Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH DIPLOMASI EKONOMI

DIPLOMASI BILATERAL INDONESIA MALAYSIA DALAM MENGAMANKAN


EKSPOR KOMODITAS KELAPA SAWIT KE EROPA

UNIVERSITAS INDONESIA

DISUSUN OLEH:

Rizma Afian Azhiim (1606942470)


Sashri Adhyasti Putri (1606942483)
Muhammad Zaenal Muttaqin (1606942445)
Muhamad Arya Adhiwijna (1606942426)

PROGRAM MAGISTER ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kritik terhadap industri kelapa sawit terus muncul dalam narasi global. Berbagai
komoditi yang dihasilkan oleh industri dan perkebunan kelapa sawit sering kali dinilai
sebagai produk yang dihasilkan melalui proses produksi yang bermasalah dalam
perspektif lingkungan dan kemanusiaan. Dari perspektif lingkungan, proses produksi
kelapa sawit dinilai merusak lingkungan, deforestasi, dan degradasi habitat satwa.
Sementara dari perspektif kemanusiaan, perkebunan kelapa sawit memiliki persoalan
yang berkaitan perampasan hak masyarakat adat, dan dalam proses produksi kelapa sawit
memiliki berbagai masalah yang terkait dengan perburuhan.1
Tidak hanya kritik, industri minyak kelapa sawit juga menuai protes baik dari
organisasi masyarakat sipil transnasional. Protes terhadap industri kelapa sawit dari
perspektif kemanusiaan yang terkait dengan kondisi kerja buruh disampaikan oleh
berbagai organisasi masyarakat sipil seperti Accenture For Humanity United yang
menyampaikan laporan tentang praktek kerja yang eksploitatif pada perkebunan kelapa
sawit di Indonesia dan Malaysia;2 Amnesty International yang mengungkapkan adanya
eksploitasi pekerja migran pada perkebunan kelapa sawit di Malaysia; 3 dan International
Labor Rights Watch and Sawit Watch yang menangkat isu pengabaian jaminan kesehatan
dan keselamatan kerja pada perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia.4
Sementara protes dari perspektif lingkungan yang terkait dengan dampak kerusakan
lingkungan yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit disampaikan oleh organisasi
masyarakat sipil seperti organisasi Global Forest Watch yang menyampaikan protes
terhadap dampak kerusakan hutan yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit di

1
Oliver Pye and Jayati Bhattacharya, The Palm Oil Controversy in Southeast Asia (Singapura: ISEAS
Publishing, 2013).
2
Accenture for Humanity United, Eksploitative Labor Practice in the Global Palm Oil Industry, 2013. Diakses
melalui http://humanityunited.org/pdfs/Modern_Slavery_in_the_Palm_Oil_Industry.pdf pada tanggal 15 Mei
2017 pukul 03.08.WIB.
3
Amnesty International, Trapped: The Exploitation of Migrant Workers in Malaysia, 2010. Diakses melalui
https://www.amnesty.org/en/documents/ASA28/002/2010/en/ pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 03.08.WIB
4
International Labor Rights Watch and Sawit Watch, Empty Assurances, 2013. Diakses melalui
http://www.laborrights.org/stop-child-forced-labor/resources/empty-assurances pada tanggal 15 Mei 2017 pukul
03.08.WIB.
2

Indonesia;5 organisasi Greenpeace yang melakukan aksi blokade suplai minyak kelapa
sawit di pelabuhan Rotterdam pada bulan September 2016 sebagai bentuk protes atas
kerusakan dan kebakaran hutan hujan yang diakibatkan oleh pengembangan perkebunan
kelapa sawit;6 dan organisasi Rainforest Rescue yang menyuarakan bahwa Orangutan
bukanlah hama, sebagai respon atas maraknya perburuan Orangutan pada hutan yang
berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.7
Kritik dan protes terhadap industri minyak kelapa sawit tidak hanya sebatas isu
dan wacana di tengah masyarakat global. Namun isu serta wacana mengenai
permasalahan yang terkait dengan industri kelapa sawit telah menjadi landasan
rasionalitas bagi Uni Eropa untuk membuat larangan impor komoditas dan produk
turunan minyak kelapa sawit. Pada tanggal 4 April 2017 parlemen Uni Eeropa telah
mengadopsi resolution on palm oil and deforestation of rainforests yang pada intinya
melarang impor komoditas dan produk turunan minyak kelapa sawit pada tahun 2020.8
Meskipun beberapa anggota parlemen telah memperingatkan bahwa keputusan untuk
meloloskan resolusi tersebut dapat berpotensi memunculkan sengketa perdagangan
dengan negara-negara eksportir, namun resolusi tersebut tetap lolos dengan memperoleh
suara mayoritas anggota parlemen sejumlah 640 18.9
Setelah ditetapkannya resolusi parlemen Uni Eropa tentang larangan impor
komoditas dan produk turunan minyak kelapa sawit pada tahun 2020, pemerintah
Indonesia dan Malaysia menyatakan telah memutuskan untuk bekerjasama dalam
menghadapi larangan impor Uni Eropa. Pemerintah Indonesia dan Malaysia akan
membentuk suatu joint mission untuk bertemu dengan parlemen Uni Eropa.10 Bahkan,
Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Mah Siew Keong, dan

