Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Imunisasi telah diakui sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling Efektif
dan berdampak terhadap peningkatan Kesehatan Masyarakat. Sehubungan dengan
itu maka kebutuhan akan Vaksin makin meningkat seiring dengan keinginan
dunia untuk mencegah berbagai Penyakit yang dapat menimbulkan kecacatan dan
kematian. Peningkatan kebutuhan Vaksin telah ditunjang pula oleh upaya
perbaikan produksi Vaksin dengan meningkatkan efektifitas dan keamanan
Vaksin (Profil Puskesmas Lembasada, 2016).
Untuk mencapau tujuan Millennium Development Goals dalam rangka
mengurangu 2/3 angka kematian bayi dalam periode 1990-2015, angka cakupan
imunisasi harus ditingkatkan untuk mencegah infeksi penyakit menular (termasuk
TBC, batuk rejan, tetanus, polio dan campak). Tentu upaya ini dilakukan seiring
dengan perhatian program bagi sumber kematian bayi yanag lain misalnya diare,
ISPA, malaria, dan malnutrisi (Budi, 2012)
Sesuai dengan kesepakatan global dan multi years plan (MYP) 2006-2011,
program, imunisasi nasional bertujuan untuk eradikasi polio, eliminasi tetanus
neonatorum, reduksi campak, reduksi hepatitis, safety injection, waste
management. Hal ini dilaksanakan sehingga penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I) yang menyebabkan kematian aak dinegara-negara berkembang
termasuk Indonesia dapat dieliminir bahkan dibasmi (eradikasi) (Budi, 2012).
Indonesia pernah mencatat keberhasilan program imunisasi, yaitu bebas
penyakit cacar pada tahun 1972, dengan keberhasilan itu tahun 2008 indonesia
bertekat untuk bebas penyakit polio. Namun pada tahun 2005 terjadi kejadian luar
biasa dijawa barat yang menyebab ke 49 kabupaten/kota di 10 provinsi. Dengan

1
cepatnya penyebaran virus polio diindonesia, kementerian kesehatan kemudian
melaksanakan pecan imunisasi nasional (PIN) dengan memberikan imunisasi
polio pada balita sebanyak 5 kali pada tahun 2005 dan 2006 untuk memutuskan
rantai penularan (Budi, 2012).
Program imunisasi yang telah diupayakan selama ini menunjukkan hasil
cakupan yang memuaskan. Cakupan imunisasi di Indonesia pada tahun 2009
yaitu 90.00% dan pada tahun 2010 yaitu 92.24%. Hal tersebut telah memenuhi
standar yaitu minimal 90% di tingkat nasional. (Juliani A, et al, 2012).
Cakupan imunisasi selama 3 tahun terakhir (2013-2015) di Kabupaten
Donggala telah mencapai target Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala,
dengan cakupan tertinggi pada tahun 2015. Namun, hal ini sejalan dengan tidak
terdapat kasus campak pada tahun 2015. imunisasi pada bayi berdasarkan vaksin
sepanjang 5 tahun terakhir relatif stabil sepanjang tahun 2012-2014 namun
cenderung fluktatif pada tahun 2011 dan 2015. Artinya bahwa 2 tahun terakhir
trend imunisasi pada bayi mengalami penurunan dan kesenjangan dibandingkan 3
tahun terakhir (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2015).
Imunisasi telah diakui sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling
mendekati kesempurnaan dan sangat berdampak terhadap peningkatan kesehatan
masyarakat. Salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam
bidang kesehatan adalah upaya kesehatan untuk bayi yaitu imunisasi (Juliani A, et
al, 2012).
Program imunisasi di Indonesia kemudian diperbaharui dan dikembangkan
semenjak tahun 1977 dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap 7 macam
penyakit: TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Campak, Polio dan Hepatitis B melalui
antigen BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B dan TT (Juliani A, et al, 2012).
Di Indonesia, program imunisasi diatur oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Pemerintah, bertanggungjawab menetapkan sasaran jumlah penerima
imunisasi, kelompok umur serta tatacara memberikan vaksin pada sasaran.
Pelaksaan program imunisasi dilakukan oleh unit pelayanan kesehatan pemerintah

