Anda di halaman 1dari 27

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ada beberapa kelainan bawaan diantaranya adalah labioskizis,
labiopalatoskizis, atresia esofagus, atersia rekti dan ani, obstruksi biliaris,
omfalokel, hernia diafragmatika, atresia duodeni, meningokel, ensefalokel,
hidrosefalus, fimosis, dan hipospadia. Salah satu kelainan bawaan yang
akan di jelaskan lebih jauh disini adalah labioskizis dan labiopalatoskizis.
Labioskizis dan Labiopalatoskizis Merupakan deformitas daerah
mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang
sempurna semasa embrional berkembang, bibir atas bagian kanan dan
bagian kiri tidak tumbuhbersatu. Belahnya belahan dapat sangat bervariasi,
mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung,
bibir, alveolus dan palatum durum serta molle. Suatu klasifikasi berguna
membagi struktur-struktur yang terkena menjadi :Palatum primer meliputi
bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum durum dibelahan
foramenincisivumPalatum sekunder meliputi palatum durum dan molle
posterior terhadap foramen.Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau
keduanya, palatum primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau
bilateral.Kadang-kadang terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus
ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot
palatum.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1. Tujuan Umum
a) Untuk memenuhi tugas Mata Ajar Keperawatan Kesehatan Anak
b) Diperoleh pengalaman dalam membuat Asuhan Keperawatan Anak
dengan Labioskizis

1
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada anak dengan Labioskizis.
b. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien anak dengan
Labioskizis.
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada anak dengan
Labioskizis.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien anak dengan
Labioskizis.
e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada anak dengan
Labioskizis.

C. Manfaat Penulisan

1. Mengetahui penyebab dan proses perjalanan penyakit labioskizis


2. Mampu membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan labioskizis

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Labioskizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya
kelainan bentuk pada struktur wajah. Celah bibir atau labioskizis yaitu suatu
fisura atau lubang pada yang dapat terjadi secara tunggal atau secara
kombinasi, disebabkan oleh kegagalan jaringan lunak atau jaringan tulang
palatum dan rahang atas menyatu selama minggu kelima sampai minggu ke-
12 gestasi. Defek tersebut umumnya dapat bersifat unilateral atau bilateral.
(keperawatan maternitas vol.2 edisi 18)
Celah bibir dan palatum nyata sekali berhubungan erat secara embriologis,
fungsionil, dan genetic. Celah bibir muncul akibat adanya hipoplasia lapisan
mesenkim, menyebabkan kegagalan penyatuan prosesus nasalis media dan
prosesus maksilaris. Celah palatum muncul akibat terjadinya kegagalan dalam
mendekatkan atau memfusikan lempeng palatum (Nelson,2012) .
Labioskisis dan labiospalatokisis
merupakan deformitas daerah mulut
berupa celah atau sumbing atau
pembentukan yang kurang sempurna
semasa perkembangan embrional di
mana bibir atas bagian kanan dan
bagian kiri tidak tumbuh bersatu
(Hidayat, Aziz Alimul A., Pengantar
Ilmu Keperawatan Anak)
Labioskisis adalah suatu kelainan bawaan terdapatnya celah pada bibir
atau ketidaksempurnaan penyambungan bibir selama masa perkembangan
janin dimasa kehamilan (Mengenal bbl dan penatalaksanaannya, Mitayani ) .

Labio / Palato skizis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan


bentuk pada struktur wajah (Ngastiah, 2005 : 167)

3
Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya
propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan
embriotik. (Wong, Donna L. 2003)

Beberapa jenis bibir sumbing :

a. Unilateral Incomplete

Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak
memanjang hingga ke hidung.

b. Unilateral complete

Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang
hingga ke hidung.

c. Bilateral complete

Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga
ke hidung.

Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada
daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing
tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz,
2005:21

4
B. Etiologi

1. Faktor Herediter :

Sebagai faktor yang sudah dipastikan. Gilarsi : 75% dari faktor keturunan
resesif dan 25% bersifat dominan.

a. Mutasi gen.

b. Kelainan kromosom

2. Faktor Eksternal / Lingkungan :

a. Faktor usia ibu

b. Obat-obatan. Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin,


Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam
Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan
celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid

b. Kekurangan Nutrisi

c. Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella

d. Radiasi

e. Stres emosional

f. Trauma, (trimester pertama). (Wong, Donna L. 2003)

C. Tanda dan Gejala


Ada beberapa gejala dari labioskizis yaitu :
1. Terjadi pemisahan bibir.
2. Terjadi pemisahan langit-langit.
3. Terjadi pemisahan bibir dan langit langit.
4. Adanya infeksi telinga berulang.
5. Berat badan tidak bertambah.
6. Terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari
hidung.

5
D. Anatomi dan Fisiologi
Mulut
Batas- batas mulut :
Atas : palatum durum dan
molle
Bawah : mandibula, lidah dan
struktur lain pada mulut
Lateral ; pipi
Depan : bibir
Belakang : lubang menuju
faring

Palatum durum dibentuk


oleh sebagian maksila di
bagian depan dan os
palatinum di bagian belakang. Tulang dilapisi oleh periosteum dan
membrana mukosa. Palatum molle, dibentuk oleh otot dan jaringan ikat
yang dilapisi membrana mukosa, bersambungan dengan palatum durum di
bagian depan. Sedangkan gusi merupakan bagian mulut yang merupakan
tempat melekatnya gigi dan syaraf-syaraf.

6
E. Patofisiologi dan Pathway

Bibir sumbing merupakan kelainan kongenital yang memiliki prevalensi


cukup tinggi. Bibir sumbing memiliki beberapa tingkat kerusakan sesuai
organ yang mengalami kecacatannya. Bila hanya dibibir disebut labioschizis,
tapi bisa juga mengenai gusi dan palatum atau langit-langit. Tingkat
kecacatan ini mempengaruhi keberhasilan operasi.

Cacat bibir sumbing terjadi pada trimester pertama kehamilan karena tidak
terbentuknya suatu jaringan di daerah tersebut. Semua yang mengganggu
pembelahan sel pada masa kehamilan bisa menyebabkan kelainan tersebut,
misal kekurangan zat besi, obat2 tertentu, radiasi. Tak heran kelainan bibir
sumbing sering ditemukan di desa terpencil dengan kondisi ibu hamil tanpa
perawatan kehamilan yang baik serta gizi yang buruk.

Bayi-bayi yang bibirnya sumbing akan mengalami gangguan fungsi


berupa kesulitan menghisap ASI, terutama jika kelainannya mencapai langit-
langit mulut. Jika demikian, ASI dari ibu harus dipompa dulu untuk
kemudian diberikan dengan sendok atau dengan botol berlubang besar pada
bayi yang posisinya tubuhnya ditegakkan. Posisi bayi yang tegak sangat
membantu masuknya air susu hingga ke kerongkongan. Jika tidak tegak,
sangat mungkin air susu akan masuk ke saluran napas mengingat refleks
pembukaan katup epiglottis( katup penghubung mulut dengan kerongkongan)
mesti dirangsang dengan gerakkan lidah, langit-langit, serta kelenjar liur.

Bibir sumbing juga menyebabkan mudah terjadinya infeksi di rongga


hidung, tenggorokan dan tuba eustachius (saluran penghubung telinga dan
tenggorokan) sebagai akibat mudahnya terjadi iritasi akibat air susu atau air
yang masuk ke rongga hidung dari celah sumbingnya.

