Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN

NEGARA

PANCASILA SEBAGAI IDIOLOGI BANGSA DAN NEGARA


MAKALAH INI DIAJUKAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS TERSRUKTUR MATA KULIAH
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

dibina oleh
Bapak Drs.M.Rozikin,M.Si

NAMA : DODY PUTRA


NIM : 125030100
JURUSAN : ADMINISTRASI PUBLIK
KELAS :

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai negara yang mempunyai dasar Negara yaitu pancasila yang
memiliki sebuah arti penting memiliki ideologi. Setiap bangsa dan negara ingin berdiri kokoh,
tidak mudah terombang-ambing oleh kerasnya persoalan hidup berbangsa dan bernegara.Tidak
terkecuali negara Indonesia. Negara yang ingin berdiri kokoh dan kuat, perlu memiliki
ideologi negara yang kokoh dan kuat pula. Tanpa itu, maka bangsa dan negara akan
rapuh. Di era yang serba modern ini, makna pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara
Indonesia sedikit dilupakan oleh sebagian rakyat Indonesia dan digantikan oleh perkembangan
tekhnologi yang sangat canggih. Padahal sejarah perumusan Pancasila melalui proses yang
sangat panjang dan rumit. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena
dalam masing-masing sila tidak bisa di tukar tempat atau dipindah. Bagi bangsa
Indonesia, pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia. Mempelajari
Pancasila lebih dalam menjadikan kita sadar sebagai bangsa Indonesia yang memiliki jati diri
dan harus diwijudkan dalam pergaulan hidup sehari-hari untuk menunjukkan identitas bangsa
yang lebih bermatabat dan berbudaya tinggi. Untuk itulah diharapkan dapat menjelaskan
Pancasila sebagai ideologi negara, menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara
dan karakteristik Pancasila sebagai ideologi negara.
Pengetahuan ideologi mempunyai arti tentang gagasan-gagasan. Ideologi secara
fungsional merupakan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang
masyarakat dan negara yang dianggap baik. Ciri-ciri ideologi pancasila merupakan
ideologi yang membedakan dengan ideologi yang lainnya. Ciri-ciri tersebut yang pertama
adalah Tuhan Yang Maha Esa yang berarti pengakuan bangsa Indonesia terhadap Tuhan
sebagai pencipta dunia dengan segala isinya.Kedua adalah penghargaan kepada sesama umat
manusia, suku bangsa dan bahasanya sesuai dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Ketiga adalah bangsa Indonesia menjunjung tinggi persatuan bangsa, keempat adalah bahwa
kehidupan kita dalam kemasyarakatan dan bernegara berdasarkan atas sistem demokrasi.
Makalah ini juga dapat dijadikan bekal keterampilan agar dapat menganalisis dan bersikap
kristis terhadap para petinggi negara yang menyimpang dari Ideologi bangsa dan negara
Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa arti Pancasila sebagai Ideologi bangasa dan Negara Indonesia?
1.2.2 Bagaimana Perjalanan Pancasila Sebagai Ideologi dari Masa ke Masa?
1.2.3 Apa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara
Indonesia?
1.2.4 Apa fungsi Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan Negara Indonesia?

II.KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pegertian Ideologi
Pengertian Ideologi menurut beberapa ahli adalah debagai berikut,
Pengertian Ideologi - Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat, atau
idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran.
Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau
science des ideas (AL-Marsudi, 2001:57).
Puspowardoyo (1992) menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai
komplek pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau
masyarakat untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk
mengolahnya. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa
yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.
Menurut pendapat Harol H. Titus. Definisi dari ideologi adalah: Aterm used for any
group of ideas concerning various political and aconomic issues and social philosophies often
applied to a systematic scheme of ideas held by groups or classes, artinya suatu istilah yang
digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah politik ekonomi
filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu cita-
cita yang dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat.
Pengertian Ideologi menurut Ibnu Sina adalah Mabda secara etimologis adalah
mashdar mimi dari kata badaayabdau badan wa mabdaan yang berarti permulaan. Secara
terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun diatas pemikiran-pemikiran (cabang
)[dalam Al-Mausuah al-Falsafiyah, entry al-Mabda]. Al-Mabda(ideologi) : pemikiran
mendasar (fikrah raisiyah) dan patokan asasi (al-qaidah al-asasiyah) tingkah laku. Dari segi
logika al-mabda adalah pemahaman mendasar dan asas setiap peraturan. Secara garis besar
dapat disimpulkan bahwa Ideologi(mabda) adalah pemikiran yang mencakup konsepsi
mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran
tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari
pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.
Sehingga dalam Konteks definisi ideologi inilah tanpa memandang sumber dari konsepsi
Ideologi, maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi sebagai Ideologi dengan
padanan dari arti kata Mabda dalam konteks bahasa arab.
Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga ideologi (mabda).
Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam. Untuk saat ini dua mabda
pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan mabda yang
ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh
individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh
penjuru dunia.
Sumber konsepsi ideologi kapitalisme dan Sosialisme berasal dari buatan akal manusia,
sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT (hukum syara).
Ibnu Sina mengemukakan masalah tentang ideologi dalam Kitab-nya "Najat", dia
berkata:"Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi
kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan eksistensi
manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti
itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu
sekali." Al - Marsudi
Ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas
Puspowardoyo
Menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek pengetahuan dan nilai
secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya
dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya. Berdasarkan pemahaman
yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa
yang dinilai baik dan tidak baik.
Harol H. Titus
Ideologi adalah suatu istilah yang digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai
macam masalah politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana
yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat.
Ali Syariati
Mendefenisikan ideologi sebagai keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati
oleh suatu kelompok, suatu klas sosial, suatu bangsa atau satu ras tertentu
Destutt de Tracy
Mengartikan ideology sebagai Science of ideas, dimana didalamnya ideologi dijabarkan
sebagai jumlah program yang diharapkan membawa perubahan institusional dalam suatu
masyarakat.
Kirdi Dipoyudo
Ideologi sebagai suatu kesatuan gagasan-gagasan dasar yang sistematis dan menyeluruh
tentang manusia dan kehidupanya baik individual maupun sosial, termasuk kehidupan Negara.
Sastra Pratedja
Ideologi sebagai suatu kompleks gagasan atau pemikiran yang beerorientasi pada tindakan
yang diorganisir menjadi suatu sistem yang teratur.
C.C. Rodee
Ideologi adalah kumpulan gagasan yang secara logis berkaitan dan mengidentifikasikan
nilai-nilai yang memberi keabsahan bagi institusi politik dan pelakunya. Ideologi dapat di
gunakan untuk membenarkan status quo atau membenarkan usaha untuk mengubahnya
(dengan atau tanpa dengan kekerasan).
Gunawan Setiardjo
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai
melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.
Thomas H
Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan
dan mengatur rakyatnya.
Muhammad Ismail
Ideologi (Mabda) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar,
pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran
pemikiran yang lain.
Dr. Hafidh Shaleh
Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah
aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran
tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan
solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia.
Taqiyuddin An - Nabhani
Ideology adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan, yang dimaksud aqidah
adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang
apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada
sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda adalah suatu ide dasar yang
menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah
dan thariqah.
Karl Marx
Mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup yang dikembangkan berdasarkan kepenti-
ngan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial ekonomi.
Notonegoro
Mengemukakan bahwa Ideologi negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita yang
menjadi dasar bagi suatu sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang
bersangkutan pada hakikatnya merupakan asas kerokhanian yang antara lain memiliki ciri:
1) Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan;
2) Mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pedoman hidup, pegangan hidup
yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya,
diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.
Kamus Bahasa Indonesia ,319
Ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang
memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Atau cara berfikir seseorang atau suatu
gagasan.
Destutt de Tray ( 1801-orang yang pertama mengemukakan ideologi )
Ideologi adalah ilmu yang tentang gagasan yang menunjukan jalan yang benar menuju masa
depan.
Moerdiono
Ideology adalah kompleks pengetahuan dan nilai, yang secara keseluruhan menjadi landasan
bagi seorang ( masyarakat ) untuk memahami jagad raya dan bumi seisinya serta menentukan
sikap dasar untuk mengelolanya.
Alfian
Ideology , Alfian mendefinisikan ideologi sebagai akumulasi nilai-nilai yang dianggap baik
dan benar tentang tujuan yang ingin dicapai masyarakat, sekaligus menjadi pedoman dan cita-
cita pengatur perilaku masyarakat dalam berbagai kehidupan. Karenanya, ideologi berfungsi
menjadi tujuan dan cita-cita bersama masyarakat, serta menjadi pedoman dan alat ukur perilaku
dalam hubungannya dengan kebijakan negara serta sebagai pemersatu masyarakat karena
menjadi prosedur penyelesaian konflik yang muncul dalam masyarakat tersebut. (Alfian,
Idiologi, Idealisme dan Integrasi Nasional, Prisma,1976)..
Destutt de Tray
Ideology adalah untuk menujuk suatu ilmu, yaitu analsisis ilmiah dari pikiran manusia.
Napoleon
Ideology adalah kumpulan ide ( pendapat ) yang abstrak ( tidak realities).
Karl Mark
Ideology adalah dalam arti khusus, yaitu ideology digolongkan bersama dengan agama,
filsafat, dan moral.
Laboratorium IKIP Malang
Ideology adalah seperangkat ide, nilai, dan cita-cita beserta pedoman dan metode
melaksanakan atau mewujudkan.
Pengertian ideologi secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan, idea, keyakinan,
kepercayaan, yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut:
a. Bidang Politik (termasuk Pertahanan dan Keamanan)
b. Bidang Sosial
c. Bidang Kebudayaan
d.Bidang Keagamaan

2.2 Pengertian Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan Negara


Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia yang tak lain adalah ideologi
terbuka. Pancasila sebagai ideologi terbuka artinya nilai-nilai dasar Pancasila bersifat tetap,
namun dapat dijabarkan menjadi nilai instrumental yang berubah dan berkembang secara
dinamis dan kreatif sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat Indonesia .
Tatanan nilai mempunyai tiga tingkatan fleksibelitas ideology pancasila mengandung nilai-
nilai sebagai berikut :
a. Nilai Dasar
b. Nilai Instrumental
c. Nilai Praktis
Menurut Alfian, kekutan suatu ideology tergantung pada 3 dimensi yang terkandung di
dalamnya yaitu sebagai berikut :
a. Dimensi Realitas
b. Dimensi idealis
c. Dimensi fleksibel

