Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FISISOLOGI TUMBUHAN

POTENSIAL OSMOTIK DAN PLASMOLISIS

Disusun oleh:

Anisa Maulidiya 15308141041

Inuoi Widhi Hakiki 15308141043

Ngakan Yoga Novantara 15308141051

Emma Maulida 15308141054

Isnani Deyana Andini 15308144005

Kelompok 5

Biologi E

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
I. PENDAHULUAN
A. Judul
Potensial osmotik dan plasmolisis
B. Tujuan
1. Mengetahui nilai PA umbi kentang.
2. Menemukan fakta tentang gejala plasmolisis.
3. Menunjukkan faktor penyebab plasmolisis.
4. Mendeskripsikan peristiwa plasmolisis.
5. Menunjukkan hubungan antara plasmolisis dengan status potensial osmotik
antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya.
C. Latar Belakang
Air dibutuhkan dalam kelangsungan hidup sel tumbuhan. Pergerakkan air
dalam tanah dan tubuh tumbuhan didasarkan atas suatu hubungan energi potensial.
Air akan mempunyai potensi untuk bergerak yaitu air akan bergerak dari daerah
dengan energi potensial tinggi ke daerah yang berpotensial rendah. Apabila sel
tumbuhan mengalami dehidrasi (kekurangan air) maka sel akan mengalami
plasmolisis.
Osmosi merupakan berdifusinya zat pelarut dari larutan yang
konsentrasinya rendah ke larutan yang konsentrasinya tinggi melalui membran
semipermeable. Terjadinya osmosis disebabkan adanya energi potensial. Nilai
potensial osmotis akan meningkat jika tekanan yang diberikan juga semakin besar.
Tekanan osmosis merupakan tekanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan
kesetimbangan osmotis antara suatu larutan dengan pelarut murni.
(Loveless.1991:136) (Salisbury & Frank.1992: ).
Sedangkan plasmolisis merupakan dampak dari adanya peristiwa osmosis.
Plasmolisis adalah peristiwa mengkerutnya sitoplasma dan lepasnya membran
plasma dari dinding sel tumbuhan apabila dimasukkan kedalam larutan yang
hipertonik. Semakin besar konsentrasi sukrosa yang ditambahkan maka semakin
besar pula peristiwa plasmolysis yang terjadi dan sebaliknya apabila konsentrasi
larutan sukrosa semakin rendah maka semikin kecil pula peristiwa plasmolysis
terjadi.(Hamita & Wahono.2014:192)
Plasmolysis dan potensial osmosis merupakan suatu peristiwa penting yang
terjadi pada sel tumbuhan. Oleh karena itu, peristiwa plasmolysis dan potensial
osmosis akan diaamati dalam percobaan ini.
II. KAJIAN TEORI
Didalam proses osmotis, disamping komponen potensial air (PA) dan
potensial tekanan (PT), komponen lain yang juga penting adalah Potensial
Osmotik (PO). Nilai potensial osmotic suatu larutan dapat diukur dengan suatu
alat yang disebut osmometer. Tekana yang tersebut pada osmometer merupakan
tekanan yang nyata dan tekanan ini disebut potensial air, potensial osmotik, dan
potensial tekanan dapat ditulis dengan rumus PA= PO + PT (Siregar, 1996: 54)
Suatu cara yang sederhana dalam mengukur potensial air jaring tumbuhan,
dapat dilakukan dengan merendamnya dalam suatu seri larutan yang telah
diketahui potensial airnya. Dengan memasukkan jaringan yang hendak diukur
potensial airnya kedalam larutan yang diketahui potensial aiirnya, akan dapat di
ketahui apakah terjadi perubahan potensial osmotic atau potensial air pada
jaringan atau larutan perendam, Keduanya akan bersifat isotonik, hipertonik,
ataupun hipotonik. Berdasar pada ada tidaknyta perubahan cairan pada larutan
perendam ataupun cairan jaringan, akan dapat di ketahui potensial air jaringan.
Untuk hal dapat dilakukan dengan dua macam cara yaitu : a, Metofe volume
konstan dan b, Metode Cgardakov. Salah satu faktor penting energi penggerak air
