Anda di halaman 1dari 23

PREDIKSI UKURAN FRAGMENTASI HASIL PELEDAKAN

DENGAN MODIFIKASI NILAI PEMBOBOTAN LILLY


MENGGUNAKAN MODEL KUZ-RAM DI PT. BUKIT GRANIT
MINING MANDIRI

Proposal Tugas Akhir

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Kurikulum Pada


Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :

TARMIZI TARSISIUS SIHOMBING


13 306 095

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PREDIKSI UKURAN FRAGMENTASI HASIL PELEDAKAN


DENGAN MODIFIKASI NILAI PEMBOBOTAN LILLY
MENGGUNAKAN MODEL KUZ-RAM DI PT. BUKIT GRANIT
MINING MANDIRI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Kurikulum Pada


Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :

TARMIZI TARSISIUS SIHOMBING


13 306 095

Disetujui Oleh :

Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Dosen Pembimbing

( Ir. M. Eka Onwardana, MT ) (Ir. Syafriadi, MT)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Granit adalah jenis batuan intrusif yang umum dan banyak ditemukan. Batu ini
terbentuk sebagai hasil dari kristalisasi yang berlangsung lambat dari magma cair
yang berada jauh di dalam kerak bumi. Mineral yang membentuk granit,
umumnya kuarsa, feldspars, dan mineral lainnya. Granit memiliki sifat keras dan
kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi dan
salah satu perusahaan yang menambang granit adalah PT. Bukit Granit Mining
Mandiri

Adanya diskontinu pada batuan akan mempengaruhi banyak hal yang


berhubungan dengan aktifitas penambangan . Diantaranya adalah pengaruh dari
kekuatan batuan, semakin banyak bidang diskontinu yang memotong massa
batuan semakin kecil pula kekuatan batuan tersebut. Bidang bidang diskontinu
inilah yang menyebabkan terjadinya failure pada batuan. Selain itu adanya bidang
diskontinu juga akan memberikan pengaruh lain dalam sebuah kegiatan
pertambangan. Hal ini berhubungan dengan ukuran fragmentasi peledakan yang di
tambang

Peledakan adalah kegiatan sangat penting dalam pembongkaran batuan.


Fragmentasi yang di hasilkan akan sangat berpengaruh pada proses penggalian
dan pemuatan serta penghancuran material yang akan di ledakkan. Oleh karena itu
perlu adanya analisa fragmentasi guna evaluasi terhadap target produksi

Perencanaan pemboran dan peledakan yang baik akan menghasilkan derajat


fragmentasi yang baik juga, hal ini dapat berpengaruh pada produktivitas. Apabila
derajat fragmentasi besar maka produktivitas akan berkurang dan fragmentasi
yang kecil akan meningkatkan produktivitas yang operasi berikutnya akan diolah
menggunakan crusher.
1.2. Rumusan masalah

Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam merencanakan suatu operasi
peledakan adalah struktur geologi. Adanya ketidakmenerusan dalam sifat batuan
akan mempengaruhi perambatan gelombang energi dalam batuan. Jika
perambatan energi melalui bidang perlapisan, maka sebagian gelombang akan
dipantulkan dan sebagian lagi akan dibiaskan dan diteruskan, karena adanya
sebagian gelombang yang dipantulkan maka kekuatan energi peledakan akan
berkurang.
Kekar atau joint merupakan suatu rekahan pada batuan yang tidak mengalami
pergeseran pada bidang rekahannya didalam massa batuan yang memiliki sifat
ketidakmenerusan (discontinuities) yang juga merupakan bidang lemah. Jika
batuan yang diledakkan terdapat banyak kekar, maka hasil peledakannya akan
membentuk blok-blok dengan mengikuti arah kekar-kekar yang ada maka dapat
dipastikan fragmentasi batuan yang dihasilkan menjadi tidak seragam. Untuk
mengatasi hal tersebut maka arah peledakan harus disesuaikan dengan arah dan
kemiringan umum dari kekar tersebut

1.3. Batasan Masalah

Permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan penambangan sangat kompleks,


sehingga dalam penelitian ini hanya dibatasi pada penelitian mengenai
fragmentasi hasil peledakan dan Struktur batuan :
1. Daerah penelitian dilakukan pada PT. Bukit Granit Mining Mandiri yang
berada di wilayah Teluk Lekup Monos, Tanjung Balai Karimun Kepulauan
Riau
2. Analisis Powder Faktor pada peledakan Quarry 4
3. Struktur geologi pada Quarry 4
1.4. Tujuan dan Manfaat
1.4.1.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :


1. Mendesain geometri dan pola peledakan
2. Menurunkan Powder Faktor
3. Memprediksi ukuran fragmentasi

1.4.2. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan masukan mengenai


perancangan geometri dan pola peledakan untuk menghasilkan fragmentasi yang
sesuai dengan proses berikutnya dan mengurangi powder faktor. Hasil
perancangan geometri dan pola peledakan ini dapat menjadi pembanding dalam
pemilihan geometri selanjutnya bagi perusahaan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mekanisme Pecahnya Batuan


Pada prinsipnya, pecahnya batuan akibat energi peledakan dapat dibagi dalam 3
tahap, yaitu : dynamic loading, quasi-static loading, dan release of loading
(gambar 2.1).

1. Proses pemecahan batuan tingkat satu (dynamic loading)


Pada saat bahan peledak diledakkan di dalam lubang tembak, maka terbentuk
temperatur dan tekanan yang tinggi. Hal ini mengakibatkan hancurnya batuan di
sekitar lubang tembak. Hal ini menimbulkan adanya gelombang kejut (shock
wave) yang merambat menjauhi lubang ledak dengan kecepatan antara 3000
5000 m/detik, sehingga menimbulkan tegangan tangensial yang mengakibatkan
adanya rekahan menjari mengarah keluar di sekitar lubang tembak.

2. Proses pemecahan batuan tingkat dua (quasi-static loading)


Tekanan sehubungan dengan shock wave yang meninggalkan lubang tembak
pada proses pemecahan tingkat I adalah positif. Apabila shock wave mencapai
bidang bebas (free face) akan dipantulkan kemudian berubah menjadi
negatif sehingga menimbulkan gelombang tarik (tensile wave). Karena gelombang
tarik ini lebih besar dari kekuatan tarik batuan, maka batuan akan pecah dan
terlepas dari batuan induknya (spalling) yang dimulai dari tepi bidang bebasnya.
Bidang Bebas Pada tahap pertama terjadi
penghancuran batuan disekitar
lubang ledak dan diteruskannya
energi ledakan ke segala arah.

Retakan di sekitar lubang ledak

Energi ledakan menghancurkan batuan


di sekitar lubang ledak

Energi ledakan diteruskan ke segala arah

Pada tahap kedua energi ledakan


Bidang Bebas yang bergerak sampai bidang
bebas menghancurkan batuan
pada dinding jenjang tersebut

Pecahnya batuan pada dinding


jenjang

: Tegangan tangensial

Pada tahap terakhir, energi ledakan


yang dipantulkan oleh bidang bebas
Bidang Bebas pada tahap sebelumnya, dan
ekspansi gas akan menghancurkan
batuan dengan lebih sempurna

Lubang ledak

Batas bidang bebas

Gambar. 2.1 Proses Pecahnya Batuan

3. Proses pemecahan batuan tingkat tiga (release of loading)


Karena pengaruh tekanan dan temperatur gas yang tinggi maka retakan lingkar
yang terjadi pada proses awal akan meluas secara cepat yang diakibatkan oleh
kekuatan gelombang tarik dan tekanan lingkar. Massa batuan yang ada di depan
lubang tembak akan terdorong oleh terlepasnya kekuatan gelombang tekan yang
tinggi dari dalam lubang tembak, sehingga pemecahan batuan yang sebenarnya
akan terjadi. Umumnya batuan akan pecah secara alamiah mengikuti bidang
bidang yang lemah, seperti kekar dan bidang perlapisan.

2.2. Geometri Peledakan


Geometri peledakan sangat berpengaruh dalam mengontrol hasil peledakan,
karena jika geometri peledakannya baik akan menghasilkan fragmentasi batuan
yang sesuai dengan ukuran alat peremuk, tanpa terdapat adanya bongkah, kondisi
jenjang yang lebih stabil, serta keamanan alat alat mekanis dan
keselamatan para pekerja yang bekerja lebih terjamin.

Dalam operasi peledakan ada tujuh standar dasar geometri peledakan yaitu :
burden, spacing, stemming, subdrilling, kedalaman lubang ledak, panjang kolom
isian dan tinggi jenjang. Cara yang diterapkan untuk menentukan geometri
peledakan adalah dengan metode yang dikemukakan RL. Ash (gambar 2.4)
adalah sebagai berikut :

Gambar 2.4. Geometri Peledakan


a. Burden (B)
Burden merupakan jarak tegak lurus terpendek antara lubang tembak yang diisi
bahan peledak dengan bidang bebas atau ke arah mana batuan hasil peledakan
akan terlempar.

