Anda di halaman 1dari 9

METANA, Vol. 10 No. 01, Juli 2014, Hal.

25-33

FUNGSI KURVA BONJEAN PADA


PELUNCURAN KAPAL SECARA END LAUNCHING

Indro Dwi Cahyo


PSD III Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Abstract

To build a ship in "Building Berth" has been completed and then proceed with the launch of the
ship. Before the launch of the ship is quite ready, it is better to calculate the ship program launches etc.
Launched ship calculations using "Bonjean Curve". Using bonjean curve can calculate the volume of
displacement with several designs, they are in equilibrium vessel trim condition. So as to anticipate some of
the problems in the slipway.

Keywords : Launching and Bonjean Curves

Abstrak

Membangun sebuah kapal di Building Berthjika sudah selesai dan dilakukan proses peluncuran
kapal. Sebelum kapal siap diluncurkan,dilakukan perhitunganpeluncuran kapal dll. Perhitungan peluncuran
kapal dengan menggunakan Bonjean Curve. Penggunaan kurva bonjean utuk menghitung volume
displacement dengan beberapa desain, kondisi ini kapal berada pada keseimbangan stabil. Untuk
mengantisipasi permasalahan yang timbul pada slipway.

Kata kunci : Launching dan Bonjean Curves

PENDAHULUAN 3. Fabrikasi : identifikasi material,


Galangan kapal (shipyard) pada marking, cutting, forming, fitting
umumnya adalah suatu tempat yang berada fabrication, dan welding fabrication.
dipinggir laut/sungai, yang dirancang kusus 4. Assembly : fitting assembly,
untuk melakukan proses pembangunan kapal persiapan pengelasan, welding check,
(new building), perbaikan kapal (ship repair) deformasi, ketepatan ukuran, block
dan pemeliharaan (maintenance). blasting, dan pengecatan.
Didalam galangan itu sendiri terdapat suatu 5. Erection : loading, adjusting, fitting,
tempat yang dinamakan landasan welding, dan finishing.
pembangunan kapal (building berth) yang 6. Peluncuran Kapal (launching) : end
fungsinya untuk membangun kapal baru dan launching, side launching.
sekaligus untuk tempat meluncurkan kapal. 7. Penyerahan (delivery).
Dalam pembuatan kapal baru, perusahaan Pembangunan kapal baru dimulai dari
galangan kapal biasanya merencanakan permulaan pekerjaan sampai dengan
waktu, diantaranya : penyerahan.
1. Persiapan Produksi (pre factory) Waktu yang diperlukan di atas building berth
yang meliputi : dokumen produksi, dan kemajuan teknis dalam pembangunan
tenaga kerja, material, fasilitas, dan harus direncanakan dan diadakan
sarana produksi. pemeriksaan kemajuan pekerjaan setiap
2. Mould Loft : pembuatan gambar bulan. Dalam tulisan ini hanya membahas
produksi dengan ukuran sebenarnya. perhitungan peluncuran secara memanjang

25
FUNGSI KURVA BONJEAN . (Indro Dwi Cahyo)
kapal (end launching) dan fungsi kurva memanjang, buritan kapal selalu diarahkan
bonjean pada peluncuran kapal secara end ke air sehingga buritan akan terkena air lebih
launching. dahulu, hal ini supaya:
1. Linggi buritan tidak terbentur pada
PEMBAHASAN landasan
Peluncuran kapal adalah 2. Pada waktu kapal menyentuh air dapat
menurunkan kapal dari landasan peluncur ke mengurangi kecepatan peluncuran
air yang disebabkan oleh gaya berat kapal Langkah awal dari perhitungan peluncuran
pada bidang miring. Tahap-tahap yang adalah menghitung berat dan letak titik berat
dilakukan dalam peluncuran kapal adalah kapal yang akan diluncurkan, karena kapal
sebagai berikut : pada saat diluncurkan dalam keadaan belum
1. Perhitungan Peluncuran selesai, maka beratnya kurang dari berat
2. Perencanaan Perlengkapan Peluncuran kapal setelah selesai. Tapi yang paling tepat
3. Pemasangan Perlengkapan Peluncuran ialah menghitung komponen-komponen berat
4. Pemindahan badan kapal dari keel block satu per satu dan dengan memakai rumus
ke peluncur momen kita dapat menghitung letak titik
5. Pemindahan badan kapal dari tumpuan berat kapal pada saat diluncurkan. Berat
peluncuran ke peluncur ballast dan berat orang-orang di kapal yang
6. Pelaksanaan Peluncuran disertakan saat peluncuran, berat peralatan
Untuk meluncurkan kapal, kapal dilengkapi peluncuran harus diperhitungkan dalam berat
dengan alat peluncur yaitu jalan peluncur peluncuran. Kemudian menentukan letak titik
(launching ways) dan sepatu peluncur berat kapal secara memanjang G dan letak
(sliding ways), dimana pada saat peluncurann titik berat kapal secara meninggi KG.
sepatu peluncur yang dipasang pada kapal Mengingat bahwa perhitungan peluncuran
akan meluncur diatas jalan peluncur. Pada dilaksanakan beberapa langkah, untuk dapat
umumnya kapal diluncurkan dengan cara menghitung volume displacement pada
peluncuran memanjang sedang peluncuran bermacam-macam keadaan sarat air dan
melintang hanya digunakan bila keadaan perhitungan letak titik tekan memanjang B
memaksa yaitu bila permukaan air di depan serta perhitungan lainnya maka diperlukan
landasan sempit misalnya di sungai, terusan gambar kurva bonjean (bonjean curves).
dan sebagainya. Untuk peluncuran

