Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
SIFAT FISIS BATUBARA

A. FSI (Free Swelling Index)


Free swelling index merupakan suatu parameter seberapa jauh
batubara akan memuai apabila dipanaskan, sehingga akan diperoleh suatu
angka peleburan dengan cara memanaskan sejumlah sampel pada temperatur
peleburan normal (kira-kira 800C). Setelah pemanasan atau sampai semua
semua volatile dikeluarkan, terdapat sejumlah coke tersisa dari peleburan.
Prosesnya adalah sampel batubara dimasukkan ke dalam cawan khusus dan
dipanaskan di dalam furnace. Kokas diamati profilnya dengan cara
membandingkan bentuk kokas dengan bentuk profil kokas standar yang
mempunyai nilai dari angka 1 sampai 9. Swelling number dipengaruhi oleh
distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan.
Pengaruh FSI terhadap kualitas batubara
Pada umumnya, Free Swelling Index meningkat berdasarkan tingkatan /
levelnya.
Jika suatu batubara nilai free swelling indexnya adalah dua atau kurang
dari dua, maka batubara tersebut berkualitas rendah.
Jika suatu batubara nilai free swelling indexnya adalah empat atau lebih
dari empat, maka batubara tersebut berkualitas tinggi.
FSI dapat juga digunakan untuk menentukan tingkat oksidasi atau
keadaan suatu batubara.

B. HGI (Hardgrove Grindability Index)


HGI (Hardgrove Grindability Index) adalah suatu bilangan yang dapat
menunjukan mudah atau tidaknya batubara dihancurkan menjadi bahan bakar
serbuk sampai ukuran 200 mesh atau 75 micron. Harga HGI untuk batubara
Indonesia berkisar antara 35-60. Harga HGI diperoleh dengan rumus :
2

HGI = 13,6 + 6,93 W


W adalah berat dalam gram dari batubara lembut berukuran 200 mesh.
HGI sangat penting bagi pengguna batubara di power plant yang
menggunakan pulverized coal. HGI tidak dapat dijadikan indikasi atau
simulasi performance dari suatu pulverizer atau milling secara langsung,
karena performance milling masih dipengaruhi oleh kondisi operasional
milling itu sendiri, seperti mill tention, temperature primary air, setting
classifier dan lain-lain. Namun demikian, HGI dapat dijadikan pembanding
untuk batubara yang satu dengan lainnya mengenai kemudahannya untuk
dimilling.
Pengaruh HGI terhadap kualitas batubara
Semakin kecil harga HGI-nya, maka semakin tinggi peringkat batubara.
Namun hal ini tidak terjadi pada bituminous yang memiliki sifat
cooking. Dimana untuk jenis batubara ini HGI-nya tinggi sekali, bahkan
bisa mencapai lebih dari 100.
Semakin kecil harga HGI semakin keras keadaan batubaranya, dan
semakin tinggi harga HGI semakin lunak batubara tersebut.
Hal-hal yang menentukan nilai HGI
Organik batubara seperti jenis material dan lain-lain.
Dilusi abu dari penambangan. Secara umum penambahan abu dilusi
dapat menaikan nilai HGI.
Kandungan moisture.
Pengujian HGI
HGI ditest dengan menggunakan mesin hardgrove. Sampel yang
sudah dihancurkan pada ukuran partikel tertentu kemudian dimasukan
kedalam mesin hardgrove. Selanjutnya dihancurkan dengan menggunakan
bola baja pada putaran (revolusi) tertentu, kemudian discreen pada ukuran
200 mesh. Jumlah yang lolos pada screen ukuran 200 mesh dijadikan data dan
dikalkulasi dengan menggunakan hasil kalibrasi alat tersebut.
3

C. BULK DENSITY
Bulk density didefinisikan sebagai massa partikel dari batubara dibagi
dengan total volume yang ditempatinya. Total Volume yang ditempati
meliputi volume partikel itu sendiri, volume void antar- partikel dan volume
pori internal.
Pengaruh bulk density terhadap kualitas batubara
Semakin besar bulk density, makin besar kadar air yang terkandung
dalam suatu batubara, sehingga menyebabkan kualitas batubara tersebut
semakin buruk.
Type bulk density batubara
Anthracite coal : 50- 58( lb/ft3), 800- 929 (kg/m3)
Bituminous coal : 42- 57( lb/ft3), 673- 913 (kg/m3)
Lignite coal : 40- 54( lb/ft3), 641- 865 (kg/m3)