2
dan swasta. Institusi swasta dapat memberikan pelayanan imunisasi sepanjang
memenuhi persyaratan perijinan yang telah ditetapkan oleh Kementerian
Kesehatan (Juliani A, et al, 2012).
Pada data tahun 2016 umtuk program imunisasi, indicator keberhasilan untuk
program imunisasi adalah 100% yang digunakan puskesmas untuk seluruh desa
dalam wilayah kerja puskesmas, sedangkan yang indicator keberhasilan yang
dipakai dinas kesehatan donggala untuk program imunisasi adalah 90% untuk
seluruh puskesmas dalam wilayah kerja dinas kesehatan. Untuk data cakupan
imunisasi BCG tahun 2016 ada dua desa yang tidak mencapai target 100% yaitu
desa tolongano (93,3%) dan desa lalombi (97,8%). Untuk data cakupan imunisasi
DPT tahun 2016 semua desa sudah mencapai indicator keberhasilan 100%. Untuk
data cakupan imunisasi polio tahun 2016 ada dua desa yang tidak mencapai target
100% yaitu desa tolongano (92,3%) dan desa watatu (98,1%). Untuk data
cakupan imunisasi Campak tahun 2016 ada satu desa yang tidak mencapai target
100% yaitu desa tolongano (89%) (Profil Puskesmas Lembasada, 2016).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan laporan manajemen ini antara lain;
1. Sebagai syarat penyelesaian tugas di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat
2. Sebagai evaluasi keberhasilan pelaksanaan program Imunisasi di Puskesmas
Lembasada

3
BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH

Permasalah utama yang menjadi kendala pelaksanaan program imunisasi oleh


tenaga kesehatan lingkungan puskesmas Lembasada adalah kurangnya kesadaran dari
masyarakat terhadap dampak penyakit yang berhubungan dengan anak yang tidak
mendapatkan imunisasi.
Pada laporan manajemen ini, permasalahan terkait program imunisasi yang akan
dibahas antara lain:
1. Bagaimana pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas Lembasada?
2. Bagaimana prosedur program imunisasi di Puskesmas Lembasada?
3. Bagaimana pencapaian target program imunisasi di Puskesmas Lembasada?

Berdasarkan indicator masalah yang didapatkan dalam program imunisasi di


puskesmas Lembasada adalah :
- Input : tenaga kesehatan yang turut serta dalam pelayanan imunisasi kurang,
sehingga dalam pelaksanaannya dibantu oleh kader setempat dan bidan desa
yang ikut serta dalam membantu dalam kegiatan imunisasi, SDM juga sangat
diperlukan dalam melakukan sweeping imunisasi jika ada keluarga yang tidak
datang melakukan imunisasi, karna dibutuhkan petugas puskesmas yang juga
ikut mengikuti sweeping bersama kader, apalagi desa dalam wilayah kerja
puskesmas ada 19 dan memiliki ada beberapa tempat cukup sulit dijangkau.
sarana dan prasarana masih kurang, sumber dana cukup.
- Proses : pada mekanisme pelaksanaan kegiatan imunisasi lebih ditekannkan
pada aspek teknisnya dilapangan.
- Output : kehadiran bayi dan anak-anak peserta imunisasi masih perlu
ditingkatkan agar tidak diperlukannya lagi sweeping, meskipun target
program sudah tercapai.

