Anda di halaman 1dari 32

1

PEDOMAN PELAYANAN KONSELING


DAN TESTING HIV/AIDSSECARA SUKARELA
(VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING /VCT)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengidap HIV/AIDS yang terlapor jumlahnya semakin meningkat.
Berdasarkan Laporan Jumlah Kasus Provinsi Jawa Barat Triwulan II tahun
2010, jumlah pengidap meningkat rata-rata 300 orang setiap triwulan.
Sampai dengan bulan Juni 2010 dilaporkan jumlah kumulatif kasus
HIV/AIDS sebanyak 5536 kasus.
Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS berbanding terbalik dengan
semakin gencarnya usaha-usaha penanggulangan HIV/AIDS. Salah satu
kemungkinan yang terjadi adalah dengan semakin gencar dan intensifnya
kegiatan penanggulangan HIV/AIDS menyebabkan meningkatnya jumlah
pengidap yang terdeteksi.
Penanggulangan HIV/AIDS merupakan kegiatan yang tidak dapat berdiri
sendiri. Pencegahan, pengobatan dan support (dukungan) sangat berkaitan
erat dan harus dilaksanakan secara komfrehensif. Melaksanakan pencegahan
tanpa melaksanakan pengobatan tidak akan efektif. Dalam kegiatan
pengobatan diperlukan edukasi untuk pencegahan terhadap semakin
beratnya perjalanan penyakit, sebaliknya dalam pelaksanaan pencegahan
pun diperlukan bantuan praktisi pengobatan untuk mendeteksi dini penyakit
akibat HIV. Melaksanakan pencegahan tanpa mengetahui tata cara
pengobatan akan tidak efektif, karena penjelasan tentang obat-obat infeksi
oportunis dan obat-obat Anti retroviral (ARV) diperlukan pada saat
konseling dan sebagainya. Sebaliknya pada saat melakukan pengobatan
diperlukan dukungan untuk pengetahuan edukasi tentang pola hidup,
perilaku pendampingan dalam menjalani pengobatan.
Pasien ODHA yang dihadapi harus dilihat secara holistik sebagai
manusia seutuhnya, mereka tidak hanya membutuhkan kualitas pengobatan
yang baik tetapi juga membutuhkan edukasi yang baik, pengetahuan yang
benar, serta dukungan psikologik. Penjelasan yang singkat dari dokter
tentang perlunya minum obat tetapi tidak difahami dengan baik oleh pasien
kemungkinan besar obat tidak akan efektif. Sebaliknya penjelasan dan
dukungan konselor tidak akan bermanfaat bila kualitas pengobatan tidak
berjalan baik.
VCT (Voluntary Conseling and Testing) merupakan salah satu kegiatan
yang dipercaya sebagai kegiatan pencegahan yang efektif, karena VCT
merupakan pintu masuk (entry point) untuk pencegahan maupun
2

pengobatan. VCT memiliki peran pencegahan antara lain mencegah


penularan dari ibu ke bayi (PMTCT), perubahan perilaku dll. Peran VCT
sebagai fasilitas pengobatan antara lain membuka akses untuk pengobatan
infeksi oportunistik, pengobatan ARV dll. Selain itu VCT juga terbukti
menghilangkan stigma dan diskriminasi serta pelanggaran hak azasi
terhadap ODHA dan keluarganya.

B. Tujuan
Tujuan disusunnya Pedoman VCT HIV/AIDS ini adalah sebagai acuan
bagi petugas kesehatan RSUD Kabupaten Sumedang dalam melaksanakan
konseling sebagai salah satu kegiatan penanggulangan HIV/AIDS sehingga
upaya pencegahan, pengobatan dan support (dukungan) bagi pasien ODHA
dapat dilaksanakan secara komfrehensif.

C. Ruang Lingkup
Pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS secara sukarela (Voluntary
Counseling and Testing/VCT) Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Sumedang meliputi :
1. Konseling Pra Testing
2. Informed Consent
3. Testing HIV dalam VCT
4. Konseling Pasca Testing
5. Pelayanan Dukungan Berkelanjutan.

D. Batasan Operasional

Konseling adalah proses pertolongan dimana seseorang dengan tulus dan


tujuan jelas memberikan waktu, perhatian dan keahliannya untuk membantu klien
mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan pemecahan masalah
terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan (Pedoman Nasional Perawatan,
Dukungan dan Pengobatan bagi ODHA, Depkes RI: 2003).

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan


dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah
penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab,
pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan
HIV/AIDS.
Disebut VCT apabila memenuhi kaidah sebagai berikut :
1. Didahului oleh konseling pretes
2. Apabila pasien setuju dilakukan tes, klien menandatangani informed
concent
3. Selanjutnya klien menjalani tes
4. Padasaat membuka hasil tes, klien menjalani konseling pasca tes
3

E. Landasan Hukum
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan.
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit.
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran.
4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah untuk kedua kalinya dengan
Undang-undang No. 12 Tahun 2008.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Standar
Pelayanan Minimal.
6. Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Nomor
9/KEP/1994 tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di
Indonesia;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1507/MENKES/SK/X/ 2005
tentang Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Secara
Sukarela (Voluntary Counseling and Testing);
8. Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Sumedang Nomor: 445/ /RSU/2013 tentang Kebijakan Pelayanan
HIV/AID Rumah Sakit Umum Daerah kabupaten Sumedang.
4

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Layanan VCT harus memiliki sumber daya manusia yang sudah terlatih
dan kompeten. Petugas pelayanan VCT terdiri dari :
1. Kepala/Penanngung jawab klinik VCT
2. Dua orang atau lebih konselor terlatih
3. Petugas manajemen kasus
4. Petugas laboratorium
5. Seorang dokter yang bertanggungjawab secara medis dalam
penyelenggaraan pelayanan VCT
6. Petugas administrasi untuk data entry yang sudah mengenal ruang
lingkup pelayanan VCT
7. Pekarya, petugas keamanan

