Anda di halaman 1dari 32

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN LAPORAN KASUS


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA SEPTEMBER 2017

KONJUNGTIVITIS BAKTERI

OLEH :

Ramlan Arfandi
110 202 0127

PEMBIMBING :
dr. Sri Irmandha, Sp.M, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB II LAPORAN KASUS ............................................................................. 2
A. Identitas ......................................................................................... 2
B. Anamnesis ..................................................................................... 2
C. Pemeriksaan Oftalmologi ............................................................. 2
D. Pemeriksaan Penunjang ................................................................ 4
E. Resume .......................................................................................... 4
F. Diagnosis ...................................................................................... 4
G. Terapi ............................................................................................ 4
H. Diskusi .......................................................................................... 5
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 6
A. Anatomi Konjungtiva ................................................................... 6
B. Insiden dan Epidemiologi ............................................................. 10
C. Etiologi dan Patofisiologi ............................................................. 10
D. Manifestasi Klinis ......................................................................... 11
E. Pemeriksaan Laboratorium ........................................................... 13
F. Diagnosis Banding ........................................................................ 14
G. Komplikasi .................................................................................... 25
H. Penatalaksanaan ............................................................................ 25
I. Prognosis ....................................................................................... 26
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva bulbar atau


konjungtiva palpebra, ditandai dengan pembengkakan, pembentukan cairan
eksudat dan mata tampak merah (pink eye).1,2 Peradangan konjungtiva
(konjungtivitis) menjadi penyakit mata yang paling umum di seluruh dunia, yang
umumnya disebabkan eksogen, namun dapat pula endogen.3 Berdasarkan
penyebab konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, klamidia, alergi,
toksik dan molluscum contangiosum. Konjungtivitis bakteri umumnya disebabkan
oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae (pneumococcus),
Streptococcus pyogenes (haemolyticus, Moraxella lacunate (Moraxella Axenfeld
bacillus), Pseudomonas pyocyanea, Neisseria gonorrhoeae, Neisseria
meningitidis (meningococcus), Corynebacterium diphtheriae, Haemophilus
influenzae.1,4 Konjungtivitis ringan biasanya jinak dan sembuh sendiri atau mudah
diobati dengan antibiotik. Konjungtivitis berat, seperti yang disebabkan oleh
gonokokus, dapat menyebabkan kebutaan dan dapat menandakan penyakit
sistemik yang mendasari.5
Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis bervariasi tergantung dari
agen penyebabnya, dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva),
lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis,
kemosis, hopertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten,
mata merasa seperti adanya benda asing dan adenopati preaulikular.3,4

1
BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Nama : Ny. A
No. Rekam Medik : 161051
Tgl. Lahir/Umur : 20-11-1951 / 64 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Rappokalling Timur Lr.2
Tanggal pemeriksaan : 16 September 2017

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Mata merah
Anamnesis Terpimpin :
Pasien datang ke poli mata RS Ibnu Sina dengan keluhan kedua mata
merah yang dialami sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh kedua
matanya terasa gatal, dan keluar air mata berwarna bening tapi tidak terlalu
banyak. Pasien mengaku saat bangun tidur terdapat kotoran mata yang banyak
berwarna kuning sehingga pasien sulit untuk membuka matanya. Tidak ada
keluhan nyeri, pandangan mata kabur pada kedua matanya dan keluhan lain
yang mengganggu aktivitasnya. Tidak ada riwayat trauma pada kedua matanya.
Menurut pasien, cucu pasien yang tinggal bersamanya juga mengalami hal
yang serupa. Riwayat pakai kaca mata (-), riwayat hipertensi (-), riwayat
diabetes melitus (-).
C. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
a) Inspeksi
OD OS
Edema (+) Palpebra Edema (+)
Normal, sekret (+) Silia Normal, sekret (+)
mukopurulen berwarna mukopurulen berwarna

2
kuning kuning
Lakrimasi (+) Apparatus Lakrimalis Lakrimasi (+)
Hiperemis (+), Injeksi Konjungtiva Hiperemis (+), Injeksi
Konjungtiva (+) Konjungtiva (+)
Jernih Kornea Jernih
Kesan normal Bilik mata depan Kesan normal
Coklat, kripte (+) Iris Coklat, kripte (+)
Bulat, sentral, RC (+) Pupil Bulat, sentral, RC (+)
Keruh Lensa Keruh
Ke segala arah Mekanisme muskular Ke segala arah
- ODS
- OD
- OS

b) Palpasi
OD OS
Tn Tensi Okuler Tn
(-) Nyeri Tekan (-)
(-) Massa Tumor (-)
Tidak Ada Pembesaran Glandula PreAurikuler Tidak Ada Pembesaran

c) Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan
d) Visus
VOD : 20/60
VOS : 20/50
e) Color Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan
f) Light Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