D. SIZE STABILITY
Menurut Speight (2005), Size stability menunjukkan kemampuan
batubara terhadap pengurangan ukuran pada saat proses. Friability
(kerapuhan) ini dipengaruhi oleh kekerasan (toughness), elastisitas, dan
kerapuhannya. Friability sangat diperhatikan oleh karena batubara yang lebih
friable menghasilkan butiran yang semakin kecil dimana dihasilkan luas
permukaan yang semakin besar sehingga akan meningkatan efisiensi.
Terdapat dua metode uji friability yang dapat dilakukan, yaitu
tumbler test (ASTM D-441) dan drop shatter test (ASTM D-440). Tumbler
test memperhitungkan friability relatif butiran dengan batubara utuh. Test ini
menunjukkan kemungkinan batubara untuk hancur menjadi butiran - butiran
kecil selama proses.
Sedangkan drop shatter test memperhitungkan size stability relatif
dari batubara utuh. Test ini menunjukkan kemampuan batubara untuk
mempertahankan ukurannya selama proses. Metode ini relative lebih baik
untuk mengukur ketahanan relatif dari suatu jenis batubara menjadi butiran
4

yang lebih kecil ketika berada pada lapisan tipis, seperti dari loading boom
ke kereta pengangkut. Drop shatter test dilakukan dengan menjatuhkan suatu
batubara ke atas dua plat baja berturut turut dan kemudian diayak pada
ukuran ayakan tertentu. Prosentase pengurangan ukuran batubara disebut
persen friabilitas. Kemudian dilakukan pengulangan untuk ukuran yang lain.
Berikut perbandingan friabiltas berbagai jenis batubara,

Tabel 1. Tabel Tingkat Friabilitas Macam Macam Batubara


Batubara yang lebih friable menunjukkan kadar zat volatil yang
rendah karena berbanding lurus dengan tingkatannya, batubara tersebut
cenderung tidak teroksidasi sebelum menjadi butiran lembut sehingga dapat
mencapai luas permukaan yang besar.

E. SPESIFIC HEAT
Specific heat (Cp) merupakan jumlah panas yang diperlukan untuk
menaikkan suhu suatu zat sebesar 1o. Satuan spesific heat, antara lain : J/g.K,
kJ/kg.K, BTU/lbm.F dan Cal/g.C.
Contoh beberapa nilai panas spesifik batubara, yaitu :
1. Coal, anthracite = 0.3 BTU/lbm.F = 1.26 kJ/kg.K
2. Coal, bituminous = 0.33 BTU/lbm.F = 1.38 kJ/kg.K
Pengaruh spesific heat terhadap kualitas batubara
Semakin tinggi kualitas batubara, semakin rendah nilai panas
spesifiknya. Sehingga untuk menaikkan suhu batubara dengan kualitas
tinggi dibutuhkan panas yang lebih sedikit daripada batubara kualitas
lebih rendah. Dengan panas yang sama diberikan pada batubara kualitas
5

rendah dan tinggi, maka batubara kualitas tinggi yang akan lebih besar
atau cepat naik suhunya.
Sangat sulit untuk menetukan nilai panas spesifik batubara, satu-satunya
cara yang dilakukan hanyalah berdasarkan hasil eksperimen, metode
analisis, dan pengambilan beberapa asumsi.
Panas spesifik batubara akan menurun jika suhu dinaikkan di atas
300C, hal ini dijelaskan bahwa terjadi reaksi endotermis yaitu pirolisis,
dekarbonisasi, ataupun coking.
Batubara akan mulai cepat mengalami devolatilisasi saat suhu di atas
700C
6

BAB II
GASIFIKASI BATUBARA

A. PRINSIP GASIFIKASI BATUBARA


Gasifikasi adalah suatu proses perubahan bahan bakar padat secara
termokimia menjadi gas, dimana udara yang diperlukan lebih rendah dari
udara yang digunakan untuk proses pembakaran. Pada prinsipnya, batubara
dibakar dengan udara terbatas sehingga gas yang dihasilkan sebagian besar
mengandung hidrogen (H), karbon monoksida (CO), dan metana (CH4). Gas-
gas tersebut kemudian direaksikan lagi dengan oksigen (diperoleh dari udara)
sehingga dihasilkan panas dari pembakaran tersebut. Dengan mengubah
batubara menjadi gas, maka material yang tidak diinginkan yang terkandung
dalam batubara seperti senyawa sulfur dan abu, dapat dihilangkan dari gas
sehingga dapat dihasilkan gas bersih dan dapat dialirkan sebagai sumber
energi.