dari suatu sistem larutan ke sistem larutan yang lain adalah adanya beda
konsentrasi. Semakin besar gradient konsentrasi semakin besar tenaga yang
menggerakkan molekul air untuk berdifusi ke daerah hipotonis ke hipertonis
(Suyitno, 2017: 8)
Peristiwa plasmolisis yaitu keluarnya cairan sel melalui membran sel akibat
dari pengaruh gradien konsentrasi plamolitikum, sedangkan jika cairan sel ini
kembali maka disebut deplasmolisa. Kedua peristiwa ii dapat menjelaskan adanya
osmosis dan difusi yang memang harus terjadi pada sel guna melakukan fungsi
transportasi maupun pengaturan tugor. Mekanisme membuka dan menutuonya
stoma kiranya dipengaruhi oleh tekanan tugor dan kedua sel penutup. Antara
difusi, osmosi,dan tugor ketiganya erat kaitanya dengan kelangsungan proses
metabolisme (Sumarjan, 2007: 42).
Plasmolisis merupakaan keadaan membran dari sitoplasma akan terlepas dari
dinding sel. Proses plasmolisis dapat diketahui dengan membran protoplasma dan
sifat permiabelnya. Permiabel dinding sel terhadap terhadap gula diperlihatkan
oleh sel sel yang terplasmolisis. Plasmolisis adalah contoh kasus trasportasi sel
secara osmosis. Osmosis pada hakikatnya adalah suatu proses difusi. Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa difusi air melalui selaput permiabel secara
diferensial dari suatu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang
berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi disebut tekanan
osmosis. Makin besar terjadiinya osmosis maka semakin besar juga tekanan
osmosisnya. Proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air
seimbang dengan masuknya air yang disebabkan oleh pebedaan konsentrasi
(Campbell, 2008: 320).
III. METODEPENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu : Kamis, 2 Maret 2017 pukul 11:10 13:40 WIB.
Tempat : Laboratorium Biologi Dasar 1.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Pelubang gabus 1 buah
Pisau tajam 1 buah
Petri dish 1 buah
Botol vial 13 buah
Mikroskop 1 buah
Gelas benda 2 buah
Gelas penutup 2 buah
Silet 1 buah
Alat tulis
2. Bahan
Kentang 1buah
Daun Rhoe discolor 1 helai
Seri larutan sukrosa 0.0 M, 0.4 M, 0.8 M, 1.2 M, 1.6 M, 2.0 M, 0.14 M, 0.16
M, 0.18 M, 0.20 M, 0.22 M, 0.24 M dan 0.26 M
3. Cara Kerja
a. Mengukur potensial osmotik
Kentang dikupas kemudian dibuat silinder sebanyak empat potong silinder
dengan panjang 3 cm menggunakan pelubang gabus. Empat potongan kentang
dimasukkan kedalam Petri dish yang telah berisi larutan sukrosa 1.6 M sebanyak
30 ml. Potongan-potongan kentang dibiarkan terendam larutan sukrosa selama 30
menit. Kemudian panjang potongan-potongan kentang tersebut diukur dan dirata-
rata.
b. Mengukur jumlah sel epidermis daun terplasmolisis
Pada bagian permukaan bawah daun Rhoe discolor dibuat sayatan
epidermis. Dalam satu kelompok mengamati dua sayatan. Sayatan diletakkan
pada gelas benda dan ditutup menggunakan gelas penutup. Kemudian diamati
menggunakan mikroskop dan dihitung jumlah sel epidermis yang mengandung
pigmen merah (antosianin). Pengamatan dilakukan dalam satu bidang pandang.
Kemudian sayatan satu ditetesi larutan sukrosa 1.6 M dan sayatan yang lain
ditetesi larutan sukrosa 0.22 M melalui bagian tepi dari gelas penutup. Larutan
sukrosa diteteskan hingga meresap sampai sayatan. Setelah itu sayatan diamati
kembali dan dihitung jumlah sel yang tidak terplasmolisis dan terplasmolisis
setiap menit ke lima selama 20 menit. Kemudian data hasil pengamatan
dimasukkan di dalam tabel.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Panjang silinder umbi kentang setelah direndamdalam larutan sukrosa
selama 30 menit

