Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RESIKO BAYI LAHIR MATI DI KOTA

PALEMBANG

ABSTRAK

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan
kesehatan yang telah dicanangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional dan bahkan dipakai sebagai
indikator sentral keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia. AKB di Kota Palembang
tahun 2004, berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah
26,68 untuk laki-laki dan 20,02 untuk wanita per 1.000 kelahiran hidup.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bentuk pendekatan model peluang bayi
lahir mati di Kota Palembang dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berpengaruh signifikan
terhadap bayi lahir mati di Kota Palembang.

I.PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Penurunan angka kematian bayi (AKB) sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan
hidup waktu lahir. Angka kematian bayi sangat peka terhadap perubahan kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan angka
kematian bayi dan kenaikan umur harapan hidup pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan
hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup
dan derajat kesehatan masyarakat. AKB merupakan salah satu indikator keberhasilan
pembangunan kesehatan yang telah dicanangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional dan bahkan
dipakai sebagai indikator sentral keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia.
Data SDKI 2012 menunjukkan kematian bayi untuk periode lima tahun sebelum survei
(2008-2012) adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita dan kematian
anak masing-masing sebesar 40 dan 9 kematian per 1.000 kelahiran. AKB di Sumatera Selatan
berdasarkan Laporan SDKI tahun 2007 mencapai 42 per 1000 kelahiran kemudian menurun di
tahun 2008 sebesar 25 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB di Kota Palembang tahun 2004,
berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah 26,68 untuk
laki-laki dan 20,02 untuk wanita per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kota Palembang,
2011).
2. Permasalahan
Secara umum, penyebabnya bayi lahir mati ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau kematian neonatal disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi. Menurut Mochtar (1998),
kematian bayi yang disebabkan dari kondisi bayinya sendiri yaitu BBLR, bayi prematur, dan
kelainan kongenital. Pendapat Saifudin (2014), kematian bayi yang dibawa oleh bayi sejak lahir
adalah asfiksia. Sedangkan kematian bayi eksogen atau kematian post-neonatal disebabkan oleh
faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Bayi lahir mati dapat pula diakibatkan dari kurangnya kesadaran akan kesehatan ibu.
Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya, Ibu jarang memeriksakan kandungannya
kebidan; hamil diusia muda; jarak yang terlalu sempit; hamil diusia tua; kurangnya asupan gizi
bagi ibu dan bayinya; makanan yang dikonsumsi ibu tidak bersih; fasilitas sanitasi dan higienitas
yang tidak memadai. Disamping itu, kondisi ibu saat hamil yang tidak bagus dan sehat, juga dapat
berakibat pada kandungannya, seperti faktor fisik; faktor psikologis; faktor lingkungan, sosial, dan
budaya (Sulistyawati, 2009).

II.TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Bayi Lahir Mati
Bayi lahir mati (neonatal 0-28 hari) adalah menghilangnya tanda-tanda kehidupan bayi
yang terjadi pada bulan pertama setelah kelahiran, dan umumnya disebabkan oleh faktor-
faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau
didapat pada saat kehamilan (Amiruddin, 2014)
Bayi lahir mati (neonatal 0-28 hari) adalah bayi yang mengalami komplikasi seperti
asfiksia, trauma kelahiran, infeksi dan kelainan bawaan dan kematiannya pada masa perinatal
atau usia dibawah 1 bulan dan neonatal atau pada usia minggu pertama kelahiran
(Prawirohardjo, 2014).

B. Proses perkembangan janin


Proses pertumbuhan janin selama 40 minggu itu merupakan proses
yang sangat pesat terutama pada trimester pertama. Pembuahan
dimana sperma dan ovum bertemu membentuk zygote. Proses
multiplikasi sel-sel ini akan terjadi dengan pesatnya sehingga terdapat
tiga lapisan sel-sel yang berlainan, yaitu ektoderm, mesoderm dan
endoderm. Dari lapisan-lapisan ini akan tumbuh berbagai organ dan
sistem janin.
Kecacatan janin dan kematian janin dapat terjadi karena berbagai faktor.
Ada penyebab kecacatan pada janin yang kini dapat diketahui selama
masih dalam kandungan tetapi ada juga yang masih tidak dapat diketahui
walaupun pada saat ini terdapat teknologi yang begitu maju ( USG ).

Masa kehamilan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu trimester pertama,


trimester kedua dan trimester ketiga. Satu trimester itu adalah selama 12
minggu. Trimester pertama yaitu kehamilan 12 minggu pertama yang
merupakan waktu yang sangat penting karena suatu masa pembentukan
organ yang sangat rentan terhadap bahan-bahan kimia, obat dan hal-hal
yang lain. Itulah sebabnya penyakit Rubella jika terjadi pada seorang
wanita yang hamil lebih berbahaya jika terkena pada trimester pertama.
Suatu gangguan pertumbuhan janin pada trimester pertama seperti
penyakit yang dihadapi oleh ibu , radiasi, bahan -bahan kimia di udara dan
obat -obat yang teratogenik bukan saja akan mengganggu pertumbuhan
janin tapi juga menyebabkan keguguran. Jika keguguran tidak terjadi,
pertumbuhan janin akan terus berjalan tetapi janin itu besar kemungkinan
akan cacat. Jika kecacatan pada organ-organ terlampau parah janin itu
mungkin akan mati saat masih didalam kandungan (KJDK).

