Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

TINEA CRURIS

Disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Di RSUD Kota Semarang

Oleh:

Emirza Nur Wicaksono

012106145

Pembimbing :

dr. Eko Kristanto, Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh dermatofit yang

memiliki kemampuan untuk melekat pada keratin dan menggunakannya sebagai sumber

nutrisi. Dermatofitosis adalah salah satu penyakit kulit yang tersebar diseluruh dunia

dimana prevalensinya berbeda-beda pada tiap negara.1 Infeksi dermatofitosis dikenal

dengan nama tinea dan dibagi berdasarkan lokasi. Dermatofita ialah golongan jamur

yang menyebabkan dermatofitosis. Dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti, yang

terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.2

Tinea kruris adalah jenis kedua dari dermatofitosis yang paling umum diseluruh

dunia, namun lebih sering terjadi pada zona tropis seperti Indonesia. Penyakit ini

merupakan salah satu bentuk klinis tersering di Indonesia dan ditemui terutama pada

musim panas dengan tingkat kelembaban tinggi.4 Di negara yang beriklim tropis dengan

kelembaban udara relatif tinggi, akan mudah memicu terjadinya penyakit jamur. Pada

infeksi kulit karena jamur, selain gatal gejalanya berupa bercak putih bersisik halus atau

bintil merah. Tanda awal kulit terkena infeksi jamur adalah rasa gatal yang hebat saat

kulit berkeringat.1

Gejala penyakit jamur pada kulit juga bergantung pada bagian kulit yang terkena

serta jenis jamur penyebabnya. Pada dasarnya jamur paling sering menyerang lokasi

yang lembab dan orang yang kurang menjaga kebersihannya.1 Tinea kruris adalah salah

satu dermatofitosis yang ditemukan pada pangkal paha, genital, pubis, serta perineum

dan kulit perianal.3 Penyakit ini juga dikenal sebagai jock itch,crotch itch, dhobie itch,

eczema marginatum, dan ringworm of the groin.4

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum dan sekitar

anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan

penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah

genito-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut

bagian bawah atau bagian tubuh yang lain.2 Tinea kruris adalah jenis kedua dari

dermatofitosis yang paling umum diseluruh dunia, namun lebih sering terjadi pada

lingkungan tropis seperti Indonesia.5

B. EPIDEMIOLOGI

Tinea kruris menyebar melalui kontak langsung dan diperburuk oleh

lingkunganyang lembab. Tinea kruris tiga kali lebih sering terjadi pada pria

dibandingkan dengan wanita, dan orang dewasa lebih sering terkena daripada anak-

anak.3Penyakit ini terjadi pada laki-laki dan perempuan, tetapi lebih sering terlihat

pada pria karena beberapa alasan yaitu skrotum membuat lingkungan menjadi

hangat dan lembab. Faktor predisposisi tinea kruris lainnya termasuk obesitas dan

keringat yang berlebihan.5

C. ETIOLOGI

Tiga penyebab utama tinea kruris yaitu Epidermophyton floccosum, Trichophyton

rubrum and Trichophyton mentagrophytes.5

3
Dermatofita Gambaran Klinis

Trichophyton rubrum Penyebab paling utama di USA

Biasanya penyakit akan berkembang menjadi

kronis

Jamur tidak dapat bertahan pada (perabotan, karpet

dan linen) dalam jangka waktu yang lama

Sering melebar ke gluteus, pinggang dan paha

Epidermophyton floccosum Umumnya berhubungan dengan epidemics

seperti menyebar pada kamar ganti asrama

Infeksi akut (jarang kronis)

Jamur dapat bertahan pada (perabotan, karpet dan

linen) dalam jangka waktu yang lama

Penyebaran jamur tidak melewati daerah inguinal

Trichophyton mentagrophytes Infeksi lebih parah dan akut akan menyebabkan

peradangan dan pustul

Jamur cepat menyebar ke tubuh dan ekstremitas

inferior, menyebabkan inflamasi berat

Biasanya didapatkan pada bulu binatang

D. PATOGENESIS

Infeksi dermatofita melalui tiga proses, yaitu perlekatan ke keratinosit,

penetrasi melewati dan diantara sel, dan perkembangan respon pejamu.9 Pertama

adalah berhasil melekatnya artrokonidia, spora aseksual yang dibentuk dari hasil

4
fragmentasi hifa, ke permukaan jaringanberkeratin setelah melewati beberapa

pertahanan pejamu, antara lain asam lemak yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea

yang bersifat fungistatik dan kompetisi dengan flora normal.3 Dalam beberapa jam,

secara in vitro 2 jam setelah terjadinya kontak, pertumbuhan dan invasi spora mulai

berlangsung.3,5

Proses kedua adalah invasi spora ke lapisan yang lebih dalam. Tahap ini

dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan enzim musinolitik, yang menjadi nutrisi

bagi jamur. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit.

