Anda di halaman 1dari 20

MODUL PERKULIAHAN

Struktur
Baja I
Perencanaan Struktur Baja
Batang Tekan (Tekuk Lokal)

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

6
Fakultas Teknik Sipil MK11052 Resi Aseanto, ST, MT
Teknik Perencanaan
dan Desain

Abstract Kompetensi
Matakuliah Struktur Baja I mengenai Mahasiwa mampu memahami efisiensi,
Perencanaan Struktur Baja. duktilitas, ketelitian, kehandalan dan
adaptibilitas bahan baja untuk terapan
tipe struktur/konstruksi dan memahami
metode perhitungan konstruksi baja.

1
BATANG TEKAN
(COMPRESSSION MEMBER)

7. Tekuk Lokal.

Pada penampang komponen struktur tekan, yang mempunyai ketebalan sangat tipis
dibandingkan lebarnya, yaitu pada badan atau sayap, maka besar kemungkinan akan terjadi
tekuk lokal. Yaitu tekuk yang terjadi pada sebagian tempat pada penampang tersebut. Ini
berakibat komponen struktur tersebut tidak mampu memikul beban secara penuh. Artinya
struktur akan runtuh sebelum mencapai kapasitasnya.

Klasifikasi penampang untuk tekuk lokal, dapat dilihat dari beberapa standar sebagai
rujukan seperti tertera berikut ini :

a. SNI 03-1729-2002.

Penampang diklasifikasikan sebagai penampang kompak (compact = padu), tak


kompak (noncompact) atau penampang langsing. Untuk penampang kompak, bagian sayap
(flanges) harus menyatu dengan badan (web) secara menerus atau bagian badan mempunyai
angka perbandingan antara lebar dan tebalnya (p) pada elemen tertekan tidak melampaui
seperti yang terdapat pada Tabel 7.5-1. Apabila angka perbandingan antara lebar dan tebal
dari salah satu atau lebih elemen yang tertekan melampaui p, tetapi tidak lebih besar dari r,
dikatakan penampang tak kompak (noncompact). Jika angka perbandingan antara lebar dan
tebal pada setiap elemen melampaui r maka disebut elemen penampang langsing. seperti
berikut,

Jika b/t, d/t, h/tw p penampang kompak (compact)


Jika p < b/t, d/t, h/tw r penampang tak kompak (noncompact)
Jika b/t, d/t, h/tw > r elemen penampang langsing (slender element
sections).

1
2
Plastic Strength
p Inelastic

r
Elastic Strength

0
Compact p Non-Compact r Slender

Gambar 15 : Batas kelangsingan elemen penampang profil tertekan.

3
b. A I S C - 2005.

Penampang diklasifikasikan sebagai penampang kompak (compact = padu), tak


kompak (noncompact) atau penampang langsing. Untuk penampang kompak, bagian sayap
(flanges) harus menyatu dengan badan (web) secara menerus atau bagian badan mempunyai
angka perbandingan antara lebar dan tebalnya (p) pada elemen tertekan tidak melampaui
seperti yang terdapat pada Tabel B4.1. Apabila angka perbandingan antara lebar dan tebal
dari salah satu atau lebih elemen yang tertekan melampaui p, tetapi tidak lebih besar dari r,
dikatakan penampang tak kompak (noncompact). Jika angka perbandingan antara lebar dan
tebal pada setiap elemen melampaui r maka disebut elemen penampang langsing, seperti
berikut,

Jika b/t, d/t, h/tw p penampang kompak (compact)


Jika p < b/t, d/t, h/tw r penampang tak kompak (noncompact)
Jika b/t, d/t, h/tw > r elemen penampang langsing (slender element
sections).

Nilai modulus elastisitas E = 29.000 ksi, atau E = 200.000 Mpa, dan Fy adalah tegangan
leleh, selanjutnya tabel tersebut dapat dilihat pada halaman berikut.

4
AISC 2005

5
AISC 2005

6
AISC 2005

c. A I S C - 2010.

Dalam AISC 2010, penampang batang yang memikul gaya sentris tekan
diklasifikasikan menjadi elemen penampang langsing (slender) dan tidak langsing
(nonslender). Elemen penampang tidak langsing apabila angka perbandingan antara lebar
dengan tebal elemen tertekan (b/t) tidak melampaui seperti yang terdapat dalam Tabel B4.1a.
Elemen penampang langsing apabila angka perbandingan antara lebar dengan tebal telah
melampaui nilai seperti terdapat dalam tabel tersebut, seperti berikut,

Jika b/t, D/t, h/tw r elemen penampang tak langsing (nonslender)


Jika b/t, d/t, h/tw > r penampang langsing (slender)

7
AISC 2010

8
8. Profil Tersusun batang Tekan.
Profil tersusun adalah susunan beberapa profil menjadi satu profil atau batang
tunggal, yang diikat dengan pelat-pelat yang disebut Pelat Koppel, dimana kekuatannya
dihitung terhadap Sumbu Bahan dan Sumbu Bebas Bahan.

a). Sumbu profil.