7
PATHWAY

Infeksi (rubella,
Predisposisi (genetic, etyomegali virus,
hormonal, factor obat) toxcoplasma)

Kegagalan perkembangan jaringan


lunak dan tulang pada trimester 1

Lobioskizis Palatoskizis

Kegagalan penyatuan Kegagalan penyatuan


prosessus Nasal Medial susunan palato
dan maksilaris

Terbelahnya
Terbelahnya bibir palatum
Pada hidung
Pada bibir
Pembedahan Resiko
Ketidaksempurnaan infeksi
Kemampuan pembentukan rongga
hidung Ansietas
menghisap lemah

Penumpukan Kurang
Kegagalan pengetahuan
sekret
menghisap ASI

Bersihan jalan
Ketidakseimbangan nafas tidak
Nutrisi kurang dari efektif
kebutuhan tubuh

8
F. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan prabedah rutin (misalnya hitung darah lengkap)
2) Pemeriksaan Diagnosis
a. Foto Rontgen
b. Pemeriksaan Fisik
c. MRI untuk evaluasi abnormal
G. Komplikasi

1. Gangguan bicara dan pendengaran

2. Terjadinya otitis media

3. Aspirasi

4. Distress pernafasan

5. Risisko infeksi saluran nafas

6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat

H. Pemeriksaan Terapeutik

1. Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan

2. Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat

3. Mencegah komplikasi

4. Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan

5. Pembedahan: pada labio sebelum kecacatan palato; perbaikan dengan


pembedahan usia 2-3 hari atua sampai usia beberapa minggu prosthesis
intraoral atau ekstraoral untuk mencegah kolaps maxilaris, merangsang
pertumbuhan tulang, dan membantu dalam perkembangan bicara dan
makan, dapat dilakukan sebelum penbedahan perbaikan.

6. Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun,


tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitas penutupan adalah untuk
perkembangan bicara.

9
I. Penatalaksanaan Medis

1. Penatalaksanaan bibir sumbing adalah tindakan bedah efektif yang


melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya.
Adanya kemajuan teknik bedah, orbodantis,dokter anak, dokter THT,
serta hasil akhir tindakan koreksi kosmetik dan fungsional menjadi lebih
baik. Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah
maupun ortidentik dilakukan secara bertahap.
Biasanya penutupan celah bibir melalui pembedahan dilakukan bila bayi
tersebut telah berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan penambahan
berat badan yang memuaskan dan bebas dari infeksi induk, saluran nafas
atau sistemis.
Perbedaan asal ini dapat diperbaiki kembali pada usia 4-5 tahun. Pada
kebanyakan kasus, pembedahan pada hidung hendaknya ditunda hingga
mencapi usia pubertas.
Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk dan
derajat cerat yang cukup besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan
harus disesuaikan bagi masing-masing penderita. Waktu optimal untuk
melakukan pembedahan langit-langit bervariasi dari 6 bulan 5 tahun.
Jika perbaikan pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun, maka
sebuah balon bicara dapat dilekatkan pada bagian belakang geligi
maksila sehingga kontraksi otot-otot faring dan velfaring dapat
menyebabkan jaringan-jaringan bersentuhan dengan balon tadi untuk
menghasilkan penutup nasoporing.
J. Penatalaksanaan Keperawatan

Perawatan Pra-Operasi:

1. Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi.


a. Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka
b. Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
c. Diskusikan tentang pembedahan
d. Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang
positif terhadap bayi.

10
e. Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
2. Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan
pengobatan bayi.
a. Tahap-tahap intervensi bedah
b. Teknik pemberian makan
c. Penyebab devitasi
3. Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.
a. Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau
dot yang cocok.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan
dan menghisap.
b. Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke
dinding mulut.
c. Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah.
d. Sendawakan bayi dengan sering selama pemberian makan
e. Kaji respon bayi terhadap pemberian susu.
f. Akhiri pemberian susu dengan air.

4. Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas


a. Pantau status pernafasan
b. Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan
c. Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi
Perawatan Pasca-Operasi
1. Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate
a. Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes
atau sendok.
b. Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
c. Lanjutkan dengan diet lunak
d. Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
2. Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi
anak.
a. Bersihkan garis sutura dengan hati-hati
b. Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis)

11
c. Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan.
d. Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah
pemberian makan untuk mencegah terjadinya aspirasi.
e. Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
f. Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
g. Perhatikan pendarahan, cdema, drainage.
h. Monitor keutuhan jaringan kulit
i. Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat
tidak steril, missal alat tensi.

12
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian
Anamnesis
Identitas klien : Meliputi nama,alamat,umur,jenis kelamin,agama,suku.
Keluhan utama klien

Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Mengkaji riwayat kehamilan ibu, apakah ibu pernah mengalami
trauma pada kehamilan Trimester I. bagaimana pemenuhan nutrisi ibu
saat hamil, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh ibu dan apakah ibu
pernah stress saat hamil.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan,
pertambahan/penurunan berat badan, riwayat otitis media dan infeksi
saluran pernafasan atas.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiopalatoskisis dari
keluarga, penyakit sifilis dari orang tua laki-laki.

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik
sumbing.
b. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
c. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
d. Kaji tanda-tanda infeksi
e. Palpasi dengan menggunakan jari
f. Kaji tingkat nyeri pada bayi

13
Pengkajian Keluarga
a. Observasi infeksi bayi dan keluarga
b. Kaji harga diri / mekanisme koping dari anak/orangtua
c. Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d. Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan
mengatur perawatan di rumah.
e. Kaji tingkat pengetahuan keluarga

B. Analisa Data

No. DATA ETIOLOGI MASALAH


1 Ketidakseimbangan Nutrisi Predisposisi Ketidakseimbangan
kurang dari kebutuhan (genetic, hormonal, Nutrisi kurang dari
tubuh factor obat) kebutuhan tubuh
Batasan karakteristik : Infeksi (rubella,
- Berat badan 20 % atau lebih etyomegali virus,
toxcoplasma)
di bawah ideal
- Dilaporkan adanya intake Kegagalan
makanan yang kurang dari perkembangan
RDA (Recomended Daily jaringan lunak dan
Allowance) tulang pada
- Kelemahan otot yang trimester 1
digunakan untuk
menelan/mengunyah Lobioskizis
- Perasaan ketidakmampuan
untuk mengunyah makanan Kegagalan
- Kehilangan BB dengan penyatuan
makanan cukup prosessus Nasal
Medial dan
maksilaris

Terbelahnya bibir

Pada bibir

Kemampuan
menghisap lemah

Kegagalan
menghisap ASI

Nutrisi kurang
dari kebutuhan

14
2 Bersihan jalan nafas tidak Predisposisi Bersihan jalan
efektif (genetic, hormonal, nafas tidak efektif
Batasan Karakteristik : factor obat)
Infeksi (rubella,
- Dispneu, Penurunan suara etyomegali virus,
nafas toxcoplasma)
- Kelainan suara nafas
(rales, wheezing) Kegagalan
- Kesulitan berbicara perkembangan
- Batuk, tidak efekotif atau jaringan lunak dan
tulang pada
tidak ada
trimester 1
- Gelisah
- Perubahan frekuensi dan Lobioskizis
irama nafas
Kegagalan
penyatuan
prosessus Nasal
Medial dan
maksilaris

Pada hidung

Ketidaksempurnaan
pembentukan
rongga hidung

Penumpukan sekret

Bersihan jalan
nafas tidak efektif

3 Kurang pengetahuan Predisposisi Kurang


Batasan karakteristik : (genetic, hormonal, pengetahuan
factor obat)
- Memverbalisasikan Infeksi (rubella,
adanya masalah etyomegali virus,
toxcoplasma)
- Ketidakakuratan
mengikuti instruksi Kegagalan
- Perilaku tidak sesuai. perkembangan
jaringan lunak dan
tulang pada
trimester 1