Kualifikasi dan Uraian Tugas :


1. Kepala/Penanggungjawab Klinik VCT
a. Kualifikasi :
1) Memiliki keahlian manajerial dan program terkait dengan
pengembangan layanan VCT dan penanganan program
perawatan, dukungan dan pengobatan HIV/AIDS

b. Tanggungjawab
1) Kepala/Penanggungjawab klinik VCT bertanggungjawab
terhadap Kepala Instalasi Rawat Jalan
2) Kepala/Penanggungjawab klinik VCT bertanggungjawab
mengelola seluruh pelaksanaan kegiatan di dalam/di luar unit,
serta bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan yang
berhubungan dengan institusi pelayanan lain yang berkaitan
dengan HIV.

c. Uraian Tugas
1) Menyusun perencanaan kebutuhan operasional
2) Mengawasi pelaksanaan kegiatan
3) Mengevaluasi kegiatan
4) Bertanggungjawab untuk memastikan bahwa layanan secara
keseluruhan berkualitas sesuai dengan pedoman VCT
5) Mengkoordinir pertemuan berkala dengan seluruh staf
konseling dan testing, minimal satu bulan sekali
5

6) Melakukan jejaring kerja dengan rumah sakit, lembaga-


lembaga yang bergerak dalam bidang VCT untuk
memfasilitasi pengobatan, perawatan dan dukungan
7) Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan
Kementrian Kesehatan serta pihak terkait lainnya
8) Melakukan monitoring internal dan penilaian berkala kinerja
seluruh petugas layanan VCT, termasuk konselor VCT
9) Mengembangkan standar prosedur operasional pelayanan VCT
10) Memantapkan sistem atau mekanisme monitoring dan evaluasi
layanan yang tepat
11) Menyusun dan melaporkan laporan bulanan dan laporan
tahunan kepada Dinas Kesehatan setempat
12) Memastikan logistik terkait dengan KIE dan bahan lain yang
dibutuhkan untuk pelayanan VCT
13) Memantapkan pengembangan diri melalui pelatihan
peningkatan keterampilan dan pengetahuan HIV/AIDS.

2. Petugas Administrasi
a. Kualifikasi
1) Memiliki keahlian di bidang administrasi
2) Pendidikan minimal SLTA

b. Tanggungjawab
1) Bertanggungjawab terhadap kepala/penanggungjawab klinik
VCT
2) Bertanggungjawab terhadap pengurusan ijin klinik VCT dan
registrasi konselor VCT

c. Uraian Tugas
1) Melakukan surat menyurat dan administrasi terkait
2) Melakukan tatalaksana dokumen, pengarsipan, melakukan
pengumpulan, pengolahan dan analisis data
3) Membuat pencatatan dan pelaporan.

3. Koordinator Pelayanan Medis


a. Kualifikasi
1) Dokter
2) Bertanggungjawab langsung kepada kepala/penanggungjawab
klinik VCT
6

b. Tanggungjawab
1) Bertanggungjawab secara teknis medis dalam penyelenggaraan
layanan VCT

c. Uraian Tugas
1) Melakukan koordinasi pelaksanaan pelayanan medis
2) Melakukan pemeriksaan medis, pengobatan, perawatan
maupun tindak lanjut terhadap klien
3) Melakukan rujukan (pemeriksaan penunjang, laboratorium,
dokter ahli, dan konseling lanjutan)
4) Melakukan konsultasi kepada dokter ahli
5) Membuat laporan kasus

4. Koordinator Pelayanan Non Medis


a. Kualifikasi
1) Mampu mengembangkan program perawatan, dukungan dan
pengobatan HIV/AIDS terkait psikologis, sosial dan hukum
2) Pendidikan minimal sarjana kesehatan/non kesehatan yang
berlatarbelakang pendidikan sarjana psikologi atau sarjana
ilmu sosial yang sudah terlatih VCT

b. Tanggungjawab
1) Bertanggungjawab terhadap kepala/penanggungjawab klinik
VCT

c. Uraian Tugas
1) Mengusulkan perencanaan kegiatan dan kebutuhan operasional
2) Melakukan koordinasi dengan konselor dan petugas
manajemen kasus
3) Menyelenggarakan layanan VCT sesuai dengan pedoman
nasional Kementrian Kesehatan RI
4) Membantu melakukan jejaring kerja dengan rumah sakit,
lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang VCT untuk
memfasilitasi pengobatan, perawatan dan dukungan
5) Melakukan monitoring internal dan penilaian berkala kinerja
konselor VCT dan manajer kasus
6) Mengembangkan dan melaksanakan standar prosedur
operasional pelayanan VCT
7) Mengajukan draft laporan bulanan dan laporan tahunan kepada
Kepala/Penanggungjawab klinik VCT
8) Menyiapkan logistik terkait dengan KIE dan alat peraga yang
dibutuhkan untuk pelayanan VCT
7

9) Memantapkan pengembangan diri melalui pelatihan


peningkatan keterampilan dan pengetahuan HIV/AIDS.

