Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KEPERAWATAN PERIOPERATIF 4
OBSERVASI PULIH SADAR (ALDRETE SCORE)
Untuk memenuhi tugas Keperawatan Perioperatif 4
Yang dibimbing oleh Bapak Roni Yuliwar S.Kep., Ns., M.Ked.

Oleh
Kelompok 1
Fajrian Dwi Anggraeni 1401460003
Nurohaini Yulianingtyas 1401460012
Ahmad Hendi Herdianto 1401460016
Awaludin Jamal 1401460019
Rosyada Nirmala 1401460021
Luluk Mamluatul Ulumy 1401460035
M. Ilham Santoso 1401460037
Iqlima Alvein Nafiisah 1401460042
Firna Aprilianingsih 1401460044
Septyani Nevy Mega N. 1401460052

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
AGUSTUS 2017
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul Observasi Pulih Sadar (ALDRETE SCORE). Dalam penyusunan
makalah ini penulis banyak mendapat bimbingan, asuhan dan dorongan dari
berbagai pihak, untuk itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga kepada:

1. Terimakasih kepada tuhan Yang Maha Esa, karenma telah menjadi


pedoman bagi saya untuk menyelesaikan makalah ini.
2. Bapak Rony Yuliwar S.Kep., Ns., M.Ked sebagai dosen pembimbing
yang memberi motivasi bagi kami.
3. Kepada semua teman-teman DIV Keperawatan Malang yang telah
memberikan bantuan baik berupa dukungan nyata ataupun
semangat.
4. Serta pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Harapan penulis, makalah ini memberikan manfaat di dunia pendidikan,
khususnya dalam bidang kesehatan.

Malang, 7 Agustus 2017


Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .............................................................................................
i
KATA PENGANTAR ................................................................................................
ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................
iii
BAB I : PENDAHULUAN................................................................................
1
1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................
1
1.2 Tujuan................................................................................................
2
1.3 Rumusan Masalah.............................................................................
2
BAB II : PEMBAHASAN...............................................................................
2.1 Konsep Dasar Aldrete Score
2.1.1 Pengertian aldrete score................................................
2.1.2 Tujuan aldrete score........................
2.1.3 Metode/cara penilaian.........................................................
2.1.4 Indikasi menggunakan aldrete score.....................................
2.1.5 Prosedur............................................................................
2.1.6 Cara menarik kesimpulan..................................................
2.1.7 Hal-hal yang perlu diperhatikan.........................................
2.1.8 Waktu penilaian...............................................................
2.2 Kasus Di Ruang Recovery Room .........................

BAB III : PENUTUP.....................................................................................