Gambar 1. Bonjean Curves

26
METANA, Vol. 10 No. 01, Juli 2014, Hal. 25-33
PEMBUATAN KURVA BONJEAN mendapatkan gambar yang betul, ujung-
Kurva bonjean adalah lengkungan ujung lengkung bonjean pada garis geladak
yang menunjukkan luas station sebagai ditepi kapal dapat dikoreksi dengan menarik
fungsi dari sarat, karena lengkung bonjean garis selaras. Bentuk lengkung bonjean
adalah lengkung luas dari station atau luas mempunyai keuntungan karena untuk
bidang gading, maka bentuk lengkungan bermacam-macam garis air kapal dalam
sangat tergantung dari bentuk gading-gading. keadaan even keel maupun trim, kita dengan
Lengkung ini diperkenalkan pertama kali mudah dapat menggambar garis air. Dari
oleh sarjana Perancis pada abad ke sembilan garis air tersebut kita dapat menentukan luas
belas. Pembuatan lengkung bonjean yang tiap-tiap station yang masuk dalam air.
paling umum adalah potongan memanjang Untuk menghitung volume displacement V
dari kapal. Untuk ini mula-mula kita dan titik tekan memanjang B, kalau sarat
gambarkan garis dasar, linggi haluan dan depan dan sarat belakang diketahui, maka
linggi buritan kapal, garis geladak ditepi mula-mula kita ukurkan sarat depan di FP
kapal, letak station dan garis air. Pada tiap dan sarat belakang AP. Garis air kapal dalam
station kita gambarkan lengkung bonjean keadaan trim kita tarik sehingga memotong
(luas tiap station). Gambar ini dilengkapi station AP, 1, 2,, FP
dengan skala sarat di AP dan FP, untuk

Garis Air

Garis Air

Gambar 2 Lengkung Bonjean Dalam Keadaan Kapal Mengalami Trim

Dari tiap-tiap titik potong station dengan tiap-tiap station ini yang kita perlukan untuk
garis air kita tarik garis mendatar memotong menghitung volume displacement dan letak
lengkung bonjean. titik tekan memanjang B. Untuk itu kita
Harga luas dari tiap station dapat dibaca pada gunakan tabel perhitungan displacement
garis horisontal, sehingga luas tiap-tiap dibawah ini :
station yang masuk kedalam air dapat
diketahui yaitu AAP, A1, A2,AFP. Harga luas

27
FUNGSI KURVA BONJEAN . (Indro Dwi Cahyo)

Tabel 1. Luas Station

No I II I x II III I x II x III
Station Luas Station Faktor Luas Hasil Faktor Hasil
2
(m ) Momen
AP AAP a0 AAP.a0 20 AAP.a0.20
1 A1 a1 A1.a1 19 A1.a1.19
2 A2 a2 A2.a2 18 A2.a2.18
3 A3 a3 A3.a3 17 A3.a3.17
. . . . . .
. . . . . .
. . . . . .
FP AFP a20 AFP.a20 0 AFP.a20.0
1 2