Kentang Panjang potongan silinder kentang (cm)


ke- 0,0 M 0,4 M 0,8 M 1,2 M 1,6 M 2,0 M
1 3,1 3,1 3 3,1 3 3
2 3,2 3,1 3,2 3,2 3 3
3 3,2 3,1 3,1 3,1 3 3,1
4 3,3 3,1 3,1 3 3 3,1
Rerata 3,2 3,1 3,1 3,1 3 3,05

Tabel 2. Rata- rata Presentase sel epidermis daun Rhoe discolor

KonsentrasiSukrosa Rata-rata Rata-rata


Minimum Maximum Terplasmolisis tidakTerplasmolisis
(%)
(%) (%) (%)
0,14 M 30.20 58.60 45.28 54.73
0,16 M 24.20 80.00 50.65 49.35
0,18 M 34.60 75.30 51.23 48.78
0,20 M 3.60 35.70 19.35 80.65
0,24 M 5.50 55.50 36.08 63.33
0,26 M 25.70 45.00 36.68 82.50
Rata-rata total 39,87 75.09

0.35

0.3

0.25
Axis Title

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0,0 M 0,4 M 0,8 M 1,2 M 1,6 M 2,0 M
Konsentrasi

Series1 Series2 Series3 Series4


Grafik 1. Hubungan antara ukuran panjang kentang dengan konsentrasi larutan sukrosa

90.00%

80.00%

70.00%
Sel terplasmolisis (%)

60.00%

50.00%

40.00%

30.00%

20.00%

10.00%

0.00%
5 10 15 20
Waktu (menit ke-)

0,14 M 0,16 M 0,18 M 0,20 M


0,22 M 0,24 M 0,26 M

Grafik 2. Hubungan antara presentasel sel epidermis daun Rhoe discolor terplasmolisis
dengan konsentrasi larutan sukrosa