3.1 Kesimpulan.
3.2 Saran..................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pulih dari anestesi umum atau dari analgesia regional secara rutin
dikelola di ruang pemulihan (Recovery Room) atau disebut juga Post
Anesthesia Care Unit (PACU). Idealnya adalah bangun dari anestesi secara
bertahap, tanpa keluhan dan mulus dengan pengawasan dan pengelolaan
secara ketat sampai dengan keadaan stabil. Prosedur pembedahan harus
menjalani anestesi dan melalui tahap pasca bedah, maka setiap pasien yang
selesai menjalani operasi dengan anestesi umum ataupun anestesi regional
terlebih dahulu dirawat di ruang pemulihan sebelum pindah keruang
perawatan atau langsung dirawat di ruang intensif.
Fase pasca operatif dapat terjadi kegawatan, sehingga perlu pengamatan
serius dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis sampai pengaruh
anestesi berkurang dan kondisi umum stabil. Perawatan di ruang pemulihan
bertanggung jawab memberikan perawatan pada pasien pasca operatif.
Peranan perawat pada pasien di ruang pemulihan sangat diperlukan dalam
memberikan bantuan keperawatan dan mengontrol komplikasi dan evaluasi
kembalinya fungsi-fungsi tubuh yang optimal. Periode pemulihan pasca
anestesi sangat tergantung pada perawatan pasca operatif di ruang pemulihan,
resiko ini berkurang jika perawatan pasca operatif di ruang pemulihan
dilakukan secara optimal sampai pasien sadar sepenuhnya.
Penatalaksanaan pasca operatif dan pemulihan dari anestesi sangat
memerlukan pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang professional.
Fase pasca operatif merupakan tahap lanjutan dari perawatan pra dan
intraoperatif. Tahap ini dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan
dan berakhir dengan serah terima pasien dengan perawat ruangan. Pada tahap
ini aktivitas keperawatan mencakup dan mengkaji efek anestesi, memantau
tanda-tanda vital dengan menggunakan Aldrete Score pada orang dewasa.
Pasca operasi anestesi umum dapat terjadi komplikasi ringan sampai dengan
berakibat fatal, yang berupa hipovolemia, kegagalan napas, pengelolaan pasca
bedah yang tidak kuat bahkan bisa terjadi kematian. Pada Aldrete Score
pasien dikaji tingkat kesadarannya, saturasi oksigen (SpO2), sirkulasi,
pernafasan dan aktifitas jika nilai pasien 8 maka pasien bisa dipindhakan di
ruang bangsal. Oleh karena itu, yang mengenai semua pasien dari jenis
anestesi setelah selesainya operasi harus dirawat diruang pemulihan.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui konsep dasar aldrete score.
2. Mengetahui penilaian berkala pada pasien post anesthesi.
3. Mengetahui observasi yang dilakukan pada pasien pasca operasi di
Recovery Room.
4. Mengetahui kasus yang terjadi pada saat di Recovery Room.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa sistem yang perlu diketahui tentang konsep aldrete score?
2. Bagaimana penilaian berkala pada pasien post anesthesia?
3. Apa saja yang diobservasi pada pasien post operasi/anesthesia?
4. Apa kasus yang terjadi pada saat pasien dipindah dari ruang operasi ke
Recovery Room?
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Aldrete Score

2.1.1 Pengertian Aldrete Score

Aldrete score adalah penilaian untuk menentukan apakah pasien sudah dapat
dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery Room (RR) atau
high care unit (HCU).

Pemantauan pasien pasca Anestesi di ruang pemulihan secara periodic dengan


parameter aktivitas,pernafasan,sirkulasi,dan kesadaran

2.1.2 Tujuan Aldrete Score

Tujuan Aldrete skor adalah untuk menilai status kesadaran, respirasi, tekanan
darah dan aktifitas pasien pasca anastesi. Mengoptimalkan keadaan pasien pasca
anesthesia, Keputusan tindak lanjut pasien pasca anesthesia.

2.1.3 Metode/cara Penilaian Aldrete Score

Sistem penilaian dengan aldrete score

Pendekatan penilaian yang paling umum digunakan adalah


kombinasi dari sistem penilaian aldrete dan penilaian sistem tubuh utama.
Sistem penilaian aldrete untuk mengevaluasi aktivitas pernafasan pasien
dan kewaspadaan oksigen. Hipertensi menghasilkan nilai numerik 0,1,
atau 2, di daerah tertentu, dengan mewakili 2 tingkat fungsi tertinggi.
Sistem penilaian aldrete adalah yang paling banyak Menggunakan sistem
penilaian di PACU walaupun nilai prediktif dalam menentukan pemulihan
dari anestesi belum diteliti secara prospektif (John. J and Karen, 2014: hal
1225).