Selain itu, manans suatu zat yang terkandung dalam dinding sel dermatofita ini,

dapat menghalangi proliferasi dari keratinosit dan respon imunitas seluler yang

memperlambat penyembuhan epidermis.3

Proses ketiga adalah perkembangan respon pejamu. Derajat inflamasi

dipengaruhi oleh status imun penderita dan organisme yang terlibat. Reaksi

hipersensitifitas tipe IV, atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memegang

peranan yang sangat penting dalam melawan dermatofita. Respon inflamasi dari

reaksi hipersensitivitas ini berkaitan dengan penyembuhan pasien. Respon imunitas

seluler yang rusak akan mengakibatkan proses penyakit yang kronis dan berulang.

Pengaruh adanya atopi atau kadar IgE yang tinggi juga diduga berpengaruh

terhadap kronisitas.3,4

Faktor host yang berperan pada dermatofitosis yaitu genetik, jenis kelamin,

usia, obesitas, penggunanaan kortikosteroid dan obat-obat imunosupresif. Kulit di

lipat paha yang basah dan tertutup menyebabkan terjadinya peningkatan suhu dan

5
kelembaban kulit sehingga memudahkan infeksi. Penjalaran infeksi dari bagian

tubuh lain juga dapat menyebabkan terjadinya tinea kruris, misalnya tinea pedis

pada daerah kaki. Faktor lingkungan, berupa higiene sanitasi dan lokasi geografis

beriklim tropis, merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit jamur.3,5

E. GEJALA KLINIS

Secara umum, penyakit kausa jamur dermatofit akan memberikan gejala klinis

berupa gatal dan kelainan kulit yang berbatas tegas. Effloresensi yang dapat

ditemukan berupa makula eritematosa hingga hiperpigmentasi, berbentuk ireguler,

dengan tepi lebih aktif dan batas tegas yang terletak pada lipat paha, daerah

perineum, dan sekitar anus. 2 Gambaran ini cukup khas untuk infeksi jamur, dalam

hal ini tinea kruris. Lesi umumnya menunjukkan gambaran tepi lebih aktif dan

batas tegas karena mengikuti pergerakan dermatofita dalam mencerna keratin.

Skuama yang dapat ditemukan pada tinea kruris terkait dengan sisa keratin yang

6
dicerna oleh jamur sedangkan eskoriasi menandakan lesi akibat garukan sebagai

respons pasien terhadap gatal. Bila penyakit ini menahun, dapat terlihat bercak

kehitaman disertai adanya sedikit sisik. Pada Tinea kruris causa Epidermophyton

floccosum, pada umumnya lesinya akan terletak pada genitokrurial sedangkan pada

causa Trypcophyton rubrum pada regio pubis, perianal, gluteus, dan perut bagian

bawah.3

Gambar 1. Tinea Cruris dengan efloresensi berupa plak eritema berbentuk anular
pada area inguinal dan regio pubis.3

Gambar 2. Tinea Cruris dengan lesi berbatas tegas, polisiklis, polimorfis dengan
tepi aktif.6

7
F. DIAGNOSIS BANDING

1. Eritrasma3

Eritrasma adalah infeksi bakterial superfisial pada kulit yang dicirikan oleh

bercak merah-kecoklatan ireguler dan tegas, terjadi di daerah intertriginosa,

atau fissura dan maserasi putih di sela jari kaki. Ini biasanya salah diagnosa

sebagai tinea cruris untuk beberapa bulan sebelum diagnosis tepat dilakukan.

a. Etiologi dan Epidemiologi

Corynebacterium minutissimum, agen etiologik eritrasma, adalah bakteri

basil kecil, gram positif dengan granula subterminal. Infeksi umum terjadi

di iklim tropis dibandingkan iklim sedang. Dalam penelitian di suatu tempat

iklim sedang, 20% dari subjek yang dipilih secara acak ditemukan memiliki

eritrasma melalui pemeriksaan lampu Wood. Penyakit generalisata umum

terjadi di daerah tropis. Eritrasma umum terjadi pada laki-laki dan dapat

muncul sebagai bentuk asimptomatik pada daerah genitocrural.

