Anda di halaman 1dari 11

ANTENA SERANGGA

Oleh :
Nama : Ryan Bagus Saputra
NIM : B1J014134
Rombongan : II
Kelompok :2
Asisten : Estri Jayanti

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Serangga merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi dengan


jumlah spesies hampir 80 persen dari jumlah total hewan di bumi. Dari 751.000 spesies
golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapatdi Indonesia. Serangga di bidang
pertanian banyak dikenal sebagai hama. Sebagian bersifat sebagai predator, parasitoid,
atau musuh alami (Purnomo, 2006).
Serangga adalah hewan yang teramsuk kedalam kelompok utama hewan beruas
Arthopoda yang memiliki tungkai enam atau tiga pasang. Dalam bahasa Yunani disebut
Hexapoda yang artinya berkaki enam. Kajian ilmu yang mempelajari tentang kehidupan
serangga disebut Entomologi. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat
adaptasi yang sangat tinggi. Lebih dari 800.000 spesies insekta sudah ditemukan.
Sebanyak 500 spesies bangsa capung (Ordata), 20.000 spesies bangsa belalang
(Orthopetra), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000
bangsa lalat dan jenis lainnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hempitera),
360.000 spesies bangsa kumbang (Coleptera), dan 110.000 bangsa lebah dan semut
(Hymenoptera) (Nurhayati & Anwar, 2015).
Ciri-ciri umum serangga adalah mempunyai appendage atau alat tambahan yang
beruas, tubuhnya bilateral simetri yang terdiri dari sejumlah ruas, tubuh terbungkus oleh
zat khitin sehingga merupakan eksoskeleton. Biasanya ruas-ruas tersebut ada bagian
yang tidak berkhitin, sehingga mudah untuk digerakkan. System syaraf tangga tali,
coelom pada serangga dewasa bentuknya kecil dan merupakan suatu rongga yang berisi
darah (Hadi et al., 2009). Serangga menyusun sekitar 64 % (950.000 spesies) dari total
spesies flora dan fauna yang diperkirakan ada dibumi ini (Jumar, 2000). Dengan jumlah
10 spesies dan individu yang begitu besar maka serangga memegang peranan yang
sangat penting dalam suatu ekosistem. Diantara peran tersebut adalah: herbivori, predasi,
parasitisme, dekomposisi, penyerbukan, dan sebagainya (Speight et al., 1999).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum kali ini adalah praktikan dapat menjelaskan tipe-tipe
antena dan menjelaskan bagian-bagian dari antena pada serangga.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Serangga memiliki tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Ukuran tubuh serangga
relatif kecil. Pada umunya serangga mengalami metamorfosis sempurna, yaitu siklus
hidup dengan beberapa tahapan yang berbeda: telur, larva, pupa, dan imago. Ordo
Lepidoptera, Diptera, Coleoptera, dan Hymenoptera adalah tipe ordo yang mengalami
metamorphosis secara sempurna. Adapula yang disebut dengan metamorphosis tidak
sempurna. Siklus tumbuh metamorfosis tidak sempurna dengan tahapan: telur, nimfa,
dan imago. Pada siklus ini tidak terjadi tahapan larva (Wigena, 1994).
Semua serangga dewasa dan nimfa kecuali protura memiliki sepasang antena
yang terletak pada bagian anterior kepala, dekat dengan mata majemuk. Beberapa
serangga pada bentuk larva, antenanya ada yang tereduksi. Fungsi utama antena adalah
sebagai indera dan pembau. Berabagai tipe rambut yang terletak pada antena bertindak
sebagai rangsangan fisik, pembau, suhu, kelembaban dan penerima suara. Antena sering
menjadi bagian dari proses birahi (mating) pada banyak serangga, contohnya antena yang
menyerupai sisir pada ngengat jantan, merasakan bau (feromon) yang dipancarkan oleh
ngegat betina pada spesies yang sama. Dimorfisme seksual serangga di antena
merupakan hal umum, antena jantan lebih kompleks dibandingkan dengan betina.
Antena digunakan sebagai suatu ciri taksonomi dalam identifikasi serangga karena
variasi yang dapat dibedakan dalam ukuran mapun bentuknya. Tipe-tipe antena
diantaranya adalah setaseus, moniliform, filiform, clavatus, geniculatus, pectinatus
(Hadi et al., 2009).
Antena pada serangga bervariasi bentuknya dengan fungsi sebagai alat sensor.
Borror (1992) menyatakan bahwa fungsi antena pada serangga merupakan alat perasa
dan bertindak sebagai organ-organ pengecap, organ pembau, serta organ untuk
mendengar. Antena memiliki segmen scape pada segmen pertama yang langsung
berhubungan dengan kepala, pedisel pada segmen kedua dan flagella pada segmen
berikutnya. Bervariasinya bentuk antena ini juga merupakan satu karakteristik pembeda
yang penting dalam serangga (Arora & Dhaliwal, 1999). Antena serangga sangat
berperan penting dalam menerima sinyal dari serangga lainnya dalam komunikasi
elektromagnetik (Abdolali et al., 2013).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum acara ini adalah mikroskop, pinset,
mikroskop stereo atau kaca pembesar, cawan petri, papan bedah dan gunting.
1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara ini adalah lalat rumah (Musca
domestica), kumbang tanduk (Xylotrupes gideon), nyamuk (Aedes aegypti),
lebah madu (Apis mellifera), kloroform, dan alkohol 70%.

