Anda di halaman 1dari 6

DAFTAR PERTANYAAN THT-KL

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL


RST dr. Soedjono Magelang
Periode 19 Juni 2017 19 Juli 2017

Disusun oleh:

Koas THT-KL RST Tingkat II dr. Soedjono Magelang


Periode 19 Juni 2017 19 Juli 2017

Pembimbing:

dr. Budi Wiranto, Sp. THT - KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTANAGUNG
SEMARANG
2017
1. Jelaskan mekanisme deglutisi
a. Stadium volunteer
Bila makanan siap untuk ditelan, secara sadar makanan ditekan atau
didorong ke bagian belakang mulut oleh tekanan lidah ke atas dan
belakang terhadap palatum. Jadi, lidah memaksa bolus makanan masuk
ke dalam pharynx.
b. Stadium pharyngeal
Bila bolus makanan didorong ke belakang mulut, ia merangsang daerah
reseptor menelan yang semuanya terletak sekitar pintu pharynx,
khususnya tonsila palatina, dan impuls dari sini berjalan ke batang otak
(daerah medulla oblongata yang erat hubungannya dengan traktus
solitarius) untuk menimbulkan serangkaian kontraksi otot pharynx
otomatis yaitu sebagai berikut :
- Pallatum molle didorong ke atas untuk menutup nares posterior,
dengan cara ini mencegah refluks makanan ke rongga hidung
- Lipatan palatopharyngeal pada tiap sisi pharynx satu sama lain saling
mendorong ke medial sehingga membentuk celah sagital tempat
makanan harus lewat ke pharynx posterior
- Pita suara larynx dan epiglottis mencegah masuknya makanan ke
dalam trachea.
- Larynx didorong ke atas dan ke depan oleh otot-otot yang melekat
pada os hyoid sehingga meregangkan pintu oesofagus. Bersamaan
dengan itu, suatu daereh yang disenut sfingter oesofagus bagian atas
atau sfingter pharynxoesofageal, melemas (relaksasi), sehingga
memungkinkan makanan berjalan dengan mudah dan bebas dari
pharynx posterior ke dalam oesofagus.Selain itu, m. konstriktor
pharynx superior berkontraksi sehingga menambah timbulnya
gelombang peristaltic dengan cepat yang berjalan ke bawah melewati
otot-otot pharynx dan masuk ke oesofagus, yang juga mendorong
makanan ke dalam oesofagus.
c. Stadium oesofageal
Dalam keadaan normal, oesofagus menunjukkan dua jenis pergerakan
peristaltic yaitu peristaltic primer dan peristaltic sekunder. Peristaltik
primer merupakan lanjutan gelombang peristaltic yang dimulai dari
pharunx dan menyebar ke oesofagus selama stadium pharynxeal proses
menelan. Gelombang ini berjalan dari pharynx ke lambung kira-kira
dalam waktu 5-10 detik. Bila gelombang peristaltic primer gagal
menggerakkan seluruh makanan yang sudah masuk oesofagua ke
lambung, timbul gelombang peristaltic sekunder akibat regangan
oesofagus oleh makanan yang tertinggal. Jadi, gelombang peristaltic
sekunder berasal dari oesofagus dan terus dibentuk sampai semua
makanan masuk ke dalam lambung.
2. Jelaskan indikasi dan cara pemeriksaan palatal phenomen
Pemeriksaan palatal phenomen dilakukan jika ada kecurigaan adanya
massa di nasofaring/ pembesaran adenoid
Cara pemeriksaan :
Persiapan alat : lampu kepala, spekulum hidung, pinset baionet, kapas
steril, ephedrin yang diencerkan
- Pada rinoskopi oedem mukosa atau konka aplikasi dengan cara
memasukkan kapas dipipihkan yang ditetesi ephedrine dengan pinset
masukkan ke hidung melalui spekulum. Ephedrin sebagai
vasokonstriktor.
- Biarkan kapas ditinggal dalam hidung
- Setelah beberapa menit kapas dikeluarkan.
- Arahkan sinar lampu pada coanae/dinding nasofaring, kemudian
penderita diminta untuk mengucapkan iiiiii yang panjang.

