Anda di halaman 1dari 22

DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (DPLH)

INDUSTRI PUPUK ALAM & PUPUK BUATAN MAJEMUK


DESA SIDOKELAR, KECAMATAN PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN

Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat DPLH, adalah


dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dikenakan bagi
usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum
memiliki UKL-UPL. DPLH wajib disusun oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
terhadap usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria:
telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan;
telah melaksanakan usaha dan/atau kegiatan;
lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang ; dan
tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau memiliki dokumen lingkungan
hidup tetapi dokumen lingkungan hidup tidak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
DPLH sebagaimana dimaksud diatas dilaksanakan sesuai dengan perintah melalui penerapan sanksi
administratif berupa paksaan pemerintah dari Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota ; dalam hal
ini INDUSTRI PUPUK ALAM & PUPUK BUATAN MAJEMUK oleh PT. FORMITRA
MULTI PRAKARSA telah mendapatkan Sanksi Administratif dari Kepala Dinas Lingkungan
Hidup Nomor : .... tanggal...
DPLH ini disusun berdasarkan Lampiran II Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Nomor : P.102/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2016 tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang Telah
Memiliki Izin Usaha dan/atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan
Hidup.

A. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


1. Nama usaha dan/atau kegiatan : INDUSTRI PUPUK ALAM & PUPUK
BUATAN MAJEMUK
2. Alamat usaha dan/atau kegiatan : Jalan Raya Gresik Tuban KM 61,8
Desa Sidokelar
Kecamatan Paciran
Kabupaten Lamongan
3. Nomor telepon : 082332123840
4. Nomor Fax : 021-79192824
5. Email : fmplamongan@gmail.com
6. Nama penanggung jawab usaha / kegiatan : Budi Harsono, SP
7. Alamat penanggung jawab usaha / kegiatan : Desa Ngawen
Kecamatan Sidayu
Kabupaten Gresik
8. Instansi yang membina usaha / kegiatan : PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA

B. PERIZINAN YANG DIMILIKI

DPLH (2017) | 1
1. Izin Usaha dan / atau Kegiatan
Perizinan yang dimiliki oleh PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, antara lain :

Tabel 1. Izin Usaha dan / atau Kegiatan PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA
No. Jenis Izin Penerbit Izin Lingkup Izin Masa Berlaku Izin
Surat Izin Usaha
Barang dagangan utama
Perdagangan (SIUP)
yaitu Pupuk NPK, Dolomit, Daftar ulang tanggal 5
1. Kecil No. 3542/13-
Granul Fospat Alam (KBLI November 2019
18/SIUP-
20123)
K/X/2014/P.1 Badan Penanaman
Tanda Daftar Modal dan Perizinan Berlaku sampai dengan
2. Perusahaan No. Pemerintah tanggal 5 November
Kegiatan usaha pokok yaitu
13.18.1.20.00052 Kabupaten Lamongan 2019
Industri Pupuk NPK,
Izin Usaha Industri
Dolomit, Granul Fospat Masa berlaku sampai
(IUI) No. 3770/13-
3. Alam (KBLI 20123) dengan 9 November
18/ILMEA/
2019
I.Z.00.01/X/2014.P1
Izin Mendirikan
Memberikan izin untuk
Bangunan No.
4. mendirikan bangunan
188/2580/Kep/413.
Kator Perizinan Gudang Pengolahan Pupuk
412/2009 Tidak memiliki masa
Pemerintah
Izin Mendirikan Memberikan izin untuk berlaku izin
Kabupaten Lamongan
Bangunan No. mendirikan bangunan
5.
188/3708/Kep/413. Pengembangan Gudang
215/2010 Pengolahan Pupuk
Badan Penanaman Memberikan izin gangguan
Izin Gangguan (HO) Berlaku sampai dengan
Modal dan Perizinan (HO) kepada PT.
6. No. 503/2712/Kep/ tanggal 15 Agustus
Pemerintah FORMITRA MULTI
413.215/2012 2017
Kabupaten Lamongan PRAKARSA
Tidak memiliki masa
berlaku izin (selama
tidak terjadi
Rekomendasi atas DPLH pemindahan lokasi,
Rekomendasi Badan Lingkungan
Kegiatan Pengolahan kapasitas produksi,
7. DPLH No. 660/653/ Hidup Pemerintah
Pupuk di Desa Sidokelar desain, proses produksi
413.207/2011 Kabupaten Lamongan
Kecamatan Paciran dan / atau terjadi
bencana yang
menyebabkan
perubahan lingkungan)
Sumber : PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, 2017

2. Izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)


PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA tidak memiliki Izin PPLH berdasarkan PP
No. 27 Tahun 2012.

C. USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG TELAH BERJALAN


1. Nama usaha dan/atau kegiatan :
INDUSTRI PUPUK ALAM & PUPUK BUATAN MAJEMUK

2. Lokasi usaha dan/atau kegiatan

DPLH (2017) | 2
Lokasi Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan Majemuk ini berada di Jl. Raya
Gresik Tuban KM 61,8 Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Kabupaten
Lamongan. Detail lokasi kegiatan meliputi wilayah administrasi pemerintahan,
koordinat lokasi serta batas-batas lokasi kegiatan diperjelas sebagai berikut:

2.1. Wilayah Administrasi Pemerintahan


Wilayah administrasi pemerintahan Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan
Majemuk PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA sebagai berikut (Gambar 1) :
Desa : Sidokelar
Kecamatan : Paciran
Kabupaten : Lamongan
Provinsi : Jawa Timur

2.2. Koordinat Lokasi Kegiatan


Lokasi kegiatan terletak pada koordinat sebagai berikut (Gambar 2) :
A. 7 8'41,43" LS C. 7 8'50,19" LS E. 7 8'43,90" LS
1129'52.44" BT 11210'1.35" BT 1129'56.35" BT
B. 7 8'45,50" LS D. 7 8'48,57" LS F. 7 8'43,81" LS
11210'2.09" BT 1129'56.45" BT 1129'52.74" BT

2.3. Batas-Batas Lokasi Kegiatan


Batas-batas lokasi kegiatan sebagai berikut (Gambar 3) :
Sebelah utara : Jalan PU. Bina Marga dan Tanah Milik Sdr. Supyan
Sebelah selatan : Tanah Milik Sdr. Shodiq dan Achmad Yani
Sebalah timur : Tanah Milik Sdr. Masykur
Sebelah barat : Jalan Desa

2.4. Kesesuaian Lokasi dengan Tata Ruang


Berdasarkan RTRW Kabupaten Lamongan tahun 2011-2031, lokasi kegiatan
Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan Majemuk PT. FORMITRA MULTI
PRAKARSA berada pada Wilayah Pengembangan II (Gambar 4) dengan fungsi
sebagai :
- pusat pemerintahan skala kecamatan/lokal
- pusat perdagangan dan jasa skala regional
- pusat industri besar dan strategis nasional
- pengembangan kawasan minapolitan
- pusat pelabuhan dan industri perikanan skala regional dan nasional
- pusat kegiatan pariwisata skala regional
- pusat pelayanan pelabuhan barang skala regional
- pusat pengembangan pendidikan
Sehingga kegiatan ini dapat dikatakan sesuai dengan salah satu arahan kegiatan
pada pola ruang WP II tersebut karena mendukung kegiatan di sektor industri besar
dan strategis nasional.
Gambar 1- peta

DPLH (2017) | 3
DPLH (2017) | 4
Gambar 2 koordinat

DPLH (2017) | 5
Gambar 3- batas

DPLH (2017) | 6
Gambar 4 - rtrw

DPLH (2017) | 7
3. Mulai beroperasi
Kegiatan Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan Majemuk PT. FORMITRA
MULTI PRAKARSA pada lokasi kegiatan (Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran,
Kabupaten Lamongan) tersebut beroperasional sejak 24 April 2009.

4. Deskripsi usaha dan/atau kegiatan


a.) Kegiatan utama dan kegiatan pendukung (fasilitas utama dan fasilitas penunjang)
yang telah berjalan beserta skala besaran kegiatannya.
PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA adalah Industri yang bergerak dalam
bidang pembuatan pupuk NPK, fospat, organik, dolomit dan clay, yang saat ini
berencana mengembangkan kapasitas kegiatan, seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Skala / Besaran Usaha dan / atau Kegiatan


Besaran yang diizinkan
Kriteria Usaha
berdasarkan Rekomendasi
yang Mengalami Eksisting Kegiatan
DPLH Nomor : 660/653/
Perubahan
413.207/2011
Luas Lahan &
Bangunan

Kegiatan Utama Pengolahan pupuk : Pengolahan pupuk :


