hal ini juga ditentukan dari pengaruh beragama saat masa kecil dan lingkungan mereka.

6.

Ibadah – adanya pandangan pada remaja bahwa sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi denga Tuhan, dan sembahyang itu penting hanya sebagai sarana bermeditasi.



Jiwa keagamaan pada Orang Dewasa

Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.

Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkahlaku.

1.

bersifat realis , sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkahlaku. 1.   2.

2.

3.

Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman agama.

4.

Tingkat ketaan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri.

5.

Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.

6.

Menggunakan kritis berpikir terhadap nilai agama (menggunakan pikiran dan hati nurani).

7.

Memiliki kepribadian masing-masing dalam beragama.

 Jiwa Keagamaan pada usia Lanjut

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.

pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan . Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat

Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.

Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.

Sikap keagamaan mengarah pada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.

Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjut.

Perasaan takut terhadap kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dn kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (Akhirat).

Tipe sikap dan perilaku keagamaan

Tipe sikap dan perilaku keagamaan William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience , menilai

William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience, menilai secara garis besar sikap dan perilaku keagamaan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :

 Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)

Mereka ini meyakini suatu agama dikarenakan adanya penderitaan batin sebelumnya, salah satunya karena musibah.

 Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)

Mereka yang memiliki tipe sehat jiwa akan cenderung memiliki kepribadian yang optimis dan gembira, ekstrovert dan tak mendalam, dan menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal.

Mistisme

Mistisme  Suatu cara yang menggunakan kekuatan yang diduga ada di alam gaib , yaitu yang



Suatu cara yang menggunakan kekuatan yang diduga ada di alam gaib, yaitu yang tidak dapat diamati secara rasio dan indera manusia. (Hitam, Merah, Kuning, Putih).

Ilmu Gaib



Magis

Suatu tindakan yang beranggapan bahwa magis berlaku pada kehidupan duniawi dengan tidak memperlihatkan sebab akibat.



Normal dan abnormal

Gejala Jiwa

Abnormal; jiwa Supranormal, Jiwa Paranormal, Jiwa Abnormal.

Orang yang tidak merasa tenang , aman , serta tentram dalam hatinya adalah orang yang

Orang yang tidak merasa tenang, aman, serta tentram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohani atau mentalnya (H.Carl Whithe-rington).

Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit (Simpati , Empati , Penguatan)

Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit (Simpati, Empati, Penguatan)

Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit (Simpati , Empati , Penguatan)
   Seperti yang kita tahu bahwa sakit dalam agama adalah sakit yang diakibatkan oleh

 Seperti yang kita tahu bahwa sakit dalam agama adalah sakit yang diakibatkan oleh cara berpikir manusia/ sakit pikiran/ sakit mental/ kejiwaan.

 Penyakit mental (Mental illnes) ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyembuhan medis (Mc. Guire, 1981:251). Berbagai penyembuhan penderita penyakit mental dengan menggunakan pendekatan agama yang terdapat dalam psikologi agama, yaitu mempelajari Jiwa keagamaan pada manusia.

Menyikapi hal tersebut maka dapat dimanajemen untuk menghadapi respon sakit dan penyakit dalam agamawan yaitu :

Mempelajari jiwa keagamaan manusia; baik anak-anak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut, sehingga perawat bisa menentukan sikap dalam melakukan cara pendekatan perawatan yang efektif. Adapun pendekatan kejiwaan tersebut diantaranya:

A. Simpati ; salah satu proses kejiwaan yang pada intinya adalah “Adanya

keinginan untuk memahami pihak lain/ dalam kaitannya dengan hal ini yaitu “Pasien”.

B. Empati ; jika pada proses simpati hanya adanya keinginan untuk

memahami pasien, dalam Empati perawat turut merasakan emosional orang

lain (Pasien).

C. Penguatan ; dipandang sebagai pemberian sumber kebijakan,

pengetahuan, dan keberanian bagi penerima (Pasien), termasuk memberi suatu pengetahuan tentang ke-Tuhanan/ Agama yang tertuang dalam kitab suci tertentu dan dalam konteks terkait yang dideritanya (Pasien), serta memberi motivasi-motivasi yang membangkitkan rasa keberanian pasien.

1.

terkait yang dideritanya (Pasien ), serta memberi motivasi-motivasi yang membangkitkan rasa keberanian pasien. 1.