Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah
inferior buli-buli dan melingkari uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini
dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar
dari buli-buli. Bentuknya sebesar buah kemiri dengan berat normal pada orang dewasa
kurang lebih 20 gram. Mc Neal membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain
zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskular anterior, dan zona
periuretra. Sebagian besar hyperplasia prostat terdapat pada zona transisional.
Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon testosteron, yang di dalam
sel kelenjar prostat, hormon ini akan diubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron
(DHT) dengan bantuan enzim 5-reduktase. DHT inilah yang secara langsung memacu m-
RNA di dalam sel kelenjar prostat untuk mensintesis growth factor yang memacu
pertumbuhan dan proliferasi sel kelenjar prostat.
Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna (BPH).
Keadaan ini dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang
berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran urin
sehingga menimbulkan gangguan miksi.
BAB II

2.1 Anatomi, Histologi dan Fisiologi


Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior kandung kemih,
di sebelah superior diafragma urogenital, di depan rektum dan membungkus uretra pars
prostatika. Prostat merupakan kelenjar yang mulai menonjol pada masa pubertas. Biasanya
kelenjar prostat dapat tumbuh seumur hidup. Prostat merupakan organ kelenjar
fibromuskular yang mengelilingi uretra pars prostatika. Prostat mempunyai panjang kurang
lebih 3 cm dan berat normal kurang lebih 20 gram. Prostat dapat teraba pada pemeriksaan
rectal toucher.
Secara histopatologis, kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma.
Komponen stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblas, pembuluh darah, saraf dan jaringan
penyanggah lainnya. Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran
otot polos dan jaringan ikat, dan ductusnya bermuara ke uretra pars prostatika. Kelenjar-
kelenjar ini dilapisi oleh selapis epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid.
Prostat terbagi menjadi 5 lobus, yaitu:
lobus anterior terletak di depan uretra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar
lobus medius adalah kelenjar berbentuk biji yang terletak diantara uretra dan
duktus ejakulatorius, bagian atas lobus medius berhubungan dengan trigonum
vesica dan mengandung banyak kelenjar
lobus posterior terletak di belakang uretra dan di bawah duktus ejakulatorius,
juga mengandung banyak kelenjar
lobus dextra dan lobus sinistra terletak disamping uretra dan dipisahkan oleh
alur vertikal dangkal yang terdapat pada facies posterior prostat, juga
mengandung banyak kelenjar
Perdarahan untuk prostat adalah cabang dari arteri vesicalis inferior dan arteri
rectalis media. Vena membentuk plexus venosus prostatikus yang menampung darah dari
vena dorsalis profunda penis dan sejumlah vena vesicales, yang selanjutnya akan bermuara
ke vena iliaca interna. Kelenjar limf regionalnya adalah kelenjar limf hipogastrik, sakral,
obturator dan iliaka eksterna.
Prostat mendapatkan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari plexus
prostaticus yang menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan
simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Rangsangan parasimpatik meningkatkan
sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan
pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. Sistem
simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat dan leher kandung
kemih. Di tempat itu banyak reseptor adrenergik-a. Rangsangan simpatik menyebabkan
dipertahankan tonus otot polos tersebut. Pada usia lanjut sebagian pria akan mengalami
pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasia jinak sehingga dapat menyumbat uretra
posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.
Menurut McNeal, kelenjar prostat terbagi atas empat zona, yaitu:
zona perifer: merupakan 70% dari volume prostat dan mengelilingi distal
urerta, 70-80% kanker prostat berasal dari zona ini
zona central: merupakan 25% dari volume prostat dan mengelilingi duktus
ejakulatorius
zona transisi: merupakan 5% dari volume prostat dan mengelilingi proximal
uretra, kelenjar pada zona ini tumbuh seumur hidup dan benign prostatic
hyperplasia terjadi pada zona ini
zona anterior fibromuskular: terdiri dari otot dan jaringan fibrosa
Fungsi kelenjar prostat yaitu:
mengeluarkan cairan alkalis yang menetralkan sekresi vagina yang asam,
karena sperma lebih dapat bertahan dalam suasana yang sedikit basa
menghasilkan enzim-enzim pembekuan dan fibrinolisis. Enzim-enzim
pembekuan prostat bekerja untuk membekukan semen sehingga sperma yang
diejakulasi tetap bertahan di saluran reproduksi wanita, segera setelah itu
bekuan seminal diuraikan oleh fibrinolisis sehingga sperma dapat bergerak
bebas di dalam saluran reproduksi wanita
Saat otot polos pada capsula dan stroma berkontraksi, sekret yang berasal dari
banyak kelenjar masuk ke uretra pars prostatica. Jika terjadi pembesaran pada prostat maka
akan menyumbat uretra sehingga terjadi obstruksi pada saluran kemih.
Dihidrotestosteron yang dibentuk dari testosteron di sel Sertoli dan di beberapa
organ memiliki peranan dalam pertumbuhan prostat dan merangsang aktivitas sekretorik
prostat. Prostat juga dipengaruhi oleh hormon androgen, bagian yang sensitive terhadap
androgen adalah bagian perifer, sedangkan yang sensitive terhadap estrogen adalah bagian
tengah. Karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang mengalami hiperplasia, oleh
karena sekresi androgen yang berkurang sedangkan estrogen bertambah secara relatif
ataupun absolut.