- Fospat Alam - Fospat Alam
- NPK - NPK
- Organik
- Dolomit
- Clay

Kapasitas Produksi - Fospat Alam : 12.000 Ton/tahun - Fospat Alam : 12.000 Ton/tahun
- NPK : 9.000 Ton/tahun - NPK : 9.000 Ton/tahun
- Organik : 10.000 Ton/tahun
- Dolomit : 10.000 Ton/tahun
- Clay : 10.000 Ton/tahun

Mesin Produksi - Mesin Granul 8 unit - Mesin Granul 8 unit


- Mesin Dryer 4 unit - Mesin Dryer 4 unit
- Mesin Mixer 4 unit - Mesin Mixer 4 unit
- Mesin Pendulum 1 unit
- Mesin Hammer Mill 2 unit

Perlatan Penunjang - Truk (3 unit) - Truk (3 unit)


- Timbangan (2 unit) - Timbangan (2 unit)
- Wheel Loader 1 unit (Komatsu
WA350, kapasitas 5 Ton)

Bahan Baku & - Tepung Fospat Alam - Tepung Fospat Alam


Penolong - Urea - Urea
- KCl - KCl
- Fospat - Fospat
- Kotoran ayam / sapi
- Dolomit
- Blotong

DPLH (2017) | 8
- Mikroba dekomposer
- Tanah merah / kuning

Jumlah Tenaga 14 orang karyawan tetap 14 orang karyawan tetap


Kerja 20 Tenaga harian & borongan 40 Tenaga harian & borongan

Sumber Daya Energi PLN 197 kVa PLN 197 kVa

Sumber Daya Air Air tanah 2 m3/hari Air tanah 3,2 m3/hari
Bersih

Sumber : PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, 2017

b.) Informasi kegiatan dan kondisi lingkungan di sekitar


Kegiatan Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan Majemuk PT. FORMITRA
MULTI PRAKARSA ini dibangun diatas tanah seluas 10.910 m2. Uraian
penggunaan lahan, jenis bangunan, serta luasan pada lokasi kegiatan disajikan pada
Tabel 3.

Tabel 3. Penggunaan Lahan


Penggunaan Ukuran Luas
No Jenis Bangunan
Lahan (m) (m2)

1 Area tertutup

Total Luas Area Tertutup

2 Area terbuka

Total Luas Area Tertutup


Total Luas Lahan
Sumber : PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, 2017

DPLH (2017) | 9
Kondisi eksisting lokasi kegiatan pada Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan Majemuk
PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA dapat dilihat pada Gambar 5, sedangkan layout
mengenai lokasi kegiatan disajikan pada Gambar 6.

Gambar 5. Kondisi Eksisting Bangunan Pada Lokasi Kegiatan

DPLH (2017) | 10
Gambar 6 - layout

DPLH (2017) | 11
c.) Kegiatan yang menjadi sumber dampak dan besaran dampak lingkungan yang
terjadi

Tabel 4. Sumber Dampak dan Besaran Dampak Lingkungan yang Terjadi


No Sumber Dampak Jenis Dampak Besaran Dampak
1 Aktivitas bongkar Potensi penurunan kualitas Sebaran dampak hingga radius 100
muat, udara akibat debu m dari area kegiatan
pengangkutan Kerusakan jalan Potensi kerusakan jalan hingga radius
bahan & produk + 500 m
jadi Penurunan kualitas udara akibat Sebaran dampak hingga radius 100
emisi kendaraan pengangkut m dari area kegiatan
Peningkatan ceceran material & Sebaran ceceran terjadi di jalan
produk selama perjalanan radius 500 m
2 Aktivitas produksi Penurunan kualitas udara akibat Sebaran dampak hingga radius 50
debu dan bau m dari area produksi
Potensi kecelakaan serta Kemungkinan terjadinya kecelakaan
gangguan kesehatan pekerja kerja pada 54 orang pekerja
Potensi bahaya kebakaran akibat Sebaran dampak diperkirakan hingga
operasional mesin radius 15 m
Peningkatan kebisingan Kebisingan yang ditimbulkan oleh
mesin berkisar 60-70 dB
3 Aktivitas Peningkatan limbah cair Volume limbah cair domestik yang
karyawan dan domestik dihasilkan 2.160L/hari
tamu Timbulan limbah padat Volume limbah padat domestik yang
domestik dihasilkan 108 L/hari
4 Aktivitas Timbulan limbah B3 Besaran limbah B3 yang dihasilkan:
perawatan - Lampu operasional (5 buah/ tahun)
peralatan - Oli mesin (5 L / 6 bulan)
- Kemasan B3 (1 L / 6 bulan)
- APD dan dan kain majun (1
L/bulan)
Sumber : PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, 2017