Pada batang tekan terdapat sumbu-sumbu penting yang harus diperhatikan, yaitu :
- Sumbu Utama.
- Sumbu Bahan.
- Sumbu Bebas Bahan.

Sumbu utama, adalah sumbu dimana terdapat nilai inertia ekstrim maksimum dan
minimum, seperti terlihat pada gambar 16.(a) berikut, dimana sumbu X dan sumbu Y adalah
sumbu utama, sumbu X dan Y pada profil ini adalah juga merupakan sumbu bahan.

Gambar 16 : Letak sumbu-sumbu profil.

Pada gambar 16.(b), yaitu profil siku tunggal, sumbu bahannya adalah sumbu X dan
sumbu Y. Yang menjadi sumbu utama adalah sumbu tempat momen inertia ekstrim
maksimum, dan sumbu tempat momen inertia ekstrim minimum.

Besar momen inertia I dan I dapat dilihat pada tabel profil, atau dapat dihitung
sebagai berikut,
2
Ix Iy Ix Iy 2
I I maks Sxy ...(19.a)
2 2
2
Ix Iy Ix Iy 2
I I min Sxy ...(19.b)
2 2
Dimana,
Ix = momen inertia terhadap sumbu X.
Iy = momen inertia terhadap sumbu Y.
Sxy = momen sentrifugal terhadap sumbu X dan Y.

Pada Gambar 16.(c), sumbu X adalah sumbu bahan dan sumbu Y adalah sumbu bebas bahan.

9
b). Kelangsingan batang profil tersusun.

Pelat koppel

(a) (b)

Pelat koppel Pelat koppel

Gambar 17 : Profil tersusun.


a
- Terhadap sumbu X-X (sumbu bahan),
k . Lx
x ...(20)
rx Pelat koppel
Dimana,
k = faktor panjang tekuk. h
Lx = panjang komponen struktur tekan arah X.
rx = jari-jari inertia terhadap sumbu X.
Ix total
rx ...(21) L1
Ag total

Pelat koppel
- Terhadap sumbu Y-Y (sumbu bebas bahan),
h
2 m 2
iy y 1 ...(22)
2
Dimana,
k . Ly t
y ...(23)
ry
x
L1
1 ...(24)
rmin
m = jumlah batang tunggal yang membentuk Gambar 18
profil tersusun.
Ly = panjang komponen struktur tekan arah Y.
ry = jari-jari inertia terhadap sumbu Y.
L1 = jarak antara dua pelat koppel.
rmin = r = jari-jari inertia minimum batang tunggal (lihat gbr.16.b). (revisi)

10
Gambar 19 : Profil tersusun dengan nilai m.
Sumber : SNI 03-1729-2002

c). Pelat Koppel.

SNI 03-1729-2002 pasal 9.3 menyatakan bahwa persamaan (22) diatas terpenuhi
apabila :
c1). Pelat-pelat kopel membagi komponen struktur tersusun menjadi beberapa bagian yang
sama panjang atau dapat dianggap sama panjang.
c2). Banyaknya pembagian komponen struktur minimum adalah 3 (tiga) medan pelat koppel.
c3). Hubungan antara pelat kopel dengan elemen komponen struktur tekan harus kaku.
c4). Pelat kopel harus cukup kaku, sehingga memenuhi persamaan,

Ip I
10 . 1 ...(25)
a L1
Dimana,
Ip = momen inertia pelat koppel
= 1/12 t h3.
Apabila pelat koppel terdapat pada muka dan belakang (gbr 19.a,b,c,e,f), (revisi)
Ip = (2) . 1/12 t h3.
I1 = momen inertia minimum batang tunggal (I), lihat gambar 16.b. (revisi)
a = jarak antara dua pusat berat profil, lihat gambar 18 dan 19.

Pelat-pelat kopel harus dihitung dengan menganggap bahwa pada seluruh panjang
komponen struktur tersusun itu bekerja gaya lintang sebesar,

11
Du = 0,02 Nu ...(26)

dengan Nu adalah kuat tekan perlu (beban kerja) komponen struktur tersusun akibat beban-
beban terfaktor. Anggapan ini hanya berlaku untuk batang tekan dengan gaya sentris.

d). Koefisien Tekuk.