B. PROSES GASIFIKASI
Pembersihan Batubara
Sebelum dilakukan proses gasifikasi, perlu dilakukan pembersihan
batubara, yaitu pemisahan impurities yang dikandung batubara untuk
menghasilkan produk batubara yang lebih bersih. Satu cara untuk
membersihkan batu bara adalah dengan memecah batu bara ke bongkahan
yang lebih kecil dan mencucinya dalam tangki besar yang berisi air. Fasilitas
pencucian ini dinamakan coal preparation plants. Pencucian batubara akan
meningkatkan nilai panas dan kualitas batubara, menurunkan kandungan abu
(ash) batubara lebih dari 50%, mengurangi emisi belerang dioksida (SO2) dan
menaikkan efisiensi thermal (menyebabkan emisi CO2 yang rendah).
Tahapan Proses Gasifikasi Batubara
Proses gasifikasi batubara umumnya terdiri dari empat tahapan, yaitu
pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi. Proses pengeringan, pirolisis,
7

dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik), sedangkan proses oksidasi


bersifat melepas panas (eksotermik).
1. Tahap pengeringan
Akibat pengaruh panas, batubara mengalami pengeringan pada
temperatur 100-250oC. Pada tahap ini, kandungan air pada bahan bakar
padat diuapkan oleh panas yang diserap dari proses oksidasi.
2. Tahap pirolisis
Pirolisis merupakan pemisahan volatile matters (uap air, cairan organik,
dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon bahan
bakar dengan menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi.
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial.
Komposisi produk yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan,
dan komposisi gas selama pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai
pada temperatur sekitar 250C ketika komponen yang tidak stabil secara
termal, seperti volatile matters pada batubara, mengalami pemecahan dan
menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Proses ini berlangsung
sampai temperatur 500oC. Produk cair yang menguap mengandung tar
dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri
dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan
arang.

3. Tahap reduksi (Gasifikasi)


Gasifikasi mereduksi hasil pembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi
endotermik. Reduksi atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi
endotermik yang didukung oleh panas yang diproduksi dari reaksi
pembakaran. Tahap reduksi ini berlangsung pada temperatur di atas
600oC. Produk yang dihasilkan pada proses ini adalah gas bakar, seperti
hidrogen, karbondioksida, dan metana. Reaksi berikut ini merupakan
empat reaksi yang umum telibat pada gasifikasi.
8

Water-gas reaction
Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh
kukus yang dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil
pirolisis) maupun dari sumber yang berbeda, seperti uap air yang
dicampur dengan udara dan uap yang diproduksi dari penguapan air.
Reaksi yang terjadi adalah:
C + H2O H2 + CO
Pada beberapa gasifier, kukus dipasok sebagai medium
penggasifikasi dengan atau tanpa udara/oksigen.
Boudouard reaction
Boudouard reaction merupakan reaksi antara karbondioksida yang
terdapat di dalam gasifier dengan arang untuk menghasilkan CO.
Reaksi yang terjadi adalah:
CO2 + C 2CO
Shift conversion
Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh
kukus untuk memproduksi hidrogen. Reaksi ini dikenal sebagai
water-gas shift yang menghasilkan peningkatan perbandingan
hidrogen terhadap karbonmonoksida pada gas produser. Reaksi ini
digunakan pada pembuatan gas sintetik. Reaksi yang terjadi adalah:
CO + H2O CO2 + H2
Methanation
Methanation merupakan reaksi pembentukan gas metan. Reaksi yang
terjadi adalah:
C + 2H2 CH4
Pembentukan metan dipilih terutama ketika produk gasifikasi akan
digunakan sebagai bahan baku indsutri kimia. Reaksi ini juga dipilih
pada aplikasi IGCC (Integrated Gasification Combined-Cycle) yang
mengacu pada nilai kalor metan yang tinggi.
9