5. Uraian mengenai komponen kegiatan yang telah berjalan dan dampak


lingkungan yang ditimbulkan.
Komponen kegiatan yang telah berjalan antara lain :

5.1 Aktivitas bongkar muat, pengangkutan bahan & produk jadi


Adalah suatu proses kegiatan memuat barang (bahan dan produk jadi) ke dalam
alat pengangkutan dari pemuatan ke tempat tujuan dan dan menurunkan barang
dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan.
Bahan baku yang digunakan berasal dari wilayah Kabupaten Lamongan dan
Gresik. Kendaraan pengangkut yang digunakan untuk bahan baku merupakan
tanggung jawab pihak supplier, sedangkan untuk pengiriman produk jadi
menggunakan Truk Colt Diesel Double (CCD) Bak dengan berat maksimal 7,5
Ton. Pengiriman produk jadi meliputi seluruh area Indonesia, bekerjasama dengan
transporter untuk pengangkutan diluar pulau jawa. Pengangkutan bahan baku dan
pengriman produk jadi dilakukan 12 Truk / hari.

DPLH (2017) | 12
Gambar 7. Kendaraan Pengangkut

Pada aktivitas ini ditimbulkan dampak :


- Penurunan kualitas udara akibat debu
Debu adalah partikel padat yang berukuran sangat kecil. Pada aktivitas bongkar
muat, ditimbulkan debu yang berasal dari bahan baku (dolomit dan tanah merah /
kuning). Hal ini disebabkan karena proses penurunan bahan baku dari kendaraan
pengangkut.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan penyiraman lahan, penanaman pohon
disekeliling lokasi penyimpanan bahan baku. Hal ini dilakukan agar debu tidak
terbawa oleh udara keluar dari lokasi kegiatan. Selain itu, untuk para pekerja
dihimbau agar menggunakan alat pelindung diri seperti masker pada saat aktivitas
bongkar muat.

- Potensi kerusakan jalan


Kerusakan pada struktur jalan terbagi menjadi dua kriteria besar : retak dan
deformasi permanen. Kerusakan retak adalah kerusakan struktur jalan yang terjadi
akibat pelepasan lapisan permukaan dari lapisan bawahnya. Kerusakan ini terjadi
akibat beban tarik yang terjadi di lapisan permukaan melebihi kapasitas tarik bahan
perkerasan. Sementara kerusakan deformasi permanen adalah kerusakan yang
terjadi akibat penurunan permukaan tanah.
Pengendalian yang dilakukan berdasar Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan
Darat No. SK.726/AJ.307/DRJD/2004, tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Angkutan Alat Berat di Jalan, Bab XI Kewajiban Pengangkut, meliputi :
Melaksanakan pengangkutan sesuai tata cara pengangkutan yang ditentukan /
kelas jalan. Berdasar pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 58/
KPTS/M/2012 tentang Penetapan Kelas Jalan, akses jalan di lokasi kegiatan
termasuk dalam Kelas Jalan 1, dengan ketentuan dapat dilalui kendaraan
bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500mm, ukuran panjang tidak
melebihi 18.000mm, ukuran paling tinggi 4.200mm, dan muatan sumbu
terberat adalah 10 ton.
Memberikan pertanggungjawaban apabila terjadi kerusakan jalan, jembatan
dan gangguan lingkungan di sekitarnya yang diakibatkan pengoperasian
kendaraan pengangkut barang.

DPLH (2017) | 13
- Penurunan kualitas udara akibat emisi kendaraan pengangkut
Emisi adalah zat zat yang masuk ke dalam udara bebas yang mempunyai potensi
sebagai unsur pencemar. Gas buang kendaraan pengangkut merupakan sumber
polusi udara yang utama. Polusi yang dihasilkan kendaraan pengangkut adalah
exhaust gas dan hidrokarbon yang diakibatkan oleh penguapan bahan bakar.
Ambang batas emisi gas buang telah ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi
Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan
Bermotor Tipe Baru.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan rutin terhadap
kendaraan pengangkut, serta memastikan kepada pihak supplier agar menggunakan
kendaraan pengangkut yang telah lolos uji emisi. Sebagai upaya pemantauan, maka
dilakukan uji kualitas berkala terhadap kendaraan pengangkut, serta pengecekan
hasil uji emisi dari kendaraan pengangkut pihak supplier.

