Anda di halaman 1dari 2

Pergeseran Paradigma Dari Job Seekers Ke Job Creators

Pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh,
sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan keterampilan sebagai wirausaha. Pendidikan
kewirausahaan dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan pendidikan yang
dilakukan oleh dosen dan mahasiswa secara bersama-sama dalam komunikasi pendidikan sehingga
diharapkan akan memviptakan mindset sebagai seorang pencipta kerja (job creator). Berikut ini adalah
strategi mengubah paradigm dari Job Seeker menjadi Job creator.

1. Keluarga Membangun Kultur Berwirausaha

Kultur (budaya) berwirausaha suatu keluarga atau suku atau golongan bahkan bangsa
sangat berpengaruh terhadap kemunculan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh. Kultur
berwirausaha tidak dapat ditanamkan dalam sekejap. Memerlukan waktu cukup banyak untuk
membangun kultur kewirausahaan. Setiap keluarga harus menanamkan jiwa wirausaha sejak
dini dalam diri anak-anak mereka.
Kultur beberapa suku di Indonesia memang menggunakan profesi wirausaha sehingga
banyak wirausaha tangguh yang berasal dari suku tesebut. Namun secara umum kultur
masyarakat Indonesia masih menggunakan profesi yang relatif tanpa resiko misalnya menjadi
pegawai negeri, bekerja di perusahaan besar. Pilihan lebih banyak berada pada kuadrat kangan
(employee.lihat.robert kiyosaki).

2. Penciptaan Iklim Usaha

Era krisis moneter yang melanda Indonesia awal tahun 1997 menyebabkan banyak
industry besar tumbang. Usaha skala kecil sulit tumbuh. Hal ini membuat pemerintah Indonesia
kebingungan mengatasinya dikarenakan berkaitn dengan timpangnya struktur usaha (industri)
yang terlalu memihak pada industri besar.
Peran pemerintah ini juga bukan pada pemberian modal, tetapi lebih pada membina
kemampuan industri kecil dam membuat suatu kondisi yang memdorong kemampuan industri
kecil dalam mengakses modal, (Pardede, 2000). Atau dengan kata lain, pemerintah harus
membina kemampuan industri kecil dalam menghitung modal optimum yang di perlukan,
kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan kelembaga-lembaga pemberian modal, serta
mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak industri kecil dalam pemberian
kredit.

3. Pembenaan Dunia Pendidikan

Pola pikir para sarjana yang umumnya masih berorientasi untuk menjadi karyawan
harus diubah. Oleh karena itu peran lembaga pendidikan sebagai pusat inkubasi pembentukan
manusia Indonesia seutuhnya, perlu ditata kembali. Struktur kurikulum kita yang cenderung
menghasil lulusan yang siap pakai bukan lulusan yang siap menghasikan.
4. Optimalisasi Balai Pelatihan Kewirausahaan

Mengoptimalkan balai latihan kerja (BLK). Dengan mengoptimalkan blk maka,


kekurangan daya serap perguruan tinggi bias diantisipasi. Disebutkannya, saat ini BLK belum
begitu termaanfaatkan untuk mengatasi pengangguran. Begitu pula dengan BLK-BLK, banyak
yang belum berkembang dengan baik terutama dalam penyerapan para lulusan untuk masuk ke
dunia kerja saat in, yang saya lihat belum ada *erhatian pemerintah untuk pembenahan kea
rah itu.

5. Peningkatan Akses Modal

Pemerintah melalui lembaga perbankan dan keuangan diminta membuka akses modal
bagi calon wirausaha, karena selama ini mereka masih kesulitan mendapatkannya untuk
meningkatkan taraf hidup.

6. Pendamping Calon Wirausaha

Suatu hal yang tidak kalah pentinya adalah pendampingan yang dilakukan oleh lembaga
swadaya masyarakat, perbankan, konsultan, dan stakeholder lainnya sehingga
memberikan kemudahan serta pencerahan bagi para calon wirausaha. Seringkali
lemahnya pendampingan mengakibatkan modal usaha yang telah dibagikan kepada
calon wirausaha , tidak terpakai dengan baik. Para calon wirausaha lebih sering
melakukan konsumsi terhadap modal yang diberikan. Akibatnya, modal mereka terpakai
habis sedangkan usaha belum dapat berjalan dengan baik.