Perhatikan palatum molle:


(+) bila tampak bergerak /cahaya lampu terang (massa (-))
(-) bila tidak bergerak, massa (+)

3. Sebutkan 5 tanda Ca Nasofaring ?


Neck sign
Ear sign
Nose sign
Eye sign
Cranial sign

4. Jelaskan hubungan faring dengan ruangan-ruangan disekitarnya


1. Choanae Menghubungkannya dengan cavum nasi
2. Ostium pharyngeum Menghubungkannya dengan cavum tympani
tuba auditiva
3. Isthmus faucium Menghubungkannya dengan cavum oris proprium
4. Aditus laryngis Menghubungkannya dengan larynx
5. Pharyngooesophageal Menghubungkannya dengan oesophagus
junction
(Sphincter
oesophagus)

5. Sebutkan kriteria diagnosis berdasarkan gejala dari sinusitis ?


Mayor
Wajah terasa nyeri Wajah terasa penuh
Obstruksi nasal
Post nasal drip
Hiposmia/anosmia
Minor
Sakit kepala
Demam
Halitosis
Keletihan
Batuk
Nyeri gigi
2 gejala mayor atau 1 gejala mayor + 2 gejala minor

6. Apakah fungsi dari sinus paranasal?


Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembapan
udara inspirasi
Tidak didapati pertukaran udara yg definitif antara sinus dan
rongga hidung
Mukosa sinus tidak punya kelenjar & vaskularisasi sebanyak
mukosa hidung
Sebagai Penahan Suhu
Penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah
Sinus2 besar tidak terletak diantara hidung dan organ yang
dilindungi
Membantu Keseimbangan Kepala
Mengurangi berat tulang muka
Jika sinus diganti dengan tulang penambahan berat sebesar
1%
Membantu Resonansi Udara
Berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara
Posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus
berfungsi sebagai resonator aktif
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Berjalan bila terdapat perubahan tekanan yang besar dan
mendadak misalnya bersin atau membuang ingus
Membantu produksi mucus
Mukus yang dihasilkan sinus paranasal lebih sedikit dari
rongga hidungmembersihkan partikel yang turut masuk
dengan udara inspirasi keluar dari meatus medius.
Apa saja faktor predisposisi sinusitis
o ISPA
o Infeksi
Rhinitis
Rhinitis alergi
Rhinitis hormonal
Polip nasi
Infeksi gigi
o Kelainan anatomi
Deviasi septum
Hipertrofi konka
o Sindroma kartagener

7. Sebutkan macam-macam sinus


sinusitis maksila

sinusitis etmoid

sinusitis frontal

sinusitis sfenoid.

8. Jelaskan patofisiologi Sinusitis ?

Inflamasi mukosa hidung menyebabkan pembengkakan (udem) dan


eksudasi, yang mengakibatkan obstruksi ostium sinus. Obstruksi ini
menyebabkan gangguan ventilasi dan drainase, resorbsi oksigen yang ada
di rongga sinus, kemudian terjadi hipoksia (oksigen menurun, pH
menurun, tekanan negatif), selanjutnya diikuti permeabilitas kapiler
meningkat, sekresi kelenjar meningkat kemudian transudasi, peningkatan
eksudasi serous, penurunan fungsi silia, akhirnya terjadi retensi sekresi di
sinus ataupun pertumbuhan kuman.

Bila terjadi edema di kompleks osteomeatal, mukosa yang letaknya


berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan
lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi
didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang di
produksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang
baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus,
akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh
bakteri anaerob.1 Bakteri yang sering ditemukan pada sinusitis kronik
adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella
catarrhalis,Streptococcus B hemoliticus, Staphylococcus aureus, kuman
anaerob jarang ditemukan.Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi
hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.