- Pengingkatan ceceran material (bahan baku) & produk selama perjalanan


Merupakan kondisi tidak sesuai dari kegiatan operasional yang menyebabkan
terjadinya ceceran. Material (bahan baku) dan produk jadi yang diangkut
berpotensi besar akan mengganggu lingkungan jika tercecer di jalan. Ceceran yang
ditimbulkan dapat mengakibatkan debu dan jika terjadi di saat penghujan, maka
akan terbentuk endapan / lumpur yang dapat membahayakan para pengguna jalan.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan melakukan penutupan bak kendaraan
pengangkut dan pengaturan muatan bahan serta produk jadi sesuai dengan
ketentuan teknis mengacu pada Keputusan Direktur Jendral Perhubungan Darat
Nomor : SK.727/AJ.307/DRJD/2004 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Angkutan Barang Umum di Jalan. Sebagai upaya pemantauan, maka dilakukan
pengamatan langsung terhadap kondisi muatan, penutup bak pengangkut serta
kondisi jalan yang dilalui.

5.2 Aktivitas Produksi


Proses produksi yang dilakukan di PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, adalah
jenis Intermitten Processes (terputus putus), yaitu berproduksi atas pesanan
produk. Pada setiap tahapan proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan,
dapat dilakukan pemeriksaan secara mudah. Dengan demikian pengendalian proses
dapat dilaksanakan pada setiap tahap proses, sesuai dengan standard kualitas yang
telah ditetapkan manajemen perusahaan. Sistem produksi yang ada di PT.
FORMITRA MULTI PRAKARSA, antara lain :
Pembutiran (Granulasi)
Granulasi merupakan suatu proses pembentukan partikel-partikel besar yang
disebut granul dari suatu partikel serbuk yang memiliki daya ikat. Proses granulasi
yang dilakukan adalah metode granulasi basah. Granulasi basah (wet granulation)
adalah metode yang dilakukan dengan cara membasahi massa dengan cairan
sampai pada tingkat kebasahan tertentu lalu digranulasi. Alat yang digunakan

DPLH (2017) | 14
adalah Granulator, yaitu alat utama untuk membuat pupuk granul. Bentuk pan yaitu
lingkaran mendatar dengan kemiringan tertentu.

Penyaringan / Pengayakan
Ayakan, berfungsi untuk mensortir granul berdasarkan ukurannya. Pada umumnya
butiran-butiran granul dibuat dengan rata-rata diameter 3-5 mm.

Pengeringan
Pengering, berfungsi untuk mengeringkan granul atau material, dengan
mengurangi kadar air yang ada pada bahan. Pengeringan dilakukan dengan 2 cara,
yaitu secara alami dengan penjemuran langsung di bawah sinar matahari dan
menggunakan rotary dryer.

Fermentasi / dekomposisi
Adalah proses pencampuran bahan organic dengan bioaktivator (bikan mikroba
yang berfungsi mempercepat proses dekomposisi bahan membentuk kompos).
Selama proses ini, terjadi penguraian bahan bahan membentuk kompos. Proses
ini dilakukan dengan metode tradisional, yaitu menumpuk bahan dengan ukuran
2m x 1m x 1,5m. Pada bagian atas tumpukan ditutup dengan terpal untuk menjaga
kestabilan suhu dan kelembapan.

Penghalusan (Crusher)
Proses penghalusan dengan (crusher) dilakukan untuk bahan baku Dolomit dan
Tanah merah / kuning. Bongkahan dolomite dan tanah merah / kuning dari
penambangan diangkut ke unit pengolahan. Kemudian bongkahan tersebut
direduksi ukurannya dengan menggunakan alat pemecah batu untuk mendapatkan
dolomite dan tanah merah / kunig yang berukuran halus (tepung) dengan ukuran
tertentu yang disesuaikan dengan permintaan.

Penimbangan dan Pengemasan


Ukuran kemasan bisa bervariasi / bermacam - macam. Kemasan - kemasan kecil
bisa berukuran 1kg, 5kg, atau 10kg. Kemasan juga bisa menggunakan karung
dengan ukuran 25 30kg. Kemasan biasanya terdiri dari dua bagian, bagian luar
dan bagian dalam (inner). Kemasan bagian luar diberi merek / nama / logo
perusahaan.