III. PEMBAHASAN

3.1 Arti pancasila sebagai Ideologi bangasa dan Negara Indonesia


Pancasila Sebagai Ideologi Negara
Pengertian Ideologi - Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat, atau
idea yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran.
Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau
science des ideas (AL-Marsudi, 2001:57).
Puspowardoyo (1992 menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek
pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk
memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.
Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar
dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.
Menurut pendapat Harol H. Titus. Definisi dari ideologi adalah: Aterm used for any group of
ideas concerning various political and aconomic issues and social philosophies often applied
to a systematic scheme of ideas held by groups or classes, artinya suatu istilah yang digunakan
untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah politik ekonomi filsafat sosial
yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis tentang suatu cita-cita yang
dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat.
Bila kita terapkan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-definisi filsafat dapat kita
simpulkan, maka Pancasila itu ialah usaha pemikiran manusia Indonesia untuk mencari
kebenaran, kemudian sampai mendekati atau menanggap sebagai suatu kesanggupan yang
digenggamnya seirama dengan ruang dan waktu.
Hasil pemikiran manusia yang sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemuduian
dituangkan dalam suatu rumusan rangkaian kalimat yang mengandung suatu pemikiran yang
bermakna bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas, pedoman atau norma hidup dan
kehidupan bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka, yang diberi nama
Pancasila.
Kemudian isi rumusan filsafat yang dinami Pancasila itu kemudian diberi status atau
kedudukan yang tegas dan jelas serta sistematis dan memenuhi persyaratan sebagai suatu
sistem filsafat. Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat
maka filsafat Pancasila itu berfungsi sebagai Dasar Negara Republik Indonesia yang diterima
dan didukung oleh seluruh bangsa atau warga Negara Indonesia.
Demikian isi rumusan sila-sila dari Pancasila sebagai satu rangkaian kesatuan yang bulat dan
utuh merupakan dasar hukum, dasar moral, kaidah fundamental bagi peri kehidupan bernegara
dan masyarakat Indonesia dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Sebagai ideologi suatu bangsa yang menjadi pandangan dan pegangan hidup
masyarakatnya, Pancasila haruslah bersifat universal mencakup segala macam nilai-nilai sosial
dan budaya Indonesia serta menjadi orientasi dalam hidup oleh seluruh masyarakatnya.
Sebagai ideologi bangsa, maka keberadaannya selalu diimplementasikan ke dalam perilaku
kehidupan dalam rangka berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kalau dikaji dari butir-butir
kelima sila dalam ideologi Pancasila tersebut, sebenarnya sudah mencakup gambaran
pembentukan karakter manusia Indonesia yang ideal, sebagai mana yang diharapkan para
penggali dari pancasila itu sendiri. Gambaran pembentukan manusia Indonesia seutuhnya itu,
dapat diilustrasikan Pada sila pertama tersirat bagaimana manusia Indonesia berhubungan
dengan Tuhannya atau kepercayaannya. Pada sila kedua tergambar bagaimana manusia
Indonesia harus bersikap hidup dengan orang lain sebagaimana layaknya manusia yang punya
pikiran dan ahklak hingga dia bisa bersikap sebagai mahkluk yang tertinggi dibandingkan
dengan mahkluk lainnya yaitu binatang. Sila ketiga menerangkan bagaiama manusia Indonesia
menciptakan suatu pandangan betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan bangsa dari pada
bercerai berai seperti pada pepatah bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh. Sila keempat
telah menegaskan bagaimana manusia Indonesia mengimplementasikan cara bersikap dan
berpendapat serta memutuskan sesuatu menyangkut kepentingan umum secara bijak demi
kelangsungan kehidupan berdemokrasi yang terlindungi antara menyuarakan hak dan
kewajibannya berimbang dalam mengimplementasikannya.
Pada sila kelima dijabarkan bagaimana manusia Indonesia mewujudkan suatu keadilan
dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia itu sendiri. Dari penjabaran kelima sila
tersebut di atas, maka sudah sepantasnya bahwa Pancasila beserta kelima silanya itu layak
dijadikan sebagai pandangan dan pegangan hidup serta dijadikan sebagai pembimbing dalam
menciptakan kerangka berpikir untuk menjalankan roda demokratisasi dan diimplementasikan
dalam segala macam praktik kehidupan menyangkut berbangsa, bernegara dan bermasyarakat
di dalam Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. maka mengamalkan dan
mengamankan Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai sifat imperatif dan memaksa,
artinya setiap warga Negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya. Siapa saja yang
melangggar Pancasila sebagai dasar Negara, harus ditindak menurut hukum yakni hukum yang
berlaku di Indonesia. Dengan kata lain pengamalan Pancasila sebagai dasar Negara disertai
sanksi-sanksi hukum. Sedangkan pengamalan Pancasila sebagai weltanschuung, yaitu
pelaksanaan Pancasila dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi
mempunyai sifat mengikat, artinya setiap manusia Indonesia terikat dengan cita-cita yang
terkandung di dalamnya untuk mewujudkan dalam hidup dan kehidupanya, sepanjang tidak
melanggar peraturan perundang-undangan yang barlaku di Indonesia.
Jadi, jelaslah bagi kita bahwa mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar
Negara Republik Indonesia mempunyai sifat imperatif memaksa. Sedangkan pengamalan atau
pelaksanaan Pancasila sebagai pandangan hidup dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-
sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan Negara dihubungkan fungsinya sebagai dasar Negara,
yang merupakan landasan idiil bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia dapatlah
disebut pula sebagai ideologi nasional atau ideologi Negara.