Jarak burden yang baik adalah jarak dimana energi ledakan bias menekan batuan
secara maksimal sehingga pecahnya batuan dapat sesuai dengan fragmentasi
batuan yang direncanakan dengan mengupayakan sekecil mungkin terjadinya batu
terbang, bongkah, dan retaknya batuan pada batas akhir jenjang.

Tabel 2.1. Burden Standar (Kb.Std) Menurut R.L.Ash

Batuan standard mempunyai bobot isi 160 lb/ft3, bahan peledak standard memiliki
berat jenis 1,2, kecepatan detonasi 12000 fps. Tetapi jika batuan dan bahan
peledak yang akan diledakkan tidak sama dengan ukuran standard maka harga Kb
standard itu harus dikoreksi menggunakan faktor penyesuaian (adjustment factor).

- Burden

KbxDe
B = .......pers. (2-1)
12

- Faktor penyesuaian (adjusment factor)

Dstd
1/ 3

Af1= ...pers. (2-2)


D
1/ 3
SG.Ve 2
Af2 = ..Pers. (2-3)
SG .Ve 2 .
std std

- Kb terkoreksi = Kb standart x Af1 x Af2 ..Pers (2-4)

Jadi :

Kb terkoreksi x De
B = ...Pers. (2-5)

12
Dimana :

Af1 = faktor yang disesuaikan untuk batuan yang akan


diledakkan

Af2 = faktor yang disesuaikan untuk bahan peledak yang


dipakai

De = diameter lubang tembak (inchi)

D = bobot isi batuan yang diledakkan (lb/ft3)

Dstd = bobot isi batuan standard (160 lb/ ft3)

B = burden (ft)

Kb = burden ratio

Kbstd = burden ratio standard

SG = berat jenis bahan peledak yang dipakai (Emulsion = 1,2)

SGstd = berat jenis bahan peledak standard (1,20)

Ve = VOD bahan peledak yang dipakai

Vestd = VOD bahan peledak standard (12.000 fps)


a. Spasi (S)
Spasi adalah jarak terdekat antara dua lubang tembak yang berdekatan di dalam
satu baris (row). Apabila jarak spasi terlalu kecil akan menyebabkan batuan
hancur menjadi halus, tetapi bila spasi lebih besar daripada ketentuan akan
menyebabkan banyak terjadi bongkah dan tonjolan diantara 2 lubang ledak setelah
diledakkan.

S = Ks x B ....Pers. (2-6)

Dimana :

Ks = spacing ratio (1,00 2,00)

S = spasi (meter)

B = burden (meter)

Berdasarkan cara urutan peledakannya, pedoman penentuan spasi


adalah sebagai berikut:

Peledakan serentak, S = 2B
Peledakan beruntun dengan delay interval lama (second delay) S = B
Peledakan dengan millisecond delay, S antara 1B hingga 2B.
Peledakan terdapat kekar yang tidak saling tegak lurus, S antara 1,2B
hingga 1,8B
Peledakan dengan pola beruntun tiap lubang ledak dalam baris yang
sama, S = 1,15B

b. Stemming (T)

Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor, yang letaknya di
atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah supaya terjadi
keseimbangan tekanan dalam lubang tembak dan mengurung gas gas hasil
ledakan sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal.
Stemming yang cukup tebal dapat mengakibatkan terbentuknya bongkah apabila
energi ledak tidak mampu untuk menghancurkan batuan di sekitar stemming
tersebut. Sedangkan stemming yang terlalu tipis dapat mengakibatkan timbulnya
batuan terbang (flying rock) dan pecahnya batuan akan menjadi kecil.

Untuk penentuan tinggi stemming digunakan rumus seperti di bawah ini :

T = Kt x B ...Pers. (2-7)

Dimana :

Kt = stemming ratio (0,75 1,00)

T = stemming (meter)

B = burden (meter)

d. Sub Drilling (J)

Subdrilling merupakan bagian dari panjang lubang tembak yang terletak lebih
rendah dari lantai jenjang. Subdrilling diperlukan agar batuan dapat meledak
secara keseluruhan dan terbongkar tepat pada batas lantai jenjang, sehingga
tonjolan tonjolan pada lantai jenjang dapat dihindari.

Rumusan yang digunakan adalah :

J = Kj x B ..Pers. (2-8)

Dimana :

Kj = subdrilling ratio (0,2 0,4)

J = subdrilling (meter)

B = burden (meter)

e. Kedalaman Lubang Tembak (H)


Kedalaman lubang ledak merupakan jumlah total antara tinggi jenjang dengan
besarnya subdrilling. Kedalaman lubang ledak biasanya disesuaikan dengan
tingkat produksi (kapasitas alat muat) dan pertimbangan geoteknik.

