Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS UJI TARIK SUATU MATERIAL DENGAN PEMBEBANAN TIDAK

SIMETRIS

NAMA : CASMINTO (5201417016)


PRODI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
PEMBIMBING : DR. HERI YUDIONO, MT

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2017/2018
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan menyebut nama Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta nikmat-
Nya. Hingga pada akhirnya saya dapat menyusun tugas mata kuliah Bahan teknik dengan
judul ANALISIS UJI TARIK SUATU MATERIAL DENGAN PEMBEBANAN TIDAK
SIMETRIS. Penyusunan ini berdasarkan dari beberapa jurnal baik nasional maupun
internasional serta didapat juga dari beberapa e book dan lainnya. Diharapkan analisa uji tarik
ini dapat bermanfaat buat para pembaca, aamiin.
Ucapan terimakasih kepada Pak Heri Yudiono sebagai dosen pengampu yang telah
memberikan pengetahuan akan mata kuliah Bahan teknik dan juga bimbingannya. Terima
kasih juga kepada teman-teman fakultas teknik yang menjadi motivator sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas bahan tehnik ini . Kritik dan saran saya harapkan untuk artikel ini
sebagai landasan saya untuk lebih baik kedepannya.
Bilahitaufik walhidayat wassalamualaikum Wr. Wb.

Semarang, 24 September 2017


A. Identifikasi Uji Tarik
Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui sifat mekanik logam
adalah uji tarik. Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan
suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang berlawanan arah. Hasil
yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain
produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian tarik banyak dilakukan
untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data
pendukung bagi spesifikasi bahan. Karena dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan
suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara perlahan.
Dalam uji tarik suatu material diperlukan sebuah alat atau mesin untuk mengujinya.
Mesin uji tarik diperlukan dalam kegiatan engineering untuk mengetahui sifat-sifat mekanik
suatu material. Mesin uji tarik terdiri dari beberapa bagian pendukung utama, diantaranya
:kerangka, mekanikme pencekam spesimen, sistem penarik dan mekanikme, serta sistem
pengukur. Berikut adalah skema peralatan pada mesin uji tarik (Jurnal J-Ensitec: Vol 03|No.
01, November 2016):

Pengujian tarik bertujuan untuk mengetahui sifat mekanis dari suatu logam terhadap tarikan
dari bahan yang akan di uji. Pengujian tarik dapat diketahui beberapa sifat mekanik material
yang sangat dibutuhkan dalam desain rekayasa yaitu kekuatan (tegangan), keuletan (elongasi)
dan modulus elastisitas. Menurut surdia (1995), hubungan antara tegangan dan regangan pada
beban tarik ditentukan dengan rumus sebagai berikut.

Dimana:
F = gaya (N)
A = luas penampang (mm2)
= tegangan (Mpa).
Menurut surdia (1995), bahwa besarnya regangan adalah jumlah pertambahan panjang. Nilai
regangan ini adalah regangan proporsional yang didapat dari garis Proporsional pada grafik
tegangan-tegangan hasil uji tarik.
Dimana :
= regangan (mm/mm)
=pertambahan panjang (mm)
Lo = panjang mula-mula (mm)
Menurut surdia (1995), daerah proporsional adalah daerah dimana tegangan regangan yang
terjadi masih sebanding. Defleksi yang terjadi masih bersifat elastis dan masih berlaku
hukum hooke. Besarnya nilai modulus elastisitas spesimen merupakan perbandingan antara
tegangan dan regangan pada daerah proporsional yang dapat dihitung dengan persamaan.

Dimana :
E = modulus elastisitas (Mpa).
= kekuatan tarik (Mpa).
= regangan (mm/mm)

dengan dasar dan uji tarik tersebut dapat membuktikan hukum hooke bahwa strees/tegangan
adalah beban di bagi dengan luas penampang dan strain/regangan dalah pertambahan panjang
dibagi dengan panjang awal bahan uji.
B. Langkah langkah pengujian tarik
Langkah-langkah pengujian tarik adalah sebagai berikut:
1. Lakukan pengecekan terhadap mesin uji tarik.
2. ettimg atau lakukan pengaturan pada indicator, seperti ketelitian Load Cell pada tampilan
indicator.
3. Lakukan pengkalibrasian terhadap alat ukur Load Cell ter hadap indicator.
4. Setting indicator, seperti satuan yang digunakan, baud rate dan lain-lain.
5. Hubungkan kabel RS232 dari indicator ke komputer.
6. Setting pada komputer sehingga indicator dapat terbaca.
7. Siapkan alat ukur seperti jangka sorong atau micrometer.
8. Siapkan spesimen yang akan di uji, yaitu dengan mengampelas spesimen, karena spesimen
uji harus halus dan bersih. (Jurnal Mechanical, Volume 4, Nomor 2, September 2013)