5
Forest Watch Indonesia/Global Forest Watch (FWI/GFW). The State of the Forest: Indonesia. (Bogor,
Indonesia, and Washington, DC. 2002)
6
Arthur Nelsen, Greenpeace blockades IOI palm oil refinery in Rotterdam port, The Guardian 27 September
2016. Diakses melalui:
https://www.theguardian.com/environment/2016/sep/27/greenpeace-blockades-ioi-palm-oil-refinery-rotterdam-
port pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 04.22.WIB.
7
Rainforest Rescue, Tell the palm oil industry: Orangutans are no pests!, Rainforest Rescue Campaign on May
22, 2014. Diakses melalui https://www.rainforest-rescue.org/petitions/815/tell-the-palm-oil-industry-
orangutans-are-no-pests pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 04.22.WIB.
8
Document No: P8_TA-PROV(2017)0098, European Parliament resolution of 4 April 2017 on palm oil and
deforestation of rainforests. Diakses melalui http://www.europarl.europa.eu/sides/getDoc.do?pubRef=-
//EP//NONSGML+TA+P8-TA-2017-0098+0+DOC+PDF+V0//EN pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 05.59.WIB.
9
Arthur Nelsen, MEPs vote to ban the use of palm oil in biofuels, The Guardian 4 April 2017. Diakses melalui
https://www.theguardian.com/sustainable-business/2017/apr/04/palm-oil-biofuels-meps-eu-transport-
deforestation-zsl-greenpeace-golden-agri-resources-oxfam pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 04.22.WIB.
10
Indonesia, Malaysia launch efforts to counter EU palm oil resolution, Retuters 11 April 2017. Diakes melalui
http://www.reuters.com/article/us-indonesia-malaysia-eu-palmoil-idUSKBN17E094 pada tanggal 15 Mei 2017
pukul 04.22.WIB.
3

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution berencana akan turut serta
menemui parlemen Uni Eropa pada bulan Mei 2017 guna menghentikan resolusi.11
Keputusan pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia untuk bekerjasama
dalam menghadapi resolusi Uni Eropa diputuskan meskipun terdapat persaingan dalam
perdagangan komoditas minyak kelapa sawit di antara kedua negara. Beberapa
pengusaha kelapa sawit Malaysia seperti Datuk Zakaria Arshad selaku CEO Felda
Global Ventures Holdings Berhad, Datuk Lee Yeow Chor selaku CEO IOI Corporation
Bhd, dan Paul Wong selaku CEO Serawak Oil Palms Berhad Group, masing-masing
telah berpendapat mengenai kondisi persaingan perdagangan antara kedua negara dan
menilai serta membandingkan tingkat kompetitif masing-masing negara serta lemahnya
posisi Malaysia ketika dihadapkan dengan kemampuan Indonesia untuk menjual
komoditas minyak kelapa sawit dengan harga yang lebih murah.12 Bahkan, pada 9
Februari 2016 harian The Jakarta Post telah memuat artikel yang menyampaikan secara
terang-terangan terjadinya perang harga komoditas minyak kelapa sawit antara Indonesia
dan Malaysia.13 Dengan adanya kondisi persaingan antar kedua negara tersebut, maka
penting untuk dilakukan kajian lebih mendalam tentang bagaimana Indonesia dan
Malaysia dapat memutuskan untuk bekerjasama dalam menghadapi hambatan ekspor
kelapa sawit dari Uni Eropa, meskipun Indonesia dan Malaysia saling bersaing dalam
industri kelapa sawit.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang yang dijelaskan di atas, makalah ini
berusaha untuk menjawab pertanyaan rumusan masalah: Bagaimana Indonesia dan
Malaysia dapat memutuskan untuk bekerjasama dalam menghadapi hambatan ekspor
kelapa sawit dari Uni Eropa, meskipun Indonesia dan Malaysia saling bersaing dalam
industri kelapa sawit?

11
Malaysia, Indonesia to counter EU decision to ban palm oil-based biofuel, The Star Online 26 April 2017.
at http://www.thestar.com.my/business/business-news/2017/04/26/malaysia-and-indonesia-to-counter-eu-
resolution-to-phase-out-biofuel-usage/#S8qBzVASwLuShzbO.99 pada tanggal 15 Mei 2017 pukul 04.22.WIB.
12
Eye on the competition, The Star Online 3 December 2016. Diakses melalui
http://www.thestar.com.my/business/business-news/2016/12/03/eye-on-the-competition/ pada tanggal 15 Mei
2017 pukul 07.23.WIB.
13
Jack Wong, Palm oil price war needs to be resolved, harian The Jakarta Post
4

1.3. KERANGKA ANALISA: TRIANGULAR DIPLOMACY


Untuk memahami bagaimana Indonesia dan Malaysia dapat memutuskan untuk
bekerjasama dalam menghadapi hambatan ekspor kelapa sawit dari Uni Eropa, meskipun
Indonesia dan Malaysia saling bersaing dalam industri kelapa sawit, dibutuhkan suatu
kerangka analisa yang dapat memahami persoalan tersebut. Dalam tulisan ini penulis
menggunakan konsep triangular diplomacy sebagai kerangka analisa untuk memahami
permasalahan tersebut.
Triangular diplomacy merupakan konsep diplomasi yang diperkenalkan oleh
John M. Stopford, Susan Strange, dan John S. Henley dalam buku Rival States, Rival
Firms: Competition for world market shares.14 Konsep mengenai triangular diplomacy
muncul dalam kajian untuk memahami bagaimana kompetisi ekonomi pemerintah dan
korporasi pada suatu negara dengan pemerintah dan korporasi negara lain dapat
dijembatani untuk mencapai kepentingan ekonomi bersama.15 Stopford, Strange, dan
Henley menjelaskan bahwa kerjasama pemerintah dan korporasi antar negara dapat
dilakukan meskipun dalam keadaan berkompetisi satu sama lain, selama terdapat
landasan gagasan yang mampu merasionalisasikan adanya interdependensi secara
ekonomi.16
Inti dari konsep triangular diplomacy adalah adanya tiga arus interaksi yang
berjalan secara simultan dan kemudian membentuk triads of relationship atau hubungan
segitiga seperti yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1 Triad Relationship

14
John M. Stopford, Susan Strange, dan John S. Henley, Rival States. Rival Firms: Competition for world
market share (New York: Cambridge University Press, 1991), hal. 19-23.
15
John M. Stopford, Susan Strange, dan John S. Henley, Rival States. Rival Firms: Competition for world
market share, hal. 19.
16
John M. Stopford, Susan Strange, dan John S. Henley, Rival States. Rival Firms: Competition for world
market share, hal. 20.
5