B. Pembahasan
Berdasarkan data hasil percobaan pada grafik 1 dapat diketahui bahwa
potongan kentang mengalami perubahan ukuran (ukuran awal 3 cm), baik pada
konsentrasi sukrosa 0 M, 0,4 M, 0,8 M, 1,2 M, 1,6 M, dan 2,0 M. Perubahan ukuran
yang terjadi adalah pertambahan panjang potongan kentang setelah direndam dalam
masing-masing konsentrasi tersebut. Pertambahan panjang tersebut berturut-turut,
pada kentang yang direndam dalam konsesntrasi sukrosa 0 M memiliki
pertambahan panjang tertinggi sebesar 0,3 cm, dalam konsentrasi sukrosa 0,4 M
keempat potongan mengalami pertambahan panjang yang sama sebesar 0,1 cm,
dalam konsentrasi sukrosa 0,8 M mengalami pertambahan tertinggi sebesar 0,2 cm
sama dengan pertambahan tertinggi pada konsentrasi sukrosa 1,2 M. Pada
konsentrasi sukrosa 1,6 M kentang tidak mengalami pertambahan panjang, dan
yang terakhir dalam konsentrasi sukrosa 2,0 M dua potogan kentang mengalami
pertambahan panjang sebesar 0,1 cm sedngkan dua lainnya tidak mengalami
pertambahan. Pertambahan-pertambahan panjang tersebut tergambar pada grafik 1
diatas, rata-rata pertambahan tertinggi terlihat pada konsentrasi sukrosa 0 M dan
yang terendah pada konsentrasi sukrosa 1,6 M karna tidak mengalami pertambahan
panjang.
Pertambahan panjang tersebut terjadi karna adanya perbedaan konsentrasi air
dalam laurtan sukrosa dengan yang ada pada kentang. Sesuai dengan teori menurut
Suyitno (2017: 8) yaitu salah satu faktor penting energi penggerak air dari suatu
sistem larutan ke sistem larutan yang lain adalah adanya beda konsentrasi. Semakin
besar gradient konsentrasi semakin besar tenaga yang menggerakkan molekul air
untuk berdifusi ke daerah hipotonis ke hipertonis. Ketika konsentrasi sukrosa
meningkat maka konstenrasi pelarut (air) semakin menurun. Dapat dikatakan bahwa
kentang yang dimasukan pada konsentrasi sukrosa yang tinggi maka perpindahan
air akan semakin lambat dan akan semakin menyusut seiring dengan kenaikan
konsentrasi sukrosa. Namun pada hasil yang diperoleh, pertambahan panjang
kentang dari konsentrasi kecil (0 M) hingga konsentrasi lebih pekat (2 M) tidak
konsatan sesuai dengan teori. Tidak dapat diketahui pada konsentrasi berapa
kentang mengalami pertambahan panjang optimum hingga mengalami penyusutan.
Kesalahan dapat terjadi pada saat pengukuran dan pemotongan kentang karna
mempengaruhi keadaan sebelum dan sesudah direndam dalam sukrosa.
Dalam percobaan plasmolisis digunakan epidermis bawah daun Rhoe discolor
yang memiliki pigmen berwarna ungu (antosianin) dan larutan sukrosa dengan
berbagai konsentrasi yang berperan sebagai larutan hipertonis terhadap sel.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap daun Rheo discolor,
diperoleh hasil bahwa sebelum di tetesi larutan sukrosa, sel epidermis bawah daun
masih dalam keadaan normal, yaitu berbentuk segi lima dengan sitoplasma
berwarna ungu memenuhi dinding sel. Setelah ditetesi sukrosa sel mengalami
plasmolisis, Menurut Campbell (2008: 320) plasmolisis merupakaan keadaan
membran dari sitoplasma akan terlepas dari dinding sel. Proses plasmolisis dapat
diketahui dengan membran protoplasma dan sifat permiabelnya. Permiabel dinding
sel terhadap terhadap gula diperlihatkan oleh sel sel yang terplasmolisis.
Hasil percobaan yang telah dilakukan, sel yang mengalami plasmolisis
tercepat pada konsentrasi sukrosa 0,18 M dengan rata-rata jumlah sel sebesar
51,23%, sedangkan sel yang mengalami plasmolisis terlambat pada konsentrasi
sukrosa 0,24 M dengan rata-rata jumlah sel sebesar 36,08%. Hal tersebut tidak
sesuai dengan teori, seharusnya hasil percobaan menunjukkan konsentrasi sukrosa
yang lebih tinggi akan mempercepat terjadinya plasmolisis. Karena potential air
pada larutan yang pekat akan lebih kecil dibandingkan dengan potensial air pada
larutan yang kurang pekat, sehingga jika sel berada pada lingkungan yang memiliki
konsentrasi sukrosa yang pekat, air dalam sel akan keluar dan sel tersebut akan
mengalami pengkerutan. Sesuai dengan teori menurut Hamita & Wahono
(2014:192) semakin besar konsentrasi sukrosa yang ditambahkan maka semakin
besar pula peristiwa plasmolisis yang terjadi dan sebaliknya apabila konsentrasi
larutan sukrosa semakin rendah maka semikin kecil pula peristiwa plasmolisis
terjadi.
Kesalahan yang dapat menyebabkan ketidak sesuaian data dengan teori yang
ada adalah kesalahan perhitungan jumlah sel yang mengalami plasmolisis, ketebalan
sayatan daun yang terlalu tebal sehingga sel terlihat menumpuk dan sulit untuk
ditentukan sel mana yang mengalami plasmolisis. Selain itu, faktor kurang
meratanya penetesan sukrosa pada preparat juga dapat menyebabkan plasmolisis
tidak merata.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:
1. Gejala plasmolisis dapat ditemukanpada sel sayatan epidermis permukaan
bawah daun Rhoe discolor yang menunjukkan hilangnya sebagian atau seluruh
warna ungu yang ada di dalam sel.
2. Faktor penyebab plasmolisis antara lain sel berada di lingkungan hipertonik,
yaitu pada konsentrasi zat terlarut tinggi (larutan sukrosa), perbedaan potensial
air di dalam dan di luar sel, konsentrasi zat terlarut, sehingga potensial osmosis
juga semakin tinggi dan menyebabkan osmosis.
3. Peristiwa plasmolisis merupakan peristiwa terlepasnya membran sel dari
dinding sel karena sel kehilangan air, disebabkan adanya osmosis karena sel
berada di lingkungan yang hipertonik.
4. Hubungan plasmolisis dengan status potensial osmotik antara cairan sel dengan
larutan di lingkungannya adalah bahwa sel yang berada dalam larutan hipertonik
akan menyebabkan cairan yang berada di dalam sel berosmosis keluar dari sel,
sehingga potensial osmosis semakin besar, dan mengakibatkan sel yang
terplasmolisis semakin banyak.
B. Saran
V. DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2008. Biologi Jilid I Edisi VIII. Jakarta: Erlangga.
Dardjat Sasmitamihardja & Siregar A. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Depdiknas.
Sumarjan. 2007. Asistensi Biologi Umum. Mataram: Universitas Mataram.
Suyitno. 2017. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Hamita R. dan Wahono HS.. 2014. Ekstraksi Osmosis pada Pembuatan Sirup Murbei
(Morus alba L.) Kajian Proporsi Buah: Sukrosa dan Lama Osmosis.
JurnalPangandan Agroindustri. Volume 2 nomor 3: 191-197.
LAMPIRAN