5. Konselor VCT
a. Kualifikasi
1) Konselor harus sudah terlatih, bisa tenaga medis maupun non
medis
2) Konselor mengerti dan memahami dengan baik seluk beluk
HIV/AIDS secara menyeluruh, yaitu yang berkaitan dengan
gangguan kesehatan fisik dan mental, termasuk pencegahan,
pengobatan
3) Konselor diharapkan mengetahui tempat-tempat pelayanan
VCT, mengetahui RS mana yang melayani ODHA. Hal ini
diperlukan untuk membuka akses pelayanan selanjutnya
4) Memiliki kemampuan komunikasi yang baik

b. Uraian Tugas
1) Mengisi kelengkapan pengisian formulir klien,
pendokumentasian dan pencatatan konseling klien dan
menyimpannya agar terjaga kerahasiaannya
2) Pembaruan data dan pengetahuan HIV/AIDS
3) Membuat jejaring eksternal dengan layanan pencegahan dan
dukungan di masyararakat dan jejaring internal dengan
berbagai bagian RS yang terkait
4) Memberikan informasi HIV/AIDS yang relevan dan akurat,
sehingga klien merasa berdaya untuk membuat pilihan untuk
melaksanakan testing atau tidak. Bila klien setuju melakukan
testing, konselor perlu mendapat jaminan bahwa klien betul
menyetujuinya melalui penandatanganan informed concent
tertulis
5) Menjaga bahwa informasi yang disampaikan klien kepadanya
adalah bersifat pribadi dan rahasia. Selama konselong pasca
testing, konselor harus memberikan informasi lebih lanjut
seperti dukungan psikososial dan rujukan. Informasi ini
diberikan baik kepada klien dengan HIV positif maupun
negatif
6) Pelayanan khusus diberikan kepada kelompok perempuan dan
mereka yang dipinggirkan, sebab mereka sangat rawan
terhadap tindakan kekerasan dan diskriminasi.
8

c. Hal-hal yang harus diperhatikan seorang konselor :


1) Jika konselor bukan seorang dokter tidak diperkenankan
melakukan tindakan medik
2) Tidak melakukan tugas sebagai pengambil darah
3) Tidak memaksa klien untuk melakukan testing HIV
4) Jika konselor berhalangan melaksanakan Pasca Konseling
dapat dilimpahkan kepada konselor lain dengan persetujuan
klien.

6. Petugas Penanganan Kasus ( Petugas manajemen Kasus)


a. Kualifikasi
1) Petugas kesehatan atau non kesehatan yang telah mengikuti
pelatihan manajemen kasus
2) Pendidikan minimal SLTA

b. Tanggungjawab
1) Bertanggungjawab untuk penggalian kebutuhan klien, terkait
dengan kebutuhan psikologis, sosial, dan mengkoordinasi
pelayanan komprehensif.

c. Uraian Tugas
1) Berpartisipasi dalam penanganan kegiatan advokasi yang
sesuai
2) Mengadakan kunjungan ke rumah klien sesuai dengan
kebutuhan
3) Menyiapkan klien dan keluarga dengan informasi HIV/AIDS
dan dukungan dengan tepat dan sesuai
4) Melakukan rujukan ke sarana pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan oleh klien
5) Berpartisipasi dalam supervisi dan monitoring rutin terjadwal
untuk konselor/petugas manajemen kasus
6) Membantu penanganan perawatan di rumah dan memberikan
informasi pendidikan kepada klien (khusus untuk petugas
medis atau yang berlatarbelakang pendidikan keperawatan )

7. Petugas Laboratorium
a. Kualifikasi
1) Petugas pengambil darah dengan latarbelakang perawat
2) Teknisi adalah petugas laboratorium /analis kesehatan
3) Telah mengikuti pelatihan tentang teknik memproses testing
HIV dengan cara ELISA, testing cepat, dan mengikuti
algoritma testing yang diadopsi dari WHO
9

b. Uraian Tugas
1) Mengambil darah klien sesuai SPO
2) Melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai prosedur dan
standar laboratorium yang telah ditetapkan
3) Menerapkan kewaspadaan baku dan transmisi
4) Melakukan pencegahan pasca pajanan okupasional
5) Mengikuti perkembangan kemajuan teknologi pemeriksaan
laboratorium
6) Mencatat hasil testing HIV dan sesuaikan dengan nomor
identitas klien
7) Menjaga kerahasiaan hasil testing HIV
8) Melakukan pencatatan, menjaga kerahasiaan, dan merujuk ke
laboratorium rujukan.
10

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan
11

B. Standar Fasilitas
1. Sarana
Sarana yang diperlukan untuk VCT :
a. Ada papan nama/petunjuk yang mudah terlihat dengan petunjuk
arah yang jelas Hal ini diperlukan agar klien yang akan menjalani
konseling tidak perlu bingung bahkan kembali dengan tangan
hampa

b. Ruang tunggu
Idealnya ruang tunggu adalah ruang yang nyaman dan terletak di
depan atau disamping ruang konseling. Dalam ruang tunggu
tersedia :
1) Materi KIE : poster, leaflet, brosur yang berisi bahan
pengetahuan tentang HIV/AIDS, IMS, KB, ANC, TB,
hepatitis, penyalahgunaan Napza, perilaku sehat, nutrisi,
pencegahan penularan, dan seks yang aman
2) Informasi prosedur konseling dan testing
3) Kotak saran
4) Tempat sampah, tissu, dan persediaan air minum
5) Bila mungkin sediakan TV, video
6) Buku catatan resepsionis untuk perjanjian klien, kalau
mungkin komputer untuk mencatat data
7) Meja dan kursi yang tersedia dan nyaman
8) Kalender

c. Ruang konseling
1) Ruang konseling harus nyaman, terjaga kerahasiaan
2) Pintu masuk tidak sama dengan pintu keluar sehingga klien tidak
saling bertemu, namun mengingat keterbatasan ruangan di RS,
pengaturan tata ruang hendaknya disesuaikan dengan kondisi yang
ada dengan tidak mengabaikan prinsip kerahasiaan
3) Tersedia materi materi KIE; leaflet, brosur, lembar balik, kalender
4) Tersedia alat peraga seperti alat peraga penis, kondom, alat peraga
menyuntik yang aman
5) Tersedia formulir konseling dan testing: Buku register VCT,
formulir persetujuan inform concent, formulir VCT, formulir
pemeriksaan laboratorium, formulir laporan bulanan VCT, buku
resep gizi seimbang, formulir rujukan, kalender, alat tulis
6) Tersedia tisu, air minum, lemari arsip atau lemari dokumen yang
dapat dikunci
12