b. Gejala Klinis

Gejala bervariasi dari asimptomatik sepenuhnya, lalu bentuk di genitocrural

dengan pruritus, hingga bentuk generalisata dengan plak berskuama pada

trunkus, daerah inguinal, dan sela jari kaki. Ketika gatal, iritasi dan lesi

dapat menyebabkan perubahan sekunder menjadi ekskoriasi dan

likenifikasi.

c. Effloresensi

8
Predileksi tersering adalah daerah sela jari kaki, tempat eritrasma muncul

sebagai plak maserasi putih berhiperkeratotik, terutama antara jari kaki

keempat dan kelima. Pada area genitocrural, axillar, dan inframammary, lesi

muncul sebagai bercak berbatas tegas, warna merah kecoklatan, superfisial,

berskuama halus dan bergambar halus. Pada daerah ini, bercak mempunyai

penampilan relatif seragam jika dibandingkan dengan tinea corporis atau

cruris, yang sering mempunyai central healing. Pemeriksaan lampu Wood

pada eritrasma menunjukkan pencahayaan warna menajdi merah-koral

disebabkan oleh corproporphyrin III. Pencahayaan warna bertahan setelah

eradikasi Corynebacterium karena pigmennya berada di dalam stratum

korneum yang tebal.

d. Pemeriksaan Penunjang

Kultur spesifik Corynebacterium dari lesi memperkuat diagnosis. Jejak

pewarnaan gram dari lapisan tanduk kulit menunjukkan organisme basil,

gram positif dalam jumlah besar. Diagnosis sangat disarankan dengan lokasi

dan karakter superfisial proses, tetapi harus dikonfirmasi dengan

demonstrasi karakteristik pencahayaan warna merah-koral dengan

pencahayaan lampu Wood.

Gambar 4. Eritrasma pada axilla6 Gambar 5. Eritrasma pada genital6

9
2. Kandidiasis Intertriginosa

Kandidiasis atau Kandidosis mengacu pada berbagai kelompok infeksi yang

disebabkan oleh Candida albicans atau kelompok lain dari genus Candida.

Organisme ini biasanya menginfeksi kulit, kuku, selaput lendir, dan saluran

pencernaan, tetapi mereka juga dapat menyebabkan penyakit sistemik.2

a. Etiologi dan Epidemiologi

Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik

laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat

sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak

diketahui data-data penyebarannya dengan tepat.

Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat

diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal.

Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah C. parapsilosis dan

penyebab kandidosis septikemia ialah C. tropicalis.2

b. Gambaran Klinis

Gambaran klinis dari kandidiasis intertriginosa adalah adanya pruritus,

eritema, maserasi pada daerah intertriginosa berbatas tegas dengan lesi

satelit vesikopustula. Pustul ini pecah meninggalkan dasar eritema dengan

koloret dari epidermis yang mengalami nekrosis yang mudah dilepaskan.

Jamur kandida mempunyai predileksi pada tempat-tempat yang lembab

serta lipatan kulit yang mengalami maserasi, misalnya paha, ketiak, sela jari,

10
inframammary, atau sekitar kuku. Lipatan kulit merupakan tempat yang

paling sering mengalami kandidiasis3

c. Effloresensi

Lesi berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi

tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul

kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan

pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.2

d. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis

suatu kandidiasis adalah dengan melakukan pemeriksaan sediaan langsung

yang ditetesi KOH untuk menemukan adanya pseudohifa dan blatospora.

Jamur kandida akan menunjukkan penampakan sel bertunas berbentuk oval,

sel-sel dengan filamen yang memanjang berhubungan seperti bentuk sosis

atau seperti hifa bersepta (pseudohifa).3

Gambar 6. Kandidosis Intertriginosa Gambar 7. Kandidosis Intertriginosa pada


pada lipat paha6 inframammae6

11
G. DIAGNOSIS

Anamnesis

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan: rasa gatal

hebat pada daerah kruris (lipat paha), lipatan perineum, bokong dan dapat ke

genitalia; ruam kulit berbatas tegas, eritematosa dan bersisik, semakin hebat jika

banyak berkeringat.