3.2 Perjalanan Pancasila Sebagai Ideologi dari Masa ke Masa


Berawal dari sidang pleno BPUPKI pertama yang diadakan pada tanggal 28 Mei 1945
hingga 1 Juni 1945. Ketika itu, dr. Radjiman Widyodiningrat dalam pidato pembukaannya
selaku ketua BPUPKI mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota sidang mengenai dasar
negara apa yang akan dibentuk untuk Indonesia. Pertanyaan ini menjadi persoalan paling
dominan sepanjang 29 Mei-1 Juni 1945 dan memunculkan sejumlah pembicara yang
mengajukan gagasan mereka mengenai dasar filosofis Indonesia.
Pada tanggal 1 Juni 1945, secara eksplisit Ir. Soekarno mengemukakan gagasannya mengenai
dasar negara Indonesia dalam pidatonya yang berjudul Lahirnya Pancasila. Menurut Drs.
Mohammad Hatta, pidato tersebut bersifat kompromis dan dapat meneduhkan pertentangan
tajam antara pendapat yang mempertahankan Negara Islam dan mereka yang menghendaki
dasar negara sekuler. Perdebatan tersebut pada akhirnya dimenangkan kelompok yang
menginginkan Islam sebagai dasar negara, terbukti dengan dikeluarkannya Piagam Jakarta
pada tanggal 22 Juni 1945.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, ternyata beberapa rumusan Piagam Jakarta diganti
dan menimbulkan kekecewaan umat Islam terhadap pemerintahan Soekarno dan Mohammad
Hatta dan terus berkembang hingga masa pemerintahan Soeharto, sampai-sampai Carol Gluck
mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu banyak meributkan masalah ideologi
dibandingkan negara-negara lain. Melihat pada perkembangan perumusan Pancasia sejak 1
Juni sampai 18 Agustus 1945, dapat diketahui bahwa Pancasila mengalami perkembangan
fungsi. Pada tanggal 1 dan 22 Juni, Pancasila yang dirumuskan Panitia Sembilan dan disepakati
oleh Sidang Pleno BPUPKI merupakan modus kompromi antara kelompok yang
memperjuangkan dasar negara nasionalisme dan kelompok yang memperjuangkan dasar
negara Islam. Akan tetapi, pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila yang dirumuskan kembali
oleh PPKI berkembang menjadi kompromi antara kaum nasionalis, Islam dan Kristen-Katolik
dalam hidup bernegara.
Pada era Orde Lama, dinamika perdebatan ideologi paling sering dibicarakan oleh kebanyakan
orang. Tampak ketika akhir tahun 1950-an, Pancasila sudah bukan lagi merupakan kompromi
atau titik temu bagi semua ideologi. Dikarenakan Pancasila telah dimanfaatkan sebagai senjata
ideologis untuk melegitimasi tuntutan Islam bagi pengakuan negara atas Islam yang kemudian
pada rentang tahun 1948-1962 terjadi pemberontakan Darul Islam terhadap pemerintah pusat.
Setelah pemberontakan berhasil ditumpas, atas desakan AH Nasution, selaku Pangkostrad dan
kepala staf AD, pada 5 Juli 1959 Ir. Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden untuk kembali
pada UUD 1945 sebagai satu-satunya konstitusi legal Republik Indonesia dan
pemerintahannya dinamai dengan Demokrasi Terpimpin.
Pada masa Demokrasi Terpimpin pun ternyata tidak semulus yang diharapkan. Periode labil
ini justru telah membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi, karena dianggap ikut andil dalam
pemberontakan regional berideologi Islam. Bahkan, Soekarno membatasi kekuasaan partai
politik yang ada serta mengusulkan agar rakyat menolak partai-partai politik karena mereka
menentang konsep musyawarah dan mufakat yang terkandung dalam Pancasila. Soekarno juga
menganjurkan sebuah konsep yang dikenal dengan NASAKOM yang berarti persatuan
antara nasionalisme, agama dan komunisme. Kepentingan politis dan ideologis yang saling
bertentangan menimbulkan struktur politik yang sangat labil sampai pada akhirnya melahirkan
peristiwa G 30S/PKI yang berakhir pada runtuhnya kekuasaan Orde Lama.
Selanjutnya pada masa Orde Baru, Soeharto berusaha meyakinkan bahwa rezim baru adalah
pewaris sah dan konstitusional dari presiden pertama. Soeharto mengambil Pancasila sebagai
dasar negara dan ini merupakan cara yang paling tepat untuk melegitimasi kekuasaannya.
Berbagai bentuk perdebatan ternyata tidak semakin membuat stabilitas negara berjalan dengan
baik, tetapi justru struktur politik labil yang semakin mengedepan dikarenakan Soeharto
seringkali mengulang pernyataan tegas bahwa perjuangan Orde Baru hanyalah untuk
melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen, yang berarti bahwa tidak boleh ada yang
menafsirkan resmi tentang Pancasila kecuali dari pemerintah yang berkuasa.
Pada masa reformasi (setelah rezim Soeharto runtuh), seolah menandai adanya jaman baru bagi
perkembangan perpolitikan nasional sebagai anti-tesis dari Orde Baru yang dianggap menindas
dengan konfrimitas ideologinya. Pada era ini timbul keingingan untuk membentuk masyarakat
sipil yang demokratis dan berkeadilan sosial tanpa kooptasi penuh dari negara. Lepas
kendalinya masyarakat seolah menjadi fenomena awal dari tragedi besar dan konflik
berkepanjangan. Tampaknya era ini mengulang problem perdebatan ideologi yang terjadi pada
masa Orde Lama, Orde Baru, yang berakhir dengan instabilitas politik dan perekonomian
secara mendasar. Berbagai bentuk interpretasi monolitik selama ini cenderung mengaburkan
dan menguburkan makna substansial Pancasila dan berakibat pada Pancasila yang menjadi
sebuah mitos, selalu dipahami secara politis-ideologis untuk kepentingan kekuasaan serta nilai-
nilai dasar Pancasila menjadi nilai yang distopia, bukan sekedar utopia
3.3 Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara
Indonesia
Nilai nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya merupakan nilai nilai ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan. Ini merupakan nilai dasar bagi kehidupan
kewarganegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Nilai-nilai pancasila tergolong nilai
kerohanian yang di dalamnya terkandung nilai-nilai lainnya secara lengkap dan harmonis, baik
nilai material, vital, kebenaran, atau kenyataan. Estetis, estis maupun religius. Nilai-nilai-nilai
Pancasila bersibat obyektif dan subyektif, artinya hakikat nilai-nilai pancasila bersifat universal
atau berlaku dimanapun, sehingga dapat diterapkan di negara lain.
Nilai nilai pancasila bersifat objektif, maksutnya :
1. Rumusan dari pancasila itu sendiri memiliki makna yang terdalam menunjukkan adanya sifat
umum universal dan abstrak
2. Inti dari nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa Indonesia
3. Pancasila dalam pembukaan UUD 1945 merupakan sumber dari segala sumber hukum di
Indonesia
Sedangkan nilai-nilai pancasila bersifat subjektif bahwa keberadaan nilai-nilai pancasila itu
terlekat pada bangsa Indonesia sendiri karena,
1. Nilai- nilai pancasila timbul dari bangsa Indonesia
2. Nilai-nilai pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia
Nilai-nilai pancasila terkandung nilai kerohanian yang sesuai dengan hati nurani bangsa
Indonesia.
3.4 Fungsi Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan Negara Indonesia
Sebagai ideologi, yaitu selain kedudukannya sebagai dasar Negara kesatuan
republik Indonesia Pancasila berkedudukan juga sebagai ideologi nasional Indonesia
yang dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.
Sebagai ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila sebagai ikatan budaya ( cultural bond) yang
berkembangan secara alami dalam kehidupan masyarakat Indonesia bukan secara paksaan atau
Pancasila adalah sesuatu yang sudah mendarah daging dalam kehidupanehari-hari bangsa
Indonesia. Sebuah ideologi dapat bertahan atau pudar dalammenghadapi perubahan
masyarakat tergantung daya tahan dari ideologi itu.
Alfianmengatakan bahwa kekuatan ideologi tergantung pada kualitas tiga dimensi yang
dimiliki oleh ideologi itu, yaitu dimensi realita, idealisme, dan fleksibelitas. Pancasila
sebagai sebuah ideologi memiliki tiga dimensi tersebut:
1. Dimensi realita, yaitu nilai-nilai dasar yang ada pada ideologi itu yang mencerminkan realita
atau kenyataan yang hidup dalam masyarakat dimana ideologi itu lahir atau
muncul untuk pertama kalinya paling tidak nilai dasar ideologi itu mencerminkan
realita masyarakat pada awal kelahira nnya.
2. Dimensi Iidalisme, adalah kadar atau kualitas ideologi yang terkandung dalam nilai dasar
itu mampu memberikan harapan kepada berbagai kelompok atau golongan masyarakat tentang
masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam praktik kehidupan bersama sehari-hari.
3. Dimensi Fleksibelitas atau dimensi pengembangan, yaitu kemampuan ideologi
dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakatnya.
Mempengaruhi artinya ikut wewarnai proses perkembangan zaman tanpa menghilangkan jati
diri ideologi itu sendiri yang tercermin dalam nilai dasarnya.Mempengaruhi berarti pendukung
ideologi itu berhasil menemukan tafsiran tafsiran terhadap nilai dasar dari ideologi itu yang
sesuai dengan realita -realita baru yang muncul di hadapan mereka sesuai perkembangan
zaman.
Menurut Dr.Alfian Pancasila memenuhi ketiga dimensi ini sehingga pancasila dapat dikatakan
sebagai ideologi terbuka. Fungsi Pancasila sebagai ideologi Negara, yaitu :
1. Memperkokoh persatuan bangsa karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk.
2. Mengarahkan bangsa Indonesia menuju tujuannya dan menggerakkan serta
membimbing bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan.
3. Memelihara dan mengembangkan identitas bangsa dan sebagai dorongan dalam
pembentukan karakter bangsa berdasarkan Pancasila.
4. Menjadi standar nilai dalam melakukan kritik mengenai kedaan bangsa dan Negara.
Pancasila jika akan dihidupkan secara serius, maka setidaknya dapat menjadi etos yang
mendorong dari belakang atau menarik dari depan akan perlunya aktualisasi maksimal setiap
elemen bangsa. Hal tersebut bisas saja terwujud karena Pancasila itu sendiri memuat lima
prinsip dasar di dalamnya, yaitu: Kesatuan/Persatuan, kebebasan, persamaan, kepribadian dan
prestasi. Kelima prinsip inilah yang merupakan dasar paling sesuai bagi pembangunan sebuah
masyarakat, bangsa dan personal-personal di dalamnya.
Menata sebuah negara itu membutuhkan suatu konsensus bersama sebagai alat lalu lintas
kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa konsensus tersebut, masyarakat akan
memberlakukan hidup bebas tanpa menghiraukan aturan main yang telah disepakati. Ketika
Pancasila telah disepakati bersama sebagai sebuah konsensus, maka Pancasila berperan sebagai
payung hukum dan tata nilai prinsipil dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara.
Dan sebagai ideologi yang dikenal oleh masyarakat internasional, Pancasila juga mengalami
tantangan-tantangan dari pihak luar/asing. Hal ini akan menentukan apakah Pancasila mampu
bertahan sebagai ideologi atau berakhir seperti dalam perkiraan David P. Apter dalam
pemikirannya The End of Idiology. Pancasila merupakan hasil galian dari nilai-nilai sejarah
bangsa Indonesia sendiri dan berwujud lima butir mutiara kehidupan berbangsa dan bernegara,
yaitu religius monotheis, humanis universal, nasionalis patriotis yang berkesatuan dalam
keberagaman,demokrasi dalam musyawarah mufakat dan yang berkeadilan sosial. Dengan
demikian Pancasila bukanlah imitasi dari ideologi negara lain, tetapi mencerminkan nilai
amanat penderitaan rakyat dan kejayaan leluhur bangsa. Keampuhan Pancasila sebagai
ideologi tergantung pada kesadaran, pemahaman dan pengamalan para pendukungnya.
Pancasila selayaknya tetap bertahan sebagai ideologi terbuka yang tidak bersifat doktriner
ketat. Nilai dasarnya tetap dipertahankan, namun nilai praktisnya harus bersifat fleksibel.
Ketahanan ideologi Pancasila harus menjadi bagian misi bangsa Indonesia dengan
keterbukaannya tersebut.
Pada akhirnya, semoga seluruh bangsa dan negara Indonesia serta Pancasila sebagai
ideologinya akan tetap bertahan dan tidak goyah meskipun dihantam badai globalisasi dan
modernisme. Sebagai generasi penerus, marilah kita menjaga Indonesia dan Pancasila agar
saling berdampingan dan tetap utuh hingga anak cucu kita nantinya sebagai penerus
kelangsungan negara ini.
Nilai nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan suatu cerminan dari kehidupan
masyarakat Indonesia (nenek moyang kita) dan secara tetap telah menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Untuk itu kita sebagai generasi penerus bangsa
harus mampu menjaga nilai nilai tersebut. Untuk dapat hal tersebut maka perlu adanya
berbagai upaya yang didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia. Upayaupaya tersebut
antara lain :
1. Melalui dunia pendidikan, dengan menambahkan mata pelajaran khusus pancasila pada setiap
satuan pendidikan bahkan sampai ke perguruan tinggi.
2. Lebih memasyarakatkan pancasila.
3. Menerapkan nilai nilai tersebut dalam kehidupan sehari hari.
4. Memberikan sanksi kepada pihak pihak yang melakukan pelanggaran terhadap pancasila.
5. Menolak dengan tegas faham faham yang bertentangan dengan pancasila.
IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan negara Indonesia itu sangat penting.Karena
Ideologi merupakan alat yang paling ampuh untuk menciptakan negara Indonesia yang
kokoh, bermartabat dan berbudaya tinggi.
Tanpa Ideologi bangsa akan rapuh dan hilang jati dirinya. Pancasila sebagai sumber
nilai menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang memiliki nilai -nilai
kemanusiaan yang luhur, hal ini menandakan bahwa denganPancasila bangsa
Indonesia menolak segala bentuk penindasan, penjajahan dari satu bangsa terhadap
bangsa yang lain. Ideologi bangsa Indonesia itu adalah Pancasila.
Indonesia mempunyai Ideologi Pancasila diharapkan mampu untuk membawa bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang lebih bagus dari sekarang. Ideologi juga diharapkan mampu
untuk membangkitkan kesadaran bangsa. Setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan
ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila. Supaya dalam pengambilan keputusan keputusan
tidak keluar dari aturan dan kaidah negara Indonesia.
Tidak hanya negara yang menganut ideologi Pancasila, tetapi juga masyarakat
Indonesia, masyarakat Indonesia dalam bertingkah laku juga harus berpedoman teguh pada
ideologi Pancasila supaya cita-cita yang diharapkan oleh masyarakat tersebut dapat terwujud
dengan benar
4.2 Saran
Dalam makalah ini penulis berkeinginan supaya makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan
dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila sebagai ideology bangsa dan Negara.
Daftar Pustaka

http://wittalistiya.blogspot.com/2011/04/pancasila-sebagai-ideologi-bangsa-dan.html

http://suhardiman2.blogspot.com/2011/11/fungsi-pokok-pancasila-sebagai-dasar.html
http://pancasila.univpancasila.ac.id/?p=343
http://smpn1ciemas.sch.id/materi/40-pendidikan-kewarganegaraan/107-nilai-nilai-pancasila-sebagai-
ideologi.html
http://ilmugreen.blogspot.com/2012/07/pancasila-sebagai-dasar-dan-ideologi.html
http://www.slideshare.net/suradi46/pancasila-sebagai-dasar-negara-dan-ideologi-nasional
http://www.anneahira.com/ideologi-pancasila.htm
http://nonadhian.blogspot.com/2011/03/upaya-menjaga-nilai-nilai-luhur.html
http://wijayadodyy.blogspot.co.id/
MAKALAH
FUNGSI DAN KEDUDUKAN PANCASILA
Disusun Oleh :
Fuad Hasim Nim : 1401028

STKIP MAJENANG
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya
dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1