B. Metode

1. Botol pembunuh serangga beserta alat dan bahan lainnya disiapkan.


2. Kapas ditetesi dengan kloroform, lalu dimasukkan ke dalam botol pembunuh
serangga dengan menggunakan pinset.
3. Serangga dimasukkan ke dalam botol pembunuh serangga dengan
menggunakan pinset, lalu botol ditutup dan ditunggu hingga obyek mati.
4. Serangga yang telah mati diambil menggunakan pinset.
5. Serangga diletakkan di atas papan bedah.
6. Tipe-tipe antena serangga diamati di bawah mikroskop.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 4.1. Tipe Antena Plumose Gambar 4.2. Tipe Antena Clavata
pada Nyamuk (Aedes aegypti) pada Kumbang Tanduk (Xylotrupes
gideon)

Gambar 4.5. Tipe Antena setaseus pada Kecoa


(Periplaneta americana)
B. Pembahasan

Pada umumnya antena serangga terbagi menjadi 3 ruas utama yaitu scape yang
merupakan ruas pertama melekat pada kepala, ruas kedua disebut dengan pedisel, dan
dan ruas ketiga disebut dengan flagellum. Bentuk dan ukuran antena pada setiap jenis
serangga berbeda beda. Beberapa bentuk antena tersebut adalah: filiform yaitu
bentuknya menyerupai benang dan pada setiap ruas mempunyai ukuran bentuk silindris
yang sama (Jumar, 2000). Berikut adalah beberapa tipe antena pada serangga menurut
Jumar (2000) :
1. Setaceus
Berbentuk seperti duri, ruas-ruasnya lebih mengecil pada bagian ujung. seperti
rambut kaku (Seta), makin ke ujung ruas-ruas antena maakin ramping, misalnya
Isoptera.
2. Filiform
Berbentuk seperti benang, setiap ruas memiliki ukuran yang hampir sama dan
biasanya berbentuk silindris, menyerupai tambang, tiap-tiap segmen yang
membentuk antena ukurannya sama, misalnya antena pada Valanga sp. (Orthoptera)
3. Moniliform
Berbentuk seperti untaian tasbih, ukuran ruas-ruasnya sama dan relatif berbentuk
bulat, seperti manik-manik, ruas-ruas antena berukuran sama dan berbentuk bulat,
misalnya Rhysodidae.
4. Serrata
Berbentuk seperti gergaji, ruas-ruas terutama yang terdapat pada setengah atau dua
pertiga dari ujung antena berbentuk segitiga, tiap-tiap segmennya berbentuk seperti
gigi, misalnya Elateridae.
5. Pektinate
Berbentuk seperti sisir, sebagian besar ruas-ruas memiliki juluran lateral langsing
dan panjang, setiap segmen memanjang ke arah samping seperti sisir, misalnya
Pyrochoroidae.
6. Bentuk Gada
Ruas-ruas di sebelah ujung antena meningkat garis tengahnya dan peningkatannya
terjadi secara betahap, misalnya pada Tenebrionidae dan kumbang Lady.
7. Clavate
Seperti moniliform tapi agak membesar kebagian ujungnya, misalnya Coccinellidae.
8. Kapitate
Ruas-ruas di sebelah ujung antena meningkat garis tengahnya dan peningkatannya
terjadi secara tiba-tiba, seperti clavate tetapi perbesaran ruas-ruas terakhir tiba-tiba
membesar, misalnya Nitidulidae.
9. Lamellate
Bila ruas-ruas ujung meluas ke samping membentuk gelabir-gelambir seperti piring
yang bulat atau oval, segmen paling ujung membesar dan menjadi lempengan,
misalnya Scarabaidae.
10. Flabelate
Bila ruas-ruas ujung seperti lembaran yang sisinya sejajar dan panjang atau gelambir-
gelambir berbentuk lidah meluas ke samping, semua segmen setelah pedicel
bentuknya seperti lempengan, misalnya Rhipiceridae.
11. Genikulata
Berbentuk siku, dengan ruas pertama panjang dan ruas-ruas berikutnya kecil dan
membengkok pada satu sudut dengan yang pertama, contoh pada kumbang
Chalcididae. Segmen pertama berukuran panjang diikuti oleh satu segmen yang lebih
kecil yang membentuk sudut dengan segmen pertama, misalnya Formicidae.
12. Plumosa
Berbentuk seperti bulu, kebanyakan ruas-ruasnya memiliki rambut-rambut panjang,
setiap segmen berambut lebat dan panjang, misalnya nyamuk jantan.
13. Aristate