4
BAB III
PEMBAHASAN

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan


seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan
(Depkes, 2017).
Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme
yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau
berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein
rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang bila diberikan kepada
seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit
tertentu (Depkes, 2017).
Imunisasi Program adalah imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang
sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan
masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Depkes,
2017).
Tujuan imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat
mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang
sering berjangkit dan menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) (Damayanti, 2009).
Pelayanan imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan dan
pemutusan mata rantai penularan pada penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I). Imunisasi terdiri dari dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi
aktif adalah pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau
dimatikandengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri,
contohnya imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah
penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat,

5
contohnya penyuntikan ATS pada orang yang mengalami lukakecelakaan (Profil
Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2015).
Indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan program imunisasi
adalah angka Universal Child Immunization (UCI). Pada awalnya UCI dijabarkan
sebagai tercapainya cakupan imunisasi lengkap minimal 80% untuk tiga jenis antigen
yaitu DPT3,Polio dan Campak. Namun sejak tahun 2003, indikator perhitungan UCI
sudah mencakup semua jenis antigen. Apabila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan
suatu wilayah tertentu, berarti dalamwilayah tersebut juga tergambarkan besarnya
tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I (Profil Dinas Kesehatan
Kabupaten Donggala, 2015).

a. Input
Masalah yang muncul dari input program ini adalah SDM program imunisasi
yang masih sangat kurang, kriteria SDM program imunisasi dilihat dari
keikutsertaan dalam pelatihan, serta lama bekerja sebagai petugas imunisasi,
sebagian besar yang bertugas dalam melakukan pemberian imunisasi adalah bidan
setempat yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Untuk pelatihan sendiri
minimal dilakukan satu kali setahun, aturan inipun sudah sesuai karna di PKM
lembasada sendiri telah dijalankan, terakhir dilakukan pelatihan tahun lalu, untuk
tahun ini belum dilakukan pelatihan.
Latar belakang pendidikan terakhir petugas imunisasi merupakan lulusan dari
sekolah kesehatan dengan latar belakang perawat/bidan dengan lulusan jumlah
presentase terbanyak D3 kesehatan. Untuk peralatan yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan program dan dapat menunjang kelancaran program imunisasi sesuai
dengan kriteria yang tertera di buku pedoman penyelenggaraan imunisasi, untuk
vaksin, alat suntik, termos dan kartu imunisasi lengkap tersedia, tetapi ada
dibeberapa tempat tidak tersedia safety box, padahal safety box sangat penting
untuk keselamatan, sehingga puskesmas harus lebih memperhatikan hal tersebut.

6
b. Proses
Jika dilihat dari segi komponen proses, maka lebih ditekankan pada aspek
teknisnya dilapangan. Pada prosesnya jumlah sasaran bayi didapatkan dari dinas
kesahatan dan dari data rill, puskesmas sendiri memakai data rill, dikarenakan
data dari dinas kesehatan berbeda dari yang ditemukan dilapangan karena data
dari dinkes dihitung dari data jumlah wanita usia subur yaitu antara usia 15-49
tahun, sedangkan data real yang dipakai oleh puskesmas berasal dari data jumlah
wanita yang berkeluarga yang sedang hamil dan akan melahirkan. Data yang
didapatkan didapatkan dari bidan desa setempat yang dilakukan setiap awal bulan,
sedangkan data dari dinas kesehatan mengambil data dari jumlah penduduk dari
pendataan yang dilakukan setiap awal tahun. Untuk Pendataan Sasaran Rill
Imunisasi 2016 yang dilakukan berupa :
a. Melakukan perjalanan ke desa
b. Melakukan koordinasi dengan petugas desa
c. Mencocokkan data sasaran yang ada dengan petugas desa
d. Melaksanakan pendataan setiap rumah tangga yang memiliki bayi/Ibu
Hamil Baru
e. Melaporkan ke petugas desa hasil yang didapatkan.
Sebelum melakukan penyuntikan dilakukan penyuluhan sebelum melakukan
imunisasi, namun, penyuluhan tersebut dilaksanakan secara individual pada saat
sebelum lakukan penyuntikan, Penyuluhan tersebut dilakukan secara individu,
karena untuk penyuluhan massal agak sulit dilakukan karena beberapa hal, antara
lain disebabkan karena sulitnya mengumpulkan ibu-ibu dalam suatu tempat dan
waktu tertentu. Jadi efektifnya, penyuluhannya dilakukan secara individu pada
saat akan dilakukan imunisasi. penyuluhan sendiri sangat penting, karena masih
banyak ibu dari orang tua yang tidak mengetahui manfaat dari imunisasi serta
efek yang timbul setelah imunisasi, seperti demam, timbulnya kemerahan diarea
sekitar suntikan dan lain-lain, sehingga banyak orang tua yang tidak mau anaknya