2.2 Definisi
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan.
Istilah hiperplasia prostat jinak (BPH) sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu
terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat yang biasanya timbul
di periuretral dan zona transisi dari kelenjar yang kemudian menekan kelenjar normal yang
tersisa. Pembesaran ini akan menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra pars
prostatika, yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung kemih.

2.3 Epidemiologi
BPH merupakan bagian yang normal dari proses penuaan pada pria. BPH
merupakan penyakit yang sering diderita oleh pria. Berdasarkan angka autopsi perubahan
mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan
mikroskopik ini terus berkembang, maka akan terjadi perubahan patologi anatomik. Di
klinik 50% penderita BPH dengan gejala bladder outlet obstruction (BOO) dijumpai pada
kalangan usia 60-69 tahun. Angka ini meningkat sampai 90% pada usia 85 tahun. Karena
proses pembesaran prostat perlahan-lahan maka efek perubahan juga terjadi perlahan-
lahan.

2.4 Etiologi
Penyebab pasti BPH ini masih belum diketahui, penilitian sampai tingkat biologi
molekuler belum dapat mengugkapkan dengan jelas etiologi terjadinya BPH. BPH erat
kaitannya dengan ketidakseimbangan hormonal yang dipengaruhi oleh proses penuaan.
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah
sebagai berikut:
Teori dihidrotestosteron
Salah satu teori ialah teori Testosteron (T) yaitu T bebas yang dirubah
menjadi Dehydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5 a reduktase yang merupakan
bentuk testosteron yang aktif yang dapat ditangkap oleh reseptor DHT didalam
sitoplasma sel prostat yang kemudian bergabung dengan reseptor inti sehingga
dapat masuk kedalam inti untuk mengadakan inskripsi pada RNA sehingga akan
merangsang sintesis protein. Teori yang disebut diatas menjadi dasar pengobatan
BPH dengan inhibitor 5a reduktase.
Ketidakseimbangan antara esterogen-testosteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun sedangkan kadar
esterogen relatif tetap, sehingga perbandingan antara esterogen dan testosteron
relatif meningkat. Telah diketahui bahwa esterogen di dalam prostat berperan dalam
terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitivitas
sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah
reseptor androgen dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis).
Hasil akhir dari semua ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru
akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada
mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat menjadi besar.
Interaksi stroma-epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat tidak secara langsung
dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator tertentu. Setelah sel-sel stroma
mendapatkan stimulasi dari dihidrotestosteron dan estradiol, sel-sel stroma
mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu
sendiri secara intrakin dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara
parakrin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun
stroma.
Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme
fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada jaringan
normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel.
Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan
jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga
menyebabkan pertambahan massa prostat.
Sampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti factor-faktor yang
menghambat proses apoptosis. Diduga hormone androgen berperan dalam
menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi
peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Esterogen diduga mampu
memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan factor pertumbuhan TGF-b berperan
dalam proses apoptosis.
Teori stem sel
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk
sel-sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu stem sel, yaitu sel yang
mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat
tergantung pada keberadaan hormone androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya
menurun seperti yang terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya apoptosis.
Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatannya
aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan pada sel stroma
maupun sel epitel.
2.5 Patofisiologi
Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan, efek perubahan juga
terjadi perlahan. Pada tahap awal pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen
uretra pars prostatika. Keadaan ini menyebabkan tekanan intravesikal meningkat, sehingga
untuk mengeluarkan urin, kandung kemih harus berkontraksi lebih kuat untuk melawan
tahanan tersebut. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik yaitu
hipertrofi otot detrusor. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi dinding
otot. Apabila keadaan berlanjut, otot detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi.
Apabila kandung kemih menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga
pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih, dan timbul rasa tidak
tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan
total, sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urin terus terjadi, pada
suatu saat kandung kemih tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intravesika
terus meningkat. Apabila tekanan kandung kemih menjadi lebih tinggi daripada tekanan
sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan
refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal
dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi, penderita sering kali mengedan sehingga
lama-kelamaan bisa menyebabkan hernia atau hemoroid.
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda
obstruksi saluran kemih adalah penderita harus menunggu keluarnya kemih pertama, miksi
terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah dan rasa belum puas
sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor yaitu bertambahnya
frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena
detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama
sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak
sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat merangsang kandung kemih sehingga
sering berkontraksi meskipun belum penuh. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat
terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi
dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluks, dapat terjadi pielonefritis. Gejala dan tanda ini dievaluasi menggunakan
International Prostate Symptom Score (IPSS) untuk menentukan beratnya keluhan klinis.
Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5
yang memiliki nilai maksimum 35. Keadaan pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan
skor yang diperoleh sebagai berikut:
Skor 0-7 : bergejala ringan
Skor 8-19 : bergejala sedang
Skor 20-35 : bergejala berat
Selain 7 pertanyaan diatas, di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu
pertanyaan tunggal mengenai kualitas hidup (Quaility of Life atau QoL) yang juga terdiri
dari 7 kemungkinan jawaban.

Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. Kalau pada
prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1, maka pada BPH rasionya
meningkat menjadi 4:1, sehingga terjadi peningkatan tonus otot polos prostat. Dalam hal
ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik, sedangkan tonus otot
polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat.

2.6 Gambaran Klinis


Pada umumnya pasien BPH datang dengan gejala-gejala traktus urinarius bawah
(lower urinary tract symptoms-LUTS) yang terdiri atas gejala obstruksi dan iritasi.
Gejala obstruksi :
- miksi terputus
- hesitancy: saat miksi pasien harus menunggu sebelum urine keluar
- harus mengedan saat mulai miksi
- berkurangnya kekuatan dan pancara urin
- sensasi tidak selesai berkemih
- miksi ganda (berkemih untuk kedua kalinya dalam waktu < 2 jam setelah miksi
sebelumnya)
- menetes pada akhir miksi
Gejala iritasi :
- frekuensi : miksi sering
- urgensi : tidak dapat menahan lagi saat ingin miksi
- nokturia : terbangun saat malam hari untuk miksi
- inkontinensia : urin keluar di luar kehendak

2.7 Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis yang cermat
guna mendapatkan data tentang riwayat penyakit yang dideritanya. Anamnesis itu meliputi:
Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu
Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenital (pernah mengalami
cedera, infeksi atau pembedahan)
Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual
Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi
Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan
Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala
obstruksi akibat pembesaran prostat adalah IPSS.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh dan teraba
massa kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urin. Kadang-kadang didapatkan urin
yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yaitu pertanda inkontinensia paradoks.
Colok dubur pada BPH menunjukkan adanya pembesaran prostat, konsistensi
prostat kenyal, lobus kanan dan kiri simetris dan ada / tidaknya didapatkan nodul.

Pemeriksaan penunjang
- Prostate specific antigen (PSA), bersifat spesifik organ tetapi tidak spesifik kanker.
Pemeriksaaan ini dapat dilakukan untuk menilai bagaimana perjalanan penyakit
BPH selanjutnya. Kadar PSA yang lebih tinggi dapat berarti laju pertumbuhan
volume prostat yang lebih cepat. keluhan akibat BPH lebih berat, atau lebih mudah
terjadi retensi urine akut. Rentang normal nilai PSA adalah :
40-49 tahun : 0-25 ng/mL
50-59 tahun : 03,5 ng/mL
60-69 tahun : 04.5 ng/mL
70-79 tahun : 06.5 ng/mL
Nilai PSA > 4 ng/mL merupakan indikasi tindakan biopsi prostat.
- Flowmetri : Qmax (laju pancaran urine maksimal) turun, biasanya < 15 cc.
- USG/kateter untuk menilai volume urine residual.
- Transrectal / Transabdominal Ultrasonography (TRUS/TAUS): mengukur volume
prostat dan menemukan gambaran hipoekoik.
- Pemeriksaan atas indikasi : intravenous pyelography (IVP) dan sistogram