3
4
g) Penyinaran oblik
OD OS
Hiperemis (+) Konjungtiva Hiperemis (+)
Jernih Kornea Jernih
Kesan Normal Bilik Mata Depan Kesan Normal
Coklat, Kripte (+) Iris Coklat, Kripte (+)
Bulat, Sentral, RC (+) Pupil Bulat, Sentral, RC (+)
Keruh Lensa Keruh

h) Slit lamp
OD OS
Edema (+) Palpebra Edema (+)
Normal, sekret (+) Silia Normal, sekret (+)
mukopurulen berwarna mukopurulen
kuning berwarna kuning
Lakrimasi (+) Apparatus Lakrimalis Lakrimasi (+)
Hiperemis (+), Injeksi Konjungtiva Hiperemis (+),
Konjungtiva (+) Injeksi Konjungtiva
(+)
Jernih Kornea Jernih
Kesan normal Bilik mata depan Kesan normal
Coklat, kripte (+) Iris Coklat, kripte (+)
Bulat, sentral, RC (+) Pupil Bulat, sentral, RC
(+)
Keruh Lensa Keruh
Ke segala arah Mekanisme muskular Ke segala
- ODS arah
- OD
- OS

5
i) Fluoresensi
OD : Fluoresensi (-)
OS : Fluoresensi (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan

E. RESUME
Seorang perempuan berumur 64 tahun datang ke poli mata RS Ibnu Sina
dengan keluhan hiperemis pada okuli dextra dan sinistra yang dialami sejak 2
hari yang lalu. Mata berair (+), gatal (+), sekret mukopurulen berwarna kuning
yang banyak pada pagi hari (+), mukopurulen, penglihatan kabur (-), riwayat
trauma (-), riwayat kontak dengan penderita sakit mata (+).
Pada pemeriksaan oftalmologi, VOD 20/60, VOS 20/50, TODS : Tn. Pada
inspeksi didapatkan palpebra ODS edema, ODS hiperemis dan terdapat injeksi
konjungtiva. Kornea keruh, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil
bulat, sentral, RC (+) dan lensa keruh. Pembesaran glandula pre aurikuler (-).

F. DIAGNOSIS
ODS Konjungtivitis Bakterial akut

G. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Konjungtivitis virus
Konjungtivitis jamur
Konjungtivitis alergi
H. TERAPI
- Menjaga hygiene
- Antibiotik topikal : Levocin 4x1 ODS
- Anjuran : kontrol kembali untuk koreksi kelainan refraksi

6
I. DISKUSI
Dari hasil anamnesis pada pasien ini, ditemukan keluhan utama mata
merah pada mata kanan dan kiri yang dialami sejak 2 hari yang lalu. Gatal
(+), air mata berlebihan (+), kotoran mata yang berlebih pada pagi hari (+),
mukopurulen, riwayat trauma (-), riwayat kontak dengan penderita yang sama
(+).
Pada pemeriksaan oftalmologi, VOD 20/60, VOS 20/50, TODS : Tn. Pada
inspeksi didapatkan palpebra ODS edema, ODS hiperemis dan terdapat injeksi
konjungtiva. Kornea jernih, fluoresensi (-), BMD kesan normal, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+) dan lensa keruh.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi dapat
disimpulkan bahwa pasien menderita ODS Konjungtivitis Bakterial Akut.
Pada pasien ini didapatkan keluhan mata merah, air mata berlebih, kelopak
mata yang saling melekat pada pagi hari akibat banyaknya sekret mukopurulen
yang menunjukkan tanda khas dari konjungtivitis bakteri. Tidak adanya
pembesaran dari kelenjar pre aurikuler yang khas pada konjungtivitis akibat
virus.
Konjungtivitis bakteri tidak dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari.
Namun kita dapat memberika terapi antibiotik topikal spektrum luas sebagai
profilaksis agar tidak terjadi komplikasi.
Pada pasien ini didapatkan pula visus tidak maksimal. Visus tidak
maksimal bisa diakibatkan karena media refrakta keruh atau terjadi kelainan
refraksi. Pada media refrakta yang keruh pada pasien katarak akan
menyebabkan bertambahnya indeks bias dimana lensa menjadi lebih cembung
sehingga pembiasan terlalu kuat.
Karena faktor degeneratif, musculus ciliaris kehilangan elastisitasnya
untuk melakukan kontraksi sehingga zonula zinn memendek dan lensa menjadi
lebih cembung.
Pada pasien ini belum dilakukan koreksi visus karena mata pasien masih
hiperemis, dan masih terdapat tanda-tanda radang. Hal ini dilakukan sebagai
bentuk pencegahan agar menghindari kontaminasi dengan mata yang sehat atau

7
mata orang lain. Maka dari itu pasien dianjurkan untuk datang kontrol kembali
untuk dilakukan pengoreksian visus.