Ruas terakhir biasanya membesar dan mengandung bulu-bulu dorsal yang banyak,
yaitu arista, seakan-akan dari segmen antena keluar lagi antena, misalnya Muscidae.
Misalnya pada lalat rumah.
14. Stilate
Ruas terakhir memiliki juluran yang berbentuk seperti stili atau jari yang memanjang,
segmen terakhir runcing dan agak panjang, misalnya Asilidae.
15. Bipectinate
Setiap segmen memiliki satu pasang rambut.
Antena pada serangga bervariasi bentuknya dengan fungsi sebagai alat sensor.
Borror (1992) menyatakan bahwa fungsi antena pada serangga merupakan alat perasa
dan bertindak sebagai organ-organ pengecap, organ pembau, serta organ untuk
mendengar. Antena memiliki segmen scape pada segmen pertama yang langsung
berhubungan dengan kepala, pedisel pada segmen kedua dan flagella pada segmen
berikutnya. Bervariasinya bentuk antena ini juga merupakan satu karakteristik pembeda
yang penting dalam serangga (Arora & Dhaliwal, 1999).
Lebah madu termasuk dalam ordo Hymenoptera yang terdiri atas kata hymeno: dewi
perkawinan; pteron: sayap. Lebah madu memiliki tipe sayap geniculate. Menurut Awad
et al. (2014) menyatakan bahwa pekerja lebah madu memiliki tipe antena geniculate
yang terdiri dari scape, pedicel dan flagellum yang terdapat 10 segmen. Lebah madu
yang dibahas disini adalah Apis mellifera dengan klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Hymenoptera
Family : Apidae
Genus : Apis
Species : Apis mellifera
Lalat rumah berukuran sedang, panjangnya 6-7,5 mm, berwarna hitam keabu-
abuan dengan empat garis memanjang pada bagian punggung. Mata lalat betina
mempunyai celah lebih lebar dibandingkan lalat jantan. Antenanya terdiri atas 3 ruas,
ruas terakhir paling besar, berbentuk silinder dan memiliki bulu pada bagian atas dan
bawah. Menurut Faraj et al. (2014) menyatakan bahwa tipe antenana musca domestica
adalah aristate. Antenna pada lalat rumah ini terdiri dari 3 segmen yakni ada scape yang
kecil dan berbentuk cup, cup pedicel berbentuk dua kali lebih panjang dari scape dimana
memiliki banyak setae pendek dan panjang, dan flagellum berbentuk lonjong lebih
panjang dari tiga kali dari scape, kedua sisi aristate terdapat rambut melebar ke ujung.
Bagian mulut atau probosis lalat seperti paruh yang menjulur digunakan untuk menusuk
dan menghisap makanan berupa cairan atau sedikit lembek. Klasifikasi lalat rumah
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthoropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Muscidae
Genus : Musca
Spesies : Musca domestica (Gauld, 1996)
Nyamuk memiliki tipe antenna yakni plumose. Menurut Widiyanti et al. (2016)
menyatakan bahwa karakteristik larva nyamuk Aedes aegypti yakni antena pada caput
tidak bercabang. Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Aedes
Spesies : Aedes aegypti (Borror, 1992).
Klasifikasi kumbang tanduk menurut (Borror, 1992) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthopoda
Classis : Insecta
Ordo : Coleoptera
Familia : Scarabaeidae
Genus : Xylotrupes
Spesies : Xylotrupes gideon
V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Tipe-tipe antena pada praktikum kali ini adalah clavata pada kumbang tanduk
(Xyptrupes gideon), genikulata pada lebah madu (Apis mellifera), plumose pada
nyamuk (Aedes aegypti), aristata pada lalat (Musca domectica) dan setaseus pada
kecoa (Periplaneta americana).
2. Bagian-bagian antena pada serangga terdiri dari tiga bagian, yaitu skape, pedikel,
dan flagellum.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan terkait acara ini adalah sebaiknya saat praktikum,
setiap praktikan diberi kesempatan untuk melihat bagian-bagian dari serangga
dengan lebih jelas, bukan hanya secara sekilas.
DAFTAR REFERENSI