A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3


A. Pengertian Pancasila ...................................................................................... 3
B. Kedudukan dan Fungsi Pancasila bagi Negara Republik Indonesia ................. 3
1. Pancasila sebagai Jatidiri Bangsa Indonesia ......................................................... 3
2. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia .................................... 4
3. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara ............................................................ 12
4. Pancasila sebagai Asas Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia ..................... 13
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 14
A. Kesimpulan .................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pancasila merupakan warisan bangsa dari para pendahulu kita yang wajib
kita jaga dan kita terapkan pada kehidupan bangsa saat ini. Pancasila yang
digali dan dirumuskan para pendiri bangsa adalah sebuah rasionalitas kita sebagai bangsa
yang majemuk, multi agama, multi bahasa, multi budaya, dan multi ras yang tergambar dalam
semboyan Bhineka Tunggal Ika agar menjadi bangsa yang bersatu, adil dan makmur.
Kedudukan dan fungsi pancasila sangat penting karena segala tingkah
laku dan tindakan warga negara Indonesia di atur oleh Pancasila sebagai
pemersatu bangsa. Sebagai warga Indonesia kita harus paham makna-makna
Pancasila, fungsi-fungsi Pancasila dan tindakan yang mencerminkan nilai Pancasila. Oleh
karena itu, setiap warga negara sangat berperan penting dalam
pengamalan Pancasila. Dengan kita memperjuangkan norma-norma yang
terkandung, bangsa Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang bersatu,
berdaulat, adil dan makmur sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika
walaupun Indonesia terdiri dari berbagai macam agama, suku,adat dan budaya.
Dengan kita menganut dari makna yang terkandung dalam Pancasila
kehidupan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang bermoral tinggi,
berkeadilan dan persatuan bangsa akan terjaga. Di dalamnya terdapat isi dan
arti yaitu unsur-unsur pembentuk Pancasila berisi tentang pentunjuk berperilaku sehari-
hari dan juga mengatur dari hukum yang berlaku di negara Indonesia.
Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita lebih mengenal dasar negara kita
yaitu Pancasila secara lebih dalam dan menyeluruh, agar kita dapat lebih menghargai dan
menjunjung tinggi dasar negara kita tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan Pancasila?
2. Apa saja kedudukan dan fungsi Pancasila bagi Negara Republik Indonesia?

C. TUJUAN PENULISAN
Secara umum, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui arti dan makna Pancasila.
2. Untuk mengetahui kedudukan dan fungsi Pancasila bagi Negara Republik Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pancasila
Secara etimologis, Pancasila berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata
Panca dan Syila, Panca artinya lima dan syila artinya alas atau dasar. Jadi Pancasila artinya
lima dasar (aturan) yang harus ditaati dan dilaksanakan.
Secara terminologis, istilah Pancasila dipergunakan oleh
Ir.Soekarno yang dicetuskan dalam pidatonya didepan sidang BPUPKI (Dokuritsu Ziumbi
Tyoosakai) pada tanggal 1 Juni 1945.
Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan identitas Negara Indonesia
dan tidak dimiliki oleh negara lain.