Lobioskizis

Kegagalan
penyatuan
prosessus Nasal
Medial dan

15
maksilaris

Pembedahan

Ansietas

Kurang
pengetahuan

4 Resiko infeksi Predisposisi Resiko infeksi


Faktor-faktor resiko : (genetic, hormonal,
- Prosedur Infasif factor obat)
- Ketidakcukupan Infeksi (rubella,
pengetahuan untuk etyomegali virus,
toxcoplasma)
menghindari paparan
patogen Kegagalan
- Kerusakan jaringan dan perkembangan
peningkatan paparan jaringan lunak dan
lingkungan tulang pada
- Peningkatan paparan trimester 1
lingkungan patogen
- Ketidakadekuatan imum Lobioskizis
buatan
- Tidak adekuat pertahanan Kegagalan
tubuh primer (kulit tidak penyatuan
utuh, trauma jaringan, prosessus Nasal
penurunan kerja silia, Medial dan
maksilaris
cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH, Pembedahan
perubahan peristaltik)
Resiko infeksi

C. Prioritas Masalah

Pre operasi

a) Bersihan jalan nafas tidak efektif

b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Post Operasi

a) Resiko infeksi

b) Kurang Pengetahuan

16
D. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas oleh
penumpukan lendir, reflek batuk
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau tidak
efektif dalam mendeteksi ASI b/d ketidakmampuan menelan /
kesukaran dalam makan sekunder dan kecacatan dan pembedahan.
3. Resiko Infeksi b/d insisi pembedahan
4. Kurang pengetahuan b/d pembedahan dan perawatan di rumah

E. Rencana Asuhan Keperawatan

No. DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA RENCANA


KEPERAWATAN HASIL TINDAKAN (NIC)
1 Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Nutritional Status : Nutrition
kebutuhan tubuh Nutritional Status : food Management
b/d and Fluid Intake Kaji adanya alergi
ketidakmampuan Nutritional Status : makanan
ingest/digest/absorb nutrient Intake Kolaborasi dengan
Weight control ahli gizi untuk
Definisi : Intake Kriteria Hasil : menentukan jumlah
nutrisi tidak cukup Adanya peningkatan berat kalori dan nutrisi
untuk keperluan badan sesuai dengan yang dibutuhkan
metabolisme tubuh. tujuan pasien.
Beratbadan ideal sesuai Anjurkan pasien
Batasan karakteristik : dengan tinggi badan untuk
- Berat badan 20 % Mampumengidentifikasi meningkatkan
atau lebih di bawah kebutuhan nutrisi intake Fe
ideal Tidk ada tanda tanda Anjurkan pasien
- Dilaporkan adanya malnutrisi untuk
intake makanan Menunjukkan peningkatan meningkatkan
yang kurang dari fungsi pengecapan dari protein dan vitamin
RDA menelan C
(Recomended Tidak terjadi penurunan Berikan substansi
Daily Allowance) berat badan yang berarti gula
- Membran mukosa Yakinkan diet yang
dan konjungtiva dimakan
pucat mengandung tinggi
- Kelemahan otot serat untuk
yang digunakan mencegah
untuk konstipasi
menelan/mengunya Berikan makanan
h yang terpilih (
- Luka, inflamasi sudah