Triad relationship sebagaimana digambarkan di atas merupakan tiga arus interaksi yaitu
interaksi antar pemerintah, interaksi antar perusahaan, dan interaksi antara pemerintah
dan perusahaan. Biasanya dalam diplomasi antar negara konflik kepentingan dan
kerjasama bisa terjadi secara simultan. Untuk menjembatani antara konflik kepentingan
dengan kerjasama maka dibutuhkan suatu meta struktur yang dapat menjaga hubungan
interdependensi dalam ketiga arus interaksi. Apa yang disebut sebagai meta struktur
merupakan struktur gagasan yang melandasi interaksi antar aktor, dan biasanya dapat
berupa kepentingan, ideologi, dan konstruksi mengenai suatu rival yang harus dihadapi
bersama.17
Dalam tulisan ini konsep triangular diplomacy yang digunakan sebagai kerangka
analisa akan diaplikasikan dengan cara menelusuri secara historis ketiga arus interaksi
antara negara Indonesia dan Malaysia untuk memahami bagaimana kedua negara dapat
bekerjasama menghadapi hambatan ekspor kelapa sawit meskipun kedua negara saling
berkompetisi. Pertama, interaksi dimana Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia
menjalin hubungan diplomasi yang terkait dengan kerjasama di bidang industri kelapa
sawit. Kedua, interaksi dimana korporasi Indonesia dan Malaysia menjalin hubungan
bisnis dalam sektor industri kelapa sawit. Ketiga, interaksi antara pemerintah dan
korporasi yang terkait dengan perekonomian sektor industri kelapa sawit.

17
John M. Stopford, Susan Strange, dan John S. Henley, Rival States. Rival Firms: Competition for world
market share, hal. 22-23.
6

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Government - Government


Industri kelapa sawit mengalami pertumbuhan yang pesat selama beberapa tahun
terakhir. Permintaan akan minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dari negara-negara
maju terus bertambah seiring dengan peningkatan permintaan akan kebutuhan sumber
bahan makanan nabati yang lebih sehat dan alternatif bahan bakar ramah lingkungan.
Indonesia dan Malaysia adalah 2 negara produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Indonesia mengekspor 15,7 juta ton sedangkan Malaysia 15,1 juta ton. Sementara Cina,
India, dan Uni Eropa adalah 3 negara importir minyak sawit dalam jumlah yang cukup
besar. Total produksi minyak sawit dunia meningkat hampir tiga kali lipat selama 3
dasawarsa terakhir hingga 2009. Pada 2009/10, total produksi minyak sawit diperkirakan
45,1 juta ton, dengan Indonesia dan Malaysia mencapai lebih dari 85 persen total dunia.
Indonesia dan Malaysia masing-masing memproduksi lebih dari 18 juta ton minyak
sawit18.

18
Manfaat Minyak Sawit Bagi Perekonomian Indonesia, Laporan World Growth, Februari 2011, hal. 7.
Diakses melalui: http://worldgrowth.org/site/wp-content/uploads/2012/06/WGIndonesian Palm_Oil
Benefits_Bahasa_Report-2_11.pdf pada tanggal 13 Mei 2017
7

Di Uni Eropa bertambahnya penggunaan bahan bakar biodiesel mempengaruhi


peningkatan permintaan terhadap minyak sawit. Biasanya negara-negara maju
menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi alternatif. Untuk mengurangi
bahaya lingkungan yang dapat ditimbulkan dari fosil, pemerintah negara-negara maju
mulai mencari minyak nabati sebagai pengganti fosil. Peningkatan permintaan terhadap
sumber energi nabati ini diperkirakan akan memicu naiknya permintaan minyak sawit.
Investasi untuk memperbesar kapasitas pengolahan biodiesel semakin meningkat;
Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah mengeluarkan kebijakan untuk
mengembangkan industri biodiesel dan menargetkan alokasi 6 juta ton minyak sawit
untuk industri itu setiap tahun19
Melihat tingginya potensi pasar dan keuntungan ekonomi yang didapatkan dari
pengolahan dan ekspor kelapa sawit, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk bekerja sama
dalam industri kelapa sawit. Kerja sama ini dilakukan untuk meningkatkan produksi
kelapa sawit, terutama dalam hal pengembangan lahan, investasi, dan tenaga kerja
produksi kelapa sawit yang banyak menggunakan tenaga manusia. Adapun kesepakatan
yang dilakukan oleh kedua negara terkait dengan komoditas kelapa sawit adalah
dengan adanya nota kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) yang
ditandatangani pada tahun 2006, 2008, dan 201020.
Pada tahun 2006 Perdana Menteri Malaysia Mohamamad Najib dan Wakil
Presiden RI, Jusuf Kalla bertemu untuk membicarakan permasalahan ekonomi kedua
negara, diantaranya mengenai usaha untuk meningkatkan nilai tambah di bidang kelapa
sawit. Najib mengatakan bahwa Malaysia memiliki dua kekuatan yakni modal dan
teknis, sedangkan Indonesia juga memiliki dua kekuatan yakni, luasnya lahan yang
tersedia dan tenaga kerja21. Kerja sama akan difokuskan pada bagaimana menyatikan
sinergi dari kekuatan tersebut. MoU pertama Indonesia-Malaysia kemudian
ditandatangani pada 26 Mei 2006. Dalam MoU tersebut kedua negara membahas
mengenai harga minyak sawit.

19
Ibid. hal.8
20
Al-Kharitza Rahman Hakim, Kerja sama Ekonomi Bilateral Indonesia dan Malaysia dalam Industri Kelapa
Sawit Tahun 2006-2010. Program Studi Ilmu Komunikasi Peminatan/Konsentrasi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, 2014. Diakses
melalui: http://eprints.upnjatim.ac.id/6256/1/file1.pdf pada tanggal 13 Mei 2017
21
RI-Malaysia Sepakat MoU Soal Tenaga Kerja Informal, Rabu, 29 Maret 2006. Diakses melalui:
http://www.antaranews.com/berita/30885/ri-malaysia-sepakat-mou-soal-tenaga-kerja-informal pada tanggal 14
Mei 2017
8