B. Kedudukan dan Fungsi Pancasila bagi Negara Republik Indonesia


Terdapat berbagai macam pengertian kedudukan dan fungsi Pancasila yang masing-masing
harus dipahami sesuai dengan konteksnya.
Adapun beberapa kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai Jatidiri Bangsa Indonesia
Jatidiri adalah suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas, sedemikian
rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas
yang lain.
Pancasila sebagai pembentuk karakter bangsa yang bersifat integralistik bukan berasal
dari luar tetapi dari budaya bangsa indonesia sendiri yang kemudian terkristalisasi sebagai
Ideologi Pancasila yang merupakan jatidiri bangsa yang membedakan dengan bangsa lain.
Dengan memiliki Pancasila sebagai jatidiri bangsa dan menerapkan secara konsisten,
bangsa indonesia tidak akan mudah terombang-ambing oleh gejolak yang menerpanya. Ia
memiliki harga diri, dan kepercayaan diri, sehingga tidak mudah tergiur oleh rayuan yang
menyesatkan. Dari uraian tersebut jelas bahwa jatidiri sangat diperlukan bagi bangsa dalam
mencapai sukses dalam membawa dirinya.
Yang dimaksud jati diri bangsa adalah pandangan hidup yang berkembang didalam
masyarakat yang menjadi kesepakatan bersama, berisi konsep, prinsip, dan nilai dasar yang
diangkat menjadi dasar negara sebagai landasan statis, ideologi nasional, dan sebagai landasan
dinamis bagi bangsa yang bersangkutan dalam menghadapi segala permasalahan menuju cita-
citanya.
Pancasila menjadi jati diri bangsa Indonesia mengandung arti bahwa Pancasila menjadi
ciri khas bangsa Indonesia yang tidak ditemukan pada bangsa lain. Oleh karena itu bangsa
Indonesia berkewajiban mempertahankan kemurnian Pancasila ditengah gencarnya arus
globalisasi. Selain itu, Pancasila tidak hanya dijadikan pedoman bangsa, namun harus
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, agar tetap tegak berdiri dalam wadah NKRI
2. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia
Pancasila merupakan ideologi bangsa dan negara Indonesia. Pada pembahasan kali ini,
kita akan berusaha mempelajari bagaimanakah peran Pancasila sebagai ideologi bangsa serta
negara yang dapat memunculkan suatu interpretasi baru untuk tumbuh dan berkembang,
membentuk peraturan intelektual bagi kehidupan masyarakat Indonesia, dan masih banyak lagi
peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai awalan, banyak yang
menyebutkan bahwa ideologi Pancasila dapat membuka jalan bagi lahirnya interpretasi baru
dan hal ini benar adanya.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa mereka yang melahirkan ideologi ini dulu
secara jujur mengakui keterbatasan-keterbatasan pemikiran mereka untuk mampu memberikan
pengertian dan analisa final yang dapat secara terus menerus. Mereka tampaknya mengakui
bahwa visi mereka tak mampu menjangkau perkembangan apa yang akan terjadi di kemudian
hari. Dengan memberikan peluang tersebut, berarti mereka memberikan kesempatan bagi
generasi baru untuk memperbaiki atau menyempurnakannya, karena ideologi dituntut harus
mempunyai fleksibilitas yaitu membuka dirinya untuk diinterpretasikan kembali dari waktu ke
waktu sesuai dengan proses perkembangan dan kemajuan masyarakat.
Apa Itu Ideologi?
Secara etimologis, istilah ideologi berasal dari kata Yunani yaitu idea yang berarti pemikiran,
gagasan dan konsep keyakinan serta logos yang berarti pengetahuan. Dengan demikian,
konsep ideologi pada dasarnya adalah ilmu pengetahuan tentang gagasan, konsep keyakinan
atau pemikiran. Ideologi dapat dibedakan menjadi dua jenis:
Pertama, ideologi doktriner. Ideologi ini bersifat ketat dan mengandung ajaran-ajaran yang
disusun secara jelas dan sistematis, serta diindoktrinasikan pada komunitasnya dengan
pengawasan ketat dalam rangka pelaksanaan ideologi dan seringkali dimonopoli oleh rezim
yang berkuasa. Dalam hal ini, berarti pemimpin suatu negara memiliki kendali penuh dan
kekuasaan dalam pelaksanaan negara beserta ideologi yang dianut. Kedudukan pemimpin
negara seolah berada di atas kedudukan ideologi dan sistem pemerintahan akan bersifat
otoriter.
Kedua, ideologi pragmatis. Ideologi ini bersifat tidak ketat dan mengandung ajaran-ajaran yang
tidak disusun secara rinci, tidak diindoktrinasikan, serta tidak memiliki pengawasan yang ketat
dalam pelaksanaannya (Emile Durkheim dalam George Simpson, New York, Free Press,
1964.54).
Dalam pengertian lain, Alfian mendefinisikan ideologi sebagai akumulasi nilai-nilai yang
dianggap baik dan benar tentang tujuan yang ingin dicapai masyarakat, sekaligus menjadi
pedoman dan cita-cita pengatur perilaku masyarakat dalam berbagai kehidupan. Karenanya,
ideologi berfungsi menjadi tujuan dan cita-cita bersama masyarakat, serta menjadi pedoman
dan alat ukur perilaku dalam hubungannya dengan kebijakan negara serta sebagai pemersatu
masyarakat karena menjadi prosedur penyelesaian konflik yang muncul dalam masyarakat
tersebut. (Alfian, Idiologi, Idealisme dan Integrasi Nasional, Prisma, 8-8-1976).
Implikasi Logis Pancasila Sebagai Ideologi
Sejak dirumuskannya Pancasila sebagai ideologi bangsa, secara eksplisit maupun implisit
Pancasila mengandung konsekuensi logis bagi seluruh organ-organ dan masyarakat yang hidup
tumbuh berkembang dalam Negara Indonesia merdeka untuk menyandarkan kehidupan
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat atas dasar Pancasila. Ideologi Pancasila juga
memberikan sandaran bagi lalu lintas kehidupan umat manusia di Indonesia.
Suatu ideologi yang dibuat harus berorientasi pada kehidupan masyarakat, mengapa?
Hal ini dikarenakan dalam setiap proses pergaulan, apalagi dalam terminologi bangsa yang
plural dan heterogen seperti Indonesia haruslah dibutuhkan suatu aturan main yang tentunya
disepakati bersama untuk memberikan arahan agar setiap konflik pluralitas dan heterogenitas
yang mungkin muncul akan dapat terminimalisir, serta bagaimana nilai-nilai dalam ideologi
tersebut mengkonstruk struktur sosial yang mempunyai visi kebangsaan yang sama meski
berawal dari keragaman (kepentingan). Namun demikian, bukan berarti kehidupan masyarakat
semata-mata merupakan manifestasi ideologi. Sebab, selalu saja dialektika yang
berkesinambungan antara ideologi dengan kenyataan kehidupan masyarakatnya akan
menentukan kualitas dari ideologi tersebut.
Relasi Ideologi dengan Realitas Sosial
Setelah berbicara panjang lebar dan mengenali suatu ideologi, lantas apakah korelasi
logis antara sebuah ideologi (dalam hal ini adalah Pancasila) dengan kenyataan kehidupan
masyarakat? Sebuah ideologi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan lepas dari kenyataan
hidup masyarakat, namun ideologi adalah sebuah produk atau hasil dari kebudayaan
masyarakat. Dan karenanya, dalam artian tertentu merupakan manifestasi sosial dari keinginan
luhur masyarakat. Artinya, perumusan suatu ideologi Pancasila seharusnya dimaknai dari
adanya keinginan untuk mewujudkan suatu struktur dan konstruk masyarakat yang
diidealisasikan sesuai dengan keadaannya.
Pada hakikatnya sebuah ideologi tidak lain merupakan sebuah refleksi manusia atas
kemampuannya dalam mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Maksud kalimat
tersebut adalah bahwa antara ideologi dan kenyataan hidup masyarakat terjadi sebuah
hubungan dialektis yang menimbulkan kelangsungan pengaruh hubungan timbal balik yang
terwujud dalam sebuah interaksi. Dengan demikian, ideologi mencerminkan cara berpikir dan
bertata kehidupan masyarakat serta membentuk masyarakat menuju cita-cita yang telah
diharapkan bersama sehingga ideologi seharusnya tidak hanya dianggap sebagai pengetahuan
teoritis saja, namun lebih merupakan sesuatu yang dihayati menjadi sebuah keyakinan.
Adakah Kritik Terhadap Pancasila Sebagai Sebuah Ideologi?
Dalam perjalanannya, Pancasila memang kerap kali mendapatkan kritik dari masyarakat
dengan melayangkan tuntutan-tuntutan yang bersifat memperdebatkan keabsahan Pancasila
sebagai sebuah ideologi Indonesia. Seperti munculnya gagasan diberlakukannya federalisme
dalam sistem kenegaraan Indonesia, fenomena munculnya kembali partai-partai politik,
organisasi massa dan organisasi kepemudaan yang memakai asas di luar Pancasila dalam
menjalankan aktivitas administrasi dan organisasinya. Berbagai bentuk penyelewengan atas
Pancasila tidak harus dimaknai sebagai sebuah alasan untuk menggantikan ideologi suatu
negara. Penyelewengan adalah bukti ketidakseriusan pengelola negara dalam menjalankan
Pancasila secara murni dan konsekuen. Itulah sebabnya, agar berbagai penyelewengan atas
Pancasila dapat diminimalisir, maka sudah saatnya Pancasila didudukkan kembali menjadi
ideologi terbuka yang harus terus menerus disempurnakan sehingga pada akhirnya selalu up
to date untuk menjawab persoalan yang timbul di negara Indonesia.
Kekuatan Pancasila Sebagai Sebuah Ideologi
Kekuatan ideologi Pancasila dapat diukur dari tiga dimensi yang saling berkaitan, saling
mengisi dan saling memperkuat. Ketiga dimensi tersebut adalah:
(1) Dimensi Realitas, dimana sebuah ideologi mengandung makna bahwa nilai-nilai dasar yang
terkandung di dalamnya bersumber dari nilai-nilai riil yang hidup dalam masyarakatnya.
(2) Dimensi Idealitas, dimana suatu ideologi harus mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam
berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui idealisme atau
cita-cita yang terkandung dalam ideologi, suatu masyarakat akan mampu mengetahui ke mana
mereka ingin membangun kehidupan bersama.
(3) Dimensi Fleksibilitas, dimana sebuah ideologi harus memiliki keluwesan yang memungkinkan
dan bahkan merangsang pengembangan pemikiran baru yang relevan tanpa menghilangkan
atau mengingkari hakikat yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya.
Berdasar pada ketiga dimensi tersebut, Pancasila jelas memenuhi standar realitas,
idealitas dan fleksibilitas, karena dinamika internal yang terkandung dalam sifatnya sebagai
ideologi terbuka. Secara ideal-konseptual, Pancasila adalah ideologi yang kuat, tangguh,
kenyal dan bermutu tinggi. Dinamika internal yang terkandung dalam suatu ideologi biasanya
mempermantap, mempermapan dan memperkuat relevansi ideologi tersebut dalam
masyarakatnya.
Namun hal tersebut tetap bergantung pada kehadiran beberapa faktor di dalamnya yaitu:
kualitas nilai dasar yang terkandung dalam ideologi tersebut; persepsi, sikap, dan tingkah laku
masyarakat terhadapnya; kemampuan masyarakat dalam mengembangkan pemikiran-
pemikiran baru yang relevan terhadap ideologinya; serta menyangkut seberapa jauh nilai-nilai
yang terkandung di dalam ideologi tersebut membudaya dan diamalkan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan berbagai dimensinya.
Perjalanan Pancasila Sebagai Ideologi dari Masa ke Masa
Berawal dari sidang pleno BPUPKI pertama yang diadakan pada tanggal 28 Mei 1945 hingga
1 Juni 1945. Ketika itu, dr. Radjiman Widyodiningrat dalam pidato pembukaannya selaku
ketua BPUPKI mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota sidang mengenai dasar negara
apa yang akan dibentuk untuk Indonesia. Pertanyaan ini menjadi persoalan paling dominan
sepanjang 29 Mei-1 Juni 1945 dan memunculkan sejumlah pembicara yang mengajukan
gagasan mereka mengenai dasar filosofis Indonesia.
Pada tanggal 1 Juni 1945, secara eksplisit Ir. Soekarno mengemukakan gagasannya
mengenai dasar negara Indonesia dalam pidatonya yang berjudul Lahirnya Pancasila.
Menurut Drs. Mohammad Hatta, pidato tersebut bersifat kompromis dan dapat meneduhkan
pertentangan tajam antara pendapat yang mempertahankan Negara Islam dan mereka yang
menghendaki dasar negara sekuler. Perdebatan tersebut pada akhirnya dimenangkan kelompok
yang menginginkan Islam sebagai dasar negara, terbukti dengan dikeluarkannya Piagam
Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, ternyata beberapa rumusan Piagam Jakarta
diganti dan menimbulkan kekecewaan umat Islam terhadap pemerintahan Soekarno dan
Mohammad Hatta dan terus berkembang hingga masa pemerintahan Soeharto, sampai-sampai
Carol Gluck mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang terlalu banyak meributkan
masalah ideologi dibandingkan negara-negara lain. Melihat pada perkembangan perumusan
Pancasia sejak 1 Juni sampai 18 Agustus 1945, dapat diketahui bahwa Pancasila mengalami
perkembangan fungsi. Pada tanggal 1 dan 22 Juni, Pancasila yang dirumuskan Panitia
Sembilan dan disepakati oleh Sidang Pleno BPUPKI merupakan modus kompromi antara
kelompok yang memperjuangkan dasar negara nasionalisme dan kelompok yang
memperjuangkan dasar negara Islam. Akan tetapi, pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila
yang dirumuskan kembali oleh PPKI berkembang menjadi kompromi antara kaum nasionalis,
Islam dan Kristen-Katolik dalam hidup bernegara.
Pada era Orde Lama, dinamika perdebatan ideologi paling sering dibicarakan oleh
kebanyakan orang. Tampak ketika akhir tahun 1950-an, Pancasila sudah bukan lagi merupakan
kompromi atau titik temu bagi semua ideologi. Dikarenakan Pancasila telah dimanfaatkan
sebagai senjata ideologis untuk melegitimasi tuntutan Islam bagi pengakuan negara atas Islam
yang kemudian pada rentang tahun 1948-1962 terjadi pemberontakan Darul Islam terhadap
pemerintah pusat. Setelah pemberontakan berhasil ditumpas, atas desakan AH Nasution, selaku
Pangkostrad dan kepala staf AD, pada 5 Juli 1959 Ir. Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden
untuk kembali pada UUD 1945 sebagai satu-satunya konstitusi legal Republik Indonesia dan
pemerintahannya dinamai dengan Demokrasi Terpimpin.
Pada masa Demokrasi Terpimpin pun ternyata tidak semulus yang diharapkan. Periode
labil ini justru telah membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi, karena dianggap ikut andil
dalam pemberontakan regional berideologi Islam. Bahkan, Soekarno membatasi kekuasaan
partai politik yang ada serta mengusulkan agar rakyat menolak partai-partai politik karena
mereka menentang konsep musyawarah dan mufakat yang terkandung dalam Pancasila.
Soekarno juga menganjurkan sebuah konsep yang dikenal dengan NASAKOM yang berarti
persatuan antara nasionalisme, agama dan komunisme. Kepentingan politis dan ideologis yang
saling bertentangan menimbulkan struktur politik yang sangat labil sampai pada akhirnya
melahirkan peristiwa G 30S/PKI yang berakhir pada runtuhnya kekuasaan Orde Lama.
Selanjutnya pada masa Orde Baru, Soeharto berusaha meyakinkan bahwa rezim baru
adalah pewaris sah dan konstitusional dari presiden pertama. Soeharto mengambil Pancasila
sebagai dasar negara dan ini merupakan cara yang paling tepat untuk melegitimasi
kekuasaannya. Berbagai bentuk perdebatan ternyata tidak semakin membuat stabilitas negara
berjalan dengan baik, tetapi justru struktur politik labil yang semakin mengedepan dikarenakan
Soeharto seringkali mengulang pernyataan tegas bahwa perjuangan Orde Baru hanyalah untuk
melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen, yang berarti bahwa tidak boleh ada yang
menafsirkan resmi tentang Pancasila kecuali dari pemerintah yang berkuasa.
Pada masa reformasi (setelah rezim Soeharto runtuh), seolah menandai adanya jaman
baru bagi perkembangan perpolitikan nasional sebagai anti-tesis dari Orde Baru yang dianggap
menindas dengan konfrimitas ideologinya. Pada era ini timbul keingingan untuk membentuk
masyarakat sipil yang demokratis dan berkeadilan sosial tanpa kooptasi penuh dari negara.
Lepas kendalinya masyarakat seolah menjadi fenomena awal dari tragedi besar dan konflik
berkepanjangan. Tampaknya era ini mengulang problem perdebatan ideologi yang terjadi pada
masa Orde Lama, Orde Baru, yang berakhir dengan instabilitas politik dan perekonomian
secara mendasar. Berbagai bentuk interpretasi monolitik selama ini cenderung mengaburkan
dan menguburkan makna substansial Pancasila dan berakibat pada Pancasila yang menjadi
sebuah mitos, selalu dipahami secara politis-ideologis untuk kepentingan kekuasaan serta nilai-
nilai dasar Pancasila menjadi nilai yang distopia, bukan sekedar utopia.
Seperti Apakah Reaktualisasi Ideologi Pancasila?
Pancasila jika akan dihidupkan secara serius, maka setidaknya dapat menjadi etos yang
mendorong dari belakang atau menarik dari depan akan perlunya aktualisasi maksimal setiap
elemen bangsa. Hal tersebut bisas saja terwujud karena Pancasila itu sendiri memuat lima
prinsip dasar di dalamnya, yaitu: Kesatuan/Persatuan, kebebasan, persamaan, kepribadian dan
prestasi. Kelima prinsip inilah yang merupakan dasar paling sesuai bagi pembangunan sebuah
masyarakat, bangsa dan personal-personal di dalamnya.
Menata sebuah negara itu membutuhkan suatu konsensus bersama sebagai alat lalu
lintas kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa konsensus tersebut, masyarakat akan
memberlakukan hidup bebas tanpa menghiraukan aturan main yang telah disepakati. Ketika
Pancasila telah disepakati bersama sebagai sebuah konsensus, maka Pancasila berperan sebagai
payung hukum dan tata nilai prinsipil dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara.
Dan sebagai ideologi yang dikenal oleh masyarakat internasional, Pancasila juga
mengalami tantangan-tantangan dari pihak luar/asing. Hal ini akan menentukan apakah
Pancasila mampu bertahan sebagai ideologi atau berakhir seperti dalam perkiraan David P.
Apter dalam pemikirannya The End of Idiology. Pancasila merupakan hasil galian dari nilai-
nilai sejarah bangsa Indonesia sendiri dan berwujud lima butir mutiara kehidupan berbangsa
dan bernegara, yaitu religius monotheis, humanis universal, nasionalis patriotis yang
berkesatuan dalam keberagaman, demokrasi dalam musyawarah mufakat dan yang berkeadilan
sosial.
Dengan demikian Pancasila bukanlah imitasi dari ideologi negara lain, tetapi
mencerminkan nilai amanat penderitaan rakyat dan kejayaan leluhur bangsa. Keampuhan
Pancasila sebagai ideologi tergantung pada kesadaran, pemahaman dan pengamalan para
pendukungnya. Pancasila selayaknya tetap bertahan sebagai ideologi terbuka yang tidak
bersifat doktriner ketat. Nilai dasarnya tetap dipertahankan, namun nilai praktisnya harus
bersifat fleksibel. Ketahanan ideologi Pancasila harus menjadi bagian misi bangsa Indonesia
dengan keterbukaannya tersebut.
Pada akhirnya, semoga seluruh bangsa dan negara Indonesia serta Pancasila sebagai
ideologinya akan tetap bertahan dan tidak goyah meskipun dihantam badai globalisasi dan
modernisme. Sebagai generasi penerus, marilah kita menjaga Indonesia dan Pancasila agar
saling berdampingan dan tetap utuh hingga anak cucu kita nantinya sebagai penerus
kelangsungan negara ini.

3. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara


Pancasila dalam kedudukannya ini sering disebut sebagai Dasar Filsafat atau Dasar
Falsafah Negara (Philosofische Grondslag) dari negara, ideologi negara atau (Staatsidee).
Dalam pengertian ini Pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur
pemerintahan negara atau dengan kata lain Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur
penyelenggaraan negara. Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, Pancasila
merupakan sumber kaidah hukum negara yang secara konstitusional mengatur negara Republik
Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah serta pemerintahan negara.
Dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ditegaskan, bahwa Pancasila itu adalah sumber
dari segala sumber hukum yang antara lain sumber hukum formal, undang-undang, kebiasaan,
traktaat, jurisprudensi, hakim, ilmu pengetahuan hukum.

4. Pancasila sebagai Asas Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia


Bagi bangsa Indonesia adanya kesatuan asas kerokhanian, kesatuan pandangan hidup,
kesatuan ideologi adalah sangat penting dan bersifat sentral, karena suatu bangsa yang ingin
berdiri kokoh dan mengetahui ke arah mana tujuan bangsa itu ingin dicapai maka bangsa itu
harus memiliki satu pandangan hidup, ideologi maupun satu asas kerokhanian.
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang dengan
sendirinya memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda pula. Namun demikian
bahwa perbedaan itu harus disadari sebagai sesuatu yang memang senantiasa ada pada setiap
manusia (suku bangsa) sebagai makhluk pribadi, dan dalam masalah ini bersifat biasa. Namun
demikian dengan adanya kesatuan asas kerokhanian yang kita miliki, maka perbedaan itu harus
dibina ke arah suatu kerjasama dalam memperoleh kebahagiaan bersama. Maka disinilah letak
fungsi dan kedudukan asas kerokhanian Pancasila sebagai asas persatuan, kesatuan dan asas
kerjasama bangsa Indonesia. Dalam masalah ini maka membina, membangkitkan, memperkuat
dan mengembangkan persatuan dalam suatu pertalian kebangsaan menjadi sangat penting
artinya, sehingga persatuan dan kesatuan tidak hanya bersifat statis namun harus bersifat
dinamis. Perbedaan-perbedaan itu tidaklah mempengaruhi persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia, karena memiliki daya penarik ke arah kerjasama yang saling dapat diketemukan
dalam suatu perpaduan dan sintesa yang memperkaya masyarakat sebagai suatu bangsa.
Pancasila sebagai dasar filsafat hidup bangsa sekaligus berfungsi sebagai
pemersatu bangsa Indonesia, yang dalam penghayatan Pancasila merupakan penghayatan
material, kemudian diwujudkan dalam pengamalan subjektif Pancasila.

BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Pancasila adalah dasar filsafat dan pandangan hidup negara Republik Indonesia yang
secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945. Sila-sila Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan.
Pancasila memiliki kedudukan yang sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam
menata, mengatur, serta menyelesaikan masalah-masalah sosial, kebangsaan dan kenegaraan
termasuk juga masalah hukum. Sebagai dasar filsafat, maka Pancasila merupakan sebagai
pemersatu bangsa dan negara Indonesia.
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang dengan sendirinya
memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda pula. Namun demikian bahwa
perbedaan itu harus disadari sebagai sesuatu yang memang senantiasa ada pada setiap manusia
(suku bangsa) sebagai makhluk pribadi, dan dalam masalah ini bersifat biasa. Namun demikian
dengan adanya kesatuan asas kerokhanian yang kita miliki, maka perbedaan itu harus dibina
ke arah suatu kerjasama dalam memperoleh kebahagiaan bersama.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121106212218AA6bcNq
http://muringkay.blogspot.com/2012/10/pancasila-sebagai-jati-diri-bangsa.html
http://klaussurinka.blogspot.com/2010/05/pancasila-sebagai-ideologi-bangsa-dan.html
http://dotcom-internet.blogspot.com/2012/02/alasannya-bangsa-indonesia-mengangkat.html
http://sucirahmawati13.blogspot.com/2014/09/makalah-sila-sila-pancasila.html
http://coratcoretmateri.blogspot.co.id/p

/makalah-fungsi-dan-kedudukan-pancasila_21.html

BAB I
PENDAHULUAN

A. Kata Pengantar
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Alloh Swt. Yang telah
memberikan banyak nikmatnya kepada kami. Sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah
Pendidikan Pancasila sebagai Ideologi ini sesuai dengan waktu yang kami rencanakan.
Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah Pendidikan
Pancasila. Yang meliputi tugas kelompok dan keaktifan.
Kami pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan. Begitu pula dalam penyusunan
makalah ini, yang mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas
segala kekurangannya.

B. Latar Belakang

Banyak macam ideologi di dunia ini. Hampir masing-masing negara mempunyai


ideologi tersendiri yang sesuai dengan negaranya. Karena ideologi merupakan dasar atau ide
atau cita-cita negara tersebut untuk semakin berkembang dan maju. Namun, dengan semakin
berkembangnya zaman, ideologi negara tersebut tidak boleh hilang dan tetap menjadi pedoman
dan tetap tertanam pada setiap warganya.
Ideologi Negara Indonesia adalah Pancasila. Ideologi pancasila ini dijadikan sebagai
pandangan hidup bagi bangsa Indonesia dalam mengembangkan negara Indonesia dalam
berbagai aspek. Dengan ideologi inilah bangsa Indonesia bisa mencapai kemerdekaan dan
bertambah maju baik dari potensi sumber daya alam maupun sumberdaya manusianya. Namun,
dengan seiring berjalannya waktu, semakin maju zaman, dan semakin maju teknologi seolah-
olah ideologi pancasila hanya sebagai pelengkap negara agar tampak bahwa Indonesia
merupakan sebuah negara yang merdeka dan mandiri.
Banyak tingkah laku baik kalangan pejabat maupun rakyatnya bertindak tidak sesuai
dengan ideologi pancasila. Ada beberapa faktor mengapa bangsa kita sedikit melenceng dari
ideologi pancasila. Selain berkembangnya ideologi-ideologi luar atau selain pancasila tetapi
juga bangsa Indonesia kurang mengerti ideologinya bahkan tidak tahu sama sekali. Oleh karena
itu kami membuat makalah ini dengan judul Pancasila Sebagai Ideologi agar kita mengenal
ideologi kita dan bertindak sesuai dengan ideologi kita.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut;


1. Apakah Ideologi itu?
2. Apa saja fungsi Ideologi?
3. Ada berapakah macam-macamnya ideologi?
4. Apakah Pancasila itu?
5. Apa saja Fungsi dari Pancasila?
6. Apa Peranan Pancasila sebagai Ideologi?
7. Seperti apakah sifat-sifat Pancasila?

D. Tujuan

Tujuan pada makalah ini adalah sebagai berikut;


1. Menjelaskan pengertian idiologi secara umum.
2. Menjelaskan pengertian Pancasila.
3. Untuk mengetahui fungsi-fungsi dari ideologi pancasila.
4. Untuk mengetahui dasar-dasar pancasila.
5. Untuk memahami fungsi Pancasila itu sendiri .
6. Mengetahui macam-macam ideologi pancasila.
7. Untuk mengetahui tentang sifat-sifat yang terkandung dalam Pancasila.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ideologi

Ideologi berasal dari kata idea (Inggris), yang artinya gagasan, pengertian. Kata kerja
Yunani oida = mengetahui, melihat dengan budi. Kata logi yang berasal dari bahasa
Yunani logos yang artinya pengetahuan. Jadi Ideologi mempunyai arti pengetahuan tentang
gagasan-gagasan, pengetahuan tentang ide-ide, science of ideas atau ajaran tentang pengertian-
pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari menurut Kaelan[1] idea disamakan artinya
dengan cita-cita.
Pengertian lain menyebutkan; ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata
ideologi sendiri diciptakan oleh Destus de Tracy[2], pada akhir abad ke-18 untuk
mendefinisikan sains tentang ide. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif,
sebagai cara memandang segala sesuatu.
Penafsiran ideologi dalam buku lain menyebutkan bahwa, ideologi ialah kata benda;
kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan
tujuan untuk kelangsungan hidup[3]. Ideologi sebagai sistem kepercayaan yg menerangkan dan
membenarkan suatu tataan politik yang ada atau yang dicita-citakan dan memberikan strategi
berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya.
Secara implisit (termasuk, terkandung di dalamnya; meskipun tidak dinyatakan secara
jelas atau terang-terangan) setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak
diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit (gamblang, tegas, terus terang).
Dalam perkembangannya terdapat pengertian Ideologi yang dikemukakan oleh
beberapa tokoh ahli. Istilah Ideologi pertama kali dikemukakan oleh;
1) Destus de Tracy seorang Perancis pada tahun 1796. Menurut Tracy ideologi yaitu science of
ideas, suatu program yang diharapkan dapat membawa perubahan institusional dalam
masyarakat Perancis.
2) Descartes, Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia.
3) Napoleon, Ideologi adalah keseluruhan pemikiran politik dari rivalrivalnya.
4) Karl Marx (5 May 1818 14 Maret 1883)[4], mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup
yang dikembangkan berdasarkan kepentingan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang
politik atau sosial ekonomi.
5) Gunawan Setiardjo mengemukakan bahwa Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan
atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-
aturan dalam kehidupan.
6) Dr. Hafidh Shaleh, Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi
rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan
manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk
mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode
menyebarkannya ke seluruh dunia.
7) Notonegoro Mengemukakan, bahwa Ideologi negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita
yang menjadi dasar bagi suatu sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang
bersangkutan pada hakikatnya merupakan asas kerokhanian.
B. Fungsi Ideologi

1. Sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai bersama oleh suatu masyarakat. Artinya:
nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi menjadi cita-cita atau tujuan yang hendak
diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Sebagai pemersatu masyarakat dan juga menjadi prosedur penyelesaian konflik yang terjadi di
dalam masyarakat, bahwa nilai dalam ideologi merupakan nilai yang disepakati bersama
sehingga dapat mempersatukan masyarakat itu, seta nilai bersama tersebut dijadikan acuan
bagi penyelesaian suatu masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan masyarakat yang
bersangkutan.
3. Sebagai sarana untuk memformalisasikan dan mengisi kehidupan manusia secara individual.
(Cahyono, 1986)
4. Sebagai jembatan pergeseran kendali kekuasaan dari generasi tua (founding father) kegenerasi
muda. (Setiardja, 2001)
5. Sebagai kekuatan yang mampu memberikan semangat dan motivasi individu, masyarakat, dan
bangsa untuk menjalani kehidupan dalam mencapai tujuan. (hidayat, 2001)

C. Macam-macam Ideologi di Dunia

1. Liberalism
Liberalisme tumbuh dari konteks masyarakat Eropa pada abad pertengahan, dimana sistem
sosial ekonomi dikuasai oleh kaum aristokratis feodal (keluarga raja di Inggris abad keemasan
saat negara ini menjadi imperialis dan adi daya dunia) dan menindas hak- hak individu.
Liberalisme tidak diciptakan oleh golongan pedagang dan industri, melainkan diciptakan oleh
golongan intelektual yang digerakkan oleh keresahan ilmiah (rasa ingin tahu dan keinginan
untuk mencari pengetahuan yang baru) dan artistik umum pada zaman itu.
Keresahan intelektual tersebut disambut oleh golongan pedagang dan industri, bahkan hal itu
digunakan untuk membenarkan tuntutan politik yang membatasi kekuasaan bangsawan, dan
gereja. Mereka tidak bertujuan semata- mata untuk dapat menjalankan kegiatan ekonomi secara
bebas, tetapi juga mencari keuntungan yang sebesar- besarnya.
Masyarakat terbaik (rezim terbaik) menurut paham liberal adalah yang memungkinkan
individu mengembangkan kemampuan-kemampuan individu sepenuhnya. Dalam masyarakat
yang baik, semua individu harus dapat mengembangkan pikiran dan bakat-bakatnya. Hal ini
mengharuskan para individu unutk lebih bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya,
dan tidak menyuruh seseorang melakukan sesuatu untuknya atau seseorang untuk mengatakan
apa yang harus dilakukannya[5].

Ciri- ciri ideologi liberal sebagai berikut :


a) Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
b) Angota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara,
kebebasan beragama, dan kebebasan pers.
c) Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat
pemerintah hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk
diri mereka sendiri.
d) Kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu,
pemerintahan dijalankan sedemikian
e) Suatu masyarakat rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. dikatakan
berbahagia apabila setiap individu atau sebagian terbesar individu berbahagia.

2. Fasisme
Fasisme merupakan tipe nasionalisme yang romantis dengan segala kemegahan upacara dan
symbol-symbol yang mendukungnya untuk mencapai kebesaran Negara.
Hal ini dapat dicapai apabila terdapat seorang pemimpin kharismatik dengan symbol kebesaran
Negara yang didukung oleh massa rakyat. Dukungan massa yang fanatik ini tercipta berkat
indoktrinasi, slogan-slogan dan symbol- symbol yang ditanamkan sang pemimpin besar dan
aparatnya. Fasisme ini pernah diterapkan di Jerman (Hitler), Jepang, Italia, dan Spanyol.
Dewasa ini fasisme cenderung muncul sebagai kekuatan reaksioner (kaum proletar dan anti-
proletarian) di negara- negara maju, seperti Amerika Serikat yang berusaha mencapai dan
mempertahankan supremasi kulit putih.

Ciri-ciri faham ideologi fasisme yaitu:


1) Kekuasaan dipegang oleh pemerintah yang dapat berupa koalisi sipil, militer, atau partai yang
berkuasa saat itu.
2) Rakyat diperintah dengan intimidasi agar patuh terhadap Negara.
3) Pemerintah mengatur segala yang boleh maupun tidak boleh dilakukan oleh rakyatnya.
3. Sosialisme
Dalam kelompok ini Mempunyai faham kolektivitas (kebersamaan atau gotong-royong). Yang
mana golongan sosialisme menentang adanya kepemilikan pribadi yang timbul akibat
kapitalisme yang eksploitatif (pemanfaatan yang secara sewenang-wenang atau terlalu
berlebihan terhadap sesuatu subyek)[6] dan menyokong pemakaian milik pribadi tersebut untuk
kesejahteraan umum.
Maka masyarakat dan juga Negara adalah suatu pola kehidupan bersama. Manusia tidak bisa
hidup sendiri, dan manusia akan lebih baik serta layak kehidupannya jika ada kerja sama
melalui fungsi yang dilaksanakan oleh Negara.
Ciri-ciri faham sosialisme yaitu:
1) Kesamaan kesempatan bagi semua orang.
2) Penghapusan sebagian besar hak-hak milik pribadi dan Negara.
3) Negara tanpa strata.

4. Komunisme
Dalam koelompok ini memiliki pandangan bahwa, perjuangan kelas dan penghapusan kelas-
kelas di masyarakat, sehingga Negara menjadi sasaran antara. Dalam hal ini mempunyai latar
belakang manifest der kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friederich Engels,
sebuah manuskrip politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848. Berlandaskan
penolakan kondisi masa lampau, analisa yang cenderung negative terhadap situasi dan kondisi
yang ada, resep perbaikan untuk masa depan dan rencana tindakan jangka pendek
memungkinkan tercapainnya tujuan yang berbeda-beda.
Cirri-ciri kelompok komunisme adalah:
1) Kesamaan kesempatan bagi semua orang.
2) Penghapusan seluruh hak-hak milik dan Negara.
3) Negara tanpa strata (kelas).
4) Pemerintah otoriter.

D. Pengertian Pancasila

1. Pengertian Pancasila secara etimologis


Secara etimologis istilah Pancasila berasal dari Sansekerta dari India (bahasa kasta
Brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut Muhammad Yamin,
dalam bahasa sansekerta perkataan Pancasila memilki dua macam arti secara leksikal yaitu
: panca artinya lima syila vokal I pendek artinya batu sendi, alas, atau dasar
syiila vokal i pendek artinya peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang
senonoh
Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa Indonesia terutama bahasa Jawa diartikan susila
yang memilki hubungan dengan moralitas. Oleh karena itu secara etimologis kata Pancasila
yang dimaksudkan adalah adalah istilah Panca Syilla dengan vokal i pendek yang memilki
makna leksikal berbatu sendi lima atau secara harfiah dasar yang memiliki lima unsur.
Adapun istilah Panca Syiila dengan huruf Dewanagari i bermakna 5 aturan tingkah laku yang
penting.

2. Pengertian Pancasila secara Terminologis


Pengertian Pancasila secara terminologis Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945
itu telah melahirkan negara Republik Indonesia. Untuk melengkapi alat-alat perlengkapan
negara sebagaimana lazimnya negara-negara yang merdeka, maka panitia Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) segera mengadakan sidang. Dalam sidangnya tanggal 18
Agustus 1945 telah berhasil mengesahkan UUD negara Republik Indonesia yang dikenal
dengan UUD 1945. Adapun UUD 1945 terdiri atas dua bagian yaitu Pembukaan UUD 1945
dan pasal-pasal UUD 1945 yang berisi 37 pasal, 1 aturan Aturan Peralihan yang terdiri atas 4
pasal dan 1 Aturan Tambahan terdiri atas 2 ayat.

E. Fungsi Pancasila

Sebelum membahas fungsi pokok Pancasila ini ada baiknya kita


mengetahui isi dari lima sila yang menaungi segala dan dijadikan sebagai ideologi bangsa
Indonesia.
1) Ketuhanan Yang Maha Esa.
2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
3) Persatuan Indonesia.
4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Lima sila dari Pancasila ini merupakan dasar yang menaungi semua peraturan yang ada
di Indonesia. Tidak ada peraturan atau undang undang yang bersimpangan dengan nilai panca
sila ini. Kesalahan dalam pemahaman arti pancasila akan mengakibatkan buruknya kehidupan
bangsa dan negara.
Fungsi pancasila sebagai dasar negara setidaknya memiliki 5 (lima) fungsi utama yang
tidak terlepas dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu:
1. Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa dan negara Indonesia. Pandangan hidup yang
dibenarkan oleh negara adalah Pancasila. Dalam menjalankan kehidupan berbangsa serta
bernegara yang baik tentu setiap masyarakat harus memiliki pedoman yaitu pancasila. Jadi nilai
budaya serta kegiatan organisasi atau pun sosial di masyarakat tidak boleh menyalahi pancasila
2. Pancasila sebagai jiwa bangsa dan negara Indonesia. Setiap diri seseorang tentu memiliki jiwa
yang tumbuh di dalamnya, begitu juga dalam negara, pancasila merupakan jiwanya. Pancasila
telah ada sejak terbentuknya negara kemerdekaan Indonesia, dan telah menjiwai seluruh sendi
kehidupan dan organisasi Indonesia.
3. Pancasila sebagai kepribadian bangsa dan negara Indonesia. Setiap bangsa memiliki
kepribadian yang berbeda dengan negara lain, Indonesia sendiri memegang teguh pancasila
sebagai semangat dan kepribadian dibanggakan di seluruh dunia. Artinya pancasila merupakan
ciri khas negara Indonesia yang unik dari bangsa lain.
4. Pancasila sebagai sumber tertib hukum di Indonesia. Pancasila secara tidak langsung menaungi
seluruh hukum yang ada di Indonesia. Dalam prakteknya, seluruh hukum dan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia harus seiring dengan nilai nilai pancasila. Tidak boleh ada
hukum yang bersinggungan dengan sila yang ada di pancasila dan tidak sesuai dengan makna
di dalamnya.
5. Pancasila sebagai cita cita bangsa. Setiap bangsa tentu mempunyai cita-cita, bangsa Indonesia
tentu juga memuat dan memiliki cita-cita tinggi. Cita cita bangsa kita adalah bagaimana nilai
nilai yang ada di Pancasila ini dapat diamalkan dengan baik.

F. Butir-butir Pancasila

Keterkaitan antara ideologi pancasila dengan butir-butir pancasila sebagai berikut:


1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada
orang lain (sila pertama butir ke tujuh).
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain (sila ke dua
butir ke sepuluh).
3. Persatuan Indonesia.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa (sila ke tiga butir ke tujuh).
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan (sila ke empat butir ke sepuluh).
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
social (sila ke lima butir ke sebelas).