Tabel Penilaian Aldrete Score

No Jenis Fungsi Admit 15 30 min 45 60


min min min
1 Aktivitas Mampu bergerak
spontan dengan
perintah, pada :
4 extrimitas 2 2 2 2 2
2 extrimitas 1 1 1 1 1
Tidak ada 0 0 0 0 0
extrimitas
2. Respirasi Bernapas spontan 2 2 2 2 2
Dyspnea 1 1 1 1 1
Apnea 0 0 0 0 0
3 Sirkulasi TD 20 mmHg 2 2 2 2 2
TD 20-50 1 1 1 1 1
mmHg
TD 50 mmHg 0 0 0 0 0
4 Kesadaran Sadar penuh 2 2 2 2 2
Respon hanya 1 1 1 1 1
terhadap
pangggilan
Tidak respon 0 0 0 0 0
5 Saturasi Lebih dari 90% di 2 2 2 2 2
oksigen udara terbuka
Lebih dari 90% 1 1 1 1 1
Dengan bantuan
oksigen
Kurang dari 90% 0 0 0 0 0
denga bantuan
oksigen
Penilaian berkala post anestesi, meliputi :
1. Fungsi respirasi

Parameter respirasi yang harus dinilai pasca anestesia adalah

No. Parameter Normal

1. Suara Napas paru Sama dengan kedua paru


2. Frekuensi napas 10 35 x/menit (tergantung usia)
3. Irama napas Teratur
4. Volume tidal Minimal 4 5 ml/kgbb
5. Kapasitas vital 20 40 ml/kgbb
6. Inspirasi paksa -40 cmH2O
7. PaO2pada FiO2 30% 100 mmHg
8. PaCO2 30 45 mmHg

Penilaian tersebut diatas dijumpai tanda-tanda insufisiensi respirasi, segera


dicari penyebabnya sehingga cepat dilakukan usaha untuk memulihkan
fungsinya.

a. Sumbatan jalan napas

Pasien tidak sadar sangat mudah mengalami sumbatan jalan napas akibat
dari jatuhnya lidah ke hipofaring, timbunan air liur atau sekret, bekuan
darah, gigi yang lepas dan isi lambung akibat muntah atau regurgitasi.

Sumbatan bisa terjadi pada daerah:


o Supra laring : lidah jatuh ke hipofaring, air liur, bekuan darah dan isi
lambung akibat muntah atau regurgitasi
o Laring : benda asing, spasme, edema dan kelumpuhan pita suara
o Infra laring : trakeo-malasea, aspirasi benda asing, dan spasme
bronkus. Usaha penanggulangannya disesuaikan dengan penyebabnya.

Tabel Usaha penanggulanan jalan napas

No. Tanpa alat Dengan alat

1. Tiga langkah jalan napas Pipa oro/nasofaring


2. Posisi miring stabil Pipa orotrakea
3. Sapuan pada rongga mulut Alat hisap

b. Depresi napas
Depresi sentral adalah yang paling sering akibat dari efek sisa opiat,
disamping itu bisa juga disebabkan oleh keadaan hipokapnea, hipotermia
dan hipoperfusi. Depresi perifer yaitu karena efek sisa pelupuh otot, nyeri,
distensi abdomen dan rigiditas otot. Usaha penanggulangannya
disesuaikan dengan penyebabnya.

Gangguan pada system respirasi lain adalah:


Obstruksi
Hipoksemia
Atelektasis
Edema Paru
Emboli Paru
Aspirasi
Bronkospasme
Hipoventilasi
2. Fungsi Kardiovaskuler
Parameter hemodinamik yang perlu diperhatikan adalah :

1. Tekanan darah

Tekanan darah normal berkisar 90/50 160/100. Aldreta


menilaiperubahan tekanan darah pasca anestesia dengan kriteria
sebagai berikut:

Perubahan sampai 20 % dari nilai prabedah = 2


Perubahan antara 20-50 % dari nilai prabedah = 1
Perbubahan melebihi 50 % dari nilai prabedah = 0

Sebab-sebab hipertensi pasca bedah adalah hipertensi yang


diderita prabedah, nyeri hipoksia dan hiperkarbia, penggunaan
vasopresor, dan kelebihan cairan. Dan ada pula sebab-sebab hipotensi /
syok pasca bedah adalah perdarahan, defisit cairan, depresi otot jantung
dan dilatasi pembuluh darah yang berlebihan. Penanggulangannya, dapat
disesuaikan dengan penyebabnya.

