Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan
nasional. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Angka
kematian ibu pada tahun 1994 di Indonesia tercatat 390 ibu per 100.000 kelahiran hidup sedangkan
pada tahun 2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu dengan kehamilan
di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Pada setiap 2 jam terdapat satu ibu yang meninggal karena
melahirkan. Provinsi penyumbang kasus kematian ibu dengan kehamilan terbesar ialah Papua 730
per 100.000 kelahiran, Nusa Tenggara Barat 370 per 100.000 kelahiran, Maluku 340 per 100.000.
(Warta Demografi, tahun 2000).
Frekuensi mola pada umumnya pada wanita di asia lebih tinggi (1 atas 120 kehamilan) daripada
wanita di negara-negara barat (1 atas 2000 kehamilan).
Menurut Drake tahun 2006, insiden terjadi kehamilan mola yaitu 1-2 kehamilan per 1000 kelahiran
di Amerika Serikat dan Eropa. Sedangkan di Korea Selatan insiden kehamilan mola yaitu 40
kehamilan per 1000 kelahiran (Kim, 2004). Secara etnis wanita Filipina, Asia Tenggara dan
Meksiko, lebih sering menderita mola daripada wanita kulit putih Amerika. Faktor risiko
terjadinya mola yaitu usia ibu yang sangat muda (belasan tahun) dan usia 36 hingga 40 tahun.
Wanita dengan usia lebih dari 40 tahun memiliki risiko 7.5 kali lebih tinggi menderita kehamilan
mola, hal ini dikaitkan dengan kualitas sel telur yang kurang baik pada wanita usia tersebut.
Dari data di atas diatas meskipun ada kecenderungan menurun, tapi angka kematian ibu (AKI)
penduduk Indonesia masih relatif tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2003.
Tingginya angka kematian ibu diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: perdarahan,
toxemia gravidarum, dan infeksi. Salah satu dari ketiga faktor tersebut adalah perdarahan dan
perdarahan dapat terjadi pada wanita dengan mola hidatidosa. Melihat permasalahan diatas untuk
mencegah timbulnya masalah yang lebih kompleks pemerintah melakukan berbagai upaya
diantaranya: deteksi dini tanda-tanda kelainan pada kehamilan lewat antenatal care, pemanfaatan
pelayanan kesehatan dalam rangka meningkatkan kesehatan maternal disertai dengan pelayanan
rujukan terjangkau serta pencanangan gerakan sayang ibu (GSI). Selain upaya-upaya tersebut
diatas disini perawat mempunyai memegang peranan penting dengan memberikan Asuhan
keperawatan secara komprehensif melalui pendekatan proses keperawatan bio-psiko-sosio kulture
yang diantaranya meliputi: perbaikan keadaan umum pasien, evakuasi jaringan mola dengan
tindakan curettage, histerektomi, pengobatan profilaksis dengan sitostatika serta pengawasan
lanjut, Aspek psikososial juga diperlukan dan dipusatkan pada makna kehilangan bagi si ibu,
penjelasan yang seksama diberikan sesuai komplikasi yang mungkin terjadi di masa depan.
Melihat fenomena diatas dan untuk memenuhi tugas mata ajar Keperawatan Maternitas maka
dibuatlah makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Mola Hidatidosa.

B. Metode Penulisan
Adapun yang menjadi metode penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan yaitu
berasal dari sumber-sumber buku dan bahan-bahan dari internet yang berkaitan dengan makalah ini.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1) Tujuan umum
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang Mola Hidatidosa
dan ASKEP terkait klien dengan Mola Hidatidosa.
2) Tujuan khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah :
a) Untuk mengetahui pengertian Mola Hidatidosa
b) Untuk mengetahui etiologi dari Mola Hidatidosa
c) Untuk mengetahui manifestasi klinis terkait kasus Mola Hidatidosa
d) Untuk mengetahui patofisiologi terkait Mola Hidatidosa
e) Untuk mengetahui macam pemeriksaan penunjang terkait kasus klien dengan Mola
Hidatidosa
f) Untuk mengetahui macam komplikasi yang terjadi terkait kasus Mola Hidatidosa
g) Untuk mengetahui dan melakukan asuhan keperawatan terkait klien dengan kasus Mola
Hidatidosa.

1.1 Manfaat Penulisan


1.4.1 Bagi mahasiswa
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa guna menerapkan asuhan keperawatan pada ibu
hamil mola hidatidosa, sehingga dapat menambah pengalaman dan pemahaman mahasiswa
terhadap penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan mola hidatidosa.
1.4.2 Bagi Institusi pendidikan
Meningkatkan pengetahuan mengenai tinjauan pustaka dan penatalaksanaan asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan mola hidatidosaa di rumah sakit sehingga dapat menetapkan
prosedur tetap mengenai model asuhan keperawatan yang tepat digunakan pada ibu dengan
masalah mola hidatidosa.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Mola hidatidosa (atau hamil anggur) adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang
terbentuk akibat kegagalan pembentukan janin. Bakal janin tersebut dikenal dengan istilah mola
hidatidosa. Istilah hamil anggur digunakan karena bentuk bakal janin tersebut mirip dengan
gerombolan buah anggur. Mola hidatidosa juga dapat didefinisikan sebagai penyakit yang berasal
dari kelainan pertumbuhan calon plasenta (trofoblas plasenta) dan disertai dengan degenerasi
kistik villi serta perubahan hidropik. Trofoblas adalah sel pada bagian tepi ovum (sel telur) yang
telah dibuahi dan nantinya akan melekat di dinding rahim hingga berkembang menjadi plasenta
serta membran yang memberi makan hasil pembuahan.
Mola hidatidosa adalah kehamilan dengan ciri-ciri stroma villi korealis langka
vaskularisasi dan edematis.(Prof. Dr. Sarwono, 1997)
Mola hidatidosa adalah suatu keadaan patologi dari korion yang ditandai dengan:
- Degenerasi kritis dari villi disertai pembengkakan hidrofik
- Avaskularitas atau tidak adanya perubahan darah janin
- Proliferasi jaringan trofoblastik(Ben-Zion, 1994)
Mola hidatidosa adalah tumor jinak dari trofoblast dan merupakan kehamilan abnormal
dimana fetus tidak ditemukan tetapi hanya gelembung dan jaringan saja. Gelembung-gelembung
tersebut sebenarnya adalah villi chorialis yang berisi cairan sehingga tegang dan berbentuk buah
anggur. Kehamilan normal yang bersamaan dengan penyakit ini mungkin ditemukan walaupun
jarang.(Rustam E. Harahap, 1997)
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak
berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari villi korealis disertai dengan degenerasi
hidrofik.(Saifudin, 2000)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi korialis langka
vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan tetapi villi-villi yang membesar dan
edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah
anggur. Jaringan trofoblas pada villi kadang-kadang berproliferasi ringan kadang-kadang keras,
dan mengeluarkan hormon, yakni Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) dalam jumlah yang
lebih besar daripada kehamilan biasa. (Prawirohardjo, 2007)
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis memgalami perubahan berupa degenerasi
hidropik. Secara makroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung-
gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa
milimeter sampai 1 atau 2 cm. (Prawirohardjo, 2008).