17
pada rongga mulut dikonsultasikan
- Mudah merasa dengan ahli gizi)
kenyang, sesaat Ajarkan pasien
setelah mengunyah bagaimana
makanan membuat catatan
- Dilaporkan atau makanan harian.
fakta adanya Monitor jumlah
kekurangan nutrisi dan
makanan kandungan kalori
- Dilaporkan adanya Berikan informasi
perubahan sensasi tentang kebutuhan
rasa nutrisi
- Perasaan Kaji kemampuan
ketidakmampuan pasien untuk
untuk mengunyah mendapatkan
makanan nutrisi yang
- Miskonsepsi dibutuhkan
- Kehilangan BB
dengan makanan Nutrition Monitoring
cukup BB pasien dalam
- Keengganan untuk batas normal
makan Monitor adanya
- Kram pada penurunan berat
abdomen badan
- Tonus otot jelek Monitor tipe dan
- Nyeri abdominal jumlah aktivitas
dengan atau tanpa yang biasa
patologi dilakukan
- Kurang berminat Monitor interaksi
terhadap makanan anak atau orangtua
- Pembuluh darah selama makan
kapiler mulai rapuh Monitor
- Diare dan atau lingkungan selama
steatorrhea makan
- Kehilangan rambut Jadwalkan
yang cukup banyak pengobatan dan
(rontok) tindakan tidak
- Suara usus selama jam makan
hiperaktif Monitor kulit
- Kurangnya kering dan
informasi, perubahan
misinformasi pigmentasi
Monitor turgor
Faktor-faktor yang kulit
berhubungan : Monitor
Ketidakmampuan kekeringan, rambut
pemasukan atau kusam, dan mudah
mencerna makanan patah

18
atau mengabsorpsi Monitor mual dan
zat-zat gizi muntah
berhubungan dengan Monitor kadar
faktor biologis, albumin, total
psikologis atau protein, Hb, dan
ekonomi kadar Ht
Monitor makanan
kesukaan
Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan
intake nuntrisi
Catat adanya
edema, hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
oral.
Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

2 Bersihan jalan nafas NOC : NIC :


tidak efektif b/d Respiratory status : Airway suction
obstruksi jalan nafas Ventilation Auskultasi suara
oleh penumpukan Respiratory status : Airway nafas sebelum dan
lendir, reflek batuk. patency sesudah suctioning.
Aspiration Control Informasikan pada
Definisi : klien dan keluarga
Ketidakmampuan Kriteria Hasil : tentang suctioning
untuk membersihkan Mendemonstrasikan batuk Minta klien nafas
sekresi atau obstruksi efektif dan suara nafas yang dalam sebelum
dari saluran bersih, tidak ada sianosis suction dilakukan.
pernafasan untuk dan dyspneu (mampu Berikan O2 dengan
mempertahankan mengeluarkan sputum, menggunakan nasal
kebersihan jalan mampu bernafas dengan untuk memfasilitasi
nafas. mudah, tidak ada pursed suksion nasotrakeal
lips) Gunakan alat yang
Batasan Karakteristik Menunjukkan jalan nafas steril sitiap
yang paten (klien tidak melakukan
:
merasa tercekik, irama tindakan
- Dispneu, nafas, frekuensi pernafasan Anjurkan pasien
Penurunan suara dalam rentang normal, tidak untuk istirahat dan
nafas ada suara nafas abnormal) napas dalam setelah

19
- Orthopneu Mampu kateter dikeluarkan
- Cyanosis mengidentifikasikan dan dari nasotrakeal
- Kelainan suara mencegah factor yang dapat Monitor status
nafas (rales, menghambat jalan nafas oksigen pasien
wheezing) Ajarkan keluarga
- Kesulitan bagaimana cara
berbicara melakukan suksion
- Batuk, tidak Hentikan suksion
efekotif atau dan berikan
tidak ada oksigen apabila
- Mata melebar pasien
- Produksi sputum menunjukkan
- Gelisah bradikardi,
- Perubahan peningkatan
frekuensi dan saturasi O2, dll.
irama nafas