DPLH (2017) | 15
Gambar 8. Mesin Produksi PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA

Tepung Urea, Fospat, Dolomit Tanah Merah Kotoran sapi


Fospat KCl, Air / Kuning / ayam,
Mikroba,
Pengeringan Dolomit
Pembutiran Pencampuran (Drying) Pengeringan
(Granulasi) (Mixing) (Drying)
Proses
Penghalusan Fermentasi
Penyaringan Pembutiran (Crusher) Penghalusan
(Granulasi) (Crusher)
Penyaringan
Penimbangan Penimbangan
Pengeringan Penimbangan
(Drying) Penimbangan
Pengemasan Pengemasan
Pengemasan
Pengayakan Pengemasan
Pupuk Fospat Pupuk
Alam Dolomit Pupuk Clay
Penimbangan Pupuk
Organik

Pengemasan

Pupuk NPK

Gambar 9. Diagram Alir Proses Produksi PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA

Pada aktivitas produksi, ditimbulkan dampak :


- Penurunan kualitas / pencemaran udara akibat debu dan bau
Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di
dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari
keadaan normalnya. Jadi, pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya
unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya
kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta
menurunkan kualitas lingkungan. Sumber pencemar udara pada Industri Pupuk
Alam & Pupuk Buatan Majemuk PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA, adalah

DPLH (2017) | 16
dari aktivitas mesin crusher / pendulum (penggilingan material batuan dolomit dan
tanah merah / kuning / clay).
Selain debu, juga dihasilkan dampak lingkungan berupa bau. Pemerintah telah
mengatur batasan / tingkat kebauan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. 50 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan. Proses fermentasi
/ dekomposisi dalam pembuatan pupuk organic menjadi sumber dari dampak bau
yang dihasilkan. Senyawa kimia yang terjadi pada proses tersebut, kemudian
terdispersi dalam udara ambien yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Pengendalian lingkungan yang dapat dilakukan untuk dampak debu dan bau antara
lain :
Instalasi unit dust collector / penangkap debu di mesin crusher / pendulum
Perawatan instalasi dust collector secara berkala (penggantian filter,
inspeksi kebocoran, dll)
Penanaman dan perawatan tanaman yang memiliki bau khusus dan dapat
berfungsi sebagai penyerap, seperti minyak kayu putih, bambu, dll

- Potensi kecelakaan kerja


Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (UU JAMSOSTEK) yang berbunyi Kecelakaan kerja adalah kecelakaan
yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul
karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan
berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan
yang biasa atau wajar dilalui. Jenis - jenis kecelakaan kerja dalam klasifikasi ini
bisa berupa terjatuh, terpeleset, tertimpa benda, tertumbuk, tertabrak, terjepit, gerak
yang melebihi batas wajar, efek dari suhu sekitar yang tidak wajar, tersengat arus
listrik tegangan tinggi, terjadinya kontak dengan bahan B3, dan lain-lain.
Tindakan pengendalian yang dilakukan meliputi kegiatan promotif dan preventif
berdasar pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 10/2016 tentang Tata Cara
Pemberian Program Kembali Kerja serta Kegiatan Promotif dan Preventif
Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, antara lain :
Kampanye keselamatan berlalu lintas dalam mencegah terjadinya
kecelakaan kerja dalam perjalanan
Promosi dan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat
Pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja
Peningkatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja
Pemeriksaan kesehatan / medical checkup pekerja
Pemeriksaan lingkungan kerja
Penyediaan alat pelindung diri dan sarana keselamatan & kesehatan kerja
Penyediaan sarana komunikasi, informasi, dan edukasi dalam pencegahan
kecelakaan kerja dan/atau penyakit akibat kerja

DPLH (2017) | 17
- Potensi kebakaran
Dengan terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat
Kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun
1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api
Ringan yang membuktikan bahwa masalah kebakaran adalah masalah yang serius
untuk ditanggulangi. Upaya pengelolaan bahaya kebakaran, antara lain :
Hydrant Halaman / Pillar Hydrant adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang
membutuhkan pasokan air dan dipasang di luar bangunan. Perencanaan sistem
instalasi akan dilakukan bekerjasama dengan pihak penyedia (pihak ke-3).
Perencanaan kebutuhan Tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang akan
diaplikasikan pada Pabrik Pengolahan Snack, mengacu pada National Fire
Protection Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable Fire
Extinguishers, 2013 Edition. Pertimbangan dalam melakukan analisa :
- Industri Pupuk termasuk dalam Kebakaran Kelas A dan Kelas C, yaitu dari
bahan padat yang mudah terbakar seperti kayu, kertas, plastik, serta yang
disebabkan arus listrik pada peralatan, panel listrik dan lain-lain.
- Estimasi jumlah APAR dan penyebaran berdasarkan seperti berikut :