7
diimunisasi karena beranggapan bahwa munisasi membuat anak mereka sakit,
sehingga hal tersebut yang menjadi kendala dari pelaksanaan program imunisasi.
Berdasarkan hasil observasi langsung, proses pemberian vaksin kepada bayi
dimulai dari pencatatan KMS oleh seorang kader yang membantu bidan. Bidan
yang bertugas memerikan vaksin yaitu bidan yang sudah berpengalaman
dibidangnya dan yang telah mendapatkan pelatihan dari pihak puskesmas.
Selanjutnya bidan memberikan vaksin yang sesuai dengan usia si bayi, dengan
melihat pencatatan kelengkapan imunisasinya di KMS. Pemberian imunisasi
dilakukan sekali sebulan.
Menurut langkah-langkah SOP Pelayanan Imunisasi Oleh Petugas Kesehatan
di Posyandu sebagai berikut:
1. Sehari sebelum pelayanan, pastikan kepada kader bahwa semua sasaran
sudah mendapatkan informasi dan kesiapan pelaksanaan posyandu.
2. 30 menit sebelum ke posyandu, pastikan semua vaksin dan logistik (termasuk
anafilaktik kit) dalam kondisi VVM A/B dan tidak kadaluarsa, jumlah sesuai
sasaran serta siap untuk dibawa.
3. Jangan lupa membawa surat tugas dan buku pencatatan hasil imunisasi (buku
kuning).
4. Pastikan kesiapan kendaraan yang akan digunakan ke posyandu.
5. Kemas semua peralatan dengan baik di kendaraan.
6. Setiba di posyandu, letakkan semua logistik ditempat yang aman
7. Vaksin carrier harus diletakkan pada meja yang tidak terpapar sinar matahari
langsung, disebelahnya diletakkan alat suntik, kapas, air hangat, format
pencatatan dan anafilaktik kit. Letakkan safety box dan plastik sampah
dibawah meja.
8. Cuci tangan dengan sabun setiap akan memberikan imunisasi
9. Lakukan skrinning setiap sasaran meliputi umur, riwayat imunisasi
sebelumnya, KIPI yang pernah dialami, riwayat penyakit, keadaan kesehatan
saat ini.

8
10. Tentukan dan informasikan kepada orang tuanya jenis dan manfaat imunisasi
yang akan diberikan saat ini.
11. Ambil vaksin yang akan diberikan dan pastikan kondisi VVM A/B, tidak
beku dan tidak kadaluarsa.
12. Untuk imunisasi oral, ambil alat penetes, keluarkan dari plastic kemasan,
buang kemasan kedalam plastic sampahh
13. Ambil alat suntik, pastikan bahwa tidak kadaluarsa, keluarkan dari plastik
kemasan, buang kemasan kedalam plastik sampah.
14. Buka tutup jarum suntik, buang tutup jarum suntik kedalam plastic sampah.
15. Untuk vaksin yang membutuhkan pelarutan, larutkan vaksin sesuai dengan
SOP persiapan vaksin
16. Tusukkan jarum suntik kedalam botol vaksin pastikan ujung jarum selalu
berada didalam cairan vaksin, sedot vaksin sesuai dengan dosis yang
dibutuhkan,
17. Apabila terdapat gelembung pada alat suntik atau kelebihan dosis, buang
gelembung atau kelebihan dosis yang ada tanpa mencabut jarum dari botol
vaksin.
18. Lepaskan alat suntik dari botol vaksin,
19. Bersihkan lokasi penyuntikkan dengan kapas basah, tunggu hingga kering.
20. Berikan vaksin sesuai dengan SOP cara pemberian vaksin.
21. Buang langsung alat suntik yang telah digunakan tanpa menutupnya (non
recapping) ke dalam safety box
22. Berikan informasi kepada orang tua tentang kapan kunjungan berikutnya, dan
kemungkinan efek simpang yang akan dialami oleh anak sesudah imunisasi
serta cara penanggulangannya.
23. Beritahu orangtua agar menunggu sekitar 30 menit di posyandu untuk
memantau kemungkinan terjadinya efek simpang.
24. Catat hasil imunisasi sesuai dengan kolom yang tersedia pada buku kohort
bayi/ibu/buku kuning