Pada tahun 2008 Indonesia dan Malaysia menghadapi tudingan miring mengenai
penanaman dan pengolahan kelapa sawit. Kerjasama Indonesia-Malaysia diawali dengan
membuat kegiatan World Sustainable Palm Oil Conference di London pada September
2008. Kegiatan ini diwakili oleh dua menteri dari masing-masing negara, yang diakhiri
dengan joint press conference. Setelah itu MoU kedua ditandantangani pada 6 November
2008 mengenai pengurangan produksi melalui peremajaan tanaman. Sayangnya
kerjasama ini terhenti dalam waktu yang cukup lama. Pada tahun 2010 pembicaraan
mengenai produksi kelapa sawit muncul kembali. Kedua negara sepakat menandatangani
MoU yang berisi tentang pembuatan gugus tugas untuk menyuarakan kepentingan
bersama, bahwa produsen sawit telah melakukan praktik terbaik dalam pengembangan
industri sawit berkelanjutan.
Sementara kesepakatan tahun 2010 lebih komprehensif karena melibatkan petani.
Kesepakatan itu dinyatakan dalam nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit
Malaysia (Malaysian Palm Oil Association/MPOA), Asosiasi Petani Kelapa Sawit
Indonesia (Apkasindo), Asosiasi Pemilik Perkebunan Minyak Kelapa Sawit Serawak
(SOPPOA), Federal Land Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor
Perkebunan Malaysia di Indonesia (APIMI). Para produsen CPO sepakat untuk bekerja
sama untuk menentukan harga pasar CPO, mengatasi tekanan pasar internasional
mengenai pembangunan industri sawit lestari, dan reduksi emisi gas rumah kaca22.
Pada 11 Oktober 2015 pihak Indonesia dan Malaysia kembali bertemu untuk
membicarakan perkembangan industri kelapa sawit. Pertemuan ini juga bertujuan untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang pada tahun 2006 dan 2008 belum dapat
direalisasikan. Akan tetapi yang lebih penting langkah ini diambil Indonesia dan
Malaysia untuk membicarakan kepentingan nasional kedua negara terkait harga minyak
sawit yang sejak tahun 2014 silam tidak menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Walaupun
di pasar global, perusahaan kedua negara bersaing ketat untuk memasarkan CPO dan
produk turunannya, Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat kerjasama di sektor
kelapa sawit melalui pembentukan dewan bersama dan kawasan Zona Ekonomi Hijau
atau Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ). Kedua negara pun bersepakat untuk
membentuk Dewan Produsen Minyak Sawit atau Council Palm Oil Producing Countries

22
RI-Malaysia Sepakat Bekerja Sama, 18 Oktober 2010. Diakses melalui:
http://www.indonesiaeximbank.go.id/news-events/news/ri-malaysia-sepakat-bekerja-sama pada tanggal 14 Mei
2017
9

(CPOPC), menyelaraskan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dengan


Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) dan melakukan promosi bersama minyak sawit
berkelanjutan.
Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan pertemuan bilateral antara Menko Bidang
Kemaritiman Indonesia dan Menteri Perindustrian Indonesia dengan Menteri
Perusahaan, Perladangan dan Komoditi Malaysia. Kedua belah pihak sepakat untuk
meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit melalui hilirisasi, di antaranya untuk
menghasilkan biodiesel dan oleokimia23. Seperti press release yang dikeluarkan oleh
Kemenperin, melalui CPOPC Indonesia dan Malaysia akan membentuk kesekretariatan
bersama di Jakarta yang diharapkan akan mulali berjalan pada Januari 2017. Lembaga
tersebut juga akan membuat standardisasi operasional industri hulu dan hilir. Industri
hilir sendiri diperhitungkan akan membawa keuntungan yang tinggi untuk Indonesia dan
Malaysia sehingga pemerintah kedua negara akan mengembangkan kawasan industri
hilir ini.
Tujuan dari pengelolaan kawasan tersebut adalah hasil olahan yang memenuhi
kriteria internasional. Selama ini Indonesia dan Malaysia hanya memikirkan produksi di
hulu saja tanpa memikirkan nilai tambah yang bisa dihasilkan dari pengolahan di industri
hilir. Menurut pemerintah Malaysia peningkatan nilai tambah di industri hilir ini dapat
berkembangkan jika kedua negara saling melengkapai kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Malaysia lebih unggul di bidang keahlian sdangkan Indonesia
diuntungkan dengan ketersediaan lahan yang luas. Salah satu hasil olahan industri hilir
yang direncanakan kedua negara adalah oleokimia. Sementara untuk POGEZ
direncanakan akan dikembangkan di Kawasan Industri Dumai, Riau, Kawasan industri
Bontang, Kalimantan Timur, dan Kawasan Industri Sei Mangkai. Sedangkan di Malaysia
POGEZ akan dikembangkan di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis. Melalui kerja
sama ini Indonesia dan Malaysia berharap negara-negara pengembang kelapa sawit juga
ikut bergabung seperti Brazil, Nigeria, Pantai Gading dan Thailand.
Pada tahun 2017 Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk menerapkan
prinsip kerja dagang yang sehat. Langkah tersebut merupakan tanggapan atas hasil
resolusi Parlemen Uni Eropa. Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi soal sawit dan
pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dinilai masih menciptakan banyak masalah

23
Indonesia-Malaysia Bentuk Lembaga Peningkat Nilai Tambah Industri Sawit, Siaran Pers Kementrian
Perindustrian Republik Indonesia. Diakses melalui: http://www.kemenperin.go.id/artikel/15986/Indonesia-
Malaysia-Bentuk-Lembaga-Peningkat-Nilai-Tambah-Industri-Sawit pada tanggal 13 Mei 2017
10

lingkungan. Menurut resolusi tersebut sawit di Indonesia masih menciptakan banyak


masalah mulai dari deforestasi, korupsi, pekerja anak-anak, sampai pelanggaran hak
asasi manusia (HAM)24. Indonesia oleh parlemen Uni Eropa bahkan dilarang untuk
mengekspor sawit dan biodiesel ke negara lain. Pihak Indonesia menganggap keputusan
parlemen Uni Eropa tidak adil lantaran dalam industri minyak nabati di Uni Eropa
sendiri, proses produksinya tidak jauh berbeda dengan produksi minyak sawit di
Indonesia. Sehingga jika minyak sawit Indonesia masih dipermasalahkan dengan adanya
resolusi tersebut, maka bisa dianggap Uni Eropa menerapkan prinsip dagang yang tidak
sehat karena hanya ingin produk minyak nabati dalam negerinya saja yang bisa
diperdagangkan.