2. Dernyut Jantung

Denyut jantung normal berkisar 55 120 x/menit (tergantung


usia) dengan irama yang teratur. Sebab-sebab gangguan irama jantung:

1) Takikardia, disebabkan oleh hipoksia, hipovolumia, akibat obat


simpatomimetik, demam, dan nyeri.
2) Brakikardia, disebabkan oleh blok subarakhnoid, hipoksia (pada
bayi) dan reflek vagal.
3) Distrimia (diketahui dengan EKG), paling sering disebabkan
karena hipoksia.

Penanggualangannya adalah memperbaiki ventilasi dan oksigenasi.


Apabila sangat mengganggu dapat diberikan obat anti disritmia seperti
lidokain. Hal lain yang perlu mendapat perhatian pasca bedah yang
termasuk dalam sirkulasi adalah:

1) Perdarahan dari luka operasi yaitu kemungkinan adanya


perdarahan dari luka operasi, selalu harus diperhatikan. Adanya
perembesan dari luka operasi atau bertambahnya jumlah darah
dalam botol penampungan drainase luka operasi, perlu
dipertimbangkan untuk tindakan eksplorasi kembali.
2) Bendungan di sebelah distal dari tempat bekas luka operasi bisa
menimbulkan udema dan nyeri di daerah tersebut.

3. Fungsi Neuromuskular
Pembalikan blokade neuromuskular
Pembedahan relaksasi neuromuskular yang tidak lengkap dapat
menyebabkan penyumbatan jalan napas dan pascaoperasi. Kelumpuhan
sisa kompromi batuk, kepatenan saluran napas, kemampuan untuk
mengatasi hambatan jalan nafas, dan perlindungan saluran napas.
Intraoperatif relaksan short-acting lebih ringan dari kejadian kelumpuhan
resdual tapi tidak menghilangkan masalah. Agen reversal seperti
neostigmine dan endrophonium chloride akan diberikan bersamaan dengan
netrofine atau atrophine atau glikopyrrolate. Agen pembalikan baru,
sugammadex, dirancang secara khusus untuk membalikkan rocuronium,
keuntungan utama sugammadex adalah pembalikan blok neuromuskular
tanpa bergantung pada penghambatan asetil klorinesterase. Pembalikan
marjinal dapat lebih banyak bahaya daripada kelumpuhan total, karena
pasien yang mengalami agitasi yang menunjukkan suatu penyembuhan
menyebabkan gerakan dan hambatan jalan napas lebih mudah dikenali.
Pasien yang mengantuk menunjukkan stridor ringan dan ventilasi dangkal
dari fungsi neuromuskular marjinal mungkin diabaikan. Hipoventilasi
serius yang menyebabkan asidemia respirator pernapasan atau regurgitasi
dengan aspirasi dapat membuat surat menjadi sembuh. Pasien yang hidup
berdampingan adalah kelainan neuromuskular seperti mistemia grafis,
sindrom lamblin bayi, atau distrofi otot menunjukkan respons yang meluas
atau berkepanjangan terhadap relaksasi otot. Kejadian tanpa pemberian
relokasi otot, pasien tersebut menunjukkan insufisiensi pernapasan pasca
operasi membentuk reservoir neuromuskular yang tidak memadai.
Uji di samping tempat tidur sederhana membantu kemampuan mekanik
untuk berventilasi. Kapasitas vital yang dipaksakan 10-12 mm / kg dan
tekanan inspirasi lebih negatif dari -25 cm H2O menyiratkan yang aneh
dari otot ventilasi cukup untuk mempertahankan ventilasi. Elevasi kepala
yang berkelanjutan dalam posisi terlentang, tingkat tangan, kemampuan
untuk menggigit, menelan dan menjulurkan lidah mudah dinilai
parameternya. Langkah-langkah ini, bersama dengan taktil-dari empat dan
stimulasi rangsangan ganda, lebih tepat memprediksi kemampuan pasien
untuk mempertahankan ventilasi yang berkelanjutan.
6. Status Mental