B. Etiologi
Menurut Prof. Rustam Moechtar dalam bukunya Sinopsis Obstetri, penyebab mola hidatidosa
belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab adalah:
1. Faktor ovum
Ovum yang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
2. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial
ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang
sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
3. Paritas tinggi
Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada kehamilan
berikutnya,sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa.
4. Kekurangan protein
Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan
pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim apabila terjadi kekurangan protein saat hamil
menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-
jonjot korion.
5. Imunoselektif dari trofoblas.
Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma vili menjadi jarang dan stroma
vili menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia sel-sel trofoblas.

C. Klasifikasi
Sesuai dengan derajatnya, mola hidatidosa klasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu mola komplit dan
mola parsialis.
1) Mola Komplit
Mola komplet atau klasik terjadi akibat fertilisasi sebuah telur yang intinya telah hilang atau
tidak aktif. mola menyerupai setangkai buah anggur putih. Vesikel-vesikel hidrofik (berisi
cairan) tumbuh dengan cepat, menyebabkan rahim menjadi lebih besar dari usia kehamilan
seharusnya. Biasanya Mola tidak mengandung janin, plasenta, membran amniotik atau air
ketuban. Darah maternal tidak memiliki plasenta oleh karena itu, terjadi perdarahan ke dalam
rongga rahim dan timbul perdarahan melalui vagina. Pada sekitar 3 % kehamilan, Mola ini
berkembang menjadi koriokarsinoma (suatu neoplasma ganas yang tumbuh dengan cepat).
Potensi untuk menjadi ganas pada kehamilan mola sebagian jauh lebih kecil dibanding
kehamilan Mola komplek (Bobak dkk, 2005).

2) Mola Parsialis
Kehamilan mola parsialis, adalah kehamilan yang terdapat perkembangan abnormal dari
plasenta tetapi masih didapati janin. Kehamilan mola parsialis biasanya disebabkan karena 2
sperma membuahi 1 sel telur. Hal ini menyebabkan terjadi nya kehamilan triploid (69 XXX
atau 69 XXY), sehingga selain terjadinya perkembangan plasenta yang abnormal juga
disertai perkembangan janin yang abnormal pula. Janin pada kehamilan mola parsialis
biasanya juga meninggal di dalam rahim karena memiliki kelainan kromosom dan kelainan
kongenital seperti bibir sumbing dan syndactily. Selain itu mola parsialis juga dapat
disebabkan adanya pembuahan sel telur yang haploid oleh sperma diploid 46 XY yang belum
tereduksi.
Secara epidemiologi mola komplit dapat meningkat bila wanita kekurangan carotene dan
defisiensi vitamin A. Sedangkan mola parsialis lebih sering tejadi pada wanita dengan
tingkat pendidikan tinggi, menstruasi yang tidak teratur dan wanita perokok.

D. Manifestasi Klinis
Pada permulaannya gejala mola hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan kehamilan
biasa yaitu enek, muntah, pusing dan lain-lain, hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat.
Selanjutnya perkembangan lebih pesat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari
umur kehamilan.
Perdarahan merupakan gejala utama mola. Biasanya keluhan perdarahan inilah yang
menyebabkan mereka datang ke rumah sakit. Gejala perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan
pertama sampai ketujuh dengan rata-rata 12 - 14 minggu. Sifat perdarahan bisa intermiten,
sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian karena
perdarahan ini maka umumnya pasien mola hidatidosa masuk ke dalam anemia. Seperti juga pada
kehamilan biasa mola hidatidosa bisa disertai dengan preeklamsia (eklamsia), hanya
perbedaannya ialah bahwa preeklamsia pada mola terjadinya lebih muda daripada kehamilan
biasa. (Prawirohardjo, Sarwono. 2005:344)
Pasien biasanya menyadari adanya kehamilan, gejala yang khas meliputi aminore 2
periode atau lebih, pembesaran abdomen, dan pada kira-kira 14 - 30% pasien menderita nausea
dan vomitus yang berat. Pergerakan janin tidak ada. Kehamilan mola biasanya terdiagnosis antara
kehamilan minggu ke 11 sampai ke 20. (Taber, Ben-zion. 1994:279)

Tanda dan Gejala :


o Mual dan muntah yang menetap, seringkali menjadi parah
o Perdarahan uterus yang terlihat pada minggu ke 12; bercak darah atau perdarahan
hebat mungkin terjadi, tetapi biasanya hanya berupa rabas bercampur darah, cenderung
berwarna merah daripada berwarna coklat, yang terjadi secara intermiten atau terus menerus
o Ukuran uterus besar untuk usia kehamilan (terjadi kurang lebih pada sepertiga kasus)
o Sesak nafas
o Ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar (theca lutein cysts)
o Tidak ada denyut jantung janin
o Tidak ada aktifitas janin
o Pada palpasi tidak ditemukan bagian-bagian janin
o Hipertensi akibat kehamilan, preeklamsia atau eklamsia sebelum usia kehamilan 24 minggu
(varney, helen. 2006:607)

Menurut Cunningham dalam buku Obstetri, dalam stadium pertumbuhan molla yang dini terdapat
beberapa ciri khas yang membedakan dengan kehamilan normal, namun pada stadium lanjut
trimester pertama dan selama trimester kedua sering terlihat perubahan sebagai berikut:
1) Perdarahan
Perdarahan uterus merupakan gejala yang mencolok dan bervariasi mulai dari spoting sampai
perdarahan yang banyak. Perdarahan ini dapat dimulai sesaat sebelum abortus atau yang
lebih sering lagi timbul secara intermiten selama berminggu-minggu atau setiap bulan.
Sebagai akibat perdarahan tersebut gejala anemia ringan sering dijumpai. Anemia defisiensi
besi merupakan gejala yang sering dijumpai.
2) Ukuran uterus
Uterus yang lebih sering tumbuh lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya. Mungkin
uterus lewat palpasi sulit dikenali dengan tepat pada wanita nullipara, khusus karena
konsistensi tumor yang lunak di bawah abdomen yang kenyal. Ovarium kemungkinan
mempunyai konsistensi yang lebih lunak.
3) Aktivitas janin
Meskipun uterus cukup membesar mencapai bagian atas sympisis, secara khas tidak akan
ditemukan aktivitas janin, sekalipun dilakukan test dengan alat yang sensitive sekalipun.
Kadang-kadang terdapat plasenta kembar pada kehamilan mola hidatidosa komplit. Pada
salah satu plasentanya sementara plasenta yang lainnya dan janinnya sendiri terlihat normal.
Demikian pula sangat jarang ditemukan perubahan mola inkomplit yang luas pada plasenta
dengan disertai dengan janin yang hidup.
4) Embolisasi
Trofoblas dengan jumlah yang bervariasi dengan atau tanpa stroma villus dapat keluar dari
dalam uterus dan masuk ke dalam aliran darah vena. Jumlah tersebut dapat sedemikian
banyak sehingga menimbulkan gejala serta tanda emboli pulmoner akut bahkan kematian.
Keadaan fatal ini jarang terjadi. Meskipun jumlah trofoblas dengan atau tanpa stroma villus
yang menimbulkan embolisasi ke dalam paru-paru terlalu kecil untuk menghasilkan
penyumbatan pembuluh darah pulmoner namun lebih lanjut trofoblas ini dapat menginfasi
parenkim paru. Sehingga terjadi metastase yang terbukti lewat pemeriksaan radiografi. Lesi
tersebut dapat terdiri dari trofoblas saja (corio carsinoma metastasik) atau trofoblas dengan
stroma villus (mola hidatidosa metastasik). Perjalanan selanjutnya lesi tersebut bisa
diramalkan dan sebagian terlihat menghilang spontan yang dapat terjadi segera setelah
evakuasi atau bahkan beberapa minggu atau bulan kemudian. Sementara sebagian lainnya
mengalami proloferasi dan menimbulkan kematian wanita tersebut bila tidak mendapatkan
pengobatan yang efektif.
5) Disfungsi thyroid
Kadar tiroksi plasma pada wanita dengan kehamilan mola biasanya mengalami kenaikan
yang cukup tinggi, namun gambaran hipertiroidisme yang tampak secara klinik tidak begitu
sering dijumpai. Amir dkk (1984) dan Curry dkk (1975) menemukan hipertiroidisme pada
sekitar 2% kasus kenaikan kadar tiroksin plasma, bisa merupakan efek primer estrogen
seperti halnya pada kehamilan normal dimana tidak terjadi peningkatan kadar estrogen
bebas dan presentasi trioditironim yang terikat oleh resin mengalami peningkatan. Apakah
hormon tiroksin bebas dapat meninggi akibat efek mirip tirotropin yang ditimbulkan oleh
orionik gonadotropin atau apakah varian hormon inikah yang menimbulkan semua efek
tersebut masih merupakan masalah yang controversial (Amir, dkk, 1984, Man dkk, 1986).
6) Ekspulsi spontan
Kadang-kadang gelembung-gelembung hidatidosa sudah keluar sebelum mola tersebut
keluar spontan atau dikosongkan dari dalam uterus lewat tindakan. Ekspulsi spontan paling
besar kemungkinannya pada kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang lebih dari 28 minggu.