2.2. Corporate - Corporate


Untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara perusahaan Malaysia dan Indonesia
perlu kita melihat kembali seberapa penting Indonesia bagi perusahaan sawit Malaysia
dan sebaliknya. Terutama dalam pengguanaan lahan yang begitu luas oleh perusahaan
Malaysia. Hal ini telah mendorong kedua negara Indonesia dan Malaysia membentuk
kerjasama di bidang sawit yang bertujuan menantang kampanye negatif Uni Eropa.
Tentu kerjasama ini di pengaruhi oleh adanya kepentingan perusahaan Malaysia yang
memiliki lahan perkebunan sawit di Indonesia. Perusahaan raksasa sawit Malaysia
seperti Ghutrie memiliki lahan sawit yang sangat luas di Indonesai dimana sebagian
besar telah mengakuisisi lahan yang dimiliki oleh Salim Grup yang mengusai lahan sawit
terbesar di Indonesia hingga 1.1 juta hektar25. Sehingga perusahaan Malaysia yang
memiliki porsi lahan sawit di ndonesia juga menjadi pemicu terjadinya kerjasama
bilateral di sektor sawit. Berikut adalah bebarapa perusahan multinasional malaysia yang
memiliki perkebunan Sawit di Indonesia26.

24
Elisa Valenta Sari, Indonesia Berduet Dengan Malaysia Lawan Resolusi Sawit Eropa, 17 April 2017
(http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170417140734-92-208068/indonesia-berduet-dengan-malaysia-
lawan-resolusi-sawit-eropa/ diakses 13 Mei 2017)
25Purwantoro R. Nugroho, Sekilas Pandang Industri Sawit, hlm. 4. Diakses dari
<http://www.lmfeui.com/data/Sekilas%20Pandang%20Industri%20Sawit.pdf> pada 15 Mei 2017
26Kumpulan Guthrie Berhad. 2006. Annual report. Diakses melalui
<http://www.simedarby.com/downloads/pdfs/KGB/Annual_Report/2006/GUTHRIE-AnnualReport2006.pdf> pada 15 Mei
2017
Sime Darby Group. 2016. Annual report. Deakses melalui
<http://www.simedarby.com/clients/simedarby_group/assets/contentMS/img/template/editor/Sime%20Darby%20Annual%2
0Report%202016%20(2).pdf> pada 15 Mei 2017
United Plantation Berhad. 2016. Annual report. Diakses melalui
<http://www.unitedplantations.com/Files/PDF/Announcements/Annual%20Report%202016%20.pdf> pada 15 Mei 2017
11

Nama Perusahaan Subsidiary dan Total plantation CPO mill


lokasi di Indonesia

Guthrie Berhad PT Guthrie Pecconina


Indonesia Indonesia

Pt Minamas Gemilang

Pt Anugerah Sumber 170,511 ha 641,355 ton


Makmur

(24 anak Usaha di


Sumatra dan
Kalimantan)

Sime Darby Group Sime Darby 204,800 ha


Plantation Berhad 294,862 ha land bank

United Plantation PT. Surya Sawit Sejati 16,154 ha


Berhad (kalimantan)

Kulim Berhad Sumatra dan 116,000 ha


kalimantan (14 anak
usaha)
Dari kutipan surat kabar juga dijelaskan bahwa investor Malaysia hingga saat
menguasai setidaknya 2 juta hektar dari total 11,611 juta ha27 lahan sawit di berbagai
wilayah di Indonesia28.
Hampir semua pemain utama industri sawit Malaysia berkebun di Indonesia,
sepertiKumpulan Guthrie Berhad (gabungan Guthrie), Golden Hope dan Sime
Darby, KL Kepong, IOI, TH Plantation, Kulin bahkan BUMN investasi Malaysia
Grup Khazanah Berhad. Pemerintah Malaysia pun memiliki saham di Gutrie
melalui lengan investasi Permodalan Nasional Berhad.

Kulim Berhad. 2015. Intergrated Annual Report. Diakses melalui <http://www.kulim.com.my/files/pdf/IAR2015.pdf> pada
15 Mei 2017
27
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2015. Statistik Perkebunan Indonesia- Kelapa Sawit 2014-2016. Diakses
melalui < http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik/2016/SAWIT%202014-2016.pdf>
pada 21 Mei 2017
28
Abdullah Bachttiar (2015), Indonesia Ingin kuasai Hilir Sawit Dunia
<http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2232857/indonesia-ingin-kuasai-industri-hilir-sawit-dunia> diakses
tanggal 13 Mei 2017
12

Hampir semua pemain utama industri sawit Malaysia masuk ke Indonesia.