Pemanjangan pemulihan kesadaran, merupakan salah satu


penyulit yang sering dihadapi di ruang pulih. Banyak faktor penyulit yang
sering dihadapi di ruang pulih. Banyak faktor yang terlibat dalam
penyulit ini. Apabila hal ini terjadi diusahakan memantau tanda vital yang
lain dan mempertahankan fungsinya agar tetap adekuat. Disamping itu
pasien belum sadar tidak merasakan adanya tekanan, jepitan atau
rangsangan pada anggota gerak, mata atau pada kulitnya sehingga mudah
mengalami cedera, oleh karena itu posisi pasien diatur sedemikian rupa,
mata ditutup dengan plester atau kasa yang basah sehingga terhindar dari
cedera sekunder selama durasi operasi.

Masalah gelisah dan berontak, seringkali mengganggu suasana


ruang pulih bahkan bisa membahayakan dirinya sendiri. Penyebab gaduh
gelisah pasca bedah adalah :

1) Pemakaian ketamin sebagai obat anestesia


2) Nyeri yang hebat
3) Hipoksia
4) Buli-buli yang penuh
5) Stres yang berlebihan prabedah
6) Pasien anak-anak, seringkali mengalami hal ini

Komplikasi pasien post anestesia seperti tanda lambat bangun yaitu


yang terjadi bila ketidaksadaran selama 60 90 menit setelah anestesi
umum. Hal ini bisa diakibatkan :

1) Sisa obat anestesi


2) Sedatif
3) Obat analgetik
4) Penderita dengan kegagalan organ, misalnya:
o Disfusi hati, ginjal
o Hipoproteinemia
o Umur
o Hipotermia
Ada beberapa obat untuk menetralisir obat anestesi, yaitu

a. Nalokson (0,2 mg), terhadap efek opiat.


b. Flumazenil (0,5 mg) terhadap efek benzodiazepine.
c. Phisostigmin (1-2 mg) terhadap efek obat pelumpuh otot.
7. Nyeri

Trauma akibat luka operasi sudah pasti akan menimbulkan nyeri.


Hal ini harus disadari sejak awal dan bila pasien mengeluh rasa nyeri atau
ada tanda-tanda pasien menderita nyeri, segera berikan analgetika.

Diagnosis nyeri ditegakkan melalui pemeriksaan klinis


berdasarkan pengamatan perubahan perangai, psikologis, perubahan fisik
antara lain pola napas, denyut nadi dan tekanan darah, serta pemeriksaan
laboraturium yaitu kadar gula darah. Intensitas nyeri dinilai dengan
visual analog scale (VAS) dengan rentang nilai dari 1-10 yang dibagi
menjadi :

1) Nyeri ringan ada pada skala 1-3


2) Nyeri sedang ada pada skala 4-7
3) Nyeri berat ada pada skala 8-10
Pedoman penanggulangan nyeri pasca bedah mempergunakan
konsep analgesia preemptif, melalui pendekatan trimodal dengan
analgesia balans yaitu:

1) Menekan pada proses transduksi di daerah cedera,


mempergunakan preparat atau obat yaitu analgesia lokal atau
analgetik non steroid atau anti prostaglandin, misalnya : asam
mefenamik, ketoprofen dan ketorolac.
2) Menekan pada proses transmisi, mempergunakan obat analgesia
lokal dengan teknik analgesia regional, seperti misalnya blok
interkostal dan blok epidural.
3) Menekan pada proses modulasi mempergunakan preparat
narkotika secara sistemik yang diberikan secara intermiten atau
tetes kontinyu atau diberikan secara regional melalui kateter
epidural.
4) Nyeri luka operasi laparotomi, menimbulkan pengaruh yang
serius terhadap fungsi respirasi. Pengambangan diafragma kearah
rongga abdomen akan menurun, menyebabkan kapasitas residu
fungsional akan menurun sehingga ventilasi alveolar berkurang.
Disamping itu kamampuan batuk pasca bedah untuk
mengeluarkan sputum berkurang sehingga timbul retensi sputum.
Oleh karena itu pada pasien pasca laparotomi tinggi yang
insisinya mencapai prosesus sifoideus dilakukan ventilasi
mekanik selama 1 x 24 jam, selanjutnya pada saat yang sama
dipasang kateter epidural untuk mengendalikan nyeri
mempergunakan preparat opiat (morfin).
8. Suhu
Penyulit hipotermi pasca bedah, tidak bisa dihindari terutama pada pasien
bayi/anak dan usia tua. Beberapa penyebab hipotermi di kamar operasi
adalah:

1) Suhu kamar operasi yang dingin


2) Penggunaan desinfektan
3) Cairan infus dan transfusi darah
4) Cairan pencuci rongga-rongga pada daerah operasi
5) Kondisi pasien (bayi dan orang tua)
6) Penggunaan halotan sebagai obat anestesia
Usaha-usaha untuk meghangatkan kembali diruang pulih adalah
dengan cara:

1) Pada bayi, segera dimasukkan dalam inkubator


2) Pasang selimut penghangat
3) Lakukan penyinaran dengan lampu
Hipertermi pun harus diwaspadai terutama menjurus pada
hipertermia malignan. Beberapa hal yang bisa menimbulkan hipertermi
adalah :

1) Septikhemia, terutama pada pasien yang menderita infeksi


pembedahan.
2) Penggunaan obat-obatan, seperti: atropin, suksinil, kholin dan
halotan.
Usaha penanggulangannya adalah:

1) Pasien didinginkan secara konduksi menggunakan es


2) Infus dengan cairan infus dingin
3) Oksigenasi adekuat
4) Antibiotika, bila diduga sepsis
5) Bila dianggap perlu, rawat di Unit Terapi Intensif

9. Fungsi saluran cerna


Kemungkinan terjadi regurgitasi atau muntah pada periode pasca
anestesia/bedah, terutama pada kasus bedah akut, senantiasa harus
diantisipasi. Untuk mengatisipasi hal ini, pencegahan regurgitasi/muntah
lebih penting artinya daripada menangani kejadian tersebut. Akan tetapi
bila terjadi penyulit seperti ini maka tindakan yang cepat dan tepat sangat
diperlukan untuk mengatasi jalan napas. Walaupun demikian kemungkinan
terjadi aspirasi asam lambung senantiasa mengancam. Bila hal ini terjadi,
pasien dirawat secara intensif di Unit Terapi Intensif karena pasien akan
mengalami ancaman gagal napas akut.

10. Urine Output


Perhatikan produksi urin, terutama pada pasien yang dicurigai risiko tinggi
gagal ginjal akut pasca bedah/anestesia.Pada keadaan normal produksi urin
mencapai > 0,5 cc/KgBB/jam, bila terjadi oliguria atau anuria, segera
dicari penyebabnya, apakah pre renal, renal atau salurannya.

2.1.4 Indikasi menggunakan Aldrete Score

Ada pun indikasi dari aldrete score yaitu :

- Pasien dewasa yang telah menjalani operasi


- Pasien post operasi terutama dengan general anastesi
- Pasien yang akan dipindahkan ke ruang rawat inap
- Akan dilakukan pemindahan pasien, yaitu di ruang rawat inap atau ICU
(tergantung hasil dari aldrete score)
- Pasien dewasa yang dapat diukur parameter aktivitas, pernapasan,
sirkulasi, dan kesadarannya
2.1.5 Prosedur

SKOR ALDRETTE

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :

00 - 1/2 -
RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH KOTA
MATARAM

Tanggal ditetapkan Ditetapkan oleh:

Direktur RSUD Kota Mataram


STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
Dr. H. Lalu Herman Mahaputra, M.Kes.