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari
membran mukosa tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung
melapisi permukaan bola mata dan berakhir pada daerah transparan pada
mata yaitu kornea. Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 2 bagian yaitu
konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbaris. Namun, secara letak areanya
konjungtiva dibagi menjadi 6 area yaitu marginal, tarsal, orbital, forniks,
bulbar dan limbal. Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak
(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea pada limbus. Pada
konjungtiva bulbaris, terdapat dua lapisan epithelium dan menebal secara
bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk epithelium berlapis tanpa
keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva palpebralis terdiri dari
epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. Dibawah epitel tersebut
terdapat lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdiri
dari leukosit. Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan
bagian bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang berdekatan
pada daerah kornea. Membran ini berisi banyak pembuluh darah sehingga
dapat berubah menjadi merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva
mengandung kelenjar mucin yang dihasilkan oleh sel goblet. Mucin bersifat
membasahai seluruh permukaan bola mata.1

Gambar 1. Struktur Anatomi Mata

9
Secara umum konjungtiva terdiri dari tiga bagian :1
1. Konjungtiva palpebralis : menutupi permukaan posterior dari palpebra
dan dapat dibagi menjadi marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva.
a. Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata sampai sekitar
2 mm di belakang kelopak mata menuju lengkung dangkal, sulkus
subtarsalis. Sesungguhnya merupakan zona transisi antara kulit dan
konjungtiva.
b. Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat vaskuler.
Menempel ketat pada seluruh tarsal plate pada kelopak mata. Pada
kelopak mata bawah, hanya menempel setengah lebar tarsus. Kelenjar
tarsal terlihat lewat struktur ini sebagai garis kuning.
c. Orbital konjungtiva berada diantara tarsal plate dan forniks.
2. Konjungtiva bulbaris : menutupi sebagian permukaan anterior bola mata.
Terpisah dari sklera anterior oleh jaringan episklera dan kapsula Tenon.
Tepian sepanjang 3mm dari konjungtiva bulbar disekitar kornea disebut
dengan konjungtiva limbal. Pada area limbus, konjungtiva, kapsula Tenon
dan jaringan episklera bergabung menjadi jaringan padat yang terikat
secara kuat pada pertemuan korneo-sklera dibawahnya. Pada limbus, epitel
konjungtiva menjadi berlanjut seperti yang ada pada kornea. Konjungtiva
bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan,
mudah dilipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah
dapat dilihat dibawahnya. Didalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet
yang mensekresi musin, suatu kmponen penting lapisan air mata prekornea
yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.
3. Forniks : bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian
posterior palpebra dan bola mata. Forniks konjungtiva bergabung dengan
konjungtiva bulbar dan konjungtiva palpebra. Dapat dibagi menjadi
forniks superior, inferior, lateral dan medial forniks.

10
Gambar 2. Struktur Anatomi Konjungtiva

Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel
silinder bertingkat, superfisial dan basal. Sel epitel superfisial mengandung
sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus yang mendorong
inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara
merata diseluruh prekornea. Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan
adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profunda). Lapisan adenoid
mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung
struktur semacam folikel tanpa stratum germinativum.1

Struktur histologis dari konjungtiva


1. Lapisan epitel konjungtiva
a. Marginal konjungtiva mempunyai epitel tipe stratified skuamous 5
lapis.
b. Tarsal konjungtiva mempunyai 2 lapis epitelium : lapisan superfisial sel
silindris, lapisan tengah polihedaral sel dan lapisan dalam sel kuboid.
c. Limbal konjungtiva sekali lagi mempunyai banyak lapisan (5-6 lapis)
epitelium stratified skuamous.