d. Ruang pengambilan darah


1) Lokasi ruang pengambilan darah harus dekat dengan ruang
konseling, jadi dapat terpisah dari ruang laboratorium
2) Peralatan yang harus ada dalam ruang pengambilan darah :
Jarum dan semprit steril
Tabung dan botol tempat menyimpan darah
Stiker kode
Kapas alkohol
Cairan desinfektan
Sarung tangan karet
Apron plastik
Sabun dan tempat cuci tangan dengan air mengalir
Tempat sampah barang terinfeksi, barang tidak terinfeksi,
dan barang tajam (sesuai petunjuk Kewaspadaan Universal)
Petunjuk pajanan okupasional dan alur permintaan
pertolongan pasca pajanan okupasional

e. Ruang petugas kesehatan dan petugas non kesehatan


Di ruangan ini tersedia :
1) Meja dan kursi
2) Tempat pemeriksaan fisik
3) Tensimeter dan stetoskop
4) Kondom dan alat peraga penggunaannya
5) KIE HIV/AIDS dan infeksi oportunistik
6) Blanko resep
7) Alat timbangan badan

f. Ruang laboratorium
Ruangan laboratorium berada di Instalasi Patologi Klinik, materi yang
harus tersedia di laboratorium adalah :
1) Reagen untuk testing dan peralatannya
2) Sarung tangan karet
3) Jas laboratorium
4) Lemari pendingin
5) Alat sentrifusi
6) Ruang penyimpanan test-kit, barang habis pakai
7) Buku register (stok barang habis pakai, penerimaan sampel, hasil
testing, penyimpanan sampel, kecelakaan okupasional) atau
komputer pencatat
8) Cap tanda positif atau negatif
9) Cairan desinfektan
13

10) Pedoman testing HIV


11) Pedoman pajanan okupasional
12) Lemari untuk menyimpan arsip yang dapat dikunci

g. Hal-hal yang harus diperhatikan :


Yang perlu diperhatikan dalam pelayanan konseling dan testing
HIV/AIDS sukarela (VCT) adalah :
1) Memiliki akses dengan unit rawat jalan
2) Letak ruang konseling, pengambilan darah dan staf medik
hendaklah berada di tempat yang saling berdekatan
3) Pemeriksaan darah dilakukan di laboratorium instalasi patologi
klinik yang tidak jauh dari tempat layanan VCT, sedangkan
pengambilan darah dilakukan di tempat pelayanan konseling.

2. Prasarana
a. Aliran listrik : diperlukan untuk penerangan untuk membaca dan
menulis, serta alat pendingin ruangan
b. Air : diperlukan air mengalir untuk menjaga kebersihan ruangan dan
mencuci tangan serta membersihkan alat-alat
c. Sambungan telepon : diperlukan untuk komunikasi dengan layanan lain
yang terkait
d. Pembuangan limbah padat dan limbah cair .
14

BAB IV
TATA LAKSANAAN PELAYANAN VCT

A. Struktur Organisasi
Bagan Struktur Organisasi Unit Layanan VCT :

Kepala/PJ. Klinik VCT

Petugas Administrasi

Kepala pelayanan medis Kepala pelayanan non medis

Petugas laboratorium Konselor Petugas


sosial/Ma
najeme
HIV
AIDS,
Psikososi
al

B. Tujuan dan Manfaat VCT


1. Tujuan Umum
Tujuan umum VCT adalah untuk mempromosikan perubahan perilaku
yang mengurangi risiko mendapat infeksi dan penyebaran infeksi
HIV.

2. Tujuan Khusus

Konseling HIV mempunyai tujuan :

a. Menyediakan dukungan psikologis


b. Mencegah penularan HIV :
Menyediakan informasi tentang perilaku berisiko
Membantu mengembangkan keahlian pribadi yang
diperlukan untuk mendukung perilaku hidup sehat
c. Memastikan pengobatan yang efektif sedini mungkin termasuk
alternatif pemecahan berbagai masalah
15

3. Tujuan Khusus VCT bagi ODHA:


a) Meningkatkan jumlah ODHA yang mengetahui bahwa dirinya
terinfeksi HIV
b) Mempercepat diagnosis HIV
c) Meningkatkan penggunaan layanan kesehatan yang mencegah
terjadinya infeksi lain pada ODHA
d) Meningkatkan kepatuhan pada terapi antiretroviral
e) Meningkatkan jumlah ODHA yang berperilaku hidup sehat dan
melanjutkan perilaku yang kurang berisiko terhadap penularan
HIV dan IMS

4. Manfaat
Manfaat VCT adalah mempersiapkan klien dan pasangan dengan
pengetahuan tentang status mereka dan memperkuat dukungan untuk
mencari pengobatan, melalui :
a) Untuk meningkatkan pemahaman diperlukan edukasi dan
pemberian informasi yang intensif dimana hal tersebut dapat
diberikan melalui penyuluhan, seminar dll
b) Dialog yang bersifat konfidensial (rahasiah) tidak terbuka untuk
umum, sehingga konselor dapat menyampaikan informasi dan
edukasi lengkap
c) Membantu ODHA dalam mengatasi masalahnya berkaitan dengan
kebutuhan ekonomi, sosial, spiritual dan emosional
d) Membantu akses pengobatan infeksi oportunistik, IMS dll.

C. Peran Konseling dan Testing Sukarela (VCT)


Konseling dan Testing Sukarela yang dikenal sebagai Voluntary
Counselling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan
masyarakat dan sebagai pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan
HIV/AIDS bekelanjutan.
1. Layanan VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien pada saat
klien mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan
layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif
maupun negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses
untuk terafi suportif, terafi infeksi oportunistik, dan ART.
2. VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk
memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan
bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko
infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS, mempelajari status
dirinya, dan mengerti tanggungjawab untuk menurunkan perilaku
berisiko dan mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain guna
mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.
16

3. Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksaan dan tekanan,


segera setelah klien memahami berbagai keuntungan, konsekuensi dan
risiko.

D. Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)


1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV
Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa
paksaan dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak
di tangan klien, kecuali testing HIV pada donor darah di unit transfusi
darah. Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak
direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan
menikah, pekerja seksual, IDU, rekrutmen pegawai dan asuransi
kesehatan.
2. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas
Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat
semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga
kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak
diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien. Semua
informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat
dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus
klien selanjutnya dengan seijin klien, informasi kasus dari diri klien
dapat diketahui.
3. Mempertahankan hubungan relasi konselor klien yang efektif
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan
mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi
perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan
klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerima hasil testing
positif.
4. Testing merupakan salah satu komponen di VCT
WHO dan Depkes RI telah memberikan pedoman yang dapat
digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing
senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang
sama atau konselor lainnya yang disetujui oleh klien.

E. Model Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)


Pelayanan VCT dapat dikembangkan di berbagai layanan terkait. Di
RSUD Kabupaten Sumedang, pusat konseling dan testing HIV/AIDS
sukarela (VCT) terintegrasi dengan sarana pelayanan yang lain dalam arti
bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang telah ada.

F. Sasaran
Yang menjadi sasaran VCT adalah :
17

1. Orang yang dianggap berisiko (kelompok Risti) antara lain : IDU,


pasangan IDU, WPS (langsung dan tidak langsung), pelanggan WPS
2. Mereka yang sudah terinfeksi HIV atau sudah AIDS, dan keluarganya
3. Pasien dengan gejala dan tanda infeksi ofortunistik
Berdasarkan Laporan Surveilans AIDS Depkes tahun 1987 2010,
infeksi oportunistik terbanyak antara lain : TBC, diare, kandidiasis,
dermatitis, limpadenofati generalisata persisten, PCP, encephalopati,
herpes zozter, herpes simpel, toxoplasmosis, sarkoma kaposi, wasting
syndrome, koksidiomikosis, histoplasmosis, progresif multifocal
lekoencephalopat, CMV, kriptosporodiasis
4. Petugas kesehatan yang terpajan
5. VCT ditawarkan kepada ibu hamil tanpa memandang faktor risiko
untuk melindungi bayi dalam kandungannya
6. Pasien yang resisten terhadap obat TB atau mengalami infeksi TB
berulang.

G. Tahapan Pelayanan VCT


Tahapan pelayanan VCT adalah :
1. Konseling Pra Testing
Alur penatalaksanaan VCT dan keterampilan melakukan konseling
pra testing dan pasca testing perlu memperhatikan tahapan sebagai
berikut :
a. Informasi dasar HIV
b. Alasan dilakukan VCT
c. Komunikasi perubahan perilaku
d. Keterampilan mikro konseling dasar
e. Penilaian resiko klinik
f. Konseling pra testing
g. Konseling pasca testing
h. Perencanaan rawatan psikososial lanjutan

Tahapan pelaksanaan konseling pra testing :


a. Tahap penerimaan klien
b. Klien memiliki kartu dengan nomor kode
c. Pelaksanaan konseling pra testing

2. Informed Concent
a. Semua klien sebelum menjalani testing HIV harus memberikan
persetujuan tertulisnya
b. Klien telah diberikan penjelasan yang cukup tentang resiko dan
dampak sebagai akibat dari tindakannya dan klien menyetujuinya
c. Klien mempunyai kemampuan menangkap pengertian dan mampu
menyatakan persetujuannya (secara intelektual dan psikiatris)
18

d. Klien tidak dalam paksaan untuk memberikan persetujuan meski


konselor memahami bahwa mereka memang sangat memerlukan
pemeriksaan HIV
e. Bagi klien yang tidak mampu memebrikan keputusan bagi dirinya
karena keterbatasan dalam memahami informasi maka konselor
untuk berlaku jujur dan objektif dalam menyampaikan informasi
sehingga klien memahami dengan benar dan dapat menyatakan
persetujuannya
f. Dalam melakukan testing HIV pada anak diperlukan persetujuan
dari orangtua/wali
g. Ketika anak dibawah umur 12 tahun, orangtua atau pengampunya
yang menandatangani persetujuan, jika tidak mempunyai orangtua
atau pengampu maka kepala klinik/kepala RS yang
bertanggungjawab menandatangani informed concent.

3. Testing HIV dalam VCT


a. Prinsip testing HIV adalah:
1) sukarela dan terjaga kerahasiannya
2) Testing yang digunakan adalah testing serologi untuk
mendeteksi antibody HIV dalam serum atau plasma
3) Spesimen adalah darah klien yang diambil secara IV, plasma
atau serumnya. Dapat digunakan spesimen lain seperti saliva,
urin atau spot darah kering
4) Penggunaan metode testing cepat (rapid testing)
memungkinkan klien untuk mendapatkan hasil testing pada
hari yang sama
5) Tujuan testing HIV adalah untuk menegakkan diagnosis,
pengamanan darah donor (skrining), untuk surveilans, dan
untuk penelitian
6) Hasil testing yang diberikan adalah benar milik klien
7) Petugas laboratorium harus menjaga mutu dan
konfidensialitas, hindari terjadinya kesalahan baik teknis
(technical error) maupun manusia (human error) dan
administratif (administrative error)

b. Bagan alur testing HIV adalah sebagai berikut


Pemeriksaan darah dengan tujuan untuk diagnosis HIV harus
memperhatikan gejala dan tanda klinis serta prevalensi HIV di
wilayahnya :
Prevalensi HIV di atas 30% digunakan Strategi I
19

Prevalensi HIV dibawah 30% dan di atas 10% dapat


menggunakan Strategi II menggunakan reagen yang
berbeda sensitivity dan specifikasinya
Prevalensi HIV dibawah 10% dapat menggunakan Strategi
II,I menggunakan tiga jenis reagen yang berbeda
sensitivity dan specifikasinya