NIP. 19681110 200112 1 003

Pemantauan pasien pasca Anestesi di ruang pemulihan secara periodik

PENGERTIAN dengan parameter aktivitas,pernafasan,sirkulasi,dan kesadaran

1. Mengoptimalkan keadaan pasien pasca anestesia

TUJUAN 2. Keputusan tindak lanjut pasien pasca anestesia

Keputusan direktur RSUD Kota Mataram No

KEBIJAKAN tentang pedoman pelayanan anestesi dan bedah di RSUD Kota Mataram

PROSEDUR 1. Pasien pasca anestesi harus dipulihkan ke ruang pulih dan tidak boleh
ditinggal oleh pengawas medis sampai pulih sepenuhnya dari anestesi
dan sedasi.
2. Alat suction dan troli emergensi harus tersedia di dalam ruang pulih.
3. Setiap pasien pasca bedah diobservasi di ruang pulih dengan penilaian
secara periodik menggunakan Sistem Skor Aldrete.
4. Apabila dalam observasi di ruang pulih dan telah ditangani sesuai
prosedur tetapi pasien tidak memenuhi kriteria pulang / Aldrete maka
pasien tersebut harus dievaluasi kembali oleh DPJP Bedah dan atau
anestesi.
5. Hasil penilaian menjadi dasar untuk memutuskan apakah pasien perlu
rawat di ruang intensif.
6. DPJP menginformasikan mengenai rencana perawatan tersebut kepada
pasien dan keluarga pasien
7. Semua proses perioperatif yang mendasari perubahan rencana harus
terdokumentasi dan dimasukkan dalam rekam medis pasien.
Obyek Kriteria Nilai
Mampu menggerakkan empat ekstremitas 2
Aktivitas Mampu menggerakkan dua ekstremitas 1
Tidak mampu menggerakkan ekstremitas 0
Mampu nafas dalam dan batuk 2
Respirasi Sesak atau pernafasan terbatas 1
Henti nafas 0
Berubah sampai 20% dari pra bedah 2
Tekanan
Berubah 20% 50% dari pra bedah 1
darah Berubah > 50% dari pra bedah 0
Sadar baik dan orientasi baik 2
Kesadaran Sadar setelah dipanggil 1
Tak ada tanggapan terhadap rangsang 0
Kemerahan 2
Warna Pucat agak suram 1
Kulit Sianosis 0
Nilai Total

SKOR ALDRETTE

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :

00 - 2/2 -
RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH
KOTA MATARAM

Penilaian dilakukan pada:

a. Saat masuk.
PROSEDUR b. Lima belas menit setelah masuk
Nilai minimal untuk pengiriman pasien adalah 7 - 8 dengan catatan nilai
kesadaran boleh 1 dan aktivitas bisa 1 atau 0 sedangkan yang lainnya harus 2

1. Ruang operasi
UNIT TERKAIT
2. Ruang Pulih (RR)

2.1.6 Cara Menarik kesimpulan


Pendekatan penilaian yang paling umum digunakan adlaah kombinasi dari
system penilaian aldrete skor dan penilaian system tubuh utama. System penilaian
aldrete untuk mengevaluasi pernafasan pasien dan kewaspadaan oksigen.
Hipertensi menghasilkan nilai numeric 0,1 atau 2, didaerah tertentu, dengan
mewakili 2 tingkat fungsi tertinggi. Sistempenilaian aldrete skor yang banyak
menggunakan system penilaian PACU walaupun nilai prediktif dalam menentukan
pemulihan dari anestesi belum diteliti secara prospektif (john J and Karen, 2014).
Dalam penarikan kesimpulan pasien bisa kembali keruangan atau tidak adalah jika
jumlah total nilainya >8, maka pasien bisa kembali keruangan.

2.1.7 Hal-hal yang perlu diperhatikan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian Aldrete Score


(Barone,dkk 2004 dalam Ayu, 2015) :

1. Durasi selama pembedahan


2. Jenis pembedahan
3. Tekknik anesthesi
4. Jenis obat dan dosis yang diberikan
5. Kondisi umum pasien

Selain hal tersebut menurut Muda, 2015 hal yang perlu diperhatikan di ruang
recovery room adalah alat monitoring untuk memberikan penilaian terhadap
kondisi pasien, jenis peralatan diantaranya adalah oksigen, laringoskop, set
trakheostomi, peralatan bronkhial, keteter nasal, ventilator mekanik dan peralatan
suction, dan juga alat untuk memantau hemodinamika.