11
2. Stroma konjungtiva
a. Lapisan adenoid, disebut dengan lapisan limfoid dan terdiri dari
jaringan ikat retikulum yang terkait satu sama lain dan terdapat limfosit
diantaranya. Lapisan ini paling berkembang di forniks. Tidak terdapat
mulai dari lahir tetapi berkembang setelah 3-4 bulan pertama
kehidupan. Untuk alasan ini, inflamasi konjungtiva pada bayi baru lahir
tidak memperlihatkan reaksi folikuler.1
b. Lapisan fibrosa, terdiri dari jaringan fiber elastik dan kolagen. Lebih
tebal daripada lapisan adenoid, kecuali di regio konjungtiva tarsal
dimana pada tempat tersebut struktur ini sangat tipis. Lapisan ini
mengandung pembuluh darah dan saraf konjungtiva. Bergabung dengan
kapsula tenon pada regio konjungtiva bulbar.1

Konjungtiva mempunyai dua macam kelenjar, yaitu :


1. Kelenjar sekretori musin. Mereka adalah sel goblet (kelenjar uniseluler
yang terletak di dalam epitelium), kripta dari Henle (ada pada konjungtiva
tarsal) dan kelenjar Manz (pada konjungtiva limbal). Kelenjar-kelenjar ini
mensekresi mukus yang mana penting untuk membasahai kornea dan
konjungtiva.1
2. Kelenjar lakrimalis aksesorius, yaitu :1
a. Kelenjar krause (terletak pada jaringan ikat konjungtiva di forniks,
sekitar 42 mm pada forniks atas dan 8 mm di forniks bawah).
b. Kelenjar wolfring (terletak sepanjang abtas atas tarsus superior dan
sepanjang batas bawah dari tarsus inferior).

Suplai arterial konjungtiva


Konjuntiva palpebra dan formiks disuplai oleh cabang dari arcade arteri
periferal dan marginal kelopak mata. Konjungtiva bulbar disuplai oleh dua
pembuluh darah yaitu arteri konjungtiva posterior yang merupakan cabang
dari arteri siliaris anterior. Cabang terminal dari arteri konjungtiva posterior

12
beranastomose dengan arteri konjungtiva anterior untuk membentuk pleksus
perikornea.1
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama nervus
trigeminus (oftalmikus). Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri.
Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, meyediakan
kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi
mata dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel,
aktivasi lakrimasi, dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan
spesifik berupa mekanisme imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya
jaringan limfoid pada mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA.1

B. Insiden dan Epidemologi


Konjungtivitis bakteri terjadi pada semua ras dengan perbedaan frekuensi
dapat tercermin dari variasi geografis prevalensi bakteri patogen. Prevalensi
konjungtivitis bakteri pada laki-laki dan perempuan sama. Perbedaan tingkat
infeksi terjadi pada pola lingkungan dan perilaku. Usia merupakan faktor
yang berhubungan dengan konjungtivitis bakteri.1,3 Insidensi konjungtivitis di
Indonesia berkisar antara 2-75%. Diperkirakan 10% dari jumlah penduduk
Indonesia seluruh golongan umur pernah menderita konjungtivitis. Data lain
menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki
tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).5

C. Etiologi dan Patofisiologi


Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab konjungtivitis pada
orang dewasa. Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan
Moraxella lacunate lebih sering menyerang pada anak-anak. Penularan
melalui kontak dengan sekret atau permukaan yang terkontaminasi seperti
seprei. Pseudomonas jarang menyebabkan konjungtivitis. Spesies
Gonococcus dan Chlamydia, yang dapat menyebabkan bentuk serius
konjungtivitis, cenderung menyebar secara seksual atau vertikal (dari ibu ke

13
anak). Dokter harus mempertimbangkan organisme pada dalam setiap bayi
yang baru lahir dengan peradangan mata.1,4
Konjungtiva merupakan organ yang terpapar banyak mikroorganisme
dan faktor lingkungan lain yang mengganggu. Beberapa mekanisme
melindungi permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur
berairnya mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja
memompa dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus
lakrimalis dan air mata mengandung substansi antimikroba termaskl lisozim.
Adanya agen perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang
diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau
granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis)
dan hipertrofi lapisan limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang
bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Sel-sel
kemudian bergabung dengan fibrin dan mucus dari sel goblet, embentuk
eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat
bangun tidur.1
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi
pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang
tampak paling nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. Pada
hiperemi konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi
papilla yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas,
atau gatal. Sensai ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga
timbul dari pembuluh darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata.
1,2,3

D. Manifestasi Klinis
Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores
atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Sensasi benda
asing dan tergores atau terbakar sering berhubungan dengan edema dan
hipertrofi papiler yang biasanya menyertai hiperemi konjungtiva. Adanya
nyeri menandakan inflamasi pada kornea.3,6,7