Seperti Kumpulan Guthrie Berhad (Guthrie, Golden Hope, Sime Darby), KL
Kepong, IOI, TH Plantations, dan Kulim. Bahkan, Grup Khazanah Berhad,
lengan investasi keuangan UMNO juga merambah bisnis sawit di Indonesia.
Selain aktif mengakuisisi perusahaan sawit lokal berskala kecil (di bawah 3.000
ha) dan skala menengah (3.000-10.000 ha), investor Malaysia menempuh pola
nonakuisisi dengan melakukan kerjasama operasi (KSO) dengan BUMN
perkebunan sawit
Investor Malaysia agresif mengakuisisi perusahaan lokal bersaka kecil (di bawah
3.000 hektare), skala menengah (di atas 3.000- 10.000 hektare) kadang
melakukan kerja sama operasional KSO dengan BUMN sawit. Kuala lumpur kini
menjadi pasar spot CPO di kawasan Asia Tenggara, karena produksi CPO
Indonesia Malaysia menguasai pasar CPO dunia.29
Dari komposisi penguasaan lahan sawit di Indonesia oleh pelaku bisnis Malaysia
bisa diketahui bahwa Malaysia juga memililki kepentingan besar dalam sektor CPO yang
menjadi komoditas penting bagi ekspor Malaysia. Oleh sebab itu hal ini menjadi
motivasi dalam menjalin kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dalam menjawab
kampanye negatif yang dijalankan oleh Uni Eropa terhadap CPO.
Jika dilihat dari sisi perusahaan swasta nasional Indonesia yang bekerjasama
dengan pihak asing, hingga saat ini ada sekitar 6.1 juta hektar lahan sawit dimiliki oleh
pihak asing dan swasta nasional..30 Dimana 2 juta hektar adalah hasil kerjasama antara
perusahaan swasta Indonesia dan swasta atau perusahaan negara Malaysia. Hal ini
menjelaskan bagaimana relasi kepentingan antara swasta nasional dengan pihak asing.
Kerjasama yang dilakukan dengan pihak Asing termasuk Malayasia telah membawa
untung bagi ribuan kontraktor lokal dalam menggarap lahan sawit ynag dimiliki oleh
hasil kerjasama asing dan swasta nasional.
Dari kepemilikan lahan oleh pihak swasta Malaysia juga bisa di pahami bahwa
adanya relasi kepentingan antara swasta Malaysia dan pemerintah Indonesia. Hingga saat
ini dari hasil kerjasama sektor sawit dengan pihak asing telah menyerap tenaga kerja
hingga 3 juta penduduk Indonesia. Dari hasil kerjasama dengan pihak Malaysia saja telah
menyerap tenaga kerja hingga 1 juta penduduk Indonesia. Tidak hanya itu aktivitas
29Ibid
30
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2015. Statistik Perkebunan Indonesia- Kelapa Sawit 2014-2016. Diakses
melalui < http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik/2016/SAWIT%202014-2016.pdf>
pada 21 Mei 2017
13

perusahaan Malaysia yang ada di Indonesia telah menambah nilai ekspor minyak kelapa
sawit Indonesia dan juga memberikan masukan pajak bagi Indonesia.31 Kerjasama yang
terbentuk di sektor sawit antar swasta nasional dan swasta Malaysia tidak hanya
menguntungkan bagi Malaysia, akan tetapi ini juga memenuhi kebutuhan penyerapan
tenaga kerja di Indonesia.
Dari sudut pandang dipomasi ekonomi bisa dikatakan bahwa kedekatan Indonesia
dan Malaysia digerakkan karena adanya kepentingan bersama, yaitu kepentingan dalam
ekspor CPO. Indonesia membutuhkan investasi asing untuk memajukan sektor
perkebunan sawit, dan menciptakan lapangan kerja bagi kontraktor lokal dan juga bagi
penduduk setempat. Di sisi lain Malaysia memiliki kepentingan ekspansi bisnis sektor
kelapa sawit untuk menjadi leader di sektor CPO dan menunjang perekonomian
nasionalnya. Oleh sebab itu kedekatan Indonesia dan Malaysia di sektor sawit dalam
menghadi kampanye negatif Eropa merupakan diplomasi ekonomi bilateral antar kedua
negara.

2.3. Government-Corporate
Hubungan antara pemerintah dengan korporasi merupakan hubungan ekonomi politik
yang kompleks. Sebagai aparatur negara, pemerintah memiliki kewajiban dalam aspek
ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat suatu negara. Sementara
korporasi, baik privat maupun milik negara, memiliki fungsi dan peran sebagai
penggerak sistem perekonomian dan memiliki tujuan untuk mencari keuntungan serta
kekayaan. Hubungan antara pemerintah dan korporasi merupakan hubungan
interdependensi atau hubungan saling ketergantungan satu sama lain. Pada satu sisi
pemerintah membutuhkan korporasi sebagai penggerak sistem perekonomian, lapangan
pekerjaan serta sumber penghidupan bagi rakyat, dan sumber pajak serta pendapatan
negara. Pada sisi lain, korporasi membutuhkan pemerintah sebagai regulator, pelindung
serta pengawas persaingan usaha, dan jembatan politik untuk melakukan ekspansi.
Dalam hubungan interdependensi tersebut, maka jelas bahwa korporasi dan pemerintah
akan selalu saling membutuhkan satu sama lain.
Dalam hubungan interdependensi antara korporasi dan pemerintah, keduanya
sama-sama memiliki kepentingan atas pengembangan dan keberlanjutan industri minyak
kelapa sawit. Sebagai regulator dan arah pembangunan, pemerintah memiliki peran

31
Ibid
14

untuk mendorong dan memfasilitasi pembangunan industri dengan menyiapkan


inifrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebagai negara
berkembang, Indonesia dan Malaysia lebih banyak memproduksi komoditas industri
minyak kelapa sawit pada bagian hulu, atau penyedia bahan mentah. Untuk
meningkatkan nilai produksi dan menumbuhkan perekonomian maka industri harus
dikembangan. Tidak hanya pada bagian hulu, industri minyak kelapa sawit perlu untuk
dikembangkan hingga ke bagian hilir dan mampu memproduksi produk turunan yang
merupakan pengolahan dari komoditi kelapa sawit. Pengembangan industri hilir salah
satunya diperuntukkan untuk proses produksi oleokimia. Perusahaan multisektor
nasional Rajawali Corpora dari Indonesia direncanakan untuk membangun pusat
produksi oleokimia bekerja sama dengan operator perkebunan sawit Malaysia, Felda
Global Ventures Holdings Bhd32. Sebelumnya perusahaan Malaysia ini bersama dengan
PT Eagle High Plantations Tbk sudah mengajukan proposal kepada pemerintah
Indonesia untuk menggali peluang di sektor hilir.
Selain pembangunan dan pengembangan industri, pemerintah sebagai regulator
juga dapat mengatur dan menjamin kualitas suatu produk dalam standar tertentu. Dari
segi politik, regulasi dan standarisasi suatu produk dapat membangun citra dari produk
tersebut. Dalam konteks kelapa sawit, baik pemerintah Indonesia maupun Malaysia telah
membangun hubungan dengan korporasi, baik kepada Gabungan Pengusaha Kelapa
Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Malaysia (Malaysian Palm
Oil Association/MPOA, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asosiasi
Pemilik Perkebunan Minyak Kelapa Sawit Serawak (SOPPOA), Federal Land
Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor Perkebunan Malaysia di
Indonesia (APIMI). Sejak 2010, kerjasama yang dibangun antara pemerintah dengan
korporasi telah menghasilkan kesepakatan untuk menetapkan berbagai standarisasi guna
mengatasi tekanan pasar internasional mengenai pembangunan industri sawit lestari, dan
reduksi emisi gas rumah kaca33.

