Anda di halaman 1dari 2

Oleh : Sugeng Siitonga

Semangat Sebuah Semboyan

Bhinneka tunggal Ika. Kata tersebut pasti tidak asing bagi warga indonesia. Apalagi sejak
kelas 1 SD, seluruh siswa-siswi diajari semboyan Indonesia yang hebat dan sakral tersebut.
Luar biasanya lagi, seluruh orang Indonesia tahu arti dari semboyan yang berasal dari bahasa
sanskerta itu. Saya rasa, ketika teman-teman membaca tulisan ini, maka arti dari semboyan
itu juga langsung terbesit dalam pikiran teman-teman. Ya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika
berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Semboyan yang sakral ini sangat mewakili
keberadaan Negara Kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini.

Semboyan ini lahir karena memang Indonesia


dari Sabang hingga Merauke - terdiri dari keberagaman
yang sangat kompleks. Mulai dari suku, bahasa, agama,
dan ras. Bahkan yang satu suku saja bisa terdiri dari
beberapa bagian. Setiap suku memiliki kebudayaannya
sendiri. Banyaknya suku di Indonesia membuat
banyaknya pula bahasa daerah di negara ini.
Keberadaan 6 agama yang diakui negara, antara lain
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu
menjadikan Indonesia semakin majemuk. Keberadaan
Indonesia yang seperti ini sangat berbeda dari negara-negara lain yang tidak memiliki
keberagaman sekompleks Indonesia. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak petinggi-
petinggi negara lain yang datang ke Indonesia dan memuji kemajemukan rakyat Indonesia.

Namun, kita tetap tidak boleh menutup mata dengan perselisishan yang terjadi karena
perbedaan itu sendiri. Dengan lapang dada kita harus mengakui bahwa kasus perselisihan
karena perbedaan SARA masih kerap terjadi di Indonesia hingga saat ini. Kejadian-kejadian
tersebut seolah melemahkan kekuatan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Yang lebih parahnya
lagi adalah jika kita tidak memiliki semangat Bhinneka Tunggal Ika dan mulai melihat
sesama kita berdasarkan suku, agama, atau ras yang dia miliki. Stereotype negatif pada
agama, suku, atau ras tertentu langsung kita sematkan kepada rekan-rekan kita. Seolah-olah
kita menutup mata pada kelebihan dan kebaikan dari orang tersebut.

Kembalikan semangat semboyan itu!

Ayo teman-teman, kita kembalikan semangat semboyan bangsa kita, semangat


Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia adalah negara milik bersama. Indonesia bukan miliki suku
tertentu, bukan milik agama tertentu, atau milik golongan tertentu. Keberagaman adalah ciri
khas Indonesia. Jika kita ingin melihat dengan lebih kritis lagi, sebenarnya penduduk
Indonesia adalah penduduk paling dewasa dari semua penduduk yang ada di dunia.
Bagaimana bisa? Apabila kita bisa menjaga kerukunan bersama di tengah kemajemukan yang
ada di Indonesia, maka kita adalah penduduk dengan tingkat kedewasaan yang tinggi.
Menjalin persaudaraan di dalam persamaan adalah hal yang biasa. Namun, menjalin
persaudaraan di dalam keanekaragaman, itu baru kekuatan.

Membangkitkan semangat semboyan Bhinekka Tunggal Ika bisa kita lakukan dengan
cara-cara yang sederhana. Salah satu cara yang paling sederhana yaitu, menolong. Setiap
manusia pernah merasakan ditolong dan pernah merasakan menolong. Semua orang pasti
merasakan bersyukur ketika dia ditolong. Ada hal yang menarik ketika seseorang ditolong.
Hal menarik itu adalah ketika kita ditolong, kita tidak akan complain siapa yang menolong
kita. Ketika kita ditolong oleh seseorang, kita tidak peduli apa agamanya, apa sukunya, dan
apa rasnya. Hal ini terjadi karena pada saat itu yang ada dalam benak kita adalah, kita tidak
mampu berbuat apa-apa lagi dan kita membutuhkan seseorang untuk menolong kita. Saya
ambil contoh yang paling sederhana. Apabila teman-teman tersesat, lalu handphone teman-
teman sedan mati, apa yang teman-teman lakukan? Pasti teman-teman akan bertanya. Ketika
teman-teman bertanya arah, apakah teman-teman pilih orang? Apakah teman-teman bertanya
dahulu Mas agamanya apa ya? Saya mau tanya arah nih Tentu saja tidak! Oleh sebab itu,
jika kita tidak pilih-pilih dari mana datangnya pertolongan itu, kenapa kita harus pilih-pilih
kepada siapa kita harus menolong. Bukankah menolong adalah suatu perbuatan yang mulia?
Dengan menolong seseorang, kita telah berbuat sesuatu yang baik kepada orang tersebut dan
mempersempit semua perbedaan yang ada pada kita.