E. Patofisiologi
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat berbagai
faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan
hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap
tertanam di dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic
gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan
otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon
HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam
dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik test pack
maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon HCG (human chorionic
gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.
Faktor ovum, imunoselektif dari tro foblas, sosial-ekonomi yang rendah, paritas
tinggi, kekurangan protein, infeksi virus, faktor kromosom yang belum jelas
menyebabkan chorionic vili (jonjotan/gantungan) berganda.
Sebagian dari vili berubah menjadi gelembung -gelembung berisi cairan jernih.
Biasanya tidak ada janin. Cairan ini dapat berupa gelembung yang dapat
sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat
mengisi kavum uteri. Gelembung-gelembung ini yang biasa disebut dengan mola
hidatidosa.

Ada beberapa Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari
penyakit trofoblas :
a) Teori Missed Abortion
Mudigah mati pada kehamilan 3 5 minggu (missed abortion). Karena itu terjadi gangguan
peredaran darah, sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan
akhirnya terbentuklah gelembung gelembung. Menurut Reynolds, kematian mudigah
disebabakan kekurangan gizi berupa asam folat dan histidin pada kehamilan hari ke 13 dan
21. Hal ini kemudian menyebabkan gangguan dalam angiogenesis
b) Teori Neoplasma dari park
Yang abnormal adalah sel sel trofoblas yang mempunyai fungsi abnormal pula, dimana
terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung. Hal ini
menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.
c) Studi dari Hertig
Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat
akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada
minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya
fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan
cairan.

F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan gangguan mola hidatidosa adalah :
Perforasi uterus saat melakukan tindakan kuretase (suction curettage) terkadang terjadi
karena uterus luas dan lembek (boggy). Jika terjadi perforasi, harus segera diambil tindakan
dengan bantuan laparoskop.
Perdarahan (hemorrhage) merupakan komplikasi yang sering terjadi saat pengangkatan
(evacuation) mola. Oleh karena itu, oksitosin intravena harus diberikan sebelum evakuasi
mola. Methergine dan atau Hemabate juga harus tersedia. Selain itu, darah yang sesuai dan
cocok dengan pasien juga harus tersedia.
Penyakit trofoblas ganas (malignant trophoblastic disease) berkembang pada 20% kehamilan
mola. Oleh karena itu, quantitative HCG sebaiknya dimonitor terus-menerus selama satu
tahun setelah evakuasi (postevacuation) mola sampai hasilnya negatif.
Pembebasan faktor-faktor pembekuan darah oleh jaringan mola memiliki aktivitas
fibrinolisis. Oleh karena itu, semua pasien harus diskrining untuk disseminated intravascular
coagulopathy (DIC).
Emboli trofoblas dipercaya menyebabkan acute respiratory insufficiency. Faktor risiko
terbesar adalah ukuran uterus yang lebih besar dibandingkan usia kehamilan (gestational
age) 16 minggu. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian.

G. Pemeriksaan penunjang
Untuk mengetahui secara pasti adanya mola hidatidosa, maka pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan yaitu :
Palpasi abdomen Teraba uterus membesar,tidak teraba bagian janin, gerakan janin, dan
balotemen
Auskultasi Tidak terdengar DJJ
Periksa dalam vagina uterus membesar, Bagian bawah uterus lembut dan tipis, serviks
terbuka dapat diketemukan gelembung mola hidatidosa, perdarahan, sering disertai adanya
Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO)
Pemeriksaan dengan sonde uterus (Acosta Sison) MH hanya ada gelembung-gelembung
yang lunak tanpa kulit ketuban sonde uterus mudah masuk sampai 10 cm tanpa adanya
tahanan
Pemeriksaan radiologi
- Foto Abdomen mola hidatidosa tidak tampak kerangka janin. Dilakukan setelah umur
kehamilan 16 minggu.
- Amniografi/histerografi cairan kontras lewat transabdominal/transkutaneus atau
transervikal kedalam rongga uterus, akan menghasilkan amniogram atau histerogram yang
khas pada kasus mola hidatidosa, yang disebut sebagai sarang tawon/typical honeycomb
pattern/honeycomb
USG
- Typical Molar Pattern/Classic Echogram Pattern,pola gema yang difus gambaran seperti
badai salju/kepingan salju.
- Atypical molar pattern/Atypical echogram pattern, adanya perdarahan diantara jaringan
mola.
- Mpla hidatidosa KOMPLIT tidak didapatkan janin, Mola hidatidosa PARSIAL Plasenta
yang besar dan luas, kantong amnion kosong atau terisi janin. Janin masih hidup dengan
gangguan pertumbuhan & kelainan kongenital, atau sudah mati
- Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO), biasanya besar, multilokuler, dan sering bilateral.
Pemeriksaan HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN) kadar HCG yang tetap
tinggi & naik cepat setelah hari ke 100 (dihitung sejak gestasi / hari pertama haid terakhir).
Pemeriksaan HCG > 100.000 mIU/mL mengindikasikan banyak sekali pertumbuhan sel
trofoblas dan kita harus mencurigai tentang kehamilan mola.