Pemeriksaan Fisis

Lokalisasi: Regio inguinalis bilateral, simetris. Meluas ke perineum, sekitar anus,

intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke suprapubis dan abdomen

bagian bawah. Effloresensi: makula eritematosa numular, berbatas tegas dengan

tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustul. Jika kronik, makula menjadi

hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Elemen Jamur

Spesimen kerokan kulit diambil dari daerah pinggir lesi yang meninggi atau

aktif. Hasil pemeriksaan mikroskopik secara langsung dengan KOH 10-20%

didapatkan hifa (dua garis lurus sejajar transparan, bercabang dua dan bersepta)

dengan atau tanpa artrospora (deretan spora diujung hifa) yang khas pada infeksi

dermatofita. Pemeriksaan mikroskopik langsung untuk mengidentifikasi struktur

jamur merupakan teknik yang cepat, sederhana, terjangkau dan telah digunakan

secara luas sebagai teknik skrining awal. Teknik ini hanya memiliki sensitivitas

hingga 40% dan spesifisitas hingga 70%. Hasil negatif palsu dapat terjadi hingga

pada 15% kasus, bahkan bila secara klinis sangat khas untuk dermatofitosis.10

12
Gambar 3. Gambaran hifa (tanda panah biru) disertai spora (tanda panah

merah)4

Pemeriksaan Kultur

Kultur jamur merupakan metode diagnostik yang lebih spesifik namun

membutuhkan waktu yang lebih lama dan memiliki sensitivitas yang rendah.

Pemeriksaan kultur tidak rutin dilakukan pada diagnosis dermatofitosis, biasanya

digunakan hanya pada kasus yang berat dan tidak berespon pada pengobatan

sistemik. Kultur dilakukan untuk mengetahui golongan ataupun spesies dari

jamur penyebab tinea kruris. Kultur perlu dilakukan untuk menentukan

spesiesnya karena semua spesies dermatofita tampak identik pada sediaan

langsung. Media biakan yang digunakan adalah Dextrose Saborraud Agaryang

ditambah antibiotik, contohnya kloramfenikol dan sikloheksimid untuk menekan

pertumbuhan jamur saprofit (contohnya jamur non-Candida albicans,

Cryptococcus, Prototheca sp., P. Werneckii, Scytalidium sp., Ochroconis

gallopava), disimpan pada suhu kamar 25-30C selama tujuh hari, maksimal

selama empat minggu dan dibuang jika tidak ada pertumbuhan.10

13
Tabel 1. Morfologi dan gambaran mikroskopis jamur penyebab tersering

tinea kruris3

Morfologi Koloni Gambaran Keterangan


Mikroskopis
Trichophyton rubrum Beberapa mikrokonidia

berbentuk air mata.

Makrokonidia jarang berbentuk

pensil.

Epidermophyton floccosum Tidak ada mikrokonidia,

beberapa dinding tipis dan tebal.

Makrokonidia berbentuk gada.

Trichophyton interdigitale Mikrokonidia yang

bergerombol, bentuk cerutu yang

jarang, terkadang hifa spiral.

Untuk menentukan spesies penyebab dilakukan identifikasi makroskopis dan

mikroskopis. Secara makroskopis, tampak gambaran gross koloni dengan

tekstur, topografi dan pigmentasinya, sedangkan identifikasi mikroskopi dibuat

preparat dengan penambahan lactophenol cotton blue (LPCB) dan diperiksa

dibawah mikroskop dengan pembesaran objektif 40x. Gambaran mikroskopis

14
yang harus diperhatikan adalah morfologi hifa, pigmentasi dinding sel jamur,

dan karakteristik sporulasi (makrokonidia dan mikrokonidia) (Tabel 1).3

Pemeriksaan Histopatologi

Biopsi dan pemeriksaan histopatologi tidak dilakukan pada gambaran lesi yang

khas. Biopsi dilakukan untuk penegakan diagnosis yang memerlukan terapi

sistemik pada lesi yang luas. Dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin, hifa

akan terlihat pada stratum korneum. Pewarnaan yang apling sering digunakan

adalah dengan periodic acid-Schiff (PAS), jamur akan tampak merah muda dan

methenamisme silver strains, jamur akan tampak coklat atau hitam.3,10

H. PENATALAKSANAAN

Adapun penatalaksanaan pada tinea kruris yaitu 7,8:

Menghilangkan faktor predisposisi, menganjurkan pasien untuk mengusahakan

agar daerah lesi selalu kering dan memakai pakaian yang menyerap keringat.

Bila menggunakan terapi topikal, pengobatan dilanjutkan hingga 1 minggu

setelah lesi sembuh.

15
Jika lesi luas atau gagal dengan terapi topikal, dapat digunakan obat oral seperti:

- Griseofulvin 500-1000 mg/hari (dewasa) atau 10 20 mg/KgBB/hari (anak-

anak) dosis tunggal selama 2-6 minggu.