Sumber : National Fire Protection Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable
Fire Extinguishers, 2013 Edition

Kebutuhan APAR pada setiap area (berdasarkan fungsi lahan) dianalisa


berdasarkan maximum luas area yang dapat diproteksi APAR yaitu 11250 ft2 /
1045 m2 ; kebutuhan total 22 unit APAR dan lebih detail pada Tabel 11 :

Tabel 5. Jumlah APAR


Fungsi Lahan Luas (m2) Jumlah APAR
Bangunan Pabrik 1.188 2
Kantor 104 1
Musholla 48 -
TPS LB3 80 1
Area Kacip dan Sortir 456 1
Total Kebutuhan APAR 9
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

DPLH (2017) | 18
- Peningkatan kebisingan
Kebisingan atau bising pada umumnya didefinisikan sebagai bunyi yang tidak
dikehendaki, tingkat kebisingan itu sendiri merupakan suatu hal yang dapat diukur
namun dampak rasa bising merupakan hal yang fenomenal yang akan bergantung
pada subjek penderita. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup
telah menetapakan aturan kebisingan lingkungan melalui Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 48/MENLH/11/1996 yang mengatur tentang batas baku
kebisingan pada area pemukiman ataupun fasilitas umum masyarakat lainnya.
Tingkat Kebisingan di area pemukiman ditetapkan tidak melebihi 55 dBA.
Disamping itu pemerintah juga telah menetapkan batas ambang baku kebisingan
pada area kerja sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.55/MEN/
1999, bahwa nilai ambang batas kebisingan di area kerja maksimal 85 dBA dengan
waktu pemajanan 8 jam.
Pengendalian kebisingan didasarkan pada analisa terhadap sumber dari bising itu
sendiri. Pada lokasi kegiatan sumber bising terdapat pada proses crusher dan suara
mesin. Upaya yang dilakukan adalah melakukan rekayasa engineering, yaitu
menganalisa penyebab kebisingan di mesin dan melakukan perbaikan terhadap
mesin dengan memasang peredam untuk mereduksi bising yang dihasilkan. Selain
itu, juga memastikan kepada para pekerja untuk menggunakan ear plug, agar tidak
terpapar kebisingan secara langsung.

5.3 Aktivitas Karyawan dan Tamu


Aktivitas karyawan dan tamu berkaitan dengan fasilitas penunjang yang
disediakan, seperti kegiatan MCK, musholla dan mess karyawan. Dampak yang
diperkirakan timbul dari aktivitas karyawan dan tamu antara lain peningkatan
volume limbah cair dan timbulan limbah padat domestik.
- Timbulan limbah padat domestik / sampah
Berdasarkan SNI 19-2454 tahun 2002, sampah adalah limbah yang bersifat padat
terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi
dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi
pembangunan. Pada tahap operasional kegiatan hakekatnya selalu dihasilkan
sampah yang bersifat domestik dan non-domestik. Limbah padat / sampah
domestik adalah limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, sedangkan non-
domestik merupakan sampah dari suatu proses / kegiatan yang dilakukan. Besaran
timbulan sampah domestik yang dihasilkan adalah 108 L/hari.
Dengan adanya UU No. 18 /2008 tentang Pengelolaan Sampah maka perlu suatu
pengelolaan sampah dengan maksimal. Adapun upaya pengelolaan sampah dapat
dilakukan dengan cara Reuse, Reduce, dan Recycle (3R).

Tabel 6. Upaya 3R di Rumah Tangga


Penanganan 3R Cara Pengerjaan
- Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang
Reuse sama atau fungsi lainnya.
- Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan

DPLH (2017) | 19
berulang-ulang.
- Gunakan batere yang dapat di-charge kembali.
- Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada
pihak yang memerlukan.
- Pilih produk dengan pengemas yang dapat didaur-
ulang.
- Hindari pemakaian dan pembelian produk yang
Reduce
menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
- Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill).
- Kurangi penggunaan bahan sekali pakai.
- Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang
dan mudah terurai.
- Lakukan pengolahan sampah organik menjadi
Recycle
kompos.
- Lakukan pengolahan sampah non organik menjadi
barang bermanfaat.
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