H. Penatalaksanaan
Berhubung dengan kemungkinan bahwa mola hidatidosa itu menjadi ganas maka terapi bagi
wanita yang masih menginginkan anak maka setelah diagnosa mola dipastikan dilakukan
pengeluaran mola dengan kerokan isapan disertai dengan pemberian infus oksitosin intra vena.
Sesudah itu dilakukan kerokan dengan kuret tumpul untuk mengeluarkan sisa konsepsi sebelum
mola dikeluarkan sebaiknya dilakukan pemeriksaan rontgen paru-paru untuk menentukan ada
tidaknya metastase di tempat tersebut. Setelah mola dilahirkan dapat ditemukan bahwa kedua
ovarium membesar menjadi kista tuba uteri. Kista ini tumbuh karena pengaruh hormonal dan
mengecil sendiri.Mola hidatidosa diobati dengan 4 tahap sebagai berikut:
1. Perbaikan keadaan umum
Pemberian tranfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan atau
mengulangi penyulit seperti pereklamsia dan tirotoksikosa.
2. Pengeluaran jaringan mola
Ada 2 cara yaitu :
a. Vakum kuretase
Setelah keadaan diperbaiki dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Untuk
memperbaiki kontraksi diberikan pola uterotonika. Vakum kuretase dilanjutkan dengan
sendok kuret biasa yang tumpul. Tindakan kuret cukup dilakukan satu kali saja, asal
bersih. Kuret kedua hanya dilakukan bila ada indikasi. Sebelum tindakan kuret
sebaiknya disediakan darah untuk menjaga kemungkinan perdarahan yang banyak.
b. Histerektomi
Tindakan ini dilakukan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup mempunyai anak.
Alasan untuk melakukan histerektomi ialah karena umur tua dan paritas tinggi
merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan. Batasan yang dipakai ialah
umur 35 tahun dengan anak hidup tiga. Tidak jarang bahwa pada sediaan histerektomi
bila dilakukan pemeriksaan histopatologik sudah tanpa adanya tanda-tanda keganasan
berupa mola invasif. Ada beberapa ahli yang menganjurkan agar pengeluaran jaringan
melalui histerektomi tetapi cara ini tidak begitu populer dan sudah ditinggalkan.

3. Therapi Profilaksis Dengan Sitostatika


Therapi profilaksis diberikan pada kasus mola dengan risiko tinggi akan terjadinya
keganasan misalnya umur tua dan paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan histerektomi
atau kasus mola dengan hasil histopatologi yang mencurigakan. Biasanya diberikan
methotrexate atau actinomycin D. Ada beberapa ahli yang tidak menyetujui therapi
profilaksis ini dengan alasan bahwa jumlah kasus mola yang menjadi ganas tidak banyak dan
sitostatika merupakan obat berbahaya. Goldstein berpendapat bahwa pemberian sitostatika
profilaksis dapat menghindarkan keganasan dengan metastasis, serta mengurangi
koriokarsinoma di uterus sebanyak tiga kali.
4. Pemeriksaan Tindak Lanjut
Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa.
Lama pengawasan berkisar antara satu atau dua tahun. Untuk tidak mengacaukan
pemeriksaan selama periode ini pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan
menggunakan kondom, diafragma atau pil antihamil. Mengenai pemberian pil antihamil ini
ada dua pendapat yang saling bertentangan. Satu pihak mengatakan bahwa pil kombinasi,
disamping dapat menghindarkan kehamilan juga dapat menahan LH dari hipofisis sehingga
tidak terjadi reaksi silang dengan HCG.
Di Negara berkembang pemeriksaan tindak lanjut ini sukar dilakukan oleh karena jarang
yang mau datang untuk kontrol. Disamping itu pemeriksaan HCG dengan RIA mahal.
Dengan demikian diagnosis dini keganasan sukar ditegakkan. (Prawiroharjo, Sarwono. 2005:
346-348)

I. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama, umur, agama, suku
bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan
dan alamat
b. Riwayat keperawatan
Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam
berulang
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
a) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit
atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid,
pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien,
jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary, penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit
menular yang terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji
kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien
mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan
anaknya.
Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluahn yang menyertainya.
Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat- obatan kontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.
a) Aktivitas
o Kelemahan.
o Kesulitan ambulasi.
b) Sirkulasi
o Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok).
o Edema jaringan.
c) Eliminasi
o Ketidakmampuan defekasi dan flatus.
o Diare (kadang-kadang).
o Cegukan; distensi abdomen; abdomen diam.
o Penurunan haluan urine, warna gelap.
o Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising
usus kasar (obstruksi), kekakuan abdomen, nyeri tekan.
Hiperesonan/timpani (ileus); hilang suara pekak diatas hati (udara bebas
dalam abdomen).
d) Cairan
o Anoreksia, mual/muntah; haus.
o Muntah proyektil.
o Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.
e) Kenyamanan / Nyeri
o Nyeri abdomen, Distensi, kaku, nyeri tekan.
f) Pernapasan
o Pernapasan dangkal, takipnea.
g) Keamanan
o Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis); infeksi pasca-melahirkan,
abses retroperitoneal.
d. Pemeriksaan fisik, meliputi :
a) Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada
penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan
warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan
kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fifik, dan seterusnya
b) Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan
tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi
janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal
c) Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan
tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada
dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan
ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada
kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau
tidak
d) Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop
dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar :
mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)
e. Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien
setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.
f. Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama
dirawat di RS.
g. Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam
keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
h. Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
i. Data spiritual : Kaji tentang keyakina klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan
keagamaan yang biasa dilakukan.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau
kelompok (keadaan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana
perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan
kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 458)
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus mola hidatidosa adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri
2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri
4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
7. Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder
8. Risiko tinggi terhadap defisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan

3. Intervensi Keperawatan
Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan
apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan
kesehatannya
a) Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan :
Klien akan menunjukkan nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil :
- Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
- Ekspresi wajah tenang, klien tampak rileks dan dapat beristirahat
- TTV dalam batas normal
Intervensi :
1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu
menentukan intervensi yang tepat
2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam mengatasi nyeri
3) Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam
Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu
indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien
4) Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi
Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi
dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu
mengurangi nyeri yang dirasakan
5) Beri posisi yang nyaman
Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri
6) Berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk mengalihkan rasa nyeri
Rasional : dapat membantu dalam menurunkan tingkat ansietas dan karenanya
mereduksi ketidaknyamanan
7) Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat
dapat dipersepsikan

b) Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan


Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri
Kriteria Hasil :
- Kebutuhan personal hygiene terpenuhi
- Klien nampak rapi dan bersih
Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat
diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya
2) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan
pada perawat
3) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya
Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan
secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya
4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi
kebutuhan klien
Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri

c) Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri


Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu
Kriteria Hasil :
- Klien dapat tidur 7-8 jam per hari
- Konjungtiva tidak anemis
Intervensi :
1) Kaji pola tidur
Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien, akan memudahkan dalam menentukan
intervensi selanjutnya
2) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat
3) Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur
Rasional : Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk
tidur
4) Batasi jumlah penjaga klien
Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan
dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat
5) Memberlakukan jam besuk
Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat
6) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam
Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan
mudah tidur
d) Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas
Kriteria Hasil :
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Klien tidak mengalami komplikasi
Intervensi :
1) Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaforesis
Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi, pola demam
dapat membantu diagnosa
2) Pantau suhu lingkungan
Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan, suhu harus mendekati
normal
3) Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak
Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam
4) Berikan kompres hangat
Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat
menurunkan suhu tubuh
5) Kolaborasi pemberian obat antipiretik
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus

e) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan


Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang
Kriteria Hasil :
- Ekspresi wajah tenang
- Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya
Intervensi :
1) Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien
2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi
kecemasan
3) Mendengarkan keluhan klien dengan empati
Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan
merasa diperhatikan
4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan
Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang
penyakitnya
5) Beri dorongan spiritual/support
Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang

f) Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah


Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Nafsu makan meningkat
- Porsi makan dihabiskan
Intervensi :
1) Kaji status nutrisi klien
Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya
2) Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk
meminimalkan anoreksia
3) Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan
klien
4) Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
5) Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang
terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien
Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat
meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan

g) Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder
Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Kriteria Hasil :
- Tidak tampak tanda-tanda infeksi
- Vital sign dalam batas normal
- Ekspresi tenang
- Hasil lab dalam batas normal

