Anda di halaman 1dari 1

Sejumlah esai panjang yang merefleksikan visi eksistensialis Sartre tentang dua tema utama,

seksualitas dan revolusi. Sek tidak hanya bisa dipandang dari satu sisi saja, yakni pemenuhan hasrat
seksual. Sek adalah suatu hal yang harus dijabarkan secara mendetail dengan karakter dan fungsi
yang melekat padanya. Sartre juga memberikan ulasan yang lebih mendalam dan dinamis tentang
revolusi-revolusi besar muncul pada abad ke-20. Ia mendedahkan keterkaitan antara pengalaman
historis kolektif itu dengan kesadaran individual, terutama pada kaum libertarian penganut doktrin
kebebasan yang selalu kritis. Di samping itu, esai-esai tentang revolusi ini pun menyaran pada suatu
bayangan ke depan, yakni peristiwa-peristiwa besar yang menyusul kemudian.

Jean-Paul Sartre (1905-1980) merupakan seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap
mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding
esensi (L'existence prcde l'essence). Artinya, manusia akan memiliki esensi jika ia telah eksis terlebih
dahulu dan esensinya itu akan muncul ketika manusia mati. Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel
Sastra, tapi ia tolak.