32
Ade Irma Junida, Indonesia Malaysia Diyakini Teraju Industri Hilir Kelapa Sawit, Antara News, Jumat, 31
Juli 2015. Diakses melalui: http://www.antaranews.com/berita/509908/indonesia-malaysia-diyakini-teraju-
industri-hilir-kelapa-sawit pada tanggal 13 Mei 2017
33
RI-Malaysia Sepakat Bekerja Sama, 18 Oktober 2010. Diakses melalui:
http://www.indonesiaeximbank.go.id/news-events/news/ri-malaysia-sepakat-bekerja-sama pada tanggal 14 Mei
2017.
15

BAB III
KESIMPULAN

Dalam permasalahan yang terjadi terkait pelarangan ekspor atas industri kelapa sawit
Indonesia dan malaysia ke Uni-Eropa baik secara komoditas kelapa sawit itu sendiri ataupun
bahan turunan. Indonesia dan malaysia melakukan sebuah upaya kerjasama untuk melakukan
perjuangan terhadap kasus pelarangan ekspor ke Uni-Eropa.
Dalam menanghadapi hambatan ekspor penulis mencoba menelaah mengunakan
pendekatan tringular diplomacy, dimana adanya peranan Pemerintah Pemerintah,
Pemerintah Swasta, dan Swasta- Swasta. Antara Indonesia dan Malaysia.
Pemerintah pemerintah, adanya peran Pemerintah Indonesia dan malaysia setuju
untuk mengadakan sebuah kerjasama bilateral, di dalam forum CPOPC untuk
memperjuangkan produksi sawit yang dinilai oleh Uni-Eropa adanya pelanggaran HAM di
dalam porduksi sawit tersebut
Pemerintah - korporasi, dalam hubungan pemerintah dan korporasi merupakan
sebuah hubungan ekonomi politik yang kompleks. Sebagai aparatur negara, pemerintah
memiliki kewajiban dalam aspek ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat
suatu negara. Sementara korporasi, baik privat maupun milik negara, memiliki fungsi dan
peran sebagai penggerak sistem perekonomian dan memiliki tujuan untuk mencari
keuntungan serta kekayaan. Hubungan antara pemerintah dan korporasi merupakan hubungan
interdependensi atau hubungan saling ketergantungan satu sama lain. Pada satu sisi
pemerintah membutuhkan korporasi sebagai penggerak sistem perekonomian, lapangan
pekerjaan serta sumber penghidupan bagi rakyat, dan sumber pajak serta pendapatan negara.
Pemerintah sebagai regulator juga dapat mengatur dan menjamin kualitas suatu
produk dalam standar tertentu. Dari segi politik, regulasi dan standarisasi suatu produk dapat
membangun citra dari produk tersebut. Dalam konteks kelapa sawit, baik pemerintah
Indonesia maupun Malaysia telah membangun hubungan dengan korporasi, baik kepada
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit
Malaysia (Malaysian Palm Oil Association/MPOA, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia
(Apkasindo), Asosiasi Pemilik Perkebunan Minyak Kelapa Sawit Serawak (SOPPOA),
Federal Land Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor Perkebunan Malaysia
di Indonesia (APIMI). Sejak 2010, kerjasama yang dibangun antara pemerintah dengan
korporasi telah menghasilkan kesepakatan untuk menetapkan berbagai standarisasi guna
16

mengatasi tekanan pasar internasional mengenai pembangunan industri sawit lestari, dan
reduksi emisi gas rumah kaca.
korporasi korporasi, perusahaan Indonesia dan Malaysia menciptakan kepentingan
yang saling membutuhkan. Dimana perusahaan Malaysia memiliki lahan sawit yang sangat
luas di Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia negara yang sangat krusial bagi produksi
sawit perusahaan Malaysia. Investasi swasta Malaysia pada sektor sawit Indonesai yang
mencapai 2 juta hektar merupakan asset yang sangat berharga bagi perusahaan induk
Malaysia. Dimana secara tidak langsung Indonesia menyumbang hasil produksi sawit bagi
perusahaan Malaysia hampir 7 juta ton per tahun. Hal ini merupakan sebuah hubungan yang
tidak bisa dipisahkan antara perusahaan induk Malaysia dan perusahaan afiliasi yang ada di
Indonesia. Sehingga ini menjadi kebutuhan perusahaan Malaysia yang telah berinvestasi di
Indonesia. Disisi lain dari aktivitas korporasi Malaysia juga memberi kontribusi besar bagi
pertumbuhan kontraktor sawit lokal dan juga penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Hingga
saat ini Perusahaan Malaysia dan afiliasinya di Indonesia telah menyerap tenaga kerja hapir
satu juta jiwa, baik secara langsung maupun melalui perusahaan mira. Sehingga bisa
disimpulkan bahwa aktivitas perusahaan Malaysia di Indonesia menjadi pemicu terbentuknya
kerjasama di sektor sawit antara Indoensia dan Malaysia dalam menjawab kampanye negatif
dari uni Eropa
17

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Pye, Oliver and Jayati Nhattacharya. Palm Oil Controversy in Southeast Asia. Singapura:
ISSEAS Publishing, 2013
Stopford,John M dan Susan Strange, dan John S. Henley, Rival States. Rival Firms:
Competition for world market share (New York: Cambridge University Press, 1991)

Media Online
Accenture for Humanity United, Eksploitative Labor Practice in the Global Palm Oil
Industry, 2013. Diakses melalui
http://humanityunited.org/pdfs/Modern_Slavery_in_the_Palm_Oil_Industry.pdf

______. MEPs vote to ban the use of palm oil in biofuels, The Guardian 4 April 2017.
Diakses melalui https://www.theguardian.com/sustainable-business/2017/apr/04/palm-oil-
biofuels-meps-eu-transport-deforestation-zsl-greenpeace-golden-agri-resources-oxfam

Amnesty International, Trapped: The Exploitation of Migrant Workers in Malaysia, 2010.