Koefisien tekuk x dan iy selanjutnya ditentukan oleh harga-harga x dan iy :


- Terhadap sumbu X,
1 fy
cx (x)
E
- Terhadap sumbu Y,
1 fy
ciy (iy )
E

Dengan menggunakan parameter kelangsingan batang tekan pada persamaan (15)


sebelumnya dicari koefisien tekuk dengan persamaan 18.(a), (b), dan (c) (lihat Modul 4 Sesi
1) seperti berikut,

untuk c 0,25 maka 1


1,43
untuk 0,25 c 1,2 maka
1,6 0,67 c
untuk c 1,2 maka 1,252c

e). Kuat Tekan Nominal.

Kuat tekan nominal dipilih yang terkecil dari kedua persamaan berikut,
- Terhadap sumbu X,
fy
N n Ag . ...(27.a)
x
- Terhadap sumbu Y,
fy
Nn Ag . ...(27.b)
iy
f). Kestabilan Profil Tersusun.

Pasal 9.3.(6) SNI 03-1729-2002 menyatakan, untuk menjaga kestabilan elemen-


elemen penampang komponen struktur tersusun maka harga-harga x dan iy pada
persamaan (20) dan (22) harus memenuhi :

x 1,2 1 ...(28.a)
iy 1,2 1 ...(28.b)
1 50 ...(28.c)

12
BATANG TEKAN
(COMPRESSSION MEMBER)

PELATIHAN / WORKSHOP 1

Gambar 16 : Bangunan Portal Baja.

Diketahui : Struktur portal seperti tergambar. Ukuran profil kolom E F dan tinggi
tingkat H lihat data soal. Mutu baja BJ-34. Data lain lihat tabel terlampir.
Diminta : Lakukan evaluasi terhadap kolom E F tersebut.
Penyelesaian :
a). Data-data,
- Balok C F, WF 400.200.8.13, Ix = 23700 cm4.
- Balok F I, WF 400.300.10.16, Ix = 38700 cm4.
- Balok B E, WF 450.200.9.14, Ix = 33500 cm4.
- Balok E H, WF 450.300.11.18, Ix = 56100 cm4.
- Kolom D E, WF 300.300.11.17, Ix = 23400 cm4.
- Kolom E F, WF 250.125.6.9, Ix = 4050 cm4, Iy = 294 cm4. (yang lain lihat soal)

b). Kekakuan elemen portal.


- Balok C F, Ix/ L = 23700 / 600 = 39,500 cm3.
- Balok F I, Ix / L = 38700 / 900 = 43,000 cm3.
- Balok B E, Ix / L = 33500 / 600 = 55,833 cm3.
- Balok E H, Ix / L = 56100 / 900 = 62,333 cm3.
- Kolom D E, Ix / L = 23400 / 350 = 66,857 cm3.
- Kolom E F, Ix / L = 4050 / 300 = 13,500 cm4. (yang lain lihat soal)

13
c).Faktor panjang tekuk.
Kolom E F 13,500
GF 0,16
Balok C F Balok F I 39,500 43,000
Kolom E F Kolom E D 13,500 66,857
GE 0,68
Balok B E Balok E H 55,833 62,333

Dari nomogram diperoleh faktor panjang tekuk, k = 1,12

DATA-DATA :
WF 250.125.6.9
d = 250 mm
b = 125 mm
tf = 9 mm
tw = 6 mm
L = 3000 mm
r = 12 mm
Ag = 3766 mm2
rx = 104 mm
ry = 27,9 mm
h = d - 2.(tf + r)
= 250 2 . (9 + 12)
h = 208 mm Gambar 17.

EVALUASI
a. Kelangsingan batang.
Faktor panjang tekuk, k = 1,12
- Tekuk ke arah sumbu X,
Lkx = k . L = 1,12 . (3000) = 3360 mm.
L 3360
x kx 32,31 < 200 (memenuhi).
rx 104
- Tekuk ke arah sumbu Y,
Lky = k . L = 1,12 . (3000) = 3360 mm.
Lky 3360
y 120,43 < 200 (memenuhi).
ry 27,9

b. Kekuatan nominal terfaktor batang tekan.