Intervensi :
1) Kaji adanya tanda-tanda infeksi
Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi
2) Observasi vital sign
Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses
infeksi dalam tubuh
3) Catat jumlah, bau, warna darah
Rasional : kehilangan darah berlebihan dengan penurunan Hb, meningkatkan resiko
klien untuk terkena infeksi. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak
mungkin merupakan tanda infeksi
4) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
5) Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan
infeksi.
6) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam
dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
7) Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka, garis jahitan), daerah yang
terpasang alat invasif (infus, kateter) dan observasi suhu tubuh
Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan
tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya
8) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotik
Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri, sehingga proses
infeksi tidak terjadi. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel
bakteri penyebab infeksi

h) Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan
Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik
jumlah maupun kualitas.
Kriteria Hasil :
- TTV stabil
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit baik
Intervensi :
1) Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karakteristik
bervariasi
2) Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan
jumlah cairan yang hilang pervaginal
3) Catat haluaran dan pemasukan
Rasional : Mengetahui penurunanan sirkulasi terhadap destruksi sel darah merah.
4) Observasi tanda-tanda vital (TD, nadi, RR dan suhu), kaji warna kulit/membran
mukosa, dasar kuku
Rasional: Mengetahui tanda hipovolume (perdarahan).
5) Berikan diet halus
Rasional: Memudahkan penyerapan diet
6) Nilai hasil lab. HB/HT
Rasional : Menghindari perdarahan spontan karena proliferasi sel darah merah.
7) Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi
Rasional Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan transfusi.
8) Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA NY. Z DENGAN MOLA HIDATIDOSA

Tanggal masuk : 12 Mei 2013 Jam masuk : 12.00 WIB


Ruang :C No. Register :
Pengkajian tanggal : 13 Mei 2012 Jam : 09.00 WIB

Pengkajian

Identitas
Nama : Ny. Z Nama : Tn. S
Umur : 25 tahun Umur : 27 tahun
Suku/bangsa : Dayak/Indonesia Suku/bangsa : Dayak /Indonesia
Agama : Kristen Protestan Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu RT Pekerjaan : Swasta ( Rp.1.000.000,-)
Alamat : Tangkiling Alamat : Tangkiling
Status perkawinan : Kawin Status perkawinan : Kawin

Status Kesehatan
a. Alasan datang ke rumah sakit : Ibu mengatakan dibawa kerumah sakit oleh keluarganya karena
mengalami perdarahan. Klien mengaku sudah mengalami perdarahan sejak 6 hari yang lalu.
Klien juga mengeluh mengalami mual dan muntah 2-3 x/hari sejak kemarin, dan klien merasa
lemas. Klien mengatakan hanya makan sedikit karena merasa mual. Saat diperiksa vulva
tampak kotor dan lembab.
b. Keluhan utama saat ini : Klien mengeluh mengalami perdarahan dan nyeri pada perut bagian
bawah.
c. Timbulnya keluhan : Mendadak. Tapi setelah minum obat nyeri berkurang tetapi kemudian
muncul lagi beberapa jam setelah minum obat.
d. Faktor yang memperberat : Ibu mengatakan nyeri bertambah saat melakukan gerakan secara
tiba-tiba.
e. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi : Istirahat ditempat tidur dan mengurangi gerak.
f. Diagnosa medik : Mola Hidatidosa.

Riwayat Keperawatan
a. Riwayat obstetri: Klien melahirkan normal tanpa ada masalah.
b. Riwayat menstruasi: Menarche umur 14 tahun, siklus teratur (28-30 hari) dengan jumlah relatif
sedikit selama 5-7 hari. Klien tidak mengalami dismenorchea. Hari pertama haid terakhir tangal
23 Februari 2013, tanggal 6 Mei 2013 terjadi perdarahan, di bawa ke bidan tanggal 8 mei 2013,
tanggal 10 Mei 2013 terjadi perdarahan kembali, dan baru di bawa ke RS A pada
tanggal 12 Mei 2013.
c. Riwayat perkawinan : Ibu menikah 3 tahun yang lalu dan ini adalah pernikahan yang pertama.
Perkawinan sah menurut agama dan negara.
Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu : Klien sebelumnya tidak pernah
mengalami penyakit seperti sekarang.
Klien sudah memiliki 1 anak. Klien tidak pernah mengalami abortus sebelumnya.
d. Genogram:

Hamil ini
Keterangan:

= Laki-laki = Meninggal
= Ny. Z
= Perempuan abortus = Tinggal dlm satu
rumah

e. Riwayat Keluarga berencana : Ibu tidak melaksanakan KB, karenanya data lain tidak dikaji.
f. Riwayat kesehatan:
Ibu menyatakan tidak menderita penyakit jantung,TB paru, diabetes melitus, gondok dan
penyakit keturunan lainnya. Tidak ada riwayat keguguran pada anggota keluarga lainnya.
g. Riwayat penyakit keluarga: Keluarga klien tidak memiliki riwayat penyakit keturunan.
h. Riwayat lingkungan:
1) Kebersihan: menurut ibu kebersihan lingkungan tempat tinggal klien baik dan bersih,
klien rajin membersihkan rumah dan lingkungannya.
2) Bahaya: tidak ada bahaya dalam rumah dan sekitar rumah klien, lantai licin tidak ada.
Ibu mengatakan tidak pernah mendapat kecelakaan atau trauma selama ini.
i. Aspek psikososial:
Persepsi ibu tentang keluhan/penyakit : Dalam menghadapi kehamilan ini klien merasa
senang karena kehamilan yang kedua ini memang sudah direncanakan dan mendapat
dukungan dari suami dan keluarga
Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari? Tidak
karena semasa hamil ibu memang mengurangi aktivitas sehari-hari dan lebih banyak
beristirahat. Orang terpenting bagi ibu adalah keluarga. Sikap anggota keluarga terhadap
keadaan saat ini adalah sangat mendukung. Kesiapan mental untuk menjadi ibu: siap.