2.1.8 Waktu Penilaian

Skala pengukuran waktu pemulihan pasien di ruang pemulihan


yaitu setelah masuk di ruang pemulihan, dalam 15 menit pertama
dilakukan monitoring ketat seperti pernafasan, TD, nadi, suhu,
perdarahan , dan sensibilitas nyeri diperiksa setiap 5 menit atau hingga
stabil, setelah itu dilakukan tiap 15 menit. Pulse oximetry dimonitoring
hingga pasien sadar kembali. Bila tidak ada petunjuk khusus pemeriksaan
dilakukan tiap 30 menit (Wijaya, 2008).
Metode yang digunakan dalam menentukan pemulihan pasien
dengan anestesi umum yaitu dengan menilai Aldrete score saat pasien
masuk di ruang pemulihan, selanjutnya dilakukan setiap saat sampai pulih
sepenuhnya dari pengaruh anestesi yaitu pasien mempunyai tekanan darah
stabil, fungsi pernafasan adekuat, saturasi O2 minimal 95%, dan tingkat
kesadaran baik. Idealnya pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan
bila jumlah Aldrete score total adalah 10. Namun bila skor total 8 tanpa
nilai 0 pasien boleh keluar dari ruang pemulihan. Untuk penderita rawat
jalan, setelah aldrete score mencapai 10 tidak boleh langsung pulang,
tetapi harus menunggu minimal 2 jam lebih dulu (Soenarjo et al, 2013).

2.2 Kasus Di Ruang Recovery Room

Di Ruang RR

Tn. X post op laparotomy, dengan General Anastesi. Baru keluar


dari ruang operasi 10 menit yang lalu. TD : 100/60 mmHg, N : 60x/menit,
RR: 12x/menit, S: 36,2oC. Pasien masih belum sadar dan menggunakan
NRBM 8 lpm. Perawat RR memeriksa tanda-tanda vital tiap 15 menit
selama 1 jam pertama. 1 jam setelah post operasi perawat melakukan
perhitungan Aldrete Score, didapatkan nilai 10.

Perawat Operasi : Tn. X post op laparotomy, Dx medis Apendix


Perporasi, Dx Keperawatan: Nyeri dan Resiko Infeksi b.d Infeksi pada
apendik (perforasi pus). TTV TD: 100/60 mmHg, N: 60x/menit, RR:
12x/menit, S: 36,2oC. Pasien terpasang infus RL 500 ml 12 tpm, terpasang
kateter ( buang urin 500 cc), terpasang drain ( produksi pus campur darah
positif isi 20 cc). luka oprasi bersih, luka drain bersih. Tolong dipantau
kesadaran, dan TTV karena pasien tati mengalami hipotensi.

Perawat RR1: baiklah saya terima pasien atas nama Tn. X post op
laparotomy apendixitis perforasi.
Perawat melakukan opservasi tiap 15 menit selama satu jam
pertama dan menghitung aldrete score pada 1 jam pertama.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada pasien post operasi/post
anesthesia harus dilakukan observasi menggunakan aldrete score. Aldrete score
merupakan alat ukur yang sudah baku khusus untuk pasien post operasi/ post
anesthesia. Bukan hanya menggunakan aldrete score, sistem organ yang lain juga
harus diobservasi. Ruang observasi pada post operasi/ post anesthesia yaitu
Recovery Room.

3.2 Saran

Saran untuk penulis selanjutnya


Sebaiknya penulis selanjutnya dapat menerangkan lebih detail pada
tinjauan teori dan mendapatkan referensi yang lebih banyak lagi.
Saran untuk pembaca
Untuk pembaca sebaiknya menambah buku referensi agar bias
membandingkan.
DAFTAR PUSTAKA