- Penigkatan limbah cair domestik


Aktivitas karyawan dan tamu yang dilakukan antara lain kegiatan sanitasi (MCK
pekerja) sebanyak 54 orang tenaga kerja. Pada kegiatan tersebut terjadi
peningkatan kebutuhan air bersih untuk MCK pada lokasi kegiatan. Air bersih
diperoleh dari sumur air tanah. Jumlah kebutuhan air bersih total adalah + 3.250
L/hari, dimana 2.700 L/hari digunakan untuk keperluan domestik karyawan
(MCK). Dari aktivitas MCK karyawan ini kemudian menimbulkan air limbah
domestik sebesar 60-80% dari kebutuhan air, yakni sebesar 2.160 L/hari yang
dikelola dengan penyediaan septic tank dan sistem resapannya. Neraca air bersih
dan air limbah pada tahap operasional Industri Pupuk Alam & Pupuk Buatan
Majemuk PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA baik kebutuhan domestik
maupun non-domestik secara keseluruhan ditampilkan pada Gambar 10.

Sumur Bor
(3250 L/hari)

Kebutuhan Domestik (MCK) Kebutuhan Non-Domestik


2700 L/hari 550 L/hari

Air Limbah (2160 L/hari) Proses produksi (50 L/hari)

Penyiraman lahan & RTH (500 L/hari)


Septic Tank

Habis Terpakai

Gambar 10. Neraca Air Tahap Operasional PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA

DPLH (2017) | 20
5.4 Aktivitas Perawatan Perlatan
Aktivitas pekerjaan perawatan ini meliputi maintenance dan reparasi agar mesin
dan semua yang terkaitnya selalu dalam kondisi prima. Petugas maintenance mesin
biasanya melakukan pencatatan terhadap daftar komponen yang rusak. Catatan
yang menjadi diagnosa dan berita acara kerja itu nantinya akan menjadi
dokumentasi guna menjadi acuan pada perencanaan pekerjaan perbaikan di masa
depan. Bergantung dari jenis maintenance dan reparasi, yang terbaik adalah
kecepatan sebuah proses perawatan meski tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai
ketelitian dan kesempurnaan sebuah tanggung jawab pekerjaan. Inspeksi dan
pelumasan terhadap mesin sebagai bagian dari kerja perawatan mesin industri.
Pelumasan sendiri adalah tindakan preventif dari aus dan pengaruh gesekan-
gesekan. Pelumasan diberikan pada bagian yang membutuhkan suhu tetap terus
menerus. Pelumasan yang tidak terkontrol secara berkala akan membuat mesin
lebih cepat rusak dari semestinya.
Pada aktivitas ini, ditimbulkan dampak :
- Limbah B3 (Bahan Berbahaya & Beracun)
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 11, yaitu
Pengelolaan Limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau
penimbunan, serta Pasal 74 ayat 1 yaitu Dalam hal Setiap Orang yang
menghasilkan Limbah B3 tidak mampu melakukan sendiri Pemanfaatan Limbah
B3 yang dihasilkannya, maka Pemanfaatan Limbah B3 diserahkan kepada
Pemanfaat Limbah B3. Jenis limbah serta besaran masing-masing limbah yang
dihasilkan adalah sebagai berikut :
- Lampu operasional : 5 buah / tahun
- Oli sisa perawatan peralatan : 5 liter / 6 bulan
- Kemasan B3 : 1 liter / 6 bulan
- APD dan kain majun : 1 liter / bulan
Pengendalian yang dilakukan antara lain :
Pewadahan / pengemasan limbah B3 terbuat dari bahan yang dapat mengemas
limbah B3 sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang akan disimpan. Wadah
limbah B3 harus berada dalam kondisi baik, tidak bocor, tidak berkarat dan tidak
rusak. Wadah / kemasan limbah B3 juga wajib dilekati label limbah B3 dan simbol
limbah B3.
Tempat penyimpanan sementara (TPS) dibuat dengan lantai yang kedap air,
misalnya lantai semen atau concrete. Penghasil limbah B3 wajib mencatat :
- Jumlah & waktu limbah dihasilkan
- Jumlah & waktu limbah diserahkan
- Nama pengangkut / transporter (rekomendasi dari KLH)

D. UPAYA PENGELOLAAN DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN


Identifikasi dampak lingkungan yang akan terjadi beserta besaran dampaknya dari
kegiatan PT. FORMITRA MULTI PRAKARSA ditabulasikan pada Matriks
Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan pada Tabel 7 dibawah ini.
DPLH (2017) | 21
MATRIK

DPLH (2017) | 22