Diakses melalui https://www.amnesty.org/en/documents/ASA28/002/2010/en/

Annual report. Kumpulan Guthrie Berhad. 2006. Diakses melalui


<http://www.simedarby.com/downloads/pdfs/KGB/Annual_Report/2006/GUTHRIE-
AnnualReport2006.pdf>

Annual report. United Plantation Berhad. 2016.Diakses melalui


<http://www.unitedplantations.com/Files/PDF/Announcements/Annual%20Report%202016
%20.pdf> pada 15 Mei 2017

Berhad, Kulim. 2015. Intergrated Annual Report. Diakses melalui


<http://www.kulim.com.my/files/pdf/IAR2015.pdf>

Bachttiar, Abdullah. 2015. Indonesia Ingin kuasai Hilir Sawit Dunia


<http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2232857/indonesia-ingin-kuasai-industri-hilir-sawit-
dunia>

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2015. Statistik Perkebunan Indonesia- Kelapa Sawit 2014-
2016. Diakses melalui <
http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik/2016/SAWIT%202014-
2016.pdf>

Document No: P8_TA-PROV(2017)0098, European Parliament resolution of 4 April 2017


on palm oil and deforestation of rainforests. Diakses melalui
http://www.europarl.europa.eu/sides/getDoc.do?pubRef=-//EP//NONSGML+TA+P8-TA-
2017-0098+0+DOC+PDF+V0//EN.

Eye on the competition, The Star Online 3 December 2016. Diakses melalui
http://www.thestar.com.my/business/business-news/2016/12/03/eye-on-the-competition/
18

Hakim, Al-Kharitza Rahman, Kerja sama Ekonomi Bilateral Indonesia dan Malaysia dalam
Industri Kelapa Sawit Tahun 2006-2010. Program Studi Ilmu Komunikasi
Peminatan/Konsentrasi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, 2014. Diakses melalui:
http://eprints.upnjatim.ac.id/6256/1/file1.pdf

Indonesia-Malaysia Bentuk Lembaga Peningkat Nilai Tambah Industri Sawit, Siaran Pers
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. Diakses melalui:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/15986/Indonesia-Malaysia-Bentuk-Lembaga-Peningkat-
Nilai-Tambah-Industri-Sawit

Indonesia, Malaysia launch efforts to counter EU palm oil resolution, Retuters 11 April
2017. Diakes melalui http://www.reuters.com/article/us-indonesia-malaysia-eu-palmoil-
idUSKBN17E094

International Labor Rights Watch and Sawit Watch, Empty Assurances, 2013. Diakses
melalui http://www.laborrights.org/stop-child-forced-labor/resources/empty-assurances
Forest Watch Indonesia/Global Forest Watch (FWI/GFW). The State of the Forest:
Indonesia. (Bogor, Indonesia, and Washington, DC. 2002)

Laporan World Growth, Manfaat Minyak Sawit Bagi Perekonomian Indonesia, Februari
2011, hal. 7. Diakses melalui: http://worldgrowth.org/site/wp-
content/uploads/2012/06/WGIndonesian Palm_Oil Benefits_Bahasa_Report-2_11.pdf

Nelsen, Arthur. Greenpeace blockades IOI palm oil refinery in Rotterdam port, The Guardian
27 September 2016. Diakses melalui:
https://www.theguardian.com/environment/2016/sep/27/greenpeace-blockades-ioi-palm-oil-
refinery-rotterdam-port.

______. MEPs vote to ban the use of palm oil in biofuels, The Guardian 4 April 2017.
Diakses melalui https://www.theguardian.com/sustainable-business/2017/apr/04/palm-oil-
biofuels-meps-eu-transport-deforestation-zsl-greenpeace-golden-agri-resources-oxfam

Nugroho, Purwantoro R. Sekilas Pandang Industri Sawit, hlm. 4. Diakses dari


<http://www.lmfeui.com/data/Sekilas%20Pandang%20Industri%20Sawit.pdf>

Malaysia, Indonesia to counter EU decision to ban palm oil-based biofuel, The Star Online
26 April 2017.
at http://www.thestar.com.my/business/business-news/2017/04/26/malaysia-and-indonesia-
to-counter-eu-resolution-to-phase-out-biofuel-usage/#S8qBzVASwLuShzbO.99

Rainforest Rescue, Tell the palm oil industry: Orangutans are no pests!, Rainforest Rescue
Campaign on May 22, 2014. Diakses melalui https://www.rainforest-
rescue.org/petitions/815/tell-the-palm-oil-industry-orangutans-are-no-pests.

RI-Malaysia Sepakat MoU Soal Tenaga Kerja Informal, Rabu, 29 Maret 2006. Diakses
melalui: http://www.antaranews.com/berita/30885/ri-malaysia-sepakat-mou-soal-tenaga-
kerja-informal
19

Sari, Elisa Valenta. Indonesia Berduet Dengan Malaysia Lawan Resolusi Sawit Eropa, 17
April 2017 (http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170417140734-92-208068/indonesia-
berduet-dengan-malaysia-lawan-resolusi-sawit-eropa/

Sime Darby Group. 2016. Annual report. Deakses melalui


<http://www.simedarby.com/clients/simedarby_group/assets/contentMS/img/template/editor/
Sime%20Darby%20Annual%20Report%202016%20(2).pdf>

United Plantation Berhad. 2016. Annual report. Diakses melalui


<http://www.unitedplantations.com/Files/PDF/Announcements/Annual%20Report%202016
%20.pdf> pada 15 Mei 2017

Ade Irma Junida, Indonesia Malaysia Diyakini Teraju Industri Hilir Kelapa Sawit, Antara
News, Jumat, 31 Juli 2015. Diakses melalui:
http://www.antaranews.com/berita/509908/indonesia-malaysia-diyakini-teraju-industri-hilir-
kelapa-sawit
RI-Malaysia Sepakat Bekerja Sama, 18 Oktober 2010. Diakses melalui:
http://www.indonesiaeximbank.go.id/news-events/news/ri-malaysia-sepakat-bekerja-sama