4. Tahap oksidasi
Oksidasi atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang
terjadi di dalam gasifier. Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon
dan hidrogen yang terdapat pada bahan bakar dengan reaksi eksotermik.
Proses oksidasi berlangsung hingga mencapai temperatur 1200oC. Proses
ini menyediakan seluruh energi panas yang dibutuhkan pada reaksi
endotermik dan untuk proses perekahan tar lebih lanjut. Oksigen yang
dipasok ke dalam gasifier bereaksi dengan substansi yang mudah
terbakar. Hasil reaksi tersebut adalah karbondioksida dan air yang secara
berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang diproduksi pada
pirolisis. Reaksi yang terjadi adalah:
C + O2 CO2
Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang
terkandung dalam bahan bakar membentuk kukus. Reaksi yang terjadi
adalah:
H2 + O2 H2O

Gambar 1. Diagram Tahapan Proses Gasifikasi


10

Gambar 2. Diagram Proses Gasifikasi


Jenis-jenis Gasifier
Keempat tahapan proses gasifikasi di atas dilaksanakan dalam satu
alat yang disebut gasifier atau reaktor gasifikasi. Terdapat 3 jenis gasifier
yang banyak digunakan untuk gasifikasi batubara, yaitu :
1. Fixed/Moving bed (lapisan bergerak)
Batubara dimasukkan dari bagian atas, sedangkan oksidan (oksigen dan
uap air) dihembuskan dari bagian bawah alat. Mekanisme ini
menyebabkan batubara turun pelan-pelan selama proses, sehingga waktu
tinggal batubara sekitar 1 jam, serta menghasilkan produk sisa berupa abu.
Karena gasifier model ini beroperasi pada suhu relatif rendah, maka
batubara yang akan digasifikasi harus memiliki suhu leleh abu yang tinggi,
agar abu tidak meleleh yang akhirnya mengumpul di bagian bawah alat
sehingga dapat menyumbat bagian tersebut. Disamping produk utama
yaitu gas hidrogen dan karbon monoksida, gasifikasi pada suhu relatif
rendah ini akan meningkatkan persentase gas metana pada produk gas.
Karena gas metana ini dapat meningkatkan nilai kalor gas sintetik yang
dihasilkan, maka gasifier moving bed sesuai untuk produksi SNG
(Synthetic Natural Gas) maupun town gas.
11

Gambar 3. Tipikal gasifier jenis moving bed


2. Fluidized bed (lapisan mengambang)
Batubara dimasukkan dari samping (side feeding), sedangkan oksidan
dimasukkan dari bagian bawah. Oksidan berfungsi sebagai reaktan pada
proses dan media lapisan mengambang dari batubara yang digasifikasi.
Dengan kondisi penggunaan oksidan yang demikian maka salah satu
fungsi tidak akan dapat maksimal karena harus melengkapi fungsi lainnya.
Hal ini mengakibatkan tingkat konversi karbon maksimal hanya sekitar
97%, tidak setinggi pada tipe moving bed dan entrained flow yang dapat
mencapai 99% atau lebih. Batubara yang akan diproses harus memiliki
temperatur melunak abu di atas suhu operasional, agar abu yang dihasilkan
selama proses tidak meleleh, yang dapat mengakibatkan terganggunya
kondisi lapisan mengambang. Dengan suhu operasi yang relatif rendah,
gasifier ini banyak digunakan untuk memproses batubara peringkat rendah
seperti lignit atau peat yang memiliki sifat lebih reaktif dibanding jenis
batubara yang lain. Teknologi pembakaran ini biasa digunakan dalam
pembangkit tenaga listrik.

Gambar 4. Tipikal gasifier jenis fluidized bed


12

3. Entrained flow (aliran semburan)


Pada alat ini, batubara yang akan diproses dihancurkan dulu. Batubara
serbuk ini disemburkan ke gasifier bersama dengan aliran oksidan
(oksigen, udara, atau uap air), dengan waktu tinggal batubara kurang dari 1
detik. Dengan suhu operasi yang tinggi, tidak ada batasan jenis batubara
yang digunakan karena abunya akan meleleh membentuk material seperti
gelas (glassy slag) yang bersifat inert. Meski demikian, batubara sub-
bituminus sampai dengan antrasit lebih cocok. Lignit atau brown coal
kurang ekonomis karena kandungan airnya yang tinggi sehingga
menyebabkan konsumsi energi yang besar. Meskipun abu akan meleleh
membentuk slag, tapi batubara berkadar abu tinggi sebaiknya dihindari
karena dapat mengganggu kesetimbangan panas akibat proses pelelehan
abu dalam jumlah banyak. Batubara dengan suhu leleh abu tinggi biasanya
dicampur dengan kapur (limestone) untuk menurunkan suhu lelehnya
sehingga suhu pada gasifier pun dapat ditekan. Gasifikasi suhu tinggi pada
gasifier ini menyebabkan kandungan metana dalam gas sintetik sangat
sedikit, sehingga gas sintetik berkualitas tinggi dapat diperoleh.