3.1.1 Aktifitas Sehari - Sehari:


a. Pola nutrisi:
Klien mengalami gangguan nafsu makan, karena mual dan muntah, klien makan 3 kali
sehari, menghabiskan dari porsi makan, klien tidak berpantang makan.
b. Pola eleminasi:
1. BAK:
Klien dapat melakukan miksi 6-8 kali dalam satu hari, 100 cc/hari, warna kuning. Klien
tidak memiliki gangguan eliminasi urin seperti nyeri saat BAK, burning sensation, atau
inkontinensia bladder. Kebutuhan pemenuhan ADL ini dilakukan secara mandiri.
2. BAB:
Klien melakukan eliminasi fekal atau bowel 1 kali sehari tanpa menggunakan pencahar,
dan eliminasi dilakukan setiap pagi, berwarna kuning dengan konsistensi lembek. Klien
tidak memiliki gangguan eliminasi seperti diare, konstipasi atau inkontinensia bowel.
Pemenuhan kebutuhan bowel klien dilakukan secara mandiri.
c. Pola personal hygiene:
1) Mandi:
Frekuensi: 2 kali sehari.
Penggunaan sabun: ya.
2) Oral hygiene:
Frekuensi: 3 kali sehari.
Waktu: pagi, sore dan sebelum tidur.
3) Cuci rambut:
Frekuensi: 3 kali seminggu.
Penggunaan shampo: ya.
d. Pola istirahat dan tidur:
Klien tidur sehari hanya 6-8 jam, klien tidak terbiasa tidur siang, klien tidak mengalami
gangguan tidur sebelum sakit, namun saat sakit klien sering terbangun karena nyeri dan
perdarahan yang dialaminya.
e. Pola aktifitas dan latihan:
- Kegiatan dalam pekerjaan: membantu memasak. Ibu Z tinggal dengan orang tuanya,
sehingga banyak pekerjaan rumah tangga yang diselesaikan oleh ibu dan adik kandungnya
seperti mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah dan memasak.
- Waktu bekerja: tidak tentu.
- Olahraga: ya, jalan-jalan pagi, frekuensi kadang-kadang.
- Kegiatan waktu luang: tidak ada.
- Keluhan dalam aktifitas: Saat ini klien merasa nyeri pada perut bagian bawah dan
perdarahan. Nyeri yang timbul terasa lebih berat saat merubah posisi tubuh dengan cepat
dan tiba-tiba.
f. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan:
1) Merokok: tidak.
2) Minuman keras; tidak.
3) Ketergantungan obat: tidak.

3.1.2 Pemeriksaan fisik:


a. Umum:
Kesadaran klien composmentis dengan GCS 15 (eye 4, verbal 5, motorik 6), TD: 100/90
mmHg, HR: 100 x/menit dengan irama reguler dan berdetak kuat, RR: 20 x/menit reguler,
suhu 38oC, warna kulit agak pucat.

b. Khusus:
1) Kepala:
Bentuk : normal.
Keluhan : tidak ada.
2) Mata:
Kelopak mata : simetris, oedem palpebra tidak ada.
Gerakan mata : normal.
Konjungtiva : pucat. Tampak anemis.
Sklera : putih, ikterik tidak ada.
Pupil : normal, isokor.
Akomodasi : baik (tidak memakai kacamata).
3) Hidung:
Reaksi alergi : tidak ada.
Sinus : normal.
4) Mulut dan tenggorokan:
Gigi geligi : lengkap, 32 buah.
Kesulitan menelan : tidak ada.
5) Dada dan axilla:
Bentuk dada simetris, tidak terlihat adanya barelchest, funnal atau pidgeon. Tidak ada
bantuan otot pernapasan, saat dipalpasi fremitus kanan dan kiri sama, saat di auskultasi
tidak terdengar bunyi nafas tambahan seperti wising, bronki dan crakless, saat di perkusi
terdengar bunyi sonor.
6) Sirkulasi jantung:
Kecepatan denyut apikal: 100 x/mnt.
Irama: reguler.
Kelainan bunyi jantung: tidak ada.
Sakit dada: tidak ada.
7) Abdomen:
Mengecil : tidak
Linea : tidak ada.
Striae : Terdapat sedikit striae pada perut.
Luka bekas operasi: tidak ada.
Kontraksi: tidak ada.
TFU: 2 jari di atas pusat
8) Genitourinary:
Terdapat perdarahan pervagina
Vulva tampak kotor dan lembab.
Vesika urinaria: kosong.
9) Ekstremitas:
Warna kulit: kuning langsat.
Kesulitan dalam pergerakan: tidak ada.

3.1.3 Data Penunjang


a. Laboratorium : Hemoglobin : 8,9 mg %
USG : Dari hasil pemeriksaan menunjukkan gambaran Snow Flake Paterrn (badai salju).
b. HCG Test : 50.000 mIU/L
c. Rontgen: --
d. Pemeriksaan dalam (vaginal toucher):
- Vaginal Toucher : tidak ditemukan fluks
- Portio : Lunak, nyeri goyang (-), Pembukaan 1 Cm
- Cavum Uteri : TFU 2 jari di atas pusat.
- Adnexia Parametrium ka/ki : Nyeri tekan (-) Massa (-)
e. Diagnosa Medis : Mola Hidatidosa
3.1.4 Analisa Data

Data Etiologi Masalah

DS : Kerusakan jaringan Nyeri


intrauteri
- Ibu mengeluh nyeri pada perut
bagian bawah.
- Ibu mengatakan nyeri yang
timbul terasa lebih berat saat
merubah posisi tubuh dengan
cepat dan tiba-tiba.

DO :
- Wajah ibu tampak meringis
menahan nyeri
- Skala nyeri 6
- TTV ibu :
Nadi 120x/menit
RR 26x/menit
TD 100/90 mmhg.

DS : Adanya perdarahan Risiko tinggi


- Ibu mengatakan ada keluar darah terjadinya infeksi
dari jalan lahir 6 hari.
- Ibu juga mengeluh badan lemas

DO :
- Perdarahan pervaginal
- Konjungtiva anemis
- Hb 8.9 g/dl
- Ibu tampak lemas
- Tampak vulva kotor dan lembab

DS : Mual dan muntah Risiko nutrisi


- Ibu juga mengeluh mengalami kurang dari
mual dan muntah 2-3 x/hari sejak kebutuhan
kemarin, dan ibu merasa lemas.
- Ibu mengatakan hanya makan
sedikit karena merasa mual.

DO :
- Ibu tampak mual dan muntah
- Ibu mengalami gangguan nafsu
makan, karena mual dan muntah,
ibu makan 3 kali sehari,
menghabiskan dari porsi
makan
3.1.5 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intra uteri yang ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluh nyeri pada perut bagian bawah.
- Klien mengatakan nyeri yang timbul terasa lebih berat saat merubah posisi tubuh dengan
cepat dan tiba-tiba.
DO :
- Wajah ibu tampak meringis menahan nyeri
- Skala nyeri 6
- TTV ibu : Nadi 120x/menit; RR 26x/menit; TD 100/90 mmhg.

2. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya perdarahan yang ditandai
dengan :
DS :
- Ibu mengatakan ada keluar darah lewat jalan lahir 6 hari
- Ibu juga mengeluh badan lemas
DO :
- Perdarahan pervaginal
- Konjungtiva anemis
- Hb 8.9 g/dl
- Ibu tampak lemas
- Tampak vulva kotor dan lembab

3. Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah yang
ditandai dengan :
DS :
- Ibu juga mengeluh mengalami mual dan muntah 2-3 x/hari sejak kemarin, dan ibu merasa
lemas.
- Ibu mengatakan hanya makan sedikit karena merasa mual.
DO :
- Ibu tampak mual dan muntah
- Ibu mengalami gangguan nafsu makan, karena mual dan muntah, ibu makan 3 kali sehari,
menghabiskan dari porsi makan
3.1.10 Rencana Intervensi, Rasional dan Implementasi

Intervensi Keperawatan Implementasi Keperawatan


No
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
Rencana Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi
Keperawatan Hasil

1. Nyeri b/d kerusakan Setelah diberikan askep 1) Kaji tingkat nyeri, lokasi
Mengetahui tingkat nyeri 1) Mengkaji tingkat nyeri, 1) S : Ibu mengatakan nyeri
jaringan intra uteri selama 1x24 jam, ibu dan skala nyeri yang yang dirasakan sehingga lokasi dan skala nyeri yang seperti ditekan pada bagian
yang ditandai dengan : dapat menunjukkan dirasakan klien dpt membantu dirasakan klien bawah perut
DS : nyeri berkurang/hilang menentukan intervensi O : Klien tampak kesakitan
- Ibu mengeluh nyeri Kriteria Hasil : yang tepat
pada perut bagian - Ibu mengatakan nyeri 2) Menjelaskan nyeri yang 2) S : Ibu mengatakan mulai
bawah. berkurang/hilang 2) Terangkan nyeri yang Meningkatkan koping dirasakan klien dan mengerti tentang nyeri yang
- Ibu mengatakan - Ekspresi wajah tenang, diderita klien dan
klien dalam mengatasi penyebabnya dirasakan dan penyebabnya
nyeri yang timbul ibu tampak rileks dan penyebabnya nyeri
terasa lebih berat dapat beristirahat 3) O : TTV klien : TD : 120/70
saat merubah posisi - TTV dalam batas 3) Observasi tanda-tanda
Perubahan tanda-tanda 3) Memeriksa tanda-tanda vital mmHg; RR : 20 x/mnt; S :
tubuh dengan cepat normal vital tiap 8 jam vital terutama suhu dan klien tiap 8 jam 36,8 C; N : 98 x/mnt
dan tiba-tiba. nadi merupakan salah satu
indikasi peningkatan nyeri 4) Menganjurkan klien untuk 4) S : Ibu mengatakan nyeri
DO : yang dialami oleh klien melakukan teknik relaksasi dapat berkurang setelah
- Wajah ibu tampak napas dalam melakukan relaksasi napas
meringis menahan 4) Anjurkan klien untuk Teknik relaksasi dapat dalam
nyeri melakukan teknik membuat klien merasa 5) Menganjurkan klien agar O : Ibu dapat mempraktekkan
- Skala nyeri 6 relaksasi sedikit nyaman dan tidak melakukan banyak teknik relaksasi napas dalam
- TTV ibu : distraksi dapat gerakan secara tiba-tiba
Nadi 120x/mnt mengalihkan perhatian
RR 26x/mnt klien terhadap nyeri 6) Memberikan posisi yang 5) S : Ibu mangatakan akan
mengurangi gerakan yang
TD 100/90 sehingga dapat mambantu nyaman : supinasi
mengurangi nyeri yang tiba-tiba untuk mengurangi
mmhg.
dirasakan 7) Memberikan lingkungan nyeri
yang tenang
6) O : Ibu tampak lebih rileks
5) Anjurkan klien agar tidak Banyak bergerak membuat 8) Memberikan obat analgetik 7) S : Ibu mengatakan
melakukan banyak nyeri bertambah asam mefenamat 3x1 lingkungan yang tenang
gerakan secara tiba-tiba membuatnya merasa nyaman
6) Beri posisi yang nyaman Posisi yang nyaman dapat O : Lingkungan tenang dan
menghindarkan penekanan tidak ribut
pada area luka/nyeri
7) Berikan lingkungan yang Dapat membantu dalam 8) S : Ibu mengatakan setelah
tenang dan aktivitas menurunkan tingkat minum obat nyeri berkurang
untuk mengalihkan rasa ansietas dan karenanya
nyeri mereduksi
ketidaknyamanan

8) Kolaborasi pemberian Obat-obatan analgetik


analgetik akan memblok reseptor
nyeri sehingga nyeri tidat
dapat dipersepsikan

2. Resiko tinggi Setelah diberikan askep 1) Kaji adanya tanda-tanda Mengetahui adanya gejala 1) Mengkaji banyaknya 1) O : Volume darah 200 cc
terjadinya infeksi b/d selama 1x24 jam, tidak infeksi awal dari proses infeksi perdarahan. berwarna merah segar
adanya perdarahan terjadi infeksi selama bergumpal
yang ditandai dengan : perawatan perdarahan. 2) Observasi vital sign Perubahan vital sign
DS : Kriteria Hasil : merupakan salah satu 2) Memeriksa tanda-tanda vital, 2) O : TTV klien : TD : 120/70
- Ibu mengatakan ada - Tidak tampak tanda- indikator dari terjadinya mengkaji warna kulit / mmHg; RR : 20 x/mnt; S :
keluar darah lewat tanda infeksi proses infeksi dalam tubuh membran mukosa vulva 37.0 C; N : 98 x/mnt.
jalan lahir 6 hari - Vital sign dalam Mukosa vulva tampak
- Ibu juga mengeluh batas normal 3) Catat jumlah, bau, warna kehilangan darah kemerahan dan lembab
badan terasa lemas - Ekspresi tenang darah berlebihan dgn penurunan
- Hasil lab dalam Hb, meningkatkan resiko 3) Menjelaskan kepada klien 3) S : Klien mengatakan akan
DO : batas normal klien untuk terkena pentingnya perawatan vulva lebih menjaga kebersihan
- Perdarahan infeksi. Adanya warna selama masa perdarahan daerah vulvanya.
pervaginal yang lebih gelap disertai O : Klien tampak mengerti
- Konjungtiva anemis bau tidak enak mungkin dengan apa yang dijelaskan
- Hb 8.9 g/dl merupakan tanda infeksi
- Ibu tampak lemas 4) Terangkan pada klien Infeksi dapat timbul akibat 4) Melakukan perawatan vulva 4) S: Klien mengatakan merasa
- Tampak vulva kotor pentingnya perawatan kurangnya kebersihan lebih nyaman.
dan lembab vulva selama masa genital yang lebih luar O : Daerah vulva klien tampak
perdarahan bersih

5) Lakukan perawatan vulva Inkubasi kuman pada area


genital yang relatif cepat
dapat menyebabkan
infeksi.