2.8 Diagnosa Banding


Obstruksi saluran kemih bagian bawah lain seperti striktur uretra, kontraktur pada
leher buli, batu buli atau keganasan prostat. Riwayat instrumentasi uretra, uretritis atau
trauma harus dieksklusi untuk menyingkirkan striktur uretra atau kontraktur leher buli.
Hematuria dan nyeri umumnya berhubungan dengan batu buli-buli, keganasan prostat
dapat terdeteksi awal dari colok dubur dan peningkatan PSA.
Infeksi saluran kemih dapat menyerupai gejala iritatif dari BPH. Dapat
diidentifikasi dari urinalisis dan kultur, walaupun infeksi saluran kemih ini dapat
merupakan komplikasi dari BPH. Keluhan iritatif juga dapat berhubungan dengan
keganasan kandung kemih terutama karsinoma insitu, dimana pada urinalisis didapatkan
hematuria. Riwayat kelainan neurologis, stroke, DM dan cedera tulang belakang dapat
mengarah ke neurogenic bladder. Umumnya didapatkan penurunan sensibilitas pada
perineum dan ektremitas inferior dan penurunan tonus sphincter ani dan reflek
bulbocavernous, mungkin didapatkan perubahan pola defekasi.

2.9 Penatalaksanaan
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah:
Memperbaiki keluhan miksi
Meningkatkan kualitas hidup
Mengurangi obstruksi infravesika
Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal
Mengurangi volume residu urin setelah miksi
Mencegah progresifitas penyakit
Pilihan terapi adalah mulai dari:
Tanpa terapi (watchful waiting)
Medikamentosa
Terapi intervensi
Di Indonesia, tindakan transurethral resection of the prostate (TURP) masih
merupakan pengobatan terpilih bagi penderita BPH.
Namun tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan medik.
Kadang penderita yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh tanpa mendapatkan terapi
apapun. Namun di antara mereka akhirnya ada yang membutuhkan terapi medikamentosa
atau tindakan medik lain karena keluhannya semakin parah.
Terapi non bedah dianjurkan bila nilai IPSS kurang dari 15 dan dianjurkan tetap
melakukan kontrol dengan menentukan nilai IPSS. Terapi bedah dianjurkan bila nilai IPSS
diatas 25 atau bila timbul obstruksi.
Prostat dibagi dalam empat derajat dengan tujuan untuk menentukan
penanganannya, yaitu:
Derajat Colok dubur Sisa volume urin
I Penonjolan prostat, batas atas mudah diraba < 50 mL
II Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai 50-100
III Batas atas prostat tidak dapat diraba >100 mL
IV Retensi urin total

Derajat I biasanya belum memerlukan tindakan bedah dan diberikan pengobatan


konservatif seperti antagonis adrenergik-a. Keuntungan antagonis adrenergi-a adalah efek
positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasia prostat sama
sekali. Kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
Derajat II merupakan indikasi untutk dilakukannya pembedahan. Biasanya
dianjurkan TURP. Kadang derajat II dapat dicoba dengan pengobatan konservatif.
Pada derajat III apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi
tidak akan selesai dalam 1 jam, sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka.
Pada derajat IV, tindakan pertama yang harus segera dilakukan adalah pembebasan
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistostomi. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian tentukan terapi definitif.

Watchful waiting
Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi
perkembangan penyakitnya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan
untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang tidak
menggangu aktivitas sehari-hari. Pada watchful waiting, pasien tidak mendapatkan terapi
apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat
memperburuk keluhannya, misalnya:
Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam
Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada buli-buli
(kopi atau cokelat)
Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin
Kurangi makanan pedas dan asin
Jangan menahan kencing terlalu lama
Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa
tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan laboratorium pemeriksaan
laju pancaran urine, maupun volume residual urine. Jika keluhan miksi bertambah jelek
dari pada sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan untuk memilih terapi yang lain.