Gambar Keterangan
Potongan silinder kentang dengan
panjang 3 cm.

Larutan sukrosa 1.6 diambil


sebanyak 30 ml untuk merendam
potongan kentang.

Panjang masing-masing potongan


kentang setelah direndam larutan
sukrosa 1.6 M selama 30 menit
tetap yaitu 3 cm.
Sayatan epidermis permukaan
bawah daun Rhoe discolor.

Larutan sukrosa 0.22 M untuk


menetesi sayatan epidermis
permukaan bawah daun Rhoe
discolor.

Preparat sel epidermis permukaan


bawah daun Rhoe discolor
sebelum ditetesi larutan sukrosa.
Sel epidermis permukaan bawah
daun Rhoe discolor setelah 15
menit ditetesi larutan sukrosa 0.22
M.

Sel epidermis permukaan bawah


daun Rhoe discolor setelah 20
menit ditetesi larutan sukrosa 0.22
M.

Preparat ke 2 sel epidermis


permukaan bawah daun Rhoe
discolor sebelum ditetesi larutan
sukrosa.
Sel epidermis permukaan bawah
daun Rhoe discolor setelah 5
menit ditetesi larutan sukrosa 0.16
M.

Sel epidermis permukaan bawah


daun Rhoe discolor setelah 10
menit ditetesi larutan sukrosa 0.16
M.

Sel epidermis permukaan bawah


daun Rhoe discolor setelah 15
menit ditetesi larutan sukrosa 0.16
M.

Sel epidermis permukaan bawah


daun Rhoe discolor setelah 20
menit ditetesi larutan sukrosa 0.16
M.
Presentase sel epidermis daun Rhoe discolor

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang


Menit ke- Keterangan
sukrosa Terplasmolisis (%) Tak terplasmolisis (%)
5 30,20% 69,80%
10 41,40% 58,60% Jumlah sel
0,14 M
15 50,90% 49,10% awal 58
20 58,60% 41,40%
5 24,20% 75,80%
10 40,30% 59,70% Jumlah sel
0,16 M
15 58,10% 41,90% awal 62
20 80% 20,00%
5 34,60% 65,40%
10 43,20% 56,80% Jumlah sel
0,18 M
15 51,80% 48,20% awal 40,5
20 75,30% 24,70%
5 3,60% 96,40%
10 13,10% 86,90% Jumlah sel
0,20 M
15 25% 75,00% awal 84
20 35,70% 64,30%
5 5,50% 94,50%
10 31,50% 68,50% Jumlah sel
0,22 M
15 51,80% 48,20% awal 27
20 55,50% 44,50%
5 25,70% 74,30%
10 34% 66,20% Jumlah sel
0,24 M
15 42% 57,80% awal 126
20 45% 55,00%
5 6% 94,00%
10 14% 86,00% Jumlah sel
0,26 M
15 20% 80,00% awal 50
20 30% 70,00%