Anda di halaman 1dari 9

1.

a. Duty cycle adalah periode lama operasi pengelasan denggan menggunakan


kapasitas arus pada nilai tertentu selama 10 menit , 100% duty cycle berarti pada
arus itu periode pengoperasian mesin dapat dilakukan selama 10 menit , sedangkan
jika 60% Duty Cycle berarti mesin itu hanya boleh dioperasikan selama 6 menit pada
nilai arus yang digunakan , penerapan duty cycle ini bertujuan agar tidak terjadi
overheating selama proses pengelasan. Rumus yang digunakan untuk
memperkirakan duty cycle adalah

Keterangan:
T : rated duty cycle (%)
Ta: required duty cycle (%)
I : rated current at rated duty cycle
Ia: the maximum current at required duty cycle.

b. I = 450A ; DC = 60%

=( )
60
=( ) 450
100
= 0.775 450
= 348.75
Jadi, arus maksimum yang diijinkan bila mesin las dioperasi secara terus menerus
(tanpa berhenti) untuk mesin las dengan menggunakan mesin berkapasitas 450A
dengan 60 % duty cycle adalah 348.75 ampere.

2.
a. VRD atau voltage reduction device merupakan alat yang berfungsi untuk
menurunkan tegangan open circuit pada terminal output mesin welding hingga
mencapai tegangan yang aman , hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dari
pengguna alat jika terjadi setrum . Prinsip alat tersebut adalah ketika alat ini
mendeteksi nilai beban dibawah 200 ohm , maka VRD akan menaikan output sampai
maksimal dan dapat dilakukan welding . dan ketika beban diatas 200 ohm dideteksi
atau elektroda dilepas maka VRD akan menurunkan output ke nilai yang aman
b.
E6010
E Elektroda
60 Minimum Tensile strength 60000 psi
1 dapat digunakan pada semua posisi pengelasan
10 tipe coating high cellulose sodium dan arus tipe DCRP
E7018
E Elektroda
70 Minimum Tensile Strength 70000 psi
1 Dapat digunakan pada semua posisi pengelasan
18 tipe coating iron powder dan low hydrogen dan menggunakan arus AC
atau DCRP
E7028-B3
E Elektroda
70 Minimum Tensile strength 70000 psi
2 Dapat digunakan hanya pada posisi pengelasan flat dan horizontal
28 tipe coating iron powder dan low hydrogen dan menggunakan arus AC
atau DCRP
B3 perkiraan kandungan paduan pada deposit weld 2.25% Cr & 1% Mo
ER70T-6
ER Electrode rod
7 minimum tensile strength 7 x 10000 psi
0 Dapat digunakan hanya pada posisi pengelasan flat dan horizontal
T menandakan elektroda merupakan flux cored electrode
6 Polaritas arus tipe DCEP(DCRP) , dan tidak menggunakan external
shielding

3. Tujuan pengeringan pada elektroda sebelum digunakkan adalah untuk mengurangi


kelembaban dari elektroda yang digunakkan , kelembaban akan merusak dan menurunkan
kualitas hasil weld dan juga dapat menyebabkan spattering terjadi , hal ini disebabkan atom
atom hydrogen dari atmosfer yang dapat berdifusi masuk sehingga dapat menyebabkan
porositas dan cracking (cold cracking) pada daerah hasil weld. Pada pengelasan baja HSLA
jika dilakukan tanpa proses pengeringan terhadap elektroda yang akan digunakkan , akan
mudah terjadi cold cracking pada hasil weld , karena hydrogen yang masuk akan terkmpul
pada hasil weld baik dari atmosfer ataupun HAZ.
Hal hal yang perlu dipertimbangkan
Temperatur pengeringan
Perlakuan PWHT(post weld heat treatment) pada hasil welding
Lama proses pengeringan
4.
a. Consumable Electrode
Pada jenis pengelasan dengan consumable electrode seperti SMAW , panas
maksimum terjadi pada kutub negative (katoda) , sehingga jika digunakan polaritas
arus DCEN(straight polarity) dimana elektroda digunakan sebagai katoda , akan
terjadi pelehan yang tinggi sehinggan penetrasi yang dihasilkan dangkal , sedangkan
jika menggunakan polaritas DCEP (Reverse Polarity) , dimana base metal yang
bertindak sebagai katoda akan dihasilkan penetrasi yang dalam

b. Non-Consumable Electrode
Pada jenis pengelasan menggunakan elektroda yang tidak habis seperti TIG , panas
maksimum terjadi pada kutub positive (anoda) , sehingga jika digunakan dengan
polaritas arus DCEN (straight polarity) akan dihasilkan penetrasi yang dalam karena
panas banyak terjadi pada base metal , sedangkan jika digunakan polaritas arus
DCEP (Reverse Polarity) , akan dihasilkan penetrasi yang dangkal
5. Keuntungan
Arc yang dihasilkan lebih stabil
Transfer yang dihasilkan dapat berupa spray transfer
Spatter yang terjadi lebih sedikit
Kualitas weld yang dihasilkan lebih baik
Kerugian
Lebih mahal dibanding pure CO2
Penetrasi yang dihasilkan lebih dangkal , sehingga sulit untuk part yang tebal

6.
a.
Spray Transfer
Didapat ketika menggunakan arus diatas nilai kritis(High Current) dan kadar CO2
yang digunakkan kurang dari 25% , pada transfer ini electrode metal diransfer dengan
bentuk tetesan kecil , dan arc yang terbentuk stabil dan sangat sedikit menimbulkan
spatter.

Globular Transfer
Terjadi ketika arus dibawah nilai kritis ketika kadar CO2 kurang dari 25% ,
sedangkan ketika CO2 yang digunakkan lebih dari 30% transfer ini terjadi pada nilai
arus baik diatas (High Current) dan dibawah nilai kritis (middle current) , tetesan
logam cair akan memiliki diameter yang besar dan jatuh pada posisi yang acak dari
pusat electrode , sehingga sering menghasilkan spatter dan weld yang kasar dan tidak
merata .

Short Circuiting Transfer


Tercipta dengan menggunakan rentang arus las yang paling rendah (Low Current)
baik pada kadar CO2 diatas 30% atau dibawah 25% sehingga menghasilkan zona
logam las yang kecil dan pembekuan yang cepat.
b. Pada mode transfer globular ketika 100% CO2 digunakkan sebagai shielding gas,
tetesan yang jatuh berbentuk besar dan mudah terjadi spatter ,

sedangkan pada system campuran gas argon 80% dan CO2 20% , menghasilkan
mode transfer spray yang ditandakkan dengan tetesan logam cair yang jatuh
berukuran kecil dan dalam jumlah yang banyak , hal ini terjadi karean adanya pinch
effect yang terjadi karena pengaruh gaya elektromagnetik dan menyebabkan tetesan
terapit dan berukuran kecil.
7.
a.

Perbandingan DC power source AC power source

Kestabilan busur Stabil Kurang stabil

Merubah kutub Mungkin Tidak mungkin

Magnetic Blow Ada Hampir tidak ada

Open Circuit Voltage Rendah (50 60 V) Tinggi (65 95 V)

Bahaya setrum Jarang Sering

Konstruksi Rumit Sederhana

Perawatan Tidak mudah Mudah

Troubles Sering pada tipe rotary Sedikit

Kebisingan Untuk tipe rotary bising Tidak bising

Untuk tipe rectifier tidak

Harga Mahal Murah

b. Cleaning action merupakan perlakuan yang dilakukan untuk membersihkan


permukaan base metal agar bebas dari oksida menggunakan ion positif dari
shielding gas , ion positif yang berat ini akan mendorong atom dari lapisan oksida
sehingga permukaan bersih dari lapisan oksida. Cleaning action ini hanya dapat
dilakukan pada polaritas arus DCEP dan AC. Aplikasi yang palig sering melakukan
cleaning action adalah pada pengelasan Aluminium untuk membersihkan
permukaan aluminium dari lapisan Al2O3.

Stiffness of arc merupakan kekauan dari arc yang digunakan dalam welding ,
semakin stiff arc yang digunakkan maka penetrasi yang dihasilkanakan semakin
dalam ,sedangkan soft arc (stiffness rendah) akan memiliki transfer yang lebih
terkontrol .Arc Stiffness ini diatur pada settingan mesin , biasanya untuk stiff arc
memiliki output voltage yang lebih besar dibanding soft arc.

8. Arc blow adalah peristiwa defleksi dari busur sehingga busur mengarah ke titik yang tidak
ingin dilakukan penyambungan . Peristiwa ini seringkali disebabkan akibat gangguan
magnetic disekitar busur welding , sehingga sebelum melakukan welding ada baiknya
dilakukan proses demagnetisasi pada base metal gar tidak terjadi arc blow . Arc blow sering
terjadi pada pengelasan baja , ketika pengelasan dilakukan pada daerah dekat sambungan
baik ketika mengarah ke sambungan , atau menjauh dari sambungan.
Contoh arc blow adalah ketika dekat sambungan akan terjadi gangguan magnetic

Contoh kedua ketika pada daerah yang tersusun secara asimetris


9. Self regulation merupakan kemampuan mesin las untuk melakukan pengaturan otomatis
dari panjang busur yang digunakkan , agar didapat nilai arus yang stabil. Ketika panjang
busur berubah (jarak antara elektroda dan base metal) , maka beasar arus output pun akan
berubah , ketika mesin mendeteksi ini maka panjang busur akan disesuaikan agar nilai arus
kembali ke nilai awal.

10. Arus AC yang masuk dikonversi menjadi DC (1 2) , kemudian inverter akan merubah arus
DC tersebut menjadi AC pada frekuensi tinggi sekitar 30kHz (2 3), kemudian arus AC ini
diatur menggunakan transformer hingga sesuai untuk kebutuhan pengelasan. Kemudian
arus yang sudah sesuai ini diubah lagi menjadi arus DC (3 4). Arus ini kemudian dilewati
melalui inductor agar mendapatkan arus yang stabil (4 5).
Keuntungan dari mesin las inverter , dibandingkan mesin las SCR konvensional adalah
mesin las inverter jauh lebih ringan
memiliki pengaturan yang akurat
pengaturan frekuensi yang tinggi.