Anda di halaman 1dari 2

Teologi Kebangsaan

Oleh: Yonky Karman

Membangun semangat nasionalisme menghadapi penjajah ternyata lebih mudah


dibandingkan dengan menghadapi primordialisme dalam tubuh bangsa.

Seabad kebangkitan nasional membuktikan kebangsaan melemah dan primordialisme


menguat. Kesukuan, kedaerahan, dan sentimen keagamaan bersaing dengan nasionalisme.
Eksklusivisme merupakan reaksi atas hilangnya dimensi manusiawi dalam ekonomi pasar
bebas. Nilai sekuler pasar mendegradasi kemanusiaan. Karena itu, ikatan-ikatan primordial
ditegaskan kembali dan menjadi asilum sosial.

Sayang, elite politik di pusat maupun daerah tanpa sungkan memainkan isu-isu primordial
untuk kepentingan politik jangka pendek: dari kancah pemilihan kepala daerah hingga soal
bisnis. Budaya gotong-royong dan toleransi dibiarkan luntur. Kohesi sosial dibiarkan lemah.

Kekitaan (inklusif) merosot menjadi kekamian (eksklusif). Kekamian dibayangi kehadiran


liyan sebagai saingan. Berbagai komunitas berbeda dibiarkan berdampingan, tetapi tanpa
bersinggungan (monokulturalisme majemuk), tanpa saling sapa dalam konteks berbangsa
(multikulturalisme).

Teologi keumatan

Kebangkitan agama-agama di Indonesia belum berdampak positif terhadap kebangsaan,


malah menjadi sebuah faktor kemunduran hidup berbangsa. Agamawan lebih tertarik
mengembangkan teologi yang menguatkan identitas kelompok. Teologi yang
berkarakteristik aliran. Dari umat untuk umat. Bukan dari umat untuk bangsa. Bangsa
direduksi menjadi umat. Dan, kebangkitan umat tidak serta-merta kebangkitan bangsa.

Agama dipropagandakan mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Umat didorong menjadi


fanatik seolah fanatisme berkorelasi dengan kesejahteraan. Maraklah simbol-simbol dan
pernak-pernik agama. Stan-stan promosi teologi keumatan bermunculan di ruang publik
tanpa pintu dialog. Kesucian agama yang notabene ciptaan manusia diutamakan melebihi
kesucian harkat kemanusiaan yang notabene ciptaan Tuhan.

Teologi keumatan membuat antarumat tidak saling menyapa dan tidak menjunjung toleransi.
Umat tersandera teologi yang membuat mereka tidak leluasa memberi selamat hari raya
kepada umat lain. Umat mudah terjangkit rasa curiga, reaktif, bahkan agresif. Republik
demokratis pun tidak menjaga jarak dalam hal keyakinan agama. Negara terjebak wacana
teologi keumatan. Fungsi publik polisi tersandera saat anarkisme diusung atas nama agama.

Visi keumatan juga tetap dibawa-bawa saat agama masuk ke tataran politik praktis.
Propaganda partai berasas agama adalah memperjuangkan kesejahteraan umat. Padahal,
uang dan fasilitas yang diterima (anggota) partai berasal dari negara, dipungut dari pajak
semua elemen bangsa. Perilaku partai berasas agama mengingkari sifat publiknya,
menurunkan derajat partai ke tingkat organisasi massa keagamaan.

1
Arah baru berteologi

Republik Indonesia dibangun di atas kebangsaan. Bangunan republik menjadi goyah saat
ikatan berbangsa menjadi lemah. Musuh bersama kita bukan lagi penjajah bersenjata,
melainkan sergapan kemiskinan yang dalam jangka panjang mematikan. Jika kita terus
mengedepankan keumatan dan mengabaikan spirit kebangsaan, tiada cukup kekuatan kita
menghadapi musuh yang mematikan itu.

Perlu dibangun sebuah konstruk teologi yang keluar dari kesempitan (aliran) agama dan
mendorong umat menyapa komunitas di luarnya. Ada dua hal yang potensial menghambat
pengembangan teologi kebangsaan. Pertama, sikap bahwa (aliran) agama sendiri sebagai
yang terbaik (sikap partisan). Kedua, overdosis dalam beragama dan soal-soal keagamaan,
yang akhirnya berkembang menjadi sikap mudah menghakimi orang lain.

Dalam konteks global, orang terjebak ketunggalan identitas sosial. Pasca tragedi 11/9, kian
populer tesis Huntingtonian yang membenturkan peradaban Islam dan Barat. Tragedi itu
seolah mengukuhkan ketunggalan identitas. Sam Harris membangkitkan kembali positivisme
radikal, dengan menuding agama sebagai sumber delusi, irasionalitas, intoleransi, dan
kekerasan (The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason, 2004).

Karena itu, kaum sekularis tidak melihat masa depan agama dan sebaiknya cepat diakhiri,
sebelum agama meruntuhkan peradaban. Sebagian masyarakat Barat mengidap Islamofobia
dengan ekspresi kultural yang menggambarkan agama secara hitam putih. Stereotip itu amat
subyektif dan jauh dari kebenaran.

Amartya Sen mengoreksi sesat konseptual itu (Identity and Violence: The Illusion of Identity,
2006). Mereduksi peradaban yang kompleks kepada ketunggalan identitas adalah sebuah
ilusi peradaban. Ketunggalan identitas justru memperuncing permasalahan dan memberi
persemaian bagi berbagai kesalahpahaman dan tindak kekerasan.

Demikian juga dengan problem dialektika pikiran terjajah yang membangun sentimen anti-
Barat untuk menegaskan identitas kebangsaan. Dekolonisasi ideologi kebangsaan pasti gagal
jika begitu saja menolak sesuatu yang berbau Barat atau menafikan tradisi sendiri. Itulah
benang merah Polemik Kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana yang menoleh ke Barat
dan kaum tradisionalis. Kesejatian nasionalisme tidak berangkat dari semangat anti-Barat
demi popularitas.

Wacana bahwa Muslim sejati tidak bisa nasionalis dan nasionalisme mengingkari hakikat
keislaman juga terjebak ilusi ketunggalan identitas. Kendati demikian, dikotomi itu tak
terhindari selama umat lebih mementingkan teologi keumatan. Berpikir dan bertindak dalam
koridor teologi kebangsaan berarti meletakkan kepentingan dan kesejahteraan bangsa di atas
kepentingan kelompok. Jika bangsa sejahtera, umat di dalamnya pasti sejahtera.

Jika bangsa yang majemuk seperti Indonesia terus merasa nyaman dengan pengotak-
ngotakan primordial, mustahil kita bangkit dari keterpurukan. Sebagai bangsa religius,
agama dapat menjadi berkah, tetapi juga dapat menghalangi kemajuan bangsa. Dibutuhkan
kelapangan hati dan tekad semua pihak untuk melakukan terobosan dalam berteologi dan
kehidupan berbangsa.

Anda mungkin juga menyukai