Anda di halaman 1dari 2

Analisis dan Pembahasan

1. Refleks Patella
Pada percobaan reflex patella, ketika patella pelaku dipukul dengan pemukul
karet, telapak kaki pelaku menjadi terangkat. Selanjutnya, diberi perlakuan pertama
yaitu pelaku melakukan penjumlahan , kaki pelaku menjadi terangkat dan lebih
terasa sakit. Kemudian diberi perlakuan kedua yaitu dengan melakukan gerakan
menarik-narik jari, Kaki pelaku terangkat dan terasa sakit. Hal ini disebabkan karena
kuat atau lemahnya stimulus akan mempengaruhi munculnya potensial aksi. Menurut
Silverthorn (2010) menyatakan bahwa kuatnya stimulus akan membuka kanal
tertentu yang menyebabkan peristiwa depolarisasi sehingga sel melepaskan banyak
neurotransmitter dan membangkitkan potensial aksi
Respon gerak dari pemukul karet yang mengenai kaki/ lutut merupakan
rangsangan (impuls) yang diterima oleh kulit kaki. Impuls tersebut nanti akan
diteruskan oleh neuron sensorik menuju ke sumsum tulang belakang yang segera
meneruskannya ke neuron asosiasi. Dari neuron asosiasi, impuls bergerak ke neuron
motorik yang kemudian meneruskannya ke otot kaki.
2. Refleks Achilles
Pada percobaan refleks Achilles, pelaku duduk berlutut di kursi dengan telapak
kaki ditekuk-tekuk agar menghasilkan tegangan otot gastroknemius dan setelah itu
dipukul pada bagian tendon merasa sakit dan kaki terangkat ke atas. Hal ini
menunjukkan adanya kontraksi gastroknemius dan solius (Tortora, 1984). Seperti
yang dinyatakan Burhan (2009) bahwa refleks tendon terpola untuk melindungi
tendon dari kerusakan yang mungkin dihasilkan karena tegangan yang berlebihan
oleh karena itu sebelum dilakukan pemukulan pada tendon Achilles, telapak kaki
pelaku ditekuk-tekuk ke atas untuk menghasilkan tegangan pada otot gastroknemius.
3. Refleks kornea

Pada percobaan reflex kornea, didekatkan kapas ke arah mata, dan reaksi
pelaku langsung berkedip, hal ini menunjukkan refleks dasar sebagai bentuk respon
adanya benda yang akan masuk ke mata. Menurut Burhan (2009), refleks ini
merupakan refleks kranial yang diintegrasikan oleh otak. Sedangkan menurut
Anthony (1983) refleks ini di mediai oleh lengkung refleks dengan serabut sensori
pada percabangan opnthalmik dari saraf kranial ke-5 yang berpusat dalam pons dan
serabut motoriknya pada saraf kranial ke-7.

4. Refleks Fotopupil

Pada percobaan reflex fotopupil, sebelumnya diukur pupil pelaku yaitu 0,5 cm
setelah itu pelaku menghadap kearah cahaya terang dengan mata tertutup selama 2
menit, setelah pelaku membuka mata, pupil pelaku diukur didapat 0,3 cm. Ukuran
pupil menjadi kecil , Hal ini disebabkan karena rangsangan cahaya yang masuk pada
mata ditangkap oleh pupil mata dan disebabkan pula oleh kemampuan mata untuk
menangkap cahaya yang masuk sehingga dapat melihat benda yang dekat maupun
yang jauh. Pupil dapat mengalami perubahan ukuran, tergantung dari intensitas
cahaya yang masuk ke mata. Perubahan ini terjadi secara refleks. Apabila cahayanya
sangat terang, pupil akan menyempit atau mengalami konstraksi, sebaliknya apabila
cahaya redup, pupil akan melebar atau mengalami dilatasi.
Menurut Soewolo dkk (2003) pada pupil memiliki otot polos radier dan otot polos
sirkuler yang memungkinkan pupil dipersempit atau diperlebar untuk mengatur jumlah cahaya
yang masuk ke bagian dalam mata atau yang sering disebut juga dengan akomodasi pupil. Pupil
akan menjadi sempit jika otot sirkuler berkontraksi dan otot radier berelaksasi. Sedangkan
apabila otot sirkuler relaksasi dan otot radier berkontraksi maka pupil akan melebar.