- Ke arah sumbu X,
1 Lkx fy
cx
rx E
1 210
cx . (32,31) . 0,3334 (untuk = 3,14)
200000
1,43
Untuk 0,25 cx 1,2 maka x
1,6 0,67cx
1,43
x 1,0388
1,6 0,67 . (0,3334)

14
Kekuatan nominal batang tekan,
fy 210 MPa
N n Ag . f cr Ag . (3766 mm) . 761320,8 N
x 1,0388
Nn = 761,3 kN .

Kekuatan nominal terfaktor,


Nu = n . Nn = 0,85 . (761,3) kN = 647,1 kN.

- Ke arah sumbu Y,
1 Lky fy
cy
ry E
1 210
cy . (120,43) . 1,2428 (untuk = 3,14)
200000
Untuk c 1,2 maka 1,252c
y 1,25 . (1,2428) 2 1,9307

Kekuatan nominal batang tekan,


fy 210 MPa
N n Ag . f cr Ag . (3766 mm) . 409627,8 N
y 1,9307
Nn = 409,6 kN .

Kekuatan nominal terfaktor,


Nu = n . Nn = 0,85 . (409,6) kN = 348,2 kN.

15
BJ-34 fy = 210 Mpa
No. KOLOM Ix H Ix / L Lk d b tw tf r Ag Iy
4 3 GF GE k
Stb. E-F cm cm cm mm mm mm mm mm mm cm2 cm4
WF 250.125.6.9 4050 300 13.500 0.16 0.68 1.12 3360 250 125 6 9 12 37.66 294
0 WF 250.175.7.11 6120 310 19.742 0.24 0.73 1.15 3565 244 175 7 11 16 56.24 984
1 WF 250.250.11.11 8790 320 27.469 0.33 0.80 1.17 3744 244 252 11 11 16 82.06 2940
2 WF 250.250.8.13 9930 330 30.091 0.36 0.82 1.18 3894 248 249 8 13 16 84.70 3350
3 WF 250.250.9.14 10800 340 31.765 0.39 0.83 1.18 4012 250 250 9 14 16 92.18 3650
4 WF 250.250.14.14 11500 350 32.857 0.40 0.84 1.19 4165 250 250 14 14 16 104.70 3880
5 WF 300.150.6,5.9 7210 360 20.028 0.24 0.74 1.15 4140 300 150 6.5 9 13 46.78 508
6 WF 300.200.8.12 11300 370 30.541 0.37 0.82 1.17 4329 294 200 8 12 18 72.38 1600
7 WF 300.300.12.12 16900 380 44.474 0.54 0.94 1.21 4598 294 302 12 12 18 107.7 5520
8 WF 300.300.9.14 18800 390 48.205 0.58 0.97 1.22 4758 298 299 9 14 18 110.8 6240
9 WF 300.300.10.15 20400 400 51.000 0.62 1.00 1.25 5000 300 300 10 15 18 119.8 6750

rx = ry = x y cx
ix iy h
x cy y
Nu Nu
cm cm mm kN kN
10.4 2.79 208 32.31 120.43 0.3334 1.0388 647.1 1.2428 1.9307 348.2
10.4 4.18 190 34.28 85.29 0.3537 1.0492 956.8 0.8801 1.4154 709.3
10.3 5.98 190 36.35 62.61 0.3751 1.0603 1381.5 0.6461 1.2252 1195.5
10.8 6.29 190 36.06 61.91 0.3721 1.0587 1428.1 0.6389 1.2202 1239.1
10.8 6.29 190 37.15 63.78 0.3834 1.0647 1545.5 0.6582 1.2338 1333.6
10.5 6.09 190 39.67 68.39 0.4093 1.0786 1732.6 0.7058 1.2687 1473.1
12.4 3.29 256 33.39 125.84 0.3445 1.0444 799.5 1.2986 2.1079 396.1
12.5 4.71 234 34.63 91.91 0.3574 1.0510 1229.2 0.9485 1.4826 871.4
12.5 7.16 234 36.78 64.22 0.3796 1.0627 1809.1 0.6627 1.2370 1554.1
13.0 7.51 234 36.60 63.36 0.3777 1.0617 1862.9 0.6538 1.2307 1607.0
13.1 7.51 234 38.17 66.58 0.3939 1.0703 1998.0 0.6871 1.2547 1704.3

16
17
18
Daftar Pustaka
1. Agus Setiawan,Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-
1729- 2002), Penerbit AIRLANGGA, Jakarta, 2008.

2. Charles G. Salmon, Jhon E. Johnson,STRUKTUR BAJA, Design dan Perilaku, Jilid 1,


Penerbit AIRLANGGA, Jakarta, 1990.

3. SNI 03 - 1729 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.

4. Modul Struktur Baja I Ir Thamrin Nasution

5. Photo-photo dikutip dari Internet.

19

Anda mungkin juga menyukai