Gambar. Dimensi sampel untuk uji tarik menurut standar ASTM E 8M (mm).
9. Ukur dimensi spesimen yang akan di uji, seperti panjang dan diameternya.
10. Pasangkan spesimen pada mesin uji tarik, pasangkan kedua ujungnya dengan benar dan
tegak lurus.
11. Lakukan pemberian beban tarik pada spesimen
12. Penarikan atau pemberian beban tarik dimulai dari nol, dengan penambahan beban secara
merata agar tidak terjadi beban kejut.
13. Selama pengujian berlangsung akan terjadi pertambahan panjang dan pengecilan
penampang sampai terjadinya patah atau putus.
14. Hitung berapa kali putaran tuas pemutar berputar dari awal pembebanan hingga spesimen
patah.
15. Lakukan pencatatan data hasil pengujian.
16. Untuk memudahkan dalam pembuatan kurva uji tarik, sebaiknya minimal setiap lima kali
putaran dicatat data perubahan panjang, diameter dan beban tariknya.
17. Setelah terjadinya patah pada spesimen atau pengujian selesai, lakukan pengukuran lagi
terhadap dimensi spesimen.
18. Olah data hasil pengujian sehingga menjadi kurva uji tarik.

Di atas merupakan salah satu gambar sekaligus grafik hasil uji tarik yang pembebanannya
simetris. Dan menunjukan benda atau material mengalami patahan simetri di tengah tengah
spesimen. Pada grafik juga didapat benda putus setelah melewati tegangan tarik maksimum.
C. Analisis Hasil uji material pembebanan tidak simetris
F

Gb. Uji tarik dengan beban (F) tidak simetris


Berdasarkan analisis pengujian uji tarik pada material dengan pembebanan tidak
simetris maka dihasilkan bahwa material tidak mengalami patahan melainkan mulur (creep)
dan bengkok. Hal ini disebabkan karena pada saat alat uji tarik mulai bekerja pada material
yang tidak simetris maka secara otomatis akan terjadi tegangan geser sejauh beberapa mili
pada salah satu sisi baik sisi atas ataupun bawah bahkan bisa pada kedua sisi. Sehingga
dikarenakan ketidakseimbangan tadi maka material hasil uji tadi berbentuk bengkok.
Selain bengkok apabila material yang tadi diuji mengalami patahan maka pada bekas
patahannya akan mengalami pengrucutan (meruncing).

Gambar. Uji tarik patah meruncing

Setelah di analisa ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi pada uji tarik
suatu material itu tidak simetris, diantaranya :
Mesin uji tarik mengalami kehausan di bagian penjepit spesimen (material) sehingga
pada saat awal pemasangan bahan uji tidak simetris.
Kurang sejajar dalam pemasangan benda uji tarik, artinya pada saat pemasangan
spesimen disalah satu sisi ada yang terlalu masuk dan ada yang terlalu keluar.
Adanya perbedaan struktur (campuran) penyusun bahan uji.

D. Kesimpulan
Pada uji tarik suatu material dilakukan untuk mengetahui tingkat kekuatan
material tersebut sebelum nantinya digunakan untuk keperluan lain. Uji material
dilakukan dengan berbagai langkah langkah yang mana harus benar benar
diperhatikan agar hasil pengujian sesuai dengan standar yang di pakai. Apabila dalam
pengujian uji tarik material tidak dilakukan dengan cermat maka yang timbul adalah
salah satunya ketidaksimetrisan dalam pembebanan uji tarik yang mana pada analisis
ini mengakibatkan material hasil uji tarik mengalami pembengkokan dan apabila
patah maka akan meruncing pada ujung ujung permukaan yang patah.
Daftar pustaka
Callister, W.D. (2007). Material Science and Engineering: An Introduction. Seventh
Edition. New York: John Willey & Sons, Inc.
Mulyadi.(2016). Pengaruh Model Speciment Uji Tarik Pada Pengelasan Besi Fc.
Jurnal Vol. 1 No. 2
Surdia, T dan Saito, S. (1992). Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta: P.T. Pradnya
Paramitha.
Budiman, Haris. (2016). Analisis Pengujian Tarik (Tensile Test) Pada Baja ST37
Dengan Alat Bantu Ukur Load Cell. Jurnal J-Ensitec: Vol 03. 01
Nofriady. H dan Ismet Eka. P (2013). Makrostruktur dan Permukaan Patah dalam Uji
Tarik Terhadap Perlakuan Panas pada Baja Karbon Rendah. Jurnal Mechanical, Vol
4. 2