Gangguan pertumbuhan janin yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga
biasanya tidak menyebabkan masalah pertumbuhan janin yang berat.
Umpamanya, jika wanita hamil menderita penyakit Rubella pada
kehamilan usia 18 minggu, bayi yang dilahirkan mungkin hanya tuli saja.
Sedangkan, jika menderita penyakit ini pada waktu trimester pertama,
bayi yang dilahirkan akan lebih kecil dari biasa, mengalami radang hati
(neonatal hepatitis), selaput dimata (cataract), atau gangguan jantung dan
ukuran kepalanya kecil serta tuli dan sebagainya.
C. Faktor-faktor Penyebab Kematian Bayi Lahir
Beberapa faktor-faktor penyebab kematian bayi lahir diantaranya adalah:
1. Kekurangan gizi selama hamil
Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin. Penentuan status gizi
yang baik yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikkan berat
badan selama hamil. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat memengaruhi proses
pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian
neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia. Intra partum (mati dalam kandungan)
lahir dengan berat badan rendah (BBLR).
2. Berat badan lahir rendah
Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant adalah bayi dengan berat badan
lahir 1500 sampai kurang dari 2500 gram. Neonatus atau bayi baru lahir dengan berat badan
lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahirnya kurang dari 2500 gram.
3. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik,
persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih
dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua
tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester
III.
4. Penyakit asma pada ibu
Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan,
karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (O2) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila
tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran,
persalinan prematur atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan.
5. Penyakit hipertensi dalam kehamilan
Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum
kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan persalinan, hipertensi dalam
kehamilan menjadi penyebab penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal. Ibu
dengan hipertensi akan menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga
pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran prematur.
6. Konsumsi obat-obatan pada saat hamil
Peningkatan penggunaan obat-obatan (antara 11% dan 27% wanita hamil, bergantung pada
lokasi geografi) telah mengakibatkan makin tingginya insiden kelahiran prematur, BBLR,
defek kongenital, ketidakmampuan belajar, dan gejala putus obat pada janin.
7. Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum watunya
melahirkan. KPSW preterm adalah KPSW sebelum usia kehamilan 3 minggu. KPSW
memanjang adalah KPSW yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan
(Rukiyah, dkk. 2014).
8. Air ketuban melebihi 2000 cc
Air ketuban melebihi 2000 cc adalah gejala hidramnion terjadi semata-mata karena faktor
mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar kepada organ-organ seputarnya.
Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat
membahayakan ibu dan anak.
9. Perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu
Perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum
bayi dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan yang
menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu semakin buruk.
10. Kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi
Kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel
telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa kehamilannya.
11. Infeksi hepatitis terhadap kehamilan
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur
dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu
atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau
persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim.