Volume displacement V diperbesar, kemungkinan terjadinya tipping


= k.h.1 m3 diperkecil, tetapi kemungkinan tekanan pada
Letak titik tekan memanjang B landasan pada saat stern lift diperbesar. Pada
gambar menunjukkan berat kapal yang akan
= m
diluncurkan termasuk berat peluncuran, sudut
Letak titik berat secara memanjang G adalah sudut kemiringan landasan.
adalah penting karena berhubungan dengan Komponen berat W dapat diuraikan menjadi
perhitungan tipping, stern lift, trim dari gaya F1 = W sin yang sejajar dengan
kapal. Sedang letak titik berat meninggi KG landasan dan gaya F2 = W cos yang tegak
adalah penting untuk perhitungan stabilitas lurus landasan.
pada saat kapal selesai diluncurkan. Kadang- Tahanan gesek bahan pelumas :
kadang ballast padat maupun cair digunakan
untuk mengatur letak titik berat kapal F3 = f x F2
sehingga dapat menghindari terjadinya F3 = f x W cos , dimana f adalah
tipping dan mendapat stabilitas yang baik. koefisien gesekan dari bahan
Langkah-langkah perhitungan peluncuran pelumas, agar supaya kapal dapat
menurut DR. Ir. WPA Van Lamerent untuk bergerak maka :
perhitungan peluncuran memanjang dibagi 3 F1 > F3
periode : W sin > fW cos
PERIODE I :
>f
Dimulai pada saat kapal dilepaskan dan
berakhir pada saat kapal menyinggung Tg > f
permukaan air. Faktor penting pada
perhitungan peluncuran adalah sudut Atau dapat juga dikatakan bahwa untuk sudut
kemiringan landasan dan tinggi pasang surut yang kecil, sin 0 dan cos 1 sehingga
air. Jika sudut landasan diperkecil, dapat ditulis > f.
kemungkinan terjadinya tipping diperbesar, Dengan kata lain supaya kapal dapat
tetapi kemungkinan terjadinya tekanan pada bergerak dengan sendirinya, maka besar
saat stern lift diperkecil. Jila sudut landasan sudut landasan harus lebih besar dari

28
METANA, Vol. 11 No. 1, Juli 2014, Hal. 25-33
koefisien gesek dari bahan pelumas. Jika sebesar : FD = W (f ), dimana W = berat
syarat ini tidak dipenuhi, untuk peluncuran.
menggerakkan kapal perlu gaya dorong

Gambar 3. Periode I

Pembebanan yang diterima landasan pada PERIODE II :


periode I berbentuk trapesium dengan
panjang s dengan sisi sisi sejajar qd dan qb. Dimulai pada akhir periode I dan berakhir
Hal ini diasumsikan jika panjang peluncur (s) pada waktu kapal mulai mengapung. Pada
dan lebarnya (b), maka selama periode I pada periode II, dianggap permukaan air tetap rata,
landasan akan timbul tekanan rata-rata. karena sudut kecil maka cos = 1. Pada
gambar 4 terlihat bahwa kapal berada pada
d = (ton/m2) kedudukan dimana titik berat G telah
melewati ujung dari landasan. Sebagian dari
Harga d diperkirakan : sepatu peluncur sepanjang S masih berada
pada landasan dan karena itu terjadi gaya
Tabel 2. Harga d reaksi Q. bila W berat peluncuran dan D
adalah displacement, maka Q = W - D. Bila
Lpp (m) d (ton/m2) jarak W.D dan Q ke ujung landasan masing-
masing a.b dan x maka momen terhadap
50 15
ujung landasan :
100 20
Db Wa Q . x = 0 atau x =
150 25

200 30 x=

250 35 Bila harga x negatip, maka gaya reaksi Q


tidak akan timbul atau titik B jatuh diluar
landasan. Dalam keadaan ini kapal akan
Pembebanan rata-rata yang bekerja pada terjungkir/tipping. Untuk menghindari maka
landasan untuk tiap meter adalah : harus dijaga agar x > 0. Karena W > D atau
dengan syarat lain Db Wa > 0, harga Db
q = b. d Wa disebut momen anti tipping.

29
FUNGSI KURVA BONJEAN . (Indro Dwi Cahyo)
Tipping ini terjadi jika titik berat G melewati Persamaan gerak pada periode II adalah
ujung landasan. Untuk menghindari tipping sama dengan periode I ditambah tahanan air
dengan jalan memperbesar momen anti terhadap gerakan kapal dan daya apung.
tipping :
1. Menempatkan ballast pada linggi haluan Pada periode II setelah peluncur melewati
2. Memperpanjang landasan yang tercelup air ujung landasan, maka panjang sepatu luncur
3. Menunggu air pasang (S) akan berubah menjadi (S) dan pada
4. Memperbesar sudut kemiringan tg akhirnya menjadi 0, dan harga x antara 1/3 S
5. Memperbesar harga displacement < x < 2/3 S, maka bidang bebannya berupa
trapesium sepanjang S dengan sisi-sisi
Pada akhir periode II kapal akan mulai sejajar qd dan qb.
mengapung (bila titik pusat gaya Q (titik B)
mencapai ujung peluncur bagian depan bila x - Jika x = S, maka qb = qd =q, bidang
= S). Jadi stern lift terjadi jika Dd Wc = beban empat berbentuk persegi panjang
0, gaya reaksi sebesar Q = W - D ini - Jika x = 1/3 S atau 2/3 S, bidang beban
merupakan sebuah gaya yang besar sekali berbentuk segitiga siku-siku
dan berpusat pada titik B.