4. Konseling Pasca Testing


Prinsip konseling pasca testing adalah sebagai berikut :
a. Konseling pasca testing membantu klien memahami dan
menyesuaikan diri dengan hasil testing
b. Konselor mempersiapkan klien untuk menerima hasil testing,
memberikan hasil testing, dan menyediakan informasi selanjutnya
c. Konselor dan klien mendiskusikan strategi untuk menurunkan
penularan HIV
d. Jaga konfidensialitas
e. Pengungkapan status HIV/AIDS kepada pasangan atau pihak ke
tiga seperti institusi rujukan, petugas kesehatan yang secara tidak
langsung melakukan perawatan kepada klien dan terinfeksi harus
senantiasa memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Bersifat sukarela
Menghargai otonomi dan martabat yang terinfeksi
Mempertahankan kerahasiaan sejauh mungkin
Menuju kepada hasil yang lebih menguntungkan individu,
pasangan seksual dan keluarga
Memenuhi etika sehingga memaksimalkan hubungan baik
antara mereka yang terinfeksi dan tidak.

5. Pelayanan Dukungan Berkelanjutan


Setelah konseling pasca testing dimana klien telah menerima hasil
testing, klien perlu mendapatkan pelayanan dukungan berkelanjutan,
antara lain melalui:
a. Konseling lanjutan sebagai bagian dari VCT
b. Kelompok dukungan VCT
c. Pelayanan penanganan manajemen kasus
d. Perawatan dan dukungan
e. Layanan psikiatrik
f. Konseling kebutuhan berobat
g. Rujukan
20

BAB V

LOGISTIK

Logistik yang diperlukan dalam pelayanan HIV/AIDS:

1. Materi KIE : poster, leaflet, brosur yang berisi bahan pengetahuan tentang
HIV/AIDS, IMS, KB, ANC, TB, hepatitis, penyalahgunaan Napza,
perilaku sehat, nutrisi, pencegahan penularan, dan seks yang aman,
Informasi prosedur konseling dan testing
2. Media lain: TV, video
3. Buku catatan resepsionis untuk perjanjian klien, kalau mungkin komputer
untuk mencatat data.
4. Tersedia alat peraga seperti alat peraga penis, kondom, alat peraga
menyuntik yang aman.
5. Formulir konseling dan testing: Buku register VCT, formulir persetujuan
inform concent, formulir VCT, formulir pemeriksaan laboratorium,
formulir laporan bulanan VCT, buku resep gizi seimbang, formulir
rujukan, kalender, alat tulis
6. Tisu, air minum, lemari arsip atau lemari dokumen yang dapat dikunci
7. Peralatan untuk pengambilan darah :
a. Jarum dan semprit steril
b. Reagen untuk testing dan peralatannya
c. Sarung tangan karet
d. Jas laboratorium / apron pelastik
e. Lemari pendingin
f. Tabung dan botol tempat menyimpan darah
g. Stiker kode
h. Alat sentrifuge
i. Kapas alkohol
j. Cairan desinfektan
k. Sabun dan tempat cuci tangan dengan air mengalir
l. Tempat sampah barang terinfeksi, barang tidak terinfeksi, dan barang
tajam (sesuai petunjuk Kewaspadaan Universal)
m. Petunjuk pajanan okupasional dan alur permintaan pertolongan pasca
pajanan okupasional
8. Alat Kesehatan:
a. Tensimeter dan stetoskop
b. Timbangan
c. Penlight
d. Refleks hammer, dll
9. Kondom dan alat peraga penggunaannya
10. Blanko resep
21

11. Formulir yang digunakan dalam memberikan pelayanan konseling dan


testing HIV/AIDS sukarela (VCT) anatara lain :
a. Formulir sumpah kerahasiaan
Formulir ini ditandatangani oleh petugas VCT dan laboratorium yang
melaksanakan konseling dan testing. Petugas harus menjaga
kerahasiaan hasil testing dan senantiasa melindungi klien dari
pembukaan rahasia.

b. Catatan kunjungan klien VCT


Formulir ini mengumpulkan informasi akan berapakali klien
berkunjung ke VCT, alasan utama datang dan siapa yang melayani
klien. Formulir ini direkatkan pada catatan klinis klien

c. Register harian klien VCT


Informasi akan membantu mengetahui layanan mana yang sangat
diperlukan.

d. Formulir persetujuan klien untuk testing HIV


Formulir harus ditandatangani seteleh klien menerima konseling pra
testing dan sebelum darahnya diambil untuk tes HIV. Formulir ini
disimpan dalam catatan medik klien.

e. Formulir VCT harian dokter/konselor


Berkas data perilaku untuk target intervensi VCT. Formulir ini membantu
menghitung jumlah klien harian dalam kelompok target specifik.

f. Formulir rangkuman VCT bulanan


Formulir ini membantu menelusuri data pelayanan VCT bulanan dan
pengumpulan data perilaku untuk target intervensi.

g. Formulir VCT pra testing HIV


Formulir ini mengumpulkan informasi tentang klien yang ingin membantu
konselor menghubungkan risiko klien dengan kebutuhan akan konseling.

h. Formulir konseling pasca testing HIV


Pastikan informasi relevan telah diberikan oleh klien tentang hasil test
HIV tertentu dan diskusikan strategi untuk mengurangi penularan.

i. Formulir dokumen VCT klien


Formulir ini mengumpulkan informasi klien sejak kunjungan pertama di
klinik lain. Ini untuk memastikan bahan diskusi tentang penurunan
perilaku berisiko.
22

j. Formulir rujukan untuk klien


Formulir ini diberikan kepada klien kepada petugas yang berwenang di
institusi rujukan.

k. Formulir tanda terima untuk pelayanan VCT


Bagi klien yang membayar, bukti pembayaran harus diterbitkan.

l. Formulir permintaan untuk pemeriksaan HIV di laboratorium


Formulir ini diisioleh konselor yang meminta testing HIV. Formulir
permintaan pemeriksaan dan spesimen dibawa ke laboratoriumuntuk
diperiksa. Teknisi laboratorium mengisi informasi penting tentang testing
dan hasil testing. Formulir dikirim kembali ke konselor.
23

BAB VI

KESELAMTAN PASIEN

Rumah Sakit adalah tempat yang sangat kompleks, terdapat ratusan


macam obat dan prosedur, banyak terdapat alat dan teknologi, bermacam profesi
dan non profesi yang memberikan pelayanan pasien 24 jam terus menerus.
Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik
dapat terjadi kejadian Tidak Diharapakan (KTD/Adverse event).