6) Terangkan pada klien Berbagai manifestasi


cara mengidentifikasi klinik dapat menjadi tanda
tanda infeksi nonspesifik infeksi;
demam dan peningkatan
rasa nyeri mungkin
merupakan gejala infeksi

7) Observasi daerah kulit Deteksi dini


yang mengalami perkembangan infeksi
kerusakan (luka, garis memungkinkan untuk
jahitan), daerah yang melakukan tindakan
terpasang alat invasif dengan segera dan
(infus, kateter) dan pencegahan komplikasi
observasi suhu tubuh selanjutnya

8) Kolaborasi dengan tim Anti biotik dapat


medis untuk pemberian menghambat pembentukan
obat antibiotik sel bakteri, sehingga
proses infeksi tidak terjadi.
Disamping itu antibiotik
juga dapat langsung
membunuh sel bakteri
penyebab infeksi
3. Resiko tinggi kurang Setelah diberikan askep 1) Kaji status nutrisi klien Sebagai awal untuk 9) Mengkaji status nutrisi klien 1) S : Ibu mengatakan nafsu
dari kebutuhan b/d selama 1x24 jam, klien menetapkan rencana makan berkurang karena mual
mual muntah yang akan mengungkapkan selanjutnya 10) Menganjurkan klien makan dan muntah, dan ibu mengeluh
ditandai dengan : nutrisi terpenuhi sedikit tapi sering lemas
DS : Kriteria Hasil : 2) Anjurkan makan sedikit Makan sedikit demi O : Ibu tampak lemah, ibu
- Ibu juga mengeluh - Nafsu makan demi sedikit tapi sering sedikit tapi sering mampu 11) Menganjurkan klien untuk hanya dapat menghabiskan
mengalami mual meningkat membantu untuk makan makanan yang hangat porsi makanan
dan muntah 4-5 - Porsi makan meminimalkan anoreksia dan bervariasi
x/hari selama 6 hari, dihabiskan 2) S : Ibu mengatakan akan
dan ibu merasa 3) Anjurkan untuk makan Makanan yang hangat dan 12) Memberikan diet halus : berusaha untuk makan lebih
lemas. makanan dalam keadaan bervariasi dapat bubur sering walaupun hanya sedikit
- Ibu mengatakan hangat dan bervariasi menbangkitkan nafsu 13) Timbang berat badan klien 3) O : Ibu tampak lebih
hanya makan sedikit makan klien menyukai makanan yang
karena merasa mual. 5) Memberikan lingkungan hangat daripada makanan
4) Berikan diet halus Memudahkan penyerapan yang nyaman bagi klien yang dingin
DO : diet 4) S : Ibu mengatakan lebih
- Ibu tampak mual 5) Timbang berat badan Mengevaluasi keefektifan mudah dan lebih enak untuk
dan muntah sesuai indikasi atau kebutuhan mengubah makan bubur
- Ibu mengalami pemberian nutrisi
gangguan nafsu 5) O : BB ibu sebelum sakit dan
makan, karena mual pada saat sakit 55 kg
dan muntah, ibu 6) Tingkatkan kenyamanan Sosialisasi waktu makan
makan 2 kali sehari, lingkungan termasuk dengan orang terdekat atau 6) O : lingkungan sekitar ibu
menghabiskan sosialisasi saat makan, teman dapat meningkatkan tenang dan nyaman
dari porsi makan anjurkan orang terdekat pemasukan dan
untuk membawa menormalkan fungsi
makanan yang disukai makanan
klien
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi korialis langka
vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan tetapi villi-villi yang membesar dan
edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah
anggur. Jaringan trofoblas pada villi kadang-kadang berproliferasi ringan kadang-kadang keras,
dan mengeluarkan hormon, yakni Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) dalam jumlah yang
lebih besar daripada kehamilan biasa.
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor-faktor yang menyebabkannya antara lain:
- Faktor ovum : Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tapi
terlambat dikeluarkan.
- Imunoselektif dari trofoblas
- Kekurangan Vitamin A
- Kekurangan Protein
- Keadaan sosio ekonomi yang rendah.
- Infeksi virus dan kromosom yang belum jelas.

Pada penderita mola dapat ditemukan beberapa gejala-gejala sebagai berikut:


Terdapat gejala - gejala hamil muda yang kadang - kadang lebih nyata dari kehamilan biasa dan
amenore
Terdapat perdarahan per vaginam yang sedikit atau banyak, tidak teratur,
warna tungguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak.
Pembesaran uterus tidak sesuai ( lebih besar ) dengan tua kehamilan
seharusnya.
Tidak teraba bagian - bagian janin dan balotemen, juga gerakan janin serta
tidak terdengar bunyi denyut jantung janin.
Jonjot-jonjot korion tumbuh berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista kecil seperti
anggur. Biasanya di dalamnya tidak berisi embrio. Secara histo patologic kadang-kadang
ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda,
yang dimaksud dengan mola kehamilan ganda adalah : satu janin tumbuh dan yang satu menjadi
mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai berdiameter
lebih dari 1 cm. mola parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung - gelembung mola.

Untuk mengetahui secara pasti adanya mola hidatidosa, maka pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan yaitu :
Reaksi kehamilan : karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologik dan
uji imunologik ( galli mainini dan planotest ) akan positif setelah
pengenceran (titrasi):
Galli mainini 1/300 (+), maka suspek mola hidatidosa.
Galli mainini 1/200 (+), maka kemungkinan mola hidatidosa atau
hamil kembar.
Bahkan pada mola hidatidosa, uji biologik atau imunologik cairan serebrospinal dapat menjadi
positif.

Pemeriksaan dalam
Pastikan besarnya uterus, uterus terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat perdarahan
dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina, serta evaluasi keadaan servik.
Uji sonde : Sonde ( penduga rahim ) dimasukkan pelan - pelan dan hati -
hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan,
sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan
kemungkinan mola ( cara Acosta- Sison).
Foto rongent abdomen : tidak terlihat tulang - tulang janin (pada
kehamilan 3-4 bulan).
Arteriogram khusus pelvis
Ultrasonografi : pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak
terlihat janin.

B. SARAN
Bagi perawat
Diharapkan bagi perawat agar menungkatkan keterampilan dalam membarikan praktik asuhan
keperawatan serta pengetahuannya khususnya tentang penyakit Mola Hidatidosa sehingga dapat
memberikan asuhan keperawatan yang maksimal dan dapat menjadi edukator bagi klien
maupun keluarganya.

Bagi mahasiswa
Dengan adanya makalah ini diharapkan bagi mahasiswa agar adapat membantu dalam
pembuatan asuhan keperawatan terutama bagi pasien dengan mola hidatidosa.

Bagi tenaga kesehatan


Dengan adanya makalah ini diharapkan kita sebagai tenaga kesehatan lebih memahami
bagaimana gejala dan tanda-tanda terjadinya Mola Hidatidosa serta asuhan keperawatan kepada
klien dengan penyakit Mola Hiodatidosa dan mempermudah masyarakat awam untuk
mengetahui tentang penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

http://yudiarpandi01.blogspot.com/2011/08/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html

http://valuq.blogspot.com/2011/10/molahidatidosa.html

http://malahayati-litasetiawatii.blogspot.com/

http://sikkahoder.blogspot.com/2012/05/mengenal-proses-terjadinya-kehamilan.html#.UZHsnmcrunY

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/mola-hidatidosa.html

http://meyceria.wordpress.com/2012/04/14/hamil-anggurmola-hidatidosa/
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kelompok

dapat menyusun makalah Keperawatan Maternitas yang membahas tentang Mola Hidatidosa.

Terima kasih kelompok ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah mempercayakan

makalah ini pada kelompok, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kelompok

menyadari kekurangan dalam pembuatan makalah ini oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Semoga makalah yang penulis buat ini dapat di manfaatkan sebagaimana mestinya. Atas

perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, Juli 2013

Kelompok II
TUGAS
KEPERAWATAN MATERNITAS

MOLA HIDATIDOSA

KELOMPOK II
ANDIKA PETRUS

NOVINA IRMA DIANTY

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


JURUSAN S1 KEPERAWATAN PROGRAM B ANGKATAN III
TAHUN 2013