Rumus yang digunakan adalah :

H = Kh x B ..Pers. (2-9)

Dimana :

Kh = hole depth ratio (1,5 - 4,0)

H = kedalaman lubang tembak (meter)

B = burden (meter)

f. Panjang Kolom Isian (PC)

Panjang kolom isian merupakan panjang kolom lubang tembak yang akan diisi
bahan peledak. Panjang kolom ini merupakan kedalaman lubang tembak
dikurangi panjang stemming yang digunakan.

PC = H T .Pers. (2-10)

Dimana :

PC = panjang kolom isian (meter)

H = kedalaman lubang tembak (meter)

T = stemming (meter)

g. Tinggi Jenjang (L)

Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang bor
dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh terhadap hasil peledakan
seperti fragmentasi batuan, ledakan udara, batu terbang, dan getaran tanah.
Berdasarkan perbandingan ketinggian jenjang dengan jarak burden yang
diterapkan (Stiffness Ratio), maka akan diketahui hasil dari peledakan tersebut
seperti tabel di bawah ini.

Tabel 2.2. Potential Problem As Related To Stiffness Ratio (L/B)


Stiffness Fragment Airblasts Flyrock Ground Comment
Ratio ation Vibration

1 Poor Severe severe Severe Severe backbreak,


toe problems, do
not shoot. Redesign

2 Fair Fair fair Fair Redesign if possible

3 Good Good good Good Good control and


fragmentation

4 excellent excellent excellent excellent No increased


benefit, by
increasing stiffness
ratio above 4

Penentuan ukuran tinggi jenjang berdasarkan Stiffness Ratio digunakan rumus


sebagai berikut :

L = 5 x De .....Pers. (2-11)

Dimana :

L = tinggi jenjang minimum (ft)

De = diameter lubang tembak (inchi)

2.4. Hasil Peledakan


2.4.1. Tingkat Fragmentasi Batuan

Fragmentasi merupakan tingkat pecahan material dalam ukuran tertentu hasil dari
proses peledakan. Fragmentasi yang diharapkan pada peledakan di kuari Karimun
adalah berukuran 100 cm, yang sesuai dengan mulut alat peremuk. Beberapa
faktor yang berpengaruh terhadap fragmentasi hasil peledakan adalah :
a. stuktur geologi
b. pola pengeboran
c. geometri peledakan
d. pola penyalaan
e. penempatan primer
f. kemiringan lubang ledak

Untuk memperkirakan distribusi fragmentasi batuan hasil peledakan secara teori


dapat digunakan persamaan Kuznetsov (1973), yakni sebagai berikut :

V
0 ,8

X = Ao x x Q0,17 x ( E / 115 ) -0,63 . (2-15)


Q

Dimana :

X = rata rata ukuran fragmentasi (cm)

Ao = faktor batuan (Rock Factor)

V = volume batuan yang terbongkar (m3)

Q = jumlah bahan peledak (kg)

E = Relative Weight Strenght bahan peledak

Untuk menentukan faktor batuan (RF), terlebih dahulu dilakukan pembobotan


batuan berdasarkan nilai Blastability Index (BI). Parameter yang digunakan dalam
pembobotan batuan dapat dilihat pada tabel 3.5. Setelah itu nilai Blastability Index
(BI) dan faktor batuan (RF) dicari dengan persamaan sebagai berikut :

Nilai Blastibbility Index (BI) :

BI = 0,5 x ( RMD + JPS + JPO + SGI + H ) ..... (2-16)

Nilai Rock Faktor (RF) :

RF = 0,12 x BI ... (2-17)


Tabel 2.3 Pembobotan massa batuan untuk peledakan

PARAMETER PEMBOBOTAN

1. Deskripsi Massa Batuan ( RMD )

1.1. Kekuatan merata 10

1.2. Membentuk Block 20

1.3. Sangat Keras 50

2. Bidang Rekahan ( JPS )

2.1. Tertutup ( Spasi < 0,1 m ) 10

2.2. Sedang ( Spasi 0,1 1 m ) 20

2.3. Terbuka ( Spasi > 1 m ) 50

3. Arah Bidang Rekahan ( JPO )

3.1. Horizontal 10

3.2. Dip kearah permukaan 20

3.3. Jurus kearah Permukaan 30

3.4. Dip Kearah bidang bebas 40

4. Specific Grafity Influence ( SGI ) SGI = 25 x SG 50

5. Kekerasan ( H ) 1 10

Untuk menentukan fragmentasi batuan hasil peledakan digunakan persamaan


Roslin Ramler, yaitu :
n
Rx = e-(X/Xc) ...... (2-18)