Keselamatan pasien telah terjadi isu global dan merupakan prioritas utama
untuk rumah sakit dan keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena
terkait tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang mereka terimadan
terkait dengan mutu dan citra rumah sakit, disamping itu keselamatan pasien juga
dapat mengurangi KTD di rumah sakit.

Pengertian dari Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah suatu system


dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi
: assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan
resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan
tindak lanjutnya, implementasi solusi untuk mencegah meminimalkan timbulnya
resiko. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
melakukan yang seharusnya dilakukan.

Keselamatan pasien dilaksanakan melalui penerapan 7 standar dan 7


langkah menuju keselamatan pasien, yaitu :

Standar Keselamatan Pasien terdiri dari :

1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
24

5. Peran kepemimpinan dalam meningkakan keselamatan pasien


6. Medidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci untuk mencapai keselamatan pasien
Tujuh langkah menuju keselamatan pasien, terdiri dari :

1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien


2. Pimpin dan dukung staf
3. Integrasikan aktivitas pengelolaan resiko
4. Kembangkan sistem pelaporan
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
25

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan


sarana, prasarana dan peralatan kerja. Bentuk Pelayanan keselamatan kerja yang
dilakukan :

1. Pembinaan dan pengawasan kesehatan dan keselamatan sarana, prasarana dan


peralatan kesehatan , meliputi :

a. Lokasi Rumah sakit harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan,


keselamatan lingkungan dan tata ruang serta sesuai dengan hasil kajian
kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit.
b. Teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan
keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak
dan orang usia lanjut
c. Prasarana harus memenuhi standar pelayanan, keamanan serta
keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit
d. Pengoperasian dan pemeliharaan sarana, prasarana dan peralatan Rumah
Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi
dibidangnya (sertifikat personil petugas/operator sarana dan prasarana
serta peralatan Rumah Sakit)
e. Membuat program pengoperasian, perbaikan dan pemeliharaan rutin dan
berkala sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan selanjutnya
didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan
f. Peralatan kesehatan meliputi peralatan medis dan non medis dan harus
memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan
dan laik pakai
g. Membuat program pengujian dan kalibrasi peralatan, peralatan kesehatan
harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian fasilitas
kesehatan yang berwenang
h. Peralatan kesehatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi
ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang
26

i. Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana dan prasarana serta peralatan


kesehatan
2. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap petugas
Rumah Sakit, meliputi :
a. Melakukan identifikasi dan penilaian resiko ergonomi terhadap peralatan
kerja dan petugas Rumah Sakit
b. Membuat program pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi dan
mengendalikan risiko ergonomi
3. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja, meliputi :
a. Manajemen harus menyediakan dan menyiapkan lingkungan kerja tang
memenuhi syarat fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial
b. Pamantauan / pengukuran terhadap fakstor fisik, kimia, ergonomi dan
psikososial secara rutin dan berkala
c. Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan
lingkungan kerja
4. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja, meliputi :

a. Pembuatan rambu-rambu arah dan tanda-tanda keselamatan


b. Penyadiaan peralatan keselamatan kerja dan Alat Pelindung Diri (APD)
c. Membuat SPO peralatan keselamatan kerja dan APD
d. Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap kepatuhan penggunaan
peralatan keselamatan dan APD
e. Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap kepatuhan pembuangan
limbah medis
5. Pelatihan dan promosi/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua petugas
Rumah Sakit
a. Sosialisasi dan penyuluhan keselamatan kerja bagi seluruh petugas
Rumah Sakit
b. Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi K3 Rumah Sakit kepada Tim
K3RS
27

2. Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, desaind / lay out


pembuatan tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait
keselamatan dan keamanan :
a. Melibatkan petugas K3 RS di dalam perencanaan, desain/lay out
pembuatan tempat kerja dan pemilihan serta pengadaan sarana, prasarana
dan peralatan keselamatan kerja
b. Mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi sarana, prasarana dan
peralatan keselamatan kerja dan membuat rekomendasi sesuai dengan
persyaratan yang berlaku dan standar keamanan dan keselamatan
6. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya.
a. Membuat alur pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka
b. Membuat SOP pelaporan, penanganan dan tindak lanjut kejadian nyaris
celaka (near miss) dan celaka
7. Pembinaan dan pengawasan terhadap Manajemen Sistem Pencegahan dan
Penanggulangan Kebakaran (MSPK)

a. Manajemen menyediakan sarana dan prasarana pencegahan dan


penanggulangan kebakaran
b. Membentuk Tim Penanggulangan kebakaran
c. Membuat SPO
d. Melakukan sosialisasi dan pelatihan pencegahan dan penanggulangan
kebakaran
e. Melakukan audit intrnal terhadap sistem pencegahan dan
penanggulangan kebakaran
28

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU VCT

Salah satu prinsip dalam implementasi layanan VCT adalah layanan yang
berkualitas, guna memastikan bahwa klien mendapatkan layanan yang tepat, dan
menarik orang untuk menggunakan layanan. Tujuan pengukuran dan jaminan
kualitas adalah menilai kinerja petugas, kepuasan pelanggan atau klien, dan
menilai ketepatan protokol konseling dan testing yang kesemuanya menjamin
tersedianya layanan yang terjamin mutunya.