Gambar 5. Tipikal gasifier jenis entrained flow


13

Tabel 2. Perbandingan jenis-jenis gasifier


Parameter Fixed/Moving Fluidized Bed Entrained Flow
Bed
Ukuran umpan < 51 mm < 6 mm < 0.15 mm
Toleransi Terbatas Baik Sangat baik
kehalusan partikel
Toleransi Sangat baik Baik Buruk
kekasaran partikel
Toleransi jenis Batubara Batubara Segala jenis
umpan kualitas rendah kualitas rendah batubara, tetapi
dan biomassa tidak cocok
untuk biomassa
Kebutuhan Rendah Menengah Tinggi
oksidan
Kebutuhan kukus Tinggi Menengah Rendah
Temperatur reaksi < 600 C 600 1000 C 1200 1800 C
Temperatur gas 450 600 C 800 1000 C > 1260 C
keluaran
Produksi abu Kering Kering Terak
Efisiensi gas 80% 89,20% 80%
dingin
Kapasitas Kecil Menengah Besar
penggunaan
Permasalahan Produksi tar Konversi karbon Pendinginan gas
produk

Limbah dari Proses Gasifikasi Batubara


Limbah dari proses gasifikasi batubara yang paling utama adalah abu
sisa pembakaran yang berupa abu dasar dan abu layang dari proses
pembakaran, tar dari proses pirolisis serta senyawa lainnya dari proses
pembersihan batubara.
1. Abu dasar (bottom ash/bottom slag)
Abu dasar merupakan bagian kasar dari abu batubara yang terlalu berat
untuk dibawa oleh gas buangan, biasanya terkumpul di dasar atau di
sekitar gasifier. Warnanya lebih gelap dan ukuran butirnya lebih kasar
dari abu terbang. Presentase abu dasar yang dihasilkan rata-rata 10-20%.
Abu dasar sebagian besar tersusun oleh SiO2 dan Al2O3 (bisa mencapai
> 90%). Abu dasar dapat diangkut langsung dari peralatan gasifikasi
14

yaitu dengan membuka bagian bawah gasifier. Karena ukuran butirnya


yang kasar dan bercampur dengan slag, maka abu dasar hanya dapat
dimanfaatkan sebagai :
- Bahan campuran pembuatan semen maupun batako.
- Bahan dasar adsorben yang mampu melakukan penyerapan ion dan
senyawa organik secara simultan, yaitu merubah Si dan Al dalam
abu dasar menjadi zeolit. Misalnya, bahan penyerap multifungsi
untuk ammonia dan senyawa organik pada air tambak udang dan
bahan penyerap logam berat dari limbah industri pelapisan logam.
2. Abu layang (fly ash)
Abu layang (fly ash), yaitu abu yang terjebak dalam cerobong asap
pembakaran batubara. Presentase abu layang yang dihasilkan rata-rata
80-90%. Ukuran butirnya lebih halus, bervariasi antara 0,1-200 m dan
warnanya lebih terang (keabu-abuan) bila dibandingkan dengan abu
dasar. Komposisi kimianya didominasi oleh SiO2 dan Al2O3. Sedangkan
sisanya berupa CaO, Fe2O3, MgO, Na2O, K2O, TiO2, sisa karbon, dan
senyawa lainnya. Fly ash harus ditangkap dengan alat khusus, dapat
menggunakan electrostatic precipitator, fabric filter, dan lain-lain. Abu
terbang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan berikut ini :
- Bahan dasar klinker semen dan bahan campuran semen untuk beton.
- Bahan baku pembuatan batako dan keramik.
- Bahan dasar untuk bahan bangunan.
- Sebagai lapisan dasar pada kontruksi jalan raya.
- Sumber bahan mineral dan logam.
- Bahan untuk zeolit sintetis atau bahan mesoporous. Beberapa jenis
zeolit yang telah berhasil disintesis dari abu layang adalah zeolit X
dan A, Na-P1, dan zeolit A.
- Penggunaan secara luas pada berbagai bidang: stabilisasi tanah,
pengolahan landscapes, fertilisasi tanah, produksi geopolimer.
15