Pernahkah teman-teman menonton bulutangkis? Indonesia adalah salah satu negara


yang diakui kehebatannya dalam cabang olahraga ini. Jika teman-teman melihat, kebanyakan
pemenang bulutangkis Indoensia berasal dari etnis Tionghoa. Selanjutnya, ada banyak
penyanyi berbakat dari Indonesia, dan mereka beragama Nasrani. Ketika kita menikmati
makananan, jujur saja makanan yang bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia sangat
layak untuk dikonsumsi bukan dari kadar kehalalannya saja, tapi juga dari kandungan
kesehatannya. Apakah kita ambil pusing dengan semua hal-hal di atas? Saya rasa tidak.
Ketika teman-teman melihat timnas bulutangkis Indonesia menang, kita pun turut bersorak
kegirangan. Ketika penyanyi yang bergama Nasrani bernyanyi kita juga menikmati suaranya.
Ketika kita menyantap makanan yang disertifikasi oleh MUI, kita tetap menikmati makanan
tersebut dan merasa kenyang. Mengapa demikian? Karena fokusnya adalah Indonesia.
Mereka menang untuk negaranya, mereka bernyanyi untuk menghibur masyarakat Indonesia,
mereka melakukan sertifikasi demi kesehatan warga Indonesia. Oleh sebab itu, mari teman-
teman kita merubah pola pandang kita, dari pola pandang individu menjadi pola pandang
kebangsaan. Kita melakukan sesuatu demi Indonesia yang lebih baik lagi. Kalau kita
melakukan sesuatu demi Indonesia, bukan bermaksud mengedepankan satu golongan dan
merendahkan yang lain, maka kita mempersempit perbedaan diantara kita.

Dari sejak awal, Indonesia telah berdiri dengan segala keragamannya. Itu adalah ciri
khas bangsa Indonesia dan jati diri bangsa Indonesia. Jangan biarkan bangsa ini kehilangan
jati dirinya. Bukankah kita juga merasa marah ketika salah satu kebudayaan yang ada di
Indonesia diklaim oleh negara lain? Kenapa kita merasa begitu marah dan semangat
persaudaraan itu bangkit lagi? Jawabannya adalah karena Bhinneka Tunggal Ika. Kita marah
karena meskipun budaya tersebut mungkin bukan berasal dari suku kita, tetapi kita sadar
bahwa budaya tersebut adalah bagian dari Indonesia, bagian dari kita. Oleh sebab itu, mari
kita bangkitkan semangat semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam diri kita masing-masing.
Saya rasa dua saran sederhana saya, yaitu menolong dan fokus pada Indonesia bisa menjadi
langkah kecil untuk tetap mengobarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai penutup, mari kita ibaratkan Indonesia seperti pelangi. Pelangi takkan terlihat
indah jika hanya satu warna, atau bahkan bisa jadi, kalau hanya satu warna, tidak akan bisa
disebut pelangi. Pelangi terlihat indah karena terdiri dari banyak warna. Begitu juga dengan
Indonesia. Indonesia terlihat indah karena keberagamannya. Sekali lagi, ayo kita kobarkan
semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam diri kita dan bersama-sama kita jadikan Indonesia
negara yang indah dan menjadi contoh bagi negara lain kalau hanya di Indonesialah
perbedaan menjadi sebuah keindahan dan kekuatan.