Medikamentosa
Sebagai patokan jika skor IPSS > 7 berarti pasien perlu mendapatkan terapi
medikamentosa atau terapi lain. Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk:
Mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab
obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat adrenergik-a
Mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara menurunkan
kadar hormon testosteron atau dihidrotestosteron melalui penghambat 5a-reduktase
Selain kedua cara diatas, sekarang banyak dipakai terapi menggunakan fitofarmaka
yang mekanismenya belum jelas.
a. Penghambat reseptor adrenergik-
Pengobatan dengan antagonis adrenergik- bertujuan menghambat kontraksi otot
polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher buli-buli dan uretra.
Fenoksibenzamine adalah obat antagonis adrenergik- non selektif yang pertama kali
diketahui mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi. Namun
obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak
diharapkan, diantaranya adalah hipotensi postural dan menyebabkan penyulit lain pada
sistem kardiovaskuler.
Beberapa golongan obat antagonis adrenergik-1 yang selektif mempunyai durasi
obat yang pendek (short acting) diantaranya adalah prazosin yang diberikan dua kali sehari,
dan durasi obat yang panjang (long acting) yaitu terazosin, doksazosin, dan alfuzosin yang
cukup diberikan sekali sehari.
Akhir-akhir ini telah diketemukan pula golongan penghambat adrenergik- 1A, yaitu
tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Dilaporkan obat ini mampu
memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap tekanan darah maupun
denyut jantung.
b. Penghambat 5-reduktase
Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT)
daro testosteron yang dikatalisis oleh enzim 5-reduktase di dalam sel prostat. Menurunnya
kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel prostat menurun.
Dilaporkan bahwa pemberian obat ini (finasteride) 5 mg sehari yang diberikan
sekali setelah 6 bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga 28%, dan hal ini
memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi.

Pembedahan
Penyelesaian masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat ini adalah
pembedahan, karena pemberian obat-obatan atau terapi non invasif lainnya membutuhkan
jangka waktu yang sangat lama untuk melihat hasil terapi.
Desobstruksi kelenjar prostat akan menyembuhkan gejala obstruksi dan miksi yang
tidak terlampias. Pembedahan direkomendasikan pada pasien BPH yang:
Tidak menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa
Mengalami retensi urin
Infeksi saluran kemih berulang
Hematuria
Gagal ginjal
Timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran kemih
bagian bawah

a. Prostatektomi terbuka
Beberapa macam teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode dari Millin
yaitu melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubik infravesika,
Freyer melalui pendekatan suprapubik transvesika, atau transperineal. Prostatektomi
terbuka adalah tindakan yang paling tua yang masih banyak dikerjakan saat ini, paling
invasif, dan paling efisien sebagai terapi BPH. Prostatektomi terbuka dapat dilakukan
melalui pendekatan suprapubik transvesika atau infravesika. Prostatektomi terbuka
dianjurkan untuk prostat yang sangat besar (>100 gram).
Penyulit yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka adalah inkontinensia urin,
impotensi, ejakulasi retrograd, dan kontraktur buli-buli. Dibandingkan dengan TURP dan
TUIP, penyulit yang terjadi berupa striktura uretra dan ejakulasi retrograd lebih banyak
dijumpai pada prostatektomi terbuka. Perbaikan gejala klinis sebanyak 85-100% dan angka
mortalitas sebanyak 2%.

b. Endourologi
Saat ini tindakan TURP merupakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh
dunia. Operasi ini lebih disenangi karena tidak diperlukan insisi pada kulit perut, masa
perawatan lebih cepat, dan memberikan hasil yang tidak banyak berbeda dengan tindakan
operasi terbuka. Pembedahan endourologi transuretra dapat dilakukan dengan memakai
tenaga elektrik TURP atau dengan memakai energi laser. Operasi terhadap prostat berupa
reseksi (TURP), insisi (TUIP), atau evaporasi. Pada TURP, kelenjar prostat dipotong
menjadi bagian-bagian jaringan prostat yang dinamakan cip prostat yang akan dikeluarkan
dari buli-buli melalui evakuator Ellik.
- TURP (transurethral resection of the prostate)
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan
cairan pembilas agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh
darah. Cairan yang digunakan adalah berupa larutan non ionic, yang dimaksudkan
agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai dan
harganya cukup murah yaitu H2O steril (aquades).
- TUIP (transurethral incision of the prostate)
TUIP atau insisi leher buli-buli (bladder neck insicion) direkomendasikan
pada prostat yang ukurannya kecil (kurang dari 30 cm3), tidak dijumpai
pembesaran lobus medius, pada pasien yang umurnya masih muda, dan tidak
diketemukan adanya kecurigaan karsinoma prostat.
- Laser prostatektomi
Terdapat 4 jenis energi yang dipakai, yaitu: Nd:YAG, Holmium:YAG, KTP:
YAG, dan diode yang dapat dipancarkan melalui bare fibre, right angle fibre, atau
intersitial fibre. Kelenjar prostat pada suhu 600-650C akan mengalami koagulasi dan
pada suhu yang lebih dari 1000C mengalami vaporisasi.
Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih
sedikit menimbulkan komplikasi, dapat dikerjakan secara poliklinis, penyembuhan
lebih cepat dan dengan hasil yang kurang lebih sama, tetapi kemampuan dalam
meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun pancaran maksimal tidak sebaik
TURP.
- Elektrovaporasi
Cara elektrovaporisasi prostat hampir mirip dengan TURP, hanya saja
teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup
kuat, sehingga mampu membuat vaporisisai kelenjar prostat.