9
25. Pastikan limbah bukan tajam dimasukkan ke dalam kantong plastik.
26. Cuci tangan dengan sabun setiap selesai pemberian imunisasi.
27. Setelah selesai semua pelayanan, lakukan evaluasi kegiatan bersama kader
dengan tahapan:
a. Hitung jumlah sasaran yang datang untuk tiap jenis vaksin yang
diberikan
b. bandingkan dengan data target sasaran pada bulan ini, diskusikan
dengan kader kemungkinan penyebab ketidakhadiran sasaran.
c. Susun rencana tindak lanjut termasuk bagaimana memotivasi sasaran
yang tidak hadir.
28. Bawa pulang sisa logistik yang belum digunakan dan limbah ke puskesmas.
29. Setiba di puskesmas, simpan kembali vaksin di dalam lemari es pada tempat
yang terpisah atau diberi tanda.
30. Catatan hasil imunisasi dan pemakaian logistic diserahkan kepada
koordinator imunisasi.

Dari standar operasional pelayanan ada beberapa yang belum dilaksanakan,


yang belum terlaksana berupa hal-hal yang kecil seperti tersedianya safety box
untuk menaruh sampah medis seperti alat suntikan, belum dilaksanakannya
mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakakan medis, serta
membersihkan area yang akan dilakukan penyuntikan, dalam SOP juga tertera
Beritahu orangtua agar menunggu sekitar 30 menit di posyandu untuk memantau
kemungkinan terjadinya efek simpang, tetapi hal tersebut belum dilaksanakan.
Selain itu, untuk pemakaian vaksin, sudah dilengkapi dengan alat monitor
kualitas vaksin yang disebut dengan VVM (Vaccine Vial Monitor). Hanya
dengan memantau perubahan warna pada lingkaran indikator VVM sehingga
dapat dilihat kelayakan penggunaan vaksin. Kalau warna kotaknya sudah sama
gelapnya ataupun lebih gelap lagi dari sekitar lingkaran, maka vaksinnya telah

10
terpapar suhu di atas standar. Tapi dengan adanya alat ini, jadi kualitas vaksin
mudah terpantau.
Pada saat umur 1 bulan, diberikan imunisasi BCG (disuntikkan di lengan atas
sebelah kanan) disertai dengan imunisasi Polio-1 (diteteskan di mulut). Pada saat
umur 2 bulan, diberikan imunisasi DPT-Hb1 (disuntikkan di paha) disertai
dengan pemberian imunisasi Polio-2(diteteskan). Pada saat umur 3 bulan
diberikan imunisasi DPT-Hb2 (disuntikkan di paha) disertai dengan pemberian
imunisasi polio3. Pada saat umur 4 bulan diberikan imunisasi DPT-Hb3 + Polio
4 dan pada umur 9 bulan diberikan imunisasi campak.
Penyimpanan vaksin dilemari es berdasarkan dengan suhu 2-80C.
pendistribusian vaksin yaitu dari pusat ke provinsi, dari provinsi ke
kabupaten/kota, dari kabupaten/kota ke puskesmas dan dari puskesmas ke bidan
di desa atau posyandu.
Setelah dilakukan imunisasi dan diapatkan data maka dilakukan pencatatan
dan pelaporan kedinas kesehatan