14
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, mata berair, produksi
cairan eksudat, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma
konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan
membran, granuloma, dan adenopati pre-aurikuler.3,
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya dijumpai
injeksi konjungtiva baik segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret
pada kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen daripada konjungtivitis
jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak
mata. Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada
konjungtivitis bakteri namun mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan
debris pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil masih normal. Gejala
yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari
sewaktu bangun tidur.5,8

Gambar 3. Injeksi konjungtiva1

Konjungtivitis bacterial yang ditandai dengan eksudat purulen


disebabkan oleh N.gonorroeae, N. kochii dan N. meningitidis. Konjungtivitis
menigococcus kadang-kadang terjadi pada anak-anak. Konjungtivitis
mukopurulen sering terdapat dalam bentuk epidemik dan disebut mata
merah oleh orangawam. Penyakit ini ditandai dengan hiperemi konjungtiva
secara akut, dan jumlah eksudat mukopurulen sedang.1

15
Gambar 4. Konjungtiva purulen1

E. Pemeriksaan Laboratorium
Penegakan diagnosa konjungtivitis bacterial dilakukan dengan
pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan
pewarnaan gram atau giemsa. Pemeriksaan ini mengungkapkan banyak
neutrofil polimorfonuklear. Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan
mikroskopik dan biakandi sarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika
penyakit itu purulen, bermembran atau pseudomembran. Tes sensitivitas
antibiotika juga dilakukan untuk pemberian terapi spesifik.3

Gambar 5. Kerokan konjungtiva2

16
F. Diagnosa Banding
1) Konjungtivitis Viral
1. Konjungtivitis Folikuler Virus Akut
a) Demam Faringokonjungtival 3

Gambar 6. Konjungtivitis Virus

Tanda dan gejala


Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,5-40C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata.
Folikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada
mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering terjadi, edema kelopak
dengan pseudomembran, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah
subepitel. Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri
tekan).1 Komplikasinya terjadi keratitis epitel superfisial dan atau
subepitel.
Laboratorium
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3
dan kadang kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam
sel HeLa dan ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya
penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara serologic dengan
meningkatnya titer antibody penetral virus. Diagnosis klinis adalah hal
mudah dan jelas lebih praktis.1,3,5

17
Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tak ada
bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak-
anak daripada orang dewasa dan sukar menular di kolam renang berchlor.
1,3,5

Terapi
Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri,
umumnya dalam sekitar 10 hari1.Pengobatan hanya suportif diberikan
kompres,astringen, lubrikasi. Pengobatan biasanya simtomatik dan
antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.
b) Keratokonjungtivitis Epidemika3
Tanda dan gejala
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada
satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya
pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian
diikuti dalam 5-14 hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan
subepitel bulat. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema
palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel
dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat
membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau
pembentukan symblepharon. 1,3
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel
terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-
bulan namun menyembuh tanpa meninggalkan parut. 1
Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar
mata. Namun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi
virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.
Laboratorium
Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29,
dan 37 (subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat
diisolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi.

18
Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuclear primer;
bila terbentuk pseudomembran, juga terdapat banyak neutrofil. 1
Penyebaran
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi
melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang
steril, atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama
anestetika topical, mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat
menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia. Virus itu dapat
bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran. 1,3
Pencegahan
Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan memakai
penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose.
Cuci tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta
sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu
keharusan. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau
hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-
hati. 3,5
Terapi
Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan
mengurangi beberapa gejala. kortikosteroid selama konjungtivitis akut
dapat memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen
antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial. 1

19
c) Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks3

Gambar 7. Konjungtivitis Herpes simpleks

Tanda dan gejala


Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak
kecil, adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh
darah unilateral, iritasi, sekret mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada
kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu
membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus epithelial yang bercabang banyak
(dendritik). Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-kadang
muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada
palpebra. Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika
ditekan. 1,3
Laboratorium
Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Jika
konjungtivitisnya folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear,
namun jika pseudomembran, reaksinya terutama polimorfonuklear akibat
kemotaksis dari tempat nekrosis. Inklusi intranuklear tampak dalam sel
konjungtiva dan kornea, jika dipakai fiksasi Bouin dan pulasan
Papanicolaou, tetapi tidak terlihat dengan pulasan Giemsa. Ditemukannya
sel sel epithelial raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic.3