Faktor-faktor yang Airway Management


Buka jalan nafas,
berhubungan:
guanakan teknik
- Lingkungan : chin lift atau jaw
merokok, thrust bila perlu
menghirup asap Posisikan pasien
rokok, perokok untuk
pasif-POK, memaksimalkan
infeksi ventilasi
- Fisiologis : Identifikasi pasien
disfungsi perlunya
neuromuskular, pemasangan alat
hiperplasia jalan nafas buatan
dinding bronkus, Pasang mayo bila
alergi jalan nafas, perlu
asma. Lakukan fisioterapi
- Obstruksi jalan dada jika perlu
nafas : spasme Keluarkan sekret
jalan nafas, dengan batuk atau
sekresi tertahan, suction
banyaknya
Auskultasi suara
mukus, adanya nafas, catat adanya
jalan nafas suara tambahan
buatan, sekresi
Lakukan suction
bronkus, adanya
pada mayo
eksudat di
alveolus, adanya Kolaborasikan
pemberian
benda asing di
bronkodilator bila
jalan nafas.
perlu
Berikan pelembab

20
udara Kassa basah
NaCl Lembab
Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi dan
status O2
3 Kurang NOC : NIC :
pengetahuan b/d Kowlwdge : disease process Teaching : disease
perawatan di rumah Kowledge : health Behavior Process
dan pembedahan. Kriteria Hasil : Berikan penilaian
Pasien dan keluarga tentang tingkat
Definisi : menyatakan pemahaman pengetahuan pasien
Tidak adanya atau tentang penyakit, kondisi, tentang proses
kurangnya informasi prognosis dan program penyakit yang
kognitif sehubungan pengobatan spesifik
dengan topic spesifik. Pasien dan keluarga mampu Jelaskan
melaksanakan prosedur patofisiologi dari
Batasan karakteristik : yang dijelaskan secara benar penyakit dan
memverbalisasikan Pasien dan keluarga mampu bagaimana hal ini
adanya masalah, menjelaskan kembali apa yang berhubungan
ketidakakuratan dijelaskan perawat/tim kesehatan dengan anatomi
mengikuti instruksi, lainnya dan fisiologi,
perilaku tidak sesuai. dengan cara yang
tepat.
Faktor yang Gambarkan tanda
berhubungan : dan gejala yang
keterbatasan kognitif, biasa muncul pada
interpretasi terhadap penyakit, dengan
informasi yang salah, cara yang tepat
kurangnya keinginan Gambarkan proses
untuk mencari penyakit, dengan
informasi, tidak cara yang tepat
mengetahui sumber- identifikasi
sumber informasi. kemungkinan
penyebab, dengna
cara yang tepat
Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan
cara yang tepat
Hindari jaminan
yang kosong
Sediakan bagi
keluarga atau SO
informasi tentang
kemajuan pasien

21
dengan cara yang
tepat
Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan
penyakit
Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat atau
diindikasikan
Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan, dengan
cara yang tepat
Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang
tepat
Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan
cara yang tepat.

4 Resiko infeksi b/d NOC : NIC :


pembedahan Immune Status Infection Control
Knowledge : Infection (Kontrol infeksi)
Definisi : Peningkatan control Bersihkan
resiko masuknya Risk control lingkungan setelah
organisme patogen Kriteria Hasil : dipakai pasien lain

22
Klien bebas dari tanda dan Pertahankan teknik
Faktor-faktor resiko : gejala infeksi isolasi
- Prosedur Infasif Mendeskripsikan proses Batasi pengunjung
- Ketidakcukupan penularan penyakit, factor bila perlu
pengetahuan yang mempengaruhi Instruksikan pada
untuk penularan serta pengunjung untuk
menghindari penatalaksanaannya, mencuci tangan
paparan patogen Menunjukkan kemampuan saat berkunjung
- Trauma untuk mencegah dan setelah
- Kerusakan timbulnya infeksi berkunjung
jaringan dan Jumlah leukosit dalam meninggalkan
peningkatan batas normal pasien
paparan Menunjukkan perilaku Gunakan sabun
lingkungan hidup sehat antimikrobia untuk
- Ruptur membran cuci tangan
amnion Cuci tangan setiap
- Agen farmasi sebelum dan
(imunosupresan) sesudah tindakan
- Malnutrisi kperawtan
- Peningkatan Gunakan baju,
paparan sarung tangan
lingkungan sebagai alat
patogen pelindung
- Imonusupresi
Pertahankan
- Ketidakadekuatan lingkungan aseptik
imum buatan selama pemasangan
- Tidak adekuat alat
pertahanan
Ganti letak IV
sekunder
perifer dan line
(penurunan Hb,
central dan dressing
Leukopenia,
sesuai dengan
penekanan respon
petunjuk umum
inflamasi)
Gunakan kateter
- Tidak adekuat
intermiten untuk
pertahanan tubuh
menurunkan infeksi
primer (kulit tidak
kandung kencing
utuh, trauma
jaringan, Tingktkan intake
penurunan kerja nutrisi
silia, cairan tubuh Berikan terapi
statis, perubahan antibiotik bila perlu
sekresi pH,
perubahan Infection Protection
peristaltik) (proteksi terhadap
Penyakit kronik infeksi)
Monitor tanda dan
gejala infeksi
sistemik dan lokal