3. Tar
Produk cair yang menguap pada tahap pirolisis mengadung tar.
Penanganan tar relatif lebih sulit karena tar berupa senyawa yang
bercampur dengan air. Cara sederhana dan murah adalah dengan
mengalirkan tar ke karbon aktif sehingga kontaminan diserap oleh karbon
aktif dan air dapat kembali digunakan di proses pembersihan. Dapat juga
dilakukan distilasi dan pemurnian tar sehingga dapat menjadi produk
pewarna sintetik dan bahan kimia.
C. APLIKASI GASIFIKASI BATUBARA
Gas sintetik hasil gasifikasi batubara dapat diproses lebih lanjut atau
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bahan bakar sintetik (Coal to Liquid, CTL)
Pada pembuatan BBM sintetik, batubara digasifikasi terlebih dulu untuk
menghasilkan gas sintetik yang komposisi utamanya terdiri dari hidrogen
(H2) dan karbon monoksida (CO), kemudian dilanjutkan dengan proses
Fischer-Tropsch (FT) untuk menghasilkan hidrokarbon ringan (paraffin).
Hidrokarbon tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk menghasilkan
bensin dan minyak diesel. Karena nilai oktan pada produk bensin yang
dihasilkan rendah, maka dilakukan upaya untuk menghasilkan bensin
bernilai oktan tinggi dari gas sintetik ini. Proses tersebut dilakukan dengan
memproduksi metanol dari gas sintetik terlebih dulu, kemudian metanol
diproses untuk menghasilkan bensin bernilai oktan tinggi. Metode ini
disebut MTG (Methanol to Gasoline).
16

2. Pembangkit listrik (Coal to Power)

Gambar 6. Konsep sistem gasifikasi pada pembangkit listrik


Gas sintetik yang dihasilkan oleh gasifier akan diproses di gas cooler dan
fasilitas gas clean up terlebih dulu sebelum mengalir ke turbin gas. Setelah
melewati siklus Brayton, gas buang dari turbin gas kemudian mengalir ke
HRSG (Heat Recovery Steam Generator), dimana panas dari gas tersebut
kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan uap air. Selain dari turbin
gas, panas buangan yang dihasilkan dari proses pendinginan gas juga
dialirkan ke HRSG pula. Uap air dari HRSG inilah yang kemudian
dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap melalui mekanisme siklus
Rankine.
3. Industri kimia (Coal to Chemical)
Gas sintetik hasil gasifikasi batubara dapat digunakan sebagai bahan baku
industri kimia, diantaranya untuk pembuatan ammonia, pupuk, metanol,
DME (Dimethyl Ether), olefin, paraffin, asam asetat dan lain-lain.
17

Gambar 7. Konsep sistem gasifikasi pada industri kimia


18

DAFTAR PUSTAKA

Speight, James G.,2005, Handbook of Coal Analysis, John Willey and Sons Inc.,
New York
http://beritaenergi.wordpress.com/2008/03/25/proses-gasifikasi-batubara/
http://books.google.co.id/books?id=IBmisxug6EUC&pg=PA149&lpg=PA149&d
q=Crucible+swelling+index
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Research-12199-1962102819880331001-
Chapter1.pdf
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-9329-Chapter1.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Coal
http://esptk.fti.itb.ac.id/herri/index.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara
http://id.wikipedia.org/wiki/Gasifikasi
http://ilmubatubara.wordpress.com/2006/10/07/uji-mekanik/
http://imambudiraharjo.wordpress.com/2009/03/06/gasifikasi-batubara/
http://katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/1189/118
9.pdf
http://majarimagazine.com/2008/06/gasifikasi-batubara-dengan-unggun-
terfluidakan/
http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-2/
http://mkf-poenya.blog.friendster.com/my-kampus-site-batu-y-membara/

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/11/94593/Hemat-
Energi-dan-Ramah-Lingkungan
http://www.anl.gov/PCS/acsfuel/preprint%20archive/Files/12_3_ATLANTIC%20
CITY_09-68_0019.pdf
http://www.engineeringtoolbox.com/specific-heat-solids-d_154.html
http://www.scribd.com/doc/29955002/Coal
http://xa.yimg.com/kq/groups/12971802/63756859/name/BATUBARA2.ppt