Abdolali, A., Hasanzade, H., Salary, M. M. 2013. The Antenna Analysis of Insects
Antennae. World Journal of Modelling and Simulation, 9(3), pp.235-240.

Arora, R. & Dhaliwal G.S. 1999. The Insect diversity, Habits and Management. India:
Punjab Agricultur University.

Borror, D. J., C. A. Triplehorn, N. F. Johnson. 1992. An Introduction to the Study of


Insects. Harcourt Brace College Pub.

Gauld, I. & Bolton, B. 1996. The Hymenoptera (second edition). Oxford University
Press.

Hadi. M., U. Tarwotjo, R. Rahardian. 2009. Biologi Insekta: Etomologi. Yogyakarta :


Graha Ilmu.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta : Rineka Cipta.

Nurhayati, A., & Anwar, R. 2015. Prevalensi Cendawan Entomopatogenik, Neozygites


Fumosa (Speare) Remaudiere & Keller (Zygomycetes: Entomophthorales) pada
Populasi Kutu Putih, Paracoccus marginatus Williams & Granara De Willink
(Hemiptera: Pseudococcidae) di wilayah Bogor. Jurnal Entomologi Indonesia,
9(2): 71-79.

Purnomo, B. Dan Priyati N. 2006. Materi Kuliah Dasar Perlindungan


Tanaman. Bengkulu: Universitas Bengkulu.

Speight, M. R., Hunter, M. D. & Watt, A. D. 1999. Ecology of Insects: Concepts and
Applications. Oxford : Oxford University Press.

Widiyanti, N.L.P.M., Artawan, K., & Dewi N.P.S.R. 2016. Identifikasi Larva Nyamuk
yang Ditangkap di Perindukan di Kabupaten Buleleng. Prosiding Seminar
Nasional MIPA: 268-276.

Wigena, S. 1994. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Jakarta: Universitas Terbuka.