- Terbinafin 250 mg/hari (dewasa) selama 1-2 minggu atau itrakonazol 2 x 100

mg/hari selama 2 minggu.

- Ketokonazol 200 mg/hari selama 10 -14 hari.

16
I. PROGNOSIS

Prognosis tinea kruris baik jika diagnosis dan penanganannya tepat, tapi penyakit

ini dapat kambuh jika tidak dapat keadaan kering. Mortalitas tidak ada kaitannya

dengan tinea cruris. Tapi pruritus yang dialami pada penderita tinea cruris dapat

menyebabkan likenifikasi, infeksi bakterial sekunder, dan iritasi serta dermatitis

kontak alergi yang disebabkan oleh pengobatan topikal.11

17
BAB III
KESIMPULAN

Tinea kruris merupakan jamur dermatofit yang mengenai daerah inguinal, paha

bagian atas, bokong, pubis, genital dan perianal. Tinea kruris terutama disebabkan oleh

Epidermophyton floccosum, Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes.

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan seperti rasa gatal

hebat pada daerah kruris (lipatan paha), lipatan perineum, bokong dan dapat ke genitalia

dan semakin hebat jika banyak berkeringat.

Diagnosis tinea kruris ditegakkan berdasarkan karakteristik gambaran klinis

yang khas yaitu gambaran polisiklik, bagian tepi lesi tampak lebih aktif dibanding

bagian tengah yang tampak seperti menyembuh (central healing) dan dikonfirmasi

dengan pemeriksaan elemen jamur dengan penambahan larutan KOH 10%, tampak hifa

panjang, bersekat dan bercabang, atau dengan pemeriksaan kultur. Karakteristik

effloresensitinea kruris yakni makula eritomatosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif,

terdiri dari papul dan pustul. Jika kronik, makula menjadi hiperpigmentasi dengan

skuama diatasnya.

Penatalaksanaan pada tinea kruris adalah dengan terapi topikal yaitu terbinafine,

butenafine, ekonazol, miconazole, ketoconazole, klotrimazole, ciclopirox. Formulasi

topikal dapat membasmi area yang lebih kecil dari infeksi, tetapi terapi oral diperlukan

apabila infeksi lebih luas atau infeksinya menjadi kronik atau berulang. Prognosis bagus

jika diagnosis tepat dan pengobatan teratur. Rekurensi dapat terjadi apabila didaerah

predileksi kelembapannya tidak terjaga.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Abbas AK, Mohammed ZA, Mahmoud IS. Superficial Fungal Infections.


Mustansiriya Medical Journal. 2012;11(1):75-7.

2. Budimulja U. Mikosis. In: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
6th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2013. p. 94.

3. Schieke SM, Garg A. Superficial Fungal Infection. In: Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K, editors. Fitzpatrick's Dermatology in
General Medicine. 8th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2012. p. 2277-97.

4. James WD, Elston DM, Berger TG. Disease Resulting from Fungi and Yeasts.
Andrews' Diseases of The Skin Clinical Dermatology. 7th ed. USA: Elsevier Inc.; 2011.
p. 287-93.

5. Wood GS, Reizner G. Papulosquamous and Eczematous Dermatoses. In:


Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, editors. Dermatology. 2nd ed. USA: Mosby
Elsevier; 2008. p. 1140-3.

6. Wolff K, Johnson RA. Fungal Infections of The Skin and Hair. Fitzpatrick's
Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 6th ed. New York: McGraw Hill
Medical; 2009. p. 703.

7. Sjamjoe, Emmy et al. Penyakit Kulit Yang Umum di Indonesia, Sebuah

Panduan Bergambar. Medical Multimedia Indonesia: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit

dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013. p.30

8. Sahoo AK, Mahajan R. Management of Tinea Corporis, Tinea Cruris, and Tinea
Pedis: A Comprehensive Review. Indian Dermatology Online Journal. 2016;7(2):77-86.

9. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Mycology. Rook's Textbook of


Dermatology. 8th ed: Wiley-Blackwell; 2010. p. 36.3.

10. Yossela T. Diagnosis and Treatment of Tinea Cruris. J Majority. 2015;4.

19
11. Gohary E. Topical Antifungal Treatments for Tinea Cruris and Tinea Corporis.
National Center for Biotechnology Information, US National Library of Medicine.
2014.

20

Anda mungkin juga menyukai