III. Pencegahan
Tips-tips yang sangat dianjurkan bagi Ibu hamil dalam masa pertumbuhan
bayi di dalam kandungan :

1. Kontrol teratur ke dokter untuk memeriksakan kehamilan. Bulan-bulan


terakhir kehamilan, kontrol harus dilakukan lebih sering lagi.
2. Hindari bahan atau zat-zat kimia yang yang menimbulkan keracunan seperti
insektisida, cat, bahan-bahan yang mengandung merkuri (air raksa) atau
timah hitam.
3. Berhenti merokok atau menjadi perokok pasif, karena asap rokok akan
membuat si kecil lahir dengan berat badan yang kurang, kematian si kecil
dalam kandungan atau
si kecil mudah jatuh sakit atau lambat dalam mempelajari sesuatu nantinya,
dapat juga menyebabkan keguguran.
4. Minumlah yang lebih banyak, terutama air putih. Cairan yang masuk berguna
untuk membantu peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan.
Minumlah sedikitnya 6 8 gelas sehari, dapat berupa jus buah, susu, atau air
putih biasa. Cara mudah untuk melihat kecukupan cairan dalam tubuh ialah
dengan melihat warna air seni. Bila air seni, jernih seperti air putih atau
hanya sedikit kuning, itu menunjukkan cukup mengkonsumsi cairan.
5. Konsumsi makanan yang bergizi, untuk memenuhi kecukupan gizi untuk ibu
dan si kecil dalam kandungan. Makanan harus memenuhi 5 kelompok
makanan utama: nasi atau sumber karbohidrat lainnya, daging dan protein
lainnya, sayuran, buah-buahan dan susu. Kurangi makanan berlemak dan
perbanyak makanan berserat
6. Konsumsi vitamin Asam Folat 400 mikrogram perhari, sebelum kehamilan
hingga beberapa bulan pertama dalam kehamilan. Hal ini berguna untuk
mencegah cacat tabung saraf dan tulang belakang pada si kecil. Asam Folat
ini juga penting diperoleh dari makanan yang mengandung Asam Folat
seperti pada sereal, beras merah, jeruk, sayuran hijau, kacang-kacangan,
brokoli, dan lainnya.
7. Konsumsi juga tablet penambah darah, yaitu tablet yang mengandung zat
Besi sebanyak 30 miligram sehari selama masa kehamilan, atau sesuai yang
dianjurkan oleh dokter. Zat Besi ini berguna untuk mencegah terjadinya
anemia pada saat kehamilan, yang dapat menyebabkan terjadinya risiko
untuk terjadinya perdarahan saat persalinan.
Sebenarnya semua wanita yang berusia subur, sebaiknya mengkonsumsi
makanan yang mengandung banyak Zat besi.
8. Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah memegang daging mentah
pada saat memasak atau setelah menggunakan kamar kecil. Karena dengan
cuci tangan akan mencegah penyebaran kuman dan virus yang dapat
menyebakan penyakit.
9. Kenali keadaan diri sendiri. Bila ada tanda atau gejala yang tidak biasanya
seperti nyeri, perdarahan vagina, merembesnya air ketuban, pusing, pingsan,
nafas menjadi pendek, gemetar, nadi menjadi cepat, mual dan muntah,
pembengkakan pada sendi, tidak merasakan pergerakan janin, dan gejala atau
tanda lainnya, konsultasikanlah dengan dokter .
10. Berhati-hatilah dalam mengkonsumsi obat-obatan termasuk juga obat-obat
tradisional. Termasuk juga alkohol dan kafein. Kafein yang ada pada teh,
kopi, minuman ringan dan coklat perlu juga dibatasi.
11. Obat-obatan yang sering diminum sebelum hamil, misalnyaobat-obatan untuk
hipertensi, epilepsi, asma atau kencing manis, perlu dikonsultasikan kembali
dengan dokter Anda. ini aman digunakan dalam kehamilan
12. Obat-obatan yang dijual bebas seperti untuk mengatasi flu dan batuk,
mungkin dapat membahayakan janin dalam kandungan. Oleh sebab itu,
konsultasikanlah dulu dengan dokter sebelum meminumnya.
13. Bergabung dalam kelas untuk ibu hamil seperti kelas senam hamil.
Selain dapat mengambil manfaat dari kelas tersebut, calon-calon ibu juga
dapat membagi pengalaman dan menambah pengetahuan dengan sesama
calon ibu lainnya.
14. Tetaplah beraktifitas karena akan baik untuk sang ibu maupun sang calon
bayi. Olahraga yang biasanya aman untuk ibu hamil seperti berjalan,
berolahraga, bersepeda statis. Tapi ingatlah untuk selalu berkonsultasi dengan
dokter sebelum memulainya.
15. Makanlah dalam porsi kecil tapi sering, sekitar 5 6 kali perhari. Ini jauh
lebih baik daripada makan dalam 3 porsi besar sehari. Pola makan dengan
porsi kecil yang lebih sering, dapat mengurangi mual-muntah di pagi hari dan
nyeri lambung. Hindarilah makanan yang dapat membuat lambung nyeri,
walaupun menyukainya. Gantilah dengan makanan yang lebih bergizi.
16. Hindari mandi atau berendam dengan air panas saat hamil. Karena panas
yang tinggi dapat membahayakan kehamilan.
17. Hindarilah daging yang belum dimasak atau yang dimasak kurang matang,
cucilah tangan setelah memegang hewan peliharaan atau berkebun. Ini untuk
mencegah terjangkit parasit toksoplasma yang menyebabkan penyakit
toksoplasmosis, yang dapat membahayakan janin dalam kandungan.
18. Karena ukuran rahim yang semakin besar, seiring dengan kurang efisiennya
fungsi ginjal akibat kehamilan, dapat menyebabkan ibu lebih sering buang air
kecil. Dapat juga terjadi keluar air seni saat bersin, batuk atau ketawa. Ini
disebabkan karena adanya tekanan rahim pada kandung kemih, yang sering
terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan. Jika buang air kecil disertai rasa
panas, nyeri dan lebih sering, periksakanlah ke dokter.
19. Berat badan yang berlebihan atau kurang selama kehamilan dapat
menyebabkan masalah bagi si kecil yang masih dalam kandungan. Janganlah
melakukan diet selama hamil untuk menurunkan berat badan yang berlebih
sebelum berkonsultasi dengan dokter.
20. Melakukan vaksinasi untuk kehamilan. Tanyakanlah pada dokter mengenai
hal ini, kapan sebaiknya vaksinasi diberikan.
21. Hindari pemeriksaan dengan sinar X (ronsen). Jelaskan pada dokter bila
Anda sedang hamil bila dokter meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan
itu.