23
Monitor hitung
granulosit, WBC
Monitor kerentanan
terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
Pertahankan teknik
isolasi k/p
Berikan perawatan
kuliat pada area
epidema
Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
Ispeksi kondisi luka
/ insisi bedah
Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
Dorong masukan
cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien
untuk minum
antibiotik sesuai
resep
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
Ajarkan cara
menghindari
infeksi
Laporkan
kecurigaan infeksi
Laporkan kultur
positif

24
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya
kelainan bentuk pada struktur wajah.Palatoskisi adalah adanya celah pada
garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato
pada masa kehamilan 7-12 minggu.

Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah
mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang)
untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21)

Bibir sumbing merupakan kelainan kongenital yang memiliki prevalensi


cukup tinggi. Bibir sumbing memiliki beberapa tingkant kerusakan sesuai
organ yang mengalami kecacatannya. Bila hanya dibibir disebut labioschizis,
tapi bisa juga mengenai gusi dan palatum atau langit-langit. Tingkat
kecacatan ini mempengaruhi keberhasilan operasi.

Cacat bibir sumbing terjadi pada trimester pertama kehamilan karena tidak
terbentuknya suatu jaringan di daerah tersebut. Semua yang mengganggu
pembelahan sel pada masa kehamilan bisa menyebabkan kelainan tersebut,
misal kekurangan zat besi, obat2 tertentu, radiasi. Tak heran kelainan bibir
sumbing sering ditemukan di desa terpencil dengan kondisi ibu hamil tanpa
perawatan kehamilan yang baik serta gizi yang buruk.
Bibir sumbing juga menyebabkan mudah terjadinya infeksi di rongga hidung,
tenggorokan dan tuba eustachius (saluran penghubung telinga dan
tenggorokan) sebagai akibat mudahnya terjadi iritasi akibat air susu atau air
yang masuk ke rongga hidung dari celah sumbingnya.

25
B. Saran
Kepada seluruh pembaca baik mahasiswa, dosen pembimbing, tenaga
kesehatan, masyarakat, maupun instansi kesehatan untuk melakukan
pencapaian kualitas keperawatan secara optimal sebaiknya proses
keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan karena perawatan
tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya
pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang
diharapkan tidak tercapai. Oleh sebab itu perlu adanya penjelasan atau
promosi kesehatan pada seluruh lapisan masyarakat mengenai manfaat serta
pentingnya kesehatan terutama pada pembahasan materi ini yaitu penyakit
Labioskizis serta perawatannya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Carpentino, Lynda Juall.2001.Buku Saku : Diagnosa keperawatan edisi : 8


Penterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta
Iwansain.2008. Difteria.www.iwansain.wordpress.com. diambil 15 maret 2012
Doengoes, E Marlynn,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3
penterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Medika:
Jakarta
Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV. Penerbit Ilmu
Penyakit Dalam: Jakarta

27