20
Virus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung
kain kering di atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke
jaringan biakan.3
Terapi
Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang
dewasa, umunya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun,
antivirus local maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah
terkenanya kornea. Untuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen
kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain kering,
meneteskan obat antivirus, dan menutupkan mata selama 24 jam.
Antivirus topical sendiri harus diberikan 7 10 hari: trifluridine setiap 2
jam sewaktu bangun atau salep vida rabine lima kali sehari, atau
idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap jam sewaktu bangun dan 1 tetes setiap 2
jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep
acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan acyclovir oral,
400 mg lima kali sehari selama 7 hari.3
Untuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. Lebih jarang
adalah pemakaian vidarabine atau idoxuridine. Antivirus topical harus
dipakai 7-10 hari. Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan, karena
makin memperburuk infeksi herpes simplex dan mengkonversi penyakit
dari proses sembuh sendiri yang singkat menjadi infeksi yang sangat
panjang dan berat. 1,3
d) Konjungtivitis Hemoragika Akut2,3
Epidemiologi
Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic
besar konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. Pertama kali
diketahui di Ghana dalam tahun 1969. Konjungtivitis ini disebabkan oleh
coxackie virus A24. Masa inkubasi virus ini pendek (8-48 jam) dan
berlangsung singkat (5-7 hari). 5

21
Tanda dan Gejala
Kedua mata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak
mengeluarkan air mata, merah, edema palpebra, dan hemoragi
subkonjungtival, sekret seromukus. Kadang-kadang terjadi kemosis.
Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat berupa bintik-
bintik pada awalnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar
ke bawah. Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati preaurikuler,
folikel konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah
dilaporkan, demam, malaise, mialgia, umum pada 25% kasus. 1,5
Penyebaran
Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh
fomite seperti sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan air.
Penyembuhan terjadi dalam 5-7 hari
Terapi
Tidak ada pengobatan yang pasti. Penyakit ini dapat sembuh sendiri
sehingga pengobatan hanya simtomatik. Antibiotika spektrum luas,
sulfasetamid dapat digunakan untuk mencegah infeksi sekunder.
Pencegahan adalah dengan mengatur kebersihan.
e) Konjungtivitis Inklusi3
Merupakan konjungitivis yang disebabkan oleh infkesi klamidia yang
merupakan penyakit kelamin.
Epidemiologi
Masa inkubasi 5-10 hari. Klamidia menetap beberapa tahun sehingga
mudah terjadi infeksi ulang. Penyakit ini dapat bersifat epidemik karena
merupakan swimming pool konjungtivitis. Pada bayi timbul 3-5 hari
setelah lahir.
Tanda dan Gejala
Konjungtiva hiperemia, kemosis, psudomembran, hipertrofi folikel,
hipertrofi papil, pembesaran kelenjar preaurikuler.
Terapi
Pengobatan sistemik dengan eritromisin lebih efektif daripada topikal.

22
2. Konjungtivitis Virus Menahun
a) Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum
Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata
dapat menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral, keratitis
superior, dan pannus superior, dan mungkin menyerupai trachoma. Reaksi
radang yang mononuclear (berbeda dengan reaksi pada trachoma), dengan
lesi bulat, berombak, putih mutiara, non-radang dengan bagian pusat,
adalah khas molluscum kontagiosum. Biopsy menampakkan inklusi
sitoplasma eosinofilik, yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang
membesar, mendesak inti ke satu sisi.3
Eksisi, insisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi
memasukinya, atau krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya
b) Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster
Tanda dan gejala
Hyperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi vesikuler
khas sepanjang penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika
adalah khas herpes zoster. Konjungtivitisnya biasanya papiler, namun
pernah ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer, yang
kemudian berulserasi. Limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan terdapat
pada awal penyakit. parut pada palpebra, entropion, dan bulu mata salah
arah adalah sekuele. 1
Laboratorium
Pada zoster maupun varicella dilakukan pewarnaan Giemsa, kerokan dari
vesikel palpebra mengandung sel raksasa dan banyak leukosit
polimorfonuklear; kerokan konjungtiva pada varicella dan zoster
mengandung sel raksasa dan monosit. Virus dapat diperoleh dari biakan
jaringan sel sel embrio manusia. 1
Komplikasi
Iritis, skleritis, episkleritis, glaukoma, sikatrik pada kelopak, glaukoma,
katarak, kelumpuhan saraf III, IV, VI, atropi saraf optik, dan kebutaan.