c. Output
Rangkaian evaluasi/penilaian pelaksanaan program imunisasi setelah proses
adalah output. Adapun output dari program imunisasi adalah tercapainya
imunisasi dasar lengkap dengan indikator keberhasilan minimal 90% persen yang
dipatok oleh dinas kesehatan, dan indikator keberhasilan yang dipatok puskesmas
lembasada adalah 100%.
Pada data tahun 2016 untuk program imunisasi, indikator keberhasilan untuk
program imunisasi adalah 100% yang digunakan puskesmas untuk seluruh desa
dalam wilayah kerja puskesmas, sedangkan yang indikator keberhasilan yang
dipakai dinas kesehatan donggala untuk program imunisasi adalah 90% untuk
seluruh puskesmas dalam wilayah kerja dinas kesehatan. Untuk data cakupan
imunisasi BCG tahun 2016 ada dua desa yang tidak mencapai target 100% yaitu
desa tolongano (93,3%) dan desa lalombi (97,8%). Untuk data cakupan imunisasi

11
DPT tahun 2016 semua desa sudah mencapai indicator keberhasilan 100%. Untuk
data cakupan imunisasi polio tahun 2016 ada dua desa yang tidak mencapai target
100% yaitu desa tolongano (92,3%) dan desa watatu (98,1%). Untuk data
cakupan imunisasi Campak tahun 2016 ada satu desa yang tidak mencapai target
100% yaitu desa tolongano (89%) (Profil Puskesmas Lembasada, 2016).

12
BAB IV

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Program Imunisasi di Puskesmas Lembasada sudah sangat baik namun perlu
peningkatan dari input yakni jumlah tenaga kesehatan yang masih sangat kurang
saat pelaksanaan kegiatan, serta petugas puskesmas yang sedikit apalagi
diharuskan juga ikut mengikuti sweeping bersama kader, dikarenakan desa dalam
wilayah kerja puskesmas ada 19 dan memiliki ada beberapa tempat cukup sulit
dijangkau, proses yakni pelaksanaan kegiatan yang belum semuanya dilakukan
sesuai dengan standar operasional pelayanan, output yakni sudah mencapai target
yang ditetapkan dari dinkes yaitu 90%, tetapi puskesmas memiliki target
pelaksanaannya harus tercapai 100%, tetapi ada beberapa desa yang belum
mencapai target 100% seperti desa tolongano dan juga desa watatu.

1.2 Saran
Untuk meningkatkan program ini perlu sering dilakukan pelatihan kepada
seluruh petugas yang ikut serta dalam kegiatan imunisasi, serta lebih sering lagi
dilakukan penyuluhan secara perkelompok atau secara perindividu agar seluruh
pencapaian untuk dilaksanakannya imunisasi tercapai dan sesuai target, karna
beberapa daerah yang tidak mencapai target 100% dikarenakan ada beberapa
keluarga yang tidak ingin anaknya disuntik karna takut akan terjadi efek samping
yang berbahaya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Budi, A., 2012, Factor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Campak Pada
Peristiwa Kejadian Laur Biasa Campak Anak (0-59 Bulan) Di Kota
Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011, fakultas kesehatan
masyarakat program studi epidemiologi kekhususan epidemiologi terapan,
Jakarta

Damayanti, A., 2009, Pengembangan Sistem Literatur tentang Imunisasi, Fakultas


Kesehatan Mayarakat Universitas Indonesia, Jakarta

Depkes RI. 2017. Pedoman penyelenggaraan Imunisasi. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia. Jakarta

Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2015, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten


Donggala Tahun 2015.

Juliani A, et al., 2012, Evaluasi Program Imunisasi Puskesmas Di Kota Makassar


Tahun 2012, Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Hasanudin, Makassar.

Puskesmas Lembasada, 2016, Profil Puskesmas Lembasada Tahun 2016

14