A. Konseling VCT
Perangkat jaminan mutu konseling dalam VCT antara lain :
1. Perangkat rekaman saat konseling dengan klien samaran atau klien
sungguhan yang telah memberikan persetujuan untuk direkam
2. Survey kepuasan pelanggan
3. Syarat minimal layanan VCT : penilaian internal atau eksternal
menggunakan daftar untuk melihat apakah layanan VCT memenuhi
persyaratan standar minimal yang telah ditetapkan Kementrian Kesehatan
atau WHO.

B. Testing pada VCT


1. Untuk menjaga/kendali mutu dan kualitas eksternal perlu dilakukan
verifikasi satu bulan sekali dengan mengirimkan 3% dari sampel negatif
dan 3 % sampel positif ke laboratorium rujukan provinsi
2. Supervisi laboratorium
Supervisi atas proses pemeriksaan laboratorium harus dilakukan oleh
teknisi senior yang mahir dan telah dilatih penanganan pemeriksaan
laboratorium HIV :
a. Pengamatan akan proses kerja pemeriksaan sampel, sesuaikan dengan
SPO yang telah ditetapkan
b. Periksa dan dukung proses dan pemeriksaan sampel
c. Periksa pencatatan dan pelaporan hasil testing HIV
d. Periksa cara penyimpanan semua peralatan dan reagen
e. Pastikan jaminan kualitas pada pusat jaminan kualitas
f. Lakukan penilaian akan peralatan kerja dalam menjalankan fungsi
pemeriksaan, cukup baik, perlu diperbaiki, atau rusak atau perlu
penggantian
g. Gunakan ceklis pemeriksaan
h. Nilailah kemampuan kerja para personil dan sampaikan rekomendasi
pada para manajernya
i. Pastikan adanya rujukan pasca pajanan, dan memastikan semua
personil
29

C. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring secara teratur sangat dibutuhkan untuk memastikan kualitas


yang baik dan konsisten, dan akan membantu staff agar terhindar dari kejenuhan.
Penilaian dilakukan setiap 6 bulan atau satu tahun oleh Kepala/Penanggungjawab
Klinik VCT atau konselor berpengalaman di luar institusi layanan.

Jenis monitoring dan evaluasi yang dilakukan adalah monitoring dan


evaluasi teknis/ penatalaksanaan pelayanan klien, serta monitoring dan evaluasi
program. Monitoring dan evaluasi hendaknya dilakukan rutin, berkala dan
berkesinambungan.

Aspek yang perlu dimonitor dan dievaluasi :

1. Kebijakan, tujuan dan sasaran mutu


2. Sumber daya manusia
3. Sarana, prasarana dan peralatan
4. Standar minimal pelayanan VCT
5. Uraian rincian layanan dengan menilai ketersediaan petugas di berbagai
tingkat layanan, kepatuhan terhadap protokol, ketersediaan materi
pengajaran mengenai kesehatan dan kondom, ketersediaan dan pengunaan
catatan terformat, ketersediaan alat testing dan layanan medik, kepatuhan
petugas pada peran dan tanggungjawab dan aspek umum dari operasional
layanan
6. Pengelolaan yang profesional dan efektif
7. Akuntabilitas dan sustainabilitas
8. Kepuasan dan evaluasi klien secara langsung atau melalui kotak saran.

D. Pembinaan dan Pengawasan

Pembinaan dan pengawasan pelayanan konseling dilakukan oleh Kepala


Dinas kesehatan :

1. Pencatatan dan pelaporan


Sebagai klien layanan konseling dan testing HIV laporan secara
statistik mengikuti sistem pencatatan dan pelaporan khusus yang
berpegang pada prinsip kerahasiaan klien
Dokumen klien disimpan di tempat terkunci dan hanya bisa diakses
oleh petugas yang berwenang dan diarsipkan sesuai dengan prinsip
catatan medik pasien di RS
Pelaporan VCT dilaporkan menurut sistim pencatatan dan
pelaporan sesuai standar baku untuk pencatatan medik
30

Data jumlah klien yang melaksanakan konseling, testing, yang


hasilnya positif, indeterminan atau diskordan, senantiasa dianalisa
setiap tahun, guna perbaikan kinerja.

2. Perijinan
Ijin layanan konseling dan testing HIV/AIDS di RSUD Kabupaten
Sumedang terintegrasi dengan layananan kesehatan di rumah sakit, izin
dikaitkan dengan izin operasional RSUD Kabupaten Sumedang.

3. Pelatihan konselor VCT


Untuk meningkatkan kualitas konselor dibuat program pelatihan yang
terintegrasi dengan Program Pengembangan Staff RSUD Kabupaten
Sumedang.

4. Registrasi konselor VCT


Para konselor yang sudah tersertifikasi dicatatat dalam Daftar Tenaga
Terlatih RSUD Kabupaten Sumedang dan teregistrasi di Dinas Kesehatan
Kabupaten Sumedang.
31

BAB IX

PENUTUP

Dalam upaya memberikan pelayanan yang holistik, komprehensif dan


dukungan yang luas bagi ODHA dan keluarganya, perlu melibatkan jejaring kerja
diantara semua sumber daya yang ada, termasuk didalamnya adalah pelayanan
Rumah sakit.

Pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS secara sukarela (Voluntary


Counseling dan Testing /VCT) merupakan salah satu kegiatan yang dipercaya
sebagai kegiatan yang efektif, karena VCT merupakan pintu masuk (entry point)
untuk pencegahan maupun pengobatan HIV/AIDS. Agar upaya pencegahan,
pengobatan dan support bagi pasien ODHA dapat dilaksanakan secara
komprehensif, maka disusun Pedoman Pelayanan HIV/AIDS Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Sumedang sebagai acuan bagi seluruh unit terkait di Rumah
Sakit Umum Daerah kabupaten Sumedang dalam melaksanakan
pelayanan/penanggulangan HIV/AIDS.

Sumedang, Juli 2013

DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN SUMEDANG

HILMAN TAUFIK. WS
32