23
Terapi
Pengobatan dengan kompres dingin. Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg
oral lima kali sehari selama 10 hari), jika diberi pada awal perjalanan
1
penyakit, agaknya akan mengurangi dan menghambat penyakit. Pada 2
minggu pertama dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa
sakit. Pada komplikasi dapat diberikan steroid, antiglaukoma dan
tetrasiklin.

2) Konjungtivitis Imunologik (Alergik):


a) Konjungtivitis Demam Jerami (Hay Fever)
Tanda dan gejala
Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai demam
jerami (rhinitis alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari,
rumput, bulu hewan, dan lainnya. Pasien mengeluh tentang gatal-gatal,
berair mata, mata merah, dan sering mengatakan bahwa matanya seakan-
akan tenggelam dalam jaringan sekitarnya. Terdapat sedikit penambahan
pembuluh pada palpebra dan konjungtiva bulbi, dan selama serangan akut
sering terdapat kemosis berat (yang menjadi sebab tenggelamnya tadi).
Mungkin terdapat sedikit sekret, khususnya jika pasien telah mengucek
matanya.
Laboratorium
Sulit ditemukan eosinofil dalam kerokan konjungtiva
Terapi
Meneteskan vasokonstriktor local pada tahap akut (epineprin, larutan
1:1000 yang diberikan secara topical, akan menghilangkan kemosis dan
gejalanya dalam 30 menit). Kompres dingin membantu mengatasi gatal-
gatal dan antihistamin hanya sedikit manfaatnya. Respon langsung
terhadap pengobatan cukup baik, namun sering kambuh kecuali anti-
gennya dapat dihilangkan.

24
b) Konjungtivitis Vernalis

Gambar 8. KonjungtivitisVernalis

Definisi
Penyakit ini, juga dikenal sebagai konjungtivitis musiman atau
konjungtivitis musim kemarau, adalah penyakit alergi bilateral yang
jarang.1,3 Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di
daerah dingin. Penyakit ini hampir selalu lebih parah selama musim semi,
musim panas dan musim gugur daripada musim dingin.
Insiden
Biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5 10
tahun. Penyakit ini lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. 5
Tanda dan gejala
Pasien mengeluh gatal-gatal yang sangat dan bersekret berserat-serat.
Biasanya terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan
lainnya). Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak
papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebra
superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papilla
raksasa berbentuk polygonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas
kapiler. Kompliasi Shiled Ulcer 1,3,5
Laboratorium
Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak
eosinofil dan granula eosinofilik bebas. 1

25
Terapi
Penyakit ini sembuh sendiri tetapi medikasi yang dipakai terhadap gejala
hanya member hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai untuk jangka
panjang. steroid sisremik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit
mempengharuhi penyakit kornea ini, dan efek sampingnya (glaucoma,
katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat merugikan.
Cromolyn topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang
sampai berat. Vasokonstriktor, kompres dingin dan kompres es ada
manfaatnya, dan tidur di tempat ber AC sangat menyamankan pasien.
Agaknya yang paling baik adalah pindah ke tempat beriklim sejuk dan
lembab. Pasien yang melakukan ini sangat tertolong bahkan dapat sembuh
total. 1,3
c) Konjungtivitis Atopik
Tanda dan gejala
Sensasi terbakar, mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian palpebra
eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla
halus, namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada
keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior.
Berbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis vernal, yang
terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada
perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi
berulangkali. Timbul keratitis perifer superficial yang diikuti dengan
vaskularisasi. Pada kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan
bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan. 1,3
Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada
pasien atau keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis
atopic sejak bayi. Parut pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan
pergelangan tangan dan lutut sering ditemukan. Seperti dermatitisnya,
keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut dan sering
mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal,
penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun.

26
Laboratorium
Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang
terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 1
Terapi
Antihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole
(10 mg empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan
sampai 200 mg) ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid
yang lebih baru, seperti ketorolac dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi
gejala pada pasien-pasien ini. Pada kasus berat, plasmaferesis merupakan
terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan komplikasi kornea berat,
mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk mengembalikan ketajaman
penglihatannya. 1,3

Diagnosis Banding Konjungtivitis Gambaran Klinis1


Tanda Bakterial Virus Alergi Toksik Clamidia
Injeksi Mencolok Sedang Ringan- Ringan- Sedang
Konjungtiva Sedang Sedang
Hemoragi + + - - -
Kemosis ++ +/- ++ +/- +/-
Eksudat Purulen Jarang, Berserabut - Berserabut
Mukopurulen air lengket lengket
putih
Pseudomembran +/- +/- - - -
Papil +/- - + - +/-
Folikel - + - + +
Nodus + ++ - - +/-
preaurikuler
Pannus - - - (kecuali - +
vernal)