Gambar 4. Periode II

Gambar 5. Kapal Mengalami Stern Lift

30
METANA, Vol. 10 No. 01, Juli 2014, Hal. 25-33
Pada perhitungan periode II yang perlu setiap 1 langkah terdiri 2 station. Setelah
dihitung adalah displacement, letak LCB menentukan jarak ujung belakang sepatu
untuk mengetahui kapan kapal mengalami luncur ke Ap (h) dan sarat belakang (tb),
stern lift. Untuk menentukan harga ukur absis luas masing-masing garis station
displacement, digunakan gambar bonjean yang berpotongan dengan garis sarat
curve yang dibagi dalam 10 langkah, yang belakang (tb).

Gambar 6. Mengukur Absis

Selanjutnya masukkan harga absis yang fungsi luas dan fungsi momennya.Untuk
sudah diukur pada masing-masing station contoh perhitungan pada langkah 10.
seperti pada tabel, dan selanjutnya hitung

Tabel 3. Langkah 10

31
FUNGSI KURVA BONJEAN . (Indro Dwi Cahyo)
Selanjutnya hitung displacement dan LCB menyinggung lingkaran B, selanjutnya hitung
pada langkah 10 pemindahan air dan letak titik berat, sehingga
Volume displacement (V )= k.h.1 m3 akan didapat 3 macam harga dari gaya apung
D beserta momen statis Dd terhadap
Letak titik tekan memanjang landasan bagian depan.
Hasil ini selanjutnya sebagai absis dari
ordinat tb1, tb2 dan tb3.
(B) = m
Karena harga dari berat peluncuran W dan
momen statis Wc tetap, maka dengan skala
PERIODE III yang sama, ini dikembangkan dan dalam
Dimulai pada akhir periode II dan grafik merupakan garis-garis tegak. Karena
berakhir pada waktu kapal meninggalkan
selama mengapung berlaku Dd = Wc,
ujung landasan. Selama periode III kapal
sehingga titik potong antara lengkung Dd
masih meluncur dan menggunakan ujung
dan garis tegak Wc merupakan sarat buritan
depan peluncur sebagai sumbu putar. Untuk
pada saat itu. Dari diagram ini
menentukan garis muat setelah mencapai
suatu jarak terlihat pada Gambar.7. selanjutnya ditentukan gaya D dan gaya
Dengan memakai titik B sebagai reaksi Q = W - D terhadap ujung depan
pusatnya, buat jari-jari yang sesuai dengan peluncur. Jikalau ujung peluncur telah
tinggi permukaan air. Kemudian pada garis melampui ujung landasan maka berakhirlah
tegak belakang tentu kan tb1, tb2 dan tb3. Dari periode III, dan haluan kapal seolah-olah
ketiga sarat ini tarik garis-garis yang akan jatuh kedalam air.

Gambar 7. Periode III

32
METANA, Vol. 10 No. 01, Juli 2014, Hal. 25-33
KESIMPULAN Harvald,1983, Resistance and Propulsion of
Ship, A Wiley-Interscience
Sebelum pelaksanaan peluncuran harus Publication.
dilakukan tahapan-tahapan :
Vladimir Semyonof-Tyan-Shansky, 2004,
1. Perhitungan peluncuran Statics and Dynamics of the Ship,
2. Perencanaan perlengkapan peluncuran University Press of the Pacific,
3. Pemasangan perlengkapan peluncuran United States.W.P.A.
4. Pemindahan badan kapal dari keel block
ke balok-balok peluncuran Van Lammeren, 1984, Resistance,
5. Pemindahan badan kapal dari tumpuan Propulsion and Steering of Ship, the
peluncuran ke balok peluncur Technical Publishing Company H.
6. Pelaksanaan peluncuran Stam-Haarlem, Holland.

Lengkung bonjean sangat diperlukan


untuk menghitung displacement (D), agar
letak titik tekan memanjang B dapat
diketahui yang sesuai sarat dan kemiringan
landasan peluncur, misalnya jarak garis kerja
gaya tekanan keatas D ke ujung landasan,
jarak garis kerja gaya tekanan ke atas ke
ujung depan sepatu peluncur pada kedudukan
yang diminta. Sehingga dalam pelaksanaan
peluncuran dapat diketahui kemungkinan
terjelek yang akan terjadi dan cara
mengatasinya.

DAFTAR PUSTAKA

F.H. Todd, 1977, Principles of Naval


Architecture, Vol. II, Chapter VI,
Published by The Society of Naval

Holtrop and G.G.J. Mennen, 1982, An


Approximate Power Prediction
Method, Presented at the
International Shipbuilding
Progress.Architecture and Marine
Engineers, New York.J.

Ir. Moch Bakri, Ir. Gusti Made Santoso, Ir.


Yoswan Yusuf Sudjono, 1983, Teori
Bangunan Kapal 3, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar
dan Menengah.

Robert Taggart, 1980, Ship Design and


Construction, The Society of Naval
Architects and Marine Engineers,
One World Trade Center, Suite 1369,
New York.S.A.

33