X
Xc = ...... (2-19)
(0,693)1 / n

Dimana :

Rx = prosentase material yang tertahan pada ayakan (%)


X = ukuran ayakan (cm)

n = indeks keseragaman

Besarnya n didapatkan dengan persamaan berikut

B W ( A 1) PC
n = 2,2 14 1 1 2 L .... (2-20)
De B

Dimana :

B = burden (m)

De = diameter bahan peledak (mm)

W = standard deviasi dari keakuratan pengeboran (m)

A = ratio perbandingan spasi dengan burden

PC = panjang isian (m)

L = tinggi jenjang (m)

Nilai n mengindikasikan tingkat keseragaman distribusi ukuran fragmentasi


hasil peledakan. Nilai n umumnya antara 0,8 sampai 2,2 dimana semakin besar
nilai n maka ukuran fragmentasi semakin seragam sedangkan jika nilai n
rendah mengindikasikan ukuran fragmentasi kurang seragam.
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Teknik Pengambilan Data


Penelitian ini dilakukan di PT. Bukit Granit Mining Mandiri . Metode penelitian
yang digunakan adalah metode langsung (primer) dan metode tidak langsung
(sekunder).

3.1.1 Metode Langsung (primer)

Metode Langsung (primer) merupakan metode dimana data yang dikumpulkan


merupakan data langsung dari lapangan sehingga dapat diperoleh data yang
obyektif. Pada metode langsung yang digunakan, yaitu terdiri dari :

1. Obervasi lapangan
Merupakan pengamatan terhadap kondisi dan keadaan langsung yang ada
dilapangan terutama untuk kegiatan peledakan. Kegiatan observasi ini sangat
berguna sebagai langkah awal untuk memulai proses pengambilan data.

a. Pengambilan data

Pelaksanaan untuk memperoleh data yang diperlukan dari berbagai sumber


dalam penyusunan skripsi. Adapun data yang diambil, yaitu :

1) Data geometri peledakan


2) Pemakaian bahan peledakn
3) Data struktur batuan

Pokok-pokok pekerjaan yang dilakukan dalam upaya pengambilan data-data


tersebut antara lain adalah :

a. Pengamatan dan pencatatan langsung dilapangan. Kegiatan pengamatan dan


pencatatan yang dilakukan dilapangan meliputi pengamatan kondisi lokasi
peledakan, pengukuran kedalaman lubang bor serta kondisi dari lubang
tersebut
b. Melakukan wawancara langsung dengan crew drill & blast (supertenden,
supervisor atau foreman) serta pihak lain yang berkompeten mengenai kegiatan
pemboran dan peledakan tersebut. Kegiatan yang dimaksud ialah wawancara
mengenai pola pemboran dan geometri pemboran yang digunakan sedangkan
wawancara untuk kegiatan peledakannya diantaranya ialah pola peledakan
serta powder factor yang akan digunakan.

3.1.2 Metode tidak langsung (sekunder)


Metode tidak langsung (sekunder) merupakan studi pustaka yaitu dengan
mengutip literatur dan lampiran dari data pustaka, instansi terkait, den literatur-
literatur yang terkait serta data atau arsip perusahaan yang mendukung pekerjaan
penelitian. Adapun urutan pengambilan datanya meliputi :

1. Studi Literatur
Melakukan studi pustaka dari buku-buku yang berkaitan serta studi berbagai
literatur dan jurnal yang menunjang dalam penyusunan skripsi ini serta
melakukan diskusi dengan pembimbing. Dari keduanya untuk mendapatkan
penyelasaian masalah yang baik.
2. Kesimpulan
Dilakukan korelasi antara hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan
permasalahan yang diteliti dan sebagai rekomendasi kepada perusahaan untuk
menyelesaikan permasalahan dilapangan yang terkait dengan hasil penelitian.
3.2. Rencana Jadwal Penelitian

Adapun cara pengambilan data pada kegiatan penelitian ini adalah dapat dilihat
pada gambar 3.1 Bagan alir penelitian
Mulai

Studi Literatur Persiapan

Pengambilan Data

Data Primer
Geometri Peledakan Data Sekunder
Struktur Geologi Profil Perusahaan
Density batugranit

Desain Geometri
Pengolahan Data :
Peledakan ( R.L.Ash)
Analisa Fragmentasi dengan
teori Kuz-ram

Apakah Sesuai
dengan target Tidak
perusahaan

Ya

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1. Diagram Alir