Tindakan invasif minimal


Selain tindakan invasif, saat ini sedang dikembangkan tindakan invasif minimal
yang terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi terhadap pembedahan.
Tindakan invasif minimal itu diantaranya:
TUMT (transurethral microwave thermotherapy)
TUNA (transurethral needle ablation of the prostate)
Pemasangan stent (prostacath), HIFU ( high intensity focused ultrasound), dan
dilatasi dengan balon (TUBD atau transurethral balloon dilatation)

Kontrol berkala
Setiap pasien hyperplasia prostat yang telah mendapatkan pengobatan perlu kontrol
secara teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Jadwal kontrol tergantung
pada tindakan apa yang telah dijalaninya. Pasien yang hanya mendapatkan pengawasan
(watchful waiting) dianjurkan kontrol setelah 6 bulan, kemudian setiap tahun untuk
mengetahui apakah terjadi perbaikan klinis. Penilaian dilakukan dengan pemeriksaan skor
IPSS, uroflometri, dan residu urin pasca miksi.
Pada pasien yang mendapatkan terapi penghambat 5-reduktase harus dikontrol
pada minggu ke-12 dan bulan ke-6 untuk menilai respon terhadap terapi. Kemudian setiap
tahun untuk menilai perubahan gejala miksi. Pasien yang menjalani pengobatan
penghambat reseptor adrenergik- harus dinilai respon terhadap pengobatan setelah 6
minggu dengan melakukan pemeriksaan IPSS, uroflometri, dan residu urin pasca miksi.
Kalau terjadi perbaikan gejala tanpa menunjukkan penyulit yang berarti, pengobatan dapat
diteruskan. Selanjutnya kontrol dilakukan setelah 6 bulan dan kemudian setiap tahun.
Pasien yang telah menerima pengobatan medikamentosa dan tidak menunjukkan adanya
perbaikan perlu dipikirkan tindakan pembedahan atau terapi intervensi yang lain.
Setelah pembedahan, pasien harus menjalani kontrol paling lambat 6 minggu pasca
operasi untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyulit. Kontrol selanjutnya setelah 3
bulan untuk mengetahui hasil akhir operasi. Pasien yang mendapatkan terapi invasive
minimal harus menjalani kontrol secara teratur dalam jangka waktu yang lama, yaitu
setelah 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan setiap tahun. Pada pasien yang mendapatkan terapi
invasive minimal, selain dilakukan penilaian terhadap skor miksi, dilakukan pemeriksaan
kultur urin untuk melihat kemungkinan penyulit infeksi saluran kemih akibat tindakan itu.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior kandung kemih,
di sebelah superior diafragma urogenital, di depan rektum dan membungkus uretra pars
prostatika. Prostat merupakan kelenjar yang mulai menonjol pada masa pubertas. Biasanya
kelenjar prostat dapat tumbuh seumur hidup. Prostat merupakan organ kelenjar
fibromuskular yang mengelilingi uretra pars prostatika. Prostat mempunyai panjang kurang
lebih 3 cm dan berat normal kurang lebih 20 gram. Prostat dapat teraba pada pemeriksaan
rectal toucher.
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan.
Istilah hiperplasia prostat jinak (BPH) sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu
terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat yang biasanya timbul
di periuretral dan zona transisi dari kelenjar yang kemudian menekan kelenjar normal yang
tersisa. Pembesaran ini akan menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra pars
Iprostatika, yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung kemih.
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah memperbaiki keluhan miksi,
meningkatkan kualitas hidup, mengurangi obstruksi infravesika, mengembalikan fungsi
ginjal jika terjadi gagal ginjal, mengurangi volume residu urin setelah miksi, dan mencegah
progresifitas penyakit.