G. Pancasila sebagai Ideologi

Sebagaimana diuraikan di muka, ideologi mengandung nilai-nilai dasar, norma-norma


dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh masyarakat dan penganutnya. Karena itu, ideologi
memiliki peranan sebagai dasar, arah, dan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

1) Sebagai Dasar
Artinya merupakan pangkal tolak, asas atau fundasi di atas semua kegiatan kehidupan
masyarakat, bangsa, dan Negara dibangun dan dasar tersebut umumnya berasal dari nilai-nilai
yang berkembang dan hidup dalam masyarakat itu sendiri (dimensi realitas). Pancasila sejak
awal pembahasannya (sidang BPUPKI tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945 dan sidang
gabungan tanggal 22 Juni 1945) memang direncanakan untuk dijadikan Dasar Negara. Tanggal
18 Agustus 1945 sidang PPKI menetapkan secara resmi Pancasila sebagai dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

2) Sebagai Pengarah
Artinya sebagai pengatur dan pengendali kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara berupa
norma-norma atau aturan-aturan yang harus dipatuhi agar arah untuk mencapai cita-cita atau
tujuan tidak menyimpang (dimensi normalitas). Disini Pancasila menjelmakan diri sebagai
pengarah, pengendali di dalam setiap gerak tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran
sebagai pengarah ditunjukkannya pada kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala
sumber hukum segala peraturan hukum dan perundang-undangan yang ada di Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
3) Sebagai Tujuan
Artinya semua aktivitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada
akhirnya mengarah pada suatu tujuan atau cita-cita yang terkandung dalam ideologi yang
dipakai. Pancasila sebagai ideologi akan memberikan motivasi dan semangat untuk
melaksanakan pembangunan bangsa secara adil dan seimbang untuk mencapai tujuan yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 (dimensi idealitas).

H. Sifat-sifat Pancasila sebagai Ideologi

Idiologi terbuka adalah idiologi yang tidak beku atau kaku atau tertutup dan juga tidak
dimutlakkan dimana nilainya tidak dipaksakan dari luar, bukan paksaan atau pemberian negara
tetapi merupakan realita yang diambil dan berasal dari masyaramasyarakat itu sendiri.
Ciri-cirinya Idiologi terbuka :
1) Merupakan kekayaan rohani, budaya ,masyarakat.
2) Nilainya tidak diciptakan oleh negara, tapi digali dari hidup masyarakat itu.
3) Isinya tidak instan atau operasional sehingga tiap generasi boleh menafsirkan nya menurut
zamannya.
4) Menginspirasi masyarakat untuk bertanggung jawab.
5) Menghargai keanekaragaman atau pluralitas sehingga dapat diterima oleh berbagai latar
belakang agama atau budaya.

Kenapa Pancasila tidak bisa dinyatakan sebagai Idiologi yang tertutup.?


Karena ,pengertian dari Idiologi tertutup adalah idiologi yang bersifat mutlak dimana
nilai-nilainya ditentukan oleh negara atau kelompok masyarakat, dan nilai-nilai yang
terkandung di didalamnya bersifat instan.
Ciri-cirinya :
1) Cita-cita sebuah kelompok bukan citacita yang hidup di masyarakat.
2) Dipaksakan kepada masyarakat.
3) Bersifat totaliter menguasai semua bidang kehidupan masyarakat.
4) Tidak ada keanekaragaman baik pandangan maupaun budaya, dll
5) Rakyat dituntut memiliki kesetiaan total pada idiologi tersebut.
6) Isi idiologi mutlak, kongkrit, nyata, keras dan total.

Permasalahan yang kemungkinan timbul dari Pancasila sebagai idiologi terbuka


adalah Pancasila sebagai suatu idiologi negara tentu saja akan berkembang kalau segenap
komponen masyarakat proaktif, terus menerus mengadakan penafsiran terhadap Pancasila
tersebut sesuai keadaan, bila masyarakat pasif atau tanpa reaksi ,maka Pancasila sebagai suatu
idiologi negara akan menjadi tertutup, sehingga relevansinya akan hilang. Karena bersifat
terbuka, maka tidak menutup kemungklinan Pancasila akan ditafsirkan menurut keinginan atau
kepentingan. Namun dari penjelasan diatas mempuyai maksud bahwa:
Terbuka
1) Nilai-nilai dan cita-cita digali dari kekayaan adat istiadat, budaya dan religious masyarakatnya.
2) Menerima informasi.
3) Penguasa bertanggung jawab pada masyarakat sebagai pengemban amanah rakyat.
Komprehensif
1) Mengakomodasi nilai-nilai dan cita-cita yang bersifat menyeluruh tanpa berpihak pada
golongan tertentu atau melakukan transformasi social secara besar-besaran menuju bentuk
tertentu.
2) Negara mengakomodasi berbagai idealisme yang berkembang dalam masyarakat yang bersifat
majemuk.

Dari penjelasan yang sudah dituturkan, maka akan muncul pertanyaan: Mengapa Ideologi
Pancasila?
Jawaban atas pertanyaan adalah:
1. Bahwa nilai-nilai falsafah yang mendasar dan rasional dari ideologi pancasila tersebut.
2. Kemudian bahwa ideologi pancasila teruji kokoh dan kuat sebagai dasar Negara.
3. Nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sesuai dengan budaya Indonesia.
4. Ideologi pancasila mampu mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat yang majemuk
dan beragam.

I. Kelebihan dan kekurangan Pancasila sebagai Ideologi

1. Kelebihan:
a) Dapat membawa Indonesia kea rah yang lebih adil dan makmur.
b) Merupakan jalan tengah antara Liberan dan Komunis.
c) Member inspirasi akan tata masyarakat bebas.
d) Menjadi sumber etik social.
e) Sebagai instrument politik untuk melihat kinerja pemerintah dan untuk melawan ketidak adilan
social dan segala manifestasinya.

2. Kekurangan:
a) Member kesempatan kebebasan yang cenderung menjadi anarki.
b) Adanya kemungkinan masuknya kepentingan neoliberal.
c) Terlalu normatif.
d) Dianggap tidak jelas karena hanya mengambil jalan tengah diantara Komunis dan Liberal.
e) Pancasila justru membuat bangsa mengambil keburukan Liberal dan Komunis bersama-sama.

J. Perbedaan Ideologi Pancasila dengan Liberalisme, Sosialisme, Fasisme, dan


Komunisme

1. Ideologi Pancasila dengan Liberalisme


Pancasila:
a) Kepemilikan individu dibatasi pada kepentingan yang tidak menjadi hajat hidup orang banyak.
b) Bercampurnya aspek kepemerintahan dengan agama.
c) Masih adanya pembatasan oleh pemerintah dan agama.

Liberalisme:
a) Kepemilikan individu tidak dibatasi sama sekali.
b) Aspek pemerintahan dan keagamaan dilarang untuk dicampur adukkan.
c) Penolakan terhadap pembatasan oleh pemerintah dan agama.

Persamaan:
Sama-sama menganut system demokrasi, dimana semua orang berhak menyuarakan
pendapatnya.

2. Ideologi Pancasila dengan Sosialisme


Pancasila:
a) Hak milik pribadi dan Negara dipisahkan dengan jelas dan diperbolehkan sesuai peraturan.
b) Menimbulkan adanya kelas dalam masyarakat dengan penanganan masing-masing.

Sosialisme:
a) Penghapusan sebagian besar hak milik pribadi dan Negara menjadi hak milik bersama.
b) Terciptanya Negara tanpa kelas.

Persamaan:
Beberapa negara penganut paham sosialisme masih menganut system demokrasi dalam
pemerintahan mereka. Artinya dapat dikatakan sosialisme adalah versi lunak dari
komunisme.

3. Ideologi Pancasila dengan Fasisme


Pancasila:
a) Kekuasaan tertinggi ditangan rakyat.
b) Pendekatan peraturan sesuai dengan jenis peraturan dan sasaranya.
c) Pemeruntah menganut rakyat pada hal-hal umum saja, sisanya diatur oleh nilai dan norma.
d) Pemerintahan yang demokratis.

Fasisme:
a) Kekuasaan tertinggi ditangan pemerintah atau negara yang berkuasa saat itu.
b) Peraturan diberikan secara intimidatifagar dipatuhi.
c) Pemerintah mengatur segala yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh rakyat.
d) Pemerintah yang otoriter.

4. Ideologi Pancasila dengan Komunisme


Pancasila:
a) Hak milik pribadi dan negara dipisahkan dengan jelas dan diperbolehkan sesuai peraturan.
b) Menimbulkan adanya kelas dalam masyarakatdengan penanganan masing-masing.
c) Pemerintah yang demokratis.

Komunisme:
a) Penghapusan seluruh hak milik pribadi dan negara menjadi hak milik besama.
b) Terciptanya negara tanpa kelas.
c) Pemerintahan cenderung otoriter agar rakyat dapat diatur sepenuhnya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan terhadap Pancasila sebagai ideologi diatas, sehingga kiranya diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1) Pancasila sebagai ideologi dapat diartikan sebagai suatu pemikiran yang memuat pandangan
dasar dan cita-cita mengenai sejarah, manusia, masyarakat, dan negara Indonesia, yang
bersumber dari kebudayaan Indonesia.
2) Pancasila merupakan nilai dan cita bangsa Indonesia yang tidak dipaksakan dari luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat kita sendiri.
3) Sumber semangat ideologi terbuka itu sebenarnya terdapat dalam Penjelasan Umum UUD
1945.
4) Keterbukaan ideologi Pancasila terutama ditujukan dalam penerapannya yang berbentuk pola
pikir yang dinamis dan konseptual dalam dunia modern.
5) Perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai instrumental dan nilai-nilai praktis harus tetap
mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai dasarnya.
6) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan
penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan yang maha Esa sebagai bukti
pengamalan ideologi Pancasila.
7) Ideologi Pancasila mengakui dan mengagungkan keberadaan agama.

DAFTAR PUSTAKA

A.M.W Pranarka (eds), 1996. Pemberdayaan :Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta,
hal.44-46
Dr. Nimatul Huda, S.H, M.Hum, Hukum tatanegara Indonesia, PT Raja Grafinda Persada, Jakarta
2012.
Dr. Nomensen Sinamo, SH, MH, Ilmu Negara, Permata Aksara, 2011.
Kaelan, Pendidikan Pancasila, Paradigma,Yogyakarta, 2008.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, jakarta , 2004
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Grasindo, 2010
Tilaar, H. A. R. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional; Dalam Perspektif Abad 21.
IndonesiaTera, Magelang, 2001
http://siswamiskin.blogspot.com/2012/11/.
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksploitasi.

[1] Kaelan, Pendidikan Pancasila, Paradigma,Yogyakarta, 2008.


[2] Tracy, Antoine Louis Claude Destutt de, A Treatise on Political Economy, trans. edited by Thomas Jefferson
(Georgetown: Joseph Milligan, 1817; reprinted New York: Augustus M. Kelley, 1970)
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Arti ideologi umum, 2004
[4] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.
[5] Tilaar, H. A. R.. 2001. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional; Dalam
Perspektif Abad 21. IndonesiaTera, Magelang.
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Eksploitasi