27
G. Komplikasi
Pembentukan jaringan parut di konjungtiva paling sering terjadi dan

dapat merusak kelenjar lakrimal aksesorius dan penyumbatan duktus

lakrimal. Hal ini dapat mengurangi komponen humour aquor prakornea

secara drastis dan juga komponen mukosa karena kehilangan sebagian sel

goblet. Jaringan parut juga dapat mengubah bentuk palpebra superior dan

menyebabkan trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat menggesek

kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi dan parut pada kornea. Ulserasi

kornea marginal dapat terjadi pada infeksi N.gonorroeae, N. kochii N.

meningitidis, H. aegyptius, S. aureus dan M. catarralis. Jika produk toksik

dari N. gonorroeae berdifusi melalui kornea masuk camera anterior, dapat

timbul iritistoksik.1,3

H. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus
diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau
mata orang lain. Kita dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak
menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat,
mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan
menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk
membersihkan mata yang sakit.
2. Farmakologi
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakterial tergantung temuan
agen mikrobiologinya. Sebelum mendapatkan hasil kultur bakteri
penyebab konjugtivitis dilakukan penatalaksanaan terapi empirik.3 Terapi
sistemik diberikan pada pasien dengan infeksi N. gonorrhoeae and N.
meningitidis. Norfloxacin 1.2 gm sehari selama 5 hari, Cefoxitim 1.0 gm

28
or cefotaxime 500 mg. IV atau ceftriaxone 1.0 gm IM perhari selama 5
hari, atau Spectinomycin 2.0 gm IM selama 3 hari.1 Antibiotik topikal
seperti tetes mata chloramphenicol (1%), gentamycin (0.3%) atau
framycetin 3-4 kali sehari. bila tidak merepon dapat diberikan antibiotik
topikal seperti ciprofloxacin (0.3%), ofloxacin (0.3%) atau gatifloxacin
(0.3%).1,9
Irigasi conjunctival dengan larutan garam fisiologis dua kali suatu
sehari membantu dengan pemindahan material yang mengganggu.
pemberian Anti-Inflammatory dan obat penghilang sakit seperti ibuprofen
dan paracetamol dapat diberi selama 2-3 hari untuk mengurangi keluhan
yang dialami pasien. Pemberian steroids tidak direkomendasikan karena
dapat memperberat infeksi ke jaringan kornea.1

I. Prognosis
Konjungtivitis bakterial umumnya baik dan dapat sembuh sendiri tanpa

penobatan yang berlangsung 10-14 hari dan jika diobati berlangsung 1-3 hari.

Penyulit konjungtivitis yang disebabkan oleh golongan gonokokus karena

dapat masuk ke dalam darah yang menyebabkan septikemia dan meningitis.

Konjungtivitis bakterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan

menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.1

29
DAFTAR PUSTAKA
1. Khurana AK. Disease of the Conjunctiva. Dalam : Khurana AK. Author.
Comprehensive Opthalmology. Ed. 4th. New Delhi : New Age International.
2007. hal.51-87
2. Lang GK, Lang GE. Bacterial Conjunctivitis. Dalam : Lang GK. Author.
Ophthalmology : A Short Textbook. Stuttgar-New York : Thieme. hal.82-83
3. Garcia FJ, Schwab IR. Conjunctivitis. Dalam Eva PR, Whitcher JP. Editors.
General Ophthalmology. New York : Mc Graw Hill. 2007
4. Cervantes, L., dan Francis S Mah. Clinical Use of Gatifloxacin Ophtalmic
Solution for Treatment of bacterial Conjunctivitis. Clinical Ophtalmology.
2011
5. Ilyas S. Mata Merah dengan Penglihatan Normal. Dalam : Ilyas S. Author.
Ilmu Penyakit Mata. Ed. 4th. 2010
6. Singer MS, Langston DP, Levy BD. Conjunctivitis (Red Eye). The Health
Care of Homeless Persons. 2003. hal.11-
7. Quinn CJ, et al. Care of the Patient with Conjunctivitis. American
Optometric Association. 2002. hal.1-60
8. Banks MR. Conjunctivitis: More than Meets the Eye. The Canadian Journal
of Continuing Medical Education. 2002. hal.65-77
9. Sheikh A, Hurwitz B. Antibiotics Versus Placebo for Acute Bacterial
Conjunctivitis. The Cochrane Collaboration. 2009. hal. 1-17

30