Anda di halaman 1dari 4

CKD

1. Berapa panjang dan berat ginjal normal ?


2. Apa yang dimaksud dengan CKD ?
3. Apa yang di dapatkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien CKD?
4. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan pada pasien CKD?
5. Kelainan laboratorium apa saja yang didapatkan pada CKD?
6. Manifestasi klinis CKD (8 item)?
7. Gangguan elektrolit pada CKD ?
8. Kelainan organ apa saja yang terdapat pada CKD?
9. Apa yang dimaksud dengan input dan output dan balance cairan (-)(+) dan 0 (nol) serta
insensible water lose ?
Pada CKD, balance cairan yang bagaimana sebaiknya Dan bagaimana gangguan pengaturan air
pada penderita CKD?
10. Bagaimana cara mendiagnosa pasien CKD?
11. Apakah diperlukan biopsy pada pasien CKD?
12. Apa hasil yang diperoleh pada USG ginjal ?
13. Apakah boleh dilakukan BNO DAN IVP?
14. Apa saja kelainan emergency pada penyakit ginjal?
15. Bagaimana mekanisme terjadinya anemia pada CKD?
16. Bagaimana gambar laboratorium pada anemia?
17. Jelaskan tentang penting nya urin rutin pada CKD?
18. Hal yang memperburuk keadaan ginjal?
19. Jelaskan tata cara yang praktis tentang penanganan/pengobatan pada kasus CKD?
20. Apa saja indikasi pada HD dan jelaskan?
21. Coba jelaskan obat apa saja yg bersifat nefrotoksi dan bagaimana pengaturan obat pada CKD?
1. Setiap ginjal panjangnya antara 12 cm sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan tebalnya antara
1,5 sampai 2,5 cm, pada orang dewasa berat ginjal antara 140 sampai 150 gram.

2. Chronic Kidney Disease (CKD) adalah salah satu penyakit renal tahap
akhir. CKD merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan
irreversible. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit yang menyebabkan
uremia atau retensi urea dan sampah nitrogenlain dalam darah.

5. Pemeriksaan Laboratorium :
1. Urin
a) Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria), atau
urine tidak ada (anuria).
27
b) Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan
oleh pus / nanah, bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat,
sedimen kotor, warna kecoklatan menunjukkan adanya darah,
miglobin, dan porfirin.
c) Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010
menunjukkan kerusakan ginjal berat).
d) Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan
kerusakan tubular, amrasio urine / ureum sering 1:1.
2. Kliren kreatinin mungkin agak menurun.
3. Natrium : Lebih besar dari 40 Emq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsorbsi natrium.
4. Protein : Derajat tinggi proteinuria ( 3-4+ ), secara kuat
menunjukkan kerusakan glomerulus bila sel darah merah (SDM)
dan fregmen juga ada.
5. Darah
a) Kreatinin : Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin
10 mg/dL diduga tahap akhir (mungkin r endah yaitu 5).
b) Hitung darah lengkap : Hematokrit menurun pada adanya
anemia. Hb biasanya kurang dari 7-8 g/dL.
c) SDM (Sel Darah Merah) : Waktu hidup menurun pada defisiensi
eritropoetin seperti pada azotemia.
d) GDA (Gas Darah Analisa) : pH, penurunan asidosis metabolik
(kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal
28
untuk mengeksekresi hidrogen dan amonia atau hasil akhir
katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCO2 menurun.
e) Natrium serum : Mungkin rendah, bila ginjal kehabisan natrium
atau normal (menunjukkan status dilusi hipernatremia).
f) Kalium : Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan
perpindahan selular (asidosis), atau pengeluaran jaringan
(hemolisis SDM). Pada tahap akhir , perubahan EKG mungkin
tidak terjadi sampai kalium 6,5 mEq atau lebih besar.
Magnesium terjadi peningkatan fosfat, kalsium menurun.
Protein (khuusnya albumin), kadar serum menurun dapat
menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan
cairan, penurunan pemasukan, atau penurunan sintesis karena
kurang asam amino esensial. Osmolalitas serum lebih besar dari
285 mosm/kg, sering sama dengan urine.

6. 1. Kardiovaskuler :
a. Hipertensi, yang diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium dari
aktivasi sistem renin angiotensin aldosteron.
b. Gagal jantung kongestif.
c. Edema pulmoner, akibat dari cairan yang berlebih.
2. Dermatologi seperti Pruritis, yaitu penumpukan urea pada lapisan kulit.
3. Gastrointestinal seperti anoreksia atau kehilangan nafsu makan, mual
sampai dengan terjadinya muntah.
4. Neuromuskuler seperti terjadinya perubahan tingkat kesadaran, tidak
mampu berkonsentrasi, kedutan otot sampai kejang.
5. Pulmoner seperti adanya seputum kental dan liat, pernapasan dangkal,
kusmol, sampai terjadinya edema pulmonal.
6. Muskuloskletal seperti terjadinya fraktur karena kekurangan kalsium dan
pengeroposan tulang akibat terganggunya hormon dihidroksi kolekalsi
feron.
7. Psiko sosial seperti terjadinya penurunan tingkat kepercayaan diri sampai
pada harga diri rendah (HDR), ansietas pada penyakit dan kematian.

11. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel


jaringan untuk diagnosis histologis.

15. Anemia pada CKD dapat disebabkan oleh menurunnya produksi


eritropoeitin atau kekuranagn zat besi. Data morbiditas, mortalitas dan kualitas
hidup dari K/DOQI menunjukan bahwa mempertahankan hematokrit pada 33-
36% dan hemoglobin pada 11,0-12,0 g/dl sangat penting untuk anak dengan CKD.
Dengan perbaikan anemia, terdapat perbaikan dalam perkembangan kognitif,
fungsi jantung, dan ketahanan fisik serta menurunnya mortalitas. Terapi zat besi
12
oral sebaiknya dimulai pada dosis 2-3 mg/kgBB per hari berupa zat besi elemental
diberikan dalam dua atau tiga dosis terbagi saat perut kosong dan tidak boleh
bersamaan dengan pengikat fosfat karena zat besi berikatan dengan pengikat
fosfat. Eritropoeitindapat diberikan1-3 kali per minggu. Dosis awal sebesar 30-
300 unit/kgBB per minggu, dosis rumatan ditentukan dan disesuaikan berdasarkan
nilai hemoglobin bulanan. Darbepoeitin merupakan eritropoeitin bentuk baru yang
memiliki waktu paruh lebih panjang dan dapat diberikan sekali tiap 2 minggu atau
satu bulan yang saat ini sedang diteliti penggunaannya untuk anak-anak

20. Indikasi dialisis adalah :


1.Uremia > 200 mg%
2.Asidosis dengan pH darah < 7,2
3.Hiperkalemia > 7 meq/ liter
4.Kelebihan / retensi cairan dengan taanda gagal jantung / edema paru
5